Diposkan pada Baek Hyun, EXO-K, Fanfiction, fingersdancing14

Sticky Note Love

sticky note love

Sequel of Your Smiled Lips by Ochi00

Cast: (EXO) Baekhyun & OC ★ Genre: fluffy, romance ★ Rating: PG-15 ★ Length: Oneshot

“Semua berawal dari keisenganku memandangi seorang gadis aneh yang dengan nekatnya menerobos lebatnya badai salju itu.”
.

.

 

Baekhyun’s Side

Oppa, sepertinya gadis itu sering sekali datang kemari? Dan… dia selalu melihat ke arahmu! Apakah dia penggemarmu?!” oceh Hyemi di sela kesibukan kami mengelap gelas dan cangkir.

Aku hanya menimpali kecerewetannya dengan selengkung senyum tanpa arti.

Oppa, kau tak menjawabku? Oppa!” ia pun naik pitam karena merasa tak digubris.

 

Kubersihkan meja café yang berdebu. Cuaca hari ini sangat dingin karena di luar sedang terjadi badai salju. Tiba-tiba aku melihat seorang gadis berlarian di tengah badai salju tanpa mengenakan mantel, dan sepertinya ia menuju halte. Apa dia gila? Mana mungkin ada bis di situasi seperti ini!

 

Entah mengapa kelakukan anehnya begitu menyita perhatianku hingga rasa simpati dalam benakku pun muncul. Kasihan juga kalau gadis – yang belum kuketahui namanya – itu mendadak mati beku di atas gumpalan salju. Aku pun berinisiatif meracik secangkir kopi panas untuknya. Kali ini kuusahakan rasanya manis karena setahuku kandungan yang terdapat pada gula dapat memulihkan energi yang lebih banyak hilang di cuaca dingin.

 

KRING ~

Sensor otomatis di dekat pintu cafe berdering, itu tandanya kami kedatangan pelanggan. Kutelisik pakaiannya, ah… ternyata itu gadis aneh tadi. Dengan tangan bersedekap erat – guna menahan rasa dingin yang menjalar ke seluruh tubuh – ia segera menuju kasir untuk memesan. Kupandangi kopi yang sebenarnya kuracik khusus untuknya, jika ia tak memesan ini apa harus kuminum sendiri?

Oppa, kakak itu memesan kopi. Katanya, sih, terserah. Ia tak menyebutkan kopi apa.”

 

Kuhela napas lega, syukurlah. Aku pun mengambil sticky note dan pulpen yang tersampir di samping coffee brewer kemudian menulis sebuah kalimat singkat. “Jangan berlarian di tengah badai salju.”

 

“Hyemi-ya, kopinya siap!” aku berucap pada adikku yang entah ada di mana.

Maaf, oppa… aku mau buang air kecil. Oppa saja, ya, yang antarkan?”

Entah ada angin apa, aku buru-buru mengiyakan ucapan adikku tanpa syarat. Kurapikan bajuku, bagaimanapun aku harus terlihat rapi. Apalagi di depan pelanggan.

“Kopinya, agasshi. Selamat menikmati.” aku membungkuk tanpa lupa menyunggingkan senyum lebar sebagai tambahan. Ia juga membalas senyumku. Lumayan manis juga senyumnya, walaupun bibirnya terlihat kaku kedinginan.

Badai di luar sudah semakin mereda. Kubersihkan meja tempat gadis itu menyesap secangkir kopi racikanku. Tiba-tiba sticky note yang kutempel jatuh ke lantai. Yah, sepertinya ia tak membacanya. Aku pun merasa kecewa. Tapi apa boleh buat, mungkin lain kali.

 

Sejak saat itu perempuan itu menjadi pelanggan tetap di caféku. Terkadang juga masih kuselipkan berbagai stikcky note saat membawakan kopi untuknya. Tapi, apa salahku hingga tak satupun stikcky note-ku dibaca olehnya? Kutegaskan sekali lagi, tak satupun! Perempuan yang kuketahui bernama Shin Arin (karena waktu itu aku tak sengaja melihat namanya melalui sampul buku tebal yang ia bawa) itu memang tidak peka atau tidak mau tahu? Terkadang kesal namun juga lucu. Shin Arin… perempuan berkulit seputih susu dengan rambut panjang, mata yang indah, hidung mungil, dan bibir ranum yang sangat manis saat tersenyum.

