US | Love in Seoul – Part 6 [end]

poster us-prolog

US | Love in Seoul – Part 6 [end]

Author : Charismagirl

Main cast :

  • Byun Baekhyun
  • Park Minri
  • Byun Chanhee

Support Cast :

  • Park Chanyeol | Ahn Sungyoung
  • Jessy

Genre : Romance, marriage-life, family

Rating : PG-13

Length : Chapter / Series

Note : Do not copycat without my permission.

Link : Prolog | 1 | 2 | 3 | 4 | 5

Bersyukurlah atas kehidupan ini, karena dengan hidup memberimu kesempatan untuk mencintai, tersenyum, tertawa dan melihat bintang-bintang. -Anonymous

***

Berbulan-bulan berlalu. Minri menikmati masa-masa janinnya yang semakin membesar. Chanhee dan Baekhyun kompak membantu Minri dalam hal apapun, Minri merasa begitu bahagia.

Tapi suatu ketika Minri merasakan sakit di perutnya. Minri yakin belum saatnya Minri melahirkan. Rasa sakit itu hampir membuatnya pingsan. Malangnya saat itu Baekhyun tidak ada di rumah. Dengan tenaganya yang tersisa Minri menelpon Baekhyun. Minri hampir saja menjatuhkan ponselnya saat dia melihat tetesan darah di lantai keramik rumah.

“Baekhyun, tolong aku….”

*TBC*

Minri bertahan menahan sakit selama dua puluh menit hingga Baekhyun datang dengan tergesa-gesa, dia harap Baekhyun tidak mengebut tadi.

“Sayang, apa yang terjadi?”

“Aku tidak tahu, Baek. Ini masih bulan ke delapan.” Minri menggenggam erat tangan Baekhyun, sementara pria itu mengecup keningnya memberikan ketenangan. Baekhyun mengangkat tubuh Minri, membawa wanita itu ke dalam mobilnya. Baekhyun tidak akan membuang-buang waktu menunggu mobil rumah sakit menjemputnya dan melihat Minri kesakitan lebih lama lagi.

“Aku takut, Baek. I-ini sakit sekali…”

“Bertahanlah, sebentar lagi kita sampai.” Baekhyun membawa mobilnya secepat mungkin. Kecemasan menguasai pikirannya. Baekhyun tidak ingin terjadi hal buruk pada istrinya. Meskipun ini bukan kali pertama Baekhyun mengantarkan Minri melahirkan, namun saat melahirkan Chanhee, Baekhyun berada di rumah dan Minri tidak tampak sepucat ini.

Minri mulai merasa kehabisan tenaga. Matanya terasa berat. Hingga ia tak sadarkan diri bahkan saat Baekhyun mengangkat tubuhnya lagi menuju ruang gawat darurat.

***

Appa…” Chanhee masih berseragam sekolah saat dia tiba di rumah sakit bersama Sungyoung dan Chanyeol. Baekhyun meminta bantuan sahabatnya itu untuk menjemput Chanhee karena Baekhyun tidak bisa meninggalkan sejengkalpun ruang operasi Minri. Atau sekarang boleh disebut ruang persalinan.

Dokter telah menyatakan bahwa memang belum saatnya Minri melahirkan, namun karena pendarahan yang terjadi Minri terpaksa melakukan operasi. Janin dalam perut Minri harus segera di keluarkan demi keselamatan ibu dan juga bayinya.

Baekhyun menggenggam tangannya sendiri dengan erat. Ini adalah kali ketiga dia menunggu Minri di rumah sakit. Kecelakaan di Manhattan, melahirkan Chanhee dan sekarang, rasa cemas membuat tubuhnya berkeringat dingin. Kakinya mengetuk-ngetuk ke lantai tanda bahwa dia sudah tidak sabar menanti operasinya selesai.

Tuhan, selamatkan anak dan istriku.

Appa, kenapa eomma lama sekali?” tanya Chanhee dengan mata mengerjap polos. Melihat Baekhyun yang tak kunjung menjawab, Chanhee memilih diam, wajahnya berubah murung. Anak itu mulai mengerti bahwa ayahnya pasti tidak ingin diajak bicara.

Baekhyun yang sejak tadi sibuk dengan kecemasannya akhirnya mendongak. Dia tidak boleh membuat anaknya ikut panik. Baekhyun harusnya bicara pada Chanhee, menenangkan dan meyakinkan anak itu dan juga dirinya sendiri bahwa Minri akan baik-baik saja.

Eomma tidak apa-apa. Eomma sedang berjuang bersama adik Chanhee.” Baekhyun memeluk Chanhee sembari menciumi kepala anak itu.

“Chanhee takut…” Baekhyun mengusap punggung anak itu dengan sayang. Samar-samar terdengar suara para suster yang sibuk dari dalam.

Sungyoung dan Chanyeol duduk tidak jauh dari Baekhyun dan Chanhee. Pasangan suami istri itu merasakan kecemasan serupa. Sungyoung menggenggam erat tangan Chanyeol. Hanya dengan itu dia bisa membuat perasaannya sedikit lebih baik.

