[Minri’s Diary – 13] Man I Love

img%2FdUZnTGQ4ZlQvQTFGazJBZnVPYmgrdUd5U05NVzRrME9GK21PVjV0ZmhYbmVDTW1XcHp5MlN3PT0Author : Charismagirl™

Cast :

* Park Minri

* Byun Baekhyun

Rating : PG-13

Length : Drabble

Genre : Romance

Pemuda yang ku cintai telah menjadi seorang pria. Dia berbeda, tapi .. tidak juga. Ada beberapa hal yang membuatnya tetaplah sama.

Ditinggal sendirian di rumah sudah merupakan hal biasa bagiku yang hanya seorang anak tunggal di keluargaku. Ayah dan ibu bekerja dari pagi hingga siang atau sore hari. Walaupun sekarang aku sudah memiliki status sebagai mahasiswi dan punya teman baru, aku lebih memilih untuk berada di rumah, beristirahat, menonton televisi atau mengobrol dengan Baekhyun—meskipun hanya lewat telpon.

Aku dan Baekhyun memiliki kesibukan yang berbeda sekarang. Hal ini membuat kami jarang bertemu dan ini sangat menyebalkan. Apakah hanya aku yang begitu ingin bertemu dengannya? Hingga tiap bel rumahku berbunyi aku berharap itu Baekhyun.

Kami masuk Universitas yang sama, seperti yang telah kami rencanakan sebelumnya. Baekhyun berada di jurusan seni musik dan aku sastra. Meskipun begitu kami seperti terpisah oleh lautan. Dua gedung berbeda tempat kami belajar seperti dua benua yang dipisahkan samudera, padahal kami hanya terpisah oleh lapangan sepak bola.

Setahuku, Baekhyun populer di kalangan para gadis. Apa yang menarik dari Baekhyun? Sikapnya yang kekanakan? Bukankah para gadis menyukai lelaki dewasa yang setidaknya memahami perasaan mereka. Seringkali membuatku sebal bahwa aku sangat sulit menemuinya di kampus. Bagiku, Baekhyun tetaplah pacarku yang menggemaskan, yang tersenyum manis dengan garis mata dan bibir tipisnya. Baekhyun tetaplah lelaki pecinta es krim yang makan belepotan. Tapi sekarang, setidaknya seminggu terakhir aku merasa jauh dengannya.

Kelasku berakhir pukul dua belas, sejam yang lalu. Aku memutuskan pulang ke rumah karena tidak ada lagi yang aku kerjakan. Kalau saja Sungyoung tidak ada janji dengan Chanyeol, aku bersumpah menyeretnya ke perpustakaan untuk menemaniku. Terserah dia mau apa, asalkan aku tidak sendirian. Ah iya, Sungyoung dan Chanyeol juga berada di jurusan seni musik mengingat betapa dari dulu dia suka bermain biola dan Chanyeol yang tidak pernah terpisah dengan gitarnya. Aku iri pada mereka yang memiliki selera sama. Sementara aku hanya pernah mempelajari piano di masa kecil. Sepertinya sekarang aku sudah lupa. Aku lebih memilih untuk menulis, menuangkan isi pikiran dan membuat resensi beberapa buku.

“Aww!!” Pikiranku melayang entah kemana saat aku dengan bebasnya memegang pegangan teko itu yang jelas terbuat dari aluminium—panas. Telapak tanganku memerah. Aku berniat membuat minuman hangat, tapi sepertinya ibu lupa menuang air panas ke dalam termos dan aku harus memanaskannya lagi.

Aku berjalan ke wastafel untuk membilas tanganku, berharap tidak ada luka bakar akibat kecerobohanku ini. Aku berlari ke kamar, mengambil handuk kecil lalu membungkus tanganku. Keinginanku untuk membuat minuman sudah menguap, aku memutuskan untuk menengak air putih dingin dari dalam kulkas.

Ting Tong.

Aku melihat ke arah jam dinding. Kurasa sudah waktunya ibu pulang. Tapi ibu ‘kan punya kunci cadangan sendiri. Aku meletakkan botol minuman di atas meja, lantas berjalan ke luar dan bel rumahku terus berbunyi seperti sebentar lagi bom akan meledak. Siapa sih?!

Aku melongo bodoh saat aku membuka pintu, menemukan seorang lelaki berdiri di depan rumahku seperti ini adalah kunjungan dadakan selebriti. Dia menggunakan kemeja krem dan celana jins hitam beserta kacamata hitam yang menutup sebagian besar wajahnya. Rambutnya berwarna pirang-oranye, entahlah. Tidak disisir tapi tampak menakjubkan. Sial! aku mengenalnya.

