Priceless Gift

Priceless Gift - cover

Story by Callia Jung
Jung Soojung / Krystal f(x) | Oh Sehun EXO
Oneshot
Romance, Family
NC-17

Soojung tengah sibuk membolak-balikkan majalah di pangkuannya sambil sesekali melirik siaran televisi di hadapannya. Sebelah tangannya mengelus-elus perutnya yang telah memasuki usia kandungan sembilan bulan, yang semakin hari semakin besar dan berat saja. Terkadang ia kerap dirundung rasa panik ketika perutnya tiba-tiba mengeras dan terasa keram. Maklum, jika sesuai dengan prediksi dokter maka ia akan melahirkan anak pertamanya dekat-dekat ini.

Sehun, sang suami beberapa jam yang lalu telah berangkat ke kantor. Mereka tidak perlu cemas, karena Ibunda Soojung sudah tiba dari Los Angeles minggu lalu, dan untuk sementara tinggal di rumah mereka. Orang-orang rumah memang perlu siaga karena kelahiran sang bayi tidak pernah bisa ditebak. Soojung bahkan tidak berani keluar rumah jika tidak ditemani Sehun atau Ibunya.

Ponsel yang tergeletak di samping Soojung berdering. Nama suami tercinta terpampang jelas di layar. Iapun segera mengangkatnya.

“Kau sedang apa, sayang?” ujar Sehun.

“Aku hanya bersantai-santai di rumah. Kau sendiri?” sahut Soojung.

“Aku baru selesai rapat, sekarang sedang diperjalanan mau ketemu klien. Oh ya, perutmu bagaimana? Apa sakit lagi?”

Soojung menggeleng, seakan Sehun bisa melihatnya. “Kadang-kadang, dede bayinya juga semakin suka gerak.”

“Dede bayinya mungkin sudah tidak sabar melihat papanya yang ganteng,” canda Sehun.

“Bukan, tapi mamanya yang cantik,” Soojung tidak mau kalah.

Terdengar tawa Sehun dari seberang telepon.

“Sehun, kalo pekerjaannya sudah selesai jangan ke mana-mana, langsung pulang ke rumah. Aku takut kalau tiba-tiba mau melahirkan,” tutur Soojung.

“Iya, iya. Pokoknya aku akan terus siaga satu,” kata Sehun. “Aku ingin bicara sama dede bayi, boleh?”

Soojung tersenyum. Ia lalu mengaktifkan loudspeaker ponselnya dan mendekatkan ke perut buncitnya.

“Dede bayi, jangan nakal. Papa titip Mama sebentar. Pokoknya kalo sudah selesai, Papa langsung pulang,” ujar Sehun.

Sepasang suami-istri itu lalu berbincang-bincang ringan, selagi Sehun masih berada dalam perjalanan. Selepas itu telepon pun berakhir. Meski Sehun sibuk dan jarang di rumah, tapi ia selalu saja berhasil untuk menenangkan perasaan Soojung.

Setelah bosan menekan-nekan tombol remote, berpindah dari channel satu ke channel lain, Soojung akhirnya memutuskan untuk beranjak dari duduknya. Dengan pelan dan sedikit kerepotan mengangkat perutnya, ia berusaha bangkit. Ketika berhasil melakukannya, tiba-tiba ia merasa perutnya kembali tegang dan keram, tapi berbeda dari yang sebelumnya yang pernah ia rasakan. Ia merasa mules, perutnya sangat sakit.

“Ma, maaa!!!” pekik Soojung, di tengah rasa sakit yang mulai menggerogotinya.

Sedetik kemudian Ibunya berlari dari arah belakang.

“Kenapa, sayang?” tanya Ibunya panik.

“Pe…rutku sakit sekali, sepertinya aku mau melahirkan,” rintih Soojung.

