The Smartass Project 5

smartass

The Smartass Project
Baekhyun, Chanyeol, Kyungsoo || Comedy, Friendship, Sliceoflife, Schoollife || G
Foreword:
Bagaimana jadinya jika kau mengerjakan tugas kelompok dengan ketiga siswa terpintar di sekolahmu? Apa kau akan bahagia? Mungkin tidak!

Index:
Prolog//I//II//III/IV

ilachan@2015


Aku langsung terbatuk keras ketika merasakan cairan kental menggelitik tenggorokan. Dengan malas aku meraih tisu terahir yang bisa aku dapatkan, lantas membuang ingus yang menyumbat hidungku keras-keras. Beberapa orang di sekitarku membuat pandangan setengah jijik dan kasihan, tapi aku tak peduli. Di situ aku terus saja menunduk, diam-diam terisak di bangku halte paling ujung.

Aku tak menyangka kalau perdebatan yang baru saja terjadi dengan Baekhyun membuatku berakhir menyedihkan. Tak seorangpun yang bisa membuatku menangis kecuali ketika orang tuaku memarahiku dan ketika kucing kesayanganku mati. Ketika menonton drama yang bagi Jieun adalah drama sedih yang paling menyedihkan baginya, aku juga tak sampai berakhir tersedu-sedu kecuali merasa iba dengan nasib buruk yang menimpa tokoh utama. Bahkan ketika mantan kekasihku memutuskanku, dia juga tak berhasil membuatku menangis. Disitu dia justru malah kesal kepadaku karena aku tak mendengarkan kata-kata perpisahannya sampai selesai. Ya, aku adalah orang yang sulit menangis.

Tapi hari ini, aku dibuat terkejut oleh diriku sendiri. Bagaimana bisa aku menangis hanya karena mendengarkan kata-kata jahat Baekhyun menusuk telingaku? Apa istimewanya para smartass itu sehingga mereka pantas untuk aku keluhkan?

Setelah aku pikir kembali, bukan hanya kata-kata jahat Baekhyun saja yang berhasil membuatku sedih. Tapi juga tentang nasib buruk yang baru saja terjadi padaku. Aku keluar dari kelompok sastra. Adakah yang lebih menyedihkan dari pada itu? Sastra adalah subjek ku yang paling payah. Aku adalah siswa yang menempati peringkat nilai terakhir dalam ulangan bahasa dan sastra. Dan benar apa yang telah Kyungsoo katakan, kalau sampai aku tak bisa memperbaiki nilai sastraku di dalam projek sastra ini, maka bisa di pastikan aku akan tersungkur di peringkat akhir semester ini. Dan lagi-lagi, aku akan menjadi si juru kuncu kelas unggulan dua semester berturut-turut. Ini rekor yang tidak membanggakan.

Dengan kata lain, projek sastra ini adalah kesempatan emasku untuk memperbaiki nilai. Apalagi dengan memiliki teman-teman kelompok yang super jenius sudah cukup kujadikan tangga menuju kemenangan. Orang lain kira punya teman kerja kelompok semacam smartass sama halnya dengan mendapatkan jackpot dalam bermain lotre. Tapi nyatanya tidak sama sekali. Menghadapi tiga siswa terpintar di sekolahku ternyata lebih susah ketimbang menghadapi tiga siswa teridiot di sekolah.

Dan itulah dia alasan kenapa aku berakhir terisak di bangku halte paling ujung. Aku sudah menyerah menghadapi mereka bertiga. Bahkan aku rela keluar dari kelompok sastra dan merelakan ranking terakhir kelas unggulan aku ambil.

Ya, kini aku menyadari bahwa bukan hanya kata-kata tajam Baekhyun saja yang membuatku sedih. Tapi nasib tugas sastra milikku juga ikut menghancurkan hatiku berkali-kali lipat.

Oh, betapa buruknya nasibku tahun ini. Dosa apa yang telah aku lakukan tahun lalu sehingga aku mendapatkan karma mengerikan seperti ini? Dan apa yang akan aku katakan kepada orang tuaku kalau aku lagi-lagi menempati ranking terakhir di kelas?

Matilah aku.

Aku menenggelamkan wajahku kedalam kedua telapak tanganku dan kembali menagis tersedu-sedu. Bahkan rasanya kini aku menangis lebih keras dari pada sebelumnya. Aku pasti terlihat amat menyedihkan. Tapi yang paling aku herankan dengan diriku sendiri adalah kali ini benar-benar tidak peduli. Aku yakin beberapa orang yang sedang ada di halte yang sama denganku pasti berpikir aneh-eneh tentangku. Mungkin mereka berpikir bahwa aku menangis karena baru saja putus dari seorang kekasih? Atau mungkin mereka mengira aku menangis karena lapar dan tak punya uang?

Ah, apapun yang sekarang mereka pikirkan, yang jelas aku benar-benar tak acuh karena diriku sendiri sedang susah mengatur pikiran yang banyak berkelumit di benakku. Seseorang harus menolongku dan nama pertama yang muncul dalam otakku adalah Jieun.

Dengan jari bergetar dan hidung yang masih aku sumbat dengan tisu, aku mencoba menghubungi Jieun dan berharap gadis ini mau menolong atau paling tidak memberikan solusi dari masalahku.

Halo?” Jieun mengangkat telfon ku pada dering ketiga yang langsung membuat diriku terlonjak di tempat duduk, antusiasku kembali muncul.

“Jieun-ah! Tolonglah aku, aku butuh bantuanmu.”

“Apa? Ada apa? Apa yang terjadi? Kau sekarang ada di mana?”

“Aku sekarang ada di luar.”

“Di luar? Kau belum pulang? Hari sudah hampir gelap.”

“Aku tahu. Ini aku mau pulang.”

“Apa aku perlu menjemputmu?”

“Tidak, bukan itu yang aku inginkan.” kataku buru-buru, “Dengar, aku ingin mengatakan sesuatu tapi berjanjilan padaku untuk tidak marah.”

“Memangnya apa?” kata Jieun terdengar curiga, “Kau tidak sedang melakukan suatu kesalahan bukan?”

“Iya–tidak. Tidak. Maksudku tidak.”

“Apa itu?” tuntu Jieun.

“Tapi kau harus berjanji agar tidak marah dan mau menolongku.”

Aku bisa mendengar Jieun berdecak tak sabar sebelum akhirnya berkata, “Baiklah, aku akan menolongmu.”

“Oke,”  aku membuang nafasku berlahan kemudian berkata, “Aku baru saja keluar dari kelompok smartass.”

“KAU APAAA?!!”

Timing ku tepat sekali. Aku langsung menjauhkan ponsel dari lubang telingaku ketika Jieun berteriak kencang dari seberang telfon.

“APA KAU SUDAH GILA?”

Aku kembali menjauhkan ponsel dari telingaku.

“Kalau kau berani keluar dari kelompok itu, maka riwayatmu akan tamat!”

