B : “Wish List”

Untitled-2

Bestfriend : Wish List | by Apreelkwon
Chanyeol – Baekhyun | Friendship, Slice of Life | G| OneShot

Summary : Chanyeol tidak akan pernah melupakan hari itu, ketika dia meyakinkan dirinya bahwa Baekhyun adalah sahabat terbaiknya.


Byun Baekhyun, dia adalah sabahatku. Terhitung sudah delapan tahun kami saling mengenal. Berawal dari pertemuan dirumah sakit dan sampai hari ini kami masih saling terikat dengan status ‘Sahabat.’ Terkadang kata itu juga bisa menjadi pancingan paling kuat bagi kami. Misal, aku sedang butuh bantuannya, maka dengan menggunakan kata itu dengan mudah dia akan membantuku.

ayolah bantu aku, kau kan sahabatku..

Waktu itu kami masih berumur sepuluh tahun, kelas 5 sekolah dasar dan saat itu kami hanyalah dua bocah penyakamin. Hahaha apa lagi alasan bertemu dirumah sakit kalau bukan karena sakit. Aku memiliki masalah dengan gusiku. Jika salah makan, darah akan terus mengucur dari sana membuatku menyeramkan seperti Dracula yang habis menghisap darah. Inilah alasan kenapa ayah dan ibu membawaku kerumah sakit sampai akhirnya aku harus dirawat selama dua minggu.

Aku Park Chanyeol, penyakitku gusi sering berdarah.

Dan BaekHyun, biar aku jelaskan dulu perawakannya saat itu. Rambut hitam tipis, kulit putih pucat, kurus dan pendek. Baekhyun pengidap asma. Kataya, dia sering sekali sulit bernafas bahkan dia pernah sampai jatuh pingsan. Kedua orang tuanya juga membawa BaekHyun karena khawatir dengan anaknya, sama denganku BaekHyun harus dirawat. Tapi dia lebih lama. Karena penyakitnya lebih parah dariku. Sebulan dia disana.

Dia sahabatku Byun BaekHyun, pengidap Asma akut.

Waktu itu kami hanyalah anak kecil yang mudah termakan imajinasi. Namanya juga Rumah Sakit, hampir setiap hari kami melihat orang dengan penyakit berbeda, kami juga pernah melihat insiden seseorang meninggal karena penyakitnya.

Paman Oh salah satunya. Dia berada dilantai bawah kamarku. Katanya dia memiliki masalah dengan kepalanya, setelah oprasi dia meninggal. Peristiwa ini memberi efek besar pada kami. Saat itu aku dan BaekHyun berfikir bahwa semua orang yang masuk rumah sakit kemudian tinggal lama disana maka akan meninggal.

“Aku belum mau meninggal Baek, umurku baru 10 tahun”

“Aku juga”

“Tapi mereka yang masuk rumah sakit selalu meninggal. Paman Oh, anak kecil disamping kamarku, bibi Jung, apa besok aku? Atau kau?”

“Apa gigimu masih sering berdarah?” Baekhyun bertanya sambil memainkan jari – jari tangannya di udara. Saat itu kami tengah berada di kamarku, berbaring dan terlarut dalam perbincangan tentang kematian. Lucu memang.

“Tidak, gusiku sudah baikan. Bahkan sudah tidak sakit, kau? Apa masih sering sulit bernafas?”

Baekhyun meliriku sebentar, masih sambil memainkan jari tangannya yang aku tanya apa dan dia menjawab adalah pesawat terbang, dia menggeleng pelan. “Sudah jarang, nafasku sudah tidak sesak seperti kemarin – kemarin, berarti kita sembuh Chan,”

“Kalau misal ada yang ingin kau lakukan sebelum meninggal, apa itu?” tanyaku, mengacuhkan penjelasan BaekHyun tentang kami yang akan sembuh.

“Aku?” BaekHyun berhenti menerbangkan pesawat jarinya kemudian nampak berfikir sambil menatap langit kamar. “Lari pagi. Berlari di pinggir sungai, menanti matahari terbit, lengkap dengan sepatu dan setelan olahraga. Aku belum pernah melakukan itu, Ayah selalu melarangku. Kalau kau? ”

Apa yang ingin aku lakukan? Banyak yang aku inginkan waktu itu. Aku ingin kakak perempuanku berhenti mencuri jam menontonku, aku ingin robot yang bisa berubah wujud dari mobil – mobilan kemudian memamerkannya pada teman – temanku, aku ingin sepasang sepatu roda agar ada alasan bermain ditaman kompleks setiap sore. Semua tentang keinginanku, tapi semua itu tidak terlontar dari mulutku.

