Nice Guy (Chapter 7)

LEentfHP

Nice Guy

Tittle : Nice Guy (Chapter 7)
Author : Jellokey
Main Cast :
Lu Han
Choi Ji-seul (OC)
Byun Baek-hyun (Baek Hyun of EXO)
Support Cast:
Zhang Yi Xing (Lay of EXO)
Yoon Se-jin (OC)
Kim Jong-in (Kai of EXO)
Kang Jeo-rin
Oh Se-Hoon (Se Hun of EXO)
Shin Min-young (OC)
And others
Length : Chaptered
Genre : romance, arranged marriage, school life, family, friendship
Rating : PG-17
Poster : https://myelsexperience.wordpress.com/poster/
Disclaimer : This story is pure MINE. Don’t plagiat or copy paste without my permission
—————————–

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4  Chapter 5  Chapter 6
Selesai makan malam, mereka berkumpul di ruang keluarga.
“Apa ayah tidak ikut?” Tanya Lu Han pada ibunya.
“Tidak, nak. Ayahmu masih berada di Cina.” Nyonya Lu tersenyum pada Jiseul yang meletakkan teh di hadapannya.
“Terima kasih, sayang.”
“Kenapa ibu di sini?” Lu Han berkata sambil terus melihat Jiseul yang berjalan menuju dapur. Ia menatap ibunya begitu Jiseul tidak terlihat.
“Apa ibu tidak boleh mengunjungi kalian?” Sahut Nyonya Lu dengan wajah terluka yang dibuat-buat.
“Bukan begitu. Biasanya ibu selalu bersama ayah.” Balas Lu Han acuh tak acuh, membuat Nyonya Lu benar-benar sedih. Mungkin perilaku menyimpang Lu Han tidak sepenuhnya salah pria itu. Keabsenan mereka dalam masa pertumbuhan Lu Han juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan Lu Han terjerumus dalam pergaulan yang salah.
“Lu Han, Mama dan Baba tidak pernah bermaksud meninggalkanmu sendirian di rumah.” Lu Han memutar bola matanya. Ia malas membahas topik yang sama dengan ibunya. Entah sudah berapa kali mereka membahas ini. Lu Han tidak bisa menghitungnya lagi.
“Nak,” Nyonya Lu tidak melanjutkan perkataannya karena Jiseul sudah bergabung dengan mereka. Jiseul duduk di sebelah Lu Han. Ia melihat Lu Han sebentar lalu melihat ibu mertuanya. Samar-samar, Jiseul bisa mendengar percakapan mereka. Batinnya menggelengkan kepalanya karena sikap dan ucapan Lu Han tadi. Anak mana yang berani memutar bola matanya di depan ibunya? Baru Lu Han orang yang Jiseul temukan bisa melakukan itu. Pria itu memang perlu diajarkan sopan santun.
“Tapi, terima kasih. Berkat kerja keras kalian, aku bisa tumbuh menjadi pria tampan dan tidak kekurangan apapun.” Jiseul tidak tahu ucapan Lu Han bermakna positif atau negatif. Ia tidak perlu memikirkan ini. Selama Jiseul berinteraksi dengan Lu Han, tidak ada satupun kata yang bermakna positif keluar dari mulut pria itu. Dia meletakkan tangan kanannya di paha kiri Lu Han, berharap pria itu berhenti bicara agar mereka bisa membicarakan topik lain yang tidak sesensitif ini. Gerakan yang Jiseul lakukan cukup membuat Lu Han terkejut. Kalian tidak lupa kan kalau Jiseul sangat anti dengan Lu Han? Ah, Lu Han melupakan ini. Jiseul pasti sedang akting di depan ibunya. Tapi, entah kenapa gestur sederhana itu memberikan ketenangan pada Lu Han. Ia menggenggam tangan Jiseul erat membuat gadis itu sedikit meringis. Kesedihan Nyonya Lu terlupakan setelah ia melihat interaksi kecil yang dilakukan anak-anaknya. ‘Hanya butuh waktu. Aku yakin sebentar lagi mereka benar-benar bisa menerima status mereka dan menjadi pasangan suami-istri yang saling menyayangi.’
“Ibu menemukan satu kamar yang siap dipakai di lantai atas.” Jiseul tidak terkejut mendengar penuturan ibu mertuanya. Ia sudah menduga ucapan ibunya ini akan keluar.
“Itu kamar belajarku, Ma.”
“Kenapa kau tidak belajar di kamar kalian?” Nyonya Lu menyuarakan kebingungannya. Lu Han melihat Jiseul. Ia ingin tahu apa yang akan dikatakan gadis yang berstatus sebagai ‘istrinya’ itu.
“Meja belajar Lu Han tidak memiliki cukup ruang kalau aku juga menempatkan barang-barangku di sana. Kebutuhan belajarku jauh lebih banyak daripada Lu Han, Ma.” Jiseul tersenyum tipis. Lu Han menatap kagum Jiseul karena bisa menjawab pertanyaan ibunya dengan tenang. Ia juga tidak menyangka Jiseul bisa berakting sebagus itu. ‘Kalau Jiseul mau, dia bisa menjadi seorang aktris. Suzy Miss A lewat.’ Pikir Lu Han.
“Mama bisa melihat itu. Kau anak yang sangat berbakat, sayang.” Lu Han menatap ibunya dengan tatapan penuh tanya. Apa maksud ucapan ibunya? Apa ibunya mengetahui sesuatu yang tidak Lu Han ketahui?
“Kau harus lihat sendiri seperti apa kamar belajar Jiseul, nak. Kau pasti semakin bangga memiliki istri seperti Jiseul setelah melihat kamar belajarnya.”
“Kau tidak boleh melihat kamar belajarku.” Lu Han langsung menoleh pada Jiseul. Kalau Lu Han peka, kaliamat Jiseul bermakna seperti ini, ‘Kau tidak boleh masuk ke kamarku. Titik’. Tapi sayang, Lu Han tidak bisa menangkap makna itu.
“Kenapa?”
“Hanya tidak boleh.” Jawab Jiseul tidak peduli. Nyonya Lu tersenyum mendengar percakapan mereka. Sadar atau tidak, dua orang itu terlihat romantis di hadapan Nyonya Lu, membuat Nyonya Lu merasa harus meninggalkan mereka.
“Mama istirahat duluan. Jangan tidur terlalu lama, anak-anak.” Lu Han tidak mempedulikan ibunya. Adu pandang yang terjadi karena Jiseul tidak mengizinkan Lu Han melihat kamarnya, berubah menjadi tatapan penuh tanya—dari pihak Lu Han karena Lu Han lagi-lagi merasa tidak asing dengan manik cokelat milik Jiseul. Jiseul yang menyadari kilatan di mata Lu Han hilang merasa tidak nyaman karena ia sama sekali tidak bisa mengartikan tatapan pria itu. Ia menggerakkan matanya ke kanan dan ke kiri. Tapi Lu Han tetap bisa mengunci mata Jiseul dengan tatapan aneh miliknya. Niatnya untuk menoleh tidak tercapai karena kedua tangan Lu Han sudah merengkuh wajahnya lebih dulu.
“Biarkan aku melihatmu.” Jiseul membulatkan matanya.
“K-kau sudah melihatku. Tidak perlu menahan wajahku seperti ini.” Jantung Jiseul berdetak kencang ketika Lu Han memperpendek jarak wajah mereka. Tidak ada skinship jika tidak diperlukan, mereka adalah dua orang asing yang tidak saling kenal, semua itu terlupakan begitu saja hari ini.
“Sepertinya aku—“ Lu Han tidak melanjutkan ucapannya, ia tidak bisa. Jantungnya juga berdetak kencang sama seperti Jiseul. Jiseul dapat merasakan nafas mereka yang saling beradu. Ia panik. Apa Lu Han mau memanfaatkan kesempatan lagi? Mereka tetap berada dalam posisi tidak nyaman—menurut Jiseul—selama tiga puluh detik. Merasa tidak bisa mengatasi rasa gugupnya lagi, Jiseul berdiri, menggagalkan apapun itu niat Lu Han.
“Aku mau tidur.” Tidak mempedulikan Lu Han, Jiseul pergi begitu saja. Meninggalkan Lu Han yang merenungi tindakan anehnya lagi. ‘Ada yang salah dengan Jiseul.’ Lu Han menggelengkan kepalanya. ‘Siapa yang aneh? Jiseul atau aku?’

