Diposkan pada Chapter, Romance

One More Time [Chapter 1]

One More Time - cover

Story by Callia Jung
Soojung / Krystal f(x) | Oh Sehun EXO
Choi Sulli Eks f(x) | Kim Jongin / Kai EXO
Chapter
Romance
PG-15

Soojung sedang sibuk berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Seoul. Barang apapun yang berhasil menarik perhatiannya pasti langsung ia masukkan dalam keranjang belanja, tidak peduli penting atau tidaknya barang-barang itu. Membuat belanjaannya menumpuk. Bahkan ketika membayar di kasir, orang-orang dibuat mengantri lama di belakangnya.

Setelah sang pegawai kasir menyebutkan jumlah nominal yang mesti dibayarnya, Soojung dengan santainya mengeluarkan kartu ATM dari dompetnya.

“Maaf, kartu ini tidak bisa dipakai, sepertinya sudah diblokir,” ujar pegawai itu setelah menggesek kartu yang diberi Soojung. “Apa ada yang lain?”

Soojung mengurutkan kening, segera mengeluarkan kartu lainnya dari dompet. Namun, semua kartunya yang berjumlah empat buah itu tak satupun bisa digunakan. Entah mengapa semuanya sudah terblokir. Ia akhirnya mengeluarkan kartu terakhirnya, kartu yang tidak pernah ia gunakan kecuali dalam keadaan kepepet seperti saat ini. Kartu tabungannya sendiri. Dengan berat hati iapun menyerahkannya pada sang kasir.

Saat kartunya digesekkan pada mesin kasir, Soojung merasa setengah nyawanya melayang. Dia harus mengeruk kocek cukup besar untuk membayar semua belanjaannya yang sebenarnya tidak begitu ia butuhkan. Ia membelinya hanya untuk memuaskan hasrat belanjanya saja. Barulah ia menyesal, seharusnya ia tidak belanja sebanyak ini. Dia juga tidak mungkin mengembalikan barang-barang itu karena tidak ingin dibuat malu.

“Maaf, yang ini juga tidak bisa. Bagaimana kalau dibayar pakai uang cash saja,” kata pegawai itu lagi.

“Apa?!” pekik Soojung bersama dengan matanya yang membelalak lebar.

Ini pasti kerjaan Ibunya. Siapa lagi orang yang akan mengerjainya sesadis ini kalau bukan wanita single parent itu. Sambil mendesah Soojung kembali membuka dompetnya. Namun, ia hanya sanggup menelan pahit ketika melihat dua lembar uang 50,000 won yang tersisa di dalamnya. Total yang mesti ia bayar bahkan lebih banyak dari itu.

Bagaimana ini? Ia tidak mungkin membatalkan semua belanjaannya. Harus ditaruh di mana wajahnya? Ditambah lagi mulai terdengar umpatan-umpatan dari orang-orang yang sejak tadi mengantri di belakangnya, yang semakin panjang saking banyaknya belanjaan yang ia miliki. Namun, kini tak satupun dari barang-barang itu yang bisa ia bayar.

“Bayar pakai ini saja!”

Seorang pemuda yang berdiri di kasir sebelah tiba-tiba mengulurkan kartu ATM miliknya pada pegawai yang melayani Soojung. Soojung pun segera menoleh.

“Sehun?” gumamnya tidak dapat menyembunyikan keterkejutan.

Sehun tersenyum ke arahnya, “Lama tidak bertemu, Jung Soojung.”

Soojung hanya menyeringai tidak jelas. Tidak menyangka akan bertemu dengan mantan kekasihnya itu di saat kondisi memalukan seperti ini.

“Tapi, belanjaanku banyak sekali,” kata Soojung berat hati.

“Tidak masalah,” sahut Sehun segera.

Mau tidak mau Soojung pun membiarkan Sehun membayar semua belanjaannya. Ia tidak punya pilihan, daripada harus malu dengan orang banyak lebih baik hanya malu pada Sehun. Lagi pula ia bisa berurusan dengannya untuk mengganti uangnya selepas ini.

