Truly, I Love You (chapter 18)

req-tily-k (1)

D.O | Sakura (O.C)

poster by : Flickerbeat (OverClass) @artfantasy

it’s all about the time

Author’s POV

Jalanan seoul mulai ramai begitu matahari mulai meninggi. D.O melajukan mobilnya kencang menuju sekolah. Ia memang sudah pasti tidak mengikuti jam pelajaran pertama, tetapi setidaknya ia harus bisa sampai sebelum jam pelajaran kedua dimulai. Derap langkah kaki D.O menggema di lorong sekolah begitu dia berlari menuju kelasnya. Dia berhenti di depan kelasnya dengan nafas yang tersengal. Dan tepat saat D.O akan membuka pintu kelas, guru Park keluar. Dia menatap D.O garang karena dia memang terkenal sebagai guru yang sangat tidak suka pada murid yang melewatkan kelasnya. “Do Kyungsoo! Darimana kau?!” tanyanya dengan nada garang.

D.O menundukkan kepalanya, “mobilku mogok tadi.” Katanya berbohong.

“Ah alasan yang sangat tidak kreatif. Temui aku istirahat nanti.” Setelah berkata demikian guru Park berlalu.

D.O menghembuskan nafasnya panjang. suho memanggil D.O begitu ia masuk kelas. “kau darimana?” tanyanya begitu D.O sudah duduk di kursinya.

“ada urusan sebentar.” Jawab D.O pendek.

“kau tidak bertemu guru Park kan?”

“sayangnya iya.”

“daebak. Selamat.” Suho tertawa pelan setelah mengatakan itu. “oh iya, tadi sakura mencarimu. Kalian tidak sedang bertengkar lagi kan?”

“tidak. Kenapa kau mengatakan begitu hyung?”

“hm. Tidak. Tapi kan kalian memang biasanya bertengkar jadi kukira kalian sedang bertengkar.”

D.O hanya bisa mendesah pelan mendengar perkataan suho. Sepertinya memang di mata semua orang hubungan dia dan sakura tidak pernah terlihat baik.

-0-

D.O berjalan pelan menuju ruang guru. Bel istirahat sudah berbunyi beberapa saat yang lalu. Baru saat ia akan membuka pintu, sudah ada orang lain yang membukanya dari dalam. Dengan setumpuk buku yang menutupi wajahnya, seorang siswi berdiri tepat di depan D.O. “hmm maaf, siapapun kau bisakah minggir sebentar agar aku bisa lewat.” Kata gadis tersebut.

Suaranya tak asing, D.O langsung mengambil tumpukan buku tersebut agar ia bisa melihat wajah sakura. Siswi tersebut memang sakura dan setelah buku-buku tersebut berpindah tangan ia bisa melihat dengan jelas orang dihadapannya. “kyungsoo.” Ucap sakura.

“kau mau bawa kemana semua buku ini?” Tanya D.O

“hm ke kelasku dan kelasnya sehun, sini.” Sakura mengulurkan tangannya hendak mengambil buku tersebut tetapi D.O menahannya.

“biar aku saja yang bawa, ke kelas sehun kan?”

Sakura mengangguk pelan, D.O berbalik berjalan mendahuluinya. Sakura menyusul D.O menjajari langkahnya. “kau mau apa di depan ruang guru tadi?”

“guru kim memanggilku.”

“omo. Kenapa?”

D.O menarik nafasnya, “bukan apa-apa.” Ujar D.O tak ingin membahas lebih jauh.

“kyungsoo..” sakura melirik D.O, melihat apakah tidak apa-apa kalau dia bertanya kepada laki-laki itu.

“hm.” Gumam D.O

“tadi pagi kau kemana?”

D.O sudah tahu kalau sakura akan bertanya begitu padanya, dia menelan ludahnya sebentar. “ada urusan.” Jawabnya singkat. Sakura mengangguk dan menjawab dengan “o” panjang.

Mereka berjalan beriringan dalam diam, sakura masih ingin bertanya lagi tapi sepertinya D.O sedang tak ingin menjawab, dia jadi mengurungkan niatnya. “nanti sore aku latihan, kau langsung pulang saja dengan ahjussi.” Ucap D.O

“hari ini ahjussi tidak bisa menjemputku, tadi pagi dia bilang aku pulang denganmu saja. Aku akan menunggumu latihan.”

“tidak perlu, aku antar kau dulu kalau begitu.”

Sakura memberengut. “aku ingin lihat kau latihan, kan sudah lama sekali aku tidak melihatmu latihan.”

D.O melirik sakura, “ya sudah.” Putusnya pendek begitu mereka sampai di depan kelas sehun.

-0-

Anak-anak langsung bertebaran dari kelas begitu bel pulang sekolah berbunyi. Sakura sibuk merapikan buku-bukunya ketika eunyeol membalikkan tubuhnya, “kau nonton latihan?” tanyanya.

“hm.” Jawab sakura pendek.

“oke.” Timpal eunyeol girang, nada suaranya yang begitu ceria bahkan sampai terdengar seperti melengking membuat sakura mendongak dan menatapnya.

