Truly, I Love you (chapter 19)

req-tily-k (1)

D.O | Sakura (O.C)

poster by : Flickerbeat (OverClass) @artfantasy

Boleh aku tidur di kamarmu?…

Tanpa bermaksud bersikap kasar, D.O mendorong bahu yunju membuat jarak diantara mereka. D.O tidak menyangka yunju akan menciumnya. Semua seakan terjadi begitu cepat. Yunju menatap D.O bingung. Setelah selama ini laki-laki dihadapannya ini bersikap baik padanya, yunju kira tidak akan apa-apa untuk menciumnya.

“yunju…” ucap D.O, “aku sebaiknya pulang.” D.O mengambil tasnya di kursi dan segera beranjak. Semua ini salah. Pikirnya. Semua yang terjadi ini salah.

Yunju menatap punggung D.O yang menjauh dengan nanar. Apa perasaan ini masih bertepuk sebelah tangan? Batinnya. Yunju menunduk lemah. Lalu sikap baik laki-laki itu dan bahkan janjinya kepada ayahnya, apa artinya semua itu? setelah selama ini, apa hati dingin D.O itu masih tidak bisa diluluhkannya?

Dia adalah cinta pertamaku dan kurasa yang terakhir…

Years ago.

Udara masih dingin di pagi hari dan mereka sudah harus bersiap-siap membersihkan halaman sekolah sebagai salah satu kegiatan wajib setiap satu bulan sekali. Yunju membuka lokernya dan memakai sarung tangan. Dia berjalan sendirian menuju halaman sekolah, tidak seperti anak-anak lain yang berjalan berdampingan dengan teman-temannya, Seo Yunju tidak pernah punya teman dan bahkan tidak pernah tahu rasanya memiliki orang yang bisa disebut teman. Dia terlalu tertutup untuk itu. segerombolan anak laki-laki menubruknya, membuat tubuhnya limbung.

“oh maaf.” Ucap salah seorang dari mereka. Yunju hanya memberinya tatapan datar.

“kau tidak perlu meminta maaf pada gadis sombong ini, ayo.” Kata anak laki-laki satunya dan mereka berlari pergi.

Gadis sombong.

Semua orang memanggilnya dengan sebutan itu sejak kejadian di ruang latihan teater mereka di kelas satu tahun lalu. Yunju hanya menolak untuk menjadi salah satu tokoh bukan karena dia tidak mau tetapi dia tahu dia tidak akan mampu. Berdiri diatas panggung di depan semua orang adalah hal terakhir yang akan dilakukannya selama ia hidup. Yunju terlalu malu untuk itu.

Entah cara menolaknya yang salah atau karena yunju yang selalu menolak semua peran yang ditawarkan kepadanya, teman-teman sekolahnya mulai berhenti berbicara dengannya dan bahkan sudah tak pernah menawarkan apapun padanya. Yunju ada di sana tetapi kehadirannya tidak pernah diangap lagi. Yunju menjadi orang asing dan semua juga menjadi berubah asing sejak saat itu.

Semua orang sudah memegang perlatannya masing-masing, ada yang akan berkebun menanam beberapa bunga. Ada juga yang memunguti sampah dan membereskan sepeda di halaman. Yunju memilih untuk memunguti sampah –meskipun tidak ada yang bertanya apa yang ingin dilakukannya. Ia melakukan tugasnya dengan tenang. Meskipun anak-anak disekitarnya banyak yang saling bercanda dan melakukan kejahilan, atau melemparkan beberapa lelucon, yunju tetap serius dengan pekerjaannya, dia adalah orang asing dan lingkungannya juga selalu asing baginya.

“Ah KAU BODOH ATAU APA??!!!” Seorang gadis berambut pendek berteriak pada yunju. Dia sedang memasukkan sampah ke dalam tong yang sedang disediakan dan tidak sengaja menjatuhnya beberapa sampah yang berair sehingga mengenai seragam gadis itu.

“maaf.” Kata yunju pelan.

“apa?? Hanya itu? ah kau ini benar-benar seperti alien. Ternyata benar apa yang dikatakan anak-anak lain tentang kau. Dasar aneh.” Hinanya. Gadis itu meneriakinya dengan nada yang cukup keras, membuat semua orang menoleh kearah mereka.

Yunju mengkerut di tempatnya. Dia benci ini. Menjadi pusat perhatian adalah kebenciannya yang paling besar.