Ibunya segera memanggil dua orang pembantu dan seorang sopir untuk membantunya bersiap-siap membawa Soojung ke rumah sakit. Tidak perlu memakan waktu lama, karena semua keperluan bersalin Soojung serta berbagai perlengkapan calon bayi sudah dipersiapkan jauh-jauh hari.

Soojung kemudian dipapah berjalan keluar rumah. Tiba-tiba ia merasa seperti ada cairan yang keluar dari vaginanya. Cairan putih, seperti air, seperti juga lendir. Sama yang pernah ia baca di sebuah artikel di internet mengenai tanda-tanda akan melahirkan.

“Ma, ponselku ada di kursi. Tolong hubungi Sehun. Perutku benar-benar sakit,” pinta Soojung, berusaha menahan keram, ngilu, sekaligus sakit di perutnya.

Ibunya lalu memberi aba-aba kepada salah satu pembantu yang membawa barang-barang untuk melakukan yang dikatakan Soojung. Soojung kemudian dibantu masuk ke dalam mobil. Ia duduk di antara Ibunya dan salah seorang pembantu lagi.

“Soojung, apapun yang kamu rasakan jangan mengejan. Kamu harus tetap rileks, tarik napas yang panjang, lalu hembuskan pelan-pelan,” pinta Ibunya. Soojung segera mengikuti arahan dari sang Ibu.

Pembantu yang diperintahkan mengambil ponsel telah tiba. Dengan segera ia duduk di samping kemudi. Setelah menyerahkan ponsel Soojung, Ibunya langsung menghubungi Sehun agar segera ke rumah sakit.

****

Sesampainya di rumah sakit Soojung langsung segera dibawa ke ruang bersalin. Dokter kandungan yang wajahnya tidak asing lagi bagi Soojung segera menghampirinya. Dengan dokter itulah selama ini ia kerap memeriksakan kandungannya.

Soojung segera dibaringkan di ranjang bersalin. Beberapa suster membantunya mengganti baju dan mengenakannya pakaian bersalin. Mungkin hampir setiap tujuh menit ia merasakan kontraksi hebat di perutnya, seperti ingin buang air besar, namun tekanannya sangat sakit.

“Aakkhh!!! Perutku sakit, dok!” rintih Soojung.

Sang dokter kemudian membuka lebar kedua kaki Soojung, memeriksa kondisi vaginanya. Tanpa ragu, dokter itu memasukkan beberapa jarinya ke dalam vagina Soojung, membuatnya kembali merintih kesakitan.

“Baru pembukaan pertama,” ujar sang dokter, setelah mengeluarkan jarinya. “Persalinan baru bisa kita mulai setelah pembukaan ke sepuluh, saat mulut rahim sudah terbuka sekitar 10 cm. Sekarang baru 1 cm, jadi usahakan jangan mengejan dulu saat kontraksi datang. Berusahalah tenang dan tarik napas dalam-dalam, lalu hembuskan perlahan,” jelasnya.

Soojung pun mengikuti apa yang dikatakan dokter, tapi saat kontraksinya kembali datang itu sangat mengerikan. Dia merasa seperti ribuan kuda berlarian menginjak perutnya, juga seperti ada bara api yang bergelindingan di dalam perutnya. Sangat sakit. Dia hanya sanggup menjerit seraya menyuruh dokter untuk kembali memeriksanya, apakah sudah bisa bersalin atau belum. Namun, lagi-lagi sang dokter hanya tersenyum dan menyuruhnya untuk tetap tenang dan rileks. Ingin rasanya Soojung berteriak memakinya. Dengan gampangnya si dokter berbicara, padahal yang merasakan sakitnya hanyalah dia seorang.

“Ma, Sehun di mana?” tanya Soojung, setelah kontraksinya mulai mereda. Sejak masuk ke ruang bersalin, Ibunya yang terus berada di sampingnya.

“Dia sudah dalam perjalanan ke sini. Sebentar lagi dia sampai,” kata Ibunya.