Setelah menyelesaikan pembayaran mereka berjalan keluar berbarengan. Karena belanjaan Soojung yang terlalu banyak, Sehun lagi-lagi membantunya dengan membawakan separuh belanjaannya. Awalnya Sehun menawarkan untuk membawa semuanya, tapi Soojung hanya memberinya setengah karena merasa tidak enak dan sudah banyak merepotkan.

“Aku sangat berterima kasih padamu. Kalau tidak ada kau, harus ditaruh di mana wajahku? Aku akan benar-benar malu,” celoteh Soojung di sepanjang langkahnya.

Sehun hanya tersenyum tanpa mengomentari. Soojung kembali membuka dompetnya, mengeluarkan selembar kartu namanya lalu menyerahkannya pada Sehun.

“Kau bisa menghubungiku di sini. Berikan aku nomor rekeningmu, secepatnya akan kutransfer uangmu,” ujar Soojung.

“Tidak usah, aku benar-benar ingin membantumu,” tolak Sehun.

“Terima kasih, tapi aku tidak mau berutang sebanyak itu padamu.” Soojung menarik tangan Sehun, lalu menyerahkan kartu namanya dalam genggaman Sehun.

Sehun kembali tersenyum. Iapun memasukkannya ke dalam saku celananya.

Tepat ketika mereka melewati pintu utama mal, ponsel Soojung berdering. Soojung pun segera menjawab panggilannya.

“Jongin, aku baru saja selesai belanja. Kutunggu di depan mal, yah,” ujar Soojung. “Apa? Kau tidak bisa menjemputku? Kaukan sudah janji tadi.”

Soojung kemudian mendesah pelan sambil memanyunkan bibirnya. “Baiklah, aku pulang naik taksi saja.”

Setelah mengakhiri sambungan teleponnya, Soojung hendak mengambil barang-barang belanjaannya dari Sehun dan segera pamit.

“Mau kuantar pulang sekalian?” tawar Sehun.

“Tidak usah, aku sudah terlalu banyak merepotkanmu,” kata Soojung, tersenyum ramah.

“Siapa bilang aku direpotkan. Lagian, aku juga sedang tidak ada kerjaan di kantor,” jelas Sehun. “Kau…masih tinggal di rumahmu yang dulu kan?”

Soojung mengangguk pelan.

“Kalau begitu jalan kita searah.” Sehun kembali memperlihatkan senyuman. Tanpa menunggu sahutan dari Soojung lagi ia langsung mengambil langkah ke depan. “Ayo!”

Soojung tidak bisa berkutik lagi. Ia merasa tidak enak jika terus-terusan menolak tawaran Sehun. Dengan berat hati, iapun mengikuti langkah pemuda itu menuju parkiran. Sampai di sana Sehun menuntun Soojung masuk ke dalam mobil Jaguar hitamnya. Mata Soojung langsung tertarik dengan sebuah bingkai foto mungil yang terpajang di atas audio system mobil. Foto itu memperlihatkan Sehun yang sedang merangkul mesra seorang gadis berambut sepunggung dengan poni tipis-tipis di dahinya, terlihat cukup manis.

“Pacarmu?” tanya Soojung dengan ujung mata yang menunjuk foto itu.

“Begitulah,” jawab Sehun, mulai sibuk mengemudikan mobilnya.

“Tipe yang sangat cocok untukmu.”

Entah apa yang sedang dipikirkan Soojung tatkala melontarkan perkataan itu dari bibirnya. Sehun sontak menoleh tajam ke arahnya tanpa berkata apapun. Soojung hanya menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Berdeham tidak jelas sambil berusaha menggali topik yang bisa mengalihkan suasana.

“Oh ya, tadi kau bilang lagi tidak banyak kerjaan di kantor. Jadi kau kerja di sini? Kupikir kau akan menetap di Hongkong,” celoteh Soojung.

