Posted in Author, Fanfiction, fantastic818, Lu Han, Romance, SCHOOL LIFE, Se Hun

Love Story part 8B

Love Story chap

Love Story part 8B

Cast :

Oh Sehun

Han Seul Rin

Luhan

Han Seul Ra

Do Kyung Soo

Genre : School Life, Romance,

Lenght : Chapter

Rating : Teen ‘-‘

Part Sebelumnya

“Tangan yang indah, memiliki karya yang indah pula”

 

****

Apa yang kau ketahui tentang sekolah ? Tempat mencari ilmu ? Tempat yang penuh dengan buku-buku ? Atau tempat dimana tugas – tugas selalu menumpuk ? Ah, apapun itu yang pasti disana ada kesedihan dan kesenangan. Dua hal yang berbanding terbalik namun menghiasi kertas kehidupan.

Seperti saat ini, kelas 12-1 sedang mengerjakan tugas seni mereka. Membuat karya, entah itu lagu, gambar atau apapun. Seul Rin tentu saja membuat desain gaun, sudah lama sekali ia tak mendesain lagi karena sekarang ia tidak bertumpu pada penghasilannya menjadi Desainer Freelance, orang tuanya membiayai sekolahnya untuk beberapa tahun kedepan, atau mungkin selamanya ?

“Apa yang akan kubuat ?”

“Aku tidak berbakat dalam seni”

“Bisakah aku menulis kurva penjualan komestik Ayahku ?”

Ah, itu suara dari belakang Seul Rin. Suara khas Oh Sehun memang tidak bisa dibohongi. Berat namun sexy, membuat semua yeoja yang mendengarnya akan langsung meleleh.

Seul Rin selesai dengan desainnya, gaun sepaha dengan rok yang mengembang. Di pinggangnya terdapat sabuk yang didesain menjadi pita, atasannya menutupi dada lalu bagian bahu yang terekspos ditutupi oleh blazer sepinggang sepanjang siku. Di roknya terdapat motif kelap kelip, mungkin ia berniat memberi manik manik untuk menghiasinya.

“Masih suka mendesain ?”

Seul Rin menghentikan aktifitasnya, menoleh kearah Luhan yang tersenyum manis padanya. Apa Luhan yang bertanya padanya ?

“Aku ingat, kau dulu sering sekali tidur larut karena kejar deadline, padahal aku yakin kalau perusahaanmu itu akan memaklumimu”

Luhan mengingatnya ? Jantungnya seakan berhenti ketika mendengarnya. Pasti masa ketika ia memulai kehidupan mendesainnya, saat itu ia masih kelas 3 SMP dan iseng mendesain sebuah seragam sekolah dan ternyata perusahaan Ayahnya ini tertarik dan menjadikannya Desainer Freelance. Setiap dua minggu sekali ia mengirim karyanya itu, hanya 2 atau 3 desain, padahal setiap harinya ia membuat desain hampir tujuh kali.

“Aku tidak tau darimana kau bisa memiliki hobi seperti itu, mungkinkah gen dari orang tuamu ? Aku benar – benar bangga sekaligus iri denganmu Seul Rin~ah”

Iri ? Justru Seul Rinlah yang iri pada Luhan, bagaimana Luhan bisa memiliki banyak teman, bagaimana Luhan bisa melindunginya, bagaimana Luhan menjaganya lalu menjadi idola sekolah, itu semua membuatnya iri. Dan apa ? Luhan iri padanya hanya karena mendesain. Tak masuk akal memang, tapi ia jadi ingat kalimat itu, kalimat pembangun yang membuatnya berambisi menjadi desainer dulu.

“Hobiku menggambar sebenarnya, tapi aku tidak bisa menjadi sepertimu. Aku ingin menjadi arsitek tapi justru hebat dalam bidang sepak bola, lucukan ?” Luhan terkekeh untuk pertama kalinya, senyum tulus yang pertama kali Seul Rin lihat setelah sekian lama.

Diam – diam Seul Rin tersenyum simpul. “Ge, ingat kalimat itu ?”

Berhasil, Luhan menatapnya seakan menanti lanjutan dari ucapan Seul Rin. Entah ia lupa atau penasaran. Atau mungkin ia terlalu banyak mengeluarkan kalimat pembangun untuk Seul Rin.

“Tangan yang indah, memiliki karya yang indah pula”

Luhan terdiam, itu artinya ia mengingat kalimat itu. Ia juga ingat kapan dan dimana ia mengatakannya, ia yakin saat itu ia hanya iseng dan ternyata malah membuat Seul Rin sesukses ini.

****

            Hari itu, kelas sedang mengadakan unjuk bakat. Semuanya telah menemukan bakatnya, kecuali Seul Rin. Hobinya memang mendesain, tapi tidak seindah milik Krystal yang sungguh indah.