 

Arin’s Side

“Shin Arin, tunggu aku! Ya! Mau kemana kau?”

Segera kuhentikan langkahku dan menengok sumber suara.

“Maaf, Lana, aku benar-benar terlambat!”

“Terlambat? Kau ada kelas?”

Aniya, aku akan ke café, mau ikut?”

“Kau yang traktir?”

Kuanggukkan kepalaku, tanda setuju.

Yash, kajja kajja!

Sudah kuduga, temanku yang satu ini memang suka sekali yang namanya gratisan. Lihat saja, dengan semangat ia menarik tanganku, bukan! Ia menyeretku sekarang.

“Hm… Kopi ini lezat, sepertinya kau sudah sering kemari Arin-a, dan lihat! Pemandangan di sana benar-benar indah, kau bisa melihat kendaraan dan langit yang cerah.”

Tak kupedulikan ocehan Lana, dia benar-benar cerewet. Kupandangi Baekhyun dari tempat dudukku. Hari ini gaya rambutnya berubah, membuatnya terlihat semakin imut saja. Poninya dipotong lebih pendek, hingga aku dapat lebih leluasa menikmati pahatan Tuhan yang terukir begitu indah itu.

YA!

Aku sontak kelimpungan dan tergugah dari buaian lamun manakala gadis berkepribadian urakan itu menggebrak meja.

“Oh, oh wae?” sahutku kikuk.

 “Apa yang kau pikirkan? Daritadi mematung senyam-senyum. Rasanya menghafal 4 Pasal KUHP tentang Yurisdiksi Teritorial tidak sesulit itu hingga membuatmu gila. Bahkan kopimu sudah kehilangan asap.”

Benar juga, kupegang gelasku yang semakin kehilangan kalor. Segera kuminum perlahan, meresapi rasa yang diciptakannya dan menghirup aroma pahit-manis yang nikmat.

“Eh? Apa itu?”

Segera kupandang Lana dengan air muka apa yang kau maksud?. Tangannya mendekati gelasku dan mengambil sesuatu dibaliknya.

Sticky Note?”

Segera Lana tunjukkan padaku dengan eskpresi anehnya.

“Akhirnya kau datang juga. Awalnya kupikir kau tak akan datang,

Dan kau tak sendiri lagi. Apa dia teman baikmu?

2015.11.28

Kubaca kalimat itu sambil mengernyitkan dahi. Segera kuarahkan pandanganku ke segala penjuru café. Siapa yang menaruh ini di sini?

“Kau tahu siapa yang menempelnya di gelasku?”

Lana mengedikkan bahunya, “Kupikir tak mungkin pengunjung, karena ini dari sana.”

Lana  menunjuk meja bertuliskan Kasir sekaligus tempat untuk meracik kopi. “Kupikir salah satu pekerja café ini.”

Pekerja? Memang siapa lagi yang bekerja di sini selain si manis Byun Baekhyun dan adiknya, Byun Hyemi?

 

Malamnya…

Rasa penasaranku mebuatku gelisah, bahkan aku tak dapat berpikir dengan benar sekarang. Segera kutarik jaket dan bergegas keluar.

Eomma, aku keluar sebentar, ya?”

“Jangan lama-lama Arin sayang.”

Ne, arasseoyo.”

 

KRING ~

Suara khas sensor otomatis itu kembali berdering, aku menyetabilkan detak jantung dan deru napas yang tersengal sembari berjalan menuju kasir untuk segera memesan. Dengan gelisah kutunggu kopi itu diantar oleh Hyemi.

Sudah sekitar 15 menit aku menunggu, namun kopinya tak kunjung datang. Kenapa lama sekali, sih? Tak biasanya. Rasa penasaran ini seperti akan mencekikku jika kutahan lebih lama lagi.