Satu jam berlalu. Tidak ada tanda-tanda operasi itu selesai. Baekhyun berdiri, lalu mondar-mandir. Chanhee meraih tangan Baekhyun, membuat pria itu berhenti.

“Chanhee ingin melihat Eomma.”

“Sayang, kita tidak boleh masuk sampai operasinya selesai.”

“Chanhee,” panggil Sungyoung. “Sama Nuna sini.” Sungyoung memberikan celah tempat duduk diantara dia dan Chanyeol, lalu Chanhee perlahan mendekat dan duduk sembari menunduk.

“Baek, duduklah.” Chanyeol angkat bicara.

“Aku tidak bisa duduk di saat seperti—“

Bayinya perempuan, Nyonya. Wah, cantik sekali.”

“Anakku…”

“Tapi Dokter, anak ini belum menangis.”

Tik .. tok ..

Kesenyapan terjadi beberapa detik. Baik di dalam maupun di luar ruangan merasakan ketegangan yang sama. Baekhyun hendak memerosotkan tubuhnya ke lantai karena menyerah. Menyerah pada keadaan yang akhirnya tidak sesuai dengan keinginannya. Menyerah pada kenyataan yang membawa jiwa putrinya pergi bahkan sebelum gadis kecil itu sempat melihat dunia. Dan Baekhyun tidak tahu bagaimana keadaan istrinya sekarang. Segala hal terasa memusingkan membuat pikirannya berkabut.

“Apa yang terjadi di dalam? Mengapa aku tidak mendengar suara apapun?” lirih Baekhyun sembari berbalik, menatap Chanyeol dan Sungyoung. Chanyeol menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan bahwa Ia sama sekali tidak tahu. Sementara Sungyoung menunduk, air matanya menetes.

“Adik Chanhee tidak apa-apa. Kenapa kalian sedih? Nuna ujlima…” Chanhee mengguncangkan pelan lengan Sungyoung dengan satu tangannya, lalu turun dari pangkuan Chanyeol.

Appa….

Chanhee memegang tangan Baekhyun yang bergantung lemas seolah tidak ada jiwa yang menempati tubuhnya sekarang.

“Chanhee yakin eomma tidak berbohong. Eomma akan melahirkan adik Chanhee dengan selamat. Chanhee yakin…”

Tuhan, Engkau selalu punya rencana yang bagus untuk ciptaan-Mu, jika memang bayi kecil itu tidak untuk kami, berikanlah tempat yang indah bersama-Mu di Surga.

“Hueee…” suara tangisan bayi dari dalam ruangan membuat degupan jantung Baekhyun kembali berpacu.

Dokter! syukurlah…

“Chanhee!” Baekhyun mengangkat tubuh Chanhee, lantas memeluk anak itu erat. Sementara Chanhee tersenyum sambil membalas pelukan ayahnya. Dan kedua orang di bangku juga berpelukan.

“Chanhee benar-benar punya adik sekarang. Yeyy!”

***

Minri belum sadarkan diri.

Minri telah dipindahkan dari ruang operasi menuju ruang rawat. Kondisinya sudah lebih stabil namun wanita itu masih belum membuka matanya.

Chanhee tertidur di kasur kosong yang ada di kamar itu. Sementara Baekhyun duduk di bangku di samping kasur Minri. Tangannya menggenggam tangan Minri yang lemah. Sesekali mengecup punggung tangannya yang pucat.

Tangan Minri mulai memberi respon di tangan Baekhyun. Wanita itu perlahan membuka matanya. Kemudian menyapu pandangan ke seluruh ruangan, mengenali tempat itu sebagai kamar rawat rumah sakit.

“Baekhyun…”

“Iya sayang, kau berhasil. Anak kita sedang berada di ruang rawat bayi.”

Minri tersenyum lelah. Tidak banyak yang bisa dilakukannya meskipun sekarang hatinya meletup-letup bahagia. Ingin rasanya melompat ke pelukan Baekhyun.

“Kapan aku bisa melihatnya, Baek?”

“Sebentar lagi.”

Baekhyun memajukan badannya lalu memeluk Minri pelan, takut kalau saja pergerakkannya membuat wanita itu meringis sakit. Baekhyun mencium keningnya.

“Terimakasih, aku sayang padamu.”

“Aku juga sayang padamu. Dimana Sungyoung dan Chanyeol?” tanya Minri.

“Mereka sudah pulang. Sebenarnya Sungyoung memaksa untuk bertahan menunggumu sadar, tapi Chanyeol tahu gadis itu sama sekali belum makan sejak kemarin.”

Minri tertawa pelan, “pantas saja Chanyeol memaksanya pulang.”

“Kau juga belum makan, tahu.” Baekhyun mengambil mangkuk makanan yang ada di meja Minri, lalu menyuapi wanita itu.

“Kau juga harus makan, Baek.”

Minri menoleh pada Chanhee yang tertidur pulas. Baekhyun memperhatikan Minri dengan tersenyum tipis.

“Chanhee memberiku kekuatan saat aku mulai putus asa.”