Namun, Soojung malah mendapatkan tatapan yang semakin tajam dari Sehun yang begitu sulit untuk diartikan. Lagi-lagi ia mengatakan hal bodoh yang semestinya tidak terucap dari bibirnya. Dalam hati ia menggerutui dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ia lupa alasan Sehun hijrah ke Hongkong dulu.

Kala itu Sehun bernar-benar menadi kacau ketika Soojung memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka yang sudah berjalan lima tahun. Mereka memulai pacaran sejak duduk di kelas dua sekolah menengah atas dan putus ketika berada di tahun ketiga bangku kuliah. Sehun sama sekali tidak bisa mengerti dan menerima keputusan Soojung. Ia malah memaksakan perasaannya pada Soojung hingga menyakiti dirinya sendiri. Bukan hanya kuliahnya saja yang jadi berantakan, tapi hidupnya juga. Orang tua Sehun akhirnya memutuskan untuk membawanya pindah ke Hongkong agar ia bisa segera melupakan Soojung dan keluar dari sakit hati yang membelenggunya. Sejak saat itulah mereka tidak saling berhubungan hingga hari ini.

Soojung hanya sanggup menggigit bibir bawahnya seraya merundukkan kepala. Berharap Sehun tidak langsung menurunkannya di tengah jalan dan melepar semua barang-barang belanjaannya dari mobilnya. Akan sangat memalukan jika itu benar-benar terjadi. Selepas ini, ia tampaknya harus segera menjahit bibirnya agar tidak berceloteh sembarangan.

Untungnya, ponsel Soojung tiba-tiba berdering. Namun, wajahnya langsung berubah kusut saat melihat tulisan yang tertera di layar ponselnya.

“Eomma!” pekiknya menjawab panggilan teleponnya, membuat Sehun yang duduk di sebelahnya kaget. “Eomma kan yang memblokir semua kartuku?”

“Memangnya siapa lagi yang bisa melakukannya kalau bukan eomma,” jawab Ibunya terdengar santai.

“Eomma keterlaluan! Eomma benar-benar membuatku malu,” gerutu Soojung.

“Soojung…soojung,” desah Ibunya. “Selama kau masih tinggal dan hidup dengan eomma maka semuanya ada dalam kendali dan kekuasaan eomma, termasuk memblokir kartu-kartumu. Kalau eomma mau, eomma juga bisa menarik mobil dan semua fasilitasmu.”

“Eomma!” urat leher Soojung mengencang.

“Makanya cepatlah menikah dan beri eomma cucu. Itu saja yang eomma minta darimu,” sergah Ibunya.

“Aku masih muda, kenapa eomma selalu saja menyuruhku menikah? Eomma saja yang menikah!” protes Soojung. “Pokoknya aku tidak mau tau, eomma harus mengaktifkan kembali semua kartuku.”

Soojung langsung mematikan ponselnya sambil mendengus kesal. Terdengar seringaian kecil Sehun, membuatnya sadar bahwa pemuda itu sejak tadi bersamanya. Lagi-lagi ia harus terlihat konyol di hadapan mantan kekasihnya itu. Iapun hanya bisa menggigit bibirnya menahan malu.

“Bagaimana kabar eommamu?” tanya Sehun kemudian.

“Dia baik-baik saja,” jawab Soojung seadanya. “Mmmm… soal semua perkatakaanku barusan aku minta maaf.”

Sehun sejenak menoleh pada Soojung. “Kau benar-benar tidak berubah, Jung Soojung,” gumamnya sambil tersenyum.

Hanya senyum masam yang mencuat di wajah Soojung. Selain karena malu, entah mengapa ia juga merasakan sensasi yang berbeda saat mendengar Sehun menyebut namanya. Sudah sangat lama ia tidak mendengar seseorang memanggilnya dengan nada seperti itu, yang hanya dilakukan oleh Sehun seorang.