——————————

Jiseul menekan dada kirinya, jantungnya sudah berdetak normal kembali. Ia melihat kamar Lu Han dan matanya langsung tertuju pada sofa tempat ia tidur di malam pertama ia harus sekamar dengan Lu Han. Sekarang ia kembali tidur di sofa itu. Ia tidak tahu sampai kapan ia tidur di sana. Dia terlalu segan untuk menanyakan berapa lama mertuanya menginap di rumah mereka. Jiseul berjalan menuju tempat tidur. Ia mengambil bantal dan selimut, melakukan apa yang ia lakukan di malam pertama ia berada di kamar itu—mengatur sofa menjadi tempat tidurnya. Ia merebahkan tubuhnya, membuat dirinya senyaman mungkin di sofa itu lalu mengeluarkan handphonenya dari saku celananya. Ia membuka pesan yang sejak makan malam ia abaikan.

From: 0106334xxx
Malam, angel.

Alis Jiseul menyatu setelah membaca pesan itu. Siapa orang ini? Apa ini pesan dari orang iseng yang tidak punya pekerjaan selain mengganggu siapapun orang yang nomornya mereka ketik di handphone mereka? Ia hendak mengabaikan pesan itu tapi pesan yang baru saja masuk ke handphonenya membuat Jiseul mengurungkan niatnya karena si pengirim sepertinya mengenal dirinya.

From: 0106334xxx
Kau mengabaikanku, Jiseul.

To: 0106334xxx
Ini siapa?

Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Jiseul mendapatkan balasannya.

From: 0106334xxx
Salah satu cemilan kesukaanmu. 

To: 0106334xxx
Lay?

