Nice Guy (Chapter 8)

LEentfHP

Nice Guy

Tittle : Nice Guy (Chapter 8)
Author : Jellokey
Main Casts :
Lu Han
Choi Ji-seul (OC)
Byun Baek-hyun (Baek Hyun of EXO)
Support Casts :
Zhang Yi Xing (Lay of EXO)
Yoon Se-jin (OC)
Kim Jong-in (Kai of EXO)
Kang Jeo-rin (OC)
Oh Se-hoon (Se Hun of EXO)
Shin Min-young (OC)
And others
Length : Chaptered
Genre : romance, arranged marriage, school life, family, friendship
Rating : PG-17
Poster : https://myelsexperience.wordpress.com/poster/
Disclaimer : This story is pure MINE. Don’t plagiat or copy paste without my permission

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4  Chapter 5  Chapter 6  Chapter 7  Chapter 8

“Aku menyukaimu,” Jiseul mengerjapkan matanya, berusaha untuk melepaskan dirinya dari keterkejutan yang ditimbulkan oleh ciuman Lu Han.
“Aku menyukaimu, Jiseul.” Jiseul mendorong Lu Han, memberi jarak diantara mereka.
“Apa kau sedang mempermainkanku?” Mata Lu Han membulat. Ia sangat serius sekarang. Bagaimana bisa Jiseul mengatakan itu?
“Jiseul, aku—”
“Hentikan, Lu Han.” Jiseul memotong ucapan Lu Han.
“Tapi,”
“Aku akan menganggap ini sebagai salah satu godaanmu. Sekarang, biarkan aku pergi.” Lu Han meraih tangan Jiseul.
“Aku benar-benar menyukaimu,”
“Aku yakin kau selalu mengatakan itu kepada semua gadis yang menurutmu menarik.” Balas Jiseul tajam. Tapi perlahan pandangan Jiseul menjadi tidak fokus, ia sedang berpikir. ‘Apa sekarang dia berpikir kalau aku menarik?’ Jiseul segera membuang pikiran itu.
“Jiseul,”
“Aku harus pergi.” Jiseul membuka pintu. Dia berjalan cepat—tidak menutup pintu, takut Lu Han akan mencegahnya lagi. ‘Sial.’ Lu Han mengumpat dalam hati. ‘Kau harus mencegah Jiseul bertemu dengan Yixing, Lu Han. Kau tidak boleh membiarkan Jiseul menyukai pria itu.’ Lu Han berlari menuju kamarnya. Ia mengambil kunci mobilnya dan mengambil jaket dari lemari. Ia akan mengikuti Jiseul. Semoga dia masih mendapatkan gadis itu.
*****

