Nice Guy (Chapter 6)

luhan-poster-request-copy1

Nice Guy

Tittle : Nice Guy (Chapter 6)
Author : Jellokey
Main Cast :
Lu Han
Choi Ji-seul (OC)
Byun Baek-hyun (Baek Hyun of EXO)
Support Cast :
Zhang Yi Xing (Lay of EXO)
Yoon Se-jin (OC)
Kim Jong-in (Kai of EXO)
Kang Jeo-rin
Oh Se-Hoon (Se Hun of EXO)
Shin Min-young (OC)
And others
Length : Chaptered
Genre : romance, arranged marriage, school life, family, friendship
Rating : PG-17
Poster : https://myelsexperience.wordpress.com/poster/
Disclaimer : This story is pure MINE. Don’t plagiat or copy paste without my permission

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4  Chapter 5  Chapter 6

 

“Lay,” Lu Han menoleh pada Jiseul. Sesuatu di dalam dirinya tidak menyetujui bagaimana cara Jiseul menatap pria yang gadis itu panggil sebagai Lay. Ia juga yakin Jiseul tidak pernah menatap Baekhyun seperti Jiseul melihat Lay—pria pertama yang berhasil membuatnya iri seumur hidupnya. Jiseul, dia menatap pria itu dengan mata yang berbinar dan senyum tipis menghiasi wajahnya.
“Ini Mr. Zhang Yixing.” Kepala sekolah mereka berbicara. Lu Han kembali melihat ke depan—melihat Yixing tajam dengan tangan yang terkepal.
“Beliau adik dari Zhang Yi-lin, wali kelas kalian yang sedang cuti hamil.”
“Beliau juga orang yang sangat penting di dunia bisnis.” Kepala sekolah mereka menambahkan dengan senyum lebar—terlihat menjijikkan di mata Lu Han. Pernyataan tersebut sontak membuat kelas yang notabene dipenuhi oleh anak-anak pengusaha tersebut ribut.
“Jadi, apa tujuan dia berada di kelas ini?” pertanyaan yang keluar dari seorang Kai sukses membuat kepala sekolah dan teman-temannya diam. ‘Bagus, Kai.’ Batin Lu Han senang karena melihat senyum di wajah Yixing menghilang. Lu Han melipat tangannya di dada. Ternyata yang tidak suka dengan si Yixing ini bukan dia saja, tapi anak pemilik sekolahnya juga.
“Mr. Zhang akan menjadi guru yang menggantikan wali kelas kalian.” Beberapa siswi di kelas itu bersorak.
“Selebihnya akan saya serahkan kepada Mr. Zhang.” Kepala sekolah mereka pergi setelah ia berbicara sebentar dengan Yixing. Yixing menggelengkan kepalanya pelan mengingat apa yang baru saja Mr. Lee bisikkan padanya.
“Hati-hati dengan murid yang bertanya barusan. Dia anak pemilik sekolah ini.”
“Okay, class,” Yixing melihat ke seluruh penjuru kelas, memastikan ia sudah mendapatkan seluruh perhatian murid-muridnya.
“Nama saya Zhang Yixing, kalian bisa memanggil saya Mr. Zhang. Saya akan menggantikan Mrs. Zhang selama lima minggu.”
“Dan saya juga bertugas sebagai wali kelas sementara kalian. Saya harap kalian bisa menerima saya sama seperti kalian menerima Mrs. Zhang.” Yixing mengakhiri ucapannya dengan senyuman.
“Apa pengusaha sepertimu bisa mengajarkan kami biologi?” tanya Kai lagi. Dan cara pria itu bertanya tidak bisa dibilang sopan, membuat Jeorin mencubit paha kirinya. Kai tidak bergeming. Ia masih menatap Yixing sinis dan melipat kedua tangannya di dada. Gestur arogan Kai membuat Yixing tertawa dalam hati. ‘Ciri-ciri anak orang kaya yang manja.’
“What’s your name, kid?” ucapan Yixing membuat suasana kelas yang sedikit ribut menjadi hening. Panggilan yang Lay berikan pada Kai jelas sekali mengejek pria itu.
“Answer me.” Kai mengertakkan giginya. Guru barunya ini benar-benar membuatnya emosi.
“Jongin,” panggil Jeorin pelan. Kai sangat marah sekarang. Ia bisa merasakannya. Tapi Jeorin tidak tahu kenapa Kai bisa marah pada Mr. Zhang. Mereka bahkan baru bertemu sekarang. Yixing berdeham. Matanya bertemu pandang dengan mata Jiseul. Ia tersenyum kecil.
“Kenapa suasana di kelas ini tegang sekali? Apa akan terjadi perang dunia ketiga? Candaan dari Yixing tidak berhasil mencairkan suasana—malah memperparah emosi Kai. Walaupun begitu, ia terus melanjutkan rencananya di hari pertama ia mengajar. Dia melihat jam tangannya.
“Baiklah. Saya akan serius sekarang. Selama tiga puluh menit ke depan akan kita gunakan untuk sesi perkenalan. Kalau kita selesai lebih cepat, kita langsung belajar.” Yixing melihat Kai sebentar. Laki-laki itu sudah sedikit tenang. ‘Ah, remaja labil.’ Pemikirin Yixing langsung hilang begitu ia mendapati tangan kiri Kai yang digenggam Jeorin di atas meja. ‘Jadi begitu.’