“aku akan membersihkan seragammu. Aku minta maaf.” Ucapnya lagi dengan suara yang bergetar dan kepala yang tertunduk. Yunju tidak pernah setakut ini. Perhatian ini membunuhnya.

Gadis tersebut mengambil sesuatu dari dalam tong. Sebotol minuman, dia membuka tutupnya dan menyiram yunju dari ujung kepalanya. Semua orang menganga tak pecaya dengan apa yang dilakukan Yein. Meskipun mereka tahu yunju aneh dan sombong tetapi apa yang dilakukan yein juga tidak benar.

“sekarang kita impas.” Decak Yein dengan tersenyum.

“siapa yang bilang?” seorang laki-laki bersuara dari balik kerumunan, dia menghampiri yein dan yunju bersama beberapa temannya di belakang. Mereka adalah EXO, dari klub baseball. Selain hebat dalam bidang olahraga, banyak gadis mengagumi mereka karena wajah mereka yang tampan dan juga isi kepala mereka. Hampir semuanya berada di tingkat 10 besar sekolah.

D.O mengambil air minum dari tangan Chanyeol yang berada di sebelahnya. Botol minum yang masih penuh itu lalu dituangkan seluruh isinya ke tubuh Yein. Semua orang kembali menganga dan tidak menyangka hal tersebut akan dilakukan oleh orang paling dingin di sekolah.

“apa yang kau lakukan?!!” teriak yein jengkel. Seluruh tubuhnya basah.

“sekarang baru impas.” Ujar D.O dengan nada datarnya. “dia bersalah karena mengotori seragammu dan dia sudah minta maaf, kalian impas. Tapi kau malah menyiramnya dan aku menyirammu. impas kan?” D.O menaikkan sebelah alisnya. Dia memang memerhatikan apa yang terjadi sejak tadi. Meskipun selalu bersikap dingin, D.O tidak pernah tahan dengan ketidak-adilan di depan matanya.

Yein menatap D.O marah. Sebagai laki-laki yang diidolakannya, apa yang dilakukan D.O tak hanya mempermalukannya tetapi juga mematahkan hatinya. Yunju yang walau mendengar semuanya tetapi tidak berani mengangkat kepalanya, dia hanya berharap dia bisa segera menghilang dari sana.

D.O meraih tangan yunju dan membawa gadis itu keluar dari sana. Dengan diikuti teman-temannya mereka menuju ruang klub di belakang sekolah. Baekhyun memberikan handuk kepada yunju.

“wah kau keren sekali, hyung.” Puji Sehun. Dia memberikan dua jempolnya kepada D.O yang berdiri di sampingnya.

“aku heran kenapa kau diam saja diperlakukan seperti itu.” komentar Baekhyun. Dia mengambil tempat di samping Yunju.

Yunju melirik baekhyun. Dia tahu mereka. Dia tahu kelompok macam apa mereka. Tetapi hanya sebatas itu, bahkan untuk melihat wajah mereka yang katanya sangat tampan itu, yunju tidak berani. Sekarang bahkan dia berada di ruangan klub mereka dikelilingi oleh ke-enam orang itu.

“terima kasih.” Katanya setengah berbisik.

“ah bicaralah dengan nada yang bisa didengar orang lain.” Keluh Chanyeol.

“berhentilah bersikap seolah-olah kau orang asing.” Celetuk D.O, semua mata menoleh kearahnya. Termasuk yunju. “kau itu bagian dari sekolah ini. Lari dan menutup diri malah membuat orang lain berpikir macam-macam tentangmu.”

Yunju menggigit bagian dalam bibirnya. Kenapa dia berbicara begitu? Katanya dalam hati.

“aku dengar kau itu tidak pernah berteman dengan siapa-siapa? Uhm tidak bermaksud untuk lancang tapi, apa kau punya masalah dengan orang-orang di sekolah ini?” kali ini suho yang bersuara, dia pemerhati yang baik, dia hanya akan bicara ketika saatnya sudah tepat.

Yunju menelan ludahnya, ia berpikir ini gila. Tapi entah setan dari mana, dia memiliki keinginan untuk berbicara dengan orang-orang ini. Entah kenapa dia tiba-tiba ingin mengeluarkan isi hatinya.

“aku takut.” Ucapnya dengan kata pelan. Tapi cukup keras untuk didengar semua orang di ruangan.

