Museum Alley (Chapter 3)

sehun - oc

“Museum Alley” by Mingi Kumiko

Main Cast: EXO Sehun and You ★ Other Cast: Red Velvet Irene ★ Also Mentioned: EXO Kai, Suho, Red Velvet Seulgi, Wendy Genre: mysteri, fantasy, romance, friendship, school life ★ Rating: PG-15 ★ Length: Chaptered

Previous Episode

Chapter 1 || Chapter 2

“Kalau ada larangan untukmu mencintai seseorang, bukankah itu berarti ada yang salah dengan dunia ini?”

.

.

           Hatiku tak tenang semalaman suntuk. Aku berusaha menghubungi Sehun lewat SNS namun tak kunjung ia baca. Andai saja aku melihat retakan dinding yang tajam itu, pasti aku akan menghindarinya dan bisa pergi ke rumah Sehun untuk mengetahui keadaannya.

            Pintu kamarku berdecit pelan pertanda ada seseorang yang masuk. Tanpa perlu mendongak aku sudah tahu kalau itu Joohyun eonnie. Aku hafal dengan pola derap langkah seluruh penghuni rumah ini. Tentu saja, mereka kan keluargaku, hehehe.

“Ini, minumlah. Susu mengandung banyak kalsium, jadi bagus untuk menyembuhkan tulangmu yang nyut-nyutan itu.” Ujarnya sembari menyodorkan segelas susu hangat padaku.

Omoeonnie perhatian sekali, sih?” aku mengambil gelas berisi susu itu dari genggamannya.

“Sudah jangan bercanda, cepat minum!”

            Kuletakkan gelas yang seluruh isinya sudah kuteguk sampai habis. “Kira-kira sudah bisa buat jalan belum?” tanya eonnie-ku.

Molla, semoga saja begitu.”

“Oh iya, tadi kulihat kau pulang sendirian, dik. Tumben sekali tidak bersama Sehun? Apalagi kondisimu sedang sakit begini. Memang dia ke mana?”

“Dia tak tahu kalau kakiku tergores batu. Sehun pulang duluan tadi.” aku beralasan tak hati-hati saat berjalan hingga kakiku tergores batu yang memiliki permukaan runcing karena kuyakin eonnie tak akan percaya, atau mungkin ia akan tertawa dan mengataiku tengah mendongeng saat aku ceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

“Tapi kenapa sampai sekarang ia tak menjengukmu? Kalian bertengkar?”

Eonnie,” aku memanggilnya lirih dan dibalas deheman olehnya.

“Memangnya salah kalau jatuh cinta sama sahabat sendiri?” tuturku ragu.

“Dik, perasaan cinta atau kasih sayang itu sebuah anugerah. Jika ada larangan untuk mencintai seseorang maka ada yang salah dengan dunia ini. Aku menjamin itu.”

“Jangan menyerah, harusnya Sehun sangat bahagia mendapatkan sosokmu yang mencintainya dengan tulus. Aku yakin kamu lah orang yang paling mengerti dia.”

Eonnie! Siapa bilang aku sedang membicarakan Sehun? Cinta dengan tulus pantatku, huh?!” aku langsung naik pitam ketika Joohyun eonnie menuturiku dengan membawa-bawa nama Sehun. Entah mengapa sekarang nama lima huruf itu menjadi topik yang sensitif untukku.

“Kau hanya terlalu malu untuk mengaku, dik. By the way, besok aku akan berangkat pagi-pagi sekali ke Jeju.”

“Tidak bisa kah kau memperpanjang waktu liburmu? Bosmu tak akan marah kok, eonnie kan karyawan teladan! Masa pulangnya cuma sebulan sekali!” rutukku.

“Tidak bisa, dik. Dalam bekerja tidak boleh seenaknya.” Jelas gadis yang terpaut 3 tahun lebih tua dariku namun tinggi badannya hampir 10 cm lebih pendek dariku itu.

