Stupid Cupid [ Part 3]

Stupid

Title                 : Stupid Cupid [ Part 3]

Author             : Park Hana

Cast                : Kim Joon myun, Zhang Yixing, Park Chorong, Irene.

Genre             : Romance, School Life, comedy

Rating            : 15+

Summary       : Dicurigai tidak menyukai laki-laki Chorong pun kesal, kemudian dia mengatakan bahwa dia kan menemukan pacar untuk membuktikan bahwa dia menyukai laki-laki. Lalu dia meminta Kim Joon myun yang merupakan salah satu seorang dari empat pria popular disekolahnya untuk berpura-pura menjadi pacarnya. Semula Joon myun menolak tapi setelah Chorng mengancam akan membeberkan sifat asli Joonmyun yang ternyata berbeda jauh dari sifat yang selalu dia tunjukan didepan semua orang akhirnya Joon myun pun menyetujuinya dengan satu syarat.

Part 1Part 2

Part 3 – Jealous

Matahari musim semi menyinari pagi hari yang sangat hangat, bunga-bunga bermekaran dengan indah. Bukan hanya bunga yang bersemi, namun cinta juga bersemi pada musim semi.

Di Pagi yang indah dan hangat itu Irene yang akan berangkat sekolah menemukan seikat bunga aster putih di depan gerbang rumahnya.

Irene mengambil bunga tersebut dan mengambil sebuah kartu berwarna kuning. Senyumnya terukir begitu membaca tulisan di kartu tersebut.

‘Saat terindah dalam hidupku adalah ketika aku bertemu denganmu, lalu aku menyukaimu. Selamat karena kau sekarang kelas dua’

“Tsk. . dari mana dia belajar kata-kata seperti ini?” guman Irene

Wajahnya memerahnya. Tidak bisa dia pungkiri kalau dia begitu bahagia saat ini. dia selalu berpikir bahwa hal yang terbaik di hidupnya adalah adanya Yixing di sisinya. YIxing orang yang penuh dengan kejuta. Irene yang dulu berhati dingin bahkan tidak pernah ingin tertarik untuk mempunyai hubungan romantic dengan seorang lelaki, setelah bertemu Yixing dia membuang semua pemikirannya, bahkan sikapnya yang selalu dingin kini menjadi hangat jika didekat Yixing.

Berbeda dengan Irene yang selalu merasa bahagia karena Yixing memperlakukannya seperti seorang putri, sahabat Irene satu-satunya Chorong malah selalu merasa tertindas oleh pacar bohongannya.

Seperti saat ini, dia membuka lokernya dan berjatuhanlah kerta-kertas yang berisi ancaman, hinaan bahkan petisi agar Chorong mengakhiri hubunganya dengan Yixing.

Chorong menjatuhkan semua kertas tersebut ke lantai lalu menutup lokernya dengan kasar.

“hei kau hobby merusak barang ya?”

Saat Chorong menoleh, di belakang nya kini Joon myun tengah menyender di loker belakangnya dengan tangan di lipat di dada.

“Ini hadiah dari penggemarmu. .” ucap Chorong sinis

Joon myun menghampiri Chorong lalu berjongkok mengambil salah satu kertas dan membacanya. Senyumanya mengembang ketika membaca kertas-kertas berisi umpatan dan ancaman untuk Chorong.

“Kau takut?” tanya joon myun sembari mengangkat salah satu kertas ancaman untuk Chorong.

Tanpa menjawab, Chorong meninggalkan Joon myun yang membuat Joon myun langsung menghela napasnya panjang.

“hei Park Chorong kenapa kau marah?” tanya Joon myun

“Aku tidak marah” jawab Chorong singkat

“lalu?”

“Menjauhlah dariku, aku butuh ketenangan! Kau dan semua penggemarmu memuakan”

Joon myun terdiam, dia bingung dengan sikap CHorong yang tiba-tiba menjadi dingin padanya. Namun lamunannya terganggu oleh suara ponsel miliknya. Dia menggerutu ketika melihat nama yang tampil di layar ponselnya.

“Ya ada apa Key?”

“Joon myun-ah tolong aku”

“Kau kenapa?”

Wajah Joon myun mulai terlihat panik saat mendengar suara key yang begitu lirih juga pelan.

“Baiklah, tunggu aku. Aku akan datang”

Setelah mematikan ponselnya, joon myun pun segera berlari sekencang mungkin menuju tempat Key berada saat ini. dia terlihat sangat khawatir pada key namun tetap saja mulutnya tak henti menggerutu karena key membuatnya repot.

Dikelas, Chorong yang sekarang satu kelas dengan Joon myun pun merasa khawatir karena Joon myun tidak kunjung muncul.

Dia berpikir apakah karena sikap dirinya pada Joon myun ataukah ada suatu hal yang terjadi pada Joon myun. Pikiran-pikiran aneh mulai menghantui kepala Chorong dan hal itu sangat mengganggu baginya.

Diam-diam kini Chorong mengeluarkan Ponselnya untuk mengirimi Joon myun pesan.

‘Kau kemana? Kenapa tidak jadi masuk kelas?’

Saat akan menekan Send, jari Chorong terhenti. Dia berpikir, bukankah ini sesuatu yang sangat memalukan Jika nantinya Joon myun menyangka bahwa dia Khawatir terhadap Joon myun.