“Aku tahu Jieun,” kataku kembali mengeluh, “Maka dari itu maukah kau membantuku mengerjakan projek sastra kali ini? Aku akan mengerjakan projek ini sendirian dan ku harap kau bisa sedikit membantuku.”

“APA KAU SINTING?”

Kini aku terlambat menjauhkan posel. Teriakan Jieun kali ini tak terduga bahkan membuat telingaku berdenging. Dan apa yang baru saja dia katakan? Dia tadi menyebutku gila dan sekarang dia baru saja menyebutku sinting? Jiuen sepertinya sedang benar-benar kesal.

“Projek sastra kali ini lebih susah dari pada biasa ya. Kau tidak akan selesai mengerjakannya dalam kurun waktu kurang dari tiga hari. APA LAGI KAU MENGERJAKANNYA SENDIRIAN!”

“Tapi aku ingin kau membantuku Ji–“

“Maaf saja, tapi kali ini aku tidak mau membantumu. Tugas sastra milik kelompokku sendiri juga belum selesai padahal kita sudah mengerjakan selama lima hari dan kami berempat mengerjakannya bersama sama. Itu berarti, kau tidak akan bisa menyelesaikannya dalam waktu kurang dari tiga hari seorang diri!”

Aku memijat tulang hidungku, menyusul perkataan Jieun. Tiba-tiba saja kepalaku pusing dan pandanganku berubah tidak terfokus. Sial, aku benar-benar celaka kali ini. Parahnya lagi Jieun tidak bisa membantuku karena tugasnya sendiri belum selesai. Kalau kelompok Jieun saja dalam lima hari belum selesai mengerjakan, lantas bagaimana dengan nasip ku?

Lagi-lagi aku harus mengakui kehebatan para smartass. Mereka berhasil mengerjakan projek itu selama kurang dari tiga hari dan itupun diriku tidak termasuk hitungan. Memang aku ikut mengerjakan projek ini, tapi sebagian besar isi tugas Baekhyun lah yang bertanggung jawab. Chanyeol menambahkan beberapa materi, Kyungsoo yang mengoreksi. Sedangkan aku? Kalau di pikir-pikir tugasku hanyalah merapikan laporan dan membenarkan beberapa kata yang salah eja. Aku benar-benar tidak berguna, dan benar apa yang Baekhyun katakan. Sebenarnya mereka tidak membutuhkanku.

“Jieun, kau benar, ” kataku, merasa kalah, “Aku memang benar-benar tidak berguna.”

“Ya! Apa yang telah kau katakan. Siapa bilang kau tidak berguna?”

“Baekhyun.” kataku lirih.

“Apa? Berani-beraninya dia berkata semacam itu ke–“

“Tapi apa yang dia katakan benar!” seruku, memotong kalimat Jieun, “Aku benar-benar tidak berguna. Aku sama sekali tidak dibutuhkan dalam kelompok mereka. Bahkan Baekhyun sendiri yang bilang itu kepadaku. Apa kau ingin lain?”

“Hey, tak seharusnya kau…”

“Itulah alasan kenapa aku keluar dari kelompok sastra mereka Jieun-ah. Karena aku tidak berguna.”

“Tapi kau– Kau tidak bisa seperti ini– Kau–,” Jieun kehilangan kata-katanya, jelas terkejut dan bingung dengan berita yang aku sampaikan.

“Kalau kau tidak bisa membantuku, aku akan mengerjakan tugas ini sendiri Jieun, maaf telah mengganggu.”

“Hey! Kenapa kau ta–“

Tut.

Aku memotong sambungan telfonnya lalu menghela nafas panjang. Kini aku baru menyadari bahwa halte bis yang tadi berisi beberapa orang kini kosong dan hanya meninggalkan aku. Rupanya bis sudah datang ketika aku sibuk berbicara kepada Jieun.

Aku bergerak dari tempat dudukku, sedikit menggerakkan persendianku, lantas bangkit menuju papan pengumuman halte. Aku melihat jadwal bis dan mencocokkan dengan jam di ponselku. Bis yang aku tumpangi akan datang sekitar tujuh menit lagi, dan langit sudah berubah menjadi jingga. Sepertinya aku punya waktu yang cukup di perjalanan hingga sampai di rumah sebelum jam tujuh malam.

Tanpa alasan aku mulai membaca kertas-kertas lain yang menempel di papan pengumuman halte. Sebagian diantaranya adalah pengumuman anak anjing yang hilang, kertas sisa kampanye, dan sebagian besar lainnya adalah iklan. Ada salah satu poster besar yang di dominasi warna biru tua terpampang jelas, sukses mencuri perhatianku. Itu adalah iklan pertunjukan musik klasik yang akan diselenggarakan pada hari sabtu di Concert Hall Seoul Arts Center. Pertunjukan musik itu menampilkan beberapa musisi musik klasik kelas dunia semacam Vanessa Mae dan teman-temannya. Selain itu, di bawahnya ada banyak sekali nama-nama musisi klasik dari dalam negeri yang ikut dalam permainan solo maupun orkestra.

Iseng, aku membaca daftar nama musisi itu. Beberapa namanya terdengar seperti nama tetanggaku, nama teman SMP dulu dan nama teman sekelas ku. Seperti Choi In ha, Yoon Ahn Reum, Baek Eun Jo, Byun Baekhyun, Byun– mataku berkedip beberapa kali dan mencoba membaca kembali nama itu.

Byun Baekhyun? Namanya seperti nama salah satu anggota smartass yang paling congkak. Ngomong-ngomong soal musik klasik, Baekhyun si smartass juga bisa memainkan alat musik seperti piano, biola, dan…

Tunggu sebentar!

Apakah Byun Baekhyun yang mereka maksud adalah Byun Baekhyun yang tadi sempat bertengkar denganku? Byun Baekhyun yang benar-benar aku kenal? Byun Baekhyun yang itu?

Whoa.

Aku terkagum dengan apa yang baru saja aku temukan. Kakiku terasa lemas dan tanpa berlama-lama lagi aku kembali duduk. Sungguh, aku tak menyangka kalau akan menemukan hal yang sangat mengejutkan ditempat seperti ini. Lalu tiba-tiba saja aku berlagak menjadi seorang detektif yang mencoba menggabungkan satu persatu barang bukti untuk mengungkap suatu kasus.

Pertama dan yang paling utama, Kyungsoo bilang bahwa Baekhyun berkeinginan untuk melanjutkan studi di jurusan hukum padahal dia punya bakat luar biasa di bidang musik. Fakta yang mengejutkan ini cukup menggangguku karena sama sekali terdengar tak masuk akal. Kalau saja Baekhyun punya bakat bermain musik, lantas kenapa dia harus meninggalkan hobi-nya yang berharga untuk mengejar hal lain? Dugaan pertama adalah keluarga Byun memaksa anak-anak mereka mengikuti jejak keduanya. Lihat saja profesi keluarganya. Ayahnya advokator yang bekerja dibawah salah satu badan pemerintah,  ibunya seorang dekan, dan kakaknya seorang pengacara. Mereka adalah keluarga pejabat dan sepertinya anggota terakhir Byun harus menjadi seperti mereka.