“Perusahaan appaku yang beroperasi di sini sedikit bermasalah dan aku yang disuruh menanganinya, jadi untuk sementara waktu aku akan tinggal di sini,” jelas Sehun.

“Aaahhh…” Soojung manggut-manggut.

Keduanya kemudian terdiam satu sama lain, tampak kehabisan bahan pembicaraan. Hingga akhirnya mobil Sehun pun berhenti di salah satu rumah megah berpagar putih. Dalam hati Soojung cukup terkesan pada Sehun yang masih mengingat betul rumahnya, padahal sudah sangat lama ia tidak ke sana. Soojung ingin memuji ingatan Sehun, tapi urung karena takut akan salah bicara lagi.

Setelah melangkah turun dari mobil, Sehun segera mendahului Soojung untuk menurunkan belanjaannya yang ditaruh di jok belakang. Soojung pun kembali dirundung rasa tidak enak karena merasa sudah banyak merepotkan.

“Terima kasih,” ucapnya sambil meraih belanjaannya dari tangan Sehun. “Oh ya, jangan lupa mengirimkan nomor rekeningmu padaku supaya uangmu bisa segera kutransfer.”

“Sebenarnya kau tidak perlu melakukannya, aku benar-benar ingin menolongmu,” kata Sehun. “Tapi karena kau ingin seperti itu, baiklah, secepatnya akan kukirim.”

Soojung tersenyum lega. Ia mengerti akan niat baik Sehun, tapi ia juga tidak ingin berutang seperti itu padanya.

“Mau masuk dulu?” tawarnya kemudian.

“Aku memang tidak ada kerjaan, tapi harus segera kembali ke kantor,” sahut Sehun. “Lain waktu saja.”

Soojung tertegun. Lain waktu saja. Apakah Sehun bermaksud untuk bertemu dengannya lagi? Soojung segera menepis pikiran-pikiran aneh itu sejauh mungkin.

“Baiklah,” kata Soojung. “Sekali lagi terima kasih.”

“Sama-sama,” Sehun kembali memamerkan senyumnya pada Soojung kemudian pamit.

Mobil jaguarnya pun mulai menjauh dan akhirnya menghilang dari pandangan Soojung. Tanpa Soojung sadari senyum tipis terukir di wajah tirusnya. Ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu lagi dengan Sehun. Bagaimana pun juga pemuda itu cukup lama mengisi relung hatinya. Tidak sedikit kenangan yang telah mereka rajut bersama. Meski tak bisa ia pungkiri rasa bersalah yang menghampiri batinnya saat bertemu dengannya tadi, namun ia merasa lega melihatnya tampak baik-baik saja.

Mungkin berat dan sulit bagi Sehun untuk melupakannya dulu, tapi sepertinya ia berhasil melakukannya. Soojung berharap agar ia bisa bahagia dengan kekasihnya yang sekarang.

****

Sehun menghentak-hentakkan sebelah kakinya pelan, duduk di salah satu kursi tunggu di sebuah bank. Ia sedang mengantri untuk mencairkan dana perusahaan. Sekretarisnya yang seharusnya melakukan kerjaan ini berhalangan masuk kantor karena sakit sehingga Sehun sendiri yang harus turun tangan mengurusnya.

Sejak beberapa detik lalu Sehun merasa cukup terusik dengan pemuda yang duduk di sampingnya. Pemuda itu terdengar marah-marah dengan orang yang sedang berbicara dengannya di telepon.

“Apa kau tidak ada kerjaan, hah? Aku sedang sibuk, tapi kau terus saja meneleponku!” bentak pemuda itu.

“Kau kan bisa bawa mobil sendiri, tidak usah kujemput lagi!”

“Ya sudah, aku sedang sibuk!”

Pemuda itu kemudian mengusap tombol merah pada layar ponselnya sembari mendengus kesal, membuat Sehun berdecak dalam hatinya. Meski tidak tahu dengan siapa pemuda itu berbicara, tapi ia tidak perlu berbicara kasar seperti itu. Lagi pula, ia bisa berbincang-bincang dulu selagi menunggu antrian.

