Diposkan pada Drama, Family, jellokey, Lu Han, Marriage Life, MULTICHAPTER, Romance, SCHOOL LIFE

Nice Guy (Chapter 9)

LEentfHP

 

Nice Guy

Tittle : Nice Guy (Chapter 9)
 Author : Jellokey
 Main Casts :
 Lu Han
 Choi Ji-seul (OC)
 Byun Baek-hyun (Baek Hyun of EXO)
 Support Casts :
 Zhang Yi Xing (Lay of EXO)
 Yoon Se-jin (OC)
 Kim Jong-in (Kai of EXO)
 Kang Jeo-rin (OC)
 Oh Se-hoon (Se Hun of EXO)
 Shin Min-young (OC)
 And others
 Length : Chaptered
 Genre : romance, arranged marriage, school life, family, friendship
 Rating : PG-17
 Poster : https://myelsexperience.wordpress.com/poster/
 Disclaimer : This story is pure MINE. Don’t plagiat or copy paste without my permission

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4  Chapter 5  Chapter 6  Chapter 7  Chapter 8

Lu Han menutup pintu kamarnya dengan keras. Dia frustasi—frustasi dengan keadaan diantara dirinya dan Jiseul. Dia butuh bantuan, Lu Han tahu betul dia sangat membutuhkan bantuan. Tapi, siapa yang bisa membantunya? Minyoung, nama itu tiba-tiba melintas di kepalanya. Lu Han mengambil handphonenya yang berada di nightstand lalu duduk di tepi tempat tidur. Ia menghubungi gadis itu. Dia bisa mengatakan tentang Jiseul pada Minyoung dan gadis itu tidak akan memberitahu siapa-siapa. Ya, Lu Han yakin itu. Dia cukup mengenal Minyoung. Semoga saja mantan kekasihnya itu bisa memberikan solusi padanya.
“Ke mana dia?” rutuk Lu Han kesal karena Minyoung lama sekali menjawab panggilannya. Panggilan itu berakhir. Lu Han mencoba lagi. Panggilannya dijawab setelah dering ketiga.
“Halo,” jawab Minyoung, terdengar pelan di telinga Lu Han.
“Apa aku mengganggumu?” Lu Han berusaha bersikap lembut, dia harus melakukan itu kalau mau Minyoung membantunya.
“Tidak.” Gumam Minyoung. Lu Han menautkan alisnya. Kenapa Minyoung menjawabnya dengan suara pelan nyaris berbisik?
“Apa kita bisa bertemu? Ada yang ingin kukatakan padamu.” Jeda cukup lama sampai Minyoung menyahutnya.
“Ini sudah malam. Katakan saja sekarang.” Lu Han menarik napas panjang.
“Aku tidak bisa mengatakannya melalui telepon. Akan lebih nyaman kalau aku mengatakan langsung padamu. Lagipula, yang ingin aku bicarakan padamu tidak akan memakan waktu sampai satu jam.”
“Aku tidak bisa. Aku sedang bersama Sehun.” Lu Han memutar bola matanya jengkel. Tentu saja. Satu-satunya alasan Minyoung tidak bisa menemuinya adalah Sehun.
“Aku butuh bantuanmu, Minyoung. Aku bisa gila kalau tidak membicarakan ini pada seseorang.” Suara Lu Han terdengar frustasi. Terdengar suara Sehun di seberang sana, membuat Lu Han mengumpat dalam hati.
“Aku mengerti kau tidak bisa menemuiku malam ini. Tapi, tolong, besok. Aku harus bicara denganmu, Minyoung. Hanya kau yang kupercaya.” Lu Han memutuskan sambungan panggilannya. Ia menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Ia menatap langit-langit kamarnya.
“Dia tahu aku tidur dengan… banyak wanita.” Lu Han mengerang. Pasti itu yangg menyebabkan Jiseul menjauhinya. Jelas gadis itu bukan gadis murahan. Dan Lu Han semakin menginginkannya. Lu Han mengusap wajahnya lalu menghubungi ibunya.
“Halo, nak,”
“Ma… apa kabar?” tanya Lu Han. Suara ibunya sedikit menenangkan Lu Han.
“Baik, sayang. Baba juga. Bagaimana denganmu? Jiseul?”
“Aku baik, Jiseul juga. Dia langsung mencari Mama pagi setelah Mama pergi.” Lu Han tertawa kecil. Sangat menyenangkan membicarakan Jiseul dengan ibunya.
“Benarkah? Mama dan Baba akan langsung ke rumah kalian setelah pekerjaan Baba di sini selesai.”
“Em. Mama harus sering-sering melakukan itu.” Kalau Nyonya Lu sering berada di rumahnya, Jiseul tidak akan mengabaikannya. Walaupun Jiseul hanya pura-pura, itu lebih baik daripada dia tidak bisa berinteraksi dengan Jiseul. Paling tidak, dia bisa menyelamatkan sedikit harga dirinya yang sudah dihancurkan Jiseul. Dia tidak ada harganya di mata gadis itu.
“Lu Han? Ada apa, sayang? Kau terdengar sedih.” Lu Han tertawa dalam hati. Apa benar yang ibunya katakan? Ia tidak merasa sedih. Dia hanya sedikit terluka.
“Tidak, tidak ada apa-apa, Ma.” Lu Han berusaha membuat suaranya terdengar ceria.
“Kau yakin?”
“Iya. Aku mengantuk, Eomma. Aku akan menelepon eomma lagi nanti.” Ibunya menghela napas. Lu Han memanggilnya ibu dalam bahasa Korea. Anaknya sudah memberi batas.
“Kau bisa mengatakan apa saja pada Eomma, sayang. Baiklah. Selamat malam, nak.”
“Malam, Ma.” Lu Han meletakkan handphonenya di kasur. Ia menutup matanya dengan punggung tangannya. Dia tidak mau mengalami ini. Perasaan tidak nyaman saat melihat Jiseul dekat dengan pria lain sekalipun itu temannya. Dan ini yang paling tidak dia inginkan, rasa terluka yang diberikan Jiseul saat gadis itu mengabaikannya.
*****
“Jiseul,” Jiseul baru saja melewati kamar Lu Han saat pria itu memanggilnya. Senyum yang ada di wajahnya hilang begitu dia berbalik menghadap Lu Han.
“Kau terlihat bahagia sebelum aku memanggilmu,” Jiseul tidak menanggapi Lu Han. Ia cukup terkejut melihat Lu Han sudah bangun sepagi ini—laki-laki itu juga sudah memakai seragam sekolahnya.
“Ada apa?” Lu Han meringis mendengar suara Jiseul. Belum ada gadis yang menanggapinya sekasar itu.
“Aku tidak mengusulkan untuk berangkat ke sekolah bersama kalau itu yang kau pikirkan.” Lu Han berjalan mendekati Jiseul. Gadis itu menatap was-was pada Lu Han. Apa lagi yang akan dilakukan pria itu kali ini? Jiseul mengelak—mundur selangkah sebelum tangan Lu Han bisa menyentuh wajahnya.
“Kau sudah menghancurkan harga diriku, Jiseul.” Jiseul membulatkan matanya. Apