Never Let You Go [Chapter 2]

Revabip’s Storyline

 

PRESENT

 never-let-you-go

Cast : Han Bihyul,Kim Jong In

Genre : School Life, Romance

 

Rating : T

 

Leght : Chaptered

Poster : Jungleelovely @ Poster Channel

 

Author’s Note : Hi! Long Time No See (again)

                                Maafkan karena saya membuat kalian menunggu atau mungkin menghilang dan tak ingat dengan FF saya ini. But please, don’t go and make me alone. Saya akan berusaha untuk post secepatnya. Jadi, jangan berhenti untuk comment and like. Dan inilah FF gaje saya. Semoga kalian suka. Don’t forget to comment and like yaa…

 

-Chapter 2-

 

Lantunan lagu easy listening memenuhi ruangan yang temaram dengan cahaya yang menelunsup dari gorden yang sepenuhnya menutup jendela kamar itu. Bihyul menggeliat pelan. Ia menggerakkan tangannya dan meraba-raba diatas nakas samping tempat tidurnya- dimana sumber lagu itu berasal.

 

Bihyul menguap lebar dengan mata masih tertutup. Dan secara perlahan ia membuka kelopak matanya. Menatap lurus kesamping tempat tidur. Bihyul bangun dari tidurnya yang tengkurap. Ia mengucek matanya dan mengedarkan pandangannya yang masih kabur.

 

Bihyul tersenyum.

 

Sekelebat bayangan Kai saat memegangi dagunya muncul dipikirannya. Membuat Bihyul mau tak mau menebarkan senyum bahkan sampai tertawa sendiri mengingat begitu dekatnya wajah Kai dengan wajahnya.

 

“Ah… seandainya saja aku langsung melompat kearahnya..” gumam Bihyul sambil memilin rambutnya yang kusam dan berantakan.

 

“… mungkin aku dapat menciumnya. Kkk” Bihyul tertawa mendengar fantasi konyolnya.

 

“Dan setelah itu kami pacaran… kkkkk bahkan membayangkannya saja membuatku geli. Hahahaha” kini Bihyul tertawa lepas membayangkan dirinya dan Kai yang bertatapan mesra layaknya para pasangan pada umumnya.

 

“Kurasa dia benar-benar akan pindah”

 

Namun, seluruh fantasi Bihyul lenyap seketika, saat tiba-tiba suara bimbang teman kelas Kai yang ia temui kemarin sore menyeruak kepikirannya.

 

Bihyul menundukkan kepalanya, dan memukulnya pelan. Bagaimana bisa ia lupa tentang kemungkinan yang menurut dirinya dan juga Appanya sangat mungkin untuk terjadi itu. Bihyul menghela napas, bahkan Appanya mengatakan bahwa mungkin saja Kai akan dikeluarkan menghitung banyaknya jumlah kunjungan namja itu diruangan BK. Bihyul memegangi dadanya, seperti rasa sesak ditaman kemarin kembali menyeruak. Rasanya benar-benar…. perih.

 

Bihyul mengcengkram tangannya yang berada diatas dadanya. Ia kemudian menggeleng. Ani, berita itu hanya kabar miring. Berita itu pasti hanya kicauan burung belaka. Dan tugas Bihyul adalah….memastikannya.

 

-oOo-

 

Embun masih mengendap diudara. Namun, Bihyul sudah berada di Cheondam SHS. Mungkin, ia bisa dikatakan gila atau miring dan semacamnya. Saat harinya piket- bahkan hari-hari biasa disekolah- ia akan berangkat ke sekolah, kurang 5 menit dari jam pertama akan dimulai. Ia akan selalu menjadi yang terlambat, dan Bihyul tak pernah tersinggung dengan sindiran para member Cosinus atau teman-temannya saat datang terlambat. Teman kelasnya atau member Cosinus akan selalu berkata ‘Wow Bihyul-ah! Kau datang sangat cepat! masih subuh, lebih baik pulang saja dulu’ atau ‘Bihyul-ah rumahmu pindah di Incheon,ya? Kau datang sangat cepat’. Teman-temannya akan mengatakan hal itu bukan tanpa alasan atau hal itu memang merupakan kebenaran. Tetapi, karena statusnya yang memiliki rumah yang hanya berjarak 1 blok dari sekolah dan dapat ditempuh kurang lebih 5 menit dengan jalan kaki. Tetapi, kenyataannya ia akan selalu datang paling belakang.

 

Bihyul memukul pipinya. Ia bahkan bangun pagi lebih cepat dari biasanya hari ini dan rasa kantuk masih menderanya walau ia sudah membasuh wajah dengan air dingin sekalipun. Bihyul datang pagi-pagi begini bukan tanpa alasan. Ia punya tujuan dan rasa penasaran yang kuat.

 

Tujuannya adalah… mencari tahu apakah kabar ‘itu’ adalah kabar miring atau bukan.

 

Bihyul memegangi kepalanya. Ia bahkan tak bisa tidur semalaman karena memikirkan segala kemungkinan kabar itu adalah kabar miring. Namun, sekeras apapun Bihyul memikirkannya. Ia akan kembali pada satu titik yang selalu membuatnya kesal. Titik itu adalah… Kai benar-benar akan pindah.

 

Huh, Bihyul menghela napas. Ia tak bisa terus berpikir, karena hati dan pikirannya mengatakan hal yang berbeda dan itu sangat menguras tenaganya. Jadi, untuk itulah Bihyul berada disini. Ia akan memastikannya dengan cara menemui orang itu.

 

“Han Bihyul?” suara dengan nada ragu menyergap pendengaran Bihyul.

 

Bihyul menoleh dan kemudian tersenyum tipis melihat orang yang ditunggunya telah datang.

 

“Oh, annyeong Nayeon-ah!” sapa Bihyul dengan senyum ceria.

 

Nayeon mengerjapkan matanya dan mengerutkan alisnya bingung. “Neo jincha Han Bihyul?” tanya Nayeon ragu dan melangkah kearah Bihyul yang sedang duduk di salah satu bangku taman disamping cafeteria.