“Anak kita sudah besar, Baek. Aku ingin memeluk Chanhee. Aku sangat merindukannya, karena aku merasa baru saja terbangun dari tidur yang lama.”

***

Minri memainkan selimutnya dengan bosan. Baekhyun belum kembali setelah mengajak Chanhee keluar membeli beberapa snack. Selain itu Sungyoung juga belum tiba. Padahal Minri ingin sekali bertemu dengan gadis itu.

Minri meraih ponselnya di atas nakas, lalu mengetik pesan pada Baekhyun. Belum sempat dia mengirim pesan, pintu kamarnya terbuka. Seorang suster dan dokter beserta satu box bayi beroda.

Bayiku, gumamnya.

Minri meletakkan kembali ponsel, lantas menegakkan duduknya.

“Nyonya, bagaimana keadaan Anda?” tanya Dokter.

“Sudah lebih baik.” Minri tidak melepaskan pandangannya sedikitpun pada bayi mungil yang masih tampak merah muda.

“Ini bayi Anda.” Suster menyerahkan bayi perempuan itu pada Minri.

“Terimakasih, Dokter.”

“Dimana suami Anda?”

“Keluar sebentar, bersama anak saya.”

“Baiklah, panggil kami jika Anda butuh bantuan.”

Minri menundukkan kepalanya singkat saat Dokter dan Suster yang mengantarkan bayinya pamit keluar, meninggalkan Minri berdua dengan bayinya saja.

“Richan-ah, ini Eomma.” Minri tersenyum haru saat menatap wajah bayi perempuan itu. satu tangannya mengusap kepala bayi itu dengan lembut. “Richan benar-benar penyelamat Eomma. Eomma hampir saja mati kebosanan disini.” Minri tertawa pelan.

Bayi itu menggeliat pelan dalam gendongan Minri, lalu perlahan mata mungilnya terbuka. Minri memajukan wajahnya, lalu menciumi pelan wajah anak itu. Entah mengapa air mata menggenang.

“Richan pasti haus, minum dulu ya sayang?”

Mulut bayi itu bergerak agresif mencari asi ibunya. Setelah mendapatkannya dia memejamkan mata dengan tenang. Perjuangan dalam ruang operasi rasanya terbayar setelah dia melihat wajah Richan—nama anak perempuan yang sudah cukup lama disiapkannya.

Setelah Minri rasa anak itu sudah kenyang, Minri membenarkan kembali bajunya. Lima menit berlalu, Minri tetap memandangi wajah anak itu.

Pintu kamar rawatnya terbuka, Baekhyun dan Chanhee masuk bersamaan.

Eomma!” seru Chanhee.

Minri meletakkan telunjuknya di bibir. Lantas tersenyum.

“Waaa~ adik Chanhee. Appa gendong, Chanhee ingin melihat adik Chanhee yang cantik. Appa…” Chanhee menarik-narik pelan baju Baekhyun. Anak itu bahkan melupakan snack yang baru saja dibelinya.

Baekhyun menggendong Chanhee, lalu menempatkan anak itu duduk di samping Minri. Matanya menatap bayi mungil dalam gendongan Minri tanpa kedip.

Anyeong,” ucap Chanhee sembari melambaikan tangannya di depan wajah Richan.

“Chanhee sekarang adalah Oppa.” Baekhyun mengusap puncak kepala Chanhee. “Jaga Richan dengan baik ya, sayang.”

“Namanya Richan?” Chanhee mendongak, memandangi Minri dan Baekhyun bergantian. “Richan-ah…” Jarinya menyentuh pelan pipi Richan, pelan sekali, membuat Minri tertawa. “Pipinya lembut seperti marsmallow.”

Baekhyun merangkul Minri, sesekali menciumi kepala wanita itu. Tingkah Chanhee benar-benar menggemaskan. Anak itu memang sudah lama memimpikan punya adik. Baekhyun bersyukur anak itu bisa menerima adiknya dengan baik.

***

“Chanyeol, cepat sedikit. Minri Eonni sudah sadar dan Chanhee bilang bayinya lucu sekali. Ayoo…” Sungyoung menarik tangan Chanyeol, mempercepat langkah mereka menuju kamar rawat Minri.

Terdengar suara tawa saat Chanyeol dan Sungyoung berdiri tepat di depan ruangan tempat Minri di rawat. Dengan tidak sabaran Sungyoung mengetuk pintu, kemudian Baekhyun membukanya.

“Sungyoung-a,” panggil Minri.

Eonni!” Sungyoung melepaskan genggaman tangannya dengan Chanyeol lalu berlari kecil menuju Minri, lantas memeluk singkat wanita itu. “Gwaenchanayo?”

“Jauh lebih baik dari yang kau lihat. Lama sekali,” protes Minri sembari membuang wajahnya ke arah lain. Dia sedang pura-pura merajuk.

“Chanyeol mengendarai mobilnya lambat sekali. Maafkan aku.” Sungyoung mengerucutkan bibirnya.

Arraseo.” Minri menepuk pelan lengan Sungyoung. Minri hanya bercanda. Sekarang status Sungyoung adalah istri Chanyeol, bukan pegawai di toko bunganya.