Chorong menekan tombol cancel, lalu menaruh ponselnya kembali di saku jasnya.

“Kenapa aku harus memperdulikannya?” ucap Chorong dalam hatinya.

***

“Park Chorong. . “

Chorong berusaha mengabaikan seseorang yang terus memanggil namanya dari belakang. Dia merasa bahwa akan buruk jika berurusan kembali dengan orang itu. Namun, karena merasa di abaikan akhirnya orang yang sedari tadi memanggil Chorong yang tak lain adalah Yura segera mengejar Chorong.

“Hei Park Chorong kenapa kau mengabaikanku?” tanya Yura dengan wajah cemberut.

“Aku malas berurusan denganmu” Ucap Chorong dalam hatinya.

“Aku tidak mendengarmu” Bohong Chorong Pada Yura yang berlainan dengan apa yang dia katakan di hatinya.

“Ah kita sudah tidak sekelas lagi sekarang”

“Aku sangat bersyukur “

“Ya. .” jawab Chorong singkat yang lagi-lagi berlainan dengan hatinya.

“Kau mau kemana?” tanya Yura

“Perpustakaan”

”Kau tidak bersama Joon myun?”

Tiba-tiba Chorong menghentikan langkahnya, dia kembali teringat pada Joon myun yang tidak menghadiri kelas padahal tadi pagi dia ada atau Joon myun yang dia lihat tadi padi hanya imajinasinya saja. itulah pikiran Chorong.

“Aku tidak tahu, dia tidak masuk kelas”

“Kenapa? Apa dia sakit atau apa?atau di. . ”

Chorong menatap Yura tajam yang langsung membuat Yura menutup mulutnya.

“Jangan mengikutiku karena aku merasa terganggu” ucap Chorong dengan tatapan menakutkan yang membuat yura bergidik.

Setelah Chorong pergi, Yura menggerutu karena sikap CHorong yang tidak pernah berubah dan selalu mengabaikan semua orang. Yura jadi berpikir bagaimana caranya Chorong mendapatkan Joon myun dengan sikapnya yang seperti itu.

Tempat paling tenang dan menyenangkan bagi Chorong adalah perpustakaan karena disana orang-orang akan saling mengabaikan dan hanya focus pada buku yang mereka baca. Tidak ada yang bersuara dan tidak ada yang membuat keributan.

Chorong mengambil sebuah buku yang akan dia baca dan saat dia akan menuju tempat duduk, tiga orang perempuan menghalangi jalannya. Chorong hanya terdiam dan mencoba mengabaikan orang tersebut, namun ketiga orang itu memegangi lengan Chorong di kanan dan kiri.

“Park Chorong ikut kami” ucap salah salah seorang perempuan yang tidak memegangi lenganya dan sudah dapat Chorong pastikan bahwa ketiga perempuan itu adalah penggemar dari Joon myun.

***

Nana berlari dengan wajah yang terlihat begitu khawatir, dia membuka pintu ruangan yang adalah ruangan seni. Matanya mengarah kesegala arah mencari sosok yang saat ini berada di pikirannya.

Tidak menemukan orang yang dicari, dia pun berbalik namun keberuntungan tampaknya ada pada dirinya karena orang yang dia cari sekarang menuju kearahnya.

Nana segera menghampiri orang itu dan menatapnya dengan napas tersenggal-senggal.

“Bae Joo hyun, Chorong. . “

Ucapannya terhenti membuat Irene memicingkan matanya.

“Kenapa Chorong?”

“Tadi aku melihatnya bersama tiga orang senior wanita. Aku khawatir karena mereka menuju belakang sekolah dan tampaknya mereka itu orang yang menyukai Kim Joon myun”

Tanpa banyak bicara, Irene langsung berlari menuju tempat yang Nana sebutkan. Dan kini nana pun mengeluarkan ponsel miliknya untuk menghubungi seseorang.

“Hei Nicole apa kau bersama Yura? Kalau iya cari Kim Joon myun karena aku rasa Chorong sedang di bully”

“Kim Joon myun tidak masuk” Ujar Yura dari balik telepon.

Nana hanya bisa menghela napas panjang mendengar ucapan Yura, dia benar-benar merasa kasihan pada Chorong.

Benar saja sangkaan nana, karena saat ini Chorong tengah menyender di tembok dengan ketiga orang yang mengerubunginya.

“Kau bahkan tidak cantik tapi kenapa kau bisa memacari Joon myun?”

“Kenapa kalian bertanya padaku? tanyakan saja pada lelaki bernama Kim Joon myun itu?”

Ketiga orang itu berdecak begitu mendengar jawaban Chorong, mereka juga terlihat begitu kesal melihat raut wajah Chorong yang seakan tidak takut pada mereka.

Salah seorang dari mereka kini mendorong bahu Chorong sehingga bahunya berbenturan dengan tembok dan sambil berkata sinis pada Chorong.

“Kau benar-benar memuakan, kenapa bisa dia lebih memilih perempuan aneh seperti mu!!”

Chorong mengalihkan pandanganya kearah langit tak lama setelah itu dia menatap ketiga orang tersebut satu persatu dengan tatapan tajam.

“Tidak ada gunanya kalian melakukan ini..”.

Karena kesal kini Pipi Chorong di cengkram dengan kasar yang membuat Chorong sedikit meringis kesakitan.

