Posted in Angst, Author, Chan Yeol, EXO-K, Fanfiction, Ficlet, fingersdancing14, Genre, Romance, Tragedy, Type

[Ficlet] Out of Order

exo-love-me-right-chanyeol

“Out of Order” by Mingi Kumiko

★ (EXO) Chanyeol & OC ★ Romance, hurt, tragedy ★ PG-13 ★ Ficlet ★

Saat Tuhan mengabulkan permintaanku, aku bahagia sekali saja

Namun saat Tuhan tak mengabulkan permintaanku, aku bahagia sepuluh kali

Karena yang pertama adalah pilihanku, dan yang kedua adalah pilihan Tuhan

.

.

.

Hari ini aku senang sekali karena teman-teman mengajakku pergi ke pameran surat kabar dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional. Pagelaran semacam ini, kan, sangat bermanfaat untuk mahasiswa jurusan komunikasi sepertiku.

Rencananya aku akan berangkat bersama Park Chan Yeol. Akan kuberi tahu sedikit gambaran tentang pria yang akan menjemputku itu; dia pria tampan berpipi agak tembam dan memiliki lesung pipit yang lucu saat ia tersenyum, tingginya di atas rata-rata cowok korea, dan satu hal lagi yang paling penting… dia adalah pria yang aku sukai.

Kudengar suara pintu terketuk. Aku pun berjalan menuju pintu untuk membukanya. Namun sepertinya itu bukan Chanyeol. Setahuku lelaki itu hampir tak pernah mengetuk pintu apabila datang ke rumahku. Biasanya ia mengirimi pesan terlebih dahulu, kemudian menyuruhku keluar rumah untuk menghampirinya.

Setelah mendorong gagangnya, aku pun mendapati sesosok pria tengah berdiri di hadapanku. Alisku sontak memicing dengan dahi yang mengerut. Itu adalah Jongdae, salah satu temanku juga.

“Ayo berangkat!” ucapnya tanpa mengindahkan raut keherananku.

“Di mana Chanyeol?” tanyaku yang merupakan ungkapan halus dari ‘Kenapa malah kau yang datang ke mari?!’

“Masih ada di kampus,” jawabnya enteng dan hanya kubalas dengan anggukan paham. Ia pun berbalik sambil memberikan isyarat ‘Ayo segera pergi!’ dengan kepalanya.

Karena ibuku sedang tidur jadi aku langsung pergi tanpa pamit. Segera kunaiki motor yang Jongdae kendarai dengan raut kesal yang tak kunjung sirna. Hul! Kenapa jadi berangkat dengan si Jongdae, sih? Ada apa sebenarnya? Kenapa Chanyeol tidak bilang kalau tidak jadi menjemputku?

Jongdae mulai memutar gas pada motornya hingga menimbulkan suara deruman mesin. Saat telah sampai di pertigaan jalan, ia pun membelokkan motornya ke kanan.

“Kenapa malah ke utara? Bukannya harusnya kita ke selatan?” aku sontak bertanya.

“Chanyeol bilang aku harus menemuinya di kampus dulu, teman-teman yang lain juga berkumpul di sana.” jawab Jongdae yang semakin membuatku bingung. Aku ingin bertanya lebih banyak lagi, namun atmosfir kecanggungan dengan cepat menyelimuti kami. Aku menyesal karena tak memiliki banyak interaksi dengan Jongdae sebelumnya.

Aku pun memilih bungkam di belakangnya sambil menikmati semilir angin di bawah langit Kota Seoul yang berawan. Motor Jongdae berhenti sejenak karena lampu merah menyala. Tiba-tiba aku melihat gerombolan teman-temanku melintas dari arah berlawanan.

Hey, itu mereka!” seruanku membuat Jongdae menoleh.

“Bagaimana, sih? Katanya aku disuruh ke kampus agar bisa berangkat bersama, tapi kenapa mereka malah berangkat duluan?” rutuk Jongdae kesal.

Belum sempat aku menggubris gerutuannya, manik obsidianku tiba-tiba menangkap sebuah pemandangan menyesakkan. Aku tak mungkin salah lihat, Chanyeol sedang melintasi jalanan dengan seorang gadis di belakangnya. Rautku tertekuk lesu, hatiku bagai tersayat sembiri. Jadi itu alasan mengapa Chanyeol urung menjemputku dan malah menyuruh Jongdae? Tapi… kenapa ia bisa sampai setega itu? Kalau memang tidak mau menjemputku, harusnya dia bilang saja dari awal.

Entah mengapa aku jadi begitu terbawa perasaan. Perlahan buliran kristal bening menganak sungai di pelupuk mataku. Rasanya sakit sekali. Mengapa Chanyeol lebih memilih untuk mengantarkan gadis itu? Kurasa aku tak kalah baik dan cantik. Kututupi wajahku yang hampir sembap dengan kaca helm. Aku tak ingin seorang pun tahu kalau aku sedang menangisi pria brengsek itu.