“takut apa?” Tanya sehun.

“aku hanya takut mereka tidak menyukaiku. Aku takut kalau aku jadi pusat perhatian. Aku takut mereka berpikir macam-macam tentangku. Aku takut kalau aku dibenci.” Dengan suara bergetar dan sembari meremas rok sekolahnya, yunju berbicara.

“wow congrats. Kau berhasil mewujudkan semua itu dengan sikapmu.” Celetuk Kai. Diikuti anggukan oleh semua orang.

Yunju menatap semua orang. Iyakah? Ia bertanya pada dirinya sendiri.

“aku yakin kau gadis baik dan menyenangkan. Kau hanya butuh membuka dirimu sedikit saja. Kau pasti disukai banyak orang.” D.O memberikan penutup yang begitu berkesan pagi itu, mungkin bukan bagi semua orang tetapi hanya bagi yunju.

Sejak hari itu, yunju berubah. Tidak ada lagi si pendiam, si aneh, dan si tertutup yunju yang ada diingatan semua orang. Yunju berubah dengan perubahan yang sangat baik. Dia mulai membuka diri. Yunju menghabiskan banyak waktunya dengan EXO termasuk para pemain baseball yang lain. Yein yang pernah menghinanya malah berubah menjadi teman baiknya setelah itu. yunju berhasil melewati masa kritis dalam hidupnya.

Tetapi yunju tak hanya mendapatkan teman dan kehidupan sekolah yang indah. Dia juga mendapatkan cinta.

Dia mencintai D.O sejak saat itu dan meskipun tidak pernah diungkapkannya, perasaan cinta itu terus tumbuh dan membesar di setiap harinya.

Dia adalah cinta pertamaku dan kurasa yang terakhir…

Chen mengantarkan sakura sampai ke rumahnya. Setelah mengucapkan terima kasih, sakura keluar dari mobil Chen. Sakura berlari masuk ke dalam rumahnya. Langit yang gelap dan tak berbintang itu menandakan akan hujan, lebat. Entah kenapa sangat cocok dengan suasana hati sakura. Rasanya dia hanya ingin menangis semalaman di dalam kamarnya. Dia hanya ingin menumpahkan segalanya. Sudah terlalu banyak yang ia pendam selama ini. Dan rasanya kata sabar sudah hilang dari dalam kamusnya. Dia juga sudah tidak merasa butuh banyak penjelasan lagi. Sudah terlalu lama dia menunggu penjelasan tetapi yang ia dapatkan hanya perasaan sakit yang diakibatkan oleh orang yang sama dan alasan yang sama.

Sakura masuk ke dalam rumah yang masih dalam keadaan gelap. Berarti belum ada yang pulang. Meskipun seharusnya sakura merasa senang karena dia tidak perlu bertemu D.O, tetapi entah kenapa ada sebersit perasaan sakit di dalam hatinya, D.O belum pulang berarti dia masih berada di sana menemai yunju? Sakura menelan kenyataan pahitnya.

“kau darimana saja?” Tanya sebuah suara yang amat dikenali sakura. D.O yang sejak tadi terduduk lesu di ujung tangga berjalan menghampiri sakura. Gadis yang sejak tadi dicarinya. Seolah D.O akan gila karena ketika ia sampai di rumah, sakura tidak ada. Dia bahkan kembali ke sekolah takut kalau kejadian sakura terkunci di atap terulang lagi. Melihat sakura baik-baik saja, D.O tak bisa menahan dirinya dan memeluk gadis itu. Erat.

Rasanya sakit. Menyesakkan. Hancur. Marah. Kecewa. Tetapi juga bahagia. Satu pelukan dan sakura merasakan terlalu banyak rasa yang seketika berkecamuk di dalam dadanya. Sakura berjanji tidak akan menangis lagi tetapi satu pelukan dan semuanya runtuh. Air mata sakura jatuh.

Tangan sakura menggantung di udara. Meskipun dia ingin, dia tidak membalas pelukan D.O.

“lepaskan aku.” Katanya lirih. Sakura tak bisa tahan, air matanya terus jatuh.

“aku akan jelaskan semuanya. Aku janji. Kau tanyakan saja apapun. Aku akan menjelaskannya.” Gumam D.O, ia menenggelamkan wajahnya di leher sakura. Menghirup aroma manis yang dimiliki gadis dalam pelukannya itu.