“Nama saya Zhang Yixing.” Lay mengulangi perkenalannya.
“Kalian bisa memanggil saya Mr. Zhang, Mr. Yixing, terserah kalian pilih yang mana. Umur saya dua puluh tiga tahun. Saya seorang pengusaha. Kalau kalian tahu Zhang Corp, saya adalah CEO perusahaan itu sejak dua tahun yang lalu.” Decakan kagum dari seseorang membuat suasana hening di kelas itu hilang. Detik berikutnya, terdengar bisikan-bisikan yang membuat suasana di kelas itu sedikit riuh. Bagaimana tidak? Orang yang berdiri di depan mereka adalah salah satu pemilik perusahaan impor terbesar di dunia. Tapi, tidak semua orang dibuat kagum oleh Yixing. Ada dua orang yang tidak suka padanya. Kai dan Lu Han. ‘Apa dia ingin menyombongkan kekayaannya?’ batin Lu Han kesal. ‘Apa dia ingin bermain-main di sini?’ umpat Kai kesal dalam hati. Ayolah, tidak ada pengusaha yang membuang-buang waktunya di sekolah. Bahkan ayah Kai yang merupakan pemilik sekolah tidak pernah datang ke sekolahnya.
“Dan untuk menjawab pertanyaan laki-laki tampan tadi,” Yixing mengucapkan kata tampan penuh penekanan.
“Saya baru saja mendapatkan gelar dokter dua bulan yang lalu. Anda tidak perlu mengkhawatirkan kemampuan saya untuk menjadi guru kalian. Saya tidak mungkin bisa meraih gelar itu kalau saya tidak bisa menguasai mata pelajaran dasar yang tergabung dalam ilmu sains bukan?” Tepuk tangan terdengar menyambut ucapan Yixing. Pria itu tersenyum puas. Ia tidak berniat memberitahu identitas dirinya sedetail ini. Tapi, si arogan Kai itu memaksanya.
“Apa ada yang ingin kalian tanyakan pada saya?”
“Apa anda sudah punya kekasih Mr. Zhang?” pertanyaan dari seorang siswi di kelasnya membuat Lu Han memutar bola matanya. ‘Dasar perempuan.’
“I’m single.” Jawaban itu membuat sebagian besar siswi di kelas III-A itu cekikikan. Yixing menggelengkan kepalanya. Efek ‘itu’ masih melekat pada dirinya. Semoga seorang siswi yang ia harapkan juga terpesona padanya.
“Baiklah. Siapa ketua kelas di kelas ini?” Baekhyun mengangkat tangannya lalu menurunkannya lagi.
“Sekarang giliran saya untuk mengenal kalian. Kalau kalian punya posisi di kelas ini, sebutkan apa. Dimulai dari,” Lay menunjuk siswa yang duduk si barisan kanan meja paling depan.
“Sebutkan juga cita-cita kalian.” Tambah Lay.
“Nama saya Shin Dongho. Cita-cita saya menjadi aktor.” Lay menganggukkan kepalanya. Ia pernah menonton film yang dibintangi oleh Dongho. Tapi, ia lupa judulnya apa. Sesi perkenalan itu terus berlanjut.
“Nama saya Byun Baek-hyun. Saya ketua kelas di kelas ini. Cita-cita saya,” Baekhyun berhenti. Dia ingin menjadi penyanyi. Tapi karena ia terlahir di keluarga pengusaha dan anak tunggal, dia tidak punya pilihan lain selain meneruskan usaha keluarganya.
“Businessman.”
“Nama saya Kim Joon-myun, bendahara di kelas ini.” Yixing cukup terkejut mendengar itu. ‘Laki-laki menjadi bendahara? Wow. Pria ini pasti sangat pintar mengatur keuangan.’
“Sepertinya kamu akan menjadi businessman yang sukses, Kim Joonmyun-ssi.” Suho membungkukkan tubuhnya sedikit karena pujian Yixing.
“Saya Park Chanyeol, cita-cita saya menjadi seorang entertainer.”
“Lebih spesifik, Mr. Park.” Kata Yixing. Bidang entertainer banyak bukan?
“Apa saja. Yang penting saya bisa menghibur orang.”
“Saya akan memulainya dengan rapper.” Sambung Chanyeol.
“Saya Cho Yeonsa, sekretaris di kelas ini. Cita-cita saya menjadi penyanyi.” Kata gadis itu sambil melirik Chanyeol dan tersenyum. Aksi curi pandang yang dilakukan Chanyeol dan Yeonsa membuat Yixing tersenyum kecil.
“Sepertinya ada beberapa orang yang menjadi pasangan kekasih di kelas ini.” Ujar Yixng. Sesi perkenalan terus berlanjut sampai tiba giliran Jiseul. Guru baru itu melihat Jiseul tertarik.
“Nama saya Choi Jiseul. Cita-cita saya menjadi designer.”
“Designer? Tidak mau melanjutkan usaha keluarga?” pertanyaan Lay otomatis membuat semua perhatian tertuju pada Jiseul. Pasalnya, Lay tidak bertanya pada murid-murid sebelum Jiseul apa alasan dibalik cita-cita mereka.