“Kau jangan pernah berlaku sombong”

Kini dihempaskan badan Chorong sehingga dia tersungkur ditanah . tangan CHorong juga di injak yang membuat teriakan keluar dari mulut CHorong.

“Inilah balasan untuk perempuan sombong seperti kau”

“HEI KALIAN HENTIKAN!”

Seorang lelaki menghampiri mereka dan ternyata itu adalah Yixing. Ketiga orang yang tengah membully Chorong langsung berbaris lalu menundukan wajah mereka karena malu pada Yixing. Mereka tidak menyangka bahwa kegiatan biadab mereka akan terpergok oleh Yixing.

“Pergi!” ucap Yixing penuh penekanan.

Ketiga orang yang membully Chorong pergi degan penuh ketakutan persisi seperti seornag pencuri yang ketahuan saat akan beraksi. Yixing menghampiri Chorong lalu mengulurkan tanganya untuk membantu Chorong berdiri. Namun semenjak Yixing datang Chorong hanya bisa terdiam dengan arah tatapan kewajah Yixing.

“Tampan” Ucap Chorong dalam hatinya dia seakan terpesona oleh ketampanan Yixing dan kali ini imajinasinya mengalir indah di pikirannya.

Dia mendengar suara hembusan angin sejuk menerpa wajahnya juga sinar matahari hangat musim semi yang seakan membuat Chorong larut dalam suasana tersebut. Dan tiba-tiba saja dia teringat pda tokoh-tokoh utama pria di dalam anime romantic yang selalu dia tonton.

“Kau tidak apa-apa?”

Yixing terus mengulurkan tanganya agar bisa membantu Chorong berdiri, namun karena Chorong hanya terdiam Yixing pun memanggil namanya.

“Park Chorong-ssi” panggil Yixing

Begitu mendengar namanya dipanggil, Chorong langsung memegang tangan Yixing lalu berdiri.

“Chorong-ah. . “

Terlihat dari kejauhan Irene tengah berlari kearah Yixing dan juga Chorong. Begitu berada tepat didepan Chorong, Irene pun langsung memegangi kedua bahu Chorong dan menatapnya tajam.

“Park Chorong apa yang mereka lakukan padamu?” tanya Irene dengan raut wajah penuh kekhawatiran.

Chorong mengangkat telapak tanganya yang lecet karena terjatuh. Dan hal itu membuat Irene berdecak kesal.

“Dasar gadis-gadis sialan” umpat Irene terkesan sangat marah.

“Kalau begitu aku pergi dulu”

Yixing pamit pada Chorong dan Irene, karena dia pikir sudah tidak ada gunanya dia disana lagipula Irene sudah disana.

Saat kakinya melangkah dan baru sekitar 5 ankah, Chorong mulai memanggil Yixing yang membuat Yxing menoleh kearahnya.

“Siapa namamu. . ?”

“Zhang Yixing aku kelas 2-2” jawab Yixing dengan senyuman.

Chorong tersenyum sambil mengangguk, sedangkan Irene yang menyaksikan kejadian itu hanya terdiam. Entah kenapa muncul suatu hal yang aneh didalam hatinya yang selama ini tidak pernah dia rasakan ketika Chorong dan Yixing salaing tersenyum satu sama lain.

***

Seharian ini pikiran Irene terus terganggu oleh kejadian dimana Yixing dan Chorong saling tersenyum satu sama lain. dia menyentuhkan ujung kuasnya pada kanvas, namun lama dia tidak menggerakkannya sehingga catnya menumpuk di titik tersebut.

Kemudian ditaruh kuasnya serta palet di meja lalu dia pun pergi menuju toilet. Di toilet dia membasuh wajahnya setelah itu Irene menatap wajahnya sendiri yang basah oleh air.

Dia menggeleng-gelengkan kepalanya agar membuat bayangan kejadian tadi siang hilang. Kini dipegangnya dada nya, dia merasakan sesuatu yang aneh disana.

Wajahnya terlihat murung. Selama ini dia tidak pernah melihat Yixing tersenyum seperti tadi pada orang lain selain padanya.

Ketika kembali ketempatnya, Irene melihat ponsel miliknya dan ada sebuah pesan.

‘Aku akan tunggu di tempat biasa’

Irene menghela napas panjang lalu memeluk ponselnya, dia tersenyum karena seharusnya dia tidak terlarut dalam pikiran serta perasaan anehnya. Yang harusnya dia lakukan adalah mempercayai Yixing. Lagipula Choronga dalah sahabatnya dan Yixing tahu bahwa Chorong sangat berarti untuk Irene.

Di sisi lain saat ini Chorong sudah berada di rumah Joon myun, namun tidak ada siapapun disana. Joon myun sedang tidak ada dirumah. Chorong memasuki kamar Joon myun lalu mengambil baju kotor milik Joon myun.

Saat keluar kamar Joon myun dan akan mencuci baju tersebut, dia melewati meja dimana terdapat Pas foto kosong yang dia berikan untuk Joon myun.

“Kenapa kau memberikan pas foto kosong padaku?”

“Karena aku tidak melihat ada foto di rumahmu jadi aku pikir akan lebih baik jika kau memiliki fotomu satu untuk di pajang dirumah”

Pikirannya melayang pada saat Dimana Joon myun menanyakan alasan Chorong memberika pas foto kosong, dan dia pun tersenyum dan setelah itu dia kembali melangkah menuju mesin cuci berada.