Jari-jari Jiseul dengan cepat mengetikkan nama itu dan langsung mengirimkan pesannya. Jantung Jiseul berdetak kencang saat merasakan handphonenya bergetar. Orang yang ia duga sebagai Lay itu meneleponnya.
“H-halo,” Sahut Jiseul.
“Hai,” Benar, ini suara Lay. Jiseul mengenalinya walaupun ia baru mengenal pria itu hari ini.
“Darimana kau tahu nomor ponselku?” Tanya Jiseul pelan. Lay tidak meminta nomor ponselnya dan dia tidak memberikan nomornya pada Lay saat di sekolah tadi.
“Aku punya jalan sendiri untuk mencari tahu tentangmu.”
“Aku harap kau tidak mencari tahu ‘hal-hal lain’ tentangku.” Jiseul tertawa kecil untuk menutupi kegugupannya. Ia akan menganggap Lay maniak kalau sampai itu terjadi dan sudah pasti ia akan menjauhi pria itu. Tapi ia yakin kalau Lay bukan orang seperti itu.
“Aku lebih tertarik mencari tahunya langsung darimu.” Jiseul tersenyum. Dia tidak percaya kalau dia bisa secepat ini tertarik pada Lay.
“Jangan lupa besok, Jiseul.” Lay mengingatkan Jiseul tentang ‘date’ mereka.
“Aku ingat, Mr. Zhang.”
“Ei, aku bukan gurumu saat ini. Jangan memanggilku Mr. Zhang.” Jiseul mengangguk sambil tersenyum tipis. Ia tidak menyangka kalau orang sukses seperti Lay memiliki sifat yang santai. Ia sama sekali tidak merasa sedang bicara dengan CEO terkenal sekarang.
“Iya, Yixing. Kita langsung bertemu di Apgeujong saja.”
“Baiklah. Aku ingat aku punya kafe langganan di sana. Aku akan mengirimkan alamatnya padamu nanti.”
“Eum.” Gumam Jiseul. Tidak ada yang mengeluarkan suara setelah itu. Mungkin sekitar dua menit hanya nafas mereka yang terdengar.
“Sampai jumpa besok, Jiseul.”
“Sampai jumpa besok, Lay.” Jiseul menunggu Lay memutuskan sambungan telepon mereka. Tapi laki-laki itu tak kunjung melakukannya.
“Lay?”
“Eo?” Lay terdengar terkejut, seperti baru tersadar dari sesuatu.
“Maafkan aku. Tutup teleponnya, Seul.” Walaupun merasa aneh dengan panggilan Lay untuknya—baru Lay orang pertama yang memanggilnya dengan Seul—Jiseul tetap melakukan apa yang dikatakan Lay.
“Malam, Lay.” Jiseul memutuskan sambungan telepon mereka setelah Lay membalas ucapannya.
“Apa Lay yang baru saja kau telepon adalah Yixing?” Jiseul terkejut mendengar suara itu. Ia mengelus dadanya pelan lalu melihat ke arah sumber suara. Ia mendapati Lu Han sedang duduk di tempat tidur sambil melipat tangannya di dadanya.
“Sejak kapan kau berada di situ?” Lu Han memicingkan matanya pada Jiseul. Ia paling tidak suka kalau pertanyaannya dibalas dengan pertanyaan. Tapi, karena Jiseul belum mengenal sifatnya, ia akan memaklumi gadis itu.
“Sejak kau berkata, ‘Aku ingat, Mr. Zhang’. Jadi, Lay yang kau maksud adalah si Yixing itu.” Kalimat terakhir Lu Han keluar sebagai pernyataan. ‘Guru gadungan itu tidak bisa disepelekan. Lihat saja, baru satu hari mengenal Jiseul ia langsung menghubunginya.’ Batin Lu Han kesal.
“Bukan urusanmu. Dan jangan memanggilnya Yixing. Dia gurumu.” Lu Han memutar matanya mendengar ucapan Jiseul.
“Kau tidak terdengar menghormatinya sebagai gurumu tadi.” Jiseul melihat Lu Han tajam sebelum memutuskan untuk tidur membelakangi Lu Han. Ia malas berargumen dengan Lu Han. Lu Han yang merasa Jiseul sengaja mengabaikannya, mulai memikirkan cara untuk mendapatkan perhatian Jiseul. Catat ini, ia tidak pernah memakai akalnya untuk mencari perhatian seorang gadis sebelumnya.
“Tidur bersamaku.” Lu Han mengatakannya seperti tidak peduli. Tadinya ia ingin bertanya, ‘Apa kau akan tidur di sofa?’, lalu ia akan berkata seperti ini, ‘Kau bisa tidur di tempat tidur bersamaku. Aku tidak mau badanmu pegal-pegal karena tidur di sofa.’ ‘Aku sudah pernah merasakan itu.’ Nah, yang ini Lu Han bohong. Tapi Lu Han belum mau menunjukkan sisi lembutnya pada Jiseul. Gadis itu pasti menanyakan apa maksud dibalik sikap baiknya. Jiseul tidak bergerak sedikitpun dari posisinya.
“Biasanya ibu mengecek kamarku di tengah malam.” Perkataan Lu Han sukses menarik perhatian Jiseul. Gadis itu tahu apa maksud Lu Han. Mereka harus berakting lagi agar ibu Lu Han yakin kalau mereka selalu harmonis di rumah. Sayang, mereka tidak tahu kalau Nyonya Lu sadar betul jika mereka tidak mungkin bisa akrab dan menerima pernikahan mereka secepat itu.
“Kenapa tidak kau kunci saja pintunya?” Balas Jiseul sedikit kesal. Lu Han pasti akan mengambil kesempatan untuk melakukan hal yang tidak-tidak padanya kalau ia mengikuti ucapan pria itu.
“Aku tidak pernah mengunci kamarku.” Lu han memberitahu Jiseul salah satu fakta tentang dirinya.
“Tenang saja. Aku tidak akan melakukan apa-apa kalau itu yang kau takutkan.” Tatapan jahil Lu Han semakin membuat Jiseul tidak mau mempertimbangkan ucapannya. Ia tidak peduli kalau pada akhirnya mertuanya tahu mereka tidak pernah tidur satu ranjang. Itu lebih baik daripada ia harus kehilangan hartanya yang paling berharga pada tipe pria seperti Lu Han.
“Aku serius, Jiseul. Aku tidak akan melakukan apa-apa padamu.” Tatapan dan ucapan Lu Han yang serius kali ini, membuat Jiseul berpikir. Ia sudah berakting sejauh ini dengan Lu Han, tidak mungkin semua pengorbanannya berakhir sia-sia hanya karena ibu mertuanya mendapati mereka tidak tidur satu ranjang. Ia tidak mau itu terjadi.
“Apa aku bisa mempercayaimu?” Lu Han belum menjawab. Kenapa pertanyaan Jiseul terdengar berat untuk ia jawab? Kalau gadis lain yang menanyakan itu, ia pasti sangat cepat menjawabnya, secepat ia meniduri mereka. Lu Han menarik nafasnya panjang, mungkin dengan menjawab pertanyaan ini, Jiseul akan memperlakukannya sama seperti gadis itu memperlakukan Baekhyun dan Lay. Ia ingin Jiseul memperlakukannya dengan normal.
“Kau bisa percaya padaku.” Kata Lu Han lembut. Jiseul menatap Lu Han lama. Yakin kalau Lu Han tidak akan melakukan apa-apa padanya, Jiseul pun bangkit dari sofa, mengambil bantal dan selimutnya lalu berjalan menuju tempat tidur. Hal itu membuat Lu Han merasakan senang yang berlebihan karena Jiseul mau tidur dengannya. Kedua sudut bibir Lu Han tertarik ke atas membentuk sebuah senyum yang indah.
“Ada apa dengan wajahmu?” tanya Jiseul sebelum merebahkan tubuhnya—tentu saja dengan memberi jarak diantara dirinya dan Lu Han. Senyum Lu Han belum memudar.
“Kenapa? Apa kau baru sadar kalau aku tampan?” Lu Han menaik-turunkan kedua alisnya pada Jiseul. Gadis itu mendengus.
“Wajahmu seperti alien.” Ucap Jiseul sebelum mengubah posisi tidurnya membelakangi Lu Han. Lu Han mengerucutkan bibirnya. Dia beruntung karena Jiseul tidak melihat tingkah kekanakannya saat ini.
“Lihat saja. Suatu saat kau pasti akan memujiku tampan setiap hari.” Bisik Lu Han pada dirinya sendiri yang sayangnya masih bisa didengar oleh Jiseul. Perempuan itu tersenyum kecil. ‘Dasar Lohan.’