            “Eonnie, kuakui, aku sangat menyukai Sehun.” Hardikku. Joohyun eonnie balas tersenyum, ia mengelus rambutku dengan penuh kasih sayang. “Aku akan mendoakan yang terbaik untukmu, dik.” Tandas eonnie sambil memperlihatkan senyuman takzimnya, membuatku terenyuh dan mengucapkan terima kasih setulus-tulusnya.

            Setelah mendengar segunung ceritaku mengenai Sehun dan saling tertawa jika ada sesuatu yang lucu, Joohyun eonnie akhirnya pamit kembali ke kamar saat rasa kantuknya datang menyerang. Obrolan kami berakhir dan hatiku menjadi lega. Meskipun hingga saat ini aku belum memperoleh kabar tentang seseorang yang sedari tadi terus aku khawatirkan.

            “Semoga saja esok hari semuanya akan membaik.” Gumamku lantas terpejam.

***

            Mataku perlahan mengerjap, kulakukan peregangan seraya mencoba bangkit dari posisi telentangku saat tidur. Aku menyibakkan selimut yang semalaman membalut tubuhku dan bergegas menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Namun tiba-tiba saja kurasakan nyeri yang menjalar hebat dari area pergelangan kaki. Sial, aku lupa kalau kakiku sedang diperban dan susah untuk berjalan.

            Aku menengok meja kecil di sebelah kasur untuk mencari ponsel, namun seketika fokusku hilang saat melihat segelas susu putih bertempelkan sticky notes warna kuning di meja itu. Aku tersenyum-senyum saat membaca pesan dari Joohyun eonnie yang bertuliskan, “Cepat sembuh adikku yang manis, pangeranmu pasti akan menjemput sambil menunggangi kuda putih. ^^”

            Sayang sekali aku lupa memasang alarm untuk bangun lebih pagi. Joohyun eonnie pasti sudah berangkat lagi ke Cheongju untuk kembali bekerja. Aku akan sangat merindukannya.

            Setelah meneguk segelas susu itu sampai habis, aku lantas berjalan dengan langkah yang timpal menuju kamar mandi untuk sekedar cuci muka dan gosok gigi. Rumahku sedang sepi karena ayah dan ibu pasti tengah mengantar Joohyun eonnie ke stasiun.

            Aku melanjutkan aktivitas pagiku dengan menonton TV di ruang depan. Tak ada cemilan atau makanan yang dapat kujumput. Sebenarnya ada sih beberapa bahan untuk membuat sarapan yang tersedia di kulkas, tapi sayangnya semua bahan itu adalah hal yang tak bisa kuolah. Dengan kata lain, kemampuan memasakku masih perlu dikembangkan.

            Jadwal film kartun masih satu jam lagi. Sedangkan acara yang disiarkan seluruh stasiun TV saat ini hanya sebatas program-program edukatif atau semacam perbincangan mengenai politik. Aku mendengus kesal seraya mengotak-atik tombol pada remote, sungguh membosankan.

            Aku ingin melakukan sebuah olahraga kecil, namun untuk berjalan menuju ruang depan saja aku harus mati-matian menahan nyeri. Oh, kuharap luka ini akan segera sembuh, amin.

            TOK! TOK TOK!

            Aku mendengar suara pintu diketuk dengan cukup keras, tidak sampai menggedor maksudku, hanya saja aku dapat mendengarnya dari ruang tengah. Perlahan kucoba bangkit dari sofa untuk segera menuju pintu. Aku pun akhirnya melakukan engklek agar cepat sampai.

            Kuraih gagang pintu dan segera kutarik agar pintu terbuka. “Iya, cari sia—” aku terlongo hingga tak sanggup melanjutkan perkataanku tatkala melihat sesosok pria yang kini tengah berada di hadapanku. Itu Sehun.

“Se, Sehun ada perlu apa datang kema—” dan lagi, aku tak sanggup melanjutkan kalimatku. Mataku terbelalak hebat ketika ia tiba-tiba melingkarkan kedua tangannya di tengkukku. Ia mendekapku dengan sangat erat.