Waktu sudah menunjukan pukul 7 malam dan sudah hampir 4 jam Chorong disana. semua pekerjaannya pun sudah selesai. Pakaian sudah dicuci, rumah sudah dibersihkan dan juga masakan sudah tersedia di meja makan. bahkan kini Chorong tengah duduk manis sambil menunggu Joon myun layaknya seorang istri yang menunggu suaminya pulang.

Chorong melihat ponselnya dan berpikir apakah dia harus menelepon Joon myun karena sedari tadi Joon myun tidak menghubunginya atau memberi tahu kemana dia pergi.

“Dasar lelaki sialan, bagaimana bisa dia tidak menghubungiku seharian ini. Apalagi hari ini aku diserang oleh para fansnya yang gila”

Chorong mengomel sembari menatap ponselnya seakan dia membayangkan bahwa ponsel itu adalah Joon myun. Kemarahannya semakin memuncak dan saat akan membanting ponsel miliknya dia tersadar bahwa yang dia gunakan untuk melampiaskan kemarahannya hanyalah sebuah ponsel bukanlah Kim Joon myun. Ya, Kim Joon myun adalah orang yang membuat Seorang Park Chorong yang selama ini hanya bisa khwatir pada orang tua dan Irene kini harus merasakan khwatir apda seseorang yang bahkan baru di hidupna bukankah ini aneh. Ya , dia merasakan bahwa dia memang aneh, tapi Chorong merasa bahwa ini tidak harus dia pikirkan karena titu tidak berguna.

Kedua mata Chorong tiba-tiba membulat ketika dia teringat saat pertama kali dia dan Joon myun bertemu.

‘Apa jangan-jangan. . “

Chorong berdiri dari duduknya, dia menelan ludahnya. Chorong menjadi semakin khawatir karena kini bayangan orang – orang berstelan yang waktu itu menghadang Joon myun terus muncul.

Chorong segera mengambil tas miliknya, lalu berlari menuju pintu. dan saat dia akan membuka Pintu sebuah kejadian tak terduga terjadi.

Seseorang dari Luar terlebih dahulu membuka pintu sehingga pintu tersebut membentur badan Chorong terutama kepalanya dan langsung membuat Chorong tersungkur di lantai.

Chorong mengerang kesakitan karena benturan tersebut, bahkan kini dahinya memar akibat benturan tersebut, sedangkan orang yang membuka pintu itu hanya bisa terdiam sambil mengedip-ngedipkan matanya menatap Chorong yang kesakitan.

“Hei, Park Chorong sedang apa kau disitu?” tanya Orang itu yang tak lain adalah Kim Joon myun atau dengan kata lain adalah Orang yang Chorong khawatirkan.

Dengan mata melotot serta di selubungi emosi dalam dirinya yang tinggi, Chorong menatap Joon myun seakan dia ingin meninju wajah Joon myun atau yang lebih parah ingin melempar Joon myun dari apartemen tersebut lewat jendela.

“Buang pikiran untuk membunuhku sekarang, karena aku sedang tidak ada waktu melayani gencatan senjata darimu!”

Joon myun segera pergi dari depan Pintu menuju dapur, Chorong berdecak kesal. karena bukankah seharusnya Joon myun Minta maaf padanya atau menolongnya berdiri namun Chorong tersadar bahwa bukan Kim Joon myun jika menolongnya berdiri.

“Ini pakailah untuk mengompres dahimu, kau semakin jelek dengan memar itu”

Begitu Chorong menghampiri Joon myun, dia memberikan kompresan es batu pada Chorong dan hal itu membuat Chorong tersenyum tipis. Entah kenapa dia merasa senang dengan hal tersebut.

Joon myun terdiam sambil menatap kearah meja makan yang berisi penuh makanan. Sebuah perasaan aneh menghampiri dirinya, entah kenapa dia merasa begitu bersalah pada Chorong.

Tanpa banyak bicara, Joon myun duduk lalu mulai untuk makan.

“Apa kau bisa membuat Bubur?” tanya Joon myun yang kini tengah menyuapkan makanan kemulutnya.

Chorong ikut duduk di meja makan lalu mengangguk, memperhatikan Joon myun yang tengah menyuapkan nasi kedalam mulutnya.

“Bagus”

“Eungh. . .?”

“Buatkan aku bubur ”

“Untuk apa? apa kau ingin makan bubur?”

“Tidak, itu untuk orang sakit dan aku tidak sakit”

“Kau sakit”

“Aku? aku sehat? Kau tidak lihat aku sehat. Sangat sehat”

“Kau sakit. . . otakmu sakit”

Chorong menusukan potongan ayam menggunakan garpu dengan menatap Joon myun tajam ketika mengatakan hal barusan.

Joon myun berdehem, dan tidak mengatakan apapun. Dia hanya melanjutkan kegiatan makannya, sedangkan Chorong menyuapkan daging tersebut kedalam mulutnya lalu mengunyahanya masih sambil menatap Joon myun.

“Kau membuatku takut park Chorong. Kau seperti seorang kanibal!”

“Ya, aku kanibal. Dan aku ingin sekali memakan dagingmu”

“Tentu saja, dagingku kualitas tinggi dan aku ini kualitas tinggi”

“Berhenti memuji diri sendiri kau tidak sebaik itu”

Chorong beranjak dari tempat duduknya karena dia pikir lebih baik dia membuat bubur dibanding mendengar ocehan Joon myun.