 

“Keurom. Memangnya ada Han Bihyul lain disekolah ini dengan tampang cantik sepertiku?”

 

Nayeon memegangi lehernya dan memiringkan kepalanya bingung. Ia kemudian menggeleng.

 

“A-aniyo. Aku hanya tak menyangka kau… datang pagi sekali hari ini”

 

Bihyul tersenyum kecut. Oke, mungkin hal ia datang pagi sekali hari ini memang sesuatu yang mengejutkan.

 

“Wae? Andwaeyo?”

 

“A-aniyo. Geunyang… aku hanya heran, bingung dan cukup kaget”

 

Nayeon berkata cukup jujur membuat Bihyul memutarkan bola matanya. Ayolah, ia benci mengakuinya tetapi Bihyul benar-benar merasa buruk. Apakah terlambatnya separah itu, sehingga tak ada kemungkinan ia bisa datang cepat?

 

“Baiklah. Dan kau… apa yang kau lakukan disini?” tanya Bihyul mencoba berbasa-basi.

 

“Bukankah kau tau sendiri, uri eomm- Ani, maksudku Ryu seongsaenim adalah pemilik cafeteria ini? Aku sedang ingin membuka cafeteria dan mengecek barang-barang”

 

Bihyul mengangguk dengan mulut berbentuk ‘o’. Bihyul kemudian melirik kearah belakang Nayeon dan tersenyum ketika mendapati Abeoji Nayeon sedang menurunkan beberapa barang yang kemudian diangkut oleh para penjual di cafeteria. Bihyul mengedarkan pandangannya kesekitar Abeoji Nayeon, dan senyumannya mengembang lebar ketika tak melihat sosok Ryu seongsaenim.

 

“Bihyul-ah..”

 

“Eoh?”

 

“Apa yang kau lihat?” tanya Nayeon ikut menoleh kebelakangnya.

 

“A-ani, aku hanya merasa ada yang hilang. Dimana.. Ryu ssaem?”

 

“Dia ada dirumah Ryu Sang Woo seongsaenim”

 

Bihyul mengangguk. Kesempatan yang bagus.

 

“Apa kau akan masuk?” tanya Bihyul sembari menunjuk kearah cafeteria.

 

Nayeon mengangguk mengiyakan. Nayeon kemudian berjalan sembari memfokuskan pandangannya ke kumpulan kunci ditangannya. Gadis itu mencoba mencari kunci cafetaria. Bihyul mengikuti Nayeon yang seperti sibuk dengan dunianya sendiri.

 

Ini saatnya…

 

Bihyul menggaruk tekuknya bingung. Ia harus mulai darimana?

 

“Eum.. Na-ya..” Bihyul menggangtung ucapannya berusaha berpikir memilih kata-kata yang tepat.

 

“Wae?”

 

“Eum… huft..” Bihyul menghela napas berat. Ia melirik Nayeon yang masih sibuk dengan pencarian kuncinya. Bihyul menggenggam tali tasnya dan kembali memantapkan hatinya. Ia harus bertanya.

 

“Nayeon-ah… eum, apa kau mendengar sesuatu? Itu… seperti sesuatu yang akan dike-luarkan-“

 

“Yap!”

 

Bihyul menegang. “Neo arrayo? Jadi berita itu benar?!” tanya Bihyul dengan pandangan terkejut.

 

Nayeon menatap Bihyul dan mengerutkan keningnya. “Apa kau berbicara denganku?”

 

Huh! Jangan bilang Nayeon tak mendengarkannya. Bihyul mendesah.

 

“Kenapa kau berteriak?”

 

Nayeon mengerutkan keningnya dan kemudian mengangkat gembok ditangannya. “Aku berhasil mendapatkan kuncinya! Kunci yang sering dipakai hilang. Jadi, aku harus mencari kunci cafeteria ini, dikumpulan kunci sarep ini” ucap Naeyeon dan juga memperlihatkan kumpulan kunci yang sangat banyak ditangannya.

 

Bihyul menghela napas. Sedikit rasa lega, menghilang dari hatinya.

 

“Memangnya, apa kau sedang berbicara denganku?”

 

Bihyul mengangguk ragu.

 

Nayeon mendorong pintu cafeteria dan masuk kedalamnya. Bihyul mengikuti Nayeon dan membiarkan dirinya berada dibelakang gadis itu.

 

“Apa yang ingin kau katakan?” tanya Nayeon dan sibuk melihat beberapa list barang diponselnya.

 

Bihyul mendesis. Ia bahkan lebih gugup sekarang. Bihyul menggaruk kepalanya. Apa yang harus dia katakan? Dia harus memulai dari mana dan bagaimana?!

 

“Eum.. apa kau…” Bihyul menggigit bibirnya pelan. Dalam hati ia takut jika Nayeon menganggap ia bertanya karena serius dan peduli pada Kai. Tapi, Nayeon adalah satu-satunya sumber terupdate dan terpercaya dikelasnya.

 

“Mendengar Kai-ssi akan dikeluarkan?”

 

Huft… akhirnya ia dapat mengatakannya. Bihyul menghela napas dan menunggu reaksi Nayeon dengan wajah penuh keragu-raguan. Untunglah saat ini Nayeon membelakanginya, jadi ia bisa leluasa untuk mengeluarkan ekspresinya.

 

“Kai? Mengapa kau bertanya?” Nayeon menurunkan ponselnya dan perlahan berbalik menatap Bihyul.

 

Bihyul mengalihkan pandangannya kearah langit-langit. Ia berusaha mencari alasan yang tepat agar Nayeon tak curiga.

 

“Mengapa kau bertanya?” Nayeon mengulum senyum. “Semuanya sudah jelas dia akan dikeluarkan, bukan? Bahkan surat pindah untuknya sudah selesai” ucap Nayeon santai.

 

Bihyul menatap Nayeon dengan pandangan terkejut. Ia menatap lurus kearah manik mata hitam milik gadis itu. Namun, tak ada tanda-tanda kebohongan disana. Bihyul menelan air ludahnya dengan susah payah. Jeongmalyo?!