“Bayinya cantik sekali…” Sungyoung mendekatkan wajahnya, menatap gemas bayi perempuan dalam gendongan Minri.

“Kau ingin anak pertamamu perempuan atau laki-laki?” tanya Minri.

“Perempuan!” “Laki-laki.”

Sungyoung dan Chanyeol berucap hampir bersamaan. Minri hanya mengerutkan keningnya atas jawaban yang tidak kompak itu.

“Kau bilang setuju saat aku ingin bayi pertama kita perempuan.” Sungyoung memandang Chanyeol dengan wajahnya yang protes.

“Laki-laki atau perempuan lebih dulu tidak masalah.” Baekhyun menepuk bahu Chanyeol. “Berusahalah lebih keras. Lagi pula, kalian masih pengantin baru.” Baekhyun mengedipkan matanya.

Entah mengapa obrolan ini membuat wajah Sungyoung memanas. Dia berlagak tidak mendengarkan, dan lebih memilih mengobrol dengan Chanhee.

Nuna, adik Chanhee manis ‘kan?”

“Eung!”

“Nuna mau adik juga?” tanya Chanhee sembari mengerjap polos. Sungyoung bingung harus menjelaskan apa.

“Chanhee-ya, nuna akan melahirkan sama seperti Eomma.” Ucap Minri.

Jinjja? Waah! Nuna hebat.” Sungyoung tersenyum kikuk. “Ajussi, bantu nuna, ya.”

Ne?” Sungyoung dan Chanyeol melongo bersama.

Appa bilang Eomma membutuhkan bantuan saat membuat bayi.”

“Ya Tuhan, Byun Baekhyun!” kali ini Minri menatap galak pada Baekhyun. Sementara yang ditatap hanya menyengir tanpa dosa. Oh baiklah, pasti sulit menjelaskan saat anak seusia Chanhee—yang selalu ingin tahu—menanyakan hal semacam itu.

Dari mana Chanhee berasal? Mengapa adik dalam perut Eomma? Apa eomma menelan adik Chanhee?

***

Pagi hari, di kediaman Sungyoung dan Chanyeol.

Sungyoung mengerjapkan matanya beberapa kali menyesuaikan pencahayaan yang masuk dalam kamarnya. Sudah pagi. Perlahan dia bangkit dari tempat tidur. Dia menyibak selimut, namun tidak menemukan Chanyeol di sampingnya.

Aroma masakan yang berasal dari dapur membuat perutnya bergejolak.

Huek.

Sungyoung menutup hidungnya, lantas berlari menuju wastafel. Harusnya yang sekarang berada di dapur menyiapkan sarapan adalah Sungyoung. Namun, dia bangun terlambat, ditambah dengan badannya yang kurang sehat.

Setelah merasa membaik, Sungyoung menghampiri Chanyeol. Pria jangkung itu tampak sangat tampan dengan apron yang membalut pinggangnya. Masih pagi sudah dibuat terpesona saja, ck.

“Tidurmu nyenyak?” tanya Chanyeol sembari menyodorkan piring berisi roti panggang.

Ne, gomawo.” Sungyoung mencoba tersenyum. Dia mengendus roti tersebut. Tidak ada rasa mual. Sungyoung heran, pasti ada hal yang membuat perutnya tidak enak. Bukan roti panggang. “Maaf aku bangun terlambat.”

“Kau mau kopi?” Chanyeol meletakkan kopi hitamnya di samping Sungyoung. Roti yang hampir saja ditelannya tertahan di tenggorokan.

Huek.

“Kau tidak apa-apa?” Chanyeol menghampiri Sungyoung dengan wajah panik. Dia berjongkok di depan wanita itu. Sungyoung tampak pucat.

“Jauhkan kopi itu dariku,” pinta Sungyoung dengan susah payah bicara dengan mulut ditutup tangan.

“Kau tidak suka mencium aromanya? Heran.” Chanyeol menuruti permintaan Sungyoung. “Padahal biasanya kau membuatkan minuman ini untukku.” Sambung Chanyeol.

Sungyoung merasa lebih baik setelah kopi hitam Chanyeol jauh darinya. Dia mencoba menelan rotinya lagi.

“Sebentar!”

“Uhuk!” Sungyoung menepuk dadanya pelan. Chanyeol membuatnya hampir terkena serangan jantung. “Wae~?” Wanita itu tampak kesal.

“Kau mual pada aroma tertentu?”

Sungyoung mengangguk.

“Kau terlambat haid?”

Sungyoung mengerutkan kening, berpikir sesaat kemudian mengangguk lagi.

“Huaaah!” Chanyeol tiba-tiba memeluk Sungyoung, hampir membuat wanita itu terjengkang dari kursi. “Aku tahu apa yang sedang terjadi.”

“A-apa?”

“Kita akan segera punya anak.”

“Astaga! Benarkah?!” Sungyoung mempercepat sarapannya. Sepotong roti masuk ke dalam mulutnya membuat pipinya menggembung. Ada yang harus dilakukannya setelah sarapan. Dia harus membuktikan omongan Chanyeol barusan.