“Tidak, Pak.” Jawab Jiseul singkat.
“Kenapa kamu ingin menjadi designer?” panggilan Jisel barusan membuat Yixing merasa tua. Tapi Yixing mengabaikannya.
“Karena saya meyukai fashion.” Yixing menganggukkan kepalanya mengerti.
“Kalau begitu, kamu harus menghubungi saya setelah menjadi designer. Pria seperti saya sangat membutuhkan designer pribadi.” Lay tersenyum manis, membuat Lu Han yang duduk di sebelah Jiseul mendengus sebal. ‘Guru itu jelas sekali menggombal dengan Jiseul.’
“Nama saya Lu Han.” Belum sempat Jiseul membalas ucapan gurunya, Lu Han sudah berdiri—membuat Jiseul duduk kembali.
“Cita-cita saya menjadi pengusaha sukses yang melebihi Bapak.” Ucap Lu Han sinis, penuh penekanan di kata bapak. Dia ingin membuat Yixing sadar dengan posisinya sebagai guru mereka.
“Baru kali ini saya bertemu orang Cina yang sangat sopan.” Balas Yixing dengan senyum penuh arti. Ia tahu Lu Han menyindir status gurunya. Dan dia baru sadar kalau sedari tadi Lu Han menatapnya tidak suka.
“Lanjut.” Yixing menghela nafas. ‘Ternyata ada yang lebih labil daripada murid itu.’ Kai adalah murid yang ia maksud. Dua meja sudah selesai dan sekarang giliran Kai.
“Kim Jongin, businessman.” Singkat dan padat. Pria itu bahkan tidak berdiri, membuat Jeorin mendesah berat. Apa yang salah dengan Kai? Pria itu terus melihat Yixing seperti ingin memakannya.
“Maafkan Jongin, Mr. Zhang.” Jeorin berdiri. Perhatian Kai teralihkan pada Jeorin sebentar. ‘Kenapa Jeorin minta maaf? Aku melakukan apa yang guru itu minta.’ Batin Kai kesal. Ya, Kai memang melakukan apa yang Yixing minta, tapi cara ia berbicara tidak benar. Kai melihat Yixing lagi dengan tatapan yang sedikit normal. ‘Ini pasangan yang lain.’ Yixing melihat Kai dan Jeorin bergantian. ‘Hm, aku akan mengerjai bocah ini sedikit.’
“Kalian pacaran.” Dua kata dari Yixing membuat Kai tersenyum miring.
“Terima kasih karena anda tahu, Mr. Zhang. Saya terharu.” Kai menyentuh dadanya dramatis.
“Dia cantik.” Ucap Yixing tanpa melepas tatapannya dari Jeorin, membuat emosi Kai yang sudah sedikit turun naik kembali. Ia sudah menduga ini sejak awal. Kai menarik tangan Jeorin, membuat Jeorin terduduk di kursinya. Dia mentap Yixing tajam.
“Namanya Kang Jeorin. Pacar dari seorang Kim Jongin.”
“Jongin,” desis Jeorin. Ia tidak akan mempermasalahkan ini kalau Kai mengatakannya di depan murid-murid. Tapi kalau di depan guru, sudah pasti Jeorin akan ‘bicara’ dengan Kai nanti.
“Dari tatapan anda, saya sudah tahu anda lelaki seperti apa. Jangan coba-coba mendekati Jeorin.”
“Dan cita-citanya menikah denganku.” Murid-murid di kelas itu bersorak. Kai sangat terkenal dengan PDA-nya, dan rayuannya pada Jeorin tidak perlu diragukan lagi. Yixing tidak bisa berkata. Ia berusaha menahan tawanya. ‘This kid id unbelieveable.’
“Tenang, semuanya.” Setelah kelas kembali tenang, sesi perkenalan kembali dilanjutkan. Saat teman-temannya memperkenalkan diri, Jeorin mengoyak selembar kertas dari buku tulisnya, menulis lalu kertas itu ia letakkan di depan Kai.
“Kau tidak boleh menyentuhku selama lima minggu. Setitik pun tidak boleh.” Begitu isinya.
“Baby,” bisik Kai tidak percaya. Jeorin tidak serius kan? Satu hari saja ia tidak menyentuh Jeorin—sekecil apapun itu—Kai merasa tidak lengkap. Lima minggu tidak menyentuh Jeorin, itu sama saja dengan membunuh Kai secara perlahan. Jangan anggap Kai berlebihan. Kai memang sangat membutuhkan Jeorin. Pria itu mengakuinya. Kai menggerakkan tangannya untuk menyentuh tangan Jeorin yang berada di paha gadis itu, tapi dia dengan cepat meletakkan tangannya di atas meja. Kai menatap Jeorin horor. Kekasihnya serius. ‘Bagaimana ini?’ Kai mendesah berat. Rahangnya mengeras melihat Yixing yang mulai menerangkan pelajaran di depan kelas. ‘Ini semua karena guru gadungan itu. Aku membencinya.’
“Dari penjelasan saya tadi, ada yang tidak kalian mengerti?” Yixing melihat semua muridnya. Sambil menunggu pertanyaan dari murid-muridnya, Yixing melihat lembar kerja siswa yang diberikan oleh kepala sekolah padanya.
“Kalau tidak ada, kerjakan essay test halaman dua belas, nomor satu sampai sepuluh.”