“bertemu sehun saja membuatmu sampai bersemangat begini.” Sakura tertawa pelan diakhir kalimatnya dan segera berlalu.

“ya!” teriak eunyeol keras begitu mendengar sakura mengatakan nama sehun. Sepeninggal sakura, eunyeol mengeluarkan kotak makan berwarna merah yang sejak tadi disimpan di dalam tasnya. Ia tersenyum singkat sambil memandangi kotak makan tersebut, pagi-pagi sekali ia memang sudah mempersiapkan bekal makanan itu untuk sehun. Ia memang sudah berniat untuk menonton latihan hari ini. Dan memang benar apa yang dikatakan sakura mengenai dirinya yang senang bertemu dengan sehun karena dia memang sungguhan senang.

-0-

“hyung, itu bajuku kan?” Tanya sehun dari depan lokernya. Ia melotot kea rah Kai yang sedang mengenakan baju latihannya.

Kai mengerutkan alisnya, “enak saja. Ini kubawa dari rumah, ya jelas ini milikku.”

“ah tidak aku yakin itu milikku, aku kan pernah meninggalkan bajuku di rumahmu.” Kata sehun setengah merengek.

“ya! Ya! Ya! Sudahlah, kalau memang itu bajumu ya biarkan saja kai memakainya, kau kan bawa bajumu sendiri. Ah kekanakkan sekali.” Tegur baekhyun yang sedang mengikat tali sepatunya.

“dia kan memang anak-anak.” Timpal chanyeol yang segera mendapat lemparan seragam sekolah dari sehun.

D.O memakai sepatunya dalam diam, tidak mau ikut terlibat perdebatan konyol teman-temannya. Baekhyun yang duduk di sebelahnya menyenggol lengan D.O, “kudengar sudah beberapa hari ini yunju tidak masuk, iya kah?” Tanya baekhyun.

“hm.” Gumam D.O

“benarkah?” sambung chanyeol, D.O hanya meliriknya sekilas dan tak memberikan jawaban lebih lanjut. Chanyeol berdecak pelan.

“setahuku karena ayahnya sakit.” Ucap jonghan, salah satu pemain baseball yang sedang memakai sepatunya juga. Semua yang ada di ruangan segera menoleh ke arahnya.

“ayahnya?” Tanya baekhyun.

“hm. Ayahnya sakit jadi dia harus menjaga ayahnya, itu yang kudengar dari anak-anak di kelas tadi.” Jelas jonghan.

“wah. Ayo kita jenguk. Kau tahu ayahnya dirawat dimana hyung?” Tanya sehun.

Jonghan menggeleng, “kalau soal itu aku juga tak tahu.”

“anak-anak, ayo ke lapangan.” Suruh pelatih. Sehun berdecak pelan ketika mendengar suara pelatih, dia masih ingin meneruskan perbincangan mereka tadi.

-0-

Sakura’s POV

Aku dan eunyeol mengambil tempat duduk yang tidak terlalu dekat dengan lapangan, lagipula tempat itu sudah penuh ditempati oleh banyak gadis yang memang tak pernah absen menonton tim baseball latihan. “ugh aku benci gadis-gadis itu.” Gerutu eunyeol, dia menatap gadis-gadis yang berada tak jauh di depan kami.

“apalagi saat mereka meneriakkan nama sehun ya?”

“iya.” Jawab eunyeol cepat namun ia segera menatap ke arahku, “eh.. tidak!” sergahnya.

Aku tersenyum pelan, “kau selalu bilang aku mudah tertebak. Kau juga tak kalah mudahnya denganku eunyeol-ah.”

Aku mendengar eunyeol berdecak pelan, dia memutuskan untuk mengacuhkanku dan tak menanggapi lebih jauh komentarku. Saat para pemain memasuki lapangan aku benar-benar tak bisa lagi mendengar apa-apa kecuali teriakan. Padahal hari ini mereka hanya latihan rutin. Ya walaupun harus kuakui ini latihan setelah sekian lama mereka tidak pernah latihan rutin lagi seperti biasa. Aku dapat melihat kyungsoo dari kejauhan, dia kelihatan hebat seperti biasa. Aku mengambil kameraku dan mulai mengambil gambar, untungnya kamera ini sempat tertinggal di lokerku.

Eunyeol tak pernah bisa diam di sebelahku, yang ia lakukan adalah terus menerus meneriaki sehun dan mengatakannya tiang bodoh tak berisi. “dia kurus sekali, kau tahu.” Begitu komentarnya ketika sehun tak mampu memukul bola cukup jauh. Aku hanya bisa menggeleng melihat kelakuannya. Dia tak pernah mau mengakui perasaannya pada sehun tetapi terus saja menceramahiku soal kyungsoo.

Aku melihat kyungsoo berlari ke pinggir lapangan untuk minum, walau jauh aku dapat melihatnya mengambil tasnya yang juga berada di dekat tempat mereka meletakkan minuman. Kyungsoo terlihat panik dan segera memasukan barang-barangnya dengan tergesa ke dalam tas. Kyungsoo berlari ke arah pelatih dan membisikkan sesuatu, setelah pelatih mengangguk kyungsoo segera berlari keluar dari lapangan.