Kedua, Kyungsoo pernah berkata bahwa Baekhyun adalah salah satu diantara mereka yang paling sibuk. Dia sering pergi terburu-buru yang Kyungsoo kira akan pergi menghadiri les musik. Sedangkan Chanyeol, berkata bahwa Baekhyun tidak lagi mengikuti les musik selama satu tahun terakhir. Pernyataan mereka berdua berbanding terbalik dan aku yakin salah satu diantara mereka ada yang keliru. Atau mungkin, Baekhyun membohongi salah satu dari mereka?

Ketiga, jika nama Byun Baekhyun yang tercantum pada poster konser musik yang baru saja ku baca adalah nama dari Byun Baekhyun yang aku kenal, maka potongan puzzle yang kosong akan menjadi lengkap. Dengan ini, potongan-potongan informasi sumbang yang aku ketahui kini saling berhubungan dan tampak masuk akal.

Keluarga Byun sepertinya memang tak sepakat kalau anak bungsu mereka menjadi seorang musisi. Mereka sepertinya melarang Baekhyun mengikuti les musik, dan akhirnya Baekhyun menghadiri les musik secara diam-diam? Itulah yang aku duga ketika Chanyeol dan Kyungsoo memberikan pernyataan berbeda tentang Baekhyun. Atau mungkin Baekhyun sebenarnya memang sudah tidak lagi menghadiri les musik seperti apa yang dikatakan Chanyeol? Dia belakangan ini sibuk mungkin karena mempersiapkan diri latihan konser musik yang dia ikuti secara diam-diam?

Aha!

Bagaimana kalau memang Baekhyun mengikuti les musik secara diam-diam lalu sepakat kepada guru les atau semacamnya untuk berpartisipasi dalam konser musik klasik?

Whoa, itu bisa saja terjadi. Dan mungkin itulah alasan kenapa Baekhyun tak masuk sekolah hari ini. Orang tuanya mengetahui kalau Baekhyun diam-diam akan ikut berpartisipasi dalam konser musik klasik lantas mengurung Baekhyun agar dia tak ikut dalam perform? Dugaanku terdengar jahat tapi sepertinya itulah kemungkinan yang paling mendekati.

Dan— aku meninju telapak tanganku sendiri, baru tersadar akan sesuatu. Mungkin, hal itukah yang benar-benar terjadi? Itukah alasan kenapa Baekhyun berkelakuan aneh? Tentu aku akan berlaku tak waras saat satu hari menjelang koser musik klasik yang akan aku hadiri, diriku malah terjebak tak berdaya di dalam rumah bagai tahanan. Bayangkan saja, Baekhyun malah di hukum ketika konser yang dia dambakan ada di depan mata. Satu hari– tunggu sebentar! Sekarang hari apa?

Dengan gerakan kecewa telapak tanganku mendarat di dahi. Sekarang sudah hari jum’at. Kalau konsernya di adakan hari sabtu, berarti Baekhyun harus bisa di selamatkan malam ini. Chanyeol harus bisa membuatnya kabur atau semacamnya sampai hari minggu besok.

Buru-buru aku mengangkat ponselku ke arah poster konser musik yang berwarna biru itu lantas memotretnya. Aku memotretnya dua kali beserta dengan nama Baekhyun yang aku fokuskan lebih jelas. Tanpa berpikir panjang, gambar yang baru saja aku tangkap langsung aku teruskan kepada Chanyeol dan berharap pria ini mengerti maksudku.

Me:
Kalau kau mengakui IQ mu tinggi, tentunya memecahkan teka-teki ini tidak susah bukan?

Tak berselang lama, Chanyeol sudah membalas pesanku. Dilihat dari cara menulisnya, sepertinya dia cukup khawatir.

Park Chanyeol:
Kau ada dimana? Sudah pulang?
Dimana kau menemukannya?

Me:
Aku mau pulang.
Aku menemukannya di halte.

Park Chanyeol:
Ayo kita culik Baekhyun!
Sekarang!

Me:
Tidak mau.

Park Chanyeol:
Apa kau masih kesal pada kami?

Me:
Hmm.. Yeah

Park Chanyeol:
Apa kau masih menangis?

Me:
-____-

Park Chanyeol:
Baiklah, aku anggap kau masih mengis dan kesal kepada kami.

Kesal, aku melempar ponselku kedalam tas, sudah tidak mau menanggapi pesan terakhir Chanyeol. Apa dia benar-benar tidak punya perasaan? Maksudku, kalau dia tahu mereka punya salah kepadaku, setidaknya dia mengucapkan maaf bukan? Tapi lihat apa yang baru saja Chanyeol lakukan padaku. Hanya karena percakapan singkat yang baru saja aku lakukan dengannya, dia sudah sukses membuatku kembali naik pitam. Lebih dari itu, apakah dia tidak berterimakasih? Bukannya dia harusnya juga berterimakasih padaku karena aku telah menemukan fakta bahwa Baekhyun diam-diam akan ikut perform dalam konser musik klasik?

Hah. Mereka sungguh sulit di percaya. Menghadapi para smartass memang membutuhkan kesabaran level biksu. Kalau mereka terus saja memperlakukan seperti ini, aku benar-benar tidak akan peduli kepada mereka. Soal kesabaran, aku sudah tidak mempunyai sifat semacam itu untuk menghadapi mereka.

Yeah, persetan dengan para smartass.

***

“Kau serius mau keluar dari kelompok sastra?” kata Jieun, mendesis di telingaku.

Di sisi lain aku hanya bisa mengangguk lemas sebelum akhirnya mendaratkan dahiku ke atas meja. Lelah, aku seperti mayat hidup. Setelah sampai rumah, tadi malam aku langsung berkutat dengan tugas sastra dan mencoba menyelesaikan apapun yang bisa aku kerjakan dalam semalam. Aku hanya tidur selama kurang dari dua jam, sebelum akhirnya berangkat sekolah dengan langkah gontai. Aku ingin sekali marah. Tapi aku tidak tahu harus melampiaskan amarahku kepada siapa. Sepayah apapun usahaku, aku harus tetap mengerjakannya karena ini adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan nilai sastraku.

“Kau mengerjakan tugas yang harusnya dilakukan oleh anak sekelompok seorang diri? Apa kau serius? Kau tidak akan selesai tepat waktu karena–.”

“JIEUN!”

Jieun berjengit di tempat duduknya, dan ganti menatap mata merahku dengan pandangan ngeri sekaligus terkejut. Dia tahu kalau aku dalam kondisi yang benar-benar buruk.

“Kalau kau tidak mau membantuku atau setidaknya menemukan solusi terbaik terhadap masalahku, sebaiknya kau diam!”