 

“Ah… andai saja aku tak putus dengan Suho. Mungkin, aku akan memperingatkannya. Kau tahu, nama Suho juga ada dilaptop Ryu Sang Woo seongsanim. Tapi… sudahlah aku dan dia sudah berakhir. Mungkin kedua saudara itu benar-benar tak berjodoh denganku” ucap Nayeon dengan raut kecewa diwajahnya.

 

Namun, ucapan Nayeon hanya bagai angin lalu di telinga Bihyul. Padahal, dirumah ia sudah memantapkan hati dan menenangkan diri jika saja berita itu memang benar. Namun, rasanya seluruh pertahanan yang telah dibuat Bihyul seakan perlahan rubuh karena terjangan angin. Bihyul menundukkan wajahnya. Ia sangat ingin… menangis.

 

-oOo-

 

Bihyul menopang wajahnya dengan meja. Jam istirahat, bagi setiap siswa, waktu ini merupakan waktu paling berharga yang tak boleh dilewatkan walau sedetik pun. Bahkan Bihyul selalu berdoa setiap akan belajar agar waktu istirahat dipercepat agar ia bisa kekantin dengan cepat dan mengisi perutnya yang setiap pagi akan mengaung kelaparan.

 

Namun, berbeda dengan hari ini. Seluruh moodnya menghilang. Bahkan, ia tak fokus saat pelajaran tadi. Pikirannya seakan kemana-kemana. Dan hatinya…

 

Hatinya masih belum berubah… hatinya belum bisa menerima kenyataan yang diucapkan Nayeon.

 

Bihyul mengalihkan pandangannya ke arah pintu kelas. Sampai detik ini, ia belum pernah melihat sosok Kai walau sedetik pun. Dan hal itu membuat hati Bihyul khawatir. Jangan-jangan… Kai sudah pindah dan meninggalkan sekolah ini-meninggalkannya.

 

Bihyul melemparkan tatapannya ke arah pintu kelas. Dan sebuah sosok membuat alis Bihyul terangkat. Ia kemudian beranjak dari duduknya dan berlari keluar. Bihyul mengerjapkan matanya. Untuk sesaat ia merasakan jantungnya berhenti berdetak dan waktu seakan berjalan lambat saat ia melihat kearah sosok yang ia cari, Kai. Bihyul tersenyum senang, namja itu masih ada disekolah ini. Bihyul terus memandangi Kai, hingga tatapannya berakhir karena sosok Kai masuk keruang guru.

 

Bihyul mengerutkan keningnya. Apa yang Kai lakukan disana?

 

Dengan langkah ragu, Bihyul mendekat kearah ruang guru dan memiringkan wajahnya untuk mengintip kedalam. Bihyul merapatkan tubuhnya ke pintu dan mengedarkan pandangannya. Pandangan Bihyul berbinar ketika ia berhasil melihat sosok Kai.

 

Kai sedang berdiri didepan meja Ahn seongsaenim. Ahn seongsaenim adalah wali kelas Kai. Tapi, yang mengganggu pikiran Bihyul adalah apakah Ahn seongsaenim memanggil Kai untuk membahas masalah kepindahan namja itu?

 

Rasa galau kembali menerpa Bihyul. Ia sendiri bingung dengan dirinya yang merasa tak rela akan kepindahan Kai. Memangnya Kai itu siapa? Saudaranya? temannya? Atau Kenalannya? Akh, Bihyul bahkan tak mengerti hubungan apa yang dimilikinya dengan Kai atau lebih tepatnya ia memang tak memiliki hubungan dengan Kai! Namun, Bihyul bingung entah darimana perasaan khawatir, galau, tak rela yang ia rasakan. Apa sebenarnya arti Kai bagi diri Bihyul?!

 

“Han Bihyul!”

 

Bihyul tersadar dari pikirannya ketika sebuah suara memanggilnya. Bihyul mengangkat wajahnya dan sosok Ahn seongsaenim melambaikan tangan kearahnya, membuat Bihyul menunjuk dirinya sendiri. “Choneun?” bisik Bihyul.

 

Ahn seongsaenim mengangguk.

 

Bihyul melangkah ragu menuju meja Ahn seongsaenim. Sebuah rentetan detakan kemudian mewarnai perasaan Bihyul. Gadis itu menggigit bibirnya. Ia merasa aneh dengan dirinya sendiri dan detakan jantungnya yang meliar. Ada apa ini? Apa mungkin karena ada Kai dihadapan Ahn seongsaenim sehingga jantungnya tiba-tiba terbawa menjadi seperti ini.

 

Bihyul menghentikan langkahnya ketika sampai dihadapan meja Ahn seongsaenim. Ia tak langsung menatap guru berperawakan tinggi kurus itu. Pandangan Bihyul saat ini terpaku pada satu titik. Dan titik itu adalah Kai…

 

DEG

 

Sekelebat bayangan saat Kai menyentuh dagunya kemarin bermunculan bagai rol film diotak Bihyul. Wajah Bihyul tiba-tiba saja memanas menatap setiap lekuk wajah Kai walaupun hanya dari samping. Bihyul mengembangkan senyumnya, apa ia sedang dapat jackpot? Mengapa perasaannya bisa sebahagia ini walau hanya dapat menatap Kai dari samping?

 

“Han Bihyul-ssi”

 

Bihyul mendengarkan suara yang menyapanya bagai angin lalu. Namun, sedetik kemudian ia berbalik dan menatap tegang kearah Ahn seongsaenim.

 

Ah, matta! Ia lupa sekarang dirinya sedang berada diruang guru. Bisa heboh nantinya jika para guru khususnya Ahn seongsaenim sampai tahu signal-signal kagum yang terpencar saat Bihyul menatap Kai.

 

“Ye, ssaem?” Tanya Bihyul dengan raut wajah yang ia coba untuk didatar-datarkan seperti tembok.

 

Ahn seongsaenim menautkan alisnya. Guru yang seumuran dengan Kyuhyun super junior itu tersenyum menahan tawanya.

 

“Siapa yang memanggilmu?” Tanya Ahn seongsaenim menatap kearah Bihyul.