“aku lelah. Aku ingin istirahat, kyungsoo. Kumohon.” Pelukan D.O terasa nyaman. Amat nyaman, tetapi dengan sekuat tenaga sakura berusaha mendoroh tubuh laki-laki itu.

D.O melepas pelukannya dengan setengah hati. Sudah lama sekali rasanya sejak terakhir dia memeluk sakura dan rasanya selalu menyenangkan memeluk tubuh gadis itu, sakura terasa sangat pas dalam pelukannya. D.O menatap sakura, dan menyadari gadis itu menangis. D.O mengusap pipinya, dia tahu lebih baik dari siapapun kalau alasan sakura menangis adalah dirinya dan selalu dirinya. D.O tahu dia bukan laki-laki yang baik dan sempurna, tetapi melihat sakura menangis karena dirinya selalu membuatnya merasa menjadi laki-laki paling buruk. Dia tidak suka perempuan menangis di depannya, tetapi dia lebih tidak suka apabila yang menangis itu sakura.

“aku minta maaf.” Desis D.O. dia tidak tahu kata lain apa yang lebih baik daripada itu.

“aku juga minta maaf.” Kata sakura.

“huh?”

“maaf karena sudah menjadi penghalang antara kau dan yunju. Harusnya aku sadar posisiku sejak awal. Kalau aku bisa, aku ingin membatalkan saja pernikahan ini kyungsoo. Kalau saja aku bisa.” Dengan air mata yang kembali jatuh, sakura berusaha dengan sangat keras menyelesaikan kalimatnya.

“kau gila? Jangan berpikiran bodoh. Penghalang apanya. Aku dan yunju? Kami tidak—“

“sudahlah, kyungsoo.” Potong sakura cepat. “aku lelah. Aku lelah selalu menjadi orang yang mengerti dirimu, aku lelah selalu menjadi orang yang menunggu, dan aku lelah selalu menjadi orang yang mencintaimu. Aku konyol sekali. Berharap kau akan punya perasaan padaku setelah pernikahan ini. Aku konyol sekali—“

D.O membungkam sakura cepat dengan bibirnya, memotong ucapan gadis itu. Dia memegang kedua pipi sakura agar gadis itu tak bergerak dan melumat bibirnya. Rasanya seperti ciuman pertama tapi D.O tahu itu bukan. Sudah lama sekali sejak terakhir dia mencium sakura. D.O merasa begitu bodoh dan tidak tahu apa yang selama ini dilakukannya, mendiamkan gadis yang rasa bibirnya selalu menyenangkan seperti ini.

Sakura terkesiap di tempatnya, kejadiannya amat cepat. D.O bahkan tidak membiarkannya mempersiapkan diri. Sakura yang terus membuka matanya, di detik-detik berikutnya mulai menutup mata dan menikmati perasaan aneh yang muncul dari bibirnya, turun ke hatinya dan bergerumul aneh di dalam perutnya. Tangan sakura yang awalnya menggantung di udara, sudah dipindahkannya ke kedua sisi baju D.O. seingat sakura dia sangat marah tadi, tetapi kenapa mendadak hilang seperti ini?

Ciuman D.O semakin dalam. Setelah menggigit bagian bawah bibir gadis itu, D.O memasukkan lidahnya. Tidak ada yang ingin ditahannya lagi, sudah cukup kebimbangan yang dia rasakan selama ini, sudah cukup dia menyakiti sakura dengan dirinya yang tidak pernah bisa mengambil sikap. D.O terlalu bimbang sampai melupakan perasaan gadis yang dinikahinya berbulan-bulan lalu itu.

Beberapa menit yang lalu langit seolah mendung tetapi kemudian bulan bersinar. Sinarnya yang masuk melalui celah jendela itu seakan menambah suasana hangat yang sekejap tercipta di antara D.O dan sakura.

D.O masih sangat ingin mencium sakura lebih lama lagi tapi tidak mungkin karena D.O mulai kehabisan nafasnya. D.O melepas ciumannya. Dia menatap sakura yang sedang berusaha mengambil nafas dengan wajah yang memerah. Bahkan D.O lupa betapa manisnya gadis di depannya ini dengan wajah memerah seperti itu. D.O mengelus pipi sakura, mengusap sisa air mata yang mengering di wajahnya. “kau manis sekali.”

