Nice Guy (Chapter 5)

luhan-poster-request-copy1

Nice Guy

Tittle : Nice Guy (Chapter 5)
Author : Jellokey
Main Cast :
Lu Han (Luhan of EXO)
Choi Ji-seul (OC)
Byun Baek-hyun (Baek Hyun of EXO)
Support Cast :
Yoon Se-jin (OC)
Kim Jong-in (Kai of EXO)
Oh Se-hoon (Se Hun of EXO)
Kang Jeo-rin (OC)
Shin Min-young (OC)
Cho Yeon-sa OC)
And others
Length : Chaptered
Genre : romance, arranged marriage, school life, family, friendship
Rating : PG-17
Poster : @syrfhdy15/ https://myelsexperience.wordpress.com/poster/
Disclaimer : This story is pure MINE. Don’t plagiat or copy paste without my permission.

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4  Chapter 5

Walaupun Lu Han punya rencana untuk mencari ‘boneka’ baru,dia tetap berangkat ke sekolah bersama Sejin pagi itu. Lu Han bangun dengan suasana hati yang baik pagi ini, jadi dia tidak akan memutuskan Sejin hari ini.
“Lu Han, hari ini kita kencan ya.” Sejin membuka pembicaraankarena sudah tidak tahan dengan keheningan yang menyelimuti mobil Lu Han. Ia juga punya tujuan lain dengan kencan mereka. Sejin ingin berfoto dengan Lu Han lagi. Ia senang mendapat reaksi-rreaksi iri dari siswi-siswi di sekolahnya setelah ia mengunggah fotonya mesranya dengan Lu Han di akun media sosialnya-instagram. Fakta lain tentang Lu Han, Sejin adalah siswi kedua dari sekolahnya yang ia kencani setelah Minyoung. Mantan-mantannya (boneka kalau Lu Han menyebutnya) berasal dari sekolah lain. Sejin ingin orang-orang tahu kalau Lu Han sangat tergila-gila padanya.
“Aku tidak bisa.” Balas Lu Han tanpa melihat Sejin, membuat senyum manis yang menghiasi wajah gadis itu hilang.
“Kenapa?”
“Aku sibuk.” Jawaban Lu Han membuat Sejin kesal tapi ia berusaha untuk tidak menunjukkannya. Bagaimana Sejin tidak kesal? Reaksi Lu Han sangatberbanding terbalik dengan saat pria itu mendekatinya dulu. Saat itu Lu Han selalu mengabulkan semua permintaannya. Lu Han memakirkan mobilnya dengan manis di tempat parkir sekolahnya. Sebuah ide cemerlang melintas di kepala Sejin. Ia keluar—pura-pura merajuk— dari mobil saat Lu Han sedang berkaca dan dengan sengaja membanting keras pintu mobil Lu Han. Ia ingin Lu Han tahu kalau ia kesal karena Lu Han tidak mau kencan dengannya. Setelah itu Lu Han minta maaf padanya sehingga rencana kencannya tidak gagal. Sejin sudah memasang wajah cemberutnya, tinggal menunggu Lu Han mengucapkan kata maaf. Tapi,yang terjadi tidak sepeerti yang Sejin bayangkan.
“Kenapakau membanting pintu mobilku?!” Lu Han marah padanya, membuat wanita itu terkejut. Kalau disuruh memilih antara Sejin dan mobilnya, Lu Han pasti memilih mobilnya walaupun ia sudah menginginkan mobil lain.
“A-aku tidak tahu kalau aku membantingnya sekuat itu.” Jawab Sejin takut yang tentu saja akting. Ia ingin Lu Han menilainya sebagai kekasih yang lembut. Lu Han menghela nafas, di saat itu sebuah mobil sport hitam melintas di depan mereka. Mata mereka terus mengikuti mobil yang menarik perhatian mereka sampai mobil itu terpakir tepat di sebelah mobil Lu Han. Lu Han menelan liurnya susah. Itu mobil yang sangat ia inginkan. Mobil keluaran terbaru dari Lamborghini dan limited edition. Hanya diproduksi sebanyak tiga puluh buah. Ia menahan dirinya untuk membeli mobil itu karena takut dengan reaksi Tuan Lu yang mungkin bisa mengakibatkan ia tidak memiliki apa-apa lagi.
“Tampan.” Suara Sejin membuat Lu Han tersadar dari kekagumannya karena bisa melihat mobil yang ia inginkan secara langsung. Manik matanya kini melihat sosok pria yang sudah keluar dari mobil itu, yang dengan percaya dirinya berjalan menuju gedung sekolah.
“Apa dia murid baru?” Lu Han berdecak melihat Sejin yang masih terpukau dengan mobil dan pemiliknya. Diapun meninggalkan Sejin, sama sekali tidak mempedulikan panggilan ‘kekasihnya’. Ia berjalan mengikuti sosok baru di sekolahnya. Lu Han merasa ada yang ganjil saat ia menapakkan kakinya di koridor sekolahnya. Kenapa? Biasanya, murid-murid memperhatikannya saat ia berjalan menuju kelasnya. Sekalipun ia bersama EXO, pasti ada murid yang melihat ke arahnya. Tapi, hari ini berbeda tidak ada satu orangpun yang melihat Lu Han. Perhatian mereka terpusat pada sosok—dua sosok yang kini sedang berinteraksi. Lu Han menghentikan langkahnya. Rasa iri yang ia miliki pada pria yang ia ikuti berganti dengan rasa terkejut begitu ia bisa melihat dengan jelas lawan bicara si pria perebut perhatian—idola baru di sekolahnya.