 

“Ne?!” Bihyul terlongo mendengar ucapan Ahn seongsaenim. Jangan katakan…

 

Bihyul mendengar sebuah suara dari samping tubuhnya. Ia memberenggut malu ketika Kai menundukkan kepalanya untuk menahan tawa. Omoo… Apakah ia baru saja mempermalukan dirinya dihadapan Kai? Aish… Jeongmal!

 

“Keurom, tapi saya tadi mendengar ada yang memanggil saya, ssaem-”

 

“Saya yang memanggilmu Han Bihyul-ssi” ucap Ryu Sang Woo seongsaenim yang duduk disamping Ahn seongsaenim.

 

Mwo?!

 

Bihyul ternganga sebentar. Ia membalikkan pandangannya kearah pintu ruang guru dan menyadari bahwa meja Ryu seongsaenim lebih dekat dari pintu dibanding dengan meja Ahn seongsaenim. Wajah Bihyul memerah, apa ia baru saja melewati meja Ryu seongsaenim yang memanggilnya dan menuju ke meja Ahn seongsaenim yang bahkan lebih jauh dari meja Ryu seongsaenim. Oh, ini benar-benar memalukan.

 

Bihyul melirik Kai sebentar dan melangkah lunglai kearah Ryu seongsaenim. Ah… Pasti orang-orang akan mudah menebak jika ia menyukai Kai jika memperhatikan hal tadi. Oh, Han Bihyul kau benar-benar sial hari ini.

 

“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Ryu seongsaenim.

 

Bihyul mengangguk dengan wajah memerah.

 

“Ne, ssaem. Keurom, mengapa seongsaenim memanggil saya?” Tanya Bihyul.

 

Ryu seongsaenim memutar laptop dihadapannya ke hadapan Bihyul. Ia membuka suatu file dan memperlihatkannya kepada gadis itu.

 

“Bisakah kau memperbaiki aplikasi download ini? Katanya kau adalah hacker yang bagus” ucap Ryu seongsaenim sambil membuka sebuah aplikasi download manager.

 

Bihyul mengerutkan keningnya dan memperhatikan aplikasi tersebut. Bihyul mengangguk menyadari bahwa aplikasi itu adalah aplikasi trial, dan sekarang adalah masa dimana masa trial tersebut habis. Bihyul mengangguk kepada Ryu seongsaenim. Ini adalah pekerjaan sehari-harinya.

 

“Ne, ssaem”

 

“Keurom, aku akan pergi sebentar” ucap Ryu seongsaenim dan mengambil beberapa map di atas mejanya.

 

Bihyul mengedikkan bahunya. Ia meremas kedua tangannya. Masalah hacker-menghacker adalah makanan sehari-hari bagi Bihyul. Namun, skala hacker yang pernah ia lakukan bukanlah skala yang besar. Misalnya saja memperbaiki aplikasi download manager yang habis masa trial atau mencari sandi wifi sekolah yang diganti passwordnya dan sedikit untuk membuka account media social beberapa orang -.-

 

Bihyul tahu hacker merupakan kejahatan. Namun, demi kenyamanan pemakai internet khususnya seorang siswa yang tak memiliki banyak uang jajan. Satu-satunya jalan untuk mendapatkan fasilitas yang baik adalah menghack beberapa situs. Tapi, sekali lagi Bihyul hanya melakukannya jika dalam keadaan mepet atau karena rasa penasaran tingkat tinggi. Tapi, untuk aplikasi download manager, ia selalu melakukannya karena Bihyul merupakan seorang penggemar drama korea yang tidak ingin kudet, apalagi jika drama tersebut menyangkut boyband atau aktris, actor tampan di korea. Pasti Bihyul rela untuk bangun tengah malam untuk mendownload.

 

Bihyul kini sibuk dengan layar laptop tersebut. Ia melakukannya dengan sangat cepat karena ia sudah sangat hapal diluar kepala untuk menghentikan masa trial aplikasi download manager ini. Bihyul menghela napas, tinggal menunggu proses penyelesain dari pekerjaannya yang kini sedang berlangsung.

 

Bihyul mengalihkan pandangannya ke arah Kai. Namun, Kai sudah menunduk dan beranjak pergi dari hadapan Ahn seongsaenim. Bihyul menopang kepalanya dengan tangannya, namja itu… apakah dia benar-benar akan pindah? Rasanya Bihyul ingin bertanya kepada Kai langsung untuk kembali memastikan hal yang sebenarnya sudah jelas itu. Walau Nayeon, Appa Bihyul, dan teman sekelas Kai mengatakan hal itu sudah pasti. Tapi, kembali hati Bihyul tidak bisa menerima kemungkinan itu.

 

Bihyul mengalihkan pandangannya ketika Kai sudah menghilang dari pandangannya. Ia menatap laptop Ryu seongsaenim dan tersenyum ketika proses reboot telah selesai. Tangan Bihyul kemudian bergerak untuk menghibernate laptop tersebut. Namun, ucapan Nayeon kembali terngiang ditelinganya.

 

“… Kau tahu, nama Suho juga ada dilaptop Ryu Sang Woo seongsanim…”

 

Laptop Ryu Sang Woo seongsaenim?

 

Bihyul mengernyit. Namun, sedetik kemudian ia mengubah arah pointer laptop Ryu seongsenim menuju dokumen. Jendela dokumen terbuka. Bihyul membaca setiap nama folder yang tertera disana. Bihyul kemudian membuka folder laporan. Ia membaca setiap judul yang ada disana dan melenguh kesal. Ada banyak sekali laporan disini.

 

Bihyul kemudian mengangkat alisnya. Ia kemudian mengarahkan pointer dan mengubah view laptop tersebut. Bihyul tersenyum melihat beberapa document yang dibuat pada bulan april-mei. Pasti laporan tentang siswa yang akan pindah atau keluar ada disalah satu dokumen tersebut.

 

Bihyul dengan cepat mengklik kanan semua file yang dibuat pada april-mei tersebut dan membukanya ditab baru. Ia melirik pintu masuk dan berharap cemas agar Ryu seongsaenim belum kembali. Karena banyaknya jendela Microsoft word yang dibuka oleh Bihyul membuat kinerja laptop itu melambat bahkan no responding.