“Maaf, aku terlambat.” Lay mengangkat kepalanya dan tersenyum pada Jiseul. Ia meletakkan handphonenya di meja. Jiseul menarik kursi yang ada di hadapan Lay lalu duduk.
“Tidak apa-apa. Aku juga baru sampai,” Jiseul tersenyum canggung pada Lay karena ia merasa Lay sudah lama tiba di kafe itu. Pria itu tidak akan memegang handphonenya dan terlihat fokus menatap layar handphonenya kalau dia baru sampai. Kalau bukan karena Lu Han, ia tidak akan terlambat.
“Aku sudah memesankan minuman untukmu. Aku harap kau menyukainya. Juga kue.” Kata Lay saat pelayan meletakkan segelas ice cappucino di depan Jiseul. Ia juga memesan minuman itu untuknya.
“Terima kasih.” Ucap Lay pada si pelayan setelah dia meletakkan kue stroberi di depan Jiseul.
“Terima kasih. Aku menyukainya.” Lay tersenyum pada Jiseul. Ucapan gadis itu membuatnya lega.
“Jadi, apa yang akan kita lakukan?”
“Kau sudah ingin pergi?” Lay balik bertanya. Nadanya bercanda.
“Maksudku, setelah ini.” Lay tampak berpikir.
“Maukah kau membantuku memilih pakaian santai? Aku sudah lama tidak belanja di daerah ini.” Jiseul mengangguk.
“Kau tidak pesan makanan?” tanya Jiseul lalu menyendok makanannya.
“Tidak. Aku masih kenyang.” Lay melipat tangannya di meja, mengamati Jiseul. ‘Gadis ini tidak menahan dirinya untuk makan. Aku menyukainya.’
“Jadi, makanan dan minuman apa yang kau sukai, Jiseul?”
“Aku menyukai ini.” Lay menggelengkan kepalanya pelan.
“Favoritmu, supaya aku bisa memesankannya untukmu lain kali.” Jiseul berhenti meminum cappucino-nya. Ia menatap Lay yang mengamatinya. Lain kali, dua kata ini menarik perhatiannya.
“Cokelat, aku tidak akan menolak makanan yang mengandung cokelat di dalamnya.”
“Seperti brownies dan black forest?” Jiseul mengangguk membuat Lay tak bisa menahan senyumnya. Ia senang bisa mengetahui apa yang disukai oleh Jiseul.
“Bagaimana denganmu?” tanya Jiseul. Lay mengusap dagunya, berpikir.
“Aku menyukai apa saja selama itu tidak terasa aneh di lidahku.” Jiseul meyipitkan matanya pada Lay.
“Kau tidak mau memberitahuku. Padahal aku sudah memberitahumu.” Lay terkekeh.
“Kau belum memberitahuku minuman kesukaanmu.”
“Aku menyukai minuman apa saja selama itu tidak terasa aneh di lidahku.” Ucap Jiseul sarkastis membuat Lay tidak bisa menahan tawanya.
“Kau meniru kata-kataku,” perlahan tawa Lay mereda. Ia menatap Jiseul lembut. Gadis yang berada di depannya sangat berbeda. Wanita-wanita yang Lay temui selama ini selalu mejaga ucapan dan sikap mereka, tidak seperti Jiseul. Gadis itu tetap menjadi dirinya.
“Aku suka—“
“Mr. Zhang?” suara maskulin itu memotong ucapan Lay, menarik perhatian Lay dan Jiseul. Jiseul menoleh ke belakang, mendapati Kai yang menggendong anak kecil dan matanya membulat sempurna melihat siapa yang berada di belakang Kai. Baekhyun dan.. Lu Han! ‘Apa yang dilakukan orang itu di sini?’ jerit Jiseul dalam hati.
“Kebetulan sekali kita bertemu di sini,” Kai mengambil tempat duduk di samping Lay. Wajah Lay berubah—keceriaan menghilang dari wajahnya melihat murid-muridnya bergabung dengannya dan Jiseul. Kencan pertamanya tidak berjalan mulus. Tapi dia berusaha menyembunyikan itu. Baekhyun duduk di sebelah kanan Jiseul setelah menyapa Lay terlebih dahulu, sedangkan Lu Han di sebelah kiri Jiseul. Dia bersorak dalam hati karena berhasil merusak pertemuan Lay dan Jiseul. Ia bahkan tidak perlu melakukannya sendiri. dan itu semua karena Kai, ia sangat berterimakasih pada temannya. Saat dia sedang mengikuti Jiseul, temannya itu meneleponnya untuk berkumpul dengan teman-temannya yang lain. Dengan segera ia mengusulkan tempat pertemuan Lay dan Jiseul, dan Kai langsung menyetujuinya. ‘Sekarang, kita lihat bagaimana kencan kalian berjalan.’ Sudut kanan bibir Lu Han terangkat ke atas, membentuk seringaian yang tidak disadari oleh siapapun.
“Kebetulan sekali.” Lay tersenyum, senyum yang dipaksakan.
“Dia adikmu?” Lay melihat bocah kecil yang duduk di pangkuan Kai dengan tenang. Kai mengelus rambut Jaehyun lembut. Seharusnya Jeorin ikut dengan mereka, tapi karena kejadian tempo hari dengan Lay, gadis itu menolak ajakan Kai. Dan ancaman Jeorin waktu itu, bukan sekedar ancaman. Sampai sekarang ia tidak bisa menyentuh Jeorin setitik pun. Gadis itu juga bersikap dingin padanya.
“Adik Jeorin.” Alis Lay terangkat mendengar pernyataan Kai. Itu cukup mengejutkan. Ia pikir tipe orang seperti Kai tidak bisa dekat dengan anak-anak.
“Kenalkan dirimu pada paman ini, Jaehyun,” Lu Han tersenyum mendengar bagaimana cara Kai menyebut Lay pada Jaehyun. ‘Paman, dengan itu dia akan ingat dengan usianya.’ Batin Lu Han senang.
“Dia guru hyung di sekolah.” Lanjut Kai. Jaehyun turun dari pangkuan Kai. Dia jadi perhatian orang-orang yang ada di meja itu. Bocah itu sangat menggemaskan.
“Selamat sore, Paman. Namaku Kang Jaehyun, adik kesayangan Jongin hyung.” Perkenalan polos Jaehyun membuat mereka tersenyum.
“Kau sudah sekolah?” tanya Lay lembut. Jaehyun mengangguk. Ia kembali duduk ke pangkuan Kai.
“Sebentar lagi aku SD.”
“Kau mau pesan apa, Jae?” Kai melihat-lihat menu, begitu juga Baekhyun dan Lu Han. Lay dan Jiseul beradu pandang. Jiseul tersenyum lemah pada Lay, berpikir kalau ‘date’ mereka gagal. Lay menggelengkan kepalanya kecil seolah mengerti arti tatapan dan senyum Jiseul.
“Es krim cokelat vanila dengan Oreo. Makanannya terserah hyung.” Kai memanggil pelayan, mengatakan pesanannya dan Jaehyun. Baekhyun dan Lu Han juga melakukannya.
“Jiseul?” ucap Kai terkejut.
“Aku baru menyadari keberadaanmu.” Jiseul tersenyum tipis menanggapi Kai. Ia bersyukur Lay mengadakan sesi perkenalan hari itu. Paling tidak ia tidak merasa canggung saat ini.
“Jae, dia teman Jeorin. Dia sangat menyukai Jiseul noona.” Jiseul terkejut mendengar penuturan Kai. Ia belum pernah berbicara dengan Jeorin. Tapi, Baekhyun pernah bilang kalau Jeorin sangat ingin berkenalan dengannya.
“Benarkah? Hai, noona.” Jaehyun melambaikan tangannya pada Jiseul.
“Hai, Jaehyun. Kamu manis sekali.” Jaehyun tersenyum, menampakkan gigi susunya yang rapi. Kai membisikkan sesuatu di telinga Jaehyun. Sesuatu yang membuat bocah itu melihat Baekhyun dan Jiseul secara bergantian. Jaehyun turun lagi dari pangkuan Kai. Pria itu menatap Baekhyun dengan tatapan penuh arti. Jiseul merasa bingung ketika tiba-tiba Jaehyun duduk di pangkuannya.