“kenapa dia pergi?” gumamku.

“hah?” ucap eunyeol, kurasa dia mendengar gumamanku.

Aku tak menanggapinya, aku terlalu terfokus pada kyungsoo yang memang melangkah dengan sangat tergesa. Aku meletakkan kameraku dan segera berlari kecil mengejarnya. Aku mendengar eunyeol memanggilku, tak kuhiraukan. Aku tak tahu kenapa aku merasa harus mengikutinya, memang apa yang membuatnya sampai meninggalkan latihan dan terburu-buru seperti itu, kenapa sesaat setelah dia mengambil tasnya dia terlihat kaget seperti itu, ada apa. Aku terus bertanya-tanya dalam benakku, kyungsoo berada jauh di depanku, langkah kakinya besar, aku tak bisa dengan cepat mengejarnya.

“kyungsoo!” panggilku begitu kulihat dia mengarah ke tempat parkir, “kyungsoo” panggilku lagi dengan suara yang lebih keras, kyungsoo menoleh tapi tak berhenti. Dia baru berhenti di depan mobilnya. Aku bergegas. “kau mau kemana?” tanyaku begitu aku sudah bisa berada di dekatnya.

“aku ada urusan penting.” Jawabnya cepat, dia merogoh tasnya dalam, sepertinya mencari kunci mobilnya.

“urusan penting apa? Kenapa kau panik seperti ini, ada sesuatu yang terjadi pada eomma, aboeji, atau yui eonni?” cecarku tanpa henti.

“tidak.” Sergahnya. “sama sekali tidak ada hubungannya dengan mereka, oke. Sekarang kau sebaiknya kembali ke lapangan, ya?” kyungsoo mendapatkan kunci mobilnya, dia menekan tombol dan mobil berbunyi sekejap.

“lalu kenapa kau yang malah meninggalkan latihan, urusan penting apa memangnya?” aku masih menekannya penasaran.

Kyungsoo menjatuhkan tasnya keras, dia menghembuskan nafasnya keras dan menatapku tajam. “begini ya sakura, aku tahu kalau kita memang terikat, kita memang sudah menikah dan aku adalah suamimu dan kau adalah istriku atau apapun lah. Tapi satu hal, kau tidak melulu harus tahu segala hal yang sedang atau akan aku lakukan. Kita punya hak pribadi masing-masing. Ini urusanku dan sudahlah kau tidak perlu tahu.” Katanya panjang.

Lagi dan lagi aku seperti ditampar kesekian kalinya oleh kata-kata yang dikatakan kyungsoo. Aku menelan ludahku, rasanya kelu. Tubuhku gemetar, entah kenapa kenyataan dalam setiap perkataan kyungsoo selalu membuatku sadar kalau memang aku tidak pernah punya hak untuk tahu mengenai kehidupannya.

Aku tertunduk lesu, seharusnya aku memang tidak perlu merasa ingin tahu. Aku tak ingin menangis di depannya, tetapi mataku sangat panas dan sudah ada kubangan air mata di sana yang siap kapan saja tumpah. Melihat aku menunduk lesu kyungsoo memegangi kedua bahu, “maafkan atas ucapanku.” Katanya dengan nada bersalah. “aku benar-benar harus pergi sekarang. Aku akan menghubungi chanyeol dan memintanya mengantarmu nanti setelah pertandingan, oke? Kembalilah ke lapangan.” Dia mengelus bahuku pelan dan segera masuk ke dalam mobilnya yang segera berlalu begitu mesin dinyalakan.

Aku memandangi mobil kyungsoo yang berlaru dengan mata yang berair. Aku segera mengusap air mataku. Tak boleh ada lagi sakura yang lemah. Kalau dia tak mau memberitahu, aku yang akan mencari tahu. Aku berlari cepat mengejarnya, menyetop taksi yang lewat di dekat gerbang sekolah, dan mengejar mobil kyungsoo yang sudah berjarak beberapa mobil di depan.

Author’s POV

Sore itu setelah mengerjakan beberapa tugas dengan teman sekelasnya, chen memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Dia tahu hari ini akan ada latihan baseball dan dia yakin lorong sekolah sepi karena semua gadis-gadis yang biasa ada di sana pasti sudah berpindah ke lapangan. Chen mendengus, dia selalu heran karena baginya para pemain baseball itu hanya ingin mencari ketenaran, menurutnya mereka semua itu tak benar-benar bisa bermain. Chen sedang mengobrol dengan temannya di ujung tempat parkir begitu ia melihat D.O berjalan cepat ke arahnya dengan wajah yang panik dan tidak tenang seperti biasanya. Dan tak jauh di belakang D.O, chen juga melihat sakura. Tak ingin dilihat kedua orang itu chen berbalik menutupi wajahnya.