 

Bihyul melirik koridor kantor yang kebetulan berhadapan dengan ruang guru. Tiba-tiba sosok Ryu seongsaenim keluar dari salah satu pintu dibangunan kantor. Bihyul mendesis. Ia melihat seluruh file dan membuka isinya dengan cepat. Setelah membaca sekilas ia kemudian menutup file tersebut agar tidak ketahuan dengan Ryu seongseanim. Langkah Ryu seongsaenim makin mendekat, bahkan ia telah masuk keruang guru sekarang.

 

Bihyul mendesah frustasi. Namun, tangannya terhenti diikuti matanya yang membulat ketika sekilas melihat nama Kim Jong In. Bihyul berdesis dan mencoba membaca kembali laporan yang hampir ia tutup itu.

 

“Han Bihyul-ssi”

 

-oOo-

TUK TUK TUK

 

Suara bola melantang menggema didalam ruang olahraga tersebut. Bola basket berhamburan di atas lantai licin itu.

 

BLANK

 

Sebuah bola yang dilempar keras masuk kedalam ring dan kembali menimbulkan suara menggema yang kuat. Seorang namja yang tak lain adalah Kai menatap tajam bola tersebut dan kemudian mendesah frustasi sembari mengusap wajahnya.

 

Kai menjatuhkan tubuhnya diatas lapangan basket indoor itu. Ia duduk dengan pandangan yang tak tentu arah. Pikirannya blank karena banyaknya hal yang ia pikirkan. Kai kembali mendesah, entah untuk kesekian kalinya dalam hari ini.

 

Semua pikirannya tertuju pada berita ia akan dipindahkan atau lebih tepatnya di drop out dari sekolah. Jika itu masalah drop out, ia tak memusingkannya. Toh, ini bukan kali pertamanya di keluarkan dari sekolah. Namun, hal yang menumpuk diotaknya adalah hal lain yang mungkin saja membuatnya hilang dari seluruh penjuru Korea selatan.

 

Oh, Kai menengadahkan kepalanya. Ia benar-benar tak ingin pindah. Ani, jika memang ia harus pindah itu tak apa baginya. Tetapi, ia ingin tetap berada disekitar wilayah kelahirannya atau disekitar kakaknya-Suho. Ia hanya ingin tetap bersekolah, itu saja. Walaupun selama ini malas, tetapi ia akan terus bersekolah. Menurut Kai, sekolah bukanlah tempat untuk belajar melainkan tempat untuk menghabiskan waktu dan uang.

 

“Hyung!” sebuah suara serak menyapa telinga Kai. Namja itu menoleh.

 

Seorang gadis dengan jalan layaknya seorang preman berjalan cepat kearah Kai. Ia menatap namja itu kesal. Dan detik kemudian gadis itu juga ikut menjatuhkan tubuhnya duduk disamping Kai.

 

“Aku sudah mendengar semuanya” ucap yeoja itu dengan raut wajah khawatir sekaligus kecewa.

 

Kai mengedikkan bahunya dan mengalihkan pandangannya dari gadis itu. Ia tak suka suasana dramatis seperti ini, apalagi jika ia sedang bersama dengan yeoja disampingnya.

 

“A-aku… tak habis pikir… hiks”

 

Kai menggeleng. Air mata sudah turun dipipi gadis itu.

 

“Geumanhae…”

 

Gadis itu menggeleng. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. “Aku tak bisa… hiks… hiks mereka benar-benar keterlaluan”

 

Kai hanya menatap gadis itu. “Berhentilah menangis Dayeon-ah… semuanya akan baik-baik saja”

 

Dayeon menurunkan tangannya dan menatap Kai kesal. Ia mengepalkan tangannya.

 

“Bagaimana bisa BAIK-BAIK SAJA JIKA NAMJOON MASUK RUMAH SAKIT?!” pekik Dayeon dan kembali menangis dengan keras.

 

Kai mengerjapkan matanya. Namjoon masuk rumah sakit? Kai tidak tahu hal tersebut.

 

“Mworago? Namjoonie wae? Mengapa ia bisa masuk rumah sakit?”

 

“…Blo-Block B..”

 

-oOo-

 

Bihyul berjalan sembari menundukkan kepalanya. Biasanya, jika pulang sekolah ia akan langsung pulang kerumah dan berganti pakaian untuk jalan-jalan ketaman didekat sekolah. Namun, hari ini tidak. Bihyul memutuskan untuk pergi ketaman duluan. Ia hanya ingin menenangkan pikirannya.

 

Kini, tak ada lagi perasaan tak percaya didalam hatinya. Semuanya sudah jelas. Dan sumbernya tak diragukan lagi. Bihyul kembali mengingat kejadian diruang guru. Dimana dengan tiba-tiba Ryu seongsaenim datang dan mengagetkannya. Bihyul sempat kecewa karena file tersebut not responding dan Ryu seongsaenim sudah hadir untuk melihat aplikasi download managernya. Namun, dewi fortuna kembali berada disampingnya.

 

Saat itu dengan tiba-tiba Min sajangnim datang dan memanggil Ryu seongsaenim. Hal itu membuat Bihyul dapat menghela napas dan menutup semua jendela yang telah ia buka serta menelan bulat-bulat kenyataan bahwa ia tak menemukan informasi apapun.

 

Namun, ucapan Min sajangnim membuat Bihyul terpaku dan menghentikan aktifitasnya.

 

“Apa surat pindah untuk anak-anak sudah selesai?”

 

“Ye, sangjanim”

 

“Tolong secepatnya bawa ke meja saya”

 

“Ne, sajangnim”

 

“Permisi sajangnim, apakah Kim Jong In dan keempat siswa saya, benar-benar akan dipindahkan minggu ini?” seru Ahn seongsaenim.

 

Mwo?! Bihyul menoleh tak percaya. Ia menatap ke tiga guru yang berdiri disampingnya itu. Dan raut serius disana membuat hati Bihyul yakin dengan hal yang mereka bicarakan.