——————————–

Laki-laki itu melangkah dengan pasti menuju gedung sekolah. Ia tidak yakin, tapi ia merasa mendengar seseorang mengatakan tampan sebelum ia meninggalkan parkiran sekolah. Bisikan-bisikan, tatapan penuh tanya dan kagum bisa ia rasakan tapi tidak ia pedulikan dan terus berjalan ke depan bak seorang model yang sedang berjalan di catwalk. Bisikan-bisikan itu benar-benar tidak ia ddengar lagi ketika seorang gadis yang berjalan satu meter di depannya menjadi titik fokusnya. Dalam hatinya ia bertanya, ‘apa gadis ini tidak menyadari apa yang sedang terjadi sekarang?’ bukan dia narsis, ini fakta kalau tampilan malaikatnya bisa memikat siapa saja. Jadi, ia heran kalau sampai saat ini gadis yang berada di depannya tidak berbalik. Karena keheranannya itu, ia tidak sadar kalau ia sudah sangat dekat dengan si gadis.
“Permisi,” panggilnya. Karena tidak mendapat balasan dari sang gadis, diapun menyentuh bahu gadis itu. Dia berbalik. Si pria langsung berbalik begitu gadis itu menatapnya. ‘Pantas dia tidak dengar. Dia memakai headset.’
“Aku baru di sekolah ini.” Katanya setelah si gadis melepas headset dari telinga kirinya.
“Bisa tolong tunjukkan padaku di mana ruangan kepala sekolah?” Gadis itu melihat si pria cukup lama sebelum bersuara,
“Kamu murid baru?” Laki-laki itu hanya membalas dengan senyuman. Mereka berjalan beriringan.
“Kamu berasal dari mana?”
“Cina. Namamu siapa?” Gadis itu tersenyum lalu mengulurkan tangannya.
“Jiseul,”
“Lay.” Jawabnya sambil menjabat tangan Jiseul.
“Lay? Bukankah itu nama sejenis makanan?” Canda Jiseul yang membuat Lay tertawa kecil.
“Ya, dan aku menyukainya. Apa kau suka Lay?” Lay menatap dalam mata Jiseul, tatapan yang ia tahu bisa membuat wanita meleleh.
“Aku suka. Lay adalah salah satu cemilan kesukaanku.” Jiseul menghentiksn langkahnya setelah berada di depan pintu ruangan kepala sekolah.
“Kita sudah sampai. Semoga hari pertamamu menyenangkan, Lay.” Jiseul tersenyum lalu berbalik, melanjutkan langkahnya menuju kelasnya. Lay menoleh ke belakang sebentar, ia menggelengkan kepalanya geli. Ada yang salah dengan Jiseul dan ia sangat penasaran. ‘Sepertinya hari pertamaku akan menyenangkan, Jiseul.’