“Anda serius? Sebentar lagi bel istirahat berbunyi.” Yixing menghela nafas. ‘Anak sinis ini lagi.’
“Delapan menit lagi lebih tepatnya.” Sambung Lu Han sambil melihat jam tangannya.
“Saya yakin kamu bisa menyelesaikannya kalau kamu tidak mengeluh. Waktu kamu tujuh menit lagi, Lu Han.” Yixing duduk di kursinya. Dia juga mengerjakan tugas tersebut.
“Tidak sopan.” Lu Han menolehkan kepalanya ke kanan. Jiseul baru saja bicara padanya.
“Gila.” Lu Han kesal. Tidak terima kalau Jiseul bicara dengannya saat ia mengatakan hal-hal yang negatif saja. Lu Han pun mulai mengerjakan tugasnya. Satu menit sebelum bel isatirahat berbunyi, semua lembar kerja siswa sudah terkumpul di menja Yixing.
“Ada yang mau membantu saya membawa buku-buku ini ke kantor saya?” Balasan yang didominasi oleh perempuan itu membuat Yixing tersenyum. Sayangnya, gadis yang ia harapkan tidak ikut menawarkan diri. Baekhyun mendesah berat. Ada saat di mana ia tidak suka memiliki guru yang tampan dan muda. Sekarang contohnya. Dan dia harus turun tangan disaat seperti ini.
“Choi Jiseul,” Niat Baekhyun yang hendak mengangkat tangannya terhenti karena Yixing memilih Jiseul. Ia yakin tidak mendengar Jiseul menawarkan diri untuk membantu guru mereka. Baekhyun menggelengkan kepalanya pelan—membuang pikiran buruk yang melintas di kepalanya.
“Tolong bantu saya membawa buku-buku ini.” Sedikit sulit bagi Jiseul untuk keluar dari mejanya. Lu Han tidak mau bergerak sedikit pun. ‘Dari sekian banyak siswi, kenapa dia memilih Jiseul?’ Ingatan Lu Han kembali ke tadi pagi. ‘Jangan bilang,’ Lu Han melihat Jiseul yang sudah berdiri di samping Yixing.
“Kalian boleh istirahat. Semoda hari kalian menyenangkan” Yixing keluar dari kelas diikuti oleh Jiseul. Lu Han belum bergerak dari duduknya. Ia masih memproses apa yang baru saja ia lihat. Jiseul tidak menyukai guru barunya kan?
—————————
“Aku benci si Xing-xing itu.” Rutuk Kai lalu meminum minuman milik Baekhyun.
“Hei!” Baekhyun bersuara tidak terima.
“Yuch.. Minuman apa ini?” Kai mengernyitkan hidungnya—tidak menyukai rasa dan aroma minuman itu. Ia meletakkan kembali minuman berwarna keorangean itu di depan Baekhyun lalu duduk di sebelah Lu Han. Di ruangan itu hanya ada Baekhyun, Sehun, dan Lu Han.
“Seriously, Baek! Kau mengambil minuman seperti itu di kafetaria sekolah kita yang sekelas dengan restoran hotel berbintang lima?” Baekhyun memutar bola matanya.
“Jus ini bagus untuk mata. Aku merekomendasikan jus ini pada kepala chef di kafetaria kita.”
“Pantas kau tahan memutar-mutar matamu seperti tadi.” Baekhyun mendelik pada Kai.
“Sudah berhasil membujuk Jeorin?” tanya Lu Han. Ia sudah tahu jawabannya dari cara Kai masuk ke dalam ruangan mereka.
“Belum. Dia serius dengan kata-katanya.” Balas Kai lemah.
“Siapa yang tidak marah kalau ada orang yang mengatakan cita-citanya adalah menikah denganmu.” Kai menatap Baekhyun kesal.
“Jeorin tidak pernah marah sebelumnya.”
“Itu karena kau tidak mengucapkannya di depan guru.” Sehun bersuara.
“Whatever. Dia bukan guru kita.” Sahut Kai keras kepala.
“Kenapa si Xing-xing itu tidak merayu gadis lain? Yeonsa, Jiseul, Minyoung—“
“Hei!!” protes Baekhyun dan Sehun bersamaan.
“Siapa saja asal bukan Jeorinku.” Kai berkata seolah ia tidak mepedulikan Baekhyun dan Sehun. Dan dua temannya itu mengabaikan Kai. Mereka mengerti Kai sedang kesal.
“Aku kira Yixing sedang merayu Jiseul sekarang.” Lu Han menatap Baekhyun serius. Ingin tahu seperti apa reaksi Baekhyun.
“Mereka saling kenal. Aku melihat mereka berjalan bersama pagi ini.” Lanjutnya. Ekspresi Baekhyun yang seperti menahan emosi membuat Lu Han tidak tenang. Dia baru mengakui pada dirinya sendiri kalau dia menyukai Jiseul. Usahanya untuk mendekati Jiseul tidak akan berjalan lancar kalau saingannya adalah Baekhyun. Pria itu lebih suci daripada Lu Han. Baekhyun pria yang baik.
“Benarkah? Bagus kalau begitu.” Ujar Kai lega. ‘Apa benar seperti itu?’ Pikir Baekhyun. ‘Tidak mungkin Mr. Zhang mendekati Jiseul. Dia pasti tahu kalau hubungan guru-murid sangat dilarang.’ Baekhyun meyakinkan dirinya. Ya, itu tidak mungkin.