“Nuguseyo?” tanyaku sebal.

“Minri tidak mengenalku,” jawabnya dengan bibir mengerucut. Dia masih Baekhyunku. Dengan penampilan seluruh tubuh yang membuatku tidak mengenalnya. Satu hal yang membuatku percaya bahwa dia Baekhyun adalah cara bicara dan suaranya.

“Bagaimana mungkin aku tidak kenal dengan pacarku sendiri?”

“Hehe,” Baekhyun tertawa singkat, lalu mengangkat kedua tangannya yang penuh dengan bungkusan makanan. “Aku membawakan cappuccino dan pizza untuk Minri.”

Wah! Kelihatannya enak…

“Tangan Minri kenapa dibalut pakai handuk?” Aku menunduk memperhatikan tanganku yang masih berbalut handuk.

“Hanya tidak sengaja memegang teko panas.” Aku mengendikkan bahu dan tersenyum sekilas.

“Apa?! Minri tidak apa-apa? Sakit? Minri harus ke dokter. Ayo kita ke dokter.”

“Baek,” aku menatapnya dengan wajah datar. ”Masuklah.” Aku melangkah lebih dulu ke dalam rumah, lalu berbalik. Baekhyun meletakkan makanan yang dibawanya ke atas meja, lalu mengambil dua langkah kecil hingga ia tepat berada di depanku. Aku dikejutkan oleh kedua lengan yang melingkar di punggungku dengan posesif dan tangan yang mencengkram bajuku.

“Minri…” Ugh, pelukannya semakin erat.

“Kau jahat, Baek. Jahat sekali.”

“Eh?” Baekhyun melepaskan pelukannya dan bibirnya melengkung ke bawah. Aku melepaskan kacamatanya lalu melemparkan ke sofa. “Minri sakit karena aku?”

“Lupakan soal ini, okay?” Minri meletakkan telapak tangannya di depan wajah Baekhyun dengan gusar. “Kau pikir aku tidak merindukanmu, hah?” Dengan atau tanpa akal sehat menangkup kedua pipinya dan menciumnya sampai kakiku berjingkit. Bibirnya terasa lembut dan basah, membuatku ingin berlama-lama disana. Astaga! Apa yang kulakukan sebenarnya. Aku mendorong tubuh Baekhyun, lantas menunduk.

“Maafkan aku, Minri. Aku juga merindukan Minri, aku tidak bermaksud mengabaikan Minri.”

Tidak. Kau tidak boleh memohon seperti itu. Aku ingin mengomelimu karena banyak hal. Jangan buat aku melunak karena suara dan wajahmu itu Byun Baekhyun.

“Kau senang banyak gadis yang mendekatimu ‘kan? Kau senang dengan lingkungan barumu.”

“Minri bicara apa ‘sih?” Baekhyun mengangkat daguku hingga aku menatap kedua matanya. Dia menatapku dengan wajahnya yang serius.

“Aku tidak peduli pada gadis manapun. Aku hanya memikirkan Minri.” Baekhyun kembali merengkuhku ke dalam pelukan hangat. “Aku ingin selalu bersama Minri.”

Jangan lepaskan pelukan ini, bertahanlah sedikit lebih lama.

“Eomma pulang…”

Hah?

Aku mendorong Baekhyun, tepat saat ibuku membuka pintu rumah.

“Baekhyun, kau datang? Sudah lama tidak bertemu denganmu.”Hebat! Ibu langsung mengenali Baekhyun meski warna rambutnya berubah total.

“Ne, Eomoni. Selamat siang.”Baekhyun membungkuk singkat sembari tersenyum.

“Kenapa kalian berdiri?” Tanya ibuku.

“Ti-tidak apa-apa, Eomma. Baekhyun baru saja datang jadi aku tidak sempat mempersilakannya duduk.” Aku berangsur mundur dan mendekat dengan sofa.

“Ya sudah, Eomma ke dalam dulu ya.”

Setelah ibuku menghilang ke dalam, aku menghempaskan tubuh di sofa, lalu Baekhyun menyusulku duduk. Aku menatap barang bawaan Baekhyun di atas meja. Aku menarik makanan itu mendekat, aromanya tercium membuatku menelan ludah.

“Ini semua untukku kan?”

“Eung! Untuk Minri yang sangat suka pizza bertoping daging dan keju.” Baekhyun membuka kotak pizza itu, perutku berbunyi. “Minri lapar, ya?” Baekhyun tertawa pelan, sukses membuatku cemberut. Harusnya kau tidak usah memperjelas hal itu. Ish.