“Arrgghh! Sakit…sakit!!! Ma, ini benar-benar menyaktikan,” rintih Soojung lagi.

“Iya sayang, kamu yang kuat. Kamu pasti bisa,” Ibunya menggenggam erat tangan Soojung.

Waktu terus berdetik dan semakin lama kontraksi menyakitkan itu datang menghampiri Soojung lebih sering, hingga dokter mengatakan padanya bahwa ia sudah sampai pada pembukaan ke tujuh. Artinya, tidak lama lagi persalinan akan dimulai. Namun Sehun tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Membuat Soojung semakin merasakan kesakitan yang mendalam.

Mengapa Sehun sampai begitu lama? Apa ia akan membiarkan Soojung merasa kesakitan seorang diri saat berusaha melahirkan buah hati mereka? Sehun keterlaluan!

Beberapa suster mendekati ranjang tempat Soojung terbaring kesakitan, masih dengan kondisi kaki yang terbuka lebar. Memperlihatkan vaginanya yang tanpa ia ketahui mulai mengeluarkan bercak-bercak darah. Untungnya, tidak ada seorang laki-laki pun berada dalam ruangan itu. Soojung beruntung, bisa bertemu dengan dokter kandungan seorang wanita.

Soojung dengan susah payah menahan rasa sakit yang perlahan mulai menguras tenaganya. Sementara para suster sibuk mempersiapkan peralatan bersalin. Mereka juga memasangkan selang oksigen ke dalam hidung Soojung agar memudahkan pernapasannya. Tindakan para suster itu sebenarnya cukup berhasil membuat jantung Soojung mulai berdebar-debar di tengah rasa sakitnya. Bisakah ia melewati hari yang menyakitkan ini dengan lancar? Bahkan persalinan pun belum dimulai, tapi ia sudah merasakan sakit yang luar biasa. Bagaimana rasanya ketika ia memulai persalinan nanti? Apapun itu, ia hanya mengharapkan agar bayinya bisa lahir dengan selamat tanpa kurang satupun.

Soojung berusaha melirik di sekitarnya, mengecek apakah Sehun sudah datang, tapi sepertinya belum. Tampaknya ia harus berjuang sendirian melahirkan anak pertamanya, tanpa ada Sehun di sisinya. Iapun mengeratkan genggaman di tangan Ibunya yang sejak tadi terus memeganginya.

“Sudah pembukaan ke sembilan. Ibu, tunggu sebentar lagi,” kata dokter sambil membersihkan bercak-bercak darah dari vagina Soojung dengan kapas putih yang sudah dibasahi air. Membuat Soojung merasakan dingin di area sekita vaginanya, tapi tetap tidak menghilangkan rasa sakitnya.

“Aaarrggghh…sa…kit…” rintih Soojung.

“Usahakan jangan mengejan sebelum saya perintahkan, yah,” ujar sang dokter seraya tersenyum lembut.

Soojung hanya mengangguk di tengah kesakitan yang semakin lama semakin menjad-jadi saja. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Pemuda bertubuh jangkung muncul dengan raut wajah panik. Bagian ujung kemejanya sudah keluar dari balutan celana panjangnya yang rapi. Dasinya pun sudah tidak terikat rapi lagi. Ia langsung menghampiri Soojung dan menggantikan Ibunya yang sejak tadi mengenggam tangan istrinya itu.

“Kau baik-baik saja?” tanya Sehun cemas.

“Kau ke mana saja? Aku benar-benar kesakitan sekarang,” kata Soojung lirih.

Sehun mengeratkan genggamannnya. “Maafkan aku, di jalan aku terjebak macet. Jadinya, aku dibantu sopir mencari ojek dulu, dan baru bisa sampai sekarang.”

“Maafkan aku, sayang,” imbuhnya sambil mengecup kening Soojung.

“Aarrrhhggg!!!” pekik Soojung ketika merasakan perutnya yang seperti mau meledak. Dia merasakan sesuatu yang sangat besar hendak menerobos dinding vaginanya.