Jieun mengangguk dua kali, tak mengatakan apapun setelahnya.

“Jangan ganggu aku lagi, aku mau tidur sebentar sampai jam pertama dimulai.”

“Baiklah.” lirih Jieun, ketika aku kembali menenggelamkan wajahku pada meja belajar, dan menggunakan lenganku sebagai bantalan. Beberapa saat aku bergerak-bergerak sedikit hingga akhirnya menemukan posisi tidurkku yang nyaman.

Aku harus sedikit bersyukur bahwa suasana jam kosong pada kelas unggulan lebih tenang dari pada kelas-kelas biasa pada umumnya. Murid-murid yang mendiami kelas unggulan kebanyakan adalah anak-anak kutu buku, maniak belajar, dan terobsesi dengan ranking. Persaingan nilai yang ketat tidak dapat di hindari. Itulah yang membuat kebanyakan dari mereka sering berkeliaran di perpus, mondar-mandir mendiskusikan tugas, dan terus saja belajar meski jam pelajaran kosong. Itulah yang membuat kelas unggulan jauh dari kegaduhan karena kebanyakan dari mereka adalah para kutu buku pendiam.

Ya, kelas ini adalah tempat ideal untuk dijadikan tidur. Suasananya tak terlalu senyap namun juga tak gaduh. Kalau saja suasana kelas bisa bertahan seperti ini hingga sepuluh menit kedepan, aku sudah dapat mengumpulkan sedikit tenaga yang bisa aku habiskan di jam pertama. Tapi sayangnya, murid tergaduh dari kelas unggulan telah datang. Dan dia langsung menghancurkan tidur nyamanku.

“Kyungsoo soo kau dimana?” lengking Park Chanyeol setelah pintu kelas terbuka keras, membuat beberapa anak terlonjak di tempatnya.

“Apa Kyungsoo sudah datang?” kata Chanyeol kepada salah satu pemuda yang duduk di deretan bangku paling depan. Pemuda itu sepertinya hanya menggeleng karena setelah itu Chanyeol kembali berkata, “Kenapa dia datang terlambat? Ada yang ingin aku bicarakan.”

Lalu kemudian suasana menjadi sunyi. Aku tak tahu apa yang sedang terjadi karena aku masih saja terus membenamkan wajahku kedalam lenganku, masih berusaha tidur. Lalu tak lama kemudian aku mendengar suara Jieun mendesis, “Jangan kau bangunkan dia. Mood-nya benar-benar buruk.”

“Kenapa?” kata Chanyeol, suaranya dekat sekali dengan telingaku. Aku yakin kali ini dia sudah berdiri di samping mejaku, hendak membangunkanku tapi Jieun langsung melarangnya.

“Dia semalaman tak tidur,” kata Jieun, menjaga suaranya tetap rendah, “Dia mengerjakan tugas sastra sepertinya.”

“Apa? Dia benar-benar serius? Astaga!” Chanyeol berdecak keras, kali ini aku benar-benar merasa terganggu. Ingin rasanya aku bangun, lantas mendampratnya. Tapi niat itu aku urungkan. Aku lebih suka pura-pura tidur dan mengabaikannya. Melakukan perdebatan kecil dengan Chanyeol akan membuat mood-ku semakin tak karuan dan alhasil tenagaku akan habis untuk hal yang sia-sia. Aku hanya berharap dia cepat pergi dari sini.

“Dia sudah tidur dari tadi?” Chanyeol kembali berkata, dan aku mendapatkan firasat bahwa mata Chanyeol sedang memperhatikan diriku yang tidur dengan posisi kaku.

“Tidak,” kata Jieun hati-hati, “Tapi kau jangan–“

“Hey!”

Terlambat. Jieun hendak mencegah Chanyeol untuk berbicara lebih banyak lagi tapi kali ini tangan pria itu sudah menyentuh pundakku, menggoncangkan tubuhku beberapa kali. “Aku tahu kau hanya pura-pura tidur.”

“Park Chanyeol,” tegur Jieun, “Kau sebaiknya pergi.”

Tapi tampaknya Chanyeol tidak menggubris Jieun, karena pria itu terus saja berusaha mengganggu tidurku, “Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Bangunlah!”

“APA?! APA YANG KAU INGINKAN DARIKU?” Aku langsung berdiri dari kursiku dan sedikit menendang meja dalam prosesnya. Aku kesal sekali padanya, hingga tanpa aku sadari aku sudah meneriaki wajahnya dan membuat perhatian seluruh kelas tertuju padaku.

“Kenapa kau mengabaikanku?” kata Chanyeol, wajahnya tampak terkejut.

“Karena aku tak mau punya urusan denganmu.”

“Kau serius mau keluar dari projek sastra?”

“Bukankah itu yang kalian mau? Kalian tak membutuhkan orang bodoh sepertiku ada di kelompok kalian bukan?” kataku sedikit lantang, dan di susul bisik-bisik yang tiba-tiba bergemuruh di seluruh kelas.

“Ikut aku!” kata Chanyeol, dengan kasar menarikku keluar dari kelas.

Ya!” aku ingin menghentikannya, menarik lenganku dari cengkramannya tapi Chanyeol berkali-kali lipat lebih kuat dari pada aku yang pada mulanya sudah sangat kelelahan. Akhirnya aku hanya bisa pasrah ketika Chanyeol menarikku keluar kelas, menggeretku di sepanjang koridor dengan tatapan aneh murid-murid yang mengikuti, hingga pada akhirnya dia melepaskanku ketika kita sampai di laboratorium biologi yang kosong.

Chanyeol tak lantas berkata apapun setelah sampai di laboratorium kosong. Setelah melepaskan pergelangan tanganku, dengan gerak lamban ia menarik salah satu kursi dan menaruhnya di hadapanku. “Duduklah.” katanya lirih tapi aku tak bergeming.

“Ku bilang duduk!”

“Aku baik-baik saja be–.”

“Duduk!” tegasnya untuk terakhir kali dan akhirnya aku menurutinya.

Chanyeol yang ada di hadapanku kini berbeda dengan yang biasanya. Dia bukanlah si happy virus yang ceria dan banyak bicara. Kini dia berubah menjadi Chanyeol yang keras dan mengesalkan. Sepertinya kata-kata terakhirku tadi membuatnya marah, terlihat dari sorot matanya yang menghujamku ketika dia mengambil satu lagi kursi dan membuat dirinya duduk berhadapan denganku.

“Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi denganmu dan Baekhyun, tapi–,” Chanyeol menghela nafas pelan, seolah sedang menekan amarahnya yang sedang meluap, “Ucapanmu tadi tidak pantas, nona. Apa kau bilang? Kami tak membutuhkanmu karena kau bodoh? Apa kami pernah berkata seperti itu padamu?”

“Ya, Baekhyun yang mengatakannya.” kataku dan langsung membuat rahang Chanyeol terbuka, kehilangan kata-kata.