—————————
“Letakkan saja di meja itu, Jiseul.”ucap Lay sambil menutup pintu kantornya. Ia berjalan mendekati Jiseul yang berada di depan meja kerjanya lalu meletakkan sebagian lembar kerja siswa yang ia bawa.
“Saya tidak tahu kalau anda adalah guru di sekolah ini, Mr. Zhang. Kalau saya tahu, saya pasti tidak memanggil anda dengan nama panggilan anda.” Lay tersenyum.
“Apa kamu terkejut?” Jiseul mengangguk.
“Saya pikir anda adalah murid baru. Anda tidak terlihat seperti guru.”
“Aku sengaja tidak memberitahumu.” Lay tampak berpikir.
“Kalau dipikir-pikir, kamu juga tidak bertanya apa statusku di sekolah ini.”
“Maafkan saya Mr. Zhang.” Lay menggelengkan kepalanya. Apa Jiseul tidak tertarik padanya? Lay sama sekali tidak bisa membaca Jiseul.
“Tidak apa-apa. Dan kamu tidak usah formal padaku kalau kita hanya berdua seperti ini.”
“Tapi,”
“Aku rasa kau akan tetap memanggilku Lay kalau kau tidak tahu aku adalah gurumu. Benar kan?”
“Kalau kita hanya berdua, Jiseul.” Ucap Lay lembut. Tapi gadis itu masih belum meresponnya.
“Baiklah.” Jiseul tersenyum, membuat Lay juga tersenyum.
“Kalau begitu aku pulang, Lay.”
“Tunggu,” Lay memegang tangan Jiseul. Gadis itu menatapnya. Lay tidak bisa mengalihkan pandangannya dari manik cokelat Jiseul.
“A-apa Sabtu ini kau sibuk?” Perlahan Lay melepaskan genggamannya. Sentuhan yang sebentar itu bisa membuat Lay merasakan kupu-kupu menggelitiki perutnya seperti yang dikatakan orang-orang yang sedang jatuh cinta.
“Tidak bisa dikatakan sibuk. Tapi aku punya rencana.” Jawab Jiseul setelah berpikir.
“Kenapa?”
“Apa kau mau menemaniku belanja di Apgeujong?” Lay merutuki dirinya. Ia terdengar seperti anak SMA yang mengajak gadis yang ia sukai kencan. Alasan yang konyol. Seoul sudah seperti rumah bagi Lay. Ia menuntut ilmu di negara yang dijuluki sebagai negara ginseng itu. Jiseul mengangguk.
“Aku pulang, Lay. Sampai jumpa.” Lay membuang nafasnya kasar setelah pintu kantornya tertutup. Ia tidak yakin Jiseul tertarik padanya. Pengalamannya dengan banyak wanita hilang begitu saja saat ia berhadapan dengan Jiseul. Ia tdak bisa memikirkan kata-kata rayuan untuk Jiseul. ‘Apa aku pernah begini sebelumnya?’
—————————–
Jiseul menata kamar barunya yang berada di lantai dua setelah selesai makan. Ia tidak perlu memasak karena makanannya sudah tersedia. Selama ia tinggal di rumah barunya, ia sudah bertemu dengan lima orang yang berstatus sebagai pembantu rumah tangganya. Tapi sayang, tak satu pun dari mereka yang tinggal di rumahnya. Yang sudah pasti perintah dari ibu mertuanya. Mereka akan kembali ke rumah besar—kediaman keluarga Lu—tepat jam lima sore. Jiseul berencana untuk meminta pada mertuanya agar mereka tinggal di rumahnya dan Lu Han saja. Rumah yang dihadiahi mertuanya terlalu besar untuk mereka.
Jiseul melihat meja belajarnya puas. Semua sudah tersusun dengan rapi. Ia tersenyum melihat buku designnya. Mulai sekarang ia akan bebas menggambar di kamarnya. Sejak ia menikah dan sekamar dengan Lu Han, ia tidak bisa menggambar satu rancangan pun. Ide itu tidak pernah datang. Pandangannya teralihkan pada buku bersampul Mickey Mouse dan Minnie Mouse yang berada tak jauh dari buku designnya. Diarynya. Buku yang menjadi tempat ia mencurahkan isi hati dan kejadian yang ia alami selama sepuluh tahun ini. Tentu saja ia tidak menulis setiap hari. Ia hnaya menulis saat ia mengalami kejadian yang menurutnya penting atau saat ia sedang senang, sedih, dan kesal. Ia berhenti menulis sejak ia menikah dengan Lu Han. Dan ia belum berencana untuk menulis. Hatinya masih bisa menyimpan emosi yang ia alami beberapa hari ini. Jiseul menyimpan diarinya di laci meja belajarnya. Suara bel rumahnya terdengar tepat setelah ia menutup lacinya. Jiseul melihat kamarnya sebentar sebelum ia keluar dari ruangan itu. Dengan cepat ia menuruni tangga mengingat ia hanya sendirian di rumah.
“Menantuku!” Sapaan itu menyambutnya setelah pintu rumah terbuka. Nyonya Lu memeluknya erat.
Eo-eomonim,” Jiseul terkejut karena kunjungan tidak terduga mertuanya. Mungkin reaksinya akan sedikit berbeda kalau ibu mertuanya memberitahukan kunjungannya.