“Pelan-pelan, Ahn… kau kenapa sih?”

“Yeol.” Sungyoung menelan makanannya sebelum bicara lagi. “Makanannya enak sekali.” Wanita itu menghabiskan roti di atas piringnya, lalu meminum jus jeruknya sampai tandas. “Aku ke kamar dulu.”

“Kenapa buru-buru—“ belum selesai Chanyeol bicara, Sungyoung sudah kembali lagi ke dalam kamar mereka membuat Chanyeol menggelengkan kepalanya heran.

Sepuluh menit berlalu, Sungyoung masih belum keluar dari kamar mereka. Chanyeol yang baru saja menyelesaikan sarapan paginya, masuk ke dalam kamar mereka karena penasaran dengan apa yang dilakukan istrinya.

“Ahn Sungyoung apa yang sedang kau…”

Sungyoung duduk di atas kasur sembari menatap sebuah benda entah apa itu karena belum sempat Chanyeol mengenali benda itu, Sungyoung sudah lebih dulu menyembunyikan di belakangnya.

“Park Chanyeol! Kau mengagetkanku saja.”

“Apa yang kau sembunyikan di belakangmu dengan wajah sumringah seperti itu eoh?” Chanyeol menghampiri Sungyoung.

Sungyoung menyengir, lalu meletakkan benda yang dipegangnya di atas nakas. Dia melompat ke pelukan Chanyeol, membuat pria jangkung itu mengerutkan keningnya.

“Chanyeol-a, aku akan menjadi seorang ibu.”

“Apa itu artinya aku juga akan menjadi ayah?” tanya Chanyeol mulai memahami situasi. Sungyoung menjauhkan tubuhnya, lalu menatap Chanyeol dengan mata berbinar. Wanita itu mengangguk beberapa kali, dan Chanyeol gemas melihat wajahnya hingga ia menciumnya.

“Aku sayang padamu, Yeol.” Sungyoung kembali memeluk Chanyeol, matanya mulai berkaca-kaca. Senyum di wajahnya semakin lebar saat ia membayangkan keluarga kecilnya yang manis.

***

Sudah genap empat hari Minri menginap di rumah sakit. Wanita itu meminta Baekhyun untuk segera membawanya pulang ke rumah. Dia sudah tidak tahan berada lebih lama lagi di tempat yang di dominasi bau obat itu.

Baekhyun suami yang sangat baik, dan ayah yang menakjubkan. Dia rela bolak-balik rumah sakit dan rumah untuk membawa baju, mencuci baju, membawakan makanan dan mengantarkan Chanhee sekolah.

Chanhee tidak ingin melewatkan sekolahnya. Anak itu menceritakan tentang adiknya pada semua teman sekelasnya, terutama Jessy. Besok harinya, Jessy menitipkan hadiah untuk Richan, sebuah jepit rambut. Chanee bilang Richan belum punya rambut yang banyak. Tapi Chanhee memastikan bahwa Richan akan memakainya suatu hari nanti. Anak-anak itu manis sekali.

“Tidakkah sebaiknya kau menjemput Chanhee dulu, Baek?”

Baekhyun sudah selesai membereskan barang-barang. Sebentar lagi mereka akan pulang dan pertama kalinya Richan menempati tempat tinggal mereka.

“Chanyeol bilang dia akan menjemput Chanhee.”

“Heh? Kita sudah sering merepotkan mereka. Aku merasa tidak enak…”

“Kali ini Chanyeol memaksa. Aku serius.”

Minri tertawa pelan. Wanita itu menghampiri kasur lantas menggendong Richan. “Ayo kita pulang, Princess Byun.”

***

Langit begitu cerah hingga Minri perlu berjalan lebih cepat dan menghalau cahaya yang mengenai wajah Richan. Mereka telah baru saja tiba di tempat tinggal mereka.

“Pelan-pelan Minri-ya, kau masih belum sepenuhnya sembuh.” Baekhyun memperingatkan. Wanita itu hanya menanggapi dengan cengiran di wajahnya.

Saat mereka tiba di depan pintu, terdengar suara ribut dari dalam. Chanhee pasti sudah pulang. Dan anak itu sedang bersama Chanyeol. Baekhyun menurunkan dua tas besar di tangannya, lalu menekan bel. Seketika keributan di dalam menjadi lenyap.

“Park Chanyeol, aku tahu kau di dalam. Cepat buka pintunya.” Ucap Baekhyun.

“Baek, kau bahkan tau kode pintunya.” Minri tertawa pelan saat Baekhyun menggaruk tengkuknya. Ini tempat tinggal mereka dan Baekhyun hanya perlu menekan empat angka kombinasi lalu pintu itu akan terbuka tanpa dia harus memaksa Chanyeol membukanya dari dalam.

Setelah berhasil membuka pintu itu, Baekhyun berbalik, memberikan kecupan ringan pada putri kecilnya. ”Selamat datang di rumah kita, sayang.”

“Chanhee-ya… kami pulang.”