“Ayo makan.” Baekhyun mengambilkan sepotong pizza lalu menyodorkannya ke mulutku. Tanpa ragu-ragu aku menggigitnya, kemudian mengambil alih dari tangan Baekhyun.

“Apa akhir-akhir ini Minri sedang libur?” Tanya Baekhyun.

“Tidak.”

“Aneh, mengapa aku jarang sekali melihat Minri di kampus?”

“Itu karna kau lebih sering menghabiskan waktu bersama teman baru, ketimbang mencariku.”

“Minri!” sergah Baekhyun.

“Apa? Aku benar ‘kan?” aku mengambil potongan baru lagi dan menikmati pizza-nya sementara Baekhyun menatap dengan wajah kesal yang menggemaskan.

“Aku tidak seperti itu. Setiap waktu istirahat aku pasti mencari Minri, tapi Minri tidak ada dimanapun jadi aku bertanya pada mahasiswi lain—hmpp!” Aku menyumpal mulutnya dengan pizza hingga penuh dan dia tidak bisa bicara. Bagus.

“Kunyah dan telan dengan benar. Jangan bicara dulu.” Aku menengak cappuccino dingin yang juga dibawa Baekhyun saat datang ke rumahku.

“Minri tidak percaya padaku…” Baekhyun tampak putus asa. Namun aku hanya diam sambil menatapnya.“Minri sungguh tidak apa-apa?”

“Soal apa?”

“Ini.” Baekhyun mengangkat tangan kananku, lalu mengusap telapaknya yang tampak memerah.

“Tangan.. cepat sembuh ya,” ucap Baekhyun dengan wajah cemberut lantas mencium telapak tanganku. Dia pasti sudah gila.

“Lain kali Minri harus hati-hati.” Aku menarik tanganku kembali. Ya, aku juga tidak mau ini terjadi. Sakit, tahu?

“Baek, kau mau aku memaafkanmu?”Iseng, aku baru saja punya ide bagus. Semacam liburan.

“Eum. aku harus apa?”

“Berkeliling universitas sepuluh kali.”

“Apa?!”

“Bercanda…” Aku seketika tertawa melihat wajahnya yang lucu itu dan Baekhyun merasa sedikit lebih lega. “Aku ingin liburan ke Jeju bersamamu.”Sambungku.

Baekhyun terdiam sesaat, lalu mengambil tempat duduk lebih dekat denganku.“Kukira Minri akan memintaku menikah dengan Minri dalam waktu dekat.”

Aku melongo.“Sepertinya kau sudah gila, Baek. Kita baru saja masuk universitas.”

“Apa salahnya. Setelah menikah kita masih bisa kuliah ‘kan? Boleh yayaya?”

Apa dia baru saja melamarku? Atau dia memintaku membelikannya permen? Anak ini memintaku menikah dengan cara seperti itu?!!

“Memangnya kau sudah siap menjadi suami? Atau… Ayah?”Membayangkannya saja membuatku merinding. Bukan karena aku tidak ingin menikah dengannya, tapi aku sungguh belum siap. Menikah… kedengarannya simpel. Namun tentu saja tidak akan semudah itu!

Baekhyun tampak berpikir.

Tiba-tiba kehadiran ibuku membuatku hampir terlonjak dari sofa. Ibuku suka sekali mengagetkan kami, ya? atau aku saja.

“Seru sekali. Apa yang kalian bicarakan?” Ibuku membawakan potongan buah segar dalam piring dan tersenyum pada kami.

“A-Aniya, Eomma. Baekhyun diundang untuk mengisi acara pernikahan.” Ucapku asal.

“Wah, bagus sekali. Permainan pianomu pasti semakin bagus. Sering-sering latihan ya,”

“Ne? ”Baekhyun menatapku, dan aku memberi isyarat bahwa dia harus segera mengiyakan ucapanku. Maaf, eomma aku harus berbohong, sedikit. “Ne, eomoni.”

“Minri-ya, kau kan juga bisa main piano. Mengapa kalian tidak berduet saja?”

“Eomma, memangnya apa yang bisa aku mainkan? Lagu anak-anak? sudah lama sekali aku tidak berlatih.”

“Kau punya pelatih pribadi, tahu.” Ibuku mengedip pada Baekhyun, anak itu malah menunjukkan jempolnya. Mereka bersekongkol. Curang sekali.

Ibuku kembali masuk ke dalam. Baekhyun bersenandung, lalu mencomot pizza yang tersisa. Sebentar, aku belum selesai bernegosiasi dengannya.

“Bagaimana tawaranku tadi, Baek?”

Baekhyun menatapku dengan wajah muram. Apa ini artinya… tidak? Menyebalkan. Aku beranjak dari sofa lantas menuju kamarku dengan langkah yang sengaja dihentakkan. Boleh tidak sehari saja aku merajuk padanya?