“Noona, menurut noona Baekhyun hyung bagaimana?” pertanyaan Jaehyun mengejutkan semua orang kecuali Kai.
“Baekhyun hyung tampan kan?” Pria itu menutup mulutnya dengan tangannya, berusaha menutupi senyumnya. Adiknya itu sangat bisa diandalkan. ‘Apa maksud anak kecil ini?’ batin Lay bertanya. ‘Pasti Kai yang menyuruh Jaehyun menanyakan itu pada Jiseul.’ pikir Lu Han. Baekhyun menyipitkan matanya pada Kai, tidak menyetujui langkah yang Kai ambil. Ia bisa mengatasi perasaannya sendiri pada Jiseul. Ia sedang berusaha menunjukkan perasaannya pada Jiseul, secara perlahan. Baekhyun melirik Jiseul gugup. Ia tidak bisa menampik kalau ia ingin mengetahui jawaban Jiseul.
“Baekhyun?” Jiseul menatap Baekhyun. Pria itu tersenyum kikuk. Jantung Lu Han berdetak kencang. Ia takut mendengar jawaban Jiseul. Bagaimana dia bisa lupa kalau rivalnya bukan hanya Lay?
“Jaehyunnie,” Lu Han memanggil Jaehyun lembut, bocah itu menoleh padanya.
“Bagaimana dengan hyung? Apa menurutmu hyung tampan?” ‘Lu Han, kau mencari perhatian dari orang yang salah. Apa dia tidak bisa menangkap kalau aku sedang berusaha membantu Baekhyun?’ batin Kai.
“Uh.. hyung, hyung,” Jaehyun menatap Kai cemas dan itu tidak lepas dari pandangan Lay. Kai mengelengkan kepalanya kecil pada Jaehyun.
“Hyung tampan,” Lu Han tersenyum senang.
“Tapi tidak lebih tampan dariku.” Senyumnya perlahan menghilang. ‘Pasti Kai yang mengajarinya.’ Batin Lu Han. Jawaban Jaehyun mengundang tawa di meja itu. Lagi-lagi Kai dibuat bangga oleh Jaehyun. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Lu Han kalau mendengar jawaban Jaehyun yang sebenarnya. Kesan pertama Jaehyun saat bertemu dengan Lu Han adalah Lu Han cantik. Bahkan dia bilang kalau Lu Han hampir sama cantiknya dengan Jeorin yang tentu saja tidak Kai setujui. Dan kesan itu tidak berubah sampai sekarang walaupun semua orang mengakui Lu Han manly.
“Jadi, noona, bagaimana?” tanya Jaehyun dengan mata lebar. Jiseul tersenyum kecil pada Jaehyun lalu menatap Baekhyun yang merasa sangat cemas.
“Dia tampan,” siapapun akan menjawab itu jika ditanyai hal yang sama seperti Jiseul.
“Dan baik.” Baekhyun merasa lega mendengar jawaban Jiseul. Rasanya seperti beban berat telah diangkat dari bahunya. ‘Apa maksudnya? Apa dia juga berusaha menggoda Baekhyun?’ batin Lu Han kesal. Lay melihat Jiseul dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Dia kecewa mendengar jawaban Jiseul.
“Apa noona menyukai Baekhyun hyung?” pertanyaan itu membuat Baekhyun hampir menumpahkan minuman yang akan diletakkan pelayan di depannya. Ia mengucapkan maaf dengan pelan pada pelayan itu.
“Ya, Jaehyun! Kau masih terlalu kecil untuk masalah seperti ini.” Sela Lu Han. Benar ia ingin mengacaukan kencan Jiseul dengan Lay, tapi bukan seperti ini. Tidak dengan Baekhyun sebagai perhatian utama mereka. Jaehyun menatap Lu Han tajam.
“Jangan ganggu aku, hyung. Mungkin badanku kecil, tapi aku tidak terlalu kecil untuk hal ini.” Lu Han memutar bola matanya. Sedangkan Jiseul terpaku pada posisinya. Ia baru melihat anak kecil yang punya kemampuan bicara seperti Jaehyun. Ada apa dengan dunia ini?
“Asal hyung tahu, siswi-siswi di sekolahku sangat memujaku. Aku punya guru terpandai di dunia.” Kai menepuk jidatnya pelan. Habis dia kalau sampai Jeorin mendengar apa yang dikatakan Jaehyun.
“Aku akan memberitahu ini pada Jeorin, Kai.” Suaranya pelan tapi ancamannya sangat besar. Kalau situasinya berbeda ia tidak akan peduli. Tapi sekarang, ia tidak bisa melakukannya saat Jaehyun dengan terang-terangan berusaha menjodohkan Baekhyun dan Jiseul.
“Hannie, yang Jaehyun katakan tidak benar.” Kai gusar. Jeorin tidak boleh tahu.
“Jangan panggil aku Hannie!” wajah Lu Han merah padam menahan malu. Panggilan cantik itu tidak cocok untuk dirinya yang manly. Ia mengumpat dalam hati melihat Lay yang berusaha menyembunyikan senyumnya.
“Jaehyunnie, es krim-mu mulai mencair.” Kata Baekhyun, menghentikan pembicaraan antara Kai dan Lu Han. Mereka bisa melanjutkannya nanti kalau mereka mau. Itu menyadarkan Jaehyun. Dia segera turun dari pangkuan Jiseul dan kembali pada Kai. Baekhyun bernapas lega setelah melihat Jaehyun menikmati es krim-nya. Anak itu sepertinya melupakan pertanyaannya. Walaupun dia ingin tahu, Baekhyun lebih memilih Jiseul tidak mengatakannya sekarang. Tidak dalam situasi seperti ini, bukan Jiseul yang mengatakan perasaan terlebih dahulu. Saat itu terjadi, Baekhyun yang akan menyatakan perasaannya lebih dulu dan hanya ada mereka berdua. Baekhyun melirik Jiseul. Secara perlahan, ia akan menunjukkan perasaannya pada Jiseul.
“Kau lucu sekali, Jaehyun.” Suara Lay memecahkan keheningan di meja mereka. Jaehyun tidak menanggapi Lay, ia sibuk menikmati es krim dan jus stroberi milik Kai. Ya, karena rindunya pada Jeorin, dia memesan minuman favorit kekasihnya.
“Apa yang kau lakukan di sini, Jiseul?” tanya Kai. Ia terdiam sebentar, menyadari sesuatu. Ia melirik Lay lalu menatap Jiseul. Ia tidak tahu kenapa ia merasa ada yang janggal di sini. Saat ia memasuki kafe, ia langsung menangkap sosok Lay dengan seorang gadis yang duduk membelakangi pintu kafe. Dan dia tidak peduli saat itu.
“Apa kau bertemu dengan Mr. Zhang?” suara Kai pelan sambil melihat Baekhyun. Dan Baekhyun baru tersadar setelah Kai mengatakan itu. Pesanan Jiseul dan Lay sudah ada sebelum mereka sampai dan Jiseul sedang menikmati kuenya saat mereka sampai. Baekhyun menatap Lay. Ada sedikit kecurigaan di matanya.
“Aku sedang menunggu temanku di sini. Kami ada janji shopping bersama.” Kai mengangguk mengerti. Lu Han mendengus kecil di samping Jiseul. ‘Dia pintar sekali mengarang cerita.’ Ucap Lu Han dalam hati.
“Aku akan menghubunginya. Aku sudah terlalu lama menunggunya di sini sampai-sampai aku bisa bertemu dengan Mr. Zhang.” Jiseul mengambil handphonenya dari tasnya. Mungkin dia akan mengirim pesan pada Lay mengatakan pada pria itu kalau pertemuan mereka sampai di sini. Belum sempat Jiseul meng-unlock handphonenya, layar handphonenya menyala.