Sehun seketika dibuat panik. Tapi, sang dokter yang berada di hadapannya segera tersenyum berusaha menenangkan.

“Persalinannya sudah bisa kita mulai,” kata dokter. Dia lalu melirik Sehun, “Tetaplah mendampingi istri Anda. Dukung dan berikan ia kekuatan,” lanjutnya.

Sang dokter mulai mengatur posisi duduknya di depan kaki Soojung yang terbuka lebar tanpa ada sehelai benang pun yang menghalangi. Pakaian bersalin yang ia kenakan hanya menutupi dari bagian pundak sampai ke perut buncitnya saja.

“Baiklah, dengarkan baik-baik. Kalau kontraksinya muncul tarik napas dalam-dalam, lalu mengejan sekuat tenaga,” pinta sang dokter.

Kontraksinya pun datang. Dalam hitungan ketiga, Soojung mengejan sekuat tenaga. Saat itulah ia merasakan sakit yang luar biasa. Bukan hanya di bagian perutnya, tapi juga di bagian vaginanya.

“Hhmmmpphh!!! Hah…hah…hah! Hhmmmpphh!!! Hah…hah…hah!”

Begitu seterusnya hingga beberapa menit lamanya telah berlalu. Soojung mulai merasakan panas di bagian vaginanya, merasakan seperti ada sesuatu yang hendak keluar, namun kembali masuk ke dalam. Ia tahu persis bahwa itu adalah kepala sang bayi.

Soojung bisa merasakan genggaman Sehun yang semakin erat.

“Berjuanglah, sayang. Demi anak kita,” bisik Sehun. Ia lalu menyeka peluh di kening Soojung, lalu kembali mengecupnya.

Ucapan Sehun seolah kekuatan baru baginya. Soojung pun mengumpulkan tenaga dan kembali mengejan sekuat tenaga, meremas tangan Sehun kuat-kuat. Tak puas hanya dengan tangannya, ia lalu menarik dasi suaminya itu.

“Hhmmmpphh! Hhmmmpphh! Haaah…sakit…” rintihnya, tapi tetap berusaha mengejan.

“Ayo, sedikit lagi,” pinta dokter.

“Hhmmmpphh! Hhmmmpphh!” Soojung kembali mengejan, sesekali membangkitkan tubuhnya, lalu kembali terhempas ke kasur.

Perih dirasakannya ketika dokter mencoba melebarkan mulut vaginanya agar sang bayi bisa segera keluar. Namun, Soojung berusaha keras menahan. Bagaimanapun sakitnya akan ia hadapi demi keselamatan bayinya.

Sesuai aba-aba, Soojung kembali mengejan. Rasa sakit dan panas semakin membara ketika ia merasakan mulut vaginanya melebar, mengeluarkan sesuatu yang cukup besar. Di situlah ia sadar bahwa bayinya mulai beranjak keluar dari rahimnya.

“Hhmmmpphh!! Aaarrrggghhh!! Hhmmmpphh!! Saaaakkkiiitttt!!!”

Semburan air bening keluar dari vagina Soojung, bersamaan dengan kepala sang bayi. Ingin rasanya Soojung beristirahat sejenak, ia benar-benar sudah tidak tahan dengan sakit di daerah vaginanya. Tapi, ia merasakan ada sesuatu yang ditarik paksa untuk keluar, membuatnya kembali mengejan dengan sisa-sisa tenaga.

“Sedikit lagi, sedikit lagi,” ujar dokter.

Soojung menutup matanya erat-erat. Merapatkan dagunya sampai ke dada dan mengejan hebat. Mungkin juga itu adalah kekuatan terakhirnya. Ia tidak tahu apakah masih memiliki kekuatan untuk mengejan walau hanya untuk sekali lagi.