 

Bihyul menghempaskan punggungnya ke kursi. Ia menghirup napas sebanyak-banyaknya dan mencoba menenangkan dirinya. Ia harus tenang…

 

Bihyul menghela napas berat. Sudah tak teragukan dan tak ada harapan lagi. Mungkin, Kai benar-benar akan menghilang dari pandangannya atau tepatnya dunia kecil Bihyul. Bihyul kembali meremas dadanya, sesuatu kembali menyeruak disana. Sepertinya luka lama telah kembali menganga dihati Bihyul. Setelah kepergian Han Bin sunbae tahun lalu, tak ada yang membuat Bihyul untuk bersemangat disekolah. Namun, Kai perlahan tumbuh menjadi seseorang yang karismatik dan mencuri perhatian Bihyul sehingga sampai detik ini Bihyul selalu tersenyum atau merasa berbunga-bunga ketika namja itu ada disekitarnya.

 

Bihyul menghentikan langkahnya didepan air mancur taman tersebut. Bihyul memperhatikan pancuran air tersebut. Apa bisa hujan datang saat ini? Jika bisa, maka Bihyul berharap agar detik ini tuhan menurunkan hujan untuk membawa serta perasaan aneh yang bersarang didalam hatinya.

 

Setelah beberapa lama berdiri dengan pikiran dan pandangan kosong dihadapan pancuran air tersebut. Bihyul menghela napas, ia meyakinkan diri bahwa Kai akan berlalu seperti Han Bin sunbae, Key sunbae, dan idola-idola Bihyul yang lainnya.

 

Bihyul berbalik dan melangkahkan kakinya menuju sebuah van ice cream disudut taman. Biasanya jika sedang berada ditaman, ia takkan lupa untuk membeli ice cream. Yah, ice cream sangat enak dinikmati saat sore hari seperti saat ini.

 

BRAK

 

Bihyul menghentikan langkahnya. Ia seperti mendengar sebuah suara pukulan benda keras. Bihyul menoleh dan tak menemukan apapun.

 

BRAK

 

“Argh!!”

 

Bihyul mengerutkan keningnya. Ia memandang penasaran pada gang kecil sebelum toko bunga dihadapan penjual ice cream tersebut. Ia mendengar bunyi debaman yang keras dan juga suara pekikan tertahan. Apa mungkin… seseorang sedang mengalami sesuatu yang buruk didalam sana?

 

Jiwa penasaran dan juga social Bihyul bangkit. Dengan segera ia berlari menuju arah sumber suara tersebut. Bihyul memelankan langkahnya ketika suara rintihan tersebut semakin terdengar. Tetapi, Bihyul seperti mendengar banyak gerakan didalam gang tersebut. Apa mungkin…

 

“Yak! Apa yang kalian lakukan?!”

 

Dugaan Bihyul tepat. Gadis itu melihat beberapa namja sedang mengerumungi sesuatu dan menendangkan kakinya kesal.

 

Seorang namja berbalik dan berdecak kesal.

 

“Wae? Kau ingin tahu?”

 

Bihyul memasang tampang datarnya. Namun, tak sengaja pandangannya melihat sebuah tas merah yang sangat ia kenali. Bihyul mengabaikan pertanyaan namja itu dan maju untuk memperjelas penglihatannya. Bihyul memelototkan matanya ketika menyadari identitas seseorang yang tengah tergeletak tak berdaya didalam kerumunan kelima namja tersebut.

 

“Kai-ssi..” panggil Bihyul syok dan berlari kearah Kai yang tergeletak dengan wajah lebam.

 

Namja yang berdecak kesal tersebut. Menaikkan alisnya. Apa ia baru saja diabaikan? Ia kembali berdecak kesal dan berbalik kearah Bihyul yang duduk disamping Kai.

 

“Yak!-“

 

“Mwohaneunggeoya? Kenapa kalian memukuli Kai?” Tanya Bihyul khawatir.

 

Salah satu namja dihadapan Bihyul tersenyum. “Tentu saja karena ini permintaannya”

 

“Mwo?”

 

“Yak! Pergilah! Kami tak punya urusan denganmu” ucap salah seorang namja lainnya.

 

Bihyul mengerutkan keningnya geram. “Ini urusanku karena dia…” Bihyul menatap Kai yang tengah terkapar kesakitan sekilas. “…temanku” ucap Bihyul dengan nada mantap.

 

Para namja dihadapannya tertawa mendengar ucapan Bihyul. Salah satu dari mereka maju ingin menghampiri Bihyul. “Apa kau bila-“ ucapan namja itu terhenti ketika seorang namja yang tadinya hanya diam dan terlihat seperti berusaha mengingat sesuatu kemudian menahan lengan namja itu.

 

“Hyung di-dia Han Bihyul” bisik namja itu pelan.

 

“..Lalu?”

 

“Yong Guk Hyung… dia anak Han Joong Ki sajangnim” ucap namja itu lagi sembari sesekali melirik Bihyul.

 

Yong Guk menautkan alisnya tak mengerti. “Terus apa hubungannya, Sun Jae-ya?”

 

“Dia anak orang yang paling disegani didistrik ini. Kumohon hyung kita mundur saja” ucap Sun Jae tak tahan dan menarik lengan Yong Guk untuk lari. Ketiga namja lain melihat aksi ketua mereka dan ikut lari bersama.

 

Bihyul menatap kepergian para namja itu sekilas. Dia kemudian menggungcang tubuh Kai namun namja itu tak sadarkan diri. Bihyul melirik semua luka dalam tubuh Kai dan memapahnya. Ya, Bihyul memapah lengan Kai dan menahan tubuh tinggi namja itu. Ia harus mengobati Kai sebelum terlambat.

 

Bihyul dengan tertatih membawa Kai kekursi taman yang berada di tempat yang sedikit ramai. Yah, Bihyul sengaja memilih tempat ramai karena takut jika para namja-namja kurang ajar tadi kembali dan menyerang Kai lagi. Bihyul yakin tak ada yang bisa menyerang Kai ditempat umum.