            Seul Rin menyukai anime sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, apalagi yang bergenre School Life. Ia suka menggambar seragam – seragam tokoh anime itu, ya walaupun tidak seindah seragam asli. Ia memodifikasi seragam anime itu menjadi lebih hidup, disertai lambang sekolah di almamaternya.

            “Kau kira itu bakat ? Kau itu menggambar atau mendesain ?”

            Pertanyaan Krystal hari itu membuatnya terpukul, jantungnya bagai ditusuk oleh ribuan bahkan jutaan jarum sehingga membuatnya lemas. Berlebihan memang, ya karena mereka masih kelas 1 SMP saat itu.

            Krystal memang sering sekali membuatnya down, hanya karena ia dekat dengan Luhan. Ya, semua orang mengenal Seul Rin sebagai pacar Luhan sejak usia 8 tahun dan itu membuat Krystal yang menyukai Luhan menjadi sangat marah.

            “Masih mengingatnya ?” Suara lembut Luhan membuat lamunannya buyar, memang kenjadian itu selesai 2 hari yang lalu namun bekasnya masih ada hingga saat ini.

            Luhan merebahkan dirinya dikasur milik Seul Rin, memejamkan matanya dan menjadikan lengannya sebagai bantal. “Krystal memang begitu, sudahlah tidak usah dipikirkan”

            “Susah Ge, itu menyakitkan,” Seul Rin menunduk lalu menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang sambil memeluk lututnya yang tertekuk. “bahkan lebih dari apapun”

            Luhan iba, tentu saja. Guru bahkan tidak mempermasalahkan gambar Seul Rin yang sederhana itu, namanya saja hobi, apapun yang dibuat selalu menyenangkan hati, entah itu hasilnya buruk atau indah. Krysal memang berlebihan, selalu. Gadis berdarah korea itu memang suka mendekatinya dan mencoba menjauhkan Seul Rin darinya. Seul Rin terlalu baik untuk disakiti, bahkan hanya karena gambar manga. Itu hanya hobi.

            Perlahan, Luhan menepuk lalu mengelus punggung adik angkatnya itu, lembut penuh kasih sayang. Tak lupa pula ukiran senyum yang indah yang selalu membuat hati Seul Rin tenang. “Kau tau tidak ? Bakatmu itu masih tersembunyi”

            Kerutan di dahi Seul Rin semakin terlihat jelas, entah ia masih belum mengerti atau apa. Maklum, gadis berusia 12 tahun itu masih dalam masa pertumbuhan. Ia harus beradaptasi dengan anak – anak berusia setahun diatasnya mulai sekarang.

            “Aku pernah mendengar Kakekku berkata, ‘Cita – citamu menjadi Arsitek kan ? Atau ingin menjadi pemain sepak bola ?’ lalu aku menjawab sepak bola. Ia melanjutkan kalimatnya, ‘Kalau begitu rawat kakimu dengan baik, ajak dia agar bisa menjadi pemain sepak bola. Rawat dan percantik dia’. Kau tau maksudnya ?”

            Seul Rin menggeleng sambil terus menatap Luhan, menanti jawaban yang sangat membuat dirinya penasaran itu. Bahkan air matanya sudah mulai berhenti.

            Luhan memegang tangannya kemudian menggenggamnya erat, “Kau memiliki tangan yang cantik, pasti tangan ini bisa menghasilkan karya yang cantik pula.”

            Sederhana, simple, hal yang sederhana berhasil membuat Seul Rin memulai segalanya, mulai saat ini.

****

            Jam pelajaran sudah selesai 5 menit yang lalu, namun entah kenapa Luhan masih enggan keluar dari kelas, bahkan untuk beranjak dari bangkunya saja rasanya amat berat. Tugas sudah dikumpul 15 menit yang lalu dan akhirnya ia memutuskan membuat sebuah cerita pendek tentang kalimat pembangunnya –menurut Seul Rin-. Entah mengapa ide cerita pendek mengalir begitu saja saat gadis itu memancing kejadian yang lebih dari 4 tahun yang lalu itu.

Sederhana namun ajaib, lagi – lagi kalimat itu membuat keajaiban. Bahkan Luhan sudah berkali – kali menatap kedua telapak tangannya yang entah mengapa semakin lama semakin mengurus, seperti hanya tersisa tulang belulang.

“Oppa, sudah lama tak melihatmu”

Suara itu, Luhan juga sudah lama tidak mendengarnya. Ia ingat, terakhir kalinya ia mendengar suara itu ketika gadis itu putus dengan Sehun, apalagi saat itu adalah saat tersedihnya.

“Oppa sudah lama tidak periksa, mau kuantar sehabis pulang sekolah ?”

Kali ini Luhan menatap gadis di depannya, Han Seul Ra. Gadis yang menjadi kakak kandung dari adik angkatnya dulu. Terkadang ia berpikir, bagaimana bisa dunia begitu sempit ? Skenario Tuhan memang benar – benar rumit.

