One More Time [Chapter 2]

One More Time - cover

Story by Callia Jung
Soojung / Krystal f(x) | Oh Sehun EXO
Choi Sulli Eks f(x) | Kim Jongin / Kai EXO
Chapter
Romance
PG-15

CHAPTER 1 |

Pip pip pip pip pip

Jemari Soojung dengan lihainya menekan tombol password di depan sebuah pintu apartemen, seperti sudah menghapal mati angka-angka itu. Bip! Sekejap kemudian pintu pun terbuka. Soojung menjejalkan tubuh rampingnya masuk ke dalam dengan hentakkan kaki yang cukup kasar.

Di ruang tengah apartemen yang megah, seorang pemuda tampak duduk santai di sofa sambil menatap serius ke layar televisinya. Pemuda itu sepertinya bukan tidak menyadari kedatangan Soojung, tapi lebih tepatnya tidak peduli dengan kedatangannya.

“Yaa, Kim Jongin!” panggil Soojung kesal sambil berjalan ke arahnya.

“Tidak perlu berteriak seperti itu,” desah Jongin tanpa menoleh pada Soojung. Ia malah memainkan remote televisi di tangannya.

Soojung menghempaskan tubuhnya di atas sofa, di samping Jongin. Menatapnya tajam dengan wajah yang ditekuk kesal.

“Ada apa?” Jongin akhirnya menoleh padanya.

“Kau berbohong padaku lagi kan? Iya kan?” desak Soojung.

Jongin mengernyitkan dahi, “Kau ini bicara apa?”

Semalam Soojung meminta Jongin untuk menemaninya hadir dalam sebuah launching album salah seorang artis kenalannya. Namun, karena Jongin berhalangan dengan alasan pekerjaannya belum selesai sehingga mengharuskan ia lembur, Soojung pun terpaksa pergi sendirian.

Soojung memang memiliki banyak kenalan dengan para artis karena sudah tiga tahun belakangan ini ia menduduki kursi manajer produksi di salah satu perusahaan entertainment. Sejak kecil ia memang tertarik dengan dunia hiburan dan selalu berangan-angan untuk menjadi salah satu ahli yang berperan di belakang layar ataupun panggung.

“Suzy bilang dia melihatmu semalam di bar,” kata Soojung ketus.

Jongin hanya terdiam, mungkin merasa dirinya sudah tertangkap basah.

“Kalau kau tidak mau menemaniku katakan saja, tidak perlu sampai bohong begitu. Aku juga tidak akan marah atau memaksamu pergi denganku,” omel Soojung.

“Aku sudah dibuat pusing dengan kerjaanku di kantor, dan kau malah mengajakku pergi. Karena perkerjaanku tidak beres-beres makanya aku ke bar,” jelas Jongin, berusaha membela diri.

“Tapi kau tidak perlu bohong padaku!”

“Aku tidak bohong! Aku memang lembur semalam! Kalau masih tidak percaya tanya saja sama Suzy jam berapa dia melihatku!”

Soojung mendengus kesal. Jongin tampak tidak mau kalah dan enggan mengakui kesalahannya telah berbohong pada Soojung. Padahal sebagai laki-laki apa susahnya minta maaf. Soojung tentu akan senang dan melupakan kekesalannya jika saja Jongin dengan tulus melakukan hal itu. Desahan napas pun terhembus dari rongga hidung Soojung. Buang-buang waktu saja kalau ia terus melanjutkan perdebatan ini. Mungkin Jongin memang tidak bohong. Bisa saja ia benar-benar lembur dan selepas itu pergi ke bar untuk melepas penat.

Ponsel Jongin yang tergeletak di atas meja di depan sofa kemudian berdering. Dengan cepat Soojung melirik ke arah benda itu. Ketika ia mendapati nama seorang perempuan yang sama sekali tidak ia kenali, tangannya dengan cekatan meraih benda itu, mendahului sang empunya.

Jongin segera mengimpit tubuh Soojung di ujung sofa untuk mengambil ponselnya, tapi Soojung dengan tangkas mengelak. Ia bangkit dari duduknya dan menjauhi Jongin.