“Apa?” kata Chanyeol setelah beberapa saat mata bulatnya bergerak-gerak kebingungan, “Baekhyun mengatakan hal semacam itu padamu?”

“Ya,” kataku setengah malas.

“Kau tahu kalau dia tak bermaksud berkata semacam itu bukan?” kata Chanyeol, tertawa getir. Menertawakan sesuatu yang sama sekali tak lucu, “Maksudku, emosi sedang mengauasai Baekhyun. Dia sama sekali tak bermaksud berkata-kata kasar kepadamu. Tunggu sebentar!” Chanyeol tiba-tiba duduk tegak, membuatku sedikit terkejut, “Itukah yang membuatmu kemarin menangis setelah keluar dari rumah Baekhyun?”

Aku berdecak keras, jelas tak senang dengan cara Chanyeol yang berbicara terus terang. Aku kemarin sudah cukup dibuat malu oleh diriku sendiri dengan menangis bodoh di hadapan mereka karena Byun Baekhyun. Kenangan suram itu tak mau lagi aku ingat-ingat, dan sekarang Chanyeol malah meminta sebuah klarifikasi konyol dariku? Dia benar-benar membuatku marah dan malu.

“Kalau kau mengajakku ke sini hanya untuk memastikan Baekhyun membuatku menangis atau tidak, lebih baik aku tidur di kelas saja.” kataku kesal, mulai beranjak berdiri tapi Chanyeol sudah mencegahku  lebih cepat. Pria itu berdiri dari kursinya, lantas menahan pundakku dan memaksa pantatku kembali mendarat.

“Jangan membuat situasi semakin rumit,” bisik Chanyeol yang tanpa aku sadari wajahnya berada begitu dekat denganku, ketika aku mendongak kepadanya, “Sudah cukup dengan masalah Baekhyun dan konser musik klasik yang diam-diam dia ikuti. Kau sudah tahu situasi Baekhyun dan ku pikir kau seharusnya lebih mengerti.”

“Tapi aku tak benar-benar mengerti keadaan Baekhyun.” serangku, dan membuat Chanyeol menatapku aneh. Itu memang benar. Aku memang tak benar-benar mengerti keadaan Baekhyun karena yang aku ketahui selain dia mengikuti konser musik klasik diam-diam adalah sebatas dugaan dan spekulasi yang aku buat sendiri. Intinya, aku tak mengetahui fakta yang terjadi di balik masalah Baekhyun selian dia yang punya mood buruk dan sebuah konser musik klasik. Tak lebih dari itu.

“Kalau aku menceritakan hal sebenarnya tentang Baekhyun kepadamu, apakah kau akan memaafkannya?”

Aku mengedikkan bahuku, merasa tak yakin akan benar-benar memaafkan Baekhyun setelah ini. Tapi toh Chanyeol tidak menghiraukan. Dia kembali duduk di kursinya dan mulai bercerita tentang Baekhyun.

Dia mulai bercerita tentang seorang Baekhyun yang mencintai musik. Baekhyun sedari kecil sudah mengikuti berbagai macam les musik dan itulah yang membuat Baekhyun mahir menggunakan berbagai macam alat musik. Lalu pada waktu kelas dua sekolah menengah atas, orang tuanya mulai melarang Baekhyun bermain musik. Bukan karena apa, tapi karena orang tuanya ingin Baekhyun menjadi seorang advokator, jaksa, atau hakim seperti keluarga mereka. Tekanan orang tua mereka semakin besar ketika ayah Baekhyun di angkat menjadi salah satu pejabat pemerintahan. Mulai dari situ satu persatu guru les Baekhyun di pecat dan itulah yang membuat Baekhyun mengikuti les secara diam-diam.

Orang tua Baekhyun sepertinya masih mengetahui kalau Baekhyun masih sering diam-diam mengikuti les musik. Mereka kembali melakukan cara lain dengan membuat Baekhyun sibuk dengan les privat. Tentu saja Baekhyun sebenarnya tidak membutuhkannya dan orang tuanya juga tahu tentang itu. IQ Baekhyun yang tinggi dan kemempuan superior otaknya yang luar biasa tak butuh kegiatan konyol semacam les pivat. Tapi Baekhyun tak punya pilihan lain. Dia harus mengikuti kemauan orang tuanya dan di sisi lain dia terus berupaya mengikuti les musik secara diam-diam. Itulah alasan kenapa Baekhyun selalu terlihat sibuk dan untuk menyempatkan diri melakukan kegiatan klub saja dia tidak bisa.

Chanyeol berpikir bahwa Baekhyun sudah tidak lagi mengikuti segala macam les musik. Dia sama sekali tidak tahu kalau Baekhyun diam-diam masih melakukannya. Itulah sebabnya Chanyeol merasa kebingungan ketika Baekhyun tidak hadir di sekolah kemarin. Chanyeol tahu kalau Baekhyun sedang di hukum oleh orang tuanya karena pasti ada masalah yang Baekhyun lakukan hingga membuat orang tuanya mengurungnya. Pada mulanya Chanyeol tidak tahu apa yang membuat Baekhyun berada dalam masalah. Tapi setelah dia mendapat pesan dariku, kini Chanyeol tahu masalah pelik yang selama ini Baekhyun hadapi sendiri.

Chanyeol terus bercerita dan aku tak punya pilihan lain selain diam dan mendengarkan. Mau tak mau aku punya rasa iba kepada Byun Baekhyun dan tiba-tiba aku teringat dengan ucapan Baekhyun yang sempat membuatku bingung beberapa hari yang lalu.

Ranking yang tinggi tidak menjamin keberuntunganmu, mahir dalam melakukan sesuatu belum tentu kau juga menyukainya.

Pernyataan ambigu Baekhyun sempat beberapa kali terlintas di benakku. Pada mulanya aku tak mengerti apa hal yang bisa membuat seorang Byun Baekhyun terdengar pasrah. Tapi jika di lihat bagaimana masalah yang selama ini Baekhyun hadapi sendirian, kini aku mengerti kenapa dia terlihat hampir putus asa.

“Tapi, seburuk apapun keadaannya, Baekhyun tak pentas berucap seperti itu.” kataku, dengan gigi mengertak. Aku kembali teringat kelebatan pembicaraan yang kemarin sempat terjadi antara aku dan Baekhyun. Bagaimana kelakuannya yang congkak seolah tak menyukai kehadiranku, bagaimana cara bicaranya yang dingin berucap bahwa dia tidak memperdulikan teman-temannya, dan bagimana caranya berkata terus terang padaku bahwa aku adalah orang yang tidak di butuhkan membuatku terpukul. Sudah cukup dengan predikat bodoh yang aku sandang dan tak sepantasnya Baekhyun mengatakan bahwa aku adalah orang yang tak berguna.