“Akhirnya Mama bisa mengunjungi kalian.” Nyonya Lu melepas pelukannya. Jiseul tersenyum kikuk. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa.
“Di mana Lu Han?” Jiseul membulatkan matanya. Ia merutuk dalam hati. Pria itu selalu pulang larut malam.
“Dia masih di sekolah, M-mama.” Nyonya Lu tersenyum mendengar panggilan Jiseul.
“Kamu bebas memanggil ibu dengan bahasa Mandarin atau Korea, sayang. Tidak apa-apa. Ibu juga sepertimu dulu. Tapi kamu juga harus tahu sedikit bahasa Mandarin untuk menghormati keluarga suamimu. Ibu akan menyuruh Lu Han untuk mengajarimu.” Jiseul tersenyum kecil. Ia tahu beberapa kata dalam bahasa Mandarin—mengingat mantan kekasihnya juga berdarah Cina.
“Silahkan masuk, Ma.” Mereka masuk ke dalam rumah.
“Mama mau minum apa?” tanya Jiseul begitu Nyonya Lu duduk di sofa.
“Tidak usah repot-repot, sayang. Mama mau mengobrol denganmu dulu.” Nyonya Lu menepuk tempat kosong di sebelah kirinya. Jantung Jiseul berdetak kencang. Ia gugup. Apa yang akan dibicarakan mertuanya?
“Apa Lu Han pernah pulang larut malam?”
“Tidak, eommonim. Lu Han selalu pulang tepat waktu. Paling lama ia pulang pukul sembilan malam. Itupun karena ia kerja kelompok atau berkumpul dengan teman-temannya.” Jawab Jiseul tenang. Dan ia menyelamati dirinya karena ia bisa berbohong setenang itu. Jangan beranggapan kalau Jiseul suka berbohong. Ia hanya ingin menyelamatkan dirinya, dan Lu Han mungkin. Nyonya Lu melihat Jiseul dengan alis menyatu.
“Benarkah? Ini kabar bagus.” Ia tahu kalau suaminya sudah berbicara pada Jiseul tentang kebiasaan Lu Han dan ia tidak berniat menutupi keburukan Lu Han. Nyonya Lu menggenggam tangan Jiseul—mengabaikan tangan Jiseul yang berkeringat. Ia tahu gadis itu bohong. Tidak mungkin anaknya berubah secepat itu.
“Eomma sangat berharap padamu, nak.” Jiseul menatap ibu mertuanya bingung.
“Lu Han, dia berubah sejak kami pindah ke Korea untuk yang kedua kalinya.” Nyonya Lu terdiam sebentar. Lu Han juga berubah setelah mereka pindah ke Cina saat anak itu berumur tujuh tahun. Putranya yang cerewet itu berubah menjadi pendiam. Nyonya Lu pikir, setelah mereka pindah ke Korea, Lu Han akan kembali menjadi anak yang ceria dan banyak bicara lagi. Hali itu memang terwujud tapi dibarengi dengan hal negatif. Anaknya berubah menjadi playboy, sangat pintar merayu perempuan.
“Kelakuannya memang sedikit buruk tapi kau akan tahu Lu Han anak yang baik kalau kau mencoba mengenalnya lebih dalam. Eomma mengatakan ini bukan karena dia anak eomma. Tapi kenyataannya memang seperti itu. Melihat dirimu, entah kenapa eomma yakin kau bisa membuat Lu Han kembali seperti dulu.”
“Eommonim,”
“Kau tahu? Lu Han menolak lima gadis yang kami jodohkan dengannya sebelum dirimu.” Jiseul membulatkan matanya. Ia baru mengetahui fakta ini.
“Maukah kau berjanji pada Mama untuk selalu berada di samping Lu Han apapun yang terjadi?”
“Aku tidak bisa, eommonim.” Jawab Jiseul cepat. Kekecewaan tergambar jelas di wajah Nyonya Lu. Ia tidak menyangka Jiseul akan menolaknya permohonannya.
“Kenapa?”
“Aku tidak mungkin bertahan di samping Lu Han kalau dia sudah menemukan kebahagiaannya yang sesungguhnya. Aku yakin dia pasti meninggalkanku—pernikahan ini.” Wajah Nyonya Lu menjadi sendu mendengar jawaban Jiseul. Ada perasaan bersalah dalam dirinya karena keluarganya sudah menarik wanita sebaik Jiseul untuk tinggal—menikah dengan Lu Han. Ia tidak tahu apa yang dilakukan putranya sampai-sampai Jiseul berkata seperti itu. Karena itu ia datang ke rumah anaknya, melihat perkembangan hubungan Lu Han dan Jiseul.
“Jiseul,” Nyonya Lu ingin meyakinkan Jiseul. Ia sangat menyukai gadis itu sebagai menantunya walaupun baru beberapa hari Jiseul menjadi menantunya.
“Pernikahan kami tidak didasari pondasi yang kuat, eomma. Dan kami masih muda. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok, eommonim.” Jiseul menarik tangannya dari genggaman Nyonya Lu.
“Mungkin aku yang lebih dulu menemukan kebahagiaanku.” Jiseul menggenggam tangan ibu mertuanya. Ia tersenyum. Ia sangat menyukai Nyonya Lu. Semoga ibu mertuanya kelak seperti Nyonnya Lu.
“Aku yakin Lu Han akan kembali seperti dulu dengan atau tanpaku di sampingnya.”