———————

Lu Han memasuki kelasnya dengan malas. Mood-nya langsung berubah setelah melihat si pria baru berbicara dengan Jiseul—wanita yang berstatus menjadi istrinya sejak tiga hari yang lalu. Ada yang berbeda dengan Jiseul hari ini. Gadis itu tidak memakai seragam keramatnya—longgarnya lagi. Hal itu yang menyebabkan tidak ada satupun siswa yang memperhatikannya sampai ia masuk kelas. Lu Han mendesah berat. Ia tidak rela kalau ia harus kehilangan pemuja-pemujanya hanya karena orang baru. ‘Kau tidak akan bisa menyaingiku orang baru.’ Batin Lu Han ia meletakkan tasnya di meja lau melihat barisan meja teman-temannya. Matanya langsung menangkap sosok Sehun yang langsung merangkul Minyoung begitu ia mendekati mereka.
“Hai,” Sapa Lu Han. Ia menduduki meja sebelah kanan meja Kai. Semua temannya membalas sapaannya kecuali Sehun yang otomatis membuat Minyoung juga tidak menyapanya.
“Kau masih marah padaku, Sehun?” Lu Han tidak mendapat jawaban dari Sehun. Pria itu bahkan tidak menatapnya.
“Aku tidak akan melakukannya. Aku tidak akan menggodamu lagi, Sehun-nie.” EXO melihat Lu Han dan Sehun bergantian. Sampai Minyoung melingkarkan tangannya di pinggang kekasihnya—gerakan yang bisa membuat Sehun melembut—barulah pria itu mau melihat Lu Han.
“Aku menyadari batasan hubunganku dengan Minyoung. Kami hanya teman sekarang.” Ujar Lu Han serius, sukses membuat EXO terperangah. Pasalnya, momen di mana Lu Han bisa serius sangat jarang terjadi.
“Aku memaafkanmu. Tapi, kalau sampai kau berani menyentuh Minyoung, aku tidak akan menahan diriku lagi untuk menghajarmu.” Lu Han terkekeh kecil.
“Possesive much? Minyoung, kau yakin mau pacaran dengan Sehun?” Sehun memicingkan matanya melihat Lu Han.
“I got it, Sehun. I got it.” Lu Han mengangkat kedua tangannya, menandakan kalau ia tidak akan menggoda Sehun dan Minyoung, mantan kekasihnya.
“Akhirnya aku bisa bebas dari aura mematikan setiap aku berada di dekat kalian.” Ucap Kai. Tepat setelah Kai mengatakan itu, suasana kelas mereka menjadi riuh. Perhatian mereka teralihkan kepada sosok yang baru memasuki kelas. Mata Lu Han terus mengikuti Jiseul sampai gadis itu duduk di kursinya. Dan meja mereka langsung dikerumuni siswa-siswa di kelasnya, bahkan siswa dari kelas lain berani masuk ke kelasnya.