Chanyeol berdecak tak senang setelah mendengar kalimat terakhirku. Dia mengacak rambutnya kesal sebelum berkata geram, “Kenapa kau tidak bisa memahami keadaannya? Baekhyun sama sekali tidak bermaksud berkata kasar kepadamu.”

“Tapi apa yang ia katakan benar!” kataku, tak kalah kesal, “Aku adalah orang yang tak berguna bagi kalian dan harusnya aku menyadarinya sejak awal!”

“BERHENTI BERKATA KALAU KAU ADALAH ORANG YANG TIDAK BERGUNA!” Chanyeol berbicara lantang tanpa aku duga.

Aku kembali menutup mulutku yang setengah terbuka dan tiba-tiba saja merasa ciut di hadapannya. Dahiku mengkerut dan diam-diam mengunyah bibir bawahku dengan kesal. Tanpa aku sangka-sangka penglihatanku mulai buram, jari-jariku bergetar dan telapak tanganku berubah pucat. Aku mencoba bernafas normal tapi ada sesuatu yang mengganjal tenggorokanku hingga pada akhirnya suara isakan lepas dari mulutku. Aku tak bisa menahannya, sungguh. Ingin rasanya aku berlaku tegar tapi akhirnya air tumpah dari mataku. Aku menangis.

“Oh tidak.” kata Chanyeol, dia ikut beranjak berdiri ketika aku bangkit hendak berlari dari sana. Tangannya dengan cepat meraih salah satu lenganku dan mencegahku pergi, “Ma-maafkan aku. Aku tidak bermaksud membentakmu.”

“Le-lepas.” kataku, ingin menepis tangannya tapi sia-sia saja. Tangannya semakin kuat mencengkramku yang malah  membuatku terisak lebih keras. Bodoh. Aku tak mengerti kenapa aku tiba-tiba menangis lagi.

“Aku tak bermaksud. Sungguh.” lirih Chanyeol, suaranya terdengar panik, “Berhenti berkata kalau kau adalah orang yang tidak berguna. Kau adalah teman yang baik. Berhenti berbicara seolah kau berlaku sia-sia.”

Aku tak menanggapinya dan malah semakin terisak keras dan menunduk. Aku tak mengerti apa yang membuat Chanyeol begitu marah hingga raungannya yang keras menakutkanku. Aku tak marah padanya. Sungguh. Aku hanya merasa bahwa diriku benar-benar tak pentas berteman dengan mereka dan tak seharusnya Chanyeol berlaku baik kepadaku. Aku baik-baik saja. Perlakuan Chanyeol yang seperti ini malah membuatku merasa kasihan dengan diriku sendiri.

“Aku tak mengerti kenapa kau terus saja merasa kalau kau menyusahkan kami.” kata Chanyeol, tangannya semakin meremat tubuhku, “Asal kau tahu saja, kami semua merasa lebih baik mendapat teman sepertimu.”

“Tapi aku bukan temanmu.” kataku lirih.

“Aku tak tahu kenapa kau tak menganggap kami teman. Apa kau membenci kami?”

Apa aku membenci mereka? Entahlah, aku sendiri juga tak yakin dengan jawabannya. Mereka sebenarnya cukup berlaku baik padaku, tapi aku tak pernah mengalami minggu seburuk ini sejak aku berkumpul bersama mereka. Aku tak pernah menyangka hidupku akan berputar cepat dan membuat emosiku naik turun secepat roaler coaster. Aku tak pernah mengalami banyak masalah yang datang bersamaan dalam seminggu. Aku tak pernah merasakan hari yang aku lalui akhir-akhir ini berlalu lama sekali seolah-olah seminggu terasa seperti satu bulan. Mereka membuat situasi minggu terburuk yang pernah aku alami. Aku kesal dengan diriku sendiri karena tidak bisa menghadapi mereka dengan tegar. Ayolah, mereka hanya tiga bocah yang berumur tujuh belas tahun tapi mereka sukses membuat tujuh belas tahun hidupku terasa sia-sia. Aku membenci mereka, tapi sialnya aku tak bisa menyalahkan mereka. Disini aku kesal karena tidak bisa menyalahkan siapapun dan pada akhirnya aku tak punya pilihan lain selain menyalahkan diriku sendiri. Ini semua karena diriku yang payah.

“Entahlah,” kataku setelah sekian lama berdiam diri dan sesekali terisak ketika ludahku menyumbat tenggorokan, “Aku tak punya alasan untuk membenci kalian. Tapi aku juga tak punya alasan untuk menganggap kalian sebagai teman.”

Chanyeol beberapa saat memiringkan kepalanya di salah satu sisi, merasa tidak mengerti.

“Kalian harus mencoba terbuka dengan orang lain,” lanjutku, “Eksistensi superior kalian menakutkan orang. Jujur saja, aku tak mau berteman dengan kalian karena aku merasa kecil di hadapan kalian dan mungkin itu pula alasan yang berlaku pada teman-teman lain. Belum lagi dengan sifat kalian yang…” aku mengedikkan bahu, tak mendapat kata-kata yang tepat, “Kalian harus sedikit berubah, agar orang lain bisa menerima kalian.”

Tak lama kemudian aku merasakan tangan Chanyeol melepaskan cengkramannya. Pria itu muncur beberapa langkah sebelum akhirnya mengacak rambutnya kesal. Dia mendaratkan pandangan aneh kepadaku yang langsung membuatku bergidik, berdiri tak berkutik. Belum lagi dengan tawa getirnya yang tiba-tiba meluncur dari mulutnya memenuhi ruang laboratorium yang kosong, membuatku ngeri. Aku tahu kalau kata-kataku sedikit lancang tapi aku tak menyangka kalau diriku bisa membuat Chanyeol murka.

“Tak pernah kah kau berpikir bagaimana posisi kami?” kata Chanyeol, tawa  getirnya masih tersisa, “Tak tahukah bagaimana rasanya menjadi orang yang luarbiasa jenius? Kau pikir kami bisa survive begitu saja di lingkungan sosial? Kau pikir menjadi orang yang di anugerahi otak luar biasa akan punya jalan hidup yang lurus? Tidak!”

Chanyeol membentak pada kata-kata terakhirnya dan membuatku berjengit di tempat. Aku diam karena, jujur, aku terlalu takut untuk berbicara menanggapinya.

“Dengan gampangnya kau menceramahiku untuk merubah sikap atau semacamnya,” lanjut Chanyeol, “Dengan gampangnya kau berkata bahwa kita harus menyesuaikan diri agar orang lain bisa menerima kami!” Chanyeol mendengus keras, “Mudah saja kau berkata seperti itu karena kau tidak mengenal kami sejak lama. Betapa lancangnya kau berkata ini itu kepadaku ketika kau mengenal kami belum genap seminggu. Hebat sekali.”

Kata-kata sarkastik Chanyeol sukses membuatku semakin mengkerut di tempat. Berulang kali aku menelan ludahku, gugup karena tiba-tiba tanpa alasan aku merutuki berapa bodohnya diriku di dalam hati. Benar apa yang Chanyeol katakan. Bagaimana bisa aku menceramahinya ini itu sedangkan aku bukan siapa-siapa?