 

Kopi pesananku pun akhirnya datang. Kudapati bukan Hyemi yang mengantarnya, melainkan Baekhyun. Jantungku semakin kencang berdetak. Tunggu, kenapa ia kembali? Mataku memicing, ingin tahu lebih jelas apa yang membuatnya berbalik dan mengurungkan niat memberikan kopi itu padaku. Ia mengambil selembar sticky note dan meletakkannya di bawah gelasku. Seketika, aku semakin merasa gugup. Apa sticky note siang tadi juga kerjaan Baekhyun?

 

Ia semakin mendekat dan jantungku serasa akan melompat-lompat dan ingin berlari ke arahnya.

“Selamat menikmati.” Ia membungkuk dan tersenyum – lagi. Sial! Ia sukses membuat tubuhku semakin memberontak tak sinkron dengan otak. Setelah ia kembali, dengan sigap kuintip sesuatu yang tersembunyi di balik gelas, sticky note.

Kau datang lagi! Ini pertama kalinya kau datang dua kali dalam sehari. Jangan gunakan jaket yang tipis, diluar sangat dingin karena hujan baru saja reda.
Dapatkah sekali saja kau
membaca pesan yang kuberikan padamu?

2015.11.28

Apa ini? Tak dapat kupungkiri aku sangat bahagia. Kubaca lagi kalimat terakhir. Tunggu, apakah ia menempel ini untuk kesekian kalinya? Oh, benarkah? Apa yang harus kulakukan!? Tak sadar tanganku berayun-ayun dan kakiku menendang-nendang hingga mengenai meja.

 

BRAK!

“Ah!” Secara spontan aku memekik, segera kusadar dan menutup rapat mulutku dengan tangan.

 

***

Author’s Side

Baekhyun mengeluarkan kotak yang tersimpan rapi di laci kamarnya. Ia membuka dan membaca isinya seakan ia mengalami peristiwa itu lagi.

Kau sangat lucu dengan topi minion-mu itu, mantelmu seakan melahap habis tubuhmu. 2014.12.12

Hari ini malam tahun baru, apa yang akan kau lakukan nanti? Akan menyenangkan jika kita dapat menjadi lebih dekat.

2014.12.31

Jadi namamu Shin Arin? Aku Byun Baekhyun, barista di café ini. Salam kenal.

2014.02.18

 Arin-ssi? Apa kau benar-benar tak membaca sticky notes-ku? Aku menempelnya setiap kau datang.

2015.06.16

“Dress merah mudamu terlihat sangat cocok dengamu. Kau sangat cantik saat mengenakannya.

2015.06.29

Ia tersenyum dan memandangi kertas-kertas mungil itu dengan penuh arti.

“Kupastikan kertas ini akan kau terima.”

Ditutupnya kotak itu dan diletakkan kembali dalam laci dengan rapi.

 

***

Oppa, eodiga?”

“Aku akan mengantar kopi ini sebentar, jaga café selagi aku keluar!”

“Sepertinya pagi ini tak ada yang memesan kopi, deh?” Hyemi mengedikan bahunya dan memilih membereskan peralatan yang berantakan.

 

Hari ini Baekhyun berniat memberikan kotak berisi sticky notes yang – harusnya – sudah dibaca Arin sejak jauh hari. Ia berniat mengunjungi kampus Arin. Berkat seorang teman dekat Baekhyun yang kuliah di tempat yang sama dengan gadis itu, ia jadi tahu jadwal dan letak kelas maupun loker Arin. Baekhyun berencana untuk meletakkan kopi dan kotak itu di loker Arin, tak lupa ia menempel Sticky note di atas gelas. Sebelum Arin melihatnya, ia bergegas kembali ke café.

 

***

Arin’s Side

“Arin-a, tadi kulihat ada laki-laki yang membuka lokermu, coba kau periksa.”

Setelah Lana mengatakan itu, aku langsung menghampiri lokerku. Kubuka perlahan-lahan, takut-takut jika ada orang usil yang memasukkan tikus ke dalamnya. Ternyata nihil! Tak ada tikus sama sekali, yang ada hanya segelas kopi dan sebuah kotak. Kubaca tulisan yang tertempel di sana.

Selamat pagi! Kuharap harimu menyenangkan. Kupastikan setelah ini kita akan semakin dekat. Aku akan berusaha keras! 

2015.11.30

Mungkinkah…  ini dari Baekhyun? Segera kubuka isi kotak itu. Apa ini? Banyak sekali sticky notes yang telah terpahat kalimat. Di tutup kotak tertulis,

“Aku sengaja mengumpulkan semua ini. Ini adalah tulisan yang seharusnya sudah kau baca. Semoga kau tak bosan membaca semuanya^^

Byun Baekhyun

Oh! Astaga astaga, kucoba menampar pipiku sendiri. “Aw!” pekikan itu terlontar dari mulutku sendiri. Sakit! Ini benar sakit!

“Arin-a? kau tersenyum lagi? Apa kau benar-benar sudah gila?”

“Lana, pipiku sakit! Setelah kucoba menamparnya tadi dan pipiku benar-benar sakit!! Astaga!!”

Ahjumma, sepertinya anak Anda sudah gila!”

Tak kupedulikan celotehan Lana lagi, dengan senyum mengembang kukembalikan kotak dan kubawa kopi itu menuju kelas.

 

***

Author’s Side

Sudah pukul satu siang, artinya Arin akan menuju café tempatnya biasa menyesap secangkir kopi lagi. Baekhyun pun seperti harap-harap cemas, takut jika tiba-tiba Arin menjauhinya karena hal yang dilakukannya tadi pagi.

 

KRING ~

Jantung Baekhyun seakan berhenti tiba-tiba karena bel yang berbunyi itu disusul dengan sosok Arin yang datang. Baekhyun menghela napas panjang, akhirnya penantiannya sampai juga. Setelah pesanan diterima Hyemi, Baekhyun meracik kopi dengan penuh semangat. Kali ini ia tak akan menempel sticky note itu lagi. Ia berniat menghampiri Arin, berhubung pelanggan café agak lengang.

Ia menyiapkan mental dan berjalan menuju Arin, ia meletakkan kopi itu di atas meja Arin, “Boleh aku duduk?” Baekhyun berbicara dengan sedikit bergetar. Ia langsung duduk saat melihat Arin yang mengangguk tanda setuju.

Eum…, aku Byun Baekhyun.” pria itu mengulurkan tangannya.

Dengan sedikit ragu Shin Arin menjabat tangan Baekhyun, “Shin Arin.”

“Apa kau sudah melihatnya? Kotak tadi.”

Eum, belum semua.”

Oh Tuhan, Baekhyun semakin bingung. Apa yang harus dikatakannya pada Arin? Bagaimana Arin menjawabnya dengan singkat, padat, dan jelas. Oh ayolah, Baekhyun sebenarnya tak ingin ini berlalu dengan cepat.

“Apa kau menyukainya? Kopi dan… kotak itu?”

“Ya, sangat. Terima kasih telah menyimpannya dan memberikan padaku.”

Jangan hakimi Arin! Ia juga harus menahan setengah mati perasaan yang membuncah di hatinya. Di perutnya bukan lagi kupu-kupu yang berterbangan, kupu-kupu itu terlalu banyak, hingga rasanya ingin meledak!

Eum…, kuharap kita bisa semakin dekat, Arin-ssi.”

“Ne, Baekhyun-ssi.”

Keduanya tersenyum. Saling memandang sejenak sebelum Baekhyun kembali ke tempatnya kerjanya.

Saat akan bergegas pulang, Arin memeriksa gelas dan nampan yang ada di depannya, kalau-kalau ada stickcy note yang tertempel. Namun nyatanya tidak ada. Tiba-tiba sesuatu terjatuh di kakinya. Secarik kertas putih…

010-xxxxxx. Jika kau ingin menghubungiku atau memesan kopi.”

Segera ia masukkan kertas itu dalam kantung dan bergegas pergi.

 

***

Malam itu, Arin memutar-mutar ponselnya dengan bimbang. Tertera di layar nama kontak Byun Baekhyun. Ia bingung, haruskah ia menghubungi Baekhyun? Jika iya, apa yang harus ia katakan? Ia menyerah, segera ia membanting diri ke kasur empuknya dan mengetikkan sesuatu pada ponselnya.