Sakura menatap D.O, apa-apaan ini? Dari yang sakura ingat dia marah sekali tadi, tapi dalam sekejap kenapa wajah merah dan hati yang berdebar yang malah dirasakannya sekarang. Kemana marahnya tadi? Batin sakura.

“kurasa malam ini akan jadi malam yang panjang.” Ujar D.O

“huh?”

“karena kurasa aku harus menjelaskan banyak hal padamu. Aku benci menjelaskan tapi kurasa aku harus.” D.O mengelus kepala sakura.

Sakura menarik nafasnya. “aku hanya punya satu pertanyaan.”

“apa?”

“apa arti yunju bagimu?”

“dia temanku. Sama seperti Suho hyung, Chanyeol, Baekhyun dan yang lainnya.”

Sakura menatap D.O, dia berbohong saat mengatakan hanya punya satu pertanyaan. Sakura punya ratusan pertanyaan yang ingin sekali ia lontarkan, tapi entah hatinya yang lemah atau ciuman D.O tadi sudah menghipnotisnya sehingga sakura menganggap ia tak butuh lagi pertanyaan lain.

Teman? Hanya teman? Sakura masih menatap D.O, meskipun ia mencari kebohongan di sana tetapi yang sakura lihat hanya kejujuran. D.O tidak berbohong. “ya sudah.” Sakura mengangkat bahunya. “aku mau tidur.” Sakura beranjak.

D.O megerutkan keningnya. Ia sungguh-sungguh siap menghabiskan seluruh malamnya untuk memberikan segala penjelasan yang sakura inginkan. Gadis itu terlihat sangat terluka saat melihatnya di rumah sakit tadi. Dan D.O tahu dia berhutang banyak penjelasan terhadap sakura, tetapi mendengar gadis itu hanya punya satu pertanyaan dan tidak bertanya apa-apa lagi setelah dia menjawabnya. D.O malah menjadi bingung.

“hey serius. Kalau kau ingin bertanya apa saja aku akan jawab. Aku janji.” D.O mengikuti sakura menaiki tangga.

Iya banyak tapi aku mendadak senang. Jadi aku lupa. Sakura ingin sekali mengucapkan hal itu tapi ditahannya. “tidak ada.” Katanya pendek.

“kalau begitu. Boleh aku yang bertanya?” Tanya D.O saat mereka sudah ada di depan kamar sakura.

Sakura berbalik, membelakingi pintu kamar di belakangnya. “apa?”

“kau dari mana saja?” dengan tangan yang ia masukkan ke dalam saku celananya, D.O bertanya.

“bersama chen.”

D.O membuka mulutnya, dan meringis tak percaya. Apa dia tak salah dengar? Pikir D.O. D.O menyetarakan wajahnya dengan wajah sakura, dia menatap gadis itu sebelum member kecupan singkat di bibir sakura. “kau tahu kau milikku kan? Seingatku aku sudah sering bilang untuk menjauhi chen.” Gumamnya.

Sakura terkesiap. Bahkan rasa ciuman mereka yang lama itu masih terasa, sekarang apa lagi. “dia temanku. Aku tidak mungkin menjauhi temanku sendiri.”

Teman? Entah kenapa kata teman selalu terasa salah di telinga D.O ketika itu berhubungan dengan orang bernama chen. Apa itu juga yang dirasakan sakura ketika mendengar yunju? D.O mulai bertanya pada dirinya sendiri.

Sakura membuka pintu kamarnya. Malam sudah terlalu larut dan besok dia masih harus sekolah. D.O masih berdiri di depan pintu kamar sakura, dan saat ia akan menutupnya, D.O menahannya. “boleh aku tidur di sini?” Tanyanya.

Sakura membelalak kaget. Dia bilang apa tadi? “huh?”

“tidur di sini. Di kamarmu.”

“tidak.” Ucap sakura cepat. “kau punya kamarmu sendiri.”

“ya sudah.” D.O membuka kamar sakura lebih lebar dan menarik tangan gadis itu, membuatnya keluar dari kamar. “kita tidur di kamarku.” Sebelum sakura bisa memberontak, D.O sudah membawa sakura masuk ke dalam kamarnya. Dan mengunci kamarnya.

Sakura memukul lengan D.O, “aku akan bilang pada eomma. Aku bersumpah.” Ujarnya dengan nada marah. D.O hanya tersenyum dan mencium pipi sakura.