———————————

Jiseul menata sarapan pagi di meja makan. Ia hendak membangunkan ibu mertuanya tapi ia urungkan, ia berpikir, mungkin ibu mertuanya kelelahan karena menemani ayah mertuanya ke luar negeri. Sedangkan Lu Han, ia tidak mempedulikan pria itu. Pria itu masih tidur saat dia keluar dari kamar tadi.
“Aku pikir kau tidak akan bangun.” Ujar Jiseul begitu melihat Lu Han memasuki ruang makan.
“Kalau aku tidak bangun, apa kau akan membangunkanku?” Lu Han menarik kursi lalu duduk. Jiseul menatap Lu Han aneh. ‘Ada apa dengan pria ini? Ia seperti tidak dirinya sejak kemarin.’
“Apa kau sakit?” Sekarang, Lu Han yang menatap Jiseul aneh.
“Aku baik-baik saja.” Jawab Lu Han tidak mau terlalu memikirkan pertanyaan Jiseul. Jiseul mengedikkan bahunya.
“Tumben kau baik.” Kata Lu Han saat Jiseul meletakkan roti di hadapannya. Ia langsung menahan tangan Jiseul sebelum gadis itu menarik rotinya kembali. Lu Han benar. Tidak biasanya Jiseul seperti ini. Lagi-lagi Lu Han melupakannya. Tentu saja Jiseul akting.
“Biasanya ibu bangun jam berapa?” Jiseul duduk di hadapan Lu Han yang sedang mengunyah rotinya.
“Jam tujuh pagi.” Jiseul menatap Lu Han bingung. Sekarang sudah jam 07.10 pagi. Kenapa ibunya belum bergabung dengan mereka? Lu Han melihat jam tangannya karena Jiseul belum juga melepaskan tatapan bingungnya dari pria itu.
“Ah,” Lu Han menepuk pelan keningnya.
“Aku lupa memberitahumu kalau ibu sudah tidak berada di rumah ini.”
“Maksudmu?” Tanya Jiseul dengan alis yang saling menyatu.
“Semalam ibu menyusul ayah ke Cina. Ayah membutuhkan bantuan ibu di sana.”
“Dan kau tidak memberitahuku?” Jiseul menatap Lu Han tajam.
“Aku lupa, honey.” Balas Lu Han polos. Faktanya, Lu Han memang sengaja tidak memberitahu Jiseul. Ia yakin Jiseul akan langsung pindah ke kamarnya begitu Lu Han memberitahu gadis itu kalau ibunya sudah pergi. Rencana dia untuk mendekati Jiseul secara perlahan tidak akan pernah berjalan kalau gadis itu tahu.
“Tapi, kau tidak perlu sedih. Ibu akan segera kembali.” Itu benar. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Nyonya Lu untuk memindahkan setengah dari isi walk-in-closet-nya ke salah satu kamar di rumah pasangan muda Lu.
“Aku lebih memilih kita yang ke rumah ibu daripada ibu yang datang kemari.” Ucap Jiseul pelan yang masih bisa didengar oleh Lu Han. Gadis itu menggeser kursinya lalu berdiri. Gerakan Jiseul diikuti Lu Han dengan refleks.
“Kau mau berangkat?” Tanya Lu Han sambil mengikuti Jiseul. Jiseul membalasnya dengan anggukkan.
“Kau bisa berangkat denganku.” Kata-kata itu menghentikan Jiseul. Dugaan Jiseul tidak perlu diragukan lagi. Ada yang salah dengan tingkah laku Lu Han.
“Kau kenapa, Lu Han?”
“Aku kenapa?” Balas Lu Han bingung. Jiseul memejamkan matanya sebentar lalu membukanya lagi. Dia tidak bisa bersikap tidak peduli lagi.
“Kau aneh. Kau tidak bersikap seperti biasanya. Awalnya aku berpikir kau bersikap baik padaku karena ada ibu. Tapi—“
“Apa salah kalau aku bersikap baik padamu?” Lu Han memotong ucapan Jiseul diiringi dengan tatapan anehnya lagi. Jiseul mengalihkan tatapannya dari Lu Han.
“Lupakan.” Jiseul melanjutkan langkahnya.
“Kau mau berangkat ke sekolah denganku?” Tanya Lu Han. Jiseul membalikkan tubuhnya dan menatap Lu Han tepat di matanya.
“Apa kau mau orang-orang tahu kalau kita ‘menikah’?” Jiseul menunggu jawaban dari Lu Han.
“Dan kita tidak akrab.” Sambung Jiseul. Ia masih menunggu balasan dari Lu Han. Gadis itu memutuskan meninggalkan Lu Han karena yang pria itu lakukan hanya diam menatapnya.
“Shit!” Lu Han meninju udara dengan kesal.
“Kenapa aku tidak bisa menjawab Jiseul? Kenapa dia selalu menolakku? Apa dia akan terus memperlakukanku seperti ini? Aku merasa seperti virus penyakit menular di dekat Jiseul karena dia terus berusaha menjauhiku.” Gerutu Lu Han. Harga dirinya sedikit terluka karena sikap Jiseul yang masih keras padanya.