“Hhmmmmmmmmmpphh!!!” Soojung mengejan panjang, bersama rasa sakit yang sudah tidak bisa ia gambarkan lagi. “Aaaaaaakkkkkkkkhhhhhhhh!!!” jeritnya setengah mati.

Di saat itu pula sang bayi berhasil keluar dari rahim Soojung. Tak lama kemudian suara tangisnya pun terdengar.

“Hooeekkk! Hooeeekkk! Hooeekkk!!!”

Soojung yang terkulai lemas mencoba mengatur deru napasnya. Rasa sakit serta perih yang sejak tadi bersemayam di tubuhnya seakan pergi menghilang ketika mendegar suara tangis itu. Ia menatap Sehun yang juga menatapnya. Sehun langsung mencium kening Soojung dan memperlihatkan senyum penuh bahagianya.

“Terima kasih sayang sudah melahirkan anak kita. Terima kasih,” gumam Sehun. “Aku mencitaimu, Soojung.”

Tanpa Soojung sadari air mata haru menetes dari pelupuk matanya. Ia memang merasa sangat kesakitan, sampai tidak menyangka ia bisa melewati hari yang panjang dan melelahkan ini. Namun, semua itu tidak berhasil menghalau rasa syukur dan bahagianya atas kelahiran sang buah hati.

“Selamat yah, anaknya sehat dan berjenis kelamin laki-laki,” ujar sang dokter.

Setelah selesai membersihkan bayinya serta memotong tali pusarnya, dokter itu pun membawanya ke dalam gendongan Soojung. Dengan pelan dan hati-hati Soojung meraihnya. Ia memperhatikan setiap lekukan wajah bayinya. Sangat mirip dengan Sehun, tanpa ada beda sedikit pun. Jika orang melihatnya, mereka tidak akan perlu bertanya lagi ia anak siapa. Soojung lalu mengecupnya pelan.

Sehun yang masih setia berdiri di samping Soojung terpana menatap sang buah hati. Tidak ingin ketinggalan oleh istrinya, iapun turut mengecup putranya itu.

****

Sehun baru saja kembali dari membeli beberapa kebutuhan yang diperlukan Soojung. Tanpa terasa matahari telah berganti dengan bulan, dan ia sama sekali belum pulang ke rumah hanya sekadar untuk mengganti pakaian. Ia sendiri sebenarnya punya sedikit waktu untuk melakukannya, tapi enggan untuk meninggalkan istri dan anaknya lama-lama. Ia ingin terus berada di sisi mereka.

Langkah Sehun membawanya menuju salah satu ruang VIP di mana Soojung beristirahat selepas bersalin. Saat membuka pintu ia melihat Soojung yang masih tampak lemas di ranjang rawat bersama ibu mertua dan kakak iparnya, Jessica, yang baru saja tiba dari LA. Ayah mertuanya berencana akan terbang dari LA ke Seoul esok hari. Sementara kedua orang tua Sehun sudah datang menjenguk Soojung dan cucu mereka tadi sore. Karena giliran orang tua Sehun menjaga menantu dan cucunya adalah besok, jadi mereka pulang lebih dulu.

Sehun meletakkan barang-barang yang sudah dibelinya, lalu berjalan menghampiri Soojung.

“Kenapa belum pulang?” tanya Soojung, terdengar cukup sinis.

Sehun cukup dibuat tertegun. Sejak dipindahkan dari ruang bersalin sikap Soojung memang tiba-tiba berubah dingin padanya. Ia sendiri tida tidak tahu kesalahan apa yang telah diperbuatnya.

“Aku mau bermalam di sini, bersamamu,” jawab Sehun, tersenyum.

“Tidak usah, kau pulang saja. Lagi pula sudah ada kak Sica dan mama yang menemaniku,” ujar Soojung.

“Tapi…”

“Sudahlah, kau pulang saja!” bentak Soojung.

