Museum Alley (Chapter 1)

sehun - oc

“Museum Alley” by Mingi Kumiko

Main Cast: EXO Sehun and You ★ Also mentioned: SM Rookies Jisung ★ Genre: Friendship, school life, romance, fantasy, mystery ★ Rating: Teen ★ Length: Chaptered

✿ Happy Reading ✿

Kau tak bisa menentukan dengan siapa kau akan jatuh hati. Bahkan dengan cucuran keringat dan tetesan darah sebanyak apapun, jika dia memang tak ditakdirkan untukmu maka sia-sialah semua usaha keras yang telah kaukerahkan. Banyak dari kita yang tak menduga kapan perasaan itu akan datang dan hilang. Semuanya serba tiba-tiba dan di luar kendali.

Dan dalam keadaan rumit inilah aku berada, jatuh cinta dengan seseorang yang tak harusnya boleh kucintai. Aku mencintai sahabatku.

***

            “Ayo anak-anak, cepatlah sedikit! Waktu kita sudah molor banyak karena perjalanan yang tiba-tiba macet.” Oceh Do seonsaengnim selaku pembimbing perjalanan study tour ke Museum Kebudayaan Jeju. Seisi bis berhamburan turun dengan langkah terburu-buru. “Segera berbaris dengan teratur ya, aku akan mendata kalian.” Timpalnya lagi.

            Setelah mendata semua peserta dan memastikan tak ada yang terlewatkan, Do seonsaengnim meminta setiap murid untuk berkelompok dengan jumlah 2 anggota. Aku celingukan ke kanan dan kiri, mencari seseorang yang kiranya mau kuajak bekerjasama. Sangat disayangkan hasilnya nihil. Saat aku hendak mengajak salah satu dari mereka, selalu saja ada yang mendahuluiku.

“Kamu cari apa?” suara bertipe serak-serak basah dengan lembut mengembus melewati gendang telingaku—sontak kuputar kepalaku untuk melihat orang yang barusan bicara. Ternyata itu Sehun, pria berperawakan janggung dengan milky way skin-nya yang menyilaukan. “Kau sudah dapat anggota kelompok, belum?” tanyaku langsung ke intinya.

“Tentu saja sudah.” Jawabnya. Seketika pelangi di bola mataku pun sirna digantikan oleh arakan awan mendung.

“Ya sudahlah.” Tukasku singkat seraya memalingkan wajah darinya.

“Hey, sudah jelas aku akan sekelompok denganmu, bodoh!” Sehun menjitak kepalaku.

“Bagaiamana bisa?” heranku.

Aigo, sudah sekian lama kita bersahabat dan kau masih saja tak sadar akan keberadaanku?”

“Apa maksudmu? Aku punya mata, tentu saja aku menyadari keberadaanmu, Sehun!” tukasku yang tak seberapa mengindahkannya.

            Sehun membuatku terkejut tatkala tiba-tiba saja ia menarikku ke dalam rangkulannya. “Aku tahu kau tipe orang yang tak akan bergerak untuk mencari anggota kelompok. Sifat individualismu kan sudah melarut dalam darah.” Celetuknya.

“Lepaskan, hey!” aku berusaha menyingkirkan lingkaran tangannya di pundakku namun ia menahannya dengan sangat kuat. “Sirheo, wlek~!” ia menjulurkan lidahnya untuk mengejekku.

            “Jika sudah membentuk kelompok, silakan membentuk 2 baris dan bersebelahan dengan anggota kalian masing-masing.” Do seonsaengnim meneriakkan instruksinya. “Baris yang teratur ya, anak-anak.” Tukasnya.

            Aku pun berdiri di samping Sehun karena kami berada dalam satu kelompok. “Style-mu bagus.” Katanya tiba-tiba dan membuatku terkejut. Aku menunduk untuk melihat apa yang kukenakan. Rasanya aku hanya bergaya casual hari ini; celana hitam ketat dengan atasan tank top yang kubalut dengan cardigan warna putih.

“Kau meminjam kalung dari kakakmu, ya? Kekeke~” katanya sebelum aku sempat menimpali ujarannya. “Aish, berisik! Langsung bilang kalau aku cantik apa susahnya, sih?” ucapku percaya diri dan membuat Sehun terkekeh kecil karena ucapanku barusan.

            Sehun dan aku sudah bersahabat dari kecil. Kami saling kenal sejak SD. Ia dibesarkan di Jepang sejak lahir dan pindah ke Korea saat umur 7 tahun. Di usia sekecil itu ia masih sulit untuk beradaptasi. Semua murid di kelas enggan berkomunikasi dengannya karena bahasa Koreanya yang teramat minimalis. Hanya aku satu-satunya anak yang mau mengajaknya ngobrol meskipun harus mati-matian memahami apa yang ia maksud melalui bahasa isyarat. Aku juga mengajarinya perbendaharaan kata yang benar hingga akhirnya ia mulai terbiasa dengan bahasa kami.