————————————

Lagi, hari Lu Han dimulai dengan mood yang tidak baik. Hanya Jiseul yang bisa membuatnya seperti ini. Gadis lain mati-matian untuk bisa berada di posisi Jiseul dan mendapatkan perhatian Lu Han. Kenapa Jiseul menolak tawarannya? ‘Gadis itu,’ Lu Han merutuk dalam hati. ‘Sabar, Lu Han. Kau mau Jiseul memperlakukanmu dengan normal kan? Atau kau mau Jiseul meyukaimu?’ Batin Lu Han berbicara. Lu Han menggelengkan kepalanya kecil. Ya, benar. Dia harus sabar. Lu Han berusaha tenang sebelum mendekati kelasnya. ‘Apa Jiseul sudah sampai?’ Batinnya. Lu Han memasang senyumnya sebelum masuk ke kelasnya. Siapa tahu Jiseul akan melunak kalau gadis itu melihat senyumnya. Tapi, apa yang Lu Han pikirkan tidak terjadi. Senyumnya menghilang di detik dia menginjakkan kakinya di kelas, dahinya berkerut begitu melihat murid yang duduk di kursi Jiseul. Siswi lain, bukan Jiseul. ‘Apa yang dia lakukan di kursi Jiseul?’ Dengan cepat Lu Han berjalan menuju mejanya.
“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Lu Han langsung, sama sekali tidak menyembunyikan ketidaksukaannya.
“Lu Han,” Siswi itu terlihat senang karena kehadiran Lu Han.
“Aku akan menjadi teman semejamu mulai sekarang.” Ujar gadis itu.
“Apa?! Kau tidak bisa sesukamu. Kursi ini milik Jiseul. Kembali ke tempatmu!” Perintah Lu Han yang berhasil menarik perhatian siswa-siswi di kelasnya. Mereka heran melihat sikap Lu Han. Selama mereka berada di kelas ini, tidak pernah sekalipun mereka melihat Lu Han berinteraksi dengan Jiseul. Kenapa dia tiba-tiba menjadi peduli?
“Jiseul yang meminta untuk bertukar tempat denganku. Aku menerimanya dan Baekhyun juga sudah menyetujuinya, wali kelas juga.” Lu Han tidak tahu harus bereaksi seperti apa setelah ia mendengar penuturan gadis itu. ‘Jiseul sendiri yang meminta untuk pindah. Apa dia sangat membenciku? Sebegitu menjijikkankah aku di matanya?’ Lu Han mengedarkan matanya ke seluruh penjuru kelas—mencari sosok Baekhyun. Bagaimana bisa Jiseul pindah sesuka hatinya? Bukankah sekali memilih tempat duduk, tempat duduk itu akan menjadi tempat duduk si pemilih sampai dia lulus? Lu Han tidak mengerti. Sayangnya, orang yang ia cari belum tiba di kelas. Lu Han mencari sosok teman-temannya, tapi, mereka juga belum sampai. Lu Han mendesah berat lalu berbalik, ia berhenti begitu menndapati sosok Jiseul yang memasuki kelas dan langsung menuju meja barunya—tepat di depan meja guru. Kefrustasiannya tadi berubah menjadi amarah. ‘Dia sudah merencanakan ini. Dan guru gadungan itu menyetujuinya.’ Lu Han menatap punggung Jiseul dengan segala kebenciannya. ‘Aku tidak menyukainya. Aku tidak mungkin menyukai gadis yang sok jual mahal sepertinya.’ Lu Han melanjutkan langkahnya. Dia dengan sengaja menendang meja Jiseul—membuat gadis yang baru mengeluarkan bukunya terkejut. Jiseul hanya bisa menatap Lu Han dengan penuh tanya dan sedikit kesal. Tapi, begitu menyadari sesuatu, Jiseul tersenyum kecil. Tindakan Lu Han tadi seperti tindakan Lu Han yang normal. ‘Jadi, tidak ada yang berubah dari Lu Han. Semoga dia terus seperti ini.’
“Jiseul, sepertinya Lu Han tidak menyukai ide bertukar tempat ini.” Siswi yang tadi menghampiri Jiseul.
“Dia menyuruhku kembali ke tempatku semula.” Lanjut gadis itu dengan wajah panik.
“Benarkah?” Tanya Jiseul tidak percaya. Gadis itu menggangguk. ‘Apa mau anak itu? Ah, dia tidak mau aku pindah tempat duduk agar dia bisa ‘mengerjaiku’ terus.’ Pikir Jiseul.
“Dia terlihat kesal.” Pernyataan ini membuat Jiseul tidak bisa berasumsi lagi. Dia tidak mengerti Lu Han. Ia terdiam cukup lama.
“Biarkan saja.” Dan Jiseul tidak mau memusingkan itu.