“bilang saja.” Katanya.

Sakura tertegun dan ia tak bergerak sesenti pun dari tempatnya di dekat pintu. Oke dia senang. D.O mencium sakura dan tak ada yang lebih menyenangkan dari itu. dan sekarang sakura hanya ingin tidur dengan perasaan senang di dalam dadanya, meskipun awalnya dia pikir dia hanya akan menangis semalaman. Tapi dia tidak mengharapkan ini, walau sakura memang sangat merindukan aroma kamar D.O tetapi tidur bersamanya? Wow kenapa ide itu terdengar sangat salah. Batin sakura.

D.O masuk ke dalam kamar mandi beberapa menit yang lalu, dan untung saja ketika dia keluar, dia sudah berpakaian lengkap. D.O berjalan menuju closetnya dan mengambil baju. “kau pakai saja ini.” Katanya sembari mendekati sakura dan menyerahkan sepotong baju.

“kamarku di sebelah kyungsoo. Demi tuhan.” Gumam sakura.

“tapi kau akan kembali kesini?”

“aku punya kamar dan kau juga. Maksudku, kita bisa tidur di kamar masing-masing.”

D.O mencubit hidung sakura. “kembali kesini, oke? Kumohon.” Katanya.

Sakura tidak pernah mendengar nada itu sebelumnya, dia masih tidak mengerti kenapa D.O ingin ia untuk tidur di kamarnya. Dan kenapa laki-laki itu tiba-tiba bersikap seperti ini. Apa kepalanya terbentur sesuatu?

Sakura menggumam dan D.O membukakan pintu untuknya. Ketika gadis itu keluar, D.O tak bisa menghilangkan senyuman dari bibirnya. Dia sadar kalau sakura sudah berpikir macam-macam ketika mendengar ucapannya tadi. Tapi D.O memang hanya ingin tidur bersamanya, memeluk sakura sampai mereka terlelap.

D.O duduk dengan tenang bersandar di kepala tempat tidurnya sembari mengetik beberapa tugas yang memiliki deadline dalam waktu dekat. Dia sempat mengecek ponsel tadi dan melihat pesan dari yunju tetapi D.O memutuskan untuk tidak membukanya. Dia sedang tidak ingin memikirkan apa-apa lagi selain hubungannya dengan sakura. Sudah terlalu banyak pertengkaran yang mereka lalui hanya karena D.O dan sikap tidak berterusterang dirinya.

Suara ketukan di pintu membuat D.O menghentikan kegiatannya. Sakura perlahan masuk. Wangi aroma sabun strawberry yang digunakannya langsung memenuhi kamar D.O dan itu menyenangkan. D.O menepuk tempat kosong di sebelahnya. Sakura yang hanya memakai kaos biru polos kebesaran dengan celana pendek yang hilang di balik kaos nya, berjalan mendekat.

“wah kukira kau tidak akan datang.” Gumam D.O.

“aku mau langsung tidur.” Kata sakura sembari menarik selimut.

“ok.” D.O memindahkan laptop di pangkuannya ke meja kecil di samping tempat tidur. Dia menempatkan dirinya dibalik selimut dan menggeser tubuhnya mendekati sakura. “boleh aku memelukmu?” bisik D.O.

Sakura menggigit bibir bawahnya. Dia tidak akan berbuat macam-macam kan? Batinnya. Sakura menatap D.O dan mengangguk.

D.O menyelipkan tangannya sebagai bantal sakura, sedangkan tangan satunya memeluk pinggang sakura dan menariknya mendekat. Entah apa namanya ini, tapi D.O tidak pernah merasa setenang dan senyaman ini.

Pelukan D.O membuat wajah sakura menatap dadanya, sedangkan ujung kepalanya dapat merasakan dagu D.O yang dia letakkan disana. Sakura tidak bisa menahan dirinya untuk tidak berdebar. Dia bahkan takut dirinya akan tuli karena suara detak jatungnya yang terlalu keras, tetapi sakura tidak punya waktu untuk peduli karena dia terlalu senang dan hanya ingin menikmati momen ini.

“boleh aku mengatakan sesuatu padamu?” Tanya D.O sembari mengelus lengan sakura.

“apa?”

“ini soal yunju.”

Kenapa lagi? Pikir sakura.

“apa?” meskipun saat ini ia sedang sangat tidak ingin dengar apa-apa soal yang lain apalagi soal yunju tetapi sakura bertanya. Setidaknya dia ingin dengar.