Suasana hening tetap menyelimuti perjalananku dan Jongdae. Segera kuseka air mataku saat Pemuda Seo itu berhasil menyusul laju motor Chanyeol. Aku memalingkan wajah dan tak sama sekali berniat untuk menyapa Chanyeol. Peduli setan juga dengan Ryuna – nama gadis yang satu motor dengannya. Aku sungguh tak mau melihat mereka!

Perjalananku dan Jongdae masih sampai setengahnya. Ia tetap memilih diam dan terfokus pada jalanan. Sedangkan aku yang suasana hatinya terlanjur dibuat buruk pun juga jadi malas untuk memulai sebuah topik pembicaraan.

Kugunakan waktu senggangku selama perjalanan dengan terus berpikir. Aku ingat pemuka agama pernah bilang bahwa segala kesulitan yang terjadi di dunia ini adalah ujian. Jadi aku hanya perlu yakin bahwa aku bisa melewati segala ujian ini dan akan mendapatkan sebuah hal yang bermanfaat setelahnya.

Saat aku berdoa dan harapanku dikabulkan, maka aku bahagia sekali saja. Tapi jika aku berdoa namun harapanku tak dikabulkan, maka aku harus bahagia sepuluh kali lipat. Karena yang pertama adalah pilihanku, dan yang kedua adalah pilihan Tuhan. Namun penalaranku masih belum sampai untuk menebak skenario apa yang telah Tuhan siapkan untukku.

CIIIIT!!!

Sebuah suara yang memekakkan telinga membuatku tergugah dari lamunan.

“CHANYEOL, AWAS!” pekik Jongdae dengan suara terlantang yang bisa ia teriakkan.

BRAKK!!!

Sebuah mobil yang kehilangan kendali melintasi jalan raya dan menabrak beberapa kendaraan yang ada di hadapannya. Mataku terbelalak hebat kala mendapati bahwa motor yang Chanyeol kendarai berada di barisan terdepan hingga membuatnya menjadi salah satu korban kecelakaan itu.

Motor itu tertabrak dan membuat tubuh Chanyeol terhempas agak jauh dari pusat tabrakan. Namun Ryuna sungguh tak beruntung karena tubuhnya tertindih badan motor. Dan lebih parahnya lagi ia tak menggunakan helm. Darah pun mengucur deras dari pelipisnya. Aku yang melihat hanya bisa tertegun, masih belum bisa percaya dengan apa yang kulihat barusan.

“Kenapa kau diam saja? Ayo cepat turun!” sentak Jongdae. Buru-buru ia menjagrak motornya lantas berlari tunggang-langgang menghampiri para korban kecelakaan itu. Beberapa pengendara di sekitarku pun melakukan hal yang sama dengan Jongdae.

Kulangkahkan kakiku menghampiri korban yang benar-benar ingin kuketahui bagaimana keadannya. Ialah Min Ryu Na, gadis yang beberapa menit lalu sempat membuat api amarahku tersulut.

Kudapati kondisinya kini sudah tak sadarkan diri. Kudekatkan jari telunjukku yang teracung di dekat hidungnya dan tak kurasakan embusan napas yang keluar. Tiba-tiba tim medis datang dengan langkah seribu hingga membuatku refleks mundur, membiarkan mereka memberikan pertolongan pada Ryuna.

“Bagaimana keadaannya, Tuan?” tanyaku pada salah satu petugas setelah kurasa mereka selesai dengan pekerjaannya.

“Maaf, kondisinya sudah tak tertolong. Benturan di kepalanya terlalu keras hingga membuat pembuluh darah di otaknya pecah.” ucap beliau dengan penuh sesal.

Aku kembali tertegun. Jangan bilang kalau ini adalah sebuah kebahagiaan yang harus aku syukuri sepuluh kali lipat? Aku sungguh tak mengerti kenapa secercah pun kesedihan tak terbesit di dalam hatiku. Apakah aku gembira karena dia telah mati? Nampaknya begitu. Siapa yang tak bahagia kalau salah seorang pengganggu dalam urusan cintanya lenyap? Kurasa tak akan ada. Semoga kau tenang di alam sana, Min Ryu Na.

 

– END –

jangan lupa tinggalkan jejak untuk kelangsungan hidup penulis cerita ^^

Iklan

Penulis:

♬ Lely ♬ 99line ♬ warm hearted ♬ talk active ♬ let's be friend! ♬

2 thoughts on “[Ficlet] Out of Order

  1. itulah jawaban Tuhan atas apa yang kamu jabarkan semula kamu membencinya tapi nyatanya itu adalah pilihan terbaik Tuhan untukmu
    tapi akan lebih baik kalo kamu bersyukur karna kamulah yang selamat dari maut yang akan menimpamu bukannya bahagia karna ryuna yang mati dan pesaingmu pergi itu malah terkesan egois
    mian….

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s