Setelah menutup pembicaraannya dengan temannya, chen mengendap-endap mencari D.O dan sakura, dia mendengar sakura berbicara sesuatu tapi karena jarak mereka jauh chen tak dapat mendengarnya dengan jelas. Dibalik mobil berwarna hitam yang tak tahu milik siapa, chen berjongkok. Dia berusaha menajamkan pendengarannya,

“…aku tahu kalau kita memang terikat, kita memang sudah menikah…”

“apa?” desis chen tak percaya, dia menutup mulutnya takut terdengar. Chen meneruskan menguping pembicaraan mereka dalam diam. Dia sungguh-sungguh tak percaya dengan apa yang di dengarnya, saat chen sedang berusaha mencerna semua informasi yang baru saja didengarnya, suara mobil dinyalakan dan tak lama sebuah mobil yang ia tahu adalah milik D.O keluar dari area parkir. Chen tetap berdiam di tempatnya bersembunyi sampai ia yakin dua orang yang baru saja dia dengar pembicaraannya pergi. Chen berdiri dan dia tak lagi melihat sakura di sana, chen mendesah. Dia tidak tahu lagi harus berpikir bagaimana, apa yang barusan didengarnya pasti hanyalah kebohongan, dia tidak percaya.

Chen mendesah lagi, dia berpikir dalam. “jadi selama ini?” dia bersandar pada mobil di belakangnya. Dan mendesah untuk kesekain kalinya. “aku bodoh sekali.”

-0-

Sakura  keluar dari taksi begitu ia melihat mobil D.O berhenti di depan sebuah rumah sakit. Siapa yang sakit? Tanyanya dalam hati. sakura bergegas mengikutinya, tak mau tertinggal terlalu jauh. D.O masuk ke dalam lift, begitu pintu lift tertutup sakura  bergegas dan melihat sampai di lantai berapa lift itu berhenti. Lift berhenti di angka lima. Tanpa menunggu lagi ia menaiki lift yang satunya. Sakura  terus dipenuhi pikiran selama di dalam lift, sebelumnya D.O mengatakan kalau anggota keluarganya baik-baik saja, lalu kenapa dia malah pergi ke rumah sakit, siapa yang sakit? Kali ini sakura benar-benar tak bisa menahan rasa penasarannya. Terakhir kali mereka bicara sudah banyak hal yang saling mereka utarakan tapi ternyata masih lebih banyak lagi hal yang tidak sakura ketahui dari D.O

Lift terbuka di lantai lima, sakura tidak melihat tanda-tanda keberadaan D.O. sakura keluar dari lift dan mulai mencari-cari D.O, di sepanjang lorong yang ia temui hanyalah suster yang berlalu lalang. Tidak banyak kamar yang ada di sana, dari tulisan yang tertera di dinding dapat dilihat bahwa lantai tersebut adalah lantai bagi para pasien VVIP, sakura kembali berjalan dan melihat ada lorong lain di sebelah kirinya. Saat sakura menolehkan kepalanya di sanalah ia melihat segalanya.

Air mata menetes di pipinya. Pelukan hangat yang selama ini ia percaya hanya miliknya sedang diberikan D.O kepada gadis lain. Gadis yang pernah mengatakan padanya kalau ia mencintai D.O, gadis yang sakura ketahui adalah gadis yang memang sudah lama ada dalam hidup D.O. jarak mereka tak terlalu jauh D.O dan yunju berdiri di depan sebuah kamar beberapa meter di depan sakura yang mematung. Yunju bersandar di lengan D.O yang walau dari tempatnya berdiri sakura tahu kalau sekarang yunju sedang menangi, bahunya naik turun tak beraturan. Bibir sakura gemetar menahan tangisnya, dia tak boleh menangis lagi. Semua sudah jelas dan seharusnya sakura tahu ini akan jadi seperti ini. ‘hikh’ tiba-tiba sakura terisak keras membuat D.O menoleh.

Begitu melihat sakura, D.O melepas pelukannya dengan yunju. Dia menatap sakura tak percaya. Yunju yang tiba-tiba saja dilepaskan D.O juga ikut-ikutan menoleh, keningnya berkerut heran begitu melihat sakura. Sembari mengusap air matanya, yunju menatap D.O dan sakura bergantian.

“sakura……….” D.O melangkahkan kakinya, dia benar-benar tidak mengerti kenapa sakura bisa berada di sana.

Melihat D.O melangkah, sakura ikut melangkah mundur. Air matanya yang jatuh berusaha dia usap sekuat tenaganya walau hal itu sia-sia karena sakura bahkan tidak mampu memerintahkan matanya sendiri untuk berhenti menangis. “maafkan aku mengganggu kalian.” Katanya sambil terisak. Setelah berkata demikian sakura melangkah mundur, berbalik, dan berlari menuju lift.

Jantung D.O mencelos mendengar ucapan sakura, dia tak memikirkan lagi yunju yang berdiri di sampingnya dan langsung berlari mengejar sakura. Gadis itu salam paham. Melihat sakura berdiri di depan lift, D.O segera meraih pergelangan tangannya.

