Museum Alley (Chapter 2)

sehun - oc

“Museum Alley” by Mingi Kumiko

Main Cast: EXO Sehun and You ★ Genre: fantasy, mysteri, romance, friendship, school life ★ Rating: Teen (PG-15) ★ Length: Chaptered

.

.

“Lebih baik cintaku ditolak, daripada aku tak mengungkapkannya sama sekali.”

Previous Chapter

***

            “Kau tahu tidak, kudengar ada sebuah lorong rahasia di museum ini.” Celetuk seorang murid yang ada di depanku dan Sehun kepada rekannya.

“Lorong rahasia?” sahut murid yang ia ajak bicara.

“Aku tak tahu di mana tempatnya. Namun jika sampai ada seseorang yang terjebak di sana sendirian, katanya ia tak akan mampu keluar.”

“Kenapa? Apa lorong itu tak memiliki jalan keluar?”

“Bukan begitu, katanya ada sebuah cara yang bisa membuat orang yang terjebak di dalam sana keluar, tapi kau tak bisa melakukannya sendirian.”

Omo, Seungwan-a! Hentikan ceritamu itu. Aku merinding sekarang.”

“Ah, hanya mitos seperti itu masa takut? Ya sudah, ayo kita mulai mengidentifikasi!” tandas anak itu kemudian segera beranjak memasuki museum.

            Setelah percakapan keduanya berakhir, aku dan Sehun saling melempar pandangan. “Kau percaya akan hal itu?” tanyanya. “Kaupikir aku kurang kerjaan, huh?!” balasku. “Hahaha, bukan itu maksudku.”

            “Sebenarnya aku belum sarapan.” Celetuk Sehun secara tiba-tiba. Aku sontak menoleh. “Yang benar saja! Kau bangun kesiangan, eo?” semprotku dan dibalas anggukan singkat olehnya.

“Maaf aku juga tidak membawa makanan. Bagaimana kalau aku menemanimu sarapan? Kulihat tadi ada yang menjual nasi goreng kimchi. Setelah makan kita segera menyelesaikan tugas melalui pintu belakang museum, bagaimana?” saranku.

“Hm, boleh.” Sehun menyetujuinya.

            Setelah Sehun selesai menyantap sepiring penuh makanan dengan lahap, kami beranjak pergi dari kedai itu dan memasuki museum dari pintu belakang sesuai kesepakatan awal.

            Aku berjalan beriringan dengannya dan mendapati kumpulan senjata tradisional terpampang di sepanjang dinding, namun ada pula yang diamankan dalam wadah kaca.

“Ayo kita ber-selca dengan background senjata-senjata keren ini!” ajak Sehun seraya mengeluarkan ponsel dari saku hoodie-nya. Aku sedikit merapatkan diriku pada Sehun agar kameranya menjepret wajah kami dengan pas. Aku menggembungkan pipiku, sedangkan Sehun menunjukkan deretan giginya dengan sangat lebar.

            Foto 4 frame itu berhasil diambil. Sehun pun langsung menekan opsi share dan ia post di SNS-nya dengan caption, “Menjelajahi Museum Jeju bersama temanku yang sangat cantik tapi menyebalkan^^”.

“Apa yang kau katakan, huh?” gerutuku dan langsung menjitak kepalanya.

Aw! Apa yang salah? Nampaknya aku harus caption-nya menjadi bersama wanita yang lebih kejam dari nenek sihir supaya semua tahu penderitaanku.” Ocehnya.

“Coba saja kalau berani, wlek~!”

            Setelah lama menyusuri museum dan mengamati benda peninggalan sejarah yang berada di sana, aku merasa intensitas cahaya di ruangan ini perlahan-lahan meredup. Padahal aku dan Sehun sudah melangkah lumayan jauh, namun tak ada seorang pun teman sekelas yang kami temui hingga sejauh ini.

“Sehun-a,” panggilku lirih padanya. Ia berbalik menatapku sambil mengangkat alisnya.

“Tidak kah kau rasa ini terlalu aneh? Dan aku mulai takut.” Ucapku.

“Jangan khawatir, aku di sini.” Balasnya disertai dengan seutas senyum yang mengulum lembut di bibirnya. Ia lantas menarik paksa pundakku untuk berjalan di sampingnya.

            Aura mistis yang kurasakan mulai bisa ternetralisir karena Sehun berada di sisiku.