“Kemarin aku di ajak Noona berkeliling, ketika melewati kantin rumah sakit disana aku melihat jajaran lolipop yang terpasang begitu menganggumkan. Aku mau semua lolipop dikantin rumah sakit. Sudah lama aku tidak makan permen,” akhirnya aku menyuarakan keinginan terdalamku.

Baekhyun bangkit terduduk diatas tempat tidur. Dia nampak merogoh saku celananya mencari sesuatu tapi tidak ada. “Kau ada uang?” tanya Baekhyun yang aku jawab dengan anggukan, karena aku teringat Kakakku meninggalkan uang recehannya dilaci lemari kecil samping tempat tidur. Baekhyun tersenyum puas, kemudian mengulurkan tanganya padaku menunggu sambutan. “Kita lakukan semuanya, agar bahagia saat meninggal. Pertama ayo kita beli lolipop itu, aku juga suka.”

Agar bahagia saat meninggal, kalimat ini aslinya sungguh menyeramkan, tapi waktu itu aku menghargai untaian kalimat Baekhyun dengan ratusan stok senyum seumur hidupku. Hari itu aku tersenyum begitu puas, bahagia hanya untuk menyambut lolipop di kantin rumah sakit. Dengan senyum bahagia aku menyambut uluran tangannya.

Berbekal uang recehan yang aku ambil dari laci, kami berdua berlari menyusuri lorong rumah sakit dengan tangan bertaut dan senyum bahagia. Kami tersenyum, melupakan antrian keluarga pasien yang sedang menunggu obat, tidak mempedulikan kerumunan keluarga penuh isak tangis merelakan saudara mereka pergi, meski aku sempat mencuri pandang pada pemandangan menyakitkan itu dan membayangkan bagaimana jika yang meninggal itu adalah aku. Apa Ayah dan Ibu akan menangis histeris seperti itu, apa Kakak perempuanku akan memanggil – manggil namaku. Kemudian lamunan itu terhenti ketika Baekhyun menarik tanganku.

“Jangan diperhatikan,” ucapnya singkat, aku mengangguk setuju kemudian kami melanjutkan lari menjemput kelompok lolipop.

Dengan nafas terengah kami sampai didepan kantin rumah sakit. BaekHyun Nampak berkeringat hebat dan nafasnya tersendat, aku khawatir tapi saat melihat jajaran lolipop warna – warni aku langsung berlari kedalam melupakan BaekHyun.

“Tiga lolipop, jeruk, anggur dan susu tolong,” ucapku antusias.

“Aku satu, coklat” tidak lama Baekhyun sudah berada disampingku masih dengan keringat bercucuran.

“Baek kau baik – baik saja?” tanyaku yang dijawab anggukan olehnya.

Kami kembali dari kantin dengan wajah cerah sambil menikmati lolipop masing – masing, BaekHyun dengan rasa coklatnya dan aku rasa anggur. Karena siang itu terlalu panas, kami memutuskan menghabiskan semua permen ini dikamar BaekHyun, tempat berlindung paling aman. Ayah BaekHyun baru kesini malam hari dan Ibu BaekHyun sedang pergi mencari makan.

Jadi, sekarang diatas kasur BaekHyun aku dengan bahagia menghabiskan semua permen manis ini. Rencananya aku akan menghabiskan semua permen ini, tapi saat permen ke 2 aku merasakan ngilu luar biasa pada gigiku, rasa ngilu yang lama – lama menjadi sakit menusuk.

“Baek gusiku sakit lagi,” keluhku sambil menangkup mulut dan melemparkan lolipop rasa susu yang sedang aku nikmati.

“Kenapa? Katanya kau sudah tidak pernah sakit lagi,”

“Entahlah” jawabku yang kini mulai berlinang air mata. Menahan sakit yang makin menjadi.

YA! Chan jangan tutupi mulutmu, coba buka biar aku lihat, cepat.”

“Tidak, ini sangat sakit jika dilepas,”

“Cepat buka Chan biar aku-” BaekHyun menghentikan kalimatnya. Aku masih menangkup mulutku dengan mata terpejam dan air mata mulai mengalir. Ini sangat sakit. “Oh tidak Chan, gusimu berdarah lagi,” lanjut BaekHyun kemudian dengan suara tertahan.

Aku mencium sesuatu yang menakutkan dari getar suara Baekhyun. Perlahan aku lepaskan tangan yang menangkup mulutku, membuka mata dan aku kembali mendapati itu. Terhenyak sejenak ketika melihat darah sudah menghiasi kedua telapak tanganku. Oh, penyakitku kambuh, jadi apa permen menjadi musuhku sekarang?

Masih sambil berlinang air mata, aku melihat Baekhyun dengan sigap turun dari tempat tidur kemudian berlari keluar kamar. Aku mendengarnya berteriak, meminta bantuan kemudian rombongan berbaju putih itu datang. Mereka membawaku kembali kekamar dan mereka kembali mengurungku, tidak tanggung empat hari lamanya.

Siang itu kedua orang tuaku sedang pergi keluar untuk makan siang, ketika Baekhyun melongok dari balik kaca dan tersenyum bahagia saat mendapati aku seorang diri disana. Meski memang semua ini bukan salah Baekhyun, dia masih takut harus berhadapan dengan ibuku.

“Empat hari tanpamu, sangat membosankan, jadi bagaimana kabarmu?” tanya BaekHyun saat dia sudah duduk di tempat tidurku.

“Gusiku sudah tidak sakit, aku juga sudah bisa makan nasi. Mereka bilang aku sudah membaik, tapi mereka tidak tahu aku sangat mati kebosanan,” jawabku.

“Sudah tidak sakit? Sungguh, coba aku lihat,” aku membuka mulutku lebar – lebar dan BaekHyun berjalan mendekat untuk melihat kedalam mulutku. Dia sering melakukan ini saat aku mengeluh ngilu pada gusiku.

“Gusimu sudah tidak bengkak, berarti kau sudah sembuh,”

“Tentu, empat hari aku cuma makan bubur,”

“Baguslah kalau kau sudah baikan dan lebih baiknya lagi permintaanmu sudah terkabul. Kau bahagia bukan?” aku mengangguk. “lalu bagaimana permintaanku?”

Baekhyun bertanya sambil tersenyum, tapi aku tahu anak ini bersedih. Dia takut karena insiden kemarin aku tidak bisa membantu mengabulkan permintaannya. BaekHyun sudah membantuku dengan permen – permen itu, tidak mungkin aku tega membiarkan BaekHyun tidak menikmati udara pagi hari.

“Kita pergi besok pagi bagaimana?” tanyaku kemudian yang dijawab mata berbinar BaekHyun.

“Kau yakin? Kau sudah bisa keluar kamar?”

Aku mengangguk. “Tenang, empat hari sudah cukup. Lagi pula tadi kau bilang, gusiku sudah tidak bengkak bukan? Bagaimana?”

oke..

Setelah menerima tawaranku BaekHyun segera meninggalkan kamarku berlari menuju kamarnya. Aku rasa dia akan bersiap – siap untuk besok. Ya, besok giliranku mengabulkan permintaan BaekHyun. Lari pagi.

Aku pernah bertanya kenapa BaekHyun ingin berlari. Ternyata jawabannya, karena sejak mengidap asma BaekHyun tidak memiliki kebebasan sebagai anak kecil. Dia bahkan bersekolah dirumah. Ini bukan karena penyakit Baekhyun amat sangat berbahaya, bukan. Tapi katanya, orang tua Baekhyun khawatir BaekHyun belum bisa mengurus diri sendiri. Dan kenapa BaekHyun ingin berlari? Karena dia belum pernah melakukan itu sebelumnya. Seperti tempo hari, berlari sedikit saja dia sudah habis nafas seperti itu. Aku khawatir disini, bagaimana bila nanti BaekHyun juga kehabisan nafas. Tapi dia kembali meyakinkan, ini permintaan terakhirnya.

Baiklah, dia saja rela membuat gusiku berdarah agar pemintaanku terkabul. Akupun pasti bisa mengabulkan permintaannya. Toh bila nanti Baekhyun kehabisan nafas dan pingsan aku bisa menggendongnya, melihat ukuran badannya yang lebih kecil dibanding denganku.

Pagi itu sekitar jam lima dengan kaus, celana panjang, jaket dan sepatu biasa aku keluar pelan – pelan dari kamar. Jam – jam seperti ini aku memang dikamar sendirian. Ibu biasanya pulang kerumah sekitar jam 5 kurang kemudian kembali kesini untuk menemaniku menjalani pengobatan sekitar jam 8 pagi. Aku belum bisa berfikir alasan apa yang akan aku gunakan saat nanti ibu dan pihak rumah sakit memarahiku. Mungkin mereka akan mengurungku lebih lama disini.

Tidak sulit untuk keluar dari kamar asal kau sudah menanggalkan semua atribut kepasienan, salah satunya selang infus. Dan untuk yang satu itu, aku juga Baekhyun menggunakan trik yang sama. Kami mengeluh pada suster bahwa tangan kami kebas, pegal dan juga bengkak akibat jarum infus. Kemudian pada malam hari mereka melepasnya dan berjanji pada kami akan memasangkannya besok. Masalah selesai.

Berjalan santai seolah aku hanya anak yang ikut menginap disini, aku berjalan menyusuri koridor yang menyambungkan kamarku dengan kamar Baekhyun. Ketika tiba didepan kamarnya, aku mengintip perlahan, masih gelap. Jangan bilang anak itu lupa dengan rencana ini. Awas saja. Perlahan aku membuka pintu kamarnya. “Baekhyun,” ucapku pelan.

sst~” ucap satu suara dari balik pintu.

Didalam kamar masih gelap disana masih ada ibu Baekhyun yang sedang tertidur di sofa. Aku tidak habis fikir bagaimana Baekhyun berganti pakaian dalam keadaan gelap dan tidak menciptakan suara sedikitpun.

“Ibuku tidak pulang, aku sedikit kewalahan tadi, tapi untunglah..”

“Hebat,” jawabku.

“Ayo, ini sudah hampir jam 5 lewat, aku harap sebelum jam 9 kita sudah kembali atau kita akan dikurung lebih lama,” ucap Baekhyun sambil tertawa. Dia terlihat sangat bahagia.

Aku keluar lebih dulu, disusul Baekhyun yang melakukan gerakan ninjanya untuk menutup pintu. Dia tertawa puas, kemudian kami berlari menembus gerbang demi gerbang dan berdalih kami hanya keluarga pasien dan berencana pulang.

“Oh lihatlah, aku bisa menghirup udara dengan bebas,” ucap Baekhyun lantang ketika kami sudah berada diluar rumah sakit dan tengah berjalan pelan menyusuri trotoar. Kami hendak pergi kemana? Entahlah, akupun tidak tahu daerah ini.

“Baek, kau sungguh ingin melakukan ini? Bagaimana kalau hanya berjalan begini saja, lalu kita mencari tempat tinggi untuk melihat matahari,” tanyaku khawatir dengan akibat dari yang akan kami lakukan.

Dia berbalik kemudian menggeleng pelan. “Kau saja berani mengambil resiko dengan darah yang banyak itu, aku bisa bertaruh lebih untuk yang ku inginkan, ayolah…!”

“Tapi aku tidak tahu kita harus kemana, lagi-”

“Pertama kita naik bis itu dulu, baru nanti kita cari pinggiran sungai atau joging trek yang dekat,” aku tidak tahu kapan ada bis muncul, yang jelas Baekhyun sudah berlari ke arah pintu bis yang terbuka dan mau tidak mau aku ikut dengannya.

“Baek-”

“Jadi seperti ini hawa pagi hari,” Baekhyun menyela kalimatku, aku hanya mengangguk sebagai respon. “Asal kau tahu Chan, selama ini jam bangun tidurku itu jam 9 atau jam 10 pagi.”

“Itu bukan pagi Baek, tapi siang,”

“Karena aku tidak boleh bangun pagi,” jawabnya. Sontak aku menghadap kearahnya. “Dingin bisa membuatku sesak,”

“Lalu-”

“Tenang – tenang,” Baekhyun kembali menyela kalimatku, seakan tahu apa yang akan aku katakan. “Aku sudah menyiapkan ini, setidaknya pipa kecil ini bisa membantuku bernafas,”

“Baek apa ini tidak berlebihan,”

“Ingat Chan, aku sudah membantumu berdarah – darah kemarin. Jadi hari ini kau akan membuatku tersendat – sendat menghirup oksigen,”

Aku terhenyak mendengar jawabannya, apa ini? Apa kami dalam misi saling membunuh? Baekhyun menyadari keterkejutanku kemudian tertawa pelan. “Tenanglah Chan, tidak akan seburuk itu, aku sudah mempersiapkannya.”

Setidaknya Baekhyun sudah mempertimbangkan, aku tidak bisa berbuat banyak lagi. Sebagai respon, aku menggerakan bahu kemudian memberinya senyuman setuju di akhir.

“Baiklah, kita berhenti disini,” aku belum merespon sama sekali tapi Baekhyun sudah berlari kedepan dengan antusias melompat dari bis ketika berhenti tepat digaris tepian jalan.

Udara pagi itu sungguh dingin, bahkan bagiku yang manusia normal tanpa gangguan dengan pernapasan. Ketika menyadari itu dengan segera aku memperhatikan jaket milik Baekhyun, sepertinya masih lebih hangat miliku.

“Baek mau bertukar jaket?” aku menawarkan dengan tidak menyindir.

Baekhyun tidak langsung menjawab, dia merasakan tubuhnya terlebih dahulu kemudian menggeleng pelan.

Tidak ada sungai, tidak ada jogging trek, kami hanya berlari – lari kecil di trotoar jalan yang memiliki banyak pepohonan. Hari itu kami menghirup banyak udara pagi, lengkap dengan sinar matahari pagi. Bagiku sangat menyenangkan, tapi semua itu menjadi mengkhawatirkan ketika kami tengah berlari, Baekhyun terus mengeluarkan pipa kecil miliknya. Aku rasa ini pertanda tidak baik.

“Aku kali ini memaksa Baek, sepertinya kita harus bertukar jaket,” ucapku ketika menghentikan lari Baekhyun.

Dia mengambil nafas pendek – pendek, memasukan pipa kecil pada saku, menghapus peluh didahinya kemudian mengangguk setuju. “Baiklah, aku rasa kali ini aku setuju padamu Chan,”dan akhirnya kami bertukar baju hangat ini, karena betul saja, miliku berkali – kali lipat lebih hangat.

Kami melanjutkan lari kecil, sesekali Baekhyun berhenti berdalih menikmati sinat matahari, tapi aku tahu ada sesuatu yang mulai tidak beres. Meski begitu aku tidak pernah menyelanya, mungkin ada baiknya aku menuruti semua yang dia inginkan, mengingat tujuan kami ini adalah “agar bahagia jika kita meninggal kelak.

Kemudian aku memutuskan berlari dibelakang Baekhyun. Jika aku berlari didepan dan terus memastikan keadaannya dengan terus menengok kebelakang, aku fikir Baekhyun akan jengkel. Maka dari itu aku memutuskan berlari dibelakangnya. Sebelumnya kami berlari sambil bertukar cerita dan sekarang Baekhyun hanya diam, dia kembali mengeluarkan pipa kecilnya dan yang membuatku takut ritme lari Baekhyun semakin melambat. Ini tidak beres.

Aku mendekatinya berencana bertanya apa kondisinya baik – baik saja, tepat ketika aku menepuk pundaknya tubuh Baekhyun jatuh begitu saja. Tepat didepan mataku. Apa Baekhyun baik – baik saja?

Persitiwa hari itu akan selalu aku ingat dan akan selalu aku ingat, umurku masih sepuluh tahun dan hari itu di punggungku, aku menggendong Baekhyun –yang aku tidak tahu kondisinya seperti apa, berlari kembali kerumah sakit. Aku juga akan selalu ingat perasaan itu, ketika jantungku berdegup sangat kencang, air mataku yang terus menetes, tubuh Baekhyun yang lemas, nafasnya yang tersendat dan tubuhnya yang begitu dingin. Aku juga tidak akan pernah lupa, ketika air mata yang menetes berubah menjadi teriakan rasa takut.

“BAEK! KAU MEMBUATKU TAKUT. BAEK! KAU BAIK – BAIK SAJA BUKAN? JAWABLAH!”

Dan aku juga tidak akan lupa ketika orang tua Baekhyun memarahiku, hari itu aku bahkan hampir menjadi seorang pembunuh. Mungkin jika Baekhyun tidak membuka matanya lagi, aku sudah digeret oleh mereka ke kantor polisi dengan dalih tindak pembunuhan. Tapi, orang nomal mana yang akan percaya pada tingkah konyol kami ini?

Untunglah nasibku masih selamat, ketika ibu Baekhyun menangis histeris dari dalam kamar kemudian aku melongok dan mendapati Baekhyun sudah membuka matanya.

“Bu, Chanyeol mengajaku menikati udara pagi dan melihat matahari. Aku sudah sembuh bukan?”

Waktu itu tanpa tahu apa alasan jelasnya, aku menghambur pada pelukan ibuku kemudian menangis histeris. Aku bahagia. Ibuku mengusap pelan rambutku kemudian berbisik, “Kau dan Baekhyun akan menajadi orang hebat kelak,”

Hari itu aku tidak bisa menemui Baekhyun, tapi dua hari kemudian setelah masalah dengan kedua orang tuanya selesai aku berlari dengan sangat antusias ke kamarnya.

“CHANYEOL!” itu teriakan pertama yang aku dengar darinya. Teriakan penuh rasa bahagia lengkap dengan senyum diwajahnya.

Aku menghambur memeluk tubuh kecilnya, membiarkan air mata mengalir, membiarkan suara tangis dan membiarkan Baekhyun tertawa meledek.

“Terimakasih sahabat, kau sudah membuatku merasa lebih baik,” kemudian tangisku semakin menjadi.

.

.

-2015

“Itu namanya Lee Jieun, dia murid klub seni, bagaimana menurutmu?”

aku mengintip dari balik buku yang tengah pura – pura aku baca memperhatikan perempuan yang Baekhyun maksudkan tadi.

“Manis Baek,”

Baekhyun mengangguk setuju.

“Itu namanya Wendy Shon, dia juga anggota Klub seni dia pemain gitar,” kali ini giliranku yang menunjukan perempuan berambut coklat tidak jauh dari kami.

Baekhyun tertawa pelan. “Masih unggul Jieun,” ucapnya yang membuatku mendelik kearahnya. “Pojok kiri jajaran buku Sains, bandana pink, namanya Sulli. Siswi yang tengah hits diantara kaum lelaki,” Baekhyun kembali menunjukan pilihannya.

Aku mendesis pelan. “Perempuan bahkan ada masa hits? Kau ini, aku tidak suka. Masih lebih manis asisten baru perpustakaan kita,”

Kami berdua menurunkan buku tebal yang sekali lagi, tengah kami pura – pura baca, kedua mata kami bergulir kearah meja di depan pintu masuk perpustakaan. Sosok perempuan awal 20-an dengan setelan putih biru, rambut halus coklat tergerai, selalu menjadi akhir dari perdebatan tentang perempuan paling cantik di sekolah kami.

“Taeyeon Noona, memang cantik,” ucap Baekhyun.

“Kali ini aku setuju denganmu sobat,”

.

.

-Kkeut.

10 thoughts on “B : “Wish List”

  1. Begitu liat nama ‘Taeyeon’ . Seketika hati deg2an.. Yaaa You Know What I Mean lahh… Tapiii untung aja end pas bagian itu juga! Syukurlah🙂 aku kira Baek bkl pacaran gitu sama Taeyeon trs nanti Chanyeol sakit hati oke abaikan tapii untung ga seperti pemikiran akuu… Ff nya keren !!!

  2. Persahabatan mereka memang perly diacungi jempol…
    Rela mengorbankan nyawa demi mimpi sederhana anak yg iri sama hal biasa yg anak sehat sering lakukan..
    Hehehhe…
    Just amazing idea…
    Great…
    Mgkin ada baiknya qt hrs punya mimpi yg besar dan cara mendapatkan yg pantang menyerah kaya mereka sampe ga peduli sama nyawa mereka sendiri…wkwkwkw…
    Untung nya merka msh bs diselamatkan..
    Hahaha…
    Gomawoyo

  3. Taeyeon 😑😁
    Aku udh takut2 aja td pas baca kirain si baekhyun bkl gitu ehh untung aja enggak 😅
    Kk ika baik dehh baekhyun nya gk diapa2’n 😗
    Kereenn kk 👍👏👏

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s