Mungkin karena merasa terus diperhatikan oleh Sehun, pemuda itu segera menoleh padanya. Merasa tidak enak, Sehun segera menundukkan kepala sejenak, menyapa. Pemuda itupun turut menundukkan kepala lalu kembali mengalihkan pandangannya ke tempat lain.

Selang beberapa detik, giliran ponsel Sehun yang berdering. Iapun segera menjawabnya ketika tahu panggilan itu dari kekasihnya.

“Eoh, Sulli, ada apa?” ujar Sehun lembut.

“Aku sedang di bank, tidak lama lagi balik ke kantor,” imbuhnya seteleh kekasihnya menanyakan keberadaannya sekarang. Ternyata gadis itu minta diantar ke suatu tempat.

“Baiklah, setelah dari sini aku akan langsung menjemputmu.”

Sehun kemudian mengakhiri teleponnya dengan sang kekasih secara lembut dan baik-baik, tidak seperti pemuda di sampingnya. Pemuda itu tiba-tiba kembali menoleh pada Sehun, menatapnya dengan pandangan yang cukup sulit diartikan. Sehun yakin pemuda itu pasti merasa tersinggung dengan caranya menjawab telepon yang begitu berbeda sembilan puluh derajat dengannya. Kebetulan saat itu juga giliran nomor antrian Sehun yang dipanggil. Dengan bangga ia memamerkan senyumannya pada pemuda itu sebelum beranjak dari duduknya. Pemuda itu sontak meringis pelan. Seolah tidak peduli, Sehun malah berjalan santai menjauhinya.

****

Sehun telah bersama-sama kekasihnya, Sulli, menuju ke salah satu toko yang menjual berbagai pernak-pernik hadiah. Sulli minta diantar ke sana karena hendak mencari hadiah pernikahan untuk temannya yang akan menikah besok.

“Sehun, menurutmu kado apa yang bagus kuberikan pada Jiyeong?” tanya Sulli.

Sehun yang tengah sibuk menyetir mulai memutar otaknya berpikir. Sebenarnya ia bukanlah tipe orang yang pintar memilih hadiah, apalagi untuk dijadikan kado pernikahan.

“Mmmm… bagaimana kalau cangkir pasangan?” ide Sehun, akhirnya.

Sulli langsung tersenyum sambil manggut-manggut penuh riang.

“Tapi maaf, sepertinya aku tidak bisa menemanimu. Aku harus segera kembali ke kantor,” imbuh Sehun.

Terlihat Sulli sedikit kecewa mendengar ucapan Sehun, namun sedetik kemudian segera tersenyum manis ke arahnya. “Tidak apa-apa, aku bisa mencarinya sendiri. Kalau sudah dapat cangkir yang bagus akan kufoto dan kirim padamu,” tuturnya penuh semangat.

Sehun mengangguk seraya tersenyum, lalu mengusap pucuk kepala gadis manis itu. Keduanya kemudian saling terdiam, membuat suasana sekejap menjadi hening. Meski sudah hampir dua tahun berkencan dengan Sulli, sebenarnya Sehun kerap merasa segan padanya. Entah mengapa saat bersama Sulli, ia sering berubah menjadi pria yang kaku dan kikuk. Bagaikan orang yang belum pernah memiliki pengalaman dalam berkencan. Mungkin karena kekasihnya itu terlampau baik, lembut, sekaligus sangat patuh padanya. Sehun bahkan tidak ingat kapan terakhir kali mereka berdebat ataupun terlibat pertikaian.