—————————-

Lu Han menendang-nendang rumput yang ada di depannya. Dia berada di taman belakang sekolah, melewatkan jam pelajaran pertama. Apa yang terjadi belakangan ini tidak seperti yang ia inginkan. Sedikitpun tidak ada. Hanya karena seorang gadis. Pesonanya tidak dapat melumpuhkan Jiseul. Dan sekarang gadis itu menghilangkan salah satu momen di mana ia bisa mendekati gadis itu—pindah tempat duduk. Apa dia harus memaksa Jiseul untuk menyukainya? Lu Han menggelengkan kepalanya. Cara seperti itu tidak akan berhasil pada gadis seperti Jiseul. Lu Han memutuskan untuk kembali ke kelas. Untuk saat ini ia tidak mau memikirkan gadis itu. Tindakan Jiseul yang memutuskan untuk pindah tempat duduk cukup menyinggung Lu Han. Jiseul tidak membicarakan hal itu dengan Lu Han! Siapa pun pasti tersinggung jika mengalami itu. Sebelum kembali ke kelas, Lu Han menuju lokernya terlebih dahulu. Langkahnya terhenti karena sebuah peristiwa yang terjadi di depan lokernya. Dua gadis sedang bertengkar. Tidak, itu terlihat seperti seorang gadis sedang membully juniornya. Dan si pembully adalah Yoon Sejin. Satu lagi yang membuatnya sakit kepala. Kenapa harus di depan lokernya? Sejin bisa melakukannya di mana saja asal jangan di depan lokernya. Ia tidak mau berurusan lagi dengan gadis itu.
“Kenapa kau masih di sini? Apa kau tidak dengar apa yang kukatakan?!” Sejin menatap gadis itu dengan penuh kebencian.
“Aku tidak mengizinkan gadis lain berdiri di depan loker Lu Han. Kau tahu artinya apa? Tidak ada lagi surat cinta untuk Lu Han.” Sejin melipat kedua tangannya di depan dadanya. Ini hal yang ia tidak sukai dari Lu Han. Pria itu memiliki banyak penggemar perempuan. Ia tidak mau Lu Han menggantikannya dengan salah satu penggemarnya.
“Tapi, kak—“ Sejin merebut surat cinta yang dipegang gadis itu.
“Lagipula,” Sejin tersenyum miring.
“Apa kau tidak malu? Gadis sepertimu jelas bukan tipe Lu Han.” Sejin mencengkeram kuat lengan juniornya, membuat gadis itu meringis.
“Apa kau tidak pernah berkaca? Tubuhmu tidak berbentuk. Bulat seperti bola.” Gadis itu menunduk mendengar ucapan menyakitkan dari Sejin. Ia sadar betul dengan bentuk tubuhnya. Karena itu ia memakai surat sebagai media untuk mengungkapkan perasaannya pada Lu Han. Paling tidak, Lu Han akan mengetahui kalau dia sangat mengagumi pria itu.
“Lihat! Lemak dimana-mana.” Sejin mencubit kuat perut adik kelasnya.
“Ma-maaf—“ Gadis itu terisak.
“Oh, kenapa kau baru sadar sekarang?” Ucap Sejin dengan suara simpati yang dibuat-buat dan cubitannya tidak bisa ditahan lagi oleh adik kelasnya. Itu pasti membiru besok.
“Sampaikan pada teman-temanmu untuk tidak mengirim surat menjijikkan itu pada Lu Han. Dia sudah punya kekasih yang cantik. Jadi—“
“Sejin,” Suara itu membuat Sejin menghentikan suara dan tindakannya. Dia memejamkan matanya kuat—hanya sebentar.
“Honey,” Sejin berbalik, tersenyum pada Lu Han untuk menutupinya kepanikannya. Pandangan Lu Han tertuju pada sosok yang berada di belakang Sejin. Gadis itu masih menunduk dengan badan bergetar.
“Tidak usah pura-pura. Aku melihat apa yang kau lakukan.” Lu Han menatap Sejin tajam. Senyum Sejin menghilang. Bagaimana bisa Lu Han melihatnya? Ini masih jam belajar. Dia juga tidak sengaja mendapati juniornya berada di depan loker Lu Han. Ia pasti semakin terlihat buruk di mata Lu Han.
“Gadis ini—“
“Tidak usah membela diri. Aku tidak pernah melarang siapapun untuk berdiri atau menaruh sesuatu di dalam lokerku,” suara Lu Han datar tapi Sejin bisa merasakan kemarahan Lu Han.