“lepaskan aku, kumohon.” Kata sakura masih sambil menangis, dia menarik tangannya dari genggaman tangan D.O yang kuat.

“tidak. Sakura, apapun yang kau lihat tadi, itu sama sekali tidak seperti yang kau pikirkan.” D.O menatap sakura dalam walau gadis itu sama sekali tidak mau melihatnya.

“kumohon kyungsoo, aku hanya ingin pergi dari sini sekarang.” Sakura masih berusaha melepaskan genggaman tangan D.O yang mulai terasa menyakitkan.

“baiklah, ayo kita pulang.”

Pintu lift sudah terbuka. “tidak. Ada yang membutuhkanmu di sini. Aku ingin pergi, sendiri.” Sakura memberikan penekanan pada kata terakhirnya. Ia benar-benar sudah tidak ingin berlama-lama berada di sana. Sudah terlalu sakit dan menyesakan.

D.O mendesah pelan seraya melepaskan tangan sakura. Ketika gadis itu masuk ke dalam lift, ia tak dapat berkata apa-apa lagi. Rasanya tidak pernah terasa benar ketika melihat sakura menangis lagi karena dirinya. Sesaat sebelum pintu lift tertutup, mata mereka bertemu. Bagai belati yang langsung terhunus ke jantungnya, D.O melihat tatapan kesedihan itu untuk kesekian kalinya. Tenggorokannya tercekat, ia menunduk lemas dan mengutuk dirinya sendiri atas apa yang terjadi.

Sakura berpegangan pada dinding lift, begitu pintu lift tertutup ia langsung kehilangan keseimbangannya. Ia tak bisa lagi menahannya, ia terisak hebat. Selama ini yang sakura inginkan memang hanya kejujuran tapi dia tidak pernah menyangka bahwa kejujuran yang ia inginkan adalah kenyataan pahit yang tak pernah ingin ia bayangkan. Pintu lift terbuka di lantai dasar, pengunjung rumah sakit yang ingin memasuki lift memandangi sakura heran. Ia sudah tak peduli lagi, ia hanya ingin segera pergi menyendiri.

-0-

Langit sudah mulai gelap begitu sakura turun dari taksi. Ia tak tahu harus kemana, tetapi begitu melintasi sebuah taman ia meminta supir taksi untuk berhenti. Ia ingat taman itu, taman di dekat sungai Han yang pernah menjadi tempat kencan pertamanya dengan D.O, walaupun mungkin D.O tak pernah menganggap itu kencan. Sakura duduk di kursi yang berada tepat di bawah pohon. Sudah tak ada lagi bunga-bunga sakura yang dulu merekah indah di sana. Musim sudah berganti. Begitupun semua kisah manisnya di kota ini. Sakura merasa sudah tak akan ada lagi kenangan manis yang tersisa di kota ini. Ia ingin kembali. Ia begitu ingin pulang.

Sakura menangis lagi. Bahkan ketika dirinya mencoba untuk mengingat kenangan manis di taman itu rasanya sakit. Bahunya naik turun tak beraturan, mungkin orang-orang yang sedang berlalu lalang akan melihatnya aneh tapi sakura tak memikirkannya.

Berjam-jam menangis dan sakura sudah kehabisan air matanya. Yang tersisanya hanyalah isakannya dan nafasnya yang mendesah lelah. Sakura tak pernah menangis selama itu, mungkin karena sakura memang tidak pernah sesedih itu sebelumnya. Ia menggelengkan kepalanya, ia tak boleh membayangkan apa yang sudah terjadi padanya, hal itu malah hanya akan membuatnya kembali sedih. Sakura melihat jam di pergelangan tangannya, sudah pukul 8 malam. Taman mulai ramai oleh para pasangan yang sedang menghabiskan malam mereka. Sakura memandang kosong, ia tak iri atau ia memang hanya berpura-pura untuk tidak iri.

Udara musim gugur yang dingin membuat sakura sedikit bergidik. Seragam sekolah yang masih dikenakannya tidak membantu sama sekali, udara dingin tetap masuk menusuk tulang. Sakura mendesah, ia belum ingin pulang bahkan ia tak memiliki keinginan sama sekali untuk pulang. Tidak setelah apa yang dilihatnya hari ini.

“sakura?” panggil seseorang, suaranya tak asing. Sakura mendongak untuk melihat siapa yang memanggilnya.

Chen berdiri di depan sakura dan tersenyum lebar. “apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya riang. Ia langsung mengambil tempat di sebelah sakura.

“ah tidak. Aku sedang jalan-jalan saja di sini.” Ucap sakura asal.

“dengan baju sekolah?”

“hm. Yeah.”

Chen menghirup udara di sekitarnya dalam-dalam. Ia tersenyum lagi ke arah sakura. “kau habis menangis ya?”

Sakura melirik chen. “tidak.”