“Dari perkataanmu kau selalu menyalahkan kami karena kami tidak berlaku baik kepadamu. Padahal asal kau tahu saja, kami sudah melakukan hal yang terbaik sebisa kami agar kau bisa nyaman dengan kami. Kami mungkin masih terlihat buruk di matamu karena memang kami belum pernah bergaul dengan siapapun. Itu benar. Tapi setidaknya kami sudah mencoba bersikap baik kepadamu,” Chanyeol memasukkan salah satu tangannya kedalam saku celananya lalu menatapku dengan pandangan remeh sebelum melanjutkan, “Tak tahukah kau betapa sengsaranya Kyungsoo ketika dirimu masuk kedalam kelompok kami? Dia berkata-kata kasar kepadamu tapi itulah cara untuknya agar dia tak merasa tertekan dengan orang baru. Dia punya semacam trauma yang membuatnya anti sosial dan itulah kenapa dia tak mau dekat dengan orang baru.”

“Apa maksudmu?”

“Pada waktu sekolah menengah atas, dia sering di bully oleh taman-teman sekelasnya. Dia mendapatkan akselerasi kelas dua kali berturut-turut. Teman-teman sekelasnya yang notabene adalah sunbae baginya, merasa tak terima Kyungsoo masuk ke kelasnya dua tahun lebih awal. Kyungsoo yang hanya melalui masa sekolah menengah atas selama satu tahun, membuat dirinya memiliki sedikit kenangan dan teman. Yeah, bisa di bilang hanya Baekhyun dan aku yang baru berteman dengan Kyungsoo pada waktu itu.” Chanyeol terkekeh, teringat masa lalu, “Kita mau berteman dengan Kyungsoo karena aku dan Baekhyun sama-sama aneh seperti dirinya dan kau tahu kenapa.”

Tanpa sadar mulutku sudah menggantung terbuka. Aku terkejut setelah mendengar cerita sebenarnya dari Chanyeol. Aku sungguh tak menyangka kalau Kyungsoo mengalami masa kelam seperti itu. Aku merasa kasihan kepada Kyungsoo dan mau tak mau aku harus menyalahkan diriku sendiri karena apa yang Chanyeol katakan benar. Tak seharusnya kami egois dan memaksa mereka bertiga untuk merubah sifat agar bisa berteman dengan kami, tapi kami juga harus mengerti alasan apa yang membuat mereka bersikap dingin dan sulit di dekati kepada setiap orang.

“Tapi apa yang di alami Kyungsoo belum seberapa jika kau mendengar cerita Baekhyun,” kata Chanyeol, wajah marahnya kini berubah menjadi prihatin ketika mengucapkan nama Baekhyun, “Sifat apa yang terbersit di kepalamu jika aku menyebut nama Baekhyun?”

Beberapa saat aku menyisir rambutku, mengusap sisa air mata yang tersisa di wajahku sembari berpikir, “Baekhyun. Dia orang yang baik, luar biasa pintar, dia hampir menguasai setiap hal, ceria dan ramah kepada setiap orang.”

“Ceria,” Chanyeol mengangguk sepakat dengan kata-kataku, “Setiap orang mengenalnya sebagai orang yang periang. Tapi nyatanya sifat cerianya hanya sebagai kedok.”

“Aku merasa heran.”

“Kau memang harus merasa heran. Seperti yang telah kau ketahui, Baekhyun punya masalah kompleks yang dia atasi sendirian.”

“Kalau kau tahu Baekhyun punya masalah, kenapa kau tak membantunya?” kataku, menuntut Chanyeol.

“Apa kau pikir Baekhyun akan bercerita begitu saja kepadaku?”

Tidak, jawabku di dalam hati.

“Dia adalah orang yang paling baik dan paling bodoh yang pernah aku tahu.” kata Chanyeol menghela nafas, “Dia tak mau menceritakan masalahnya kepada kami karena takut merepotkan kami dan membuat kami ikut kesal. Kalau kau mengira Baekhyun adalah orang egois diantara kami, maka dugaanmu salah.”

“Kenapa?”

“Kau tahu sendiri kalau Baekhyun adalah orang yang ceria dan gampang bersosialisasi bukan? Kau tahu apa alasan yang membuat Baekhyun hanya punya dua orang teman semacam aku dan Kyungsoo?”

“Itu karena dia tak mau meninggalkan Kyungsoo?”

“Tepat, itu karena Baekhyun akan membuat Kyungsoo merasa kesepian jika dia berteman dengan orang lain. Lantas, kau tahu apa alasan kenapa Baekhyun tidak pernah mau bercerita kepada kami tentang masalahnya? Itu karena si bodoh itu merasa takut merepotkan teman-temannya. Dia benar-benar memikirkan temannya sampai seperti itu dan membuatku benar-benar tersentuh. Itulah kenapa aku sudah cukup punya dua teman semacam Baekhyun dan Kyungsoo di dalam hidupku. Selain kami bertiga punya kesamaan, kami bertiga selalu merasa bahwa nasib yang menimpa kami hanya kami sajalah yang bisa mengerti. Maka jangan salahkan kami kalau kami susah berteman dengan orang baru. Bukannya kami tak mau merubah sikap agar mereka mau menerima kami, tapi orang lain harusnya juga mau mengerti bagaimana posisi kami.”

Chanyeol mengakhiri kata-katanya dengan kedikan bahu. Beberapa saat kemudian dia menunduk dan terlihat sedang berpikir, seolah sedang meratapi nasib. Di sisi lain, aku terus-terusan menggigit bibir bawahku, mencoba untuk tidak menangis lagi. Kali ini aku benar-benar kasihan pada mereka. Dengan Kyungsoo si penakut, Baekhyun yang egois demi teman-temannya, dan Chanyeol si aneh yang ternyata baik hati. Mereka bertiga ternyata punya sisi rapuh di balik eksistensi luar biasa yang mereka punya. Kini aku sadar bahwa tak seorangpun yang sempurna di dunia ini. Sekokoh apapun dinding yang mereka bangun pasti ada sisi lain yang rapuh. Sehebat apapun topeng yang mereka pakai pasti punya sisi lemah di balik kehebatannya. Itu berlaku untuk semua orang dan tak terkecuali dengan ketiga siswa paling terkenal, terpandai, dan ter tampan di sekolahku.

“Maafkan aku Chanyeol.” kataku lirih setelah beberapa saat hening canggung berlalu, “Maafkan aku karena aku telah–“

“Kau tak perlu meminta maaf, karena kami sudah terbiasa dengan reaksi seperti itu.” kata Chanyeol, “Kami sudah terbiasa dengan hinaan sombong, angkuh, congkak, egois, dan sebagainya.”

“Tapi tetap saja, maaf karena aku– aku telah salah paham.”