“Baekhyun-ssi, ini Arin. Apa kau mengingatku? Perempuan yang sering ke cafému.”

Sent.

Astaga! Apa aku baru saja mengirimnya? Oh tidak apa yang harus aku ….

Bip … Bip …

Belum sempat Arin menggerutu pada dirinya sendiri yang begitu bodoh – karena mengirimnya begitu saja sebelum diperintah otak – Ponselnya bergetar tanda pesan masuk.

Tentu saja aku ingat! Bagaimana bisa aku melupakanmu? Aku sudah membayangkan ini ribuan kali. Senang berkenalan denganmu.

Arin jadi gila sendiri saat balasan datang secepat kilat.

Bip … Bip …

Sebuah pesan kembali datang.

Apa kau tidak ada janji besok? Kudengar akan ada pasar malam. Mau pergi denganku?

YA! Bagaimana mungkin Arin menolaknya, hahaha.

Baiklah, aku akan ke café mu besok malam.

Mungkin Arin tak akan bisa tidur malam ini karena terlalu sibuk memikirkan peristiwa bertukar pesan singkat barusan.

 

***

 Sekarang hubungan Arin dan Baekhyun jadi semakin dekat satu sama lain. Mereka sering bertukar pesan singkat dan membicarakan hal yang konyol. Pertemuan keduanya di cafe setiap hari menjadi momen yang paling ditunggu.

 

Tiba-tiba ponsel Arin bergetar lama, menandakan ada panggilan yang masuk.

Yeobeoseyo? Arin-a?”

Suara dari sebrang, itu Byun Baekhyun.

Ne, Baekhyun-ssi?”

“Apa kau ada jadwal besok malam?”

“Besok malam? Tunggu tunggu… sepertinya tak ada, kenapa?”

“Bisakah besok malam kau datang ke café?”

“Baiklah.”

“Aku menunggumu, jaljayo, Arin-a.

Ne, jaljayo Baekhyun-ssi

Hubungan Arin dan Baekhyun memang terbilang cepat. Mungkin karena memang mereka telah saling menyimpan perasaan sejak lama. Arin tetap melakukan aktivitas rutin mengunjungi café, namun sekarang Baekhyun selalu menemaninya duduk walaupun hanya sebentar.

 

***

Baekhyun’s Side

“Hyemi-ya, apa ada yang kurang?”

Eobseoyo, oppa.”

“Apa kau benar-benar yakin? Di pojok sana, apa harus kita beri sesuatu?”

“Aniyo, oppa, akan terlalu ramai, aku akan menempatkan lampu di sana.”

“Oh, geurae, geurae… Aku sangat gugup.”

“Percayalah padaku, ini akan berhasil!” ucap Hyemi yakin.

“Terima kasih, Hyemi-ya.”

 

***

Malam ini adalah malam spesial bagi Baekhyun. Ia berencana membuat event kecil untuk Arin. Lihatlah café yang sederhana, sekarang telah berubah menjadi tempat yang romantis. Di pinggir-pinggir ruangan terdapat lampu yang redup. Tempat yang sebelumnya kosong kini terisi bunga-bunga yang mekar dan balon. Tak lupa di tengah, terdapat kursi dan microphone yang berdiri di depannya, gitar yang bersandar di kursi menunggu empunya memainkan melodi indahnya. Berjajar lilin kecil yang menuju ke arah podium, seakan menuntun seseorang yang datang untuk mendekat.

“Apa semuanya sudah siap? Tak ada yang kurang kan, dik? Oh sepertinya aku perlu minum. Tenggorokanku terasa kering.”

“Tenanglah, oppa. Aku sudah memeriksanya ribuan kali. Jangan terlalu gugup, suaramu bisa hilang.”

Baekhyun berkali-kali menghela napas panjang demi menghilangkan rasa gugup yang membandel bersarang di hatinya.

Oppa, Arin eonni sebentar lagi sampai! Bersiaplah!” Hyemi yang mengawasi lingkungan luar seperti penjaga mercusuar, menemukan sosok Arin yang sebentar lagi sampai café.