Bohong

Chen tahu sakura berbohong, sejak awal dia tahu sakura tidak kesini untuk jalan-jalan. Dia tahu gadis itu tak mungkin kesini tanpa alasan, ia juga tahu pasti ada sesuatu yang terjadi. Tadi sore setelah chen mendengar apa yang dikatakan D.O di tempat parkir ia langsung mencari eunyeol dan memaksanya menjelaskan semuanya. Rasanya bagai seluruh dunianya runtuh chen terduduk lesu di belakang lapangan. Ia sudah tahu kalau sakura memang memiliki perasaan yang lebih terhadap D.O tetapi ia tak pernah menyangka kalau kenyataan yang sebenarnya ternyata memukulnya telak. Chen melirik lagi sakura, apakah ia harus menyerah?

“kau. Hm kau sendiri kenapa di sini?” Tanya sakura tiba-tiba membuyarkan lamunan chen.

Melarikan diri dari kenyataan.

“hm aku sudah lama tidak kesini, aku sedang ingin memotret.”

Sakura mengangguk pelan. Mereka saling diam lagi. Chen kembali melirik sakura dan mengelus-elus kameranya. Dia memang tak sengaja pergi kesini, chen terlalu kalut setelah mendengar kenyataan dari eunyeol dan ia tak ingin pulang. Memotret adalah satu-satunya hal yang bisa ia pikirkan untuk bisa merasa lebih baik, kamera yang selalu ia letakkan di belakang jok mobilnya menjadi berguna ketika saat-saat seperti ini datang.

Angin musim gugur bertiup lagi, sakura menyilangkan kedua tangannya untuk memeluk dirinya sendiri supaya hangat. Chen melepas jaketnya dan memberikannya pada sakura, “pakai ini.” Tawarnya.

“tidak perlu. Aku baik-baik saja.” Tolak sakura halus.

“tsk. Kau ini.” Chen tidak lagi meminta ijin sakura. Ia langsung menyampirkan jaketnya di bahu sakura. Chen tahu gadis itu kedinginan dan udara dingin di musim gugur tidak main-main. “pakailah dan jangan dilepas.”

Sakura menatap chen, “terima kasih.” Katanya tulus.

“sakura, hmm aku ingin minta maaf padamu.”

Sakura mengerutkan alisnya, “minta maaf soal apa?”

“semuanya.” Jawab chen lirih. Ada kesedihan dalam suaranya.

“maksudmu?” Tanya sakura lagi masih belum mengerti.

“kau selalu baik padaku. Bahkan setelah apa yang kulakukan malam itu, jujur aku merasa sangat bersalah padamu. Aku tidak seharusnya melakukannya. Kau bahkan sudah memaafkanku walau aku tidak pernah benar-benar minta maaf padamu. Kau selalu baik padaku dan menganggapku teman baikmu. Tapi selama ini aku tidak tulus berteman denganmu sakura, aku selalu mencari kesempatan. Aku selalu berharap kau akan membalas perasaanku suatu hari nanti, aku berpikir mungkin dengan memulai pertemanan yang baik denganmu akan mampu membuatmu balik menyukaiku. Maafkan aku.” Chen menunduk lesu.

Sakura menelan ludahnya, chen baru saja menyatakan semua perasaannya. Sakura sudah tahu hal itu tapi dia tidak menyangka akan mendengarnya sejelas ini Dan dalam suasana hatinya yang sedang sangat tidak baik. “hm chen, sudahlah. Aku sudah melupakan kejadian itu. Aku juga tidak ingin mengungkitnya lagi.” Sakura menghela nafasnya, ia sebenarnya tidak tahu apa yang harus ia katakan pada chen.

Kali ini chen menatap sakura, “kau memang baik sekali. Beruntung sekali siapapun yang mendapatkanmu sakura.” Ada kepahitan dalam suara chen.

Kata-kata chen membuat sakura tersentak, sakura tersenyum pahit. “chen-ah, kau percaya pada cinta sejati?” Tanya sakura.

“hm.” Chen mengangguk yakin. “walaupun akhir ceritanya kadang tak seindah cerita-cerita dongeng itu, tapi bagaimanapun cinta sejati itu ada.”

“darimana kau tahu? Memangnya kau sudah merasakannya?”

“belum. Sedangkan cinta pertamaku saja tak berbalas.” Jawab chen sembari menatap sakura.

Sakura mengalihkan pandangannya. “maafkan aku.”

Chen tergelak, “kenapa minta maaf? Karena tak membalas cintaku?”

Sakura mengangguk.

“cinta itu tidak harus berbalas sakura. Kau tahu ada pepatah yang mengatakan kalau cinta itu tidak harus memiliki. Dan kurasa pepatah itu sedang kupraktikan sekarang.”

“kau tak sakit hati?”

“sakit hati? Tentu saja. Tapi cinta tidak pernah salah, mungkin kitalah yang mencintai orang yang salah.”

Sakura tersentak mendengar ucapan chen, mencintai orang yang salah.

Sakura’s POV

Aku tidak mengerti tapi entah kenapa aku merasa semua yang dikatakan chen benar-benar memang ia tujukan padaku. Mungkin chen benar, mungkin selama ini memang aku mencintai orang yang salah.