“Maafkan aku.” bisiknya sambil mengeratkan pelukannya padaku. “Iya, iya, tak apa. Aku kesulitan bernapas.” Ujarku, ia pun lantas menarik tangannya, “Maaf,”

“Aku ingin bicara denganmu, kau ada waktu untuk jogging?”

Jogging? Sebenarnya aku ingin, tapi…” aku mengalihkan bola mataku ke bawah, menengok kaki kananku yang diperban.

            “OMO, BAGAIMANA BISA JADI BEGINI?!” Sehun tersentak kaget dan sontak berjongkok untuk melihat kakiku. “Ceritakan padaku kenapa bisa sampai begini!!!” paniknya.

“Aku baik-baik saja, Sehunie… Jangan khawatir.”

“Bagaimana bisa seperti ini kau bilang baik-baik saja, huh?!”

“Ya ampun, kenapa kau jadi begitu paranoid seperti ini?”

“Apa karena aku meninggalkanmu begitu saja kemarin? Kau tak hati-hati di jalan pulang karena memikirkan kelakuanku? Apa ada preman yang menodongmu?”

“Mana ada preman yang memburu kaki untuk disakiti! Memangnya dia mau merampok apa? High heels?” omelku pada Sehun yang menyuguhiku deretan pertanyaan aneh. “Ayolah, ceritakan padaku.” Sehun memohon.

Aish, sudahlah… Aku kan bilang tidak perlu khawatir.” Aku sedikit membungkukkan badan dan mengacak pelan ubun-ubunnya. Tanpa kuduga ia tiba-tiba mendongak dan saat itu juga manik mata kami saling bertemu. Aku terkunci sesaat dan terhanyut akan sorotan dalam bola matanya yang hitam legam.

            “Sehun-a,” aku memanggilnya lirih. Pada saat itu juga ia langsung tersadar dan kembali menundukkan kepalanya. Perlahan ia bangkit dari posisi sendekunya.

“Kalau bersepeda saja gimana? Kau bonceng aku di belakang.” Celetukku memberi saran. “Eum?” Sehun memiringkan kepalanya.

“Kau bisa pakai sepedaku, bagaimana?”

“Baiklah.” Sehun mengangguk setuju.

            “Wuhhuuuu~” pekikku riang menikmati semilir angin fajar menerpa wajahku. Sehun mengayuh sepedanya dengan kencang sekali. “Oi, dingin tahu!” rutukku sambil memukul pundaknya. “Hahaha, maaf aku terlalu bersemangat.” Timpalnya dan perlahan ia mulai memelankan ayunan pada pedal sepeda yang ia kayuh.

“Sudah sarapan belum?” Sehun menoleh sekilas untuk menanyakan hal itu.

“Belum.” Jawabku, dan seketika itu juga ia langsung mengerem mendadak hingga membuat kepalaku terbentur tulang belakangnya.

            “Hati-hati, dong!” aku menggerutu kesal. “Kita sarapan dulu, yuk!” ajaknya. “Tak usah, setelah pulang aku akan makan, kok.”

“Tapi maaf, nona… untuk kali ini aku tak akan menurutimu, wlek ~” tukas Sehun dan kembali mengayuh pedalnya tanpa aba-aba terlebih dahulu hingga membuat hukum kelembaman pada tubuhku bekerja.

“Kau bosnya, Tuan Oh!” dengusku kesal.

            Ia memberhentikan sepeda tepat di depan toko swalayan. Aku pun turun saat ia hendak menjagrak sepedanya.

“Kau saja deh yang pesankan, aku tunggu di sini dan menjaga tempat duduk.”

“Oke, kau mau sarapan apa?” tanya Sehun.

“Terserah kau saja.”

            Setelah menunggu beberapa menit, Sehun akhirnya kembali dengan dua buah cup makanan instan yang berbeda di tangannya.

Nih!” ia menyodorkan semangkuk plastik sereal dengan topping cookies padaku kemudian mengaduk ramyun instan dengan asap yang masih mengepul menggunakan sumpit.

“Sehun-a,” panggilku hingga membuatnya urung menelan banyak helai ramyun yang terlilit pada sumpitnya. “Apa?” balasnya singkat.

