Lost Wave

hmm

Credit Poster: Jazzyrocka@ArtFantasy

Author: avyhehe

Length: Ficlet (700 words)

Cast: Kim Jongdae, Xiumin (Kim Minseok)

Genre: Slice of Life, Friendship

Rating: 14+ for cursing words and hints about alcohol & smoking .

Disclaimer: Me and GoT who inspired the quote.

_____________________________________________

“Ada pelajaran yang bisa kuambil dari musibah ini, Xiu”

_____________________________________________

Hidupnya nyaris sempurna.

Wajahnya cukup tampan,  keluarganya terpandang, dan jangan lupakan hartanya yang serba melimpah itu. Mungkin dalam ukuran manusia normal, bisa dibilang dia nyaris memiliki semuanya. Hidupnya begitu mudah, tanpa hambatan dan tanpa  masalah yang berarti, layaknya gulungan ombak yang bergerak bebas dan menggerus pinggiran pantai dengan seenaknya.

Dia tinggal mengacungkan tangannya untuk meminta mobil ber-merk apapun, tinggal mengedipkan sebelah matanya untuk mendapatkan gadis manapun yang dia mau, dan tinggal memencet tombol-tombol di ponselnya untuk mendapatkan nilai-nilai yang bagus. Semua orang menghormatinya, semua orang membutuhkannya, dan semua orang seakan dibutakan oleh harta dan wajahnya.

Sayangnya dia tidak pernah bersyukur, meskipun Tuhan telah memberinya tenggat waktu yang cukup lama untuk menikmati semuanya.

Tapi tenggat waktu tetaplah tenggat waktu, dimana dia harus mengembalikan sesuatu jika batas waktunya telah habis.

Dan ketika sang waktu telah mencapai batasnya; dia tidak bisa melawan roda kehidupannya sendiri yang terus berputar mempermainkan nasib, layaknya gulungan ombak yang tidak sanggup melawan gaya gravitasi bulan.

Yang bisa dilakukannya saat roda telah berputar hanyalah menangisi nasibnya sendiri, saat dalam sekejap semuanya telah direnggut darinya.

Pemuda itu duduk di pinggiran atap, mengapit kelintingan kertas berisikan nikotin disela kedua jarinya. Disulutnya kelintingan itu, lantas disesapnya dalam-dalam melewati celah di mulutnya–seolah-olah benda tersebut adalah  sumber kebahagiannya yang terakhir.

“Sampai kapan kau akan memperpendek umurmu sendiri?”

Dia menoleh cepat ke belakang saat sebuah suara yang begitu familiar menggelitik gendang telinganya. Didapatinya sesosok remaja lelaki yang seumuran dengannya tengah berjalan menghampirinya, kemudian menghempaskan tubuhnya persis di sebelahnya–tepat di atas bongkahan genteng yang tertutupi oleh lapisan lumut tebal. Itu adalah Xiumin, sahabat terdekatnya sejak awal masa SMA yang berpipi chubby dan bermuka seperti bayi. Satu-satunya sahabat dekat yang benar-benar peduli dengannya, dan tidak pernah meninggalkannya meskipun kini dia berada dalam titik terendah hidupnya.

Sejujurnya, dia sangat bersyukur dengan keberadaan Xiumin. Meskipun dalam kasusnya yang sekarang, terkadang dia menganggap Xiumin sebagai seorang pengganggu karena sering mencampuri urusan hidupnya.

Contohnya seperti saat ini.

“Sudah cukup dengan semua omong kosong ini, Jongdae.” desis Xiumin kesal, dirampasnya batangan rokok yang masih mengepul dari tangan Jongdae kemudian dilemparnya jauh-jauh ke deretan atap tetangga yang terhampar di hadapan mereka.

Jongdae mendengus kesal. Xiumin mulai lagi, pikirnya. Dipalingkannya mukanya ke arah yang berlawanan, kemudian berusaha meraih botol beling berisi cairan menyengat yang tergeletak tidak jauh darinya.

Sialnya, kali ini Xiumin juga kembali merampasnya tanpa meminta ijin terlebih dahulu.

“Yang ini juga!” sahut Xiumin sambil menjungkirbalikkan botol tersebut, membuat seluruh isinya tumpah ruah dan menghantam tanah bermeter-meter di bawah kaki mereka yang kini menggantung di pinggiran atap.