“DAAAR!! SELAMAT DATANG DI RUMAH, BYUN RICHAN!!”

Hueee!!!” Dan yang namanya disebut seketika memberikan balasan atas sambutan mengejutkan dari paman, bibi dan Oppa-nya tersayang.

“Astaga! Wow.” Minri menyusuri pandangannya ke seluruh ruangan. Banner besar ucapan selamat datang yang Minri kenali sebagai tulisan tangan Chanhee membuat perutnya menggelitik geli. Lucu, tapi juga mengharukan. Anak itu benar-benar.

“Selamat datang keponakan imo yang cantik, dan juga Park eomma.” Sungyoung memberikan pelukan ringan pada Minri sekaligus Richan.

“Ahn Sungyoung! Kau juga disini?!”

“Ish, Eonni! Aku sejak tadi sudah berada disini, menyiapkan ini semua bersama Chanhee dan Chanyeol.”

Sekarang Minri mengerti mengapa Chanyeol ingin sekali menjemput Chanhee.

“Hueeeee!!”

Eomma, kenapa Richan menangis?” Tanya Chanhee sembari melompat kecil untuk melihat wajah adiknya. Minri menunduk menatap Richan, anak itu menangis keras dengan suara terpejam. Sepertinya dia haus, atau mungkin masih kaget dengan kejutan selamat datang.

“Kau terlalu keras sih teriaknya, Yeol.” Sungyoung memukul lengan Chanyeol, cukup keras, membuat pria itu meringis.

“Kenapa aku yang disalahkan?”

“Ish.”

“Kurasa, aku harus menenangkan Richan dulu. Kami ke kamar ya.” Minri menghentikan perdebatan ringan antara Chanyeol dan Sungyoung, sementara Chanhee menyeret ayahnya ke dapur. Ada yang ingin di perlihatkan anak itu. Usaha kecilnya menyambut anggota keluarga baru. Chanhee sangat antusias.

“Mianhae, Richan-ah.” Ucap Sungyoung dengan bibir cemberut.

“Tidak apa-apa, nanti aku menyusul. Kalian duluan saja. Selain menyiapkan ini, kalian juga membuat makanan ‘kan?”

Ne!! Nuna, memasak Chicken untuk kita semua. Yaey!” Sahut Chanhee saat dia dan Baekhyun hampir mencapai perbatasan dapur.

Arraseo, Eomma ke kamar dulu ya sayang.”

Minri meninggalkan mereka semua, lalu masuk ke dalam kamar. Dia menghirup dalam-dalam aroma ruangan itu. Rasanya lama sekali tidak tidur disana. Dia merindukan tempat itu.

“Sttt… Richan-ah, Oppa, imo dan samchon memberikan kejutan selamat datang untukmu. Richan suka?”

“Hueeee!!”

“Richan haus ya?” Minri duduk di atas kasur, lalu memberikan asi pada putri kecilnya. Bibir bayi mungi itu bergerak agresif. Lalu perlahan dia tertidur lagi. “Tidur nyenyak sayang.” Kecupan Minri di dahi Richan, mengantarkan anak itu pada mimpi indah membuatnya tersenyum tipis.

***

Eomma! Ayo duduk disini.” Chanhee menarik bangku Minri, mempersilakan wanita itu duduk, sebelum dia memanjat bangkunya sendiri.

Aigoo, Chanhee baik sekali pada Eomma. Ngomong-ngomong, terimakasih banyak atas ini semua. Harusnya kalian tidak perlu berepot-repot.”

“Richan tidur?” Sungyoung memperhatikan pintu kamar Minri yang sedikit terbuka. Rasa bersalah masih menyelimutinya mengingat tangisan Richan yang begitu keras akibat letupan confetti dan bunyi terompet.

“Iya, setelah mendapatkan asi, Richan langsung terlelap.” Minri mengambilkan sepotong ayam goreng lalu meletakkan ke piring Sungyong. “Makanlah, bayimu butuh asupan yang banyak.”

“Darimana Eonni tahu kalau… Park Chanyeol!”

“Uhuk! Uhuk!”

Ajussi gwaenchana?”

“Sudah kubilang aku saja yang memberitahu Minri Eonni.” Sungyoung mengerucutkan bibirnya dengan tangan berlipat. Minri hanya menggelengkan kepalanya sembari tertawa ringan.

“Bukan Chanyeol yang memberitahuku.”

“Lalu siapa? Eonni cenayang?”

Baekhyun seketika tertawa keras. Chanhee menatap sekelilingnya, cukup bingung mengapa ayahnya sampai tertawa sekeras itu. Namun akhirnya Chanhee ikut tertawa meskipun tidak mengerti bagian mana yang lucu.

“Aku tahu dari Baekhyun.”

“Dan Chanyeol yang mengabarkan kabar gembira itu padaku lewat telpon dengan suara yang kelewat bersemangat.” Baekhyun mengambil kentang goreng, lalu menyodorkannya pada Chanhee.

Beberapa saat keadaan hening. Sebelum Sungyoung kembali bersuara dengan wajah datar.

“Ya tetap saja berasal dari mulut Chanyeol.”