“lalu apa yang kau lakukan saat kau tahu kau sudah mencintai orang yang salah.” Aku menekankan kalimat terakhirku. rasanya sesak sekali padahal aku belum mendengar jawabannya.

“melepaskan.”

“huh?”

Chen menghela nafasnya dalam, “melepaskannya sakura. Seperti yang aku lakukan padamu. Daripada aku terus menyakiti diriku sendiri, lebih baik kulepaskan. Bagaimanapun cinta memang tidak bisa dipaksakan kan?”

Aku menatap chen dan tiba-tiba saja air mataku menetes. Pikiran tentang melepaskan membuat dadaku kembali sesak tak karuan. Rasanya ada dua kutub yang bergejolak dalam hatiku, aku tak ingin menyerah tapi aku juga berhak bahagia. Aku masih terisak saat chen menarikku ke dalam pelukannya. Aku ingin menolaknya tapi ia mendekapku erat. Ia tak mengatakan apapun tapi hanya menyuarakannya lewat tindakan, chen mengelus bahuku lembut. Ia tak mengatakan apa-apa bahkan saat air mataku membasahi bajunya. Aku merasa ganjil, ini pertama kalinya aku menerima pelukan laki-laki lain selain kyungsoo dan rasanya menenangkan. Selama ini pelukan kyungsoo selalu yang menjadi paling menyenangkan tapi chen, entah bagaimana caranya pelukannya ternyata tak kalah menenangkan.

Author’s POV

Chen membiarkan sakura membasahi bajunya, ia bingung ketika sakura tiba-tiba saja menangis. Ia tak mengerti apa ada yang salah dengan perkataannya? Tanya chen dalam hati, semua pertanyaan yang dilontarkan sakura benar-benar ia jawab dengan apa yang memang ia rasakan. Ia memang sudah melepaskan gadis itu setelah mengetahui segalanya. Sakura milik orang lain yang sah di mata negara. Dan chen bukanlah bajingan yang berani merebut sakura begitu saja walaupun ia sangat ingin.

Chen benar-benar tak mengerti, saat tadi ia datang kesini juga mata sakura sembab. Ada sesuatu yang terjadi dengan gadis itu, kenapa sakura bisa sampai serapuh ini? Karena D.O? chen menggeleng, dia tak boleh ikut campur lagi. Chen mendekap sakura lebih erat, sekarang ia hanya berusaha menjadi teman yang baik. Teman yang mungkin sedang sangat dibutuhkan sakura sekarang ini. Gadis ini amat raput. Batin chen.

-0-

D.O masih menemani Yunju di rumah sakit. Operasi yang sebelumnya sedang dijalankan ayahnya berjalan lancar dan sekarang mereka sedang menunggu ayah yunju sadar. tadi sore ketika ia sedang latihan, D.O tak sengaja mengecek ponselnya dan mendapati pesan yunju

“Ayahku kritis D.O-ya.”

Hanya tulisan singkat dan D.O langsung cepat-cepat bergegas menuju rumah sakit. Ia juga tak mengerti kenapa tetapi ia merasa yunju membutuhkannya dan benar saja, saat ia sampai di depan ruang operasi yunju terduduk lemas di lantai. D.O bukanlah seorang pembicara yang baik, tanpa banyak berkata ia langsung memeluk yunju. Itu pertama kalinya D.O melihat yunju serapuh itu, sejak pertama mengenalnya D.O tahu bahwa yunju adalah seorang gadis yang kuat. Dia pintar dan cantik. Dia juga berhasil memesona banyak laki-laki di sekolah ketika itu.

“ayahku akan baik-baik saja kan D.O?” Tanya yunju membuyarkan lamunan D.O, itu adalah pertanyaan yang sama yang sudah ditanyakan yunju sejak berjam-jam yang lalu.

“tenang saja. Semua akan baik-baik saja.” D.O menghela nafasnya, dia mengatakan hal itu tanpa memikirkan suasanan hatinya. Kedatangan tak terduga sakura tadi cukup membuat suasana hatinya berantakan. Tapi dia juga tak mungkin meninggalkan yunju begitu saja. D.O melihat yunju, dia mengelus pundak yunju.

“nona yunju?” seorang perawat berdiri di depan yunju dan D.O

“ya?” sahut yunju dengan suaranya yang serak, terlalu banyak menangis.

“ayah anda sudah bisa ditemui. Beliau sudah sadar.”

Yunju menghela nafasnya lega. “terima kasih.” Ujarnya. Yunju langsung berdiri dan masuk ke dalam ruangan. Sebelumnya yunju melirik D.O, setelah laki-laki itu memberi anggukkan untuk masuk saja. Yunju masuk.

D.O mengeluarkan ponselnya, ia ingin menghubungi sakura dan bertanya dimana gadis itu sekarang tapi ia langsung mengurungkan niatnya. Ia tahu sakura mungkin tidak akan menjawab teleponnya. D.O memijat kepalanya yang pening, semua pikiran yang memenuhi kepalanya membuatnya sakit.