“Akhirnya Jiseul mendengarkan nasehatku.” Kata Yeonsa, membuat Lu Han mengalihkan pandangannya dari Jiseul.
“Kau harus segera bertindak, Baekhyun. Lihat, sudah banyak yang mendekatinya.” Sambung Chanyeol. Lu Han melihat Baekhyun yang terus memandangi Jiseul. Kenapa dadanya terasa sesak?
“Kami mendukungmu, Baek.” Lanjut Suho.
“Aku bisa membantumu. Kau tahu, trik-trik melumpuhkan wanita.” Kai tersenyum miring.
“Aku kembali ke mejaku.” Suara Lu Han pelan. ‘Kenapa mereka begitu mendukung Baekhyun? Apa yang menarik dari Jiseul?’ Mata Lu Han berapi-api melihat pria-pria yang mengelilingi Jiseul. ‘Kenapa mereka tertarik pada Jiseul sekarang?’
“Ehem,” Suara dehaman Lu Han yang lumayan keras berhasil membuat siswa-siswa yang menanyai Jiseul terdiam. Mereka melihat Lu Han.
“Aku mau duduk.” Ucap Lu Han datar. Ia melayangkan tatapan tajamnya pada siswa yang duduk di kursinya. Tidak butuh waktu satu menit untuk siswa-siswa itu meninggalkan meja mereka. Lu Han pun dudukdi kursinya. Kaki kanannya ia tempatkan di atas kaki kirinya.
“Sepertinya kau menikmati perhatian yang kau dapatkan.” Lu Han melipat kedua tangannya di depan dadanya. Ia berdecak karena Jiseul tidak menanggapinya.
“Jangan sok cantik, Jiseul.” Jiseul belum juga meresponnya.
“Kau tidak ada apa-apanya dengan Sejin.” Lu Han tahu apa yang ia katakan adalah kebalikan dari kenyataan yang ada. Jiseul jauh lebih cantik dari Sejin. Yang pasti ia salah membanggakan Sejin. Tapi begitulah Lu Han kalau sudah diabaikan.
“Kau sadar dengan apa yang katakan barusan?” Suara Jiseul pelan. Ia tidak mau berbicara dengan Lu Han, tapi ia tidak tahan lagi. Lu Han berhasil membuatnya kesal.
“Aku tidak sudi dibandingkan dengan perempuan itu.” Sambung Jiseul tanpa menatap Lu Han,pandangannya lurus ke depan.
“Jangan samakan aku dengan spesies kalian. Tidak semua orang suka diperhatikan sepertimu.” Lu Han menoleh—melihat Jiseul. Ucapan Jiseul cukup mengejutkan dan menyakitkan.
“Dan aku tidak mau berurusan denganmu. Jangan lupakan itu.” Lu Han hendak membalas ucapan Jiseul tapi ia urungkan ketika ia mendengar suara guru mereka.