Sehun dan aku selalu menghabiskan waktu makan siang, belajar, hang out, jogging, dan banyak hal lain yang sering kami lakukan bersama, hanya berdua saja.

            Ia sosok yang teramat sabar dan pengertian. Entah mengapa aku selalu merasakan semilir angin menyejukkan tatkala ia sedang bersamaku. Tutur katanya halus dan penuh wibawa, terkadang. Sehun selalu mampu menghidupkan kupu-kupu di dalam perutku.

            Aku tak mengerti sejak kapan tepatnya aku mulai menyadari bahwa aku tak pernah bisa mengalihkan manik mataku dari pesonanya. Aku memandang Sehun melalui sisi yang berbeda. Awalnya kupikir ini hanyalah perasaan lazim antar sahabat. Namun lambat laun aku merasakan tatapanku berbeda terhadapnya. Bukan sebagai sosok yang selalu ada dalam apapun kondisiku, bukan pula sosok yang dapat menghilangkan suasana hati yang buruk dengan cara mengusilinya. Dengan berat hati aku harus mengatakan bawa aku melihatnya sebagai seorang pria. Perasaanku padanya adalah sebuah hal yang harusnya tak kumiliki dan harus kutahan, aku mencintai Sehun.

.

.

            “Kenapa sih kau marah-marah terus? Aku kan tidak berbuat apa-apa.” Heran Sehun yang melihatku terus saja mencercanya atas segala hal yang ia lakukan. “Kau memang bodoh, mana mungkin bisa mengerti!” semprotku.

            Sehun menghela napas singkat. “Ya sudah kalau keberadaanku di sini mengganggumu, aku minta maaf. Aku pergi dulu.” Tandas Sehun singkat seraya beranjak dari rooftop sekolah. “Cepat pergi sana!” balasku tak acuh dan terus saja memendam emosiku dalam-dalam.

            Karena amarahku yang bergejolak di jam makan siang itu, Sehun terus mendiamkanku. Lagaknya sudah seperti orang yang tak menyadari aura keberadaanku. Apabila kami tak sengaja berpapasan pandangannya benar-benar fokus ke depan tanpa menoleh sekali pun. Hingga akhirnya aku sadar kalau semua ini kesalahanku. Aku benar-benar tak menghargainya yang mencoba peduli dengan apa yang terjadi padaku dan malah menyumpah-serapahinya.

            Aku memutuskan datang ke rumahnya setelah aku menyelesaikan tugas kesastraan untuk meminta maaf. Saat aku mengetuk pintu, kebetulan ia sendiri yang membukanya. Wajahnya tak menampilkan ekspresi tatkala mendapati bahwa ternyata akulah yang barusan menekan bel rumahnya.

“Sehun, aku minta maaf.” Ucapku dengan raut sesal tersirat jelas di wajahku. Aku terus saja menunduk, tak sanggup menatap sorot tajamnya.

“Masuklah dulu.” Ia mempersilakan. Aku lantas mengangguk dan mengikuti pergerakannya. Dapat kulihat jelas punggungnya yang lebar dan proporsi tubuhnya yang ideal.

            Ia pun mendudukkanku di sofa ruang tamu seraya menunggu adiknya yang ia mintai tolong membuatkanku minuman. Padahal sebelumnya aku sudah bilang tak usah repot-repot.

“Sehun, bagaimana, apa kau mau memaafkanku? Aku sungguh tak bisa mengendalikan emosiku tadi siang. Sebenarnya tadi aku—”

“Kau bersedih karena tak tega melihat ibumu yang diperlakukan secara kasar oleh ayahmu tadi pagi, ‘kan?” sahut Sehun sebelum aku sempat melengkapi kalimatku.

“Ba, bagaimana kau tahu?” bingungku.

“Aku menanyakannya pada Joohyun noona. Maaf kalau aku lancang. Dan sungguh aku tak benar-benar memasukkan semua perkataanmu dalam hati. Mungkin kau sedang kesal dengan semua yang kau lihat dan butuh waktu untuk sendirian. Tak apa, aku bisa mengerti itu, kok.” Jelas Sehun dengan senyum takzimnya. Perlahan ia pun mendekat ke sisiku dan menepuk pundakku. “Kau ‘kan juga punya aku untuk berbagi keluh kesah.” Ujarnya lagi dan tetap tersenyum dengan hangat.

“Terima kasih, Sehun.” Ucapku dan tanpa kuduga air mata berhasil lolos dari pelupuk mataku. Aku tak kuasa menahannya hingga akhirnya aku harus menahan malu saat sesenggukan di hadapannya. Namun dengan cepat kuseka air mataku sebelum berderai lebih deras. “Maaf, aku tak bermaksud.” Titahku, namun sialnya setetes kristal bening itu kembali menetes dan makin menjadi-jadi.