“Dammit!! aku menghabiskan uang terakhirku untuk membeli semua itu, Xiu!!”

“Uang yang kau curi dari dompet ayahmu?” Xiumin menggeleng-gelengkan kepalanya. “Sadarlah, Jongdae. Bahwa semua yang kau lakukan ini hanya merugikan hidupmu. Padahal dengan uang ayahmu yang selalu kau curi itu, kau bisa melanjutkan sekolahmu lagi.”

“Persetan dengan sekolah!” Jongdae menjerit frustasi, “dan persetan dengan mereka semua!!” umpatnya seraya mengacak-acak rambutnya kasar, membuat helaiannya mencuat kemana-mana. ” persis setelah ayahku bangkrut, semuanya menjauhiku seperti penyakit. Dan sekarang aku baru menyadari, bahwa  manusia itu memang bermuka dua.”

“Berarti aku juga?” timpal Xiumin ringan, pandangannya  masih berfokus pada deretan genteng di hadapannya– bukannya menatap lawan bicaranya.

“Entahlah,” Jongdae membenarkan posisi duduknya dan menghela napasnya dalam-dalam. “Tapi setidaknya ada pelajaran yang bisa kuambil dari musibah ini, Xiu.”

dan itu adalah?”

“Aku bisa menyaring orang-orang di sekitarku,” lanjut Jongdae serius. “Mana yang benar-benar kawan, dan mana yang lawan tapi hanya berpura-pura menjadi kawan. Saat masalah datang dalam hidupku, aku seperti mendapatkan sebuah kesempatan dari Tuhan–untuk menyaring yang asli dari sekumpulan yang palsu.”

Spontan saja, sudut-sudut bibir Xiumin terangkat ke atas seusainya mendengar perkataan itu. “kau sudah banyak berubah, Jongdae. Pemikiranmu yang sekarang bukanlah seperti bocah labil lagi, yang selalu merengek minta dibelikan mainan pada ayahnya.”

“Hei! jadi selama ini kau menganggapku seperti itu?!” potong Jongdae tidak percaya.

“Kadang-kadang,” balas Xiumin dengan kedua bahu terangkat ke atas, tidak ambil pusing dengan tatapan kesal yang dilemparkan oleh Jongdae.

“Ck, terserahlah.” decak Jongdae, dia pun memalingkan wajahnya kembali, namun tak selang beberapa saat kemudian dia mulai berbicara lagi dengan suara yang kelewat lirih.

“Berjanjilah padaku, Xiu.”

“He?”

“Berjanjilah padaku kau tidak akan meninggalkanku seperti mereka, dan kuharap kau tidak seperti itu.”

Menyadari Jongdae yang kini menatapnya dengan penuh harap, Xiumin hanya bisa terkekeh pelan. “Kenapa berpikiran begitu?” tanyanya sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Aku tidak akan meninggalkanmu, Jongdae. Tidak akan pernah. Dengan satu syarat; kau harus bisa menerima hidupmu yang sekarang dan berhenti  untuk melakukan hal-hal yang bodoh.” Xiumin mengakhiri perkataannya, bersamaan dengan itu dia bangkit berdiri–kemudian menghampiri tangga dua kaki yang menempel di sisi lain atap.

“Ayo, cepat pergi dari tempat ini!” serunya pada Jongdae, saat kakinya telah menapak pada anak tangga pertama. Namun Jongdae tetap bergeming.

“Kenapa hanya diam saja?!” teriaknya lagi, kali ini dengan nada jengkel yang terselip di kalimatnya.  “Hari ini aku tidak punya banyak waktu untuk membantumu, Jongdae! dan masih ada banyak koran yang belum kau antar. Kau mendengarku?!”

Menyerah, Jongdae mengerang pasrah dan cepat-cepat bangkit dari duduknya. “Got it!” sahutnya separuh hati, seraya menepis renungan-renungan aneh yang masih bersarang di benaknya.

________

FIN

_________

Ini fic random sekalehhh!!! harap maklum karena ini cuma freestyle writing yang dilakukan dalam waktu senggang (sekitar 1 jam-an) dan jadilah ketikan absurd seperti ini. Isinya cuma percakapan geje antar Chen-Xiumin yang pointless abis.

Dan sori buat yang mengharapkan Yaoi (ceritanya nyindir seseorang). Hubungan mereka tidak lebih dari seorang teman, Jyakakakk…

Komen?

2 thoughts on “Lost Wave

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s