———————-

“Jiseul,” Baekhyun langsung menuju meja Jiseul begitu guru mereka keluar dari kelas. Ia tidak mempedulikan Lu Han yang masih merapikan buku dan alat-alat tulisnya.
“Mau makan bersamaku?” Jiseul yang baru menutup tasnya menatap Baekhyun debgan alis yang menyatu.
“Hanya kita berdua.” Lu Han merasa takjub. Ia tidak tahu kalau dibalik sifat diva Baekhyun terdapat sisi pria itu yang agresif.
“Atau kamu mau makan bersama teman-temanku?” Baekhyun melirik Lu Han sekilas.
“Hari ini kamu makan denganku saja. Lain kali aku akan mengenalkanmu pada teman-temanku.” Baekhyun membuat keputusan sendiri akhirnya. Jujur, ia hanya ingin berdua dengan Jiseul saat ini.
“Lu Han, beri Jiseul jalan.” Lu Han berdecak menanggapi Baekhyun. Ia beranjak dari duduknya lalu berjalan keluar kelas. Ia tidak tahu ke mana tujuannya karena ia sibuk memikirkan Baekhyun dan Jiseul. Sejak kapan mereka akrab? Waktunya sangat cepat. Belum ada seminggu mereka sekolah, mereka sudah sedekat itu. Lu Han menghela nafas. Ia tidak tahu kenapa ia memusingkan kepalanya dengan Jiseul dan Baekhyun. Tapi, kali ini ia tidak akan menampiknya lagi. Ia tidak bisa berhenti memikirkan Jiseul. Perubahan penampilan gadis itu pasti akan membuat gadis itu populer. Anggota dari klub majalah pasti akan mencari latar belakang Jiseul. Ia yakin, besok pasti wajah Jiseul sudah ada di majalah dan blog sekolah mereka. Lu Han terlalu sibuk dengan pikirannya sampai-sampai ia tidak melihat ada orang yang berjalan di depannya dan ia pun menabrak orang itu.
“Maaf.” Lu Han memegang lengan gadis itu—orang yang ia tabrak, menahan gadis itu agar tidak jatuh ke lantai. Dan sudah pasti ia juga mengecek penampilan perempuan itu. ‘Lumayan.’ Batin Lu Han.
“Lu Han oppa,” Bisik gadis itu dengan wajah merona.
“Kamu juniorku?” Tanya Lu Han lembut sambil tersenyum. Sekilas, ia melihat di mana ia berada sekarang. ‘Tempat yang bagus.’ Gadis itu mengangguk.
“Apa kamu merasa sakit? Aku rasa tadi aku cukup keras menabrakmu.” Ini salah satu trik si cassanova Lu Han. Menunjukkan sikap peduli, seperti pangeran berkuda yang menyelamatkan putrinya.
“Bahu kiriku sedikit sakit. Tapi tidak apa—“ Gadis itu tidak sempat menyelesaikan ucapannya karena Lu Han sudah memijat bahunya yang ‘cedera’. Lu Han memijat bahu gadis itu sambil menatapnya intens. Melihat gadis itu yang tidak melakukan penolakkan padanya, ia yakin tidak lama lagi gadis itu akan bernasib sama seperti boneka-bonekanya yang lain. Ternyata gadis seperti Sejin sangat banyak di sekolahnya. Ini fakta baru yang belum bisa Lu Han percaya mengingat sekolahnya adalah sekolah yang berpredikat baik sekali di Seoul.
“Masih sakit?” Gadis itu menggeleng setelah berhasil memproses pertanyaan Lu Han.
“Oppa,” Lu Han memperkecil jaraknya dengan gadis itu.
“O-oppa, aku menyukaimu.” Gadis itu menahan nafasnya saat tangan Lu Han menyentuh pahanya.
“Benarkah?” Gadis itu meringis setelah punggungnya menyentuh pintu ruang penyimpanan alat-alat kebersihan. Bagaimana keadaannya jadi seperti ini? Nah, itulah keahlian Lu Han.
“Aku juga sangat menyukai gadis cantik sepertimu.” Lu Han tersenyum miring. Tangannya yang berada di bahu gadis itu perlahan turun—menyentuh dadanya.
“Oppaa,” Lu Han mengecupi rahang gadis itu. Gerakan tangan Lu Han di dalam underwear gadis itu membuatnya mendesah.
“Ah~ Bagaimana dengan Sejin?” Nama Sejin membuat aktivitas Lu Han berhenti. Bukan ia merasa bersalah, mood-nya tiba-tiba jelek setelah mendengar nama Sejin.