Sehun terdiam. Sebenarnya ia masih ingin mempertanyakan ketidakmengertiannya, tapi ia paham Soojung masih lelah setelah melahirkan. Sehun lalu menoleh kiri-kanan, seperti sedang mencari sesuatu.

“Dede bayi… ke mana?” tanya Sehun lagi.

“Dia sedang dibawa suster,” jawab Soojung ketus. “Sudahlah, kau pulang saja. Bukankah besok kau mau ke kantor karena banyak pekerjaan yang tidak bisa kau tinggalkan? Pekerjaanmu kan adalah segalanya bagimu.”

Sehun sontak mengerutkan kening, sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Soojung. Jessica yang sejak tadi menyaksikan mereka sontak beranjak dari duduknya. Ia lalu menarik Sehun keluar dari ruangan.

“Ada apa dengan Soojung? Kenapa dia tiba-tiba bersikap seperti itu padaku?” tanya Sehun pada Jessica setelah keluar dari ruangan.

Jessica menghela pelan. Ia lalu menjelaskan bahwa Soojung masih kesal karena Sehun datang sangat terlambat saat ia hendak melahirkan. Soojung merasa kalau Sehun lebih memetingkan pekerjaannya dibanding ia dan anak mereka.

“Aku tidak memetingkan pekerjaanku. Saat di telepon mama aku langsung menuju rumah sakit, tapi karena terjebak macet aku datang terlambat. Aku juga sudah menjelaskannya pada Soojung tadi,” Sehun berusaha membela diri.

Jessica kemudian menepuk-nepuk pelan lengan Sehun.

“Mungkin kareana kondisi Soojung yang masih lemah dan ditambah karena syok selepas melahirkan makanya dia jadi temperamen begitu. Aku yakin besok dia sudah tidak marah lagi padamu,” jelas Jessica. “Untuk malam ini ikuti saja kemauannya. Biar aku sama mama yang menjaganya dulu.”

Sebenarnya berat bagi Sehun untuk meninggalkan istri dan anaknya. Ia sangat ingin bersama mereka. Apalagi putra kecilnya yang baru saja lahir. Ia baru bertemu sebentar dengannya saat di ruang bersalin tadi. Ia juga ingin merasakan menggendong tubuh mungilnya. Namun, ia juga ingin mencoba mengerti Soojung. Ia tahu bagaimana sulit dan sakitnya Soojung melahirkan anak mereka, bagaikan bertarung dalam pilihan hidup atau mati.

“Baiklah, aku akan pulang,” Sehun akhirnya mengalah. “Kak, aku titip Soojung dan anakku. Tolong jaga mereka. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku.”

Jessica mengangguk seraya tersenyum. Saat hendak melangkah, Sehun teringat dengan kasur serta selimut bayi yang sempat dibelinya saat keluar tadi.

“Kalau begitu, aku ikut denganmu saja ke parkiran. Biar aku saja yang memberinya pada Soojung,” tawar Jessica yang langsung disahuti oleh anggukan Sehun.

Setelah sampai di parkiran dan telah menyerahkan barang yang dimaksud, Jessica pun pamit untuk kembali ke ruangan Soojung.

“Kak Sica,” panggil Sehun. Ia terdiam sejenak, merasa ragu untuk mengatakannya, tapi Jessica terus menatap untuk menanti ucapannya.

“Bolehkah aku bertemu dengan anakku? Kumohon, sebentar saja,” ujar Sehun setengah merengek.

“Tapi, bagaimana kalau Soojung tau dan malah semakin kesal padamu?”

Sehun memutar otaknya. “Ah, bagaimana kalau aku menunggu Soojung sampai tidur, lalu diam-diam aku masuk untuk menemui anakku?”

Jessica mengulum bibirnya, sampai akhirnya iapun setuju dengan ide Sehun. Mereka pun bersama-sama kembali menuju ruang rawat Soojung. Sebelum sampai di sana, Jessica lebih dulu menelepon Ibunya untuk menyakan Soojung. Setelah memutuskan sambungan teleponnya, Jessica langsung menatap Sehun penuh semangat.