From: Lay
Tunggu aku di luar.

Jiseul memasukkan handphonenya ke tas dan mengambil dompetnya.
“Ternyata dia sudah menungguku di toko pakaian langganan kami.” Jiseul berdiri dan menyampirkan tasnya di bahunya.
“Senang bertemu kalian di sini,” Jiseul menatap Kai, Jaehyun, lalu Baekhyun. Lu Han berdeham karena Jiseul sama sekali tidak menatapnya. Kekesalan Lu Han tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi saat Jiseul benar-benar mengabaikannya.
“Saya permisi, Mr. Zhang.”
“Biar saya yang membayar pesananmu.” Ucapan Lay menahan kaki Jiseul.
“Tapi,”
“Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih karena kamu membiarkan saya duduk di meja kamu. Lagipula temanmu sudah menunggu.” Lay menatap Jiseul penuh arti, membuat Lu Han ingin sekali menyiram Lay dengan bubble tea-nya.
“Terima kasih, Mr. Zhang.” Lay memandangi Jiseul sampai gadis itu keluar dari kafe.
“Apa kau yang mengizinkan Jiseul pindah bangku?” Lay mengalihkan tatapannya pada Lu Han. ‘Anak ini benar-benar tidak sopan.’ Batin Lay.
“Lu Han,” panggil Baekhyun memperingatkan. Lu Han tidak peduli, ia menatap nyalang pada Lay. Baekhyun menghela nafas.
“Aku meminta izin pada Mr. Zhang. Mr. Zhang menyuruhku bertanya pada Mrs. Zhang karena Mr. Zhang bilang ia hanya guru sementara, jadi, aku bertanya dan Mrs. Zhang menyetujuinya.” Jelas Baekhyun, menambah kekesalan Lu Han.
“Apa kamu pernah ke sekolah noona-mu, Jaehyun?” tanya Lay basa-basi, mencari celah untuk keluar dari kafe ini.
“Iya, Paman. Kalau noona dijemput supir aku juga ikut.” Lay melihat jam tangannya lalu menghabiskan minumannya.
“Saya harus pergi.” Lay berdiri. Ia mengacak rambut Jaehyun pelan. ‘Semoga kau tidak meniru sikap buruk kekasih kakakmu.’ Lay berkata dalam hati.
“Anda akan membayar pesanan kami juga kan?” Lay menatap Kai lalu meja tempat pesanan mereka berada.
“Jangan dengarkan Jongin, Mr. Zhang. Kami akan membayar pesanan kami sendiri.” Baekhyun berusaha memperbaiki suasana.
“Dia membayar pesanan Jiseul, berarti dia harus membayar pesanan kita. Kita juga muridnya.” Kai bersikeras. Lay tidak keberatan membayar pesanan Baekhyun—dia murid yang baik—dan Jaehyun, dia hanya anak kecil manis yang kebetulan menjadi adik dari kekasih Kim Jongin. Ia tidak rela kalau harus membayar pesanan Kai dan Lu Han. Lay menghela nafas. Ia harus segera keluar dari sini, jadi ia akan membayar pesanan mereka.
“Saya akan membayar pesanan kalian. Sampai jumpa di sekolah.” Lay segera pergi menuju kasir sebelum salah satu dari muridnya berbicara. Kai mendengus melihat kepergian Lay. Ia mengusap kepala Jaehyun menggunakan kedua tangannya, ia pikir itu bisa menghilangkan bekas tangan Lay di kepala adiknya. ‘Jangan sampai sifat-sifat buruk guru itu menular pada Jaehyun.’ Lalu tangannya menutup kedua telinga Jaehyun.
“Dia sedang merayu Jiseul,” kedua temannya menatap Kai. Lu Han membenarkan ucapan Kai dalam hati. Insting playboy mereka tidak salah karena mereka seperti itu sebelumnya.
“Jangan bicara yang tidak-tidak tentang Mr. Zhang, Kai.” Kai memutar bola matanya.
“Jangan menghibur dirimu, Baekhyun. Itu kenyataannya. Apa kau tidak dengar apa yang dia ucapkan pada Jiseul?” Baekhyun tampak berpikir. Semakin lama ia memikirkan ucapan Kai, semakin ia terdorong untuk percaya.
“Dia tidak perlu membayar pesanan Jiseul, tapi dia melakukannya. Dia jelas-jelas berusaha menarik perhatian Jiseul,” Lanjut Kai, tidak menyadari kalau Lu Han tidak nyaman di tempat duduknya. Ia ingin mengikuti Jiseul, tapi dia tidak mau Baekhyun dan Kai menanyainya. Dia tahu jelas apa yang dikatakan Kai. Tapi temannya yang terlalu baik itu pasti tidak mengerti.
“Dengar, Baekhyun, kau punya saingan. Dan dia bukan sekedar saingan. Dia berpotensi kuat untuk merebut gadis yang kau sukai,” Kai menatap Baekhyun serius.
“Jangan berpikir karena dia guru, dia tidak bisa menjalin hubungan dengan Jiseul. Mereka bisa menyembunyikan hubungan mereka. Ah, sebenarnya tidak perlu karena si Yixing itu hanya guru sementara,” Baekhyun tidak bisa menampik ucapan Kai lagi karena itu semua benar.
“Kau harus bergerak cepat, Baek. Sebelum orang lain memiliki gadis itu.” Kai mengakhiri nasehatnya. ‘Jiseul memang sudah ada yang memiliki. Orang itu aku.’ Batin Lu Han menyahut.
“Hyung, aku mendengar semuanya.” Kai menatap terkejut pada Jaehyun, ia tersenyum kikuk pada bocah itu.
“Hyung hanya mencegah debu masuk ke telingamu, Jaehyun.” Baekhyun tersenyum melihat interaksi Kai dan Jaehyun. Sepertinya ia akan melakukan apa yang dikatakan temannya itu.
“Aku mau pulang. Rasanya tidak seru kalau berkumpul tanpa Sehun, Dyo, Suho, Minyoung, dan Jeorin.” Ucap Lu Han tidak sepenuhnya bohong.
“Ya, aku rasa juga begitu.” Ujar Kai pelan, pikirannya tertuju pada Jeorin. Mereka bangkit dari duduknya. Lu Han membuka kedua tangannya pada Jaehyun, berusaha mengambil hati bocah itu.
“Hyung akan menggendongmu, Jaehyunnie,” Kai menggelengkan kepalanya karena usaha Lu Han yang dia tahu sia-sia. Mungkin Lu Han bisa melakukan itu kalau dia tidak ada.
“Aku tidak mau.” Jaehyun mengeratkan lingkaran tanagannya di leher Kai. Lu Han mengumpat dalam hati karena penolakan mentah Jaehyun. Bagaimana bisa Kai tahan dengan bocah seperti Jaehyun?

*****

Lay melihat sekitar kafe begitu ia keluar. Ia berjalan dengan cepat sambil mencari sosok Jiseul di trotoar. Senyumnya mengembang saat matanya melihat Jiseul berdiri di samping toko kue yang berada tepat di samping kiri kafe.
“Hai,” Jiseul menatap Lay, ia tersenyum kecil.
“Hai,”
“Aku rasa kita tidak usah jalan-jalan di daerah ini. Mereka masih berada di kafe.” Jiseul mengangguk mengerti.
“Jadi, kita akan pergi ke mana?”
“Kita akan memikirkannya di perjalanan nanti.” Lay melihat ke parkiran kafe tadi.
“Aku akan mengambil mobilku. Tunggu di sini.” Jiseul mengangguk. Ia melihat Lay yang sedikit berlari menuju parkiran kafe lalu melihat kafe. Apa pertemuannya dengan Lu Han dan teman-temannya hanya kebetulan? Lu Han tidak mengikutinya kan? Jiseul tidak begitu yakin. Menurutnya, orang seperti Lu Han akan melakukan apa saja untuk mencapai keinginannya—untuk mendapatkan kesenangannya, dalam hal ini merusak kencannya dengan Lay. Semoga ia salah. Ia tidak mau berurusan dengan Lu Han lebih jauh, sekalipun ia sudah melihat sisi baik Lu Han semalam.