“Kau mau melanjutkan ini atau tidak?” Kata Lu Han datar dengan tatapan malasnya. Di tengah ketidakberdayaannya, gadis itu sangat terkejut melihat perubahan sikap Lu Han.
“Tapi, bagaimana kalau Kak Sejin tahu apa yang kita lakukan?” ‘Kita?’ Lu Han memutar bola matanya. ‘Apa gadis ini berpikir ia akan jadi kekasihku setelah aku melakukan seks dengannya?’
“Aku tidak peduli.” Lu han memalingkan wajahnya. Ia bahkan sering melakukan ‘itu’ saat ia mendekati Sejin. Lu Han berdecak. Ia tidak mood lagi untuk melanjutkan itu.
“Lupakan saja.”
“Oppa,” Gadis itu menahan lengan Lu Han.
“Ayo kita lanjutkan.” Mata gadis itu memelas. Ia tidak peduli kalau kekasih Lu Han tahu. Itu tidak ada apa-apanya kalau ia bisa bercinta dengan Lu Han. Apalagi kalau setelahnya ia menjadi kekasih Lu Han. Ia pasti akan menjadi kekasih Lu Han. Pria itu menyukainya. Gadis ini benar-benar bodoh.
“Aku tidak mood.” Mata gadis itu bergerak panik saat Lu Han melepaskan tangannya. Ia tidak boleh melewatkan kesempatan ini. Dengan cepat ia menarik tengkuk Lu Han sebelum pria itu berbalik lalu menciumnya. Lu Han yang mendapat serangan ini langsung mendorong gadis itu ke dinding lalu melahap bibir gadis itu ganas. Tangannya membuka kancing blazer gadis itu, melepas dasi lalu membuka tiga kancing teratas kemeja gadis itu. Gadis itu mengerang karena gerakan kasar tangan Lu Han di dadanya. Ciuman Lu Han turun ke leher dan satu tangannya sudah masuk ke dalam rok gadis itu. Gadis itu memejamkan matanya, mengerang nikmat karena sentuhan yang Lu Han berikan. Tapi kenikmatan yang gadis itu rasakan hilang karena Lu Han menghentikan gerakannya di leher dan daerah sensitifnya. Dia membuka matanya. Mendapati sisi kanan wajah Lu Han basah. Nafas Lu Han terengah. Bukan karena kegiatan olahraganya dengan gadis yang tidak ia kenal, melainkan emosi kepada orang yang berani mengganggu kegiatannya. Walaupun begitu, ia masih bisa bergerak dengan cool menghadap si pengganggu.
“Apa yang kau lakukan, Sejin?” Lu Han menggertakkan giginya. Ia benar-benar menahan emosinya untuk tidak membentak gadis itu. Sejin sudah cukup lama melihat kekasihnya bercumbu dengan gadis lain sampai ia memutuskan untuk melempar ice cappucino-nya ke kepala Lu Han. Ia mendelik pada gadis tak dikenal itu, membuat si gadis tersadar dan segera membenahi pakaiannya. Ssejin mendengus tidak percaya.
“Kau sadar dengan apa yang baru saja kau katakan, Lu Han?!” Mata Sejin memicing saat melihat gadis yang hampir menjadi korban Lu Han berlindung di balik tubuh pria itu.
“Seharusnya aku yang mengatakan itu ! Apa yang kau lakukan denganperempuan jalang itu?!!” Bentak Sejin, sangat berhasil membuat gadis yang berdiri di belakang Lu Han bergidik ngeri. Ia tidak menyangka gadis yang sangat dielu-elukan siswa-siswa di sekolahnya sangat menyeramkan. Sejin mengepalkan tangannya. Ia pasti akan memberi pelajaran pada gadis yang berani menggoda Lu Han-nya.
“Jangan membentakku, Sejin!!” Suara Lu Han membuat dua gadis yang ada di dekatnya sangat kaget. Beruntung tempat mereka berada sepi, kalau tidak, Lu Han pasti kehilangan fans-nya. Lu Han memejamkan mata lalu membukanya. Hari ini benar-benar buruk, sangat buruk. Pertama, kemunculan orang baru yang bisa mengalihkan perhatian orang-orang darinya. Kedua, perubahan Jiseul yang juga berhasil menarik perhatian siswa-siswa di sekolahnya. Ketiga, sikap Baekhyun yang sok akrab dengan Jiseul yang sangat menyebalkan baginya. Keempat, saat ia sedang memperbaiki moodnya, muncul Sejin dengan ice cappucino-nya yang benar-benar membuatnya ingin meledak.