Sebagai kekasih, Sulli bisa dikatakan pasangan yang sempurna. Idaman banyak pria. Sulli tidak pernah membuat Sehun kesal. Ia selalu melakukan apapun yang dikatakan Sehun. Tidak hanya itu, ia juga tidak menuntut banyak dari Sehun. Ia selalu bisa mengerti saat Sehun sibuk dan sama sekali tidak ada waktu untuknya. Terkadang, Sehun menjadi cemas dan tidak tahu apa yang sebenarnya diinginkan Sulli, karena gadis itu tidak pernah mau komplain padanya. Sehun takut jika tanpa sadar telah menyakitinya. Dan karena itu juga Sehun malah merasa ada dinding yang menjulang tinggi di antara mereka.

“Sehun,” gumam Sulli kemudian, membuat Sehun segera menoleh padanya.

“Apa aku boleh menanyakan sesuatu padamu?” imbuhnya.

Sehun kembali mengelus pucuk kepala Sulli. “Tentu saja.”

“Kita sudah lama pacaran, juga sudah mengenal satu sama lain dengan baik,” kata Sulli.

Sehun yang sibuk mengemudikan mobilnya bersikap seolah mendengarkan baik-baik perkataan Sulli, padahal ia sama sekali tidak mengerti dengan pangkal pembicaraan kekasihnya itu.

“Dilihat dari umur dan pekerjaan, kita sudah sama-sama mapan. Apa…” Sulli mengulum bibirnya sejenak. “Kau tidak terpikir untuk membawa hubungan kita ke jenjang yang lebih serius?”

Kaki Sehun sontak menginjak pedal rem mobilnya hingga berhenti seketika.

“Ada apa?” Sulli tampak panik, mengira Sehun sudah menabrak sesuatu.

Sehun hanya terdiam sampai Sulli menyentuh lengannya pelan. “Sehun?”

“Eoh, tidak apa-apa, yah…” Sehun bergumam tidak jelas. Dengan kikuk ia kembali menjalankan mobilnya.

Setelah terdiam sesaat Sulli akhirnya kembali angkat suara.

“Apa aku sudah salah bicara?” tanyanya.

“Tidak,” sergah Sehun. “Sama sekali tidak.”

Sehun kemudian meraih tangan Sulli dengan sebelah tangannya selagi tangan satunya memegang stir mobil.

“Untuk saat ini aku hanya ingin fokus mengatasi masalah perusahaan appaku yang ada di sini. Setelah semuanya beres barulah aku akan memikirkan hal itu,” jelasnya, tidak ingin membuat Sulli salah paham.

Beberapa detik telah berlalu dan Sulli hanya diam seribu bahasa. Sehun menjadi tegang, takut jika ucapannya barusan malah menyakiti Sulli. Namun, perasaan itu sontak menghilang tatkala Sulli tersenyum manis padanya. Gadis itu kemudian berbalik menggenggam tangan Sehun dengan kedua tangannya.

“Ucapanku barusan tidak usah kau pikirkan. Aku hanya bertanya saja,” ucap Sulli. Tangannya kemudian berpindah ke wajah Sehun. “Aku akan menunggumu, tidak peduli mau berapa tahun lagi. Aku hanya ingin bersama, Sehun.”

Mendengar ucapan Sulli, Sehun segera menepikan mobilnya. Ia lalu menatap lekat kedua mata indah gadis di depannya itu.

“Terima kasih, sayang,” gumam Sehun bersama senyumnya.

Perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Sulli, kemudian mengecup bibirnya pelan dan melumatnya lembut. Kedunya pun menikmati waktu singkat itu sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

To be continued…

Chapter 2 >>>

Terima kasih sudah membaca 🙂
Harap meninggalkan komentar dan jempolnya.
Jadilah pembaca yang baik…

Iklan

20 tanggapan untuk “One More Time [Chapter 1]

  1. Waduuuh
    Kasian liat sulli
    Dia baik banget
    Tp kyaknya sehun gak sepenuhnya syg sm sulli
    Karna masih ada perasaan buat soojung
    Apalagi mereka ketemu lagi
    Hmm
    Yg terbaik ajalah 🙂

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s