“Kau bisa menghukum mulutnya yang lancang itu nanti.” Baekhyun mengerjap jahil.

Oppa!

“Selamat ya Ahn, kau akan menjadi ibu.”

“Yaey! Chanhee akan punya adik lagi.”

“Kalau Chanhee ingin adik lagi, bilang saja pada Appa, ya?” Baekhyun mengusak kepala Chanhee, lalu menoleh pada Minri yang sedang menatapnya dengan bibir mendesis.

Byun Baekhyun….

Makan siang itu berlangsung hangat dengan tawa dan perdebatan ringan. Senang rasanya kembali ke rumah sendiri. Minri membayangkan keluarganya bertambah ramai dengan kehadiran Richan. Saat Baekhyun bekerja dan Chanhee sekolah, Minri tidak akan sendiri lagi.

Terimakasih atas kebahagiaan ini Tuhan.

***

Malam berlalu begitu cepat. Tidak ada yang tidur larut malam itu. Meskipun Chanhee memaksa menemani Richan lebih lama, waktu tidur Chanhee tetaplah sama. Malam itu Chanhee tidak tidur di kamarnya, dia sangat suka mengusap pipi Richan yang menurutnya seperti marsmallow itu.

Sebenarnya Baekhyun bisa saja memindahkan Chanhee ke kamarnya sendiri. Namun mengingat begitu senangnya Chanhee berada di samping Richan membuat Baekhyun tidak ingin mengurangi kebahagiaan anak itu hingga akhirnya mereka tidur berempat.

Matahari belum sepenuhnya muncul, namun suara tangisan anak kecil cukup untuk membuat Minri terjaga sepenuhnya.

“Richan-ah, uljima… nanti Eomma dan Appa terbangun.” Chanhee mengusap pelan kaki Richan yang menendang udara.

Minri menoleh ke sampingnya, lantas duduk. Wanita itu mengusap wajahnya, mencoba memahami keadaan. Pagi hari, di rumah, dan ada Chanhee di kamar mereka.

“Selamat pagi Chanhee…” Sepertinya Chanhee bangun lebih pagi.

Eomma, Richan menangis. Otteokhae…” Chanhee menarik pelan piyama Minri. Sepertinya anak itu ikut sedih melihat adiknya terus-terusan menangis. Chanhee sempat menciumi pipi Richan namun tangisan bayi kecil itu malah makin keras.

Minri menggendong Richan, lalu mengusap kepala anak itu. Richan sempat sesenggukan sebelum benar-benar diam dan menatap Minri dengan mata mungilnya. “Pagi cantik,” Minri mencium kening Richan.

Eomma, kita jalan-jalan ya. Chanhee ingin mengajak Richan ke taman.”

“Richan masih terlalu kecil untuk diajak jalan-jalan keluar. Nanti ya.”

Eomma, please…” Minri ingin sekali mengabulkan permintaan Chanhee. Wajahnya yang memelas itu membuat Minri tidak tega.

“Minggu depan. Eomma janji.”

Arraseoyo.” Chanhee menunduk kecewa.

“Chanhee-ya, ayo bangunkan Appa.” Minri mencoba menghibur anak itu. Dia berbisik pada Chanhee untuk mengerjai Baekhyun yang sedang tidur pulas.

Maafkan aku Baek…

“Appaaaa!” Chanhee menduduki perut Baekhyun, sesekali mencubit hidungnya membuat Baekhyun kesulitan bernapas. Minri dan Chanhee tertawa.

“Astaga Chanhee… apa yang kau lakukan.” Masih dengan mata setengah tertutup dan suara parau Baekhyun menghentikan aksi Chanhee mencubiti hidungnya.

“Bangunlah, Baek…” Ucap Minri. “Selamat pagi… Appa.” Minri mengedipkan sebelah matanya.

“Baiklah, baiklah Appa bangun.” Chanhee turun dari badan Baekhyun, lalu menghampiri Richan lagi. Dia sudah tidak sedih lagi.

“Pagi istriku.” Baekhyun mengecup bibir Minri, “putriku,” kemudian Richan. “Siapa yang membangunkan Appa tadi eoh? Biar Appa beri kiss attack!”

Ne?” Chanhee menoleh pada Baekhyun, lalu dengan gerakan cepat turun dari kasur. Kabur entah kemana. “Andwaeee!! Ini ide eomma!” jerit anak itu sambil berlarian.

“Aku akan memberi kiss attack padamu juga, tunggu saja.” Ucap Baekhyun sebelum beranjak dari kasur dan mengejar Chanhee. Minri haya mengendikkan bahunya sembari tertawa.

Minri rasa, kiss attack bukanlah hal buruk.

Suasana kediaman keluarga Byun kembali ramai. Mentari di balik jendela seolah ikut tertawa merasakan kehangatan di sana.

***

Pagi minggu, hari yang paling di tunggu Chanhee. Chanhee bangun lebih awal dan membangunkan ayah, ibu, serta adik kecilnya. Hari itu mereka tidak hanya akan berkeliling taman karena Minri telah menyiapkan sebuah piknik kecil dan Minri mengundang beberapa kerabat dekat.