“ayah yunju sakit. Itulah kenapa aku disana. Tadi pagi saat aku tiba-tiba pergi ayahnya mendadak kritis. Aku khawatir padanya jadi aku kesana.” Jelas D.O, dia masih mengelus bahu sakura.

Sakura menggerakkan kepalanya dan mendongak untuk menatap D.O, “kenapa tidak bilang? Kalau kau bilang dari awal aku tak perlu salah paham. Kau selalu diam selama ini, itulah kenapa kita selalu salah paham.” Ujar sakura. Akhirnya mereka memang harus membicarakan ini.

“aku tidak tahu caranya.” Gumam D.O, “kau tahu betapa susahnya bagiku untuk menjelaskan sesuatu. Tapi sungguh yunju hanya temanku, kami sudah lama berteman dan aku juga mengenal baik keluarganya. Jadi ketika mendengar ayahnya sakit aku tidak punya pikiran lain selain menjenguknya. Dan yunju tidak punya orang lain lagi, ibunya juga sudah meninggal beberapa tahun lalu. Sebagai teman, aku hanya ingin menemaninya.”

Sakura menyimak D.O dengan baik. Dia yang sama sekali tidak tahu apa-apa tentang yunju maupun hubungannya dengan D.O merasa informasi yang baru saja didengarnya mampu membuatnya menganga. Tidak. Sakura tidak lagi marah, setelah mendengarnya dia malah merasa bersalah karena sempat berpikir jahat tentang yunju. Sakura mengulurkan tangannya dan melingkarkannya ke leher D.O, “kau sangat keren.” Bisiknya.

“huh?”

“kau keren.”

Sakura melepas pelukannya dan menangkup wajah D.O, meskipun hanya kecupan singkat tapi karena sakura yang melakukannya lebih dulu, membuat D.O tersenyum senang.

“coba kau bilang dari dulu. Ah kyungsoo.” Sakura berdecak dan membalikkan tubuhnya membelakangi D.O

“hey kenapa kau membelakangiku?”

“aku mau tidur.”

“astaga.” Decak D.O sebelum melingkarkan lengannya ke pinggang sakura dan memeluknya dari belakang. D.O membenamkan wajahnya ke leher sakura. “good night, baby.

Wait. What?

TBC

the almighty ‘tbc’ lol, sorry it’s getting late dan aku ngantuk. well guys, sorry for another late update. aku nulis ini dalam 3 jam dengan embel2 lain (makan, nonton video bentar, dan nyanyi2 ga jelas) sorry karna ga banyak, I’m stuck and totally suck. aku terkena writer block untuk cerita ini, entah karena sekarang uda jarang liat kyungsoo ato gimana, tapi bener2 ga ada ide, ditambah file original ff ini tuh aslinya uda ilang berkali-kali karna ke format. jadi ini cerita yang bener2 segar, baru malam ini aku pikirin.

so next chapter will be the last chapter. semoga inspirasi segera datang meskipun sekarang aku lagi sibuk sama skripsi juga (doain ya)

and about my aff story, you can go here , ada dua judul yang satu chanyeol dan yang satu baekhyun, so it would be lovely if you guys check on it hhe. I’m such a newbie English writer so yeah hha. dan untuk twitter, sebenernya aku ada, tapi ini twitter asli aku, baru aku buka lagi akhir2 ini juga, aku ga berniat bikin akun fg lagi, since I’ll turn 22 this year jdi aku pikir uda bukan saatnya untuk sibuk twitteran, hha beside aku juga uda mau lulus kuliah dan mau ngurus buat lanjut lagi jadi too busy, but if you want to ask me just go here mention me or follow, or do whatever hha

so enjoy ^^

[ps: actually i want to make some erotic scenes (wtf it sounds so wrong) but aku males pake password, so guys what do you think about some fluffy smut thingy? it’s up to you, i’ll write it for you if you want but don’t expect me to be that good because I’m not, i read smut but i dont write it. hha. so give me your thought about that, you want it or not?]

 

 

 

 

207 thoughts on “Truly, I Love you (chapter 19)

  1. Author tolong dilanjutkan ffnya😂😂 Saya setia banget sama ff ini udah 4 tahun lebih author😂 Sesegera mungkin yaa thor😂😂 Semangat juga buat skripsinya💞

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s