“Sehun-a, ayahku sudah dapat pekerjaan tetap dan ia telah meminta maaf pada ibu, aku, dan Joohyun eonnie.” Ujarku membuka pembicaraan.

Jeongmalyo? Wah, aku turut senang mendengarnya. Apa kubilang, semua akan baik-baik saja, kan?” timpalnya.

“Terima kasih banyak.” Ucapku.

“Ah sudahlah, aku tak melakukan apapun.”

“Terima kasih karena telah menguatkanku saat aku merasa rapuh. Itu maksudku.” Jelasku dan disambut anggukan yakin oleh Sehun.

            Suasana kembali hening saat topik pembicaraan kami habis—Sehun amat antusias dengan deretan benda peninggalan sejarah. Embusan angin melewati tengkukku, membuat sekelabat rasa takut akan hawa misterius itu kembali menggerogoti benakku. Sehun yang berada di sebelahku masih dengan aktivitasnya, menatap lamat-lamat penjelasan mengenai aset di museum ini meskipun keberadaan cahayanya sangat minim.

“Sehunie,” panggilku lagi dan ia pun kembali tertoleh. “Ada apa?” tanyanya dengan nada yang lembut, padahal aku tahu pasti ia sangat kesal karena sedari tadi aku terus saja mengganggunya. Aku urung mengatakan apa yang ingin kusampaikan dan malah tertunduk dalam seraya mengatupkan bibir rapat-rapat.

            Aku memperkecil langkahku tanpa sepengetahuannya, sedangkan Sehun terus berjalan untuk meneroka benda-benda kuno peninggalan leluhur itu.

“A, aku menyukaimu, Hun-a.” Kalimat yang harusnya pantang kuucapkan itu keluar begitu saja setelah lama tertahan di kerongkongan. Sehun sontak menghentikan aktivitasnya—mengidentifikasi sebuah guci—dan langsung berbalik (lagi) untuk menatapku.

“Barusan kau bilang apa?” Sehun mengernyitkan dahinya.

“Maaf, aku tak bermaksud.” Ucapku penuh sesal. “Lupakan saja.” Aku berusaha mencairkan suasana.

            Tanpa diduga-duga berbagai suara bising langsung menyeruak hingga memekakkan telinga. Langkah kami oleng saat ruangan tersebut tiba-tiba berguncang. “Omo, apa yang terjadi?!” Sehun panik, begitu pula denganku. Ia segera meraih tanganku untuk melindungiku dari runtuhan batu yang berjatuhan dari atap. Kami saling dekap dan berbagi kekhawatiran.

“Sehun-a, bagaimana ini?!” kataku dengan mata yang terpejam sedalam-dalamnya, tak sanggup menahan kepanikan kalau-kalau nanti kami berdua akan tertimbun dengan runtuhan batu dan mati konyol.

“Aku juga tak tahu…” Sehun diterpa kebingungan pula.

            BLAM!

Terdengar suara benda besar terjatuh dan membuat permukaan lantai yang kami pijak menjalar retak. Hingga retakan itu mulai mendekati kami. Sehun mengambil langkah mundur dan menarik lenganku untuk menghindari itu. Lidahku terlalu kelu untuk menyampaikan kata-kata. Aku hanya tertunduk lunglai. Karena guncangan yang terjadi semakin keras, tubuh Sehun pun oleng sejadi-jadinya hingga membentur dinding. Apa yang terjadi makin memperburuk keadaan. Sekarang sisi samping dari gedung itu pun retak hingga membuat kami terjatuh ke dasar bangunan.

“Bagaimana bisa tiba-tiba ada guncangan layaknya gempa bumi di tempat ini?” pekik Sehun keheranan.

            Seketika guncangan dan reruntuhan itu berhenti tatkala kami sudah terjatuh di dasar bangunan. Aku mengerjapkan mata yang sedari tadi tertutup rapat. Memandangi dengan nanar tempatku berada sekarang. Suasananya aneh, seperti ruang bawah tanah dengan obor-obor kecil sebagai sumber cahayanya.

            Aku langsung bangkit tatkala menyadari tubuhku yang tepat berada di atas tubuh Sehun dan menimpalinya. Setelah itu ia pun berusaha berdiri sembari memukul-mukul celananya yang dipenuhi dengan debu.

“Tempat macam apa ini?” heran Sehun seraya menelisik sekitar.

“Aku tak benar-benar yakin.”

“Ini hanya mimpi kan?” Sehun menepuk-nepuk pipinya sedikit keras.