“Oh iya, tampaknya yang sakit orang yang penting sehingga kau membolos!”

“Aku tidak tahu yang pasti aku khawatir padanya”

“terdengar sangat manis. Kalian berpacaran ?”

“Kau tidak perlu membuatnya sekarang?”

Joon myun beranjak dari duduknya dan kini tengah memeluk Chorong dari belakang sambil berbisik di telinganya, dan hal itu membuat bulu kuduk Chorong merinding.

“Hei-hei Kim-Joon my-myun lepaskan!”

Chorong menyuruhnya dengan terbata, karena tak dapat di elakkan lagi jantungnya kini berdebar karena ulah Joon myun.

Bukanya melepaskan pelukannya, Joon myun malah menempelkan dahinya di bahu Chorong.

“Hanya sebentar saja. Karena aku merasa kau ini seperti eomma”

Deg!!!

“Ah- berhenti membual”

Chorong melepaskan pelukan Joon myun lalu membelakanginya. Napasnya memburu, wajahnya juga memerah.

“kau menyebalkan.. tapi terimakasih”

Pipi Chorong kini ditarik Joon myun, namun Chorong tidak marah karena Joon myun tersenyum padanya. Senyuman yang berbeda dengan senyuman yang selalu dia tunjukan pada orang lain yang tidak lain adalah senyuman palsu. Senyuman yang sangat tulus yang bahkan Chorong merasa bahwa Joon myun sangat tampan ketika tersenyum.

***

Waktu menunjukan pukul 1 dini hari, key yang terbangun karena perutnya lapar hanya bisa terdiam dengan wajah menekuk. Dia kesal kenapa dia bisa terkena usu buntu.

Key menghela napasnya panjang, dia berpikir apa perlu dia berjalan-jalan karena dia merasa sedikit bosan, namun dia mengurungkan niatanya setelah mengingat bahwa dia sedang berada di rumah sakit dan merasa sedikit takut. Di ambil ponsel miliknya, kemudian dia memainkan game.

Ketika sedang asik bermain game diponselnya, tiba-tiba terdengar sebuah suara nyanyian. Key menghentikan kegiatan bermain game, dia melihat kearah kanan dan kirinya lalu bulu kuduknya pun berdiri.

Dia menaruh ponselnya di meja, lalu berbaring dan menarik selimut sampai menutupi seluruh badannya.

“Apa itu suara nyanyian hantu?” tanyanya pada dirinya sendiri.

“Ah tapi tidak mungkin, suaranya sangat merdu.”

“Atau itu suara gumiho?”

“Ah aku takut. “

***

“Ini bekalmu. . .”

Chorong menaruh makanan di atas meja Joon myun. Joon myun sendiri tengah membaca sebuah buku dan terlihat sangat serius.

Hening, tak ada respon sedikitpun dari Joon myun yang langsung membuat Chorong berdecak kesal.

“Kenapa kau belum pergi? bukankah kau sudah meletakan bekal makan siangku”

Kedua mata Chorong membelalak setelah mendengar ucapan Joon myun, dia merasa ada yang aneh dari Joon myun. Namun dia tidak mau memperdulikannya karena hatinya masih kesal atas perlakuan Joon myun pada nya.

“Dasar penyihir sialan, tidak tahu rasa terima kasih”

Chorong terus saja menggerutu, bahkan sampai dia sudah berada di tempat duduknya dia masih saja menggerutu sambil mengutuk Joon myun.

Chorong menoleh pada Joon myun. Dan kini tengah ada seorang siswi yang menghampirinya seraya membawa buku yang tampaknya tengah menanyakan sesuatu pada Joon myun.

“Dia benar-benar pandai berakting, Tampaknya jika dia seorang actor dia layak mendapat daesang. Tsk dasar sialan”.

***

“Apa kau sibuk?”

Chorong menoleh kearah seseorang yang saat sudah ini berada di sampingnya. Dia tersenyum pada sosok lelaki yang adalah Yixing itu.

“Ah kau .. .” ujarnya

Yixing duduk disamping Chorong, lalu mengalihkan pandanganya pada sebuah buku yang tengah Chorong pegang.

Yixing menaikan sebelah alisnya seakan menyadari sesuatu. Chorong yang memperhatikan ekpresi wajah Yixing yang tampak aneh segera bertanya hal apa yang membuat Yixing seperti itu. Namun, bukanya menjawab, Yixing malah tersenyum penuh arti.

“Kau menyukai karya dari Yesung?” tanya Yixing pada Chorong.

Chorong mengiyakan sambil menjelaskan alasan kenapa dia menyukai cerita-cerita yang di buat oleh Yesung.

“Cerita-cerita yang dia buat terasa begitu misterius, aku menyukai sosok Suho di cerita novel ini. Dia begitu misterius dan juga susah dimengerti jalan pikirannya. Dia terlihat sangat baik namun sejujurnya dia menyimpan sifat jahat di dirinya. Meskipun begitu tetap saja sisi baiknya lebih menonjol”

“Bukankah sosok itu seperti Joonmyun?”

Chorong terdiam dengan arah pandangan pada Yixing. Yixing tersenyum tipis dan langsung membuat kedua pipi Chorong bersemu merah.