D.O’s POV

Aku mendesah dalam. Semua pikiran berkecamuk dan berkumpul jadi satu. Aku menatap cincin yang masih melingkar di jari manisku. Apa yang akan sakura pikirkan setelah ini, aku sedang menunggu saat yang tepat selama ini untuk menjelaskan semuanya. Sekarang saatnya belum tepat dan dengan hadirnya sakura tadi dan semua yang dilihatnya aku menjadi tidak yakin apakah aku akan mendapat kesempatan untuk memberikan penjelasan. Aku masih berharap sakura mau mendengarnya, keadaan akan semakin buruk kalau dia salah paham.

“D.O-ya,” yunju memanggilku, dia berdiri di ambang pintu. “ayahku ingin bicara denganmu.”

Aku mengangguk pelan. Aku menatap yunju sebentar sebelum masuk, untung saja kehadiran sakura tadi tidak membuat yunju bertanya banyak hal. Aku sedang tidak ingin banyak bicara. Aku menghampiri ayah yunju yang terbaring lemah di tempat tidurnya. Ia memberikan isyarat dengan matanya untuk mendekat.

“terima kasih.” Katanya dengan suara yang lirih. “kalau tidak ada kau di sini, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada anakku.”

“itu bukan apa-apa ahjussi.”

‘”D.O-ya,” kali ini tuan seo menggenggam tanganku dengan tangannya yang masih terlilit untaian selang infus. “kumohon. Berjanjilah padaku untuk menjaga yunju.”

“y..ya?” aku mengerutkan keningku.

“kalau aku tidak bisa bertahan lama. Berjanjilah, berjanjilah untuk menjaga yunju untukku.”

Aku terkejap kaget. Aku tidak menyangka ayah yunju akan mengatakan hal seperti itu padaku. Yunju temanku dan aku tentu akan menjaganya. Tapi kalau yang dia maksud lebih dari ini. Astaga.

“kau akan kembali sehat ahjussi.” Kataku mengalihkan arah pembicaraan.

“berjanjilah untuk selalu berada di sisinya D.O-ya.”

Tuan seo menatapku dalam. Aku menelan ludah, bingung harus menjawab apa. Yunju gadis yang baik, tanpa di suruhpun aku akan menjaganya, tapi.

“berjanjilah D.O-ya.” Kali ini tuan seo mengatakannya dengan nada memohon.

Aku mendesah dan mengangguk, “aku berjanji.”

Tuan seo tersenyum lega, yunju yang berdiri di sebelahnya tersenyum singkat. Aku menunduk tak percaya dengan apa yang baru saja kukatakan. Setelah ini semuanya akan menjadi lebih rumit.

Aku menunggu yunju di luar kamar rawat. Dia masih berbicara dengan ayahnya. Yunju sangat menyayangi ayahnya. Sebagai satu-satunya orang yang masih dimilikinya di dunia ini, aku tahu seberapa kalutnya dia saat ayahnya sakit keras seperti ini. Yunju gadis yang menyenangkan dan selalu bersemangat. Dia bahkan selalu memberikan perhatian padaku, suho hyung, chanyeol, baekhyun, kai, dan sehun. Ketika itu, hanya yunju satu-satunya gadis yang mampu bergaul dengan kami dan tak menyingkir walau berulang kali kai dan sehun menjahilinya.

“D.O-ya.” Panggil yunju begitu ia keluar, ia mengambil tempat di sebelahku. “kukira kau sudah pulang.”

Aku tersenyum singkat. “ayahmu bagaimana?”

“dia sudah tertidur.” Yunju mendesah, “terima kasih sudah menemaniku D.O-ya, aku tidak tahu harus menghubungi siapa tadi. Yang ada di dalam pikiranku hanya kau, meski awalnya kukira kau akan mengabaikan pesanku, aku benar-benar senang saat kau datang.”

“sudahlah.” Kataku, tak ingin membahas lebih jauh soal itu.

Yunju tiba-tiba saja melingkarkan lengannya di leherku. Aku terkesiap kaget dengan tindakannya. “yunju-ya.”

“aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan kalau kau tidak ada di sini. Terima kasih.” Yunju melepaskan lingkaran tangannya. Dia menatapku sesaat sebelum kemudian menempelkan bibirnya pada bibirku.

-0-

TBC

well, finally I did it. after all this time I’m so sorry buat semua yang masih setia nunggu ff ini. I know that ff ini seharusnya uda berakhir dari lama but yah aku emang sekarang lagi liburan tapi ada kerjaan lain yang harus dikerjain juga. hopefully kalian semua akan dengan sabar menunggu chapter terakhirnya  :) dan kalian kalo mau tanya2 kesini aja ya this. aku sayang kalian semua. love from here ^^

224 thoughts on “Truly, I Love You (chapter 18)

  1. Omo apa yang bakal terjadi kl sakura tau..?? Kasian bgt sakura, D.O jg kapan bakal kasih tau ke yunju sama ayahnya yunju kl dia udah nikah sama sakura >“<

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s