*****

Kai membuka pintu rumah keluarga Kang. Kali ini ia tidak menggendong Jaehyun. Tangan kanannya memegang plastik yang berisi kotak kue kesukaan Jeorin. Ia berjalan menuju ruang tamu dengan Jaehyun yang mengekor di belakangnya.
“Apa hyung mau bermain play station denganku?” Jaehyun duduk di samping Kai. Kai menatap Jaehyun sayu dengan tangan memijit pelipisnya, membuat alis Jaehyun bertaut melihatnya.
“Tidak sekarang, Hyunnie. Kepala hyung sakit.” Suara Kai lemah. Ini tentu saja akting. Ini usahanya—memanfaatkan Jaehyun—agar Jeorin memaafkan kesalahannya walaupun menurut Kai ia tidak bersalah. Insiden dengan Lay. Batinnya menggeleng.
“Hyung sakit?” Jaehyun khawatir. Kai menggeleng lemah.
“Hyung akan pulang sebentar lagi. Bisakah hyung minta tolong padamu?” Jaehyun mengangguk keras. Ia akan melakukan apa pun agar hyung-nya sembuh sekarang.
“Tolong berikan ini pada noona. Katakan padanya, hyung ingin bertemu noona sebelum pulang.” Jaehyun mengambil kotak kue buat Jeorin. Kai tersenyum melihat bagaimana Jaehyun memegang kotak itu. Kue yang Kai beli tidak besar. Ia yakin Jaehyun bisa membawanya kepada Jeorin.
“Kau bisa membantu hyung, Jae?” Jaehyun mengangguk. Ia melihat Kai dengan mata berkaca-kaca.
“Hyung jangan sakit.” Kai menatap Jaehyun yang seperti akan menangis dengan lembut. Ia terharu. Bocah kecil ini, bocah yang mengacuhkan dan selalu mengerjainya dulu menjadi orang yang paling peduli padanya, bahkan Jeorin tidak seperti ini padanya. Kai mengacak rambut Jaehyun pelan lalu anak itu berlari menuju kamar Jeorin. Sepuluh menit terasa sangat lama buat Kai. Ia menegakkan tubuhnya begitu mendengar suara Jaehyun yang menyuruh Jeorin untuk berjalan lebih cepat. Tatapan tajam Jeorin padanya membuat Kai menelan liurnya susah. Gadis itu menilai Kai melalui tatapannya.
“Kau sakit?” Ucap Jeorin terdengar menyindir. Dia tidak menyukai cara Kai yang menggunakan Jaehyun untuk meluluhkan hatinya.
“Baby,” sebenarnya Jeorin tidak tega mendengar suara memohon Kai. Ia hanya ingin Kai mendapatkan pelajarannya karena tindakannya yang semena-mena. Jeorin menghela nafas. Ia memutuskan duduk di meja di depan Kai. Ia menatap Kai datar. Menunggu pria itu bicara padanya. Tapi, Kai belum juga membuka suaranya setelah lima menit berlalu. Jaehyun mengamati dua orang dewasa di depannya. ‘Ada apa dengan Jongin hyung?’ Kai terlihat gugup, dia membuka mulutnya lalu menutupnya lagi. Jaehyun melihat kakaknya yang hanya menatap Kai. Tidak tahan dengan keheningan keduanya, Jaehyun mendekati kakaknya.
“Kenapa noona diam saja? Kepala Jongin hyung sakit, beri dia obat.” Suara Jaehyun memaksa, tapi, Jeorin tetap tidak bergerak dari tempatnya. Kai menatap Jeorin cemas. Jeorin jelas tidak menyukai tindakannya yang memperalat Jaehyun. Jaehyun naik ke sofa, ia menarik tangan Kai yang terkepal kuat. Mata Jaehyun berair melihat dan merasakan telapak tangan Kai yang berkeringat.
“Tangan hyung berkeringat,” bocah itu berdiri di sofa, menempatkan punggung tangannya di kening Kai. Orang tua dan kakaknya melakukan itu kalau dia demam. Jaehyun pikir Kai demam karena dia juga merasa sakit kepala kalau demam.
“Noona,” panggilan khawatir Jaehyun mengalihkan Jeorin dari Kai. Dia terkejut melihat adiknya menangis.
“Hyung demam,”
“Hyungmu baik-baik saja, Jae.” Jeorin menatap Kai tajam. ‘Beraninya dia menggunakan kepolosan adikku.’ Batin Jeorin kesal.
“Hyung sakit kepala!” teriak Jaehyun kesal pada kakaknya. Membuat dua orang yang baru dewasa itu terkejut. Tangisannya menjadi keras.
“Jaehyunnie, hyung tidak apa-apa,” Kai menarik Jaehyun ke pangkuannya, ia memeluk bocah itu—menggoyangkan tubuh Jaehyun pelan ke kanan dan kiri.
“Noona benar. Hyung tidak sakit.” Seharusnya dia tidak meminta bantuan Jaehyun tadi. Seharusnya ia membujuk Jeorin sendiri. Tangisan anak itu tidak kunjung berhenti juga. Tatapan Jeorin melembut. Ia selalu tersentuh kalau melihat Jaehyun berada di pelukan Kai. Adiknya itu sangat menyayangi kekasihnya. Ia berpindah ke sebelah kiri Kai.
“Jaehyunnie,” panggil Jeorin lembut tapi adiknya tidak mau melihatnya. Dia menyembunyikan kepalanya di dada Kai.
“Kenapa kau menangis?”
“Hyung.. sakit, tapi.. noona.. tidak.. mau.. merawatnya.” Kata Jaehyun disela isakannya. Kai menatap minta maaf pada Jeorin karena dia melibatkan Jaehyun. Jeorin mengelus punggung Jaehyun.
“Kenapa tidak Jaehyun saja yang merawat Hyung?”
“Jeorin,” suara Kai pelan. Sekarang dia benar-benar menyesal karena memanfaatkan Jaehyun. Jeorin semakin menghukumnya.
“Aku tidak bisa, aku masih kecil.” Jeorin tersenyum mendengar ucapan adiknya.
“Aku tidak tahu di mana tempat obat, aku tidak bisa mengambil gelas, aku—“
“Apa Jaehyun mau membantu noona?” Jaehyun melihat kakaknya lalu mengangguk. Jeorin menghapus air mata Jaehyun.
“Jaehyun jelek kalau menangis,”
“Noona,” rengek Jaehyun. Jeorin mengambil Jaehyun dari pangkuan Kai. Ia melihat Kai sebentar sebelum pergi ke dapur. Kai mendesah berat. Apa yang akan Jeorin lakukan padanya nanti? Ia hanya bisa menunggu.
Jeorin mendudukkan Jaehyun di konter. Ia membuka lemari piring, mengambil dua gelas dan satu piring kecil dan sendok.
“Jaehyun mau minum apa?”
“Tidak ada.” Jawab Jaehyun singkat.
“Kenapa tidak ada? Kita akan memakan kue yang Jongin hyung bawa.” Jeorin bermain dengan handphonenya sebentar lalu membuat segelas teh.
“Jongin hyung sakit,” jawab Jaehyun muram. Ia mengangkat kepalanya.
“Apa teh itu buatku?” Jaehyun melihat Jeorin memasukkan bongkahan es ke dalam gelas. Dia sangat menyukai minuman dingin.
“Tidak, ini buat Jongin.”
“Hyung tidak boleh minum es. Dia sakit.” Protes Jaehyun. Dia melompat dari konter. Jeorin terkejut melihat tindakan adiknya.
“Jaehyun, kau bisa terluka.” Suara Jeorin cemas. Ia memeriksa adiknya, takut adiknya terkilir.
“Hyung sakit, aku tidak mau dia masuk rumah sakit lagi,” tatapan Jeorin melembut. Adiknya sangat mengkhawatirkan Kai.
“Sayang, hyung baik-baik saja. Percaya pada noona, setelah minum ini, hyung akan sangat sehat seperti Jaehyun.”
“Tapi,”
“Jaehyun sangat menyayangi Jongin hyung.” Jaehyun mengangguk.
“Noona juga kan?” Jeorin tersenyum dan mengangguk.
“Apa.. apa noona marah pada hyung?” Jeorin terkejut mendengar pertanyaan adiknya.
“Kenapa Jaehyun bertanya seperti itu?”