 

—————————

 

 

Aroma masakan yang menguar di dalam rumahnya menggoda indra penciuman Lu Han. Pria yang baru keluar dari kamarnya itu langsung berjalan menuju dapur. Hari ini memang hari yang buruk buat Lu Han, tapi karena itu ia jadi tidak ketahuan oleh ibunya kalau ia masih sering pulang malam—ia juga terkejut seperti Jiseul melihat ibunya berkunjung ke rumahnya. Kekesalannya membuat ia tidak berniat ke manapun selain pulang ke rumah. Dan setelah dipikir-pikir, Lu Han punya banyak kesempatan ‘mengganggu’ Jiseul jika berada di rumah. Lu Han berhenti di ambang pintu, menyandarkan tubuhnya di dinding sambil mengamati tubuh bagian belakang Jiseul. Merasa cukup, pria itu memutuskan mendekati Jiseul. ‘Tinggi kami akan sama kalau dia memakai heels setinggi delapan sentimeter.’ Jiseul masih belum menyadari keberadaan Lu Han yang sangat dekat di belakangnya. Lu Han merutuki dirinya yang selama ini gengsi mengakui kalau Jiseul sempurna—walaupun ia tahu tidak ada manusia yang sempurna. Secara fisik, Jiseul adalah tipe ideal wanitanya. Wajahnya cantik, matanya tidak terlalu sipit, hidungnya mancung, bibirnya berwarna pink dan tipis, ia ingin mencium bibir tipis itu lagi. Gadis itu tidak pendek dan tidak terlalu tinggi—Lu Han tidak pernah mengencani wanita yang lebih tinggi darinya walaupun wanita itu sangat cantik. Dan kalau sifat, ia yakin Jiseul gadis baik-baik karena gadis itu sama sekali tidak tertarik padanya. Jiseul bahkan enggan berada di dekatnya.
Chu~
Lu Han mengecup pipi kanan Jiseul, membuat gadis itu terlonjak kaget. Ekspresi Jiseul berubah menjadi datar begitu melihat cengiran Lu Han.
“Kau sedang memasak apa?” tanya Lu Han walaupun ia tahu apa yang Jiseul masak. Ibunya meminta gadis itu untuk memasak samgyetang.
“Istriku, suamimu ini bertanya padamu. Dijawab dong.”jiseul melirik Lu Han. ‘Ada apa dengan orang ini?’
“Ada yang bisa aku bantu?” Lu Han mengambil pisau dan bawang yang ada di konter dapur. Jiseul menghela nafas. Ia menahan tangan Lu Han yang hendak mengiris.
“Hentikan, Lu Han. Aku sudah hampir selesai.” Lu Han melepas pisau dan bawang yang ia pegang. Ia mundur satu langkah. Jiseul mengabaikan Lu Han yang terus mengamatinya. Ia hanya fokus pada samgyetang yang diinginkan mertuanya. Tapi ia tidak mungkin bisa fokus kalau ada Lu Han yang berencana mengganggunya. Matanya terbelalak saat merasakan sepasang tangan yang melingkar di pinggangnya. Alarm waspada Jiseul menyala. Apa Lu Han mau mengerjainya lagi?
“Kau wangi.” Bisik Lu Han di telinga Jiseul.
“Apa yang kau lakukan?”
“Menyemangatimu membuat samgyetang?” nada Lu Han bertanya. Ia memberi kecupan-kecupan ringan di leher Jiseul.
“Eomma sedang mengawasi kita.” Bisik Lu Han lagi. Itu benar. Sebelum Lu Han masuk ke dalam dapur, ia bisa mendengar bunyi heels yang sangat pelan tak jauh di belakangnya.
“Bohong.” Balas Jiseul. Ia tidak nyaman dengan posisinya dan Lu Han saat ini.