“Kau beruntung! Soojung sudah tidur,” seru Jessica riang.

“Benarkah? Secepat itu?” Sehun membelalakkan mata. “Kasihan, dia pasti sangat kelelahan.”

“Makanya bersikap baiklah pada mama dan istrimu. Betapa susahnya mereka berjuang melahirkan kau dan anakmu ke dunia ini,” ceramah Jessica.

“Iya…iya… kakak iparku yang cerewet.”

Jessica berdelik kesal. “Kau juga harus baik padaku. Pokoknya pada semua perempuan di dunia ini.”

Sehun hanya manggut-manggut. Kakanya iparnya memang cerewet. Untung dia tidak punya saudara perempuan. Tapi, yang dikatakan Jessica memang benar. Setelah menyaksikan perjuangan Soojung melahirkan putranya ia menjadi semakin cinta dan sayang pada wanita itu. Ia akan berusaha untuk tidak mengecewakannya dan selalu bersikap baik padanya. Mulai saat ini dia hanya akan hidup untuk membahagiakan mereka.

Sampailah mereka di depan ruangan Soojung.

“Kau tunggu di sini dulu. Aku mau memastikan Soojung sudah benar-benar tidur atau belum,” pinta Jessica. Sehun langsung menurutinya.

Cukup lama menunggu, pintu ruangan akhirnya terbuka. Jessica memberikan aba-aba agar Sehun masuk ke dalam, tentunya dengan mengendap-endap seperti maling yang takut ketahuan. Namun, sampai di ambang pintu Sehun benar-benar terkejut dengan yang disaksikannya.

Happy birthday to you! Happy birthday to you!
Happy birthday… happy birthday… happy birthday daddy!

Sehun hanya bisa membuka mulut selebar yang ia bisa. Dipandangnya Soojung yang menyandarkan tubuh di sandaran ranjang sambil menggendong putra kecil mereka. Ibu mertunya yang berdiri di samping ranjang Soojung memegang kue ulang tahun yang dipenuhi dengan lumuran cokelat kesukaan Sehun. Sehun benar-benar lupa jika hari ini ia berulang tahun genap yang kedua puluh delapan.

Menyaksikan Sehun yang mematung di tempatnya membuat Jessica langsung menariknya untuk meniup lilin warna-warni yang menancap meramaikan permukaan kue.

“Selamat ulang tahun menantuku, yang baru saja menjadi papa,” kata ibu mertuanya sambil menyodorkan kue di depan wajah Sehun.

Sehun menatap penuh haru. Ia kemudian melirik Soojung yang juga tersenyum padanya sembari mengangguk, menyaratkannya agar segera meniup lilin. Dengan segenap hati Sehun memejamkan matanya, mengharapkan agar kebahagian seperti sekarang ini terus berpihak pada keluarganya. Setelah kembali membuka mata iapun meniup lilin-lilin yang menghangati wajah serta hatinya. Suara tepukan tangan pun langsung mengiringi.

Langkah Sehun lalu membawanya menghampiri istri dan anaknya. Duduk di sudut ranjang di samping mereka.

“Selamat ulang tahun, suamiku,” gumam Soojung.

Senyum penuh bahagia mencuat di wajah Sehun. Tangannya menarik Soojung ke dalam rangkulannya dan iapun mengecup hangat kening istrinya. Lalu mengecup bayi mungil di gendongan Soojung.

“Kupikir kau benar-benar marah padaku,” ujar Sehun, mengerucutkan bibirnya yang sontak mengundang tawa Soojung.

“Padahal dia sudah menyerah dan memutuskan pulang, tapi tiba-tiba dia ingin bertemu dengan anaknya walaupun secara sembunyi-sembunyi,” Jessica pun membeberkan semuanya. “Tapi, ada bagusnya juga, aku tidak perlu lagi mencari cara untuk membawanya kembali ke sini.”