“Kemarikan ponselku!” pinta Jongin.

“Tidak sebelum kau mengatakan siapa yang menelepon ini,” kata Soojung tegas.

“Dia teman kantorku.”

“Kalau begitu biar aku yang menjawabnya.”

Tanpa gentar dengan pandangan Jongin yang mulai menajam padanya, Soojung pun mengusap tombol hijau pada layar ponsel.

“Halo,” sahut Soojung dengan nada yang terdengar cukup sinis.

“Halo, ini…benar nomor Jongin kan?”

“Iya benar, dengan siapa ini?”

“Maaf, ini yang dengan siapa? Kenapa bukan Jongin yang mengangkat teleponnya?”

Soojung mendengus kesal. “Aku pacarnya. Ada yang mau kau katakan, nanti kusampaikan pada Jongin.”

Hening. Tidak ada sahutan dari seberang telepon, hingga akhirnya sambungannya pun terputus. Perempuan yang menghubungi Jongin yang memutuskannya. Soojung meringis, dalam hati mengutuk mati orang itu.

“Kau belum mendapat izin dariku untuk mengangkat teleponku! Kenapa kau lancang sekali, hah?!” geram Jongin.

Soojung menatap murka ke arah kekasih yang sudah bersamanya hampir tiga tahun lamanya itu. “Siapa sebenarnya perempuan yang barusan menelepon ini?” gumamnya semakin sinis, sama sekali tidak mengindahkan ucapan Jongin.

“Bukan urusanmu,” sergah Jongin.

“Bukan urusanku?” Soojung memicingkan mata. “Yaa! Kim Jongin! Kau selingkuh?!”

Jongin hanya terdiam, enggan berucap dan tidak juga menatap Soojung. Kesal, Soojung pun kembali mengusap layar ponsel Jongin. Ia hendak mengutak-atik pesan-pesan yang ada di dalamnya. Jangan-jangan dugaannya benar, bahwa Jongin sudah berani bermain di belakangnya.

Jongin yang melihatnya segera menghampiri. Kali ini Soojung tidak bisa lari karena Jongin berhasil meremas sebelah tangannya dengan kuat.

“Apa yang kau lakukan? Kau sudah berani padaku, hah?” kesal Soojung.

Jongin mencoba merampas kembali ponsel miliknya, tapi Soojung menggenggamnya sekuat tenaga. Jongin yang sudah naik pitam tiba-tiba mendorong Soojung, membuatnya terhempas jatuh ke belakang. Tangannya terbentur keras di meja kecil di sudut dinding hingga membuat ponsel yang dipegangnya terlepas dan terpental ke lantai. Tanpa memedulikan Soojung yang mulai merintih kesakitan, Jongin mengambil ponselnya dan berjalan pergi.

“Jongin, kau mau ke mana? Aku belum selesai bicara denganmu!” pekik Soojung yang terduduk di lantai, tak berdaya.

Tidak ada sahutan dari Jongin. Tidak lama kemudian terdengar suara pintu yang dibuka, kemudian terdengan bunyi yang menandakan pintu telah ditutup kembali. Jongin pergi meninggalkannya entah ke mana, bahkan dalam kondisi seperti ini.

Soojung terdiam di tempatnya. Ia merasa lelah sekaligus sakit. Rasa nyeri di tangannya berhasil dikalahkan dengan rasa sakit dan sesak di dadanya. Setetes demi tetes butiran kecil di pelupuk matanya akhirnya jatuh. Ia lalu meringkuk, memeluk kedua lututnya sambil menenggelamkan wajah. Merintih seorang diri. Menangis dalam sunyi.

****

Di akhir pekan yang cerah Sehun mencoba menyibukkan dirinya membantu pembantunya bersih-bersih di sekitar rumah. Meski ia baru memiliki waktu untuk rehat sejenak dari pekerjaannya yang bertumpuk di kantor, bukanlah alasan untuk membuatnya hanya duduk bermalas-malasan. Karena merasa kasihan dengan pembantunya yang hanya seorang diri membersihkan rumah yang cukup besar dan luas, iapun menawarkan diri untuk mengerjakan hal-hal kecil yang bisa sedikit membantu.

Kondisi di sekitaran rumahnya sendiri masih cukup berantakan karena sudah lama tidak ditinggali. Sejak pindah ke Hongkong empat tahun silam, rumahnya memang dibiarkan kosong. Kini sudah hampir sebulan Sehun bersama sang bunda kembali menghuninya. Sebenarnya, Sehun enggan membawa ibunya ikut ke Seoul. Ia lebih senang jika ibunya tetap di Hongkong bersama ayah dan kakak laki-lakinya. Tapi, ibunya terus saja memaksa ikut dengan alasan mencemaskan anak bungsunya jika tinggal sendirian. Entah apa yang mesti dicemaskan ibunya. Lagi pula ada Sulli yang juga ikut ke Seoul dan bisa mengurus keperluan Sehun. Selama tinggal di Seoul, kekasihnya itu tinggal di rumah pamannya.

Sehun berjalan menuju dapur hendak membasuh tenggorokannya dengan segelas air dingin. Ia baru saja selesai menyirami rerumputan hijau yang tumbuh pendek-pendek di samping rumah agar kembali segar. Ketika meneguk sebotol air yang ia ambil dari kulkas, ia melihat pembantunya membawa tumpukan box-box besar di tangannya. Saking banyaknya sampai menutupi wajah wanita paruh baya itu. Sehun segera menghampirinya.

“Sini kubantu, Bi,” tawar Sehun. Ia langsung mengambil beberapa box itu.

“Terima kasih, Tuan,” kata si pembantu.

“Semua box ini mau dibawa ke mana?” tanya Sehun kemudian.

“Mau dibawa ke depan, biar diangkut dengan truk sampah. Tadi sebelum Nyonya keluar dia sempat pesan supaya barang yang sudah tidak dipakai dibuang saja, habis gudangnya sudah terlalu penuh,” jelasnya.

“Mama seperti mau tinggal lama saja di sini,” desah Sehun.

Mereka memang tidak berencana tinggal lama di Seoul. Setelah masalah di perusahaan Ayah Sehun yang beroperasi di Seoul beres, maka mereka akan segera kembali ke Hongkong.

Sampai di bak sampah di depan rumah ternyata truk yang akan mengangkut belum datang. Karena masih tersisa beberapa box lagi di gudang, si pembantu buru-buru kembali ke sana. Sehun pun turut mengikutinya, namun urung tatkala pandangannya berhasil dicuri oleh sebuah box cokelat yang tidak terlalu besar tergeletak di dekat tumpukan sampah. Penutup box itu sedikit terbuka, memperlihatkan ujung dari syal berwarna biru navi yang dipenuhi debu mencuat dari dalam.

Sehun perlahan merunduk, menyingkirkan penutup box. Ia sontak tertegun saat melihat berbagai barang, seperti syal, sebotol parfum yang masih menyisakan sedikit cairan di dalamnya, beberapa foto yang bingkainya dilumuri debu, jam tangan, kemeja yang tampak lusuh, dan masih banyak lagi. Semua benda-benda itu bagaikan pita kaset yang kembali memutar semua kenangan Sehun saat masih bersama Soojung dulu. Kenangan indah sekaligus memilukan yang tidak akan pernah bisa terhapus dari ingatan Sehun.

Rasa sakit dan ngilu perlahan merayapi bagian dada Sehun. Luka di sana yang telah lama mengering seakan kembali mengelupas mengeluarkan nanah serta darah yang teramat perih. Tangannya kemudian meraih botol parfum berwarna hijau daun dan menatapnya lekat. Ia ingat parfum itu Soojung beli ketika mereka keluar bersama merayakan hari jadian mereka yang pertama. Kala itu Soojung membeli dua parfum yang sama.

“Satu untukku, satu untukmu. Kau harus pakai parfum ini. Kalau suatu saat aku sangat merindukanmu, aku bisa mencium parfum yang kupunya, jadi aku bisa merasa seperti sedang bersamamu,” ujar Soojung kala itu.

Sehun kemudian membuka penutup parfum itu, menyesap aroma segar yang mencuat dari dalam botol. Sekilas senyum memancar di wajahnya, merasa senang sekaligus pilu. Tiba-tiba ia teringat dengan kejadian beberapa hari lalu ketika ia kembali bertemu dengan Soojung. Saking sibuknya dengan urusan kantor ia baru ingat ternyata ia belum sempat mengirimkan nomor rekeningnya seperti yang dipinta gadis itu. Buru-buru ia masuk ke dalam rumah, tentunya tanpa melupakan box itu. Ia membawanya kembali ke dalam.

“Tuan, boxnya mau dibawa ke mana?” tanya si pembantu saat berpapasan dengan Sehun.

“Ah, yang ini jangan dibuang. Aku masih memerlukannya,” jawab Sehun, sekejap kemudian menghilang.

Sampai di kamar ia membuka laci mejanya satu per satu, sampai akhirnya ia berhasil menemukan secarik kertas yang merupakan kartu nama Soojung. Dengan sigap ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya, menekan nomor yang tertera di kartu, lalu menghubunginya. Tidak butuh waktu lama hingga di seberang telepon menjawab panggilannya.

“Soojung?” gumam Sehun. “Ini aku, Sehun.”

“Eoh… Sehun… ada apa?”

Kedua alis Sehun saling bertaut ketika mendengar suara gadis yang diteleponnya. Suaranya terdengar serak, seperti…

“Kenapa dengan suaramu?” sergah Sehun.

“Aaahh… aku hanya sedikit pilek.”

Sehun terdiam. Berpikir. Meyakinkan diri.

“Ada apa?” ulang Soojung. “Oh ya, kau belum mengirimiku nomor rekeni-“

“Kau menangis?” potong Sehun seketika. Yah, suara Soojung terdengar aneh. Ia yakin gadis itu baru saja menangis. Ia tahu suara seraknya yang seperti itu. Ia ingat.

“A-apa maksudmu? Untuk apa aku menangis.”

“Kau di mana sekarang?” Sehun sama sekali tidak mengindahkan ucapan Soojung.

“Sehun… bagaimana kalau sebentar saja kuhubungi kau kembali…”

“Tidak!” lagi-lagi Sehun tidak membiarkan Soojung menyelesaikan perkataannya. “Masalah uang yang mau kau transfer bisakah kau memberinya sekarang? Jangan lewat bank, tapi beri langsung padaku saja.”

“Eoh?” terdengar Soojung yang sepertinya kebingungan.

“Kutunggu di cafe biasa,” ujar Sehun. “Sekarang!” imbuhnya tegas.

Tanpa menunggu sahutan dari Soojung lagi, ia langsung mengakhiri panggilannya. Iapun segera bersiap-siap, menyambar kunci mobilnya yang ada di atas meja, dan pergi secepat mungkin. Tanpa sedikit pun terlintas di pikirannya jika Soojung mungkin saja tidak mengerti ucapannya. Atau gadis itu sudah melupakan tempat yang ia maksud.

To be continued…

Chapter 3 >>>

Terima kasih sudah membaca 🙂
Harap meninggalkan komentar dan jempolnya.
Jadilah pembaca yang baik…

10 thoughts on “One More Time [Chapter 2]

  1. Huee kasian banget si soojung. Entah kenapa aku seneng banget sama ff ini. Mungkin karena cerita disini lebih kayak true story kali yaa. Gak dibuat terlalu manis. Fighting thooorrr baaaiii

  2. jongin kasar amat sama soojung, jahat amat tuh orang ahhh
    sehun kayaknya masih menyimpan benihbenih cinta sama soojung hehe, cewe yang hubungi jongin apakah sulli?

  3. anyeong
    wooowww ,, itu yang terakhir , kenapa?(?) , hehe sehun masih ada rasa ya ma soojung , woow , gmn dengan soojung , penasaran deh siapa wanita yg buat jong in seperti itu apa ada kaitannya dengan mereka ber 3? , wooow , keren , haha

    @_@+fighting

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s