Chanhee membantu Minri mendorong kereta dorong Richan, mengajak anak itu mengobrol banyak meskipun Richan sama sekali tidak menyahut. Pagi itu cerah, secerah senyum keluarga Byun.

Eonni, di sebelah sini!”

Minri menoleh ke sumber suara dimana ada Sungyoung, Chanyeol, Sehun, Soojung, Sehun, Jessy dan adik kecilnya—Hunsoo. Jessy sedang berada di punggung Chanyeol, anak itu tampaknya sedang meraih buah apel yang menggantung di pohon tidak jauh dari spot piknik mereka. Hunsoo melompat riang dalam gendongan Sehun. Seolah memberi semangat pada kakaknya.

“Hai, sedang apa?” sapa Minri.

Eonni! Aku mendapatkan apelnya. Ini.” Jessy menyodorkan satu buah apel kepada Sungyoung.

Gomawo Jessy-ya.”

“Sedang mengabulkan permintaan seorang wanita yang sangat ingin makan apel dari pohon ini.” Sahut Chanyeol.

“Yeol…” Sungyoung mengerucutkan bibirnya. Minri pikir Sungyoung sedang mengidam. Untunglah wanita itu tidak meminta yang aneh-aneh.

Minri menggendong Richan dari dalam kereta. Anak itu mengenakan topi rajut merah muda dan baju bermotif bunga yang senada.

Aigoo yepeeo…” Soojung mengusap pelan pipi Richan, lantas mengecupnya. Richan mengeliat pelan.

Chanhee mengambil bola yang dititipkannya di bawah kereta Richan, lantas mengajak Jessy bermain. Rupanya para ayah dan calon ayah merasa bosan hanya duduk dan mengobrol bersama para wanita, memutuskan untuk bergabung bersama Chanhee dan Jessy.

“Senang melihat mereka tertawa lepas seperti itu,” ucap Minri tanpa mengalihkan pandangan dari Chanhee dan Baekhyun yang asik bermain begitupula dengan yang lain.

“Ya, kebahagiaan akan semakin terasa jika kita bersama-sama seperti ini.”

Minri mengamini dalam hati. Dia menatap langit yang cerah, awan berarak membentang. Suara canda dan tawa memenuhi taman yang indah itu. Musim semi akan segera berakhir. Meskipun nanti waktu akan berlalu, anak-anak tumbuh besar dan mereka semakin menua. Berharap mereka masih punya waktu untuk sekedar berjumpa. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi besok dan seterusnya, tapi percayalah Tuhan telah mengatur dengan sebaik-baiknya.

***End***

Finally!! Lama banget ya? Maaf TT Maaf bangeeeeet!!!

Terimakasih atas doanya, ujian dan kuliahku udah selesai ^^/? Terimakasih banyak juga udah setia menunggu dan membaca ff ini sampai selesai. Aku sadar dengan berbagai kekurangan dalam ff ini. Aku harap nanti dapat ide yang lebih segar dan menarik.

Terimakasih buat seseorang atau beberapa orang yang secara langsung maupun enggak selalu nagih ff ini via bbm, twitter, dll, makasih banget lho dikepoin. Wkwk.

Akhir kata, sampai jumpa di ff selanjutnyaaa~!! Kalo ada ide, kritik dan saran silakan tanya-tanya ke akun pribadi😀

Love yaaa :3

©Charismagirl, 2015.

30 thoughts on “US | Love in Seoul – Part 6 [end]

  1. Yaaaaaaahhh kok end siii?? AKHIRNYA CHANHEE PUNYA ADIK.. UGH SENENG BANGET DEH!!

    AHHH bkin sequel unnieeee….😀

    Keren banget ini ff

  2. Huwaa, seneng banget sama keluarga byun ini. Adakah sequelnya eon, semoga ada;) eon aku suka sama ff yang eonni buat. Terus semangat eon. Ditunggu next chapnya. Gomawo^^

  3. Kyaaa happy ending👐 maaf ya eonni gk sempat komen di chapter 5nya😁 soalnya jaringan tak memihakkku*lebay,, aaa ff ini baguss bngt, keren keren,, suka bngt sma karakter baekhyun disini😉 gaya bahasanya jg enak bngt dibaca,, pokonya keep wrinting eonni! Figjting🙌💪 satu lagi ditunggu karya selanjutnya yaaa! 😄😍 oh iya jngn lupa Minri’s diarynya dilanjutinn😄😘

  4. maaf baru bisa komen dipart ending ini,unni. saya reader baru disini, mohon bantuannya…
    dan saya jatuh hati sekali dengan BaekRi koupel… ditunggu projek slnjutnya ya? fighting!!!

  5. aku senang bgt chanhee punya adik😀 aku suka bgt bgt sama kepolosannya chanhee. keluarga yg bahagia🙂 penasaran sama richan dia pasti sangat menggemaskan>< makasih ya unni udah mau ngelanjutin ff fav aku😀 aku selalu senang kalo baca ffnya unni🙂

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s