“Ah dia tampan sekali, senyumnya juga manis” batin Chorong dalam hatinya.

“Eo, sudah dulu ya, aku mau kembali ke kelas”

Begitu Yixing pergi, Chorong terdiam kemudian dia tersenyum tipis.

“Yixing sangat baik dan juga tampan. Ah andaikan saja Joon myun. .”

Chorong menghentikan ucapanya karena kenapa tiba-tiba saja dia teringat Joonmyun. Dengan segera dia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berguman mengatakan tidak beberapa kali.

Tanpa dia tahu, kini dua orang tengah memperhatikan dia sedari tadi dari dua tempat yang berbeda. Yang satu adalah Irene yang berada di ruang seni dan satu lagi adalah Joon myun dari jendela koridor.

Kedua orang itu menatap Chorong dengan ekpresi berbeda dan tidak bisa mereka mengerti kenapa mereka berekpresi seperti itu.

***

Seorang wanita dengan rambut pirang, memakai celana pendek dan baju tanpa lengan tengah berdiri didepan gerbang Sekolah seperti tengah menunggu seseorang.

Wanita itu kini mengeluarkan ponselnya lalu menekan tombol panggilan cepat no 1.

“Hyak kau dimana? Cepatlah. Kau lama sekali!”

Disisi lain, Kini Joon myun tengah menghela napas panjang sesaat setelah mengakhiri panggilan dari ponselnya.

Dia mengambil tas miliknya lalu segera pergi dari kelas tanpa menghiraukan Chorong yang sebenarnya masih disana dan tanpa di sadari oleh nya tengah menunggu Joon myun.

Terlihat raut wajah kecewa bercampur kesal di wajah Chorong begitu mengetahui Joon myun mengacuhkannya.

Joon mun berjalan dengan terburu-buru, bahkan setelah Chorong, dia juga mengacuhkan Min ho yang memanggil nya begitu berpapasan denganya di koridor.

Masih kesal dengan Joon myun, Chorong pun memutuskan untuk tidak pergi kerumah Joon myun. Dia ingin memberi Joon myun pelajaran, dan akan membuat Joon myun meneleponinya untuk dibuatkan makan siang.

“Aku akan membuatmu memakan ramen lagi. tsk. . dasar lelaki sialan!”

Kedua mata Chorong membulat, langkah kakinya berhenti begitu melihat pemandangan yang tidak dia duga sebelumnya.

Kini dia melihat Joon myun yang tengah berbicara dengan seorang gadis did epan gerbang sekolah. Dan gadis itu tampak selalu tersenyum begitu Juga Joon myun.

Joon myun menggenggam tangan gadis itu lalu mereka pun pergi, Chorong terdiam melihat pemandangan yang entah harus bagaimana dia gambarkan. Bahkan ada sesuatu di hatinya yang terasa, ya perasaan yang sama yang pernah dia rasakan beberapa tahu lalu. Hal ini bagaikan sebuah de javu yang berulang di hidupnya.

“Ehem. . ?”

Chorong menoleh kearah sebelahnya, diamana saat ini Yixing sudah berada. Dia heran, sejak kapan Yixing berada disana, bahkan dia tidak menyadari kehadiran Yixing. Namun dia sadar mungkin karena dia terhanyut dalam pikirannya sendiri jadi dia tidak menyadari kehadiran yixing.

“Maaf, aku ingin pulang”

Chorong lantas berpamitan pada Yixing karena entah kenapa dia ingin sekali pulang dan menonton anime kesayangannya. Agar perasaan aneh yang dia rasakan hilang seperti waktu itu.

Mengetahui jelas alasan Chorong bersikap aneh, Yixing pun menahan tangan Chorong lalu tersenyum padanya.

“Kau baik-baik saja?”

Sebuah senyuman Chorong berikan pada Yixing, namun meskipun wajahnya tersenyum yixing bisa melihat jelas kesedihan di wajahnya.

“Bisakah kau mengantarku pulang?” ucap Chorong tiba-tiba

Eungh???”

Yixing agak terejut dengan permintaan Chorong. Kini dia bingung apa yang harus dia lakukan. Sementara dia sudah mempunyai janji dengan Irene untuk pulang bersama.

***

Begitu berbagai makanan tersedia di meja, Joon myun langsung menatap keheranan dan penuh takjub. Dia duduk di kursi lalu menatap wanita yang kini tengah berada di hadapannya dengan senyum mengembang.

“Apa kau terkejut adikku tersayang?” tanya wanita itu atau bernama Kim Taeyon yang adalah kakak dari Joon myun. Sekaligus wanita yang Chorong lihat tadi siang didepan sekolah.

Joon myun mengangkat sebelah alisnya karena masih tidak mempercayainya apa yang dia lihat, pasalnya Joon myun tahu benar bahwa noonanya sangat tidak bisa memasak.

“Noona, apa kau bisa menjamin rasanya?”

Mendengar ucapan itu keluar dari mulut Joon myun, wajah taeyon berubah drastis. Bahkan kini dia menatap Joon myun tajam.

“Hei Kim Joon myun, kau meremehkan kakak mu ini?”

“Bukan, tapi. . “

Sebelum Joon myun menyelesaikan kata-katanya taeyon sudah menyuapakan sebuah telur gulung kedalam mulut Joon myun.