“Dan kau tidak berhak melarangnya untuk memberikan surat cinta padaku.” Tambah Lu Han. Ia mengambil surat cinta yang dipegang Sejin.
“Pergi. Aku tidak mau berurusan lagi denganmu.”
Tapi—“
“Dan satu lagi. Kau bukan kekasihku.” Sejin terdiam. Ia yakin sebentar lagi murid-murid di sekolahnya akan tahu kalau ia sudah putus dengan Lu Han. Kepopulerannya sudah hilang bahkan sebelum ia bisa menjadi orang terdekat anggota EXO seperti Jeorin dan Minyoung. Ia menatap Lu Han penuh benci. ‘Aku akan membuatmu menyesal Lu Han. Aku pasti menemukan cara untuk membuatmu mengemis padaku.’ Sejin menghentakkan kakinya sebelum pergi meninggalkan Lu Han dan gadis itu. Lu Han mendesah berat. ‘Kenapa iblis betina itu bisa jadi kekasihku?’ Lu Han bertanya dalam hati. Menyesali idenya menjadikan Sejin sebagai kekasihnya dulu. Ya, itu karena ia tidak mau menyandang status jomblo terlalu lama.
Lu Han membalikkan tubuhnya, mendapati adik kelasnya yang tidak bergerak dari posisinya sedikitpun.
“Hei,” Panggil Lu Han. Gadis itu tetap menunduk.
“Berhenti menangis.” Mendengar permintaan Lu Han, gadis itu menyeka air matanya dengan tidak feminim. Lu Han tersenyum melihat itu. ‘Ternyata masih ada gadis yang seperti dia.’
“Siapa namamu?” Gadis itu mengangkat kepalanya. Sepertinya ia akan pingsan karena melihat Lu Han berdiri tepat di depannya.
“Ka-Kang Joori.” Lu Han menganggukkan kepalanya.
“Kenapa kau tidak melawan Sejin tadi?” Pertanyaan Lu Han membuat Joori tidak tenang. Dia tidak berani. Sejin seniornya dan juga kekasih Lu Han. Itu yang ia tahu sebelum Lu Han datang.
“Setahuku, gadis sepertimu pasti lebih kuat dari gadis seperti Sejin.” Ucapan Lu Han membuat gadis itu murung. Jelas sekali kalau Lu Han menyinggung bentuk tubuhnya yang gemuk.
“Jangan salah paham. Yang kumaksud tidak seperti yang kau pikirkan.”
“Dengar, Joori.” Lu Han menepuk pelan pundak gadis itu.
“Tidak selamanya bentuk tubuhmu ini menjadi kelemahanmu. Misalnya, di saat seperti ini. Maafkan aku mengatakan ini. Bentuk tubuhmu yang besar, bisa menjadi kekuatanmu untuk melawan gadis seperti Sejin. Kekuatan Sejin tidak sebanding dengan kekuatanmu. Aku yakin, sekali dorong, Sejin pasti jatuh. Tubuhnya seperti lidi.” Joori tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum karena mendengar ucapan Lu Han yang mengejek kekasihnya—mantan kekasihnya.
“Gunakan ini,” Lu Han mencengkeram bahu Joori pelan.
“Sebagai kekuatanmu.” Dia menarik tangannya dari bahu Joori. Lu Han tersenyum tipis, ia memandang Joori lama membuat jantung gadis malang itu berdegup kencang.
“Dan aku tidak bisa menerima suratmu.” Lu Han menempatkan surat yang ia pegang ke tangan Joori. Joori hendak membuka mulutnya, tapi Lu Han sudah lebih dulu berkata.
“Ini tidak ada kaitannya dengan ‘kekuatanmu’. Aku merasa tidak benar menerima surat-surat cinta lagi.” Pikiran Lu Han tertuju pada seseorang saat mengatakan kalimat terakhirnya.
“Ingat kata-kataku, Joori.” Ucap Lu Han lalu mengacak rambut Joori pelan. Lu Han berjalan melewati Joori, tapi ia berhenti setelah dua langkah. Pandangannya tertuju pada seseorang yang juga berhenti tak jauh di depannya. Jiseul. Gadis itu mendengar semua yang Lu Han katakan pada Joori. Dan ia sangat terkejut mengetahui kalau Lu Han juga bisa peduli. Lu Han melanjutkan langkahnya, melewati Jiseul begitu saja dengan pandangan lurus ke depan. Ia kembali pada tujuannya membolos di jam pelajaran pertama. Melupakan Jiseul untuk sesaat. Mengobati harga dirinya yang sedikit terluka itu.