Ia melihatnya lagi, senyuman Seul Ra yang sudah lama tak ia lihat. Ia memang menyukai gadis itu sejak Sehun memperkenalkannya, gadis itu memiliki hati yang hangat, selalu menemani Luhan untuk berobat ketika Sehun sibuk dengan urusan Appanya.

Banyak yang salah paham, ya walaupun tidak sepenuhnya salah paham. Ia sering bersama Seul Ra karena saat itu ia benar – benar membutuhkannya, terutama saat dokter memvonis penyakitnya semakin parah. Tes darah itulah yang membuatnya semakin sedih dan Seul Rapun selalu ada untuknya. Egois memang, tapi itulah hidup.

“Aku hanya khawatir akan terjadi sesuatu, jika Oppa sakit nanti siapa yang akan menemaniku ?”

Seul Ra menangkupkan pipinya di depan Luhan. Sudah lama ia tidak bertingkah manja seperti ini dan ini semua karena Luhan. Jika saja ia tidak pergi meninggalkan Seul Rin dan Mama Lu mungkin gadis ini masih bahagia dengan Sehun.

“Oppa akan sembuh dan akan selalu menemanimu”

“Janji ?”

Apakah janji dibuat untuk ditepati ? Atau hanya untuk meyakinkan seseorang akan sesuatu yang tidak pasti ?

****

Klub memasak kembali membuat menu yang baru, khusus akhir musim dingin. Mereka membuat sup dari jamur yang sungguh lezat. Kantin semakin lama semakin ramai dan membuat Kyung Soo dan Seul Rin kewalahan, anggota mereka berkurang menjadi 5 orang dan tentu saja membuat anggota lain protes. Mereka terlalu lelah, begitu pula dengan Kyung Soo dan Seul Rin.

“Maafkan aku, tapi Klub ini harus tetap berjalan. Bukankah selama ini kita juga digaji ?”

“Kita perlu tenaga yang cukup ! Bukan uang yang banyak ! Meskipun uang banyak tapi tenaga kita kurang apa yang akan kita sajikan ?! Kau kira kita ini robot !”

Berbagai hujatan tersembur ke Kyung Soo, bahkan Seul Rin sudah berkali – kali untuk melerai tapi tetap saja mereka masih saja protes.

“Jika begini terus kami akan keluar !”

Begitulah akhirnya, hanya tersisa Kyung Soo dan Seul Rin yang masih berada di dapur. Seul Rin mengelus punggung Kyung Soo agar namja itu tetap bersabar, “Tak apa, kita masih berdua”

Satu hal yang patut Kyung Soo syukuri, ia masih memiliki asisten yang sama sepertinya. Perlahan namun pasti, kelas 12 akan vacuum dari ekstrakurikuler 4 hari lagi dan ia harus kuat.

“Aku keluar dulu ne ? Tak apa kan sendirian ?”

“Ne, hati – hati”

Kyung Soo berjalan kearah kompor, namun ia mencium bau yang aneh. Bau yang sama persis seperti dulu, yang membuat klub memasak vacuum. Bau yang sama yang membuat dapur kantin meledak.

“Masih disini ?”

Kyung Soo menoleh dengan cepat ketika mendengar suara seorang yeoja, yeoja yang familiar tapi ia tak mengingatnya.

“Kau melupakanku ? Oh, kau mantan yang keren. Apa kau ingin mengulang kejadian itu ? Ingin membuat ini meledak dan kau dimintai ganti rugi ?”

Kyung Soo mengepalkan tangannya erat, mendekati yeoja itu namun yeoja itu menendang tulang kering Kyung Soo hingga namja itu tersungkur.

“Ingat Do Kyung Soo, dapur ini akan meledak dan kujamin kau akan mati.”

‘Klekk’

Pintu dapur tertutup, Kyung Soo berlari ke pintu itu namun sudah terkunci. Ia melirik tabung gas yang sepertinya bocor, astaga ia bahkan lupa mematikan kompor. Kyung Soo merangkak ke pojok dapur lalu menutup hidungnya dengan telapak tangan.

“Do Kyung Soo !! Kau mendengarku ??!! Buka pintunya !!!”

‘DUARRRRR’

“Kyung Soo~ssii !!”

-TBC-

Sebelumnya Fantastic minta maaf karena lama update, yang pertama sekarang fantastic udah SMA jadi makin sibuk. Yang kedua, maaf kalo ceritanya gaje, absurd, dan pendek bangett. Yang ketiga, maaf gak ada HunRin moment… Ah iya, yang mantannya si Kyung Soo –diakhir cerita- itu cast baru.. Maunya namanya siapa ? Pinginnya Fantastic sih Kim Ji Ohn atau Jion.

Gomawo ya yang udah baca, jangan lupa komen okay ? ^^

Iklan

Penulis:

Bonjour, Annyeong Haseyo, Hai, Hallo.. Fantastic818 here ^^~

24 thoughts on “Love Story part 8B

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s