“Aku sudah minum susu tadi pagi, jadi rasanya sedikit kurang selera untuk menghabiskan sereal ini.” Tanpa menimpali ujaranku dengan sepatah kata pun, Sehun langsung menarik mangkuk serealku dan menyodorkan ramyunnya. Pada saat itu juga ia segera menyiduk sesendok sereal dan ia masukkan ke dalam mulut.

“Terima kasih.” Ucapku dengan perasaan masih tak percaya.

            Selesai menyantap sarapan sederhana itu, aku meminta ia tetap singgah di bangkunya. Mengingat perkataan Sehun yang bilang ingin membicarakan sesuatu.

“Kita bicaranya di taman saja. Masih jam segini, apa kau tak merasa rugi kalau melewatkan pemandangan bunga-bunga yang indah?” oceh Sehun. “Hm, iya juga sih. Baik kalau begitu. Kita bicara di taman, ya?” aku menyetujui sarannya. Kami pun lantas kembali menaiki sepeda dan saling berboncengan menuju taman yang jaraknya tak seberapa jauh dari toko swalayan.

            “Sarapan tadi pakai uangmu, ya? Hehehe…” candaku di sela suara kayuhan sepeda dan hembusan angin yang berkombinasi. “Oke! Jangan khawatir.” tukasnya meladeni candaanku.

“Bersepeda ternyata tak kalah mengasyikkan ya dari jogging.”

Eum.”

“Apa kau tak merasa lelah? Aku merasa berat badanku naik akhir-akhir ini.”

“Tidak juga. Aku senang kok bersepeda bersamamu.”

“Hm, baiklah. Aku anggap itu sebagai gombalan belaka, Mr. Oh!”

            Sehun kembali memarkirkan sepeda. Setelah asyik berkeliling taman dan memandangi bunga-bunga (tak lupa pula ber-selca juga tentunya), kami duduk di bangku panjang yang menghadap air mancur. Sehun tak mengatakan apapun setelahnya, aku pun sama.

Qm,” celetuknya dengan terbatuk dan membuatku menoleh. “Kenapa?” tanyaku. “Maafkan aku ya. Kemarin aku sangat panik hingga tak tahu harus berbuat apa.”

“Tapi kenapa kau tak membalas pesan atau mengangkat teleponku?”

“Aku butuh waktu untuk sendiri, benar-benar hanya aku seorang.”

“O, pasti kau sangat terganggu ya dengan deringan ponselmu yang bertubi-tubi datang dariku? Maaf, dan nampaknya kau benar-benar terkejut akan peristiwa konyol itu.”

“Apa perasaanmu itu sungguh-sungguh?”

            DASH!

            Sambaran petir memecahkan hatiku hingga menjadi serpihan. Aliran darahku serasa berhenti saat itu juga tatkala pertanyaan menggelitik itu menyapa gendang telingaku.

“Ma, masalah itu…, lupakan saja!” ucapku dan langsung memalingkan muka dan tak memberinya izin menatap raut kelimpunganku.

            OMO!

            Sebuah kecupan sekilas darinya dengan lembut mendarat di pipiku. “Hanya kamu satu-satunya gadis yang aku lihat selama ini.” Ujar pria yang kini tengah memakai kaus longgar warna kuning dan celana pendek selutut itu. Wajahku memanas hingga rasanya ingin mengeluarkan asap. Dia, apakah sudah gila hingga melakukan hal itu pada sahabatnya sendiri? Tapi kalau dipikir-pikir, akulah yang lebih gila karena duluan bilang suka padanya.

            “Tak usah pikirkan perkataanku kemarin atau kejadian mistis di lorong meseum waktu itu. Aku benar-benar tak memaksamu untuk balas menyukaiku. Aku saja yang bodoh, perasaan semacam ini hanya akan merusak persahabatan kita.”

“Tapi kemarin itu ciuman pertamaku, dan harusnya kau bangga karena menjadi wanita pertama yang mencoba rasa bibirku.”