———————-

Hari yang ditunggu Lay tiba. Sebenarnya, Jiseul juga mengantisipasi hari ini. Ia sudah selesai dengan pakaiannya—gadis itu menatap puas pantulan dirinya di cermin. Ia mengambil tasnya yang ia letakkan di meja belajarnya, tidak lupa juga Jiseul membawa buku designnya. Jiseul keluar dari kamarnya. Bunyi ketukan dari heels Jiseul menarik perhatian Lu Han dari acara televisi yang ia tonton. Ya, pria itu sedang menikmati waktunya bersantai di rumah. Hal yang jarang ia lakukan karena ia selalu menghabiskan waktu luangnya dengan para gadis. Lu Han menolehkan kepalanya ke kiri, langsung terpesona melihat Jiseul yang sudah berada di lantai dasar. Rasa terpesona Lu Han terhenti karena Jiseul sama sekali tidak menyadari keberadaannya.
“Kau mau ke mana?” Jiseul tidak menanggapi Lu Han, dia terus berjalan, tidak mau telat di ‘pertemuan’ pertamanya dengan Lay.
“Ya! Choi Jiseul!” Teriak Lu Han. Dia langsung beranjak dari duduknya begitu mengingat percakapan Lay dan Jiseul di telepon waktu itu.
“Kau mau ke mana?” Lu Han menahan lengan Jiseul. Jiseul menatap pria itu sebal.
“Bukan urusanmu. Lepaskan tanganku.”
“Tidak sebelum kau mengatakan kau mau pergi ke mana.” Lu Han mengeratkan cengkeramannya di lengan Jiseul.
“Sekali lagi, Lu Han. Ke mana aku pergi, itu bukan urusanmu.” Jiseul menggerakkan lengannya, tetapi tindakannya tidak membuat cengkeraman Lu Han lepas. Cengkeramannya malah semakin erat.
“Apa kau mau pergi dengan si Yixing itu?” Jiseul menatap Lu Han tajam. Lu Han dan sopan santun memang tidak bisa disatukan.
“Jangan menyebut namanya seperti itu.” Lu Han memutar bola matanya.
“Ya, terserah. Yang penting kau tidak boleh pergi menemuinya.” Jiseul menatap Lu Han aneh.
“Ada apa denganmu? Tiba-tiba melarangku bertemu dengan orang lain. Apa kau lupa dengan kesepakatan kita?” ‘Persetan dengan kesepakatan.’ Batin Lu Han.
“Kau boleh pergi dengan siapa saja asalkan jangan dia.” Ucap Lu Han serius.
“Ada apa denganmu?!” Jiseul menarik paksa lengannya.
“Aku tidak membutuhkan izin darimu untuk menemui seseorang.” Lu Han tersenyum miring mendengar ucapan Jiseul.
“Oh, kau tahu betul aku punya hak untuk melarangmu, Nyonya Lu.” Jiseul tertegun mendengar Lu Han memanggilnya dengan Nyonya Lu. Ia mengedipkan matanya beberapa kali sebelum menatap Lu Han tajam.
“Kau sakit, Lu Han.” Tidak mau memperpanjang percakapan dengan Lu Han, Jiseul melanjutkan langkahnya. Belum sempat tangannya menyentuh knop pintu, punggungnya sudah bertemu dengan pintu lebih dulu. Hal yang terjadi selanjutnya di luar dugaan Jiseul. Lu Han menciumnya. Mengulum bibirnya sebentar lalu melepaskan ciumannya.
“Aku menyukaimu,”
TBC….

Sorry for the late update  oh, ya. Aku mulai mencoba untuk memakai bahasa Indonesia sepenuhnya di ffku, mungkin hanya nama panggilan yang tidak. Bagaimana menurut kalian? Saran sangat dibutuhkan 

Terakhir, masih adakah yang membaca ff dengan main cast Lu Han?

68 thoughts on “Nice Guy (Chapter 7)

  1. Ping-balik: Nice Guy (Chapter 10) | EXO Fanfiction World

  2. Ping-balik: Nice Guy (Chapter 9) | EXO Fanfiction World

  3. AAAAAKHIRNYA LUHAN NGAKU JUGAAAAAA chap ini cukup rame lah pokoknya :3 dan ngebayangin luhan marah2 sampe nendang mejanya jiseul gitu kok malah imut imut sexy sexy gemes gitu wqwqwq ayo!semangat luhan semangat dapetin hatinya jiseul yah sayang kkk~

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s