“Kalau kau tidak percaya, kau bisa mengeceknya. Eomma sedang bersembunyi di balik dinding sekarang.” Jiseul mematikan kompor lalu berbalik menghadap Lu Han. Lama Jiseul menatap Lu Han curiga sebelum ia bersuara.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Jiseul pelan. Hanya di depan keluarganya mereka bisa bekerja sama seperti ini. Lu Han mengamati wajah Jiseul. Manik cokelat Jiseul seperit menarik Lu Han pada gadis itu. Kenapa ia merasa familiar dengan mata indah itu? Perlahan Lu Han mendekatkan wajahnya ke wajah Jiseul. Kepanikan jelas tergambar di wajah Jiseul.
“Lu Han, apa yang—“ suara Jiseul hilang begitu Lu Han membungkam bibirnya. Jiseul berpegangan erat pada konter dapur karena Lu Han semakin mendorong tubuhnya pada Jiseul. Mata Jiseul bergerak gelisah dan disaat itu ia mendapati kepala ibu mertuanya meyembul dari balik dinding. Ternyata Lu Han benar. Bibir Lu Han bergerak pelan mengulum bibir Jiseul. Sadar Lu Han tidak akan berhenti dalam waktu dekat, Jiseul mendorong tubuh Lu Han lalu memeluk pria itu. Terkejut, Lu Han tahu Jiseul bukan tipe gadis yang mengambil tindakan lebih dulu dalam hal skinship.
“Apa kau harus melakukan itu?” bisik Jiseul di telinga Lu Han, membuat tubuh pria itu meremang. Lu Han berusaha mengabaikan sensasi itu.
“Aku yakin ciuman kita bisa meyakinkan Mama kalau kita pasangan yang romantis.” Cara Lu Han salah. Mana ada dua orang asing yang langsung romantis hanya salam waktu tiga hari? Jiseul mengabaikan komentar Lu Han.
“Aku masih tidak percaya kalau kau seorang player, Lu Han.” Lu Han mendapati kekecwewaan di suara Jiseul yang sangat pelan. Jiseul mendesah berat. Pria itu bingung. Kenapa Jiseul berkata seperti itu? Dari semua tindakan dan ucapan Jiseul, tidak pernah sekalipun dia menunjukkan kepedulian pada Lu Han. Apa maksud ucapan Jiseul? Lu Han merasakan kefamiliaran itu lagi. Lu Han tidak merasa asing dengan cara Jiseul mengusap rambutnya. Jantung Lu Han berdetak kencang. Ia seperti mendengar bisikan nama panggilannya tadi.
“Aku akan memanggil eomma untuk makan malam.” Jiseul melepas pelukannya membuat Lu Han merasa kehilangan kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan. Dia terus melihat Jiseul sampai gadis itu hilang dari pandangannya.
“Apa yang baru saja terjadi?” Lu Han menyentuh dada kirinya. ‘Perasaan ini, aku hanya sekali pernah merasakannya.’ Pikir Lu Han. ‘Dan itu sudah lama.’
“Jiseul,”
TBC….

Ada yang menduga kalau Lay jadi guru? Leave your comments guys.

88 thoughts on “Nice Guy (Chapter 6)

  1. Ping-balik: Nice Guy (Chapter 10) | EXO Fanfiction World

  2. Ping-balik: Nice Guy (Chapter 9) | EXO Fanfiction World

  3. Cie luhan jatuh cinta wqwqwq mungkin jiseul masa lalunya kali yaaa suka suka sukaaaa banget kalo ada moment jiseul luhan sering2 aja orgtua mereka dateng terus nginep biar tmbh byk momentnya kkk~ yah lay beneran suka deh sama jiseul ._.

  4. Maaf sebelumnya^^ saya uda komen 2 chapter (chapter 5 & 6) di WP pribadinya author v kenapa gak bisa ya? Uda saya ulang berkali”. Saya komennya disini aja gapapa kan ya?

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s