“Tapi kan itu prosedur yang harus dilakukan supaya kita bisa keluar dari ruang bawah tanah itu. Jadi harusnya itu tak masuk hitungan, dong?!”

“Siapa bilang?”

“Maaf ya, tak seharusnya aku seceroboh kemarin.”

“Aku bersungguh-sungguh, tahu! Apa kau tak bisa merasakannya?!” ia memekik namun tak terlalu keras.

“Bersungguh-sungguh apa?”

“AKU MENYUKAIMU!”

“Tapi kenapa tiba-tiba sekali? Yang aku takutkan kau memaksakan dirimu untuk mengatakan hal ini. Sudahlah… aku akan baik-baik saja. Tak masalah kok kalau kau tak membalas perasaanku. Cinta tak datang semudah itu.” Aku bersikeras mengatakan bahwa Sehun tak serius dengan perasaannya terhadapku.

“Haruskah aku menciummu sekarang juga?” rutuknya frustasi.

“Apa kau gila, eo?”

“Siapa suruh jadi orang yang menyebalkan?!”

“Aku berpikir kejadian di museum itu suatu pertanda kalau kita memang cinta sejati. Hahaha, apa yang kubicarakan! Jujur saja, sepanjang malam aku tak henti memikirkan kejadian itu, meskipun otakku terkontaminasi dengan kabar dan keadaanmu yang sangat aku khawatirkan kemarin.”

“Kau, Putri Younghee milikku,” katanya.

“Apa aku harus mengatakan kau adalah Pangeran Cheolsu-ku?” balasku, kemudian kami pun menertawai diri masing-masing yang bertingkah begitu konyol.

“Aku menyayangimu… aku ingin kita selalu bersama menghabiskan seluruh sisa hidup. Saling menghibur di saat lelah dan terpuruk, saling mengerti saat salah satu dari kita diselimuti ego yang tinggi.” Sehun menyibak beberapa helai rambut di wajahku dan menyingkapnya ke telingaku.

            Aku jamin pipiku telah bersemu merah sejadi-jadinya akibat ulah dan perkataan sahabatku yang sok manis ini. Huhh, dasar Oh Sehun, dia les privat kepada siapa sih hingga menjadi sepandai ini dalam hal merayu?

“Maaf, tapi kurasa omonganmu itu ketinggian.” Ucapku seraya memukul pelan pipinya dengan sedikit terkekeh.

Mwoya… aku memang tipe pria romantis, tahu!” Sehun membalas dengan mencubit gemas pipiku.

“Lepaskan, sakit tahu! Hey!” aku mengomel protes padanya karena menarik pipiku terlalu lebar.

“Iya, iya, maaf…”

            Setelah mencerca satu sama lain dan bercanda tak jelas, kami pun saling tatap dan melempar senyum canggung.

“Kenapa kau melihatiku seperti itu, eo?” Sehun menegurku.

“Adanya kau yang menatapku dengan begitu aneh!” timpalku seakan tak mau kalah.

“Apa kau masih tak percaya padaku?”

“Aku mempercayaimu, kok! Mari kita berjanji untuk selalu bersama bagaimana pun keadaannya.” Titahku seraya mengacungkan jari kelingking.

“Aku berjanji!” katanya mantap dan kami pun saling melilitkan kelingking.

 

EPILOGUE

            “Karena aku telah memberikan waktu 2 hari untuk penyusunan kalimat dan mencetak, maka sekarang waktunya untuk mengumpulkan tugas laporan kunjungan kalian ke Museum Jeju. Ketua kelas, tolong kumpulkan semua tugas dan letakkan di meja depan.” Hardik Do Ssaem dengan lantang di depan kelas.

Ye, ssaem.” Tukas Junmyeon selaku ketua kelas. Ia pun berdiri untuk menjalankan perintah guru berwatak tegas itu.

            Aku dan Sehun saling bungkam, namun sorotan mata kami mengisyaratkan sebuah perasaan yang sama. Panik! Akibat kejadian aneh di lorong rahasia museum itu, kami benar-benar tak kuasa mengingat dengan baik apa yang diperintahkan oleh Do seonsaengnim.