 

Bihyul mendudukkan Kai. Mata namja itu tak tertutup rapat dan lebam-lebam diwajahnya membuat Bihyul yakin bahwa Kai sedang kesakitan. Bihyul tersenyum tipis, rasa iba terhadap Kai muncul. Namja ini akan segera dikeluarkan dan hari ini dia diserang oleh orang jahat. Bihyul menundukkan kepalanya, andai saja ia bisa berbuat sesuatu untuk menyelamatkan orang dihadapannya.

 

Bihyul mendesah pelan. Ia mengambil tasnya dan mencoba mencari sesuatu didalamnya. Bihyul menemukan beberapa won yang ia yakin hanya bisa membeli satu ice cream. Ia kembali menatap wajah Kai. Ia menggemgam tangan namja itu.

 

“Tunggu aku sebentar, karena aku akan mengambilkanmu obat” ucap Bihyul pelan. Ia mendesah dan menarik tangannya. Tiba-tiba gelang berwarna hitam dengan bandul kecil bertuliskan ‘lucky’ ditangannya menarik perhatiannya. Bihyul melepaskan gelang itu dan memasangkannya pada tangan Kai.

 

Gadis itu kemudian beranjak dan berlari cepat untuk pulang kerumah. Ia hanya berharap Kai masih tetap dibangku itu dan menunggunya untuk mengobati lukanya. Yah, Bihyul harus mengobati luka Kai- setidaknya hanya itu yang dapat ia lakukan.

-oOo-

 

Bihyul menyelesaikan pekerjaannya dengan menempel plester bergambar hati dipipi Kai. Bihyul membersihkan tangannya dan tersenyum puas. Kai masih tampak tertidur ketika dengan cermat Bihyul mengompres dan mengobai setiap luka diwajah tampan namja itu. Dan Bihyul mensyukuri hal itu karena ia bisa dengan leluasa menyelesaikan pekerjaannya selain dapat melihat moment yang beda dari Kai.

 

Yah, wajah tertidur Kai yang limited edition. Mungkin tanpa plester dan lebam itu Kai akan nampak lebih imut. Namun menurut Bihyul, Kai tampak sangat polos sekarang. Dan bagusnya lagi, Bihyul bisa mengabadikan moment ini kedalam ponselnya. Ayolah, kesempatan tak datang dua kali dan Bihyul memanfaatkan kesempatan ini dengan sangat baik bukan?

 

Bihyul menatap hasil jepretannya. Ia tersenyum tak jelas menatap foto-foto itu. Namun, kegiatannya terhenti ketika ia menatap jam pada ponselnya. Sudah sangat sore dan ia harus pulang. Namun… Bihyul tak mungkin meninggalkan Kai disini.

 

Bihyul menoleh kepada Kai yang masih dalam posisi yang sama. Napas teratur berhembus perlahan dari hidung namja itu sehingga Bihyul yakin namja itu sedang tertidur dan ia tak sanggup untuk mengusik tidur namja itu. Lalu apakah ia harus meninggalkan Kai disini?

 

Sebuah ide muncul diotak Bihyul. Ia kemudian melirik tas Kai dan mulai menggeledahnya. Ia mengincar benda persegi panjang milik Kai. Namun, setelah menggeledah tas tipis yang hanya berisikan satu buku tanpa ada pulpen, serta power bank dan headset itu. Bihyul mengerucutkan bibirnya murung. Tak ada handphone ditas merah milik Kai.

 

Bihyul menyimpan tas Kai kembali. Namun, tatapannya terhenti pada blazer namja itu. Bihyul berpikir sejenak dan beberapa kali menggeleng. ia kemudian menghela napas dan memutuskan untuk mencari didalam sana. Bihyul melakukannya dengan hati-hati agar tak mengusik Kai. Namun, di kedua kantung blazer itu, Bihyul tak menemukan benda yang dicarinya.

 

Pandanga Bihyul kemudia turun ke saku celana Kai dan gadis itu menggeleng pelan. Tidak, ia tak boleh menggeledah disana. Namun, karena tak kunjung mendapatkan jalan penyelesaian diotaknya dan karena waktu sudah semakin lama manadakan malam akan segera tiba. Maka, dengan perlahan Bihyul menyentuhkan jarinya keatas saku celana Kai dan menunjuk permukaan itu pelan. Empuk.

 

Oh tidak, sepertinya Bihyul telah menyentuh sesuatu yang bisa diakatakan daerah yang tak boleh sembarang disentuh. Bihyul mendesah ia kemudian beralih ke saku kanan celana Kai dan menyentuh diatas permukaannya pelan. Datar dan keras. Pasti ponsel Kai ada disaku tersebut.

 

Bihyul menghirup napas frustasi. Ia harus mengambil ponsel itu. Namun, ia harus melakukannya dengan pelan agar tak mengusik tidur Kai. Dan benar saja, dengan sangat pelan Bihyul memasukkan tangannya dan menarik ponsel Kai keluar. Ia bahkan terus menahan napas karena wajah Kai tepat berada dihadapannya. Terpampang sangat indah dan membuat Bihyul untuk beberapa saat terbuai dengan karisma namja itu.

 

Bihyul berhasil mengeluarkan ponsel Kai, ia bahkan hampir memekik karena telah berhasil melaluinya. Dengan cepat Bihyul membuka ponsel tersebut yang tak dilindungi kunci dan segera mencari log telepon Kai. Bihyul membaca setiap nama tersebut dan seseorang dengan nama ‘Dayeon’ adalah orang dengan frekuensi banyak menghubungi Kai. Apa mungkin Dayeon adalah kakak Kai?

 

Bihyul tak ambil pusing ia segera menelpon nomor tersebut. Nada panggilan terdengar jelas.

 

Tit

 

“Kai-”

 

“Dayeon-ssi?” tanya Bihyul namun ia kemudian memukul kepalanya karena melakukan suatu hal yang salah. Oh, dia lupa jika menelpon dengan menggunakan ponsel Kai.

 

“Kai? Apa kau bukan Kai?”