“Oke oke, Baekhyun calm down.” Baekhyun berkata seolah ia berbicara pada hati dan tubuhnya.

 

KRING ~

Sosok itu akhirnya datang, lampu yang terang langsung menyorot ke arah podium yang terdapat Baekhyun dengan microphone dan gitarnya.

“Arin-a, geunyang deureoyo, I’ll sing for you…”

Baekhyun mulai memetik senar gitarnya, menciptakan melodi yang mengiringi merdu suara miliknya.

“Annyeong naege dagawa

sujubeun hyanggireul angyeo judeon neo

 (Hello, you came to me
Giving me your shy scent
)

huimihan kkumsogeseo

nuni busidorok banjjagyeosseo

(In my hazy dream
You were shining, dazzling
)

seolleime nado moreuge

hanbaldubal nege dagaga

 (With a fluttering heart, without knowing
I went to you, step by step
)

neoui gyeote nama

neoui misoe nae maeumi noganaeryeo

(And I stayed by your side

My heart melts at your smile)

nuni majuchyeosseulttaen dugeungeoryeo

oh neoui gaseume nae misoreul gieokhaejwo

(When our eyes meet my heart pounds

Oh remember my smile in your heart)

haruedo myeoccbeonssik saenggakhaejwo

oh neoege hago sipeun geu mal

(Think about it several times a day

Oh words I want to say you to)

You’re beautiful.”

 

Arin benar-benar kehilangan kata-katanya. Ia sangat tersentuh. Malam ini, ia tak menduganya sama sekali. Bahkan ia berkaca-kaca, seakan air mata bahagia itu bisa jatuh kapan saja. Baekhyun segera mendekati Arin dan memeluknya. Kelopak mata Arin sudah tak sanggup lagi menahan volume air mata yang bertambah dan tumpah. Arin sangat terharu. Ia membalas pelukan Baekhyun yang lebih hangat dari mantel musim dingin yang dikenakannya.

 

CSSSSSTTT, DUAR.. DUAR… DUARR!

“Baekhyun oppa, kembang api!” seru Hyemi.

Tentu saja, sekarang adalah tahun baru, mereka berdua memilih keluar di tengah dinginnya malam musim salju dengan tangan saling bertaut.

“Wah, cantiknya!” mata Arin berbinar.

“Aku bertaruh, kau lebih cantik daripada seribu kembang api yang sedang dinyalakan itu.”

“Kau menang! Memang aku lebih cantik!”

Baekhyun mengacak-acak rambut Arin gemas, pipinya yang kedinginan itu memerah.

“Baekhyun oppa, hentikan!” Arin tanpa sadar mengatakannya.

“Oh, sekarang kau memanggilku oppa, ya?” goda Baekhyun.

“Baiklah kalau kau keberatan. Haruskah kupanggil kau ahjussi? Tak buruk. Baekhyun ahjussi, wlek ~” Arin langsung melarikan diri sambil terus menggoda Baekhyun.

“Ya! Kau berani-beraninya! Larilah! Jika kau kutangkap, kau akan menyesal!”

“Kejar aku Baekhyun ahjussi, ahjussi tua!”

Mereka kejar-kejaran layaknya bocah taman kanak-kanak yang sedang bermain. Sampai akhirnya mereka kelelahan dan berbaring di salju yang membeku.

Oppa, terima kasih untuk hari ini, aku senang sekali.”

“Haruskah kau bayar semua pengorbananku hari ini?”

Mwo?” Arin mengangkat sebelah alisnya heran.

Baekhyun menangkup wajah dingin Arin.

“Arin-a, aku mencintaimu”

“Aku juga mencintaimu, oppa.”

 

Baekhyun mendekatkan wajahnya dengan wajah Arin, mempersempit jarak di antara mereka hingga akhirnya, bibir mereka bertemu. Sebuah ciuman selembut es yang meleleh saat musim semi. Sepertinya hati mereka lebih dulu bersemi walaupun salju yang dingin mengelilingi mereka.

 

FIN

 

Iklan

Penulis:

♬ Lely ♬ 99line ♬ warm hearted ♬ talk active ♬ let's be friend! ♬

8 tanggapan untuk “Sticky Note Love

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s