“Aku belum melihat noona mencium hyung hari ini.” Jaehyun berujar pelan, tidak menatap kakaknya. Jeorin membulatkan matanya. Apa Jaehyun sudah sering melihat mereka berciuman? Jeorin pikir mereka sudah sangat hati-hati di depan Jaehyun. Mereka harus lebih menjaga sikap mereka di depan Jaehyun mulai sekarang.
“Hyung-mu bau. Jaehyun mau minum apa?” Jeorin berucap cepat, mencegah adiknya memperpanjang tentang ciuman atau Jongin-nya yang ‘sakit’.
“Es teh itu.”
“Tidak mau susu cokelat.. dingin?” Jaehyun tersenyum menatap kakaknya. Jeorin mengacak rambut Jaehyun pelan. Ia berdiri lalu mengambil susu cokelat dingin buat Jaehyun dari kulkas. Ia memberikan susu kotak itu pada adiknya.
“Ayo.” Ajak Jeorin pada adiknya, ia membawa es teh dan piring tadi di nampan. Saat Kai melihat Jeorin kembali, entah kenapa ia merasa kalau Jeorin tidak semarah saat dia pergi ke dapur tadi. Tapi, itu hanya perasaan Kai.
“Hyung tidak bau.” Jaehyun membela Kai. Kai memang tidak bau. Dia menatap Jaehyun bingung. Jeorin meletakkan es teh itu di meja lalu memindahkan kue stroberi mini yang dibelikan Kai ke piring.
“Sepertinya baunya sudah hilang,” Jeorin duduk di sebelah Kai, mengabaikan Kai yang semakin bingung dengan percakapan dua bersaudara itu. Jeorin mengambil buah stroberi yang berada di atas kue itu lalu mendekatkannya ke mulut Kai. Sikap Jeorin membuat Kai terkejut. Kenapa Jeorin menjadi baik padanya? Apa gadis itu sudah tidak marah lagi padanya? Apa perasaannya benar? Atau Jeorin hanya pura-pura tidak marah karena di depan Jaehyun?
“Hyung tidak mau stroberinya?” suara Jaehyun menyadarkan Kai. Dia membuka mulutnya, menerima suapan Jeorin.
“Noona, aku mau kuenya.” Jeorin memotong kecil kue itu, lalu menyuapi Jaehyun. Ia juga memakan kue setelah itu ia menyuapi Kai lagi.
“Aku sudah bilang pada noona kalau hyung tidak boleh minum es. Hyung sedang sakit, tapi noona tidak mau mendengarkanku.” Jaehyun mengerucutkan bibirnya.
“Sakit kepala hyung sudah hilang,” Kai tersenyum meyakinkan Jaehyun.
“Benarkah?” Kai mengangguk, ia mengambil es teh yang ada di atas meja.
“Hyung boleh minum susu cokelatku,” Jaehyun menawarkan pada Kai.
“Terima kasih, Jaehyun. Hyung minum ini dulu.” Kai meminum es teh buatan Jeorin sambil melihat gadis itu.
“Kalian bersenang-senang tanpa Eomma.”
“Eomma!” Jaehyun berlari menuju ibunya. Saat di dapur tadi, Jeorin mengirim pesan pada ibunya, memberitahu pada Nyonya Kang kalau adiknya sudah selesai jalan-jalan dengan Jongin. Nyonya Kang membawa Jaehyun ke dalam pelukannya lalu berjalan menuju dua sejoli yang sedang duduk di sofa.
“Eomma,” Kai berdiri lalu mencium pipi kiri Nyonya Kang.
“Jaehyun terlalu sering bersama dengan Jongin hyung sampai-sampai Jaehyun lupa dengan eomma,” suara Nyonya Kang seperti anak kecil yang merajuk. Jaehyun mencium kedua pipi ibunya.
“Ayo jalan-jalan, eomma.” Ucapnya seolah meghibur ibunya. Nyonya Kang tertawa kecil.
“Jagoan eomma baik sekali. Dia mengajakku jalan-jalan.” Nyonya Kang melihat putrinya lalu Kai.
“Kalian ikut?” Kai membuka mulutnya tapi suara Jeorin mendahuluinya.
“Aku ingin bersama Jongin dulu. Eomma benar. Jaehyun lebih sering bersama Kai daripada aku.” Jeorin pura-pura cemberut. Nyonya Kang tersenyum melihat putrinya.
“Itu artinya hyung lebih sayang aku daripada noona.” Jaehyun menjulurkan lidahnya pada Jeorin. Jeorin balas melakukannya pada bocah itu.
“Kita pergi sekarang?”
“Ya!” Jaehyun mengangkat tangannya ke udara. Nyonya Kang membisikkan sesuatu pada Jaehyun.
“Kami pergi dulu, noona, hyung.” Jaehyun melambaikan tangannya dari gendongan ibunya pada mereka. Kai menghela napas setelah tidak melihat Nyonya Kang dan Jaehyun. Sekarang hanya tinggal mereka berdua. Ia kembali duduk di samping Jeorin. Kai menatap gadis itu. Ia akan melakukannya dengan benar kali ini.
“Aku minta maaf,”
“Kenapa kau minta maaf?” Jeorin menatap Kai datar. Kai sudah berkali-kali minta maaf padanya di setiap kesempatan yang ada, tapi ia selalu mengacuhkan pria itu. Dia berusaha mengabaikan kekasihnya itu supaya Kai mengubah sifatnya, walau hanya sedikit.
“Karena sikapku tempo hari, saat perkenalan dengan Mr. Zhang.” Sikap dia tidak akan berubah pada Mr. Zhang aka Lay. Kai akan bersikap sopan pada pria itu hanya di depan Jeorin. Ia tetap tidak suka dengan Lay. Pria itu berani merayu Jeorin di depannya. Itu kesalahan Lay yang paling tidak bisa Kai maafkan.
“Aku juga minta maaf karena melibatkan Jaehyun dalam masalah kita,” Kai mengepalkan kedua tangannya. Dia sedang berusaha untuk tidak memeluk Jeorin. Dan itu tidak lepas dari pandangan Jeorin.
“Apa kau memaafkanku?” Kai tidak tahu akan seperti apa dirinya kalau Jeorin tidak memaafkannya sekarang. Dua hari tidak bisa menyentuh dan diacuhkan Jeorin sudah sangat menyiksa, apalagi lima minggu. Mungkin Kai sudah mati saat itu.
“Maafkan aku, Jeorin,” Kai menatap penuh harap pada kekasihnya. Jeorin meraih tangan kanan Kai yang terkepal, membuka kepalan tangan Kai lalu menautkan jari-jari mereka. Ia meletakkan tangan Kai di pangkuannya.
“Sebenarnya aku tidak tahan lagi pura-pura tidak peduli padamu,” Jeorin tersenyum tipis.
“Baby,”
“Hubungan kita sudah berjalan selama tiga tahun. Aku sudah cukup mengenalmu, Jongin. Kau suka berkata dan bertindak sesukamu,”
“Aku tidak seperti itu padamu,” Kai mengernyitkan dahinya.
“Tidak. Tapi kau melakukan itu di sekolah. Dan Mr. Zhang muncul di depan kelas kita, aku tidak pernah marah padamu. Kau tidak pernah seperti itu pada guru sebelumnya, Jongin.”
“Aku tidak menyukainya,” Jawab Kai pelan.
“Tidak masalah kalau kau mengatakan apa yang kau pikirkan, yang hatimu suka pada orang yang seusia atau lebih muda darimu. Tapi, dengan Mr. Zhang atau guru mana pun itu tidak benar.” Suara Jeorin lembut, berharap Kai bisa menerima apa yang ia katakan.
“Aku mengerti. Aku tidak akan melakukannya lagi.” ‘Kalau di depanmu.’ Sambung Kai dalam hati.
“Aku menyayangimu, Jongin.”
“Aku juga. Aku mencintaimu,” Jeorin tersenyum pada Kai.
“Bolehkah aku menyentuhmu?” Jeorin mengangkat tangan mereka.
“Aku sudah menggenggam tanganmu sejak tadi.” Kai tertawa kecil.
“Kau tahu apa maksudku, baby.” Jeorin menggelengkan kepalanya lalu mendekatkan wajahnya pada Kai. Ia mengecup bibir pria itu. Kai melingkarkan satu tangannya di pinggang Jeorin.
“Kita ke apartemenku,” Kai mengelus pipi Jeorin. Gadis itu mengangguk. Kai mengecup bibir kekasihnya.
“Wangimu sudah hampir hilang di sana.”