“Minri, mau kemana? Tunggu aku.” Rupanya anak itu mengikutiku. Aku mempercepat langkahku lalu menutup pintu kamar sebelum Baekhyun masuk.

Blam! Tepat di depan wajahnya, pintu kamarku tertutup. Semoga saja tidak mengenai hidungnya, atau aku akan menyesal.

“Minri, buka pintunya…”

“Tidak mau. Pergi sana!”

“Minri marah karena aku tidak bisa jalan-jalan dengan Minri?”

“Memangnya apalagi? Kalau kau tidak bisa ya sudah, pergi sana. Kau pasti lebih punya kegiatan lain selain menggangguku kan?”

Ku dengar pintuku seperti diketuk. Lalu Baekhyun  bersuara pelan. “Aku ingin pergi dengan Minri, tapi tidak dalam waktu dekat. Maafkan aku.”

Aku diam di depan pintu, menempelkan daun telingaku disana. Sepertinya Baekhyun.sudah pergi. Dia sudah menyerah?

Aku membuka pintu dengan tiba-tiba, lalu tubuh Baekhyun menimpaku. Untunglah kami tidak jatuh bersama ke lantai marmer. Aku membayangkan bokongku yang tipis.ini terhempas, ugh, pasti sakit sekali.

“Ah, Kita bisa ke Jeju minggu depan!”

Aku mengerutkan kening. Dia sungguh-sungguh? Atau hanya ingin aku menghentikan aksi merajukku?

“Aku punya satu tugas mencipta lagu. Kurasa aku akan segera mendapat inspirasi kalau pergi ke Jeju! Minri memang hebat. Ayo pergi minggu depan!”

“Jinjja?” tanyaku ragu.

“Ne!” Baekhyun memelukku erat, lalu menautkan jari kelingking kami. “Aku janji.”

“Ayo turun.”

Bukannya kembali ke ruang tengah, Baekhyun malah menyelinap masuk. Ish! Dasar tidak sopan. Ini kan kamar perempuan.

“Tidak ada yang berubah semenjak terakhir kali aku kesini.” Ucapnya, lalu menyusuri meja belajarku. Dia menggapai figura foto kami berdua saat berkemah dadakan di halaman rumah Sungyoung.

“Kau ingat bagaimana kagetnya Sungyoung saat kita membawa peralatan kemah ke rumahnya?” tanyaku geli, lantas duduk di tepi kasur.

“Tentu saja.” Baekhyun duduk di sampingku. Kemudian kami bercerita banyak. Mengenang masa lalu yang menyenangkan. Saat-saat kami berkumpul. Baekhyun juga menceritakan semua tentang kesibukannya. Membuatku sedikit menyesal, memaksakan kehendakku dengan liburan bersamanya.

Aku memeluknya, lalu bernapas di bahunya. Aroma stroberi tercium. Dia tidak pernah mengganti sabunnya.

“Minri kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

Baekhyun memelukku lebih erat. Lantas berbisik, “Aku akan berusaha lebih keras membuat Minri bangga, agar Minri bisa dengan yakin menjadikanku pendamping hidup Minri nanti.”

Aku sudah yakin, kaulah orangnya Baek. Aku hampir saja menangis, kalau saja Baekhyun tidak mengatakan hal yang membuatku memukulnya dengan bantal.

“Apa kita akan melakukan hal dewasa dan tidur bersama di Jeju nanti?” Baekhyun mengangkat satu ujung bibirnya kemudian tertawa. Darimana dia belajar hal itu?

“Byun Baekhyun!!” Secepat kilat Baekhyun bangkit dan lari ke luar kamarku. Anak itu… ck. Awas saja. Aku akan mencubit perutnya.

Ups, sebenarnya aku sedikit bangga dia berani mengatakan hal itu. Dia normal. Maksudku, bukan berarti selama ini aku menganggapnya gila. Setiap manusia pasti tumbuh dan berkembang bukan? Baekhyun sudah menjadi lelaki dewasa. Baekhyun-ku.

Tadi itu cuma bercanda kan? Dia pasti bercanda. Aniya, dia harus bercanda!

*End*

Hai, long time no seeㅠㅠ sepertinya lama banget aku gak nerusin Minri’s diary ini. Maaf kalo ceritanya cuma gini. Ya emang segini adanya, panjangnya pun cuma drabble. Mini seri. Semoga suka. Ditunggu komentarnya ㅅ.ㅅ Makasih banyaaaak

©Charismagirl, 2015.



22 thoughts on “[Minri’s Diary – 13] Man I Love

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s