“Kenapa kau melakukan ini padaku, Lu Han?” Bibir Sejin bergetar. Matanya berkaca-kaca. Lu Han menggelengkan kepalanya. Tahu betul kalau semua yang Sejin lakukan adalah akting.
“Kau mau aku mengatakannya sekarang?” dengan dia ada di sini?” Sejin hanya diam.
“Pergi.” Gadis yang berada di belakang Lu Han tersentak.
“Oppa,” ‘Gadis ini benar-benar tidak sabar menunggu pelajarannya’. Batin Sejin kesal mendengar suara manja gadis itu.
“Dan aku tidak menyukaimu.” Tambah Lu Han tanpa menoleh. Mata Sejin membulat mendengarnya.
“Kau mengatakan suka padanya?” Tanya Sejin tidak percaya. Beraninya Lu Han mengatakan suka pada gadis lain saat pria itu masih berstatus sebagai kekasihnya.
“Aku menyukai wanita-wanita cantik.” Pernyataan Lu Han membuat Sejin tidak bisa berkata. Ia tidak percaya. Lu Han yang mendekatinya dan Lu Han yang sudah berstatus sebagai kekasihnya selama tiga hari tidak pernah bersikap seperti ini.
“Tidak usah pura-pura terkejut,Sejin.” Lu Han tersenyum.
“aku yakin kau sangat mengerti gaya hidupku.” Lu Han berjalan mendekati Sejin.
“Kau sama sepertiku.” Kata-kata Lu Han membuat Sejin tersudut. Apa yang dikatakan Lu Han benar. Ia menerima Lu Han bukan karena suka tapi karena ia ingin semakin populer. Kalau bisa populeritasnya melebihi Jeorin. Dan hal itu yang membuat EXO tidak mau menerima Sejin. Karena Sejin adalah versi perempuan dari Lu Han. She’s a playgirl. Tapi mereka bersikap seolah-olah menerima Sejin karena mereka tidak mau Lu Han terus menggoda Sehun dengan cara mengganggu Minyoung. Dan alasan lainnya karena mereka tahu, Lu Han pasti segera mengakhiri hubungannya dengan Sejin.
“Dan ternyata berhubungan dengan orang yang sama sepertiku sangat membosankan.” Sejin tersentak. Lu Han bosan dengannya? Ini pertanda buruk. Ia tidak mau kehilangan kepopuleran yang baru ia nikmati.
“Bosan? Lalu kenapa kau begitu gencar mendekatiku?” Tanya Sejin,berusaha melindungi harga dirinya. Lu Han tertawa kecil.
“Kau terlalu percaya diri, Sejin. Aku hanya ingin bermain-main denganmu. Kalau saja kau tidak meneleponku hari itu, aku pasti tidak mendekatimu lagi. Dan apa akibatnya?” Lu Han membelai pipi kiri Sejin.
“Popularitasmu sebagai most wanted girls di sekolah ini pasti tetap berada di posisi enam, bahkan turun.” Lu Han memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.
“Ada yang ingin kau katakan sebelum aku meninggalkanmu?”
“Aku menyukaimu.” Dua kata itu membuat Lu Han tertawa keras cukup lama. Ia berhenti karena Sejin yang tidak melakukan pergerakan sedikitpun. Gadis itu serius.
“Terima kasih. Tapi, ya… kita putus.” Lu Han menepuk pundak Sejin lalu berjalan melewati gadis itu.
“Oh, satu lagi. Ini saran dariku dan kuharap kau tidak mengabaikannya.”
“Hati-hati dengan gerakanmu, Sejin. Jangan mendekati anggota EXO lagi kalau kau tidak mau kata ‘slut’ melekat padamu. Terutama anggota EXO yang sudah memiliki kekasih. Sejin mengepalkan tangannya. Dari mana Lu Han tahu? Ia tidak pernah terang-terangan mendekati EXO di sekolah, hanya di klub. ‘Jangan pedulikan saran Lu Han, Sejin. Kejadian hari ini benar-benar memalukan.’ Batin Sejin. ‘Dan Lu Han berkata kalau dia mengenalku?’ Sejin menyeringai. ‘Kau belum mengenalku sepenuhnya, Lu Han. Aku pasti akan membalasmu.’