 

Bihyul membungkam mulutnya. Namun, detik kemudian ia hanya bisa mendesah. “Jwosonghamnida, tapi bisakah anda menjemput Kai-ssi? Dia sedang berada ditaman dekat cheondam SHS dan tak bisa untuk pulang sendiri. Datanglah dengan cepat karena Kai membutuhkan anda, khamsahanida”

Bihyul menutup telepon tersebut dengan harapan agar Dayeon akan datang menjemput Kai. Ia juga berharap agar gadis itu tak mengenali suaranya. Ponsel Kai ditangan Bihyul kembali berdering namun Bihyul menghiraukannya dan memasukkannya kedalam tas namja itu. Ya, Bihyul harus bergegas menjauh dari Kai sebelum gadis bernama Dayeon itu datang.

 

Namun, pergerakan Bihyul terhenti ketika wajah Kai mengalihkan pandangannya. Ada rasa yang membuat Bihyul ingin tinggal lebih lama. Rasa yang membuat diri Bihyul ingin tetap disamping namja itu. Bihyul menundukkan badannya melihat Kai lebih dekat. Menatap wajah namja itu sangat dekat, bahkan jarak antara wajah mereka hanya beberapa centi. Bihyul menahan napasnya merasakan hembusan napas teratur dari Kai. Bihyul mendekatkan wajahnya ketelinga Kai dan memejamkan matanya perlahan. Bihyul tak ingin apapun, ia hanya ingin seperti ini.

 

-oOo-

 

Doyeon menatap jam ditangannya dan bergegas memasukkan ponselnya kedalam tas. Rasa khawatir menyeruak didadanya. Baru saja ia mendapatkan telepon dari nomor Kai, namun yang berbicara bukanlah Kai melainkan seorang yeoja. Dan parahnya lagi, yeoja itu menyuruh dirinya untuk bergegas ketaman. Yeoja itu mengatakan bahwa Kai membutuhkannya. Dan hal itulah membuat Dayeon benar-benar takut terjadi sesuatu yang buruk kepada Kai.

 

Namun, langkah gadis itu terhenti sedetik kemudian. Ia hapal betul watak Kai dan perilaku namja itu. Yah, namja dengan tampang yang lumayan dan terkenal sebagai playboy sekolah itu suka jahil dan mempermainkannya. Mungkinkah… Kai hanya mengaerjainya kali ini? Mungkin Kai akan memamerkan pacar barunya yang cantik kepada Dayeon? Atau ia hanya ingin membuat dirinya khawatir tingkat dewa.

 

Dayeon memukul kepalanya, ya pasti Kai hanya ingin mengerjainya. Tapi, jika benar terjadi apa-apa dengan Kai bagaimana? Dayeon menggelengkan kepalanya. Namja itu jago berkelahi, ia yakin tak mudah untuk mengalahkan seorang Kai. Tapi, jika kecelakaan terjadi pada namja itu bagaimana? Dayeon kembali memukul jidatnya.

 

Ia pusing antara takut di tipu dan rasa khawatir yang bersarang didadanya. Ia kemudian, mengeluarkan ponselnya dan menekan tombol 6 lama.

 

“Eoh-“

 

“Kau dimana?”

 

“Di taman” jawab namja diseberang telepon pendek.

 

“Apa kau bersama Kai? Atau apakah kau melihatnya mungkin?” tanya Dayeon khawatir.

 

“Aku baru saja melihatnya”

 

“Jincha? Apa dia bersama wanita?” tanya Dayeon tanpa sadar setengah memekik.

 

“…” tak ada jawaban dari namja diseberang telepon. Namun, beberapa detik kemudian namja itu akhirnya menjawab.

 

“Tidak”

 

Dayeon menghela napas. Ternyata Kai tak sedang bersama wanita. Baiklah, ia akan memberikan pelajaran kepada namja itu karena memerintahkannya untuk bergegas.

 

-oOo-

 

Sementara itu ditempat lain seseorang mematikan sambungan teleponnya. Ia kemudian mengarahkan pandangannya kedepan dimana seorang gadis terlihat sangat dekat dengan seorang namja. Mungkinkah, kedua siswa Cheondam SHS itu sedang berciuman didepan umum? Namja itu hanya menerka karena jaraknya yang cukup jauh.

Namun, pandangannya menyipit tajam ketika yeoja itu menyudahi aktifitasnya dan berdiri tegak. Tampak sang yeoja menghadap ke namja itu sangat lama hingga akhirnya berbalik pergi meninggalkan namja itu yang tampaknya sedang tak sadarkan diri. Pandangan orang tersebut mengikuti arah kepergian yeoja itu sembari tangannya bergerak perlahan mengeluark sebuah benda di blazer merah marun milik sekolahnya. Ia menarik keluar benda yang ternyata sebuah name tag dan bertuliskan huruf hanggul “Han Bi Hyul”.

 

TBC

 

Bagaimana yang diatas? Makin gaje kah? I think ya…

Hmm… saya gak banyak koment kok… kemarin ada yang nanyain cosinus. Sekefo alias sekedar info… Cosinus adalah nama kelas saya… bukan grup atau apapun… Yah, saya cuma mau buat cosinus eksis… maklum makhluk –makhluk yang ada dicosinus itu tukang eksis semua… itu hanya nama kelas karena anaknya alay gag mau hanya dipanggil kelas segini. Maunya ada nama yang beda dengan angkatan tahun lalu yang pernah memakai nama kelas Ipa 1…

 

Saya sedang berusaha untuk membuat FF yang baik setidaknya saya punya impian untuk memperbaiki tulisan saya dan memnuntaskan ff ini. Jadi, saya mohon kritik dan sarannya. Untuk semua yang baca terimakasih. Yang like pun juga… love you all and (again and again) let me see you in next chapter

Don’t forget to follow my twitter @revabip

 

REGARDS

 

Revabip

6 thoughts on “Never Let You Go [Chapter 2]

  1. Eoh mungkin kah yang ditelepon dengan dayeon yang mengatakan bahwa lai tak bersama dengan wanita . Ugh nampaknya ada sahabatnya yang mengkhianati agar kai dapat menerima pembalasan mungkin ia bisa saja kesal dan marah akibat oa tak dianggap mungkin.
    Ugh bagaimana ini apalagi bi hyul menyukai kai dan ia tak ingin kai meninggalkannya ya dan pergi jauh.
    Next chapternya ya

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s