*****

Lu Han berjalan mondar-mandir di teras rumahnya. Sudah jam delapan malam dan Jiseul belum pulang. Ia tidak mendapatkan Jiseul maupun Lay begitu keluar dari kafe. Ia sangat yakin kalau keduanya pergi bersama. Apa yang dilakukan kedua orang itu? Lu Han berusaha untuk tidak memikirkan itu tapi tidak bisa. Apalagi cara Lay menatap Jiseul di kafe, Lu Han tidak bisa melupakan itu. Pria itu menatap Jiseul-nya dengan.. dengan.. Lu Han mengerang. Cara Jiseul menatap Lay juga berbeda. Mereka bisa berkomunikasi hanya dengan saling menatap. Dia harus membuat Jiseul menjauhi pria itu. Kalau ia membiarkan mereka dekat, hubungan yang tidak Lu Han inginkan pasti terjalin diantara mereka. Ia memicingkan matanya saat melihat Jiseul berjalan mendekatinya dengan membawa satu paper bag di tangannya. ‘Jadi mereka benar-benar belanja? Aku bisa membelikan Jiseul lebih banyak barang daripada guru sialan itu.’ Gerutu Lu Han dalam hati.
“Apa kau bersenang-senang hari ini?” Jiseul menatap Lu Han sekilas lalu berjalan melewati pria itu masuk ke dalam rumah. Lu Han mendengus lalu mengikuti Jiseul masuk.
“Aku sedang bicara denganmu, Jiseul.” Jiseul menghentikan langkahnya lalu berbalik. Ia menatap Lu Han malas.
“Jangan ganggu aku.” Lalu melanjutkan langkahnya.
“Apa ini cara yang diajarkan orangtuamu untuk bicara dengan suamimu?” mata Jiseul membulat mendengar ucapan Lu Han. Kata-kata Lu Han terus membuatnya terkejut hari ini.
“Kau bersenang-senang diluar sana sedangkan aku kelaparan di sini.” Lu Han tahu ucapannya konyol. Ia bisa makan diluar atau memesan. Tapi hanya itu yang melintas di kepalanya agar Jiseul mau bicara lebih lama dengannya walaupun apa yang terjadi lebih dari sekedar bicara, mereka akan berdebat.
“Seingatku, kita tidak akan memakai kata suami atau istri kecuali di depan orang tua kita, Lu Han.” Jiseul menatap Lu Han tajam.
“Aku tidak peduli lagi. Di rumah ini kau istriku. Dan seorang istri harus melayani suaminya.” ‘Kau bahkan belum menjalankan kewajibanmu sebagai istri di tempat tidur.’ Sambung Lu Han dalam hati.
“Apa aku? Pembantumu?!” Jiseul tidak percaya ia sedang membicarakan ini dengan Lu Han sekarang. Ia pikir ia tidak akan pernah bicara dengan Lu Han di rumah ini.
“Apa kau tuli? Aku menyebutmu istriku. Dan aku sangat kecewa mengetahui istriku baru saja kencan dengan gurunya.” Lu Han tidak menyembunyikan kesinisannya.
“Apa kau mengikutiku?” Jiseul menyipitkan matanya pada Lu Han.
“Yang di kafe tadi tidak kebetulan kan?” Lu Han mengalihkan tatapannya dari Jiseul. ‘Dia tidak boleh tahu kalau aku mengikutinya. Akan memalukan kalau Jiseul tahu.’
“Kai yang mengajakku ke sana.” Jiseul memicingkan matanya.
“Kenapa aku tidak percaya padamu?”
“Itu karena kau belum mengenalku. Aku bicara jujur sekarang.” Lu Han masih belum menatap Jiseul. Jiseul menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya.
“Aku lelah. Kau bisa pesan makanan. Seharusnya kau melakukannya sejak perutmu memberi isyarat untuk mengisinya. Selamat malam, Lu Han.” Jiseul berbalik dan melangkah.
“Apa kau akan menemuinya lagi?” suara Lu Han pelan. Jiseul berhenti lalu berbalik.
“Ini terakhir kali aku mengatakan ini padamu, Han.” Mata Lu Han membulat—hanya sebentar—mendengar Jiseul memanggilnya. Han, akan sangat menyenangkan kalau Jiseul memanggilnya seperti itu setiap saat.
“Jangan mencampuri urusanku karena aku tidak pernah melakukan itu padamu.”
“Aku sudah putus dengan Sejin.” Lu Han menatap Jiseul dalam. Hening sebentar.
“Apa makna dari ucapanmu itu?” Lu Han menelan gumpalan yang ada di tenggorokannya. Ini dia. Mungkin Jiseul akan menerimanya.
“Aku ingin mencoba, kau tahu, apa yang dikatakan orang tua kita,” Lu Han tergagap.
“Saling mengenal dan menerima pernikahan ini. Itu akan menyenangkan.” Lu Han mengakhiri ucapannya. Ia menatap Jiseul, menunggu jawaban gadis itu. Tapi melihat ekspresi Jiseul yang berubah menjadi datar, sepertinya itu bukan pertanda baik.