————————

Makan berdua dengan Jiseul sudah sukses Baekhyun lakukan. Di saat itu Baekhyun bisa menyukai apa makanan favorit Jiseul di kafetaria.
“Apa kamu bisa merasakan suasana di kafetaria tadi?” tanya Baekhyun pada Jiseul setelah mereka keluar dari kafetaria. Mereka berjalan menuju kelas mereka. Jiseul menoleh pada Baekhyun. Ia tahu apa yang Baekhyun maksud. Semua orang melihat ke arahnya tadi. Bahkan saat ini.
“aku merasa seperti ditusuk ribuan jarum.” Jiseul tertawa kecil.
“Apa ada jarum yang berhasil masuk ke dalam tubuhmu?”
“Aku serius, Jiseul. Para pria di kafetaria ingin menyingkirkanku dari hadapanmu.” ‘Aku lebih suka penampilanmu saat pertama kali aku melihatmu.’ Sambung Baekhyun dalam hati.
“Baekhyun, aku ingin ganti teman semeja.” Jiseul mengganti topik. Ia tidak mau pusing karena penampilan barunya.
“Kenapa?” Baekhyun bisa menebak alasan Jiseul. Pasti berhubungan dengan kejadian di perpustakaan.
“Aku tidak suka satu meja dengan Lu Han. Aku tidak suka tipe pria seperti Lu Han.” Dugaan Baekhyun benar.
“Aku masih bisa mengganti teman semejaku kan?” Jiseul harus memberitahu Baekhyun dulu. Ia tidak mau hanya karena dirinya denah siswa di kelasnya menjadi berantakan.
“Bisa. Aku belum mengkonfirmasi denah siswa yang kubuat pada wali kelas kita.” Baekhyun dan Jiseul sudah sampai di kelas mereka.
“Kau mau pindah sekarang?” Tanya Baekhyun setelah duduk di kursi Lu Han.
“Tidak. Besok saja.”
“Kau mau sebangku denganku.” Ini bisa menjadi kesempatan Baekhyun untuk mendekati dan semakin mengenal Jiseul.
“Aku ingin semeja dengan perempuan.” Jawaban Jiseul membuat senyum Baekhyun menghilang. Dan saat itu bel masuk kelas berbunyi.
“Sampai nanti, Jiseul.” Tepat saat Baekhyun berdiri, Lu Han masuk ke kelas. Dia mendesah berat lalu berjalan menuju mejanya. ‘Ini benar-benar bukan hariku.’ Batin Lu Han kesal. Ia tidak membalas senyuman Baekhyun saat ia berpapasan dengan pria itu.
“Sepertinya ada yang berbunga-bunga.” Ucap Lu Han sarkatis. Jiseul mengabaikan Lu Han. Ia tidak tahu apa yangsalah dengan pria itu. Apa Lu Han melupakan percakapan mereka semalam?
“Ck, baru populer sedikit sudah sombong.” Ucapan Lu Han yang satu ini sukses membuat Jiseul menatapnya tajam.
“Apa maumu, Lu Han?”
“Jadi, aku harus menyindirmu dulu baru kau mau bicara denganku?” Lu Han tersenyum miring. Ia menggerakkan tangannya menyentuh paha Jiseul.
“Aku hanya ingin bicara denganseperti teman semeja pada umumnya.” Jiseul melirik siswa di belakang mereka. Entah kenapa ia merasa lega melihat kedua orang di belakangnya fokus berbicara satu sama lain.
“Singkirkan tanganmu.” Bisik Jiseul marah.
“Tapi aku suka mengelus pahamu, honey.” Lu Han tersenyum polos. Ia meremas paha Jiseul, gerakan yang membuat Jiseul menyingkirkan tangan Lu Han dengan paksa.
“Jaga tanganmu, Lu Han.” Mereka beradu pandang. Melupakan suasana kelas yang tadinya riuh menjadi tenang. Lu Han tidak tahu. Mata sipit Jiseulmenarik sesuatu dalam dirinya. Ia tidak pernah merasakan ini pada boneka-bonekanya sebelumnya. Bahkan pada Minyoung. Satu-satunya gadis yang ia akui sebagai kekasih dari mulut maupun hati.
“Sepertinya belum semua murid memperhatikan ke depan.” Suara keras itu membuat Lu Han dan Jiseul mengehentikan adu pandang mereka. Mereka melihat ke depan. Keduanya sama-sama terkejut melihat siapa yang berada di depan mereka. Kepala sekolah dan seorang pria yang menjadi topik perbincangan hangat hari ini di sekolah mereka.
“Lay.”

TBC….
Yohoo… ada cast baru. Lay is here. Sekedar pemberitahuan, dia cukup berperan penting di ff ini. RCL please.

buat yang mau tau kapan ff ku publish kalian bisa lihat di twitter aku @jk940228 kenalan sama aku tanya seputar ff juga bisa ^^

74 thoughts on “Nice Guy (Chapter 5)

  1. Ping-balik: Nice Guy (Chapter 10) | EXO Fanfiction World

  2. Ping-balik: Nice Guy (Chapter 9) | EXO Fanfiction World

  3. Luhan kok brengsek banget sihh. Baru kenal sm juniornya udh diajakin gituan -_- bener bener deh. Tp Jiseul kok pindah tmpt duduk sihh
    Izin baca next chapter ~

  4. Luhan astaghfir cepet tobat ya nak btw Jadi jiseul enak kali yah jadi istri luhan dikejar2 bekyun duhh tukeran yuk :3 sehun sehun imut bgt sh kamu hmmmm

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s