“Bagaimana?” tanya Taeyon lagi.

Joon myun mengunyah dan tampak berpikir.

“Enak, tapi tidak seenak masakan park. . “

Sontak saja Joon myun menghentikan kata-katanya lalu menyuapkan nasi karena kini taeyon tengah memicingkan kedua matanya menunggu lanjutan ucapan Joon myun.

“Tak se-enak masakan siapa? Park. . .? Siapa dia? apakah selama ini ada yang selalu memasak untukmu? Apa dia pacarmu? ”

Pertanyaan beruntun yang di lontarkan Taeyon berhasil membuat Joon myun berkeringat. Karena selama ini sebagaimanapun Joon myun biasa membohongi orang-orang namun tidak dengan Taeyon. Joon myun tidak pernah bisa berbohong pada Taeyon.

“sudahlah jangan membahasnya”

Taeyon semakin penasaran karena Joon myun ters saja menolak mengatakan siapa park yang dia maksud. Lalu Taeyon mengancamnya dengan mengatakan akan menanyakan pada Minho, Key atau pada Yixing. Dan akhirnya karena ancaman itu, Joon myun menyerah.

“baklah-baiklah dia pacarku. Apa kau puas?”

Dengan tangan sebelah yang menopang dagunya Taeyon tersenyum karena merasa adiknya sangat manis. Dan akhirnya dia tahu alasan lemari es Joon myun yang penuh bahan makanan juga rumah Joon myun yang terlihat agak berbeda dari terakhir kali dia lihat.

“Aigoo, kau sudah dewasa rupanya?siapa namanya? Apa dia sekelas denganmu? ” Joon myun melirik Taeyon sebentar lalu menghentikan kegiatan makannya untuk menatap taeyon.

“Noona, berhentilah!!”

Taeyon mendengus kesal karena ucapan Joon myun. Namun dia tak pantang menyerah karena dia benar-benar penasaran pada gadis yang diakui sebagai pacar oleh adiknya itu.

“Noona, apa maksud mu kesini? Bagaimana kuliahmu? Kau pasti membolos!”

“Kau mencoba mengalihkan pembicaraan? Kau selalu seperti ini, tidak pernah berubah”

Joon myun tersenyum tipis karena memang benar dia tidak ingin membahas lebih jauh tentang Chorong. Ya, karena kejadian tadi siang dimana Joon myun melihat Chorong yang sangat akrab dengan Yixing membuat dia sedikit tidak menyukainya.

“Kau harus menemuinya, Dia berkali-kali menghubungiku sambil merengek bahwa kau tak mau bertemu denganya!”

Joon myun menghela napas panjang karena apa yang dia pikirkan tepat, Taeyon datang karena permintaan seseorang. di senderkan kini punggunya lalu tak lupa juga Joon myun melipat tanganya di dada.

“Dia selalu seperti itu, kalau dia ingin bertemu kenapa dia tidak kesini?”

Kali ini Taeyon ikut menyenderkan badanya di punggung kursi.

“Kau masih membencinya Joon myun-ah?”

“Tidak”

“Aku tahu, kau kecewa padanya tapi bukankah itu adalah hidupnya. Dia hanya memilih jalan hidup yang dia inginkan”

“kau selalu membelanya Noona”

“Oppa juga menangis ketika eomma dan appa meninggal, hanya saja kau tidak mengetahuinya”

Hening, itulah yang terjadi ketika Taeyon mengakhiri ucapannya. Mereka kini hanya bisa saling menatap. Taeyon hanya berharap Joon myun akan menghilangkan keegoisanya sedikit saja.

***

Dengan tatapan kosong Chorong menyantap makanannya malam itu, ibunya yangs edari tadi memperhatikan Chorong hanya bisa kebingungan dengan sikap Chorong.

“Apa kau ada masalah Chorong-ah? Tampaknya ada sesuatu yang sedang kau pikirkan?”

“Eungh. .?” Chorong tersadar dari lamunannya begitu ibunya berbicara padanya, namun sebisa mungkin dia tersenyum dan mengatakan bahwa dia baik-baik saja.

“Besok ada ujian dan aku sedikit gugup” Bohong Chorong pada ibunya.

Sebenarnya, Chorong saat ini tengah memikirkan Joon myun. Dia sedikit khawatir karena Joon myun tidak menghubunginya untuk memintanya memasak.

Saat kembali kekamarnya, Chorong langsung mengambil ponselnya. Dia tampak kecewa karena tidak ada panggilan masuk ataupun pesan untuknya.

Dia merebahklan badannya di kasur sambil menatap langit-langit kamarnya.

“Apa dia baik-baik saja? apa dia sudah makan? apa yang dia makan?”

Bayangan dimana Joon myun tengah menggandeng tangan seorang wanita kembali terngiang di pikirannya, lalu diapun bangun dan kemudian duduk.

“Kenapa aku harus memikirkan dia sudah makan atau belum? Bukankah ada gadis itu?” ucapnya ketus.

Karena penat, akhirnya Chorong memutuskan untuk menelepon Irene, namun dia mendapati ponsel Irene sedang tidak aktiv saat itu.

“Kenapa ponselnya tidak aktiv? Tidak biasanya?” pikir Chorong.

***

Udara malam yang dingin tak membuat Irene beranjak dari tempatnya saat ini. Sudah sekitar satu jam lamanya dia berada disana.