“Bagian mana yang menyenangkan, Lu Han?” Memori Jiseul membawanya kembali ke perpustakaan, saat di mana dia mendapati Lu Han bersama dengan Sejin. Sejin yang berada diantara Lu Han dan dinding. Bagaimana mereka—orang seperti Lu Han mengatakannya? Jiseul bahkan tidak mau mengatakan kata yang diawali dengan huruf ‘F’ itu.
“Bagian di mana kau bisa meniduriku kapan pun kau mau?” Lu Han membulatkan matanya. Apa yang Jiseul ketahui tentang dirinya? Ya, dia terkenal playboy, tapi ia sangat berharap Jiseul tidak mengetahui bagian kebiasaan ‘tidurnya’.
“Jiseul, kita—“ Jiseul menggelengkan kepalanya.
“Lupakan, Lu Han. Hubungan yang kau maksud tidak akan berhasil jika dijalani dengan tipe orang sepertimu bahkan jika itu bukan denganku. Aku juga ragu kalau kata hubungan ada dalam kamusmu.”
“Kau tidak tahu—“ Lu Han mencoba menyangkal Jiseul tapi lagi-lagi gadis itu memotong ucapannya.
“Aku sangat tahu, Lu Han. Aku pernah merasakannya. Bahkan kau mengejekku saat itu.” Lu Han mengernyitkan alisnya tidak mengerti. Kapan dia mengejek Jiseul? Dia hanya mengatai Jiseul gadis jadi-jadian. Ia terus berpikir sampai memorinya membawa Lu Han kembali ke taman. Sekarang Lu Han mengerti ucapan Jiseul.
“Kalau pria seperti Kris yang mengaku dirinya setia bisa selingkuh, apalagi laki-laki sepertimu. Aku yakin dalam satu minggu kau tidak hanya mengencani satu perempuan.” Lu Han mengepalkan tangannya. Jiseul sudah terlalu jauh menilainya. Dia memang brengsek tapi dia tidak seburuk itu. Setidaknya, ia ingin mencoba untuk tidak menjadi brengsek bersama Jiseul. Dia yakin dia bisa membuang kata ‘brengsek’ yang melekat pada dirinya jika Jiseul mau mencoba bersamanya. Tapi, gadis itu malah membuatnya emosi dengan kata-katanya.
“Apa kau pikir si Yixing itu tidak akan melakukannya padamu?” Lu Han bisa menangkap keterkejutan Jiseul. ‘Apa mereka akan bertemu lagi? Sepertinya Jiseul menikmati kencannya dengan pria itu.’
“Dia pria yang berpengalaman, Jiseul. Lebih pengalaman daripada aku.” Nada Lu Han sugestif, berusaha mempengaruhi Jiseul.
“Sebentar lagi, kau akan melihat dia menggandeng wanita lain. Tidak butuh waktu sampai satu minggu. Hati-hati—“
“Aku tetap pada kesepakatan awal kita. Jangan menggangguku lagi.” Lu Han mengumpat dalam hati melihat Jiseul yang mengabaikan semua ucapannya. Dia menatap punggung Jiseul yang semakin jauh darinya dan tidak terlihat lagi. ‘Sial. Jiseul tidak bisa memperlakukanku seperti ini terus. Apa yang harus kulakukan? Rayuanku jelas tidak berpengaruh padanya. Cara kasar, dia pasti akan membenciku seumur hidupnya. Mempengaruhi, dia baru saja mengabaikanku.’ Lu Han mengacak rambutnya frustasi.
“Apa yang harus kulakukan?” Lu Han berjalan mondar-mandir. Suasana hatinya sudah sedikit tenang sekarang. Tapi, dia tidak mendapatkan cara apapun untuk membuat Jiseul menerima dirinya. ‘Aku butuh saran dari seseorang. Tapi, siapa? Tidak mungkin dia bicara dengan teman-temannya. Mereka tahu Baekhyun menyukai Jiseul lebih dulu dari dia, kalau dia berbicara pada teman-temannya—kecuali Baekhyun—mereka akan menganggap Lu Han pengkhianat. Ia tidak mau itu terjadi walaupun ia sudah menjadi pengkhianat karena menyembunyikan pernikahannya dari mereka. ‘Kepada siapa aku bisa membicarakan ini?’

TBC…

41 thoughts on “Nice Guy (Chapter 8)

  1. Ping-balik: Nice Guy (Chapter 10) | EXO Fanfiction World

  2. Ping-balik: Nice Guy (Chapter 9) | EXO Fanfiction World

  3. Eyy luhan jadi manis gitu ke ade kelas walopun ada nusuk2nya tp bener haha Jiseul ngirit banget kalo ngomong sama luhan :3 padahal lagi greget gregetnya mereka saling debat kaya gitu tp selalu berhentiin sm jiseul ._. Banyakin moment luhan jiseulnya dong kak thornim ^^ ffnya keren bgttlah

  4. Bagus bngt thor ffnya keren abis. Maaf ya thor sejauh ini aku baru komen beberapa part 😂 .. pokonya keren thor next chap thor. Janji bakal komen terus hehe 😁

  5. wahh.. sumpah. ini cerita bikin greget banget. karakter luhan disini aku suka banget. keren lah ni ff. ngmong” maaf thor… baru komen. abis aku bacanya offline.

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s