“Ada yang aneh dengan museum ini.” tandasku. 

            “Ayo kita cari jalan keluar!” ajak Sehun. “Tapi aku takut. Bagaimana kalau guncangan seperti tadi kembali datang? Atau yang lebih parah batu besar itu kembali terjatuh?”

“Jadi kau mau terus-terusan berada di sini, eo?”

“Bukan begitu. Hm, bagaimana kalau kita menghubungi teman-teman atau Do seonsaeng saja?”

“Boleh juga.” Sehun kembali merogoh hoodie-nya dan menggeser gambar gembok untuk membuka locksreen-nya.

            “OMO!” serunya keheranan. “Ada apa?” aku langsung menoleh padanya karena kaget. “Pon, ponselku mati dengan sendirinya. Apa yang terjadi sebenarnya?” Sehun larut dalam kebingungan. “Biar kucoba dengan ponselku.” Aku mengambil ponsel dari saki celanaku. Aku lantas mendengus, “Maaf ponselku juga mati. Namun sepertinya karena low battery.”

            “Tak ada jalan lain selain mencari jalan itu sendiri.” celetuk Sehun. “I, iya. Aku setuju.” ucapku, meskipun sedikit ragu.

“Bagaimana kalau aku berjalan ke timur, sedangkan kau ke barat. Hitung-hitung menghemat waktu.” saranku.

Andwae! Bahaya jika kau berjalan sendirian, kalau hal buruk terjadi tiba-tiba, bagaimana? Siapa yang akan menyelamatkanmu?”

            Jadilah kami berjalan dengan beriringan. Di samping kanan dan kiri lorong terdapat banyak sekali relief yang kuperkirakan berunsur surrealisme.

“Sehun-a,” aku dengan lirih kembali memanggil namanya.

Ne?” balasnya namun tanpa menoleh. Ia tengah asyik mengamati relief-relief itu.

“Maafkan aku karena perkataan yang sebelumnya.”

“Kau benar menyukaiku?” sambarnya dan membuatku seketika terlonjak kaget.

            Aku menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan segenap keberanian untuk mengakuinya lagi. Aku akan terima segala risikonya.

“Ya, aku menyukaimu.” ujarku mantap dan hanya dibalas anggukan singkat olehnya.

“Apa kau marah?” tanyaku lirih. “Entahlah.” Ia mengedikkan bahu dan menggantung jawabannya. Sudah kuduga akan jadi seperti ini. Namun apapun reaksinya aku tak boleh menyesal. Aku merasa lebih baik karena telah mengakuinya. Mungkin hanya waktunya yang kurang tepat.

            Langkahku terhenti tatkala melihat sebuah relief yang teramat besar. Aku terlongo saat berhasil menemukan sudut yang pas untuk mengamati relief tersebut. Terlihat dengan jelas gambar seorang pria dan wanita yang tengah berciuman dan dibawahnya terdapat tulisan singkat yang menceritakan kisah mereka.

            “Putri Younghee dan Pangeran Chulsoo yang sama-sama melarikan diri dari kerajaan demi dapat bersama akhirnya terperangkap di goa misterius di daerah Kahokhan. Tak ada yang mendengar pantulan gema dari teriakan mereka di lorong tak berujung ini. Hingga suatu hari mereka pun mengandalkan kekuatan cinta sejati untuk mampu keluar dari sunyinya goa Kahokhan.” bulu kudukku merinding sesaat setelah menyelesaikan kalimat terakhir pada kisah tersebut.

“Apa kisah ini nyata?” celetuk Sehun mengagetkanku. Aku memutar kepala untuk menatapnya, kudapati kini ia tengah bersunggut dagu, nampak sedang berpikir.

“Entahlah.” tukasku tak acuh sambil mengedikkan bahu dan melanjutkan langkah untuk mencari jalan keluar.

            Waktu terasa berlalu begitu cepat, banyak jam terbuang sia-sia karena kami terperangkap di goa misterius ini.

“Aku tak menyangka apa yang dikatakan Seungwan bukan hanya sekedar mitos. Ini sangat mengerikan!” kata Sehun.

“Bahkan aku masih belum bisa percaya hal semacam ini terjadi pada kita.”

            Aku menatap sekilas jam digital yang melingkar di pergelanganku, sudah pukul sebelas siang. “Bagaimana ini, satu jam lagi kita harus berkumpul!” panikku. “Mollasseo. Kita sudah berjalan sangat jauh, namun rasanya seperti kita berputar-putar di lingkaran (yang memang) tanpa sudut.”