            Tanpa diduga Sehun langsung meraih pundakku agar aku bisa bersandar. Ia mendorong kepalaku hingga terbenam di dadanya. Sehun mengelus lembut rambutku sambil terus berusaha untuk menenangkanku.

Omo, hyung! Apa yang kau lakukan padanya hingga dia menangis seperti itu?” kaget Jisung, adik Sehun yang baru saja datang dari dapur membawa minuman dan beberapa makanan ringan.

Sssst!” Sehun mendesis dan aku merasakan sedikit pergerakan pada tubuhnya, kurasa ia memberikan isyarat pada adiknya untuk pergi.

“Baiklah aku tak akan ikut campur.” Jisung dengan mudahnya menurut.

            Air mataku membanjiri kaus longgar warna putih yang ia kenakan. “Semuanya akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu. Aku tahu ibumu adalah sosok yang kuat.” Ujarnya dan masih mengelus lembut rambutku. Perlahan aku bangkit dari tempat bersandar ternyaman yang pernah kusinggahi itu. “Bagaimana kau bisa tahu kalau ibuku sosok yang kuat dan akan mampu menghadapi semuanya?” balasku menanggapi ucapannya barusan.

“Karena aku melihat sifat beliau yang diturunkannya padamu dan Joohyun Noona.” Jawabnya seraya mencubit gemas hidungku. Selengkung senyuman mengembang dari bibirku karena ulahnya. “Lihatlah, kau tersenyum! Akhirnya…” seru Sehun.

“Terima kasih banyak, Sehun. Aku berhutang banyak padamu.”

            Ia mempersilakanku memakan suguhan yang telah Jisung antarkan.

“Wah, noona sudah baikan?” celoteh Jisung yang tiba-tiba saja datang.

“Bukannya sudah kusuruh kau untuk masuk kamar?” tegur Sehun pada adiknya itu.

Mianhae, hyung. Aku kesulitan mengerjakan PR. Kalau aku menunggumu selesai keburu ngantuk.” Keluh Jisung.

“Kan sudah kubilang kerjakan saja sendiri, masa harus aku yang selalu mengerjakan PRmu?” omel Sehun.

“Iya, iya. Tak apa kalau hyung tak mau membantuku. Tapi lihat saja, akan aku adukan pada ayah dan ibu tentang apa yang kaulakukan barusan, wlek~!” Jisung mengancam.

“Memangnya apa yang barusan kulakukan, huh?!”

“Akan kukatakan pada ibu kalau kau membawa wanita ke mari untuk bermesra-mesraan.”

“Bukannya kau tahu kalau kami sudah bersahabat sejak kecil?” sahutku menimpali ujaran Jisung.

“Iya noona, aku tahu. Tenang saja, hanya Sehun hyung yang akan dirugikan dalam kondisi ini. Aku akan menganonimkan noona, kok!” oceh Jisung.

“Ya! Dasar adik kurang ajar, kau!” Sehun lantas berdiri dan tengah bersiap-siap memberi Jisung bogeman mentah saking geramnya. Aku yang melihatnya pun hanya bisa tertawa geli.

.

.

            “Tugas kalian ialah menganalisa peninggalan sejarah yang ada di mesum ini sebanyak-banyaknya dan selengkap-lengkapnya. Kalian boleh memilih mengidentifikasi dari sisi mana pun. Tapi ingat, jangan sampai kalian berpencar sendiri dan keluar dari area museum, paham?” Do seonsaengnim dengan lantang meneriakkan instruksi meskipun ia telah menggunakan pengeras suara.

“Paham, pak!” sahut semua murid dan segera berhamburan memulai tugas mereka.

            “Kita harus mulai dari mana, Hun-a?” tanyaku. Ia berpikir sejenak sambil berdehem. “Entahlah.” Tukasnya. “Aish, jinjja!” rutukku kesal.

            “Kau tahu tidak, kudengar ada sebuah lorong rahasia di museum ini.” Celetuk seorang murid yang ada di depanku dan Sehun kepada rekannya.

“Lorong rahasia?” sahut murid yang ia ajak bicara.

“Aku tak tahu di mana tempatnya. Namun jika sampai ada seseorang yang terjebak di sana sendirian, ia tak akan mampu keluar.”

“Kenapa? Apa lorong itu tak memiliki jalan keluar?”

“Bukan begitu, katanya ada sebuah cara yang bisa membuat orang yang terjebak di dalam sana keluar, tapi kau tak bisa melakukannya sendirian.”

Omo, Seungwan-a! Hentikan ceritamu itu. Aku jadi merinding sekarang.”

“Ah, hanya mitos seperti itu masa takut? Ya sudah, ayo kita mulai mengidentifikasi!” tandas anak itu kemudian segera beranjak memasuki museum.

To be continued…

32 thoughts on “Museum Alley (Chapter 1)

  1. Ping-balik: Museum Alley (Chapter 3) | EXO Fanfiction World

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s