Mereka semua sontak menertawai Sehun. Mereka berhasil mengerjainya.

“Aku baru bertemu sebentar dengan dede bayi, makanya aku minta tolong pada kak Sica untuk membantuku menemuinya,” jelas Sehun pada Soojung.

Soojung mengangkat sebelah tangannya memegangi wajah Sehun seraya tersenyum lembut. Ia lalu mencoba membantu Sehun untuk merasakan menggendong bayi mereka. Sehun sebenarnya masih merasa ragu dan takut karena ia sama sekali tidak memiliki pengalaman menggendong bayi. Namun, dengan bantuan Soojung ia akhirnya berhasil menidurkan bayinya dalam gendongannya.

“Hadiah untukmu, sayang,” kata Soojung setelah menyerahkan bayinya pada Sehun. “Berilah dia nama yang bagus!”

Sehun menatap lekat sepasang mata indah Soojung. Mendengarnya ucapan istrinya barusan semakin menambah kebahagian Sehun. Ia tidak pernah membayangkan akan sebahagia ini, seperti terbang hingga menembus langit ke tujuh. Ia bahkan merasa lebih bahagia dibandingkan ketika menikah dengan Soojung dulu. Ia merasa hidupnya menjadi semakin sempurna.

Sehun lalu menatap wajah mungil putranya yang sesekali menggeliat pelan dalam gendongannya.

“Oh Eun Jo,” gumam Sehun. “Aku akan menamainya Oh Eun Jo.” Sehun kembali mendaratkan wajahnya pada bayinya, tak pernah bosan untuk mengecupnya.

Sebuah senyum segera mengembang di wajah Soojung. Ia lalu mengelus wajah bayinya dengan lembut. “Eun Jo yaaaahhh…” panggilnya.

Semua yang ada di sana tersenyum penuh bahagia. Kehadiran Eun Jo tepat di hari ulang tahun ayahnya menjadi momen tersendiri yang penuh makna dan tidak akan pernah terlupkan.

“Terima kasih sudah menjadi hadiah yang tak ternilai bagi papa, Eun Jo,” gumam Sehun, lagi-lagi mencium putra kecilnya.

“Wah, dia benar-benar mirip denganku,” imbuhnya, lalu melirik istrinya. “Soojung bagaimana ini? Tidak ada satu pun bagian wajahnya yang mirip denganmu,” canda Sehun.

Soojung memanyunkan bibir sembari memukul pelan lengan Sehun. Ruangan pun kembali dipenuhi dengan tawa kebahagiaan.

But, it’s okay! Kalau besar nanti dia akan tampan sepertimu, Sehun,” kata Soojung kemudian.

Sehun lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Soojung, dengan spontan mengecup bibir istrinya. Tidak peduli meski ibu mertua serta kakak iparnya berada di sana, menyaksikan mereka. Lantaram ia begitu bahagia.

“Terima kasih atas segalanya, sayang,” ujarnya menatap Soojung.

END_

Terima kasih sudah membaca🙂
Harap meninggalkan komentar dan jempolnya.
Jadilah pembaca yang baik…

*Baca fanfiction lainnya di sini

21 thoughts on “Priceless Gift

  1. Huaaa … ini daebak !!!
    asli merinding aku pas baca scene sojung saat melahirkan😦
    tapi syukurlah persalinannya lancar ditambah kelahiran si bayi samaan sama ultah bapa nya ^^
    good job thor bhasa mu simple dan mudah di mengerti aku sukaaa .. yang sering ya bikin ff sehun & krystal nya ntar aku baca lagi😀

    #AuthorFighthing

  2. yuhuuuuuu
    aduh sumpeh, aku kira nanti soojung bakalan marah sama sehun gara² sehun diam² nge gendong si little Oh tapi salah besar. Hihihi😀
    bikin banyak sestal ye thor🙂

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s