            Aku mendadak bungkam setelah menelaah perkataan Sehun. Hal ini semakin membuatku—yang notabenenya sangat takut dengan hal-hal berbau mistis—makin begidik ngeri. Sebuah gagasan payah agar kita bisa keluar dari goa terlaknat ini seliweran di kepalaku. Aku menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan nyali sebanyak mungkin (lagi). Mungkin sekarang alveolusku sudah hampir kering karenanya.

“Sehun-a, aku tahu ini gila. Kau ingat, cerita tentang Putri Younghee dan Pangeran Chulsoo? Ya, kisah yang tadi kita sudah baca bersama-sama. Menurutku cara itulah yang harus kita lakukan supaya bisa keluar. Iya, iya, aku tahu mungkin ini lebih dari gila, aku sudah kehilangan syaraf malu. Mungkin kita harus, kita harus—“

            Belum sempat aku menuturkan perkataan payahku yang terbata-bata, Sehun secara tiba-tiba menarik daguku dan menyapu bibirku dengan bibirnya. Tangannya menggeladik berpindah mencengkram erat lenganku. Perlahan ia elus dengan lembut pipi yang berhasil ia buat bersemu memerah.

            Mataku terpejam dan larut akan sentuhan lembutnya pada bibirku. Deru napasnya bisa dengan jelas kurasakan mengembus di pipiku. Aku tak berani berkutik, bibirku terkatup apa adanya tanpa berani membalas ciumannya.

            Seketika guncangan yang secara perlahan makin membesar pun terjadi. Pada saat itu juga Sehun perlahan melepas ciumannya dan segera menarik pergelanganku untuk menghindari runtuhan kerikil yang makin menggila saja. Debu dari relief di dinding bertebaran dan aku tak sengaja menghirupnya, jadilah kini aku terbatuk dan napasku sesak.

“Bertahanlah!” kata Sehun dari balik tangan yang menutupi mulut dan hidungnya agar terhindar dari debu tebal itu.

            CRACK!

Sebuah relief meretak dan perlahan terbuka hingga memancarkan secercah cahaya yang teramat terang hingga mata kami yang melihat pun mengerjap. Runtuhan kerikil, guncangan hebat, bahkan tebaran debu itu telah hilang. Sehun segera berlari membawaku melewati cahaya itu.

Lorong kecil yang kupikir adalah jalan pintas itu begitu licin hingga membuat kami berdua tergelincir kemudian terduduk dan lantas terdorong. Rasanya seperti meluncur di perosotan super besar dan gelap.

            Tubuhku pun terhempas dengan ringan, namun aku sempat merasakan sengatan listrik bertegangan rendah menyambar tubuhku.

            BRUK!

Aku serasa terdorong dan dipaksa keluar dengan tendangan yang teramat kasar. “Aw!” aku meringis kesakitan, entah karena apa. Manik mataku pun menelisik, ternyata sumber rasa sakitnya ada di atas mata kakiku. Aku sangat terkejut ketika melihat darah mengucur hingga membasahi lantai. Nampaknya itu tergores retakan dinding saat Sehun menarikku untuk keluar.

            Aku memutar kepala memandangi lingkungan sekitar, sekarang kami berada di depan gerbang utama museum yang memang terdapat sebuah lubang lumayan besar di sampingnya. Mungkin orang awam yang melihatnya akan mengira kalau itu hanya sekedar pintu untuk hiasan. Bagaimana ini bisa menjadi begitu konyol?

            “Sehun-a, apa kau baik-baik saja?” tanyaku seraya coba menoleh. Dan kudapatilah wajah pria itu dengan ekspresi suramnya. “Tidak mungkin, ini tidak mungkin!” gumamnya dengan nada tersentak. Tanpa menggubris pertanyaanku ia pun segera bangkit dan berlari entah ke mana. Aku tak sanggup berdiri dengan mudahnya seperti dia, hingga aku luput dalam upayaku mengejarnya.

“SEHUN! KAU MAU KE MANA?!” aku hanya bisa berteriak namun ia tak mengindahkanku dan tetap berlari.

To be continued…

Terima kasih buat kalian semua yang sudah mau baca dan komen di part 1. Aku seneng banget hehe baca komen kalian bikin aku makin semangat ^^ sampai jumpa di chapter selanjutnya🙂

23 thoughts on “Museum Alley (Chapter 2)

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s