Di ayunkan sedikit ayunan yang tengah dia duduki. Wajahnya tampak begitu sedih seperti tengah memikirkan sesuatu yang rumit yang membuat hatinya terasa begitu aneh.

Memang tidak seharusnya dia terlarut dalam pemikiran sempitnya. Dia seharusnya pecaya pada Yixing dan Chorong. Bahkan Chorong adalah temannya, namun kenapa sekarang malah dia yang seperti ini pada nya. Dia tak bisa menyangkal kalau dia takut kehilangan Yixing, namun dia juga takut kehilangan Chorong. Meskipun dia sadar bahwa tidak mungkin Chorong mengkhianatinya, tapi Bukankah Chorong tidak tahu dia dan Yixing mempunyai hubungan dan itulah hal yang membua Irene begitu gelisah saat ini.

Flashback

“Namaku Park Chorong?” dengan senyum mengembang Chorong mengulurkan tanganya pada Irene. Namun bukanya menyambut tangan Chorong, Irene malah mengabaikannya. Dengan segera Chorong menarik tanganya dan tersenyum canggung.

Saat jam istirahat, Chorong kembali melirik kearah Irene yang tidak bergerak dari kursinya.

“Apa kau mau ikut? Aku dan yang lain akan pergi ke kantin”

Bukannya menjawab, Irene malah mengambil sebuah headset dari saku jas nya lalu memakainya di telingan.

‘”Hei Chorong-ah ayo!” kini beberapa anak perempuan berteriak memanggil Chorong dan dengan wajah kebingungan, Chorong pun pergi menghampiri teman-temannya.

***

Langkah Irene terhenti karena kesal dengan seseroang yang mengikutinya sedari tadi. dia menoleh pada orang itu, dan kini Orang itu hanya bisa tertuduk. Di tatapnya dengan tajam orang tersebut yang tak lain adalah Chorong.

“Maaf aku tidak mengikutimu, sumpah arah rumahku juga kesini!”

Dengan gugup Chorong menjelaskan pada Irene, namun Irene kembali mengacuhkannya dan melanjutkan agahnya tanpa berkata sepatah katapun.   Chorong tertunduk lalu dia pun menghela napas panjang.

“Kenapa dia begitu? Aku hanya ingin berteman denganya. Bukankah mempunyai banyak teman itu menyenangkan dibanding sendiri?” guman Chorong pelan sambil dipenuhi rasa kekecewaan.

***

Saat jam olah raga, lagi-lagi Chorong tidak ikut dan memutuskan untuk diam didalam kelas. Dan saat itu, Irene juga tidak ikut olah raga. Perasaan Canggung kini terlihat di dalam kelas tersebut, namun itu berlaku hanya untuk Corong, dan tidak untuk Iren.

“Kau tidak ikut olah raga?” tanya Chorong

Hening, dan Irene kembali tidak menjawab.

“Aku tidak menyukai olah raga, karena sangat melelahkan, kalau bisa pelajaran olah raga sebaiknya dihilangkan saja.

“Itulah alasan kau gemuk”

Chorong langsung menoleh kearah Irene yang tiba-tiba sja berbicara padanya, dan ha itu membuat HCorong menyunggingkan bibirnya.

Irene menaikan sebelah alisnya karena heran pada Chorong karena seharusnya dia marah mendengar perkataan dia barusan.

“Kau tidak marah aku mengataimu gemuk?”

Chorong menggelengkan kepalanya dengan senyum lebar, dan Irene tahu itu adalah senyuman yang sangat tulus.

“Teman-temanku juga sering mengataiku gemuk, lagipula aku memang gemuk kan?”

Irene menatap Chorong, dan memang benar yang dikatakan Chorong, dia memang gemuk. Bahkan bisa Irene lihat kalau ukuran rok Chorong saja bisa dua kali lipat ukuran roknya.

“karena kau sangat berisik. Kau terus menggangguku!”

“Aku hanya ingin kita berteman saja”

“Berteman? Kenapa aku harus berteman denganmu?”

“kau tidak bisa sendirian terus, dengan berteman maka kau bisa berbagi dengan temanmu, tertawa dengan temanmu dan melakukan banyak hal yang menyenangkan”

“Aku tidak tertarik berteman dengan siapapun. Karena teman itu hanya alat untuk memanfaatkan”

“Kau salah!”

“Jadi kalau aku salah, maka teman-temanmu itu tulus berteman denganmu? Mereka tidak memanfaatkanmu?”

“kalau kau seperti ini terus, maka kau tidak akan punya teman!”

“Aku tidak butuh teman”

Irene pun pergi setelah perdebatan kecil itu, dan hal itu membuat Chorong kemablis sedih. dan kini dia pun berguman dalam hatinya.

Bagaimana bisa dia berpikir seperti itu? mempunyai teman itu menyenangkan meskipun kita harus dimanfaatkan!”

Flashback end

TBC

Hai-hai im back back back back…..

Gakan banyak ngomong deh, pokoknya terima kasih buat yang masih setia nungguin dan buat yang mau baca *Flying kiss

21 thoughts on “Stupid Cupid [ Part 3]

  1. unnie,kau hiatus trllu lama 😢 . Pengen baca part 4 ny eon . Pengen tau kelanjutannya . Pengen baca karya2 mu lagi. Unnie please comeback 😭😭😭

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s