“Matilah kita, bagaimana ini?” aku menggerutu cemas.

“Oi, kita bahkan tak mengerjakan selembar pun!” Sehun berdecak frustasi sambil mengacak rambutnya yang kecoklatan.

            “Ada yang tidak mengerjakan?” Do seonsaengnim menyebarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas.

“Bagaimana ini?” Panik Sehun.

“Kita mengaku saja, deh… bagaimana? Apa kau setuju? Kalau kita bohong dan mengaku mengerjakan nanti urusannya malah panjang.” Usulku.

“Oke deh,”

            Kami mengangkat tangan dengan gemetar. Aku menunduk dan memejamkan mataku agar rasa takut akan murka Do seonsaengnim dapat sedikit ternetralisir.

“Hanya ada 2 orang?” ucap Do seonsaengnim.

Omo, saat menjelajahi museum aku sama sekali tak bertemu mereka berdua.” Celetuk Jongin.

“Iya, aku mau minta tolong Sehun untuk mengartikan aksara kanji, tapi aku tak menemukannya.” Timpal Baekhyun.

“Kalian berdua kabur untuk pacaran, ya?” oceh Seulgi.

“Atau mungkin kalian terperangkap ke dalam lorong rahasia di museum Jeju?” tanpa diduga-duga Do seonsaengnim pun juga ikut mendera kami dengan pertanyaan memojokkan. Seisi kelas pun tertawa.

Ssaem, itu kan cuma mitos! Hahaha…” seru Seungwan yang masih menertawai lelucon Do seonsaengnim mengenai lorong rahasia di museum jeju itu.

            Aku dan Sehun sontak mengatupkan bibir rapat-rapat dan menundukkan kepala sedalam-dalamnya. Sehun menepuk lenganku pelan dan sontak membuatku menoleh. Ia lantas berucap teramat lirih, “Tak apa, kita jalani saja apapun hukuman dari Do seonsaengnim daripada kewalahan meladeni segala pertanyaan menggelitik dari seisi kelas apabila mereka mengetahui hal yang sebenarnya.”

– END –

Akhirnya fanfiction ini end juga. Makasih ya buat kalian semua yang sudah bersedia meluangkan waktu untuk membaca cerita ini sampai akhir.

Maaf kalau endingnya ngga sesuai sama apa yang kalian ekspektasikan. Aku sadar banget masih banyak sekali kekurangan dalam ceritaku ini dan aku harus cepet-cepet meningkatkan kemampuan linguistikku.

Mungkin kalian merasa ceritanya aneh, alur kecepatan, yah atau paling parah akal sehat kalian ngga bisa menerima cerita ini saking buruknya, hehehe. Maaf sekali lagi.

Aku berlapang dada menerima semua kritik dan saran yang membangun. Tapi aku minta tolong sekali untuk gunakan bahasa yang sopan. Karena pada dasarnya aku ini orangnya agak gampang tersinggung. Takutnya kalau kalian berniat baik malah aku salah artikan, jadi aku beritahu kalian dulu buat jaga-jaga Hehehe ~

FYI, sebenarnya aku pernah publish FF ini dengan cast member SVT & Gfriend. Jadi kalau kalian nemu FF semacam ini di blog lain, itu bukan plagiat kok, cuma remake aja🙂 sekali lagi terima kasih banyak dan maaf sedalam-dalamnya untuk readers semua. Sampai jumpa di fanfiction selanjutnya. Himnae chingudeul! ^^ Mind to review?

23 thoughts on “Museum Alley (Chapter 3)

  1. Wah, keren abis (y)
    Bahasanya bagus, dapet feelnya. Biarpun alurnya agak renggang, tapi isinya tetep dapet juga.
    Semangat berkarya, aku tunggu karya-karya berikutnya🙂

  2. nice dan menarik ceritanya….
    sahabat jadi cinta itu hal biasa krna sejatinya seorang pria dan wanita itu tidak bisa benar” murni brsahabat tnpa ada perasaan lain di dalamnya

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s