“Sudah aku bilang kau tidak perlu meminta maaf. Kami sudah–,” kata-kata Chanyeol berhenti di tengah jalan ketika dia terkejut dengan diriku yang tiba-tiba memeluknya. Sebut saja diriku tak punya rasa malu karena sudah berlaku buruk kepada mereka dan membuat pandangan negatif tentang mereka. Aku tak punya kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan betapa menyesalnya aku kerena telah membuat mereka kecewa. Dan di sinilah aku. Aku hanya bisa merutuki diriku diam-diam dan mengeratkan tangan di sekeliling tubuh Chanyeol sebagai ungkapan rasa maafku.

“Aku benar-benar minta maaf. Sungguh.” kataku dan tiba-tiba aku merasa sedih dengan mereka. Bagaimana bisa orang sebaik mereka di jauhi orang lain? Bukankah mereka selama ini diperlakukan tidak adil? Dan sialnya, aku adalah salah satu dari orang-orang itu. Lebih dari itu, aku juga menyesal karena telah menyebut mereka bertiga sebagai smartass. Smartass bukanlah julukan yang baik untuk mereka. Sungguh.

“Baiklah,” kata Chanyeol, menyerah. Dia menghela nafas pelan dan menepuk punggungku dengan gentle, “Aku juga mau meminta maaf kepadamu karena kami telah membuatmu susah belakangan ini.” dia terkekeh, “Kau adalah orang yang kuat. Kau bisa menghadapi kami bertiga sampai selama ini. Bahkan Yejin sendiri tidak mau berkumpul denganku jika aku sedang bersama Baekhyun dan Kyungsoo. Kau tahu, Yejin berulang kali mengajak putus karena aku terlalu sering bersama Baekhyun sedangkan dia benar-benar tidak tahan jika berhadapan dengan Baekhyun.”

“Aku tak heran.” Aku tertawa lalu melepaskan pelukan Chanyeol. Aku teringat bagaimana Baekhyun membentak Yejin ketika kami mengerjakan tugas di perpustakaan. Yejin tidak bisa menghadapi Baekhyun dan aku tahu itu.

“Apa yang kalian berdua lakukan?”

Aku dan Chanyeol sontak secara bersamaan menoleh ke sumber suara yang berasal dari pintu. Di sana ada Kyungsoo yang berdiri kaku sambil membawa buku kalkulus tebal dengan wajah yang horor. Dia tampak mengerikan dan ditambah lagi mata bulatnya yang menatap tajam antara aku dan Chanyeol secara bergantian. Tanpa berpikir panjang, tahu-tahu saja Kyungsoo sudah berjalan cepat kearah kami dan mendorong Chanyeol menjauh dariku.

“Apa yang kau lakukan padanya Park Chanyeol? Kalau Yejin sampai melihat, dia bisa mengulitimu hidup-hidup.”

Beberapa saat Chanyeol membuka mulutnya, ingin berargumen tapi dia kehilangan kata-kata. Di sisi lain aku tertawa dengan scene lucu yang terjadi di hadapanku. Beberapa saat yang lalu aku bertengkar dengan Chanyeol dan di akhiri dengan pelukan minta maaf. Lalu dengan timing yang pas, Kyungsoo datang dengan wajah yang menakutkan, berusaha untuk menyalahkan Chanyeol padahal yang sebenarnya punya inisiatif untuk memeluk Chanyeol adalah aku.

“Kyungsoo, jangan marah begitu.” kataku, berusaha menahan tawa dan sukses menghentikan Kyungsoo yang sekarang berusaha untuk memukul perut Chanyeol, “Kau tak perlu marah kepada Chanyeol karena akulah yang salah, telah memeluk kekasih orang.”

“Apa?!” Kyungsoo menatapku dengan ekspresi terkejut dan malah membuatnya semakin heran ketika aku mendekatinya dan mulai memeluknya juga, sama seperti yang telah aku lakukan kepada Chanyeol.

“Maafkan aku Kyungsoo-ya.”

***

“Agen dua puluh dua apakah kau siap?” kata Chanyeol dari kursi kemudi.

“Aku siap!” kata Kyungsoo dari kursi belakang mobil.

“Agen dua puluh tiga, apa kau siap?”

Aye captain!” sahutku dari kursi penumpang di sisi depan.

Kami bertiga sedang ada di dalam mobil Chanyeol yang sebenarnya masih terparkir di halaman parkir sekolah. Saat ini kami baru saja keluar dari pelajaran terakhir dan memutuskan untuk langsung pergi ke rumah Baekhyun untuk pergi menculiknya. Hari ini adalah hari sabtu yang mana adalah hari penting di mana konser Baekhyun juga akan di selenggarakan. Konser musik klasik akan berlangsung nanti malam dan mau tak mau sore ini kami bertiga harus bisa mengajak Baekhyun kabur dari rumah. Meski kesempatannya kecil, setidaknya cara ini harus di coba.

“Aku tak pernah pergi ke rumah Baekhyun pada hari sabtu.” kata Chanyeol masih sibuk dengan beberapa tombol AC yang ada di dashboard.

“Kenapa?” kataku, sibuk dengan memasang earphone di telinga.

“Karena pada hari sabtu keluarga Baekhyun biasanya ada di rumah, termasuk ibu dan ayahnya.” sahut Kyungsoo dari belakang. Dia saat ini sibuk dengan laptopnya, sedang berusaha memesan tiket konser musik klasik nanti malam yang tersisa untuk kami bertiga.

“Benarkah?” kataku heran dan mendapat anggukan dari Chanyeol.

“Misi kali ini akan lebih berbahaya dari kemarin.” kata Chanyeol dengan gaya ala aktor film action.

“Tiket regular dan festival sudah habis terjual,” kata Kyungsoo matanya masih terfokus dengan sesuatu di layar monitor.” Tinggal tiket VIP yang masih tersisa.”

“Baiklah, kita akan beli tiket VIP.” kata Chanyeol enteng, sama sekali tak memperhatikan wajah horrorku.

“Aku tak ikut menonton.”

“Kau harus ikut! Ini perintah!”

“Tapi aku tak punya uang!”

“Serahkan semua padaku.” kata Chanyeol sukses membuat mulutku terbuka seperti ikan Koi.

“Baiklah, aku sudah memsan tiga tiket VIP untuk nanti malam.” kata Kyungsoo, beberapa saat mengetik sesuatu di keyboard dan di akhiri dengan menekan tombol enter, “Persiapan sudah selesai.”

“Oke saatnya kita berangkat menjalankan misi!” kata Chanyeol antusias, menekan gas mobilnya dan meninggalkan parkir halaman sekolah untuk menuju ke rumah Baekhyun. Ya, seperti apa yang telah Chanyeol katakan, misi kali ini adalah misi penculikan Baekhyun. Semoga misi kami kali ini berhasil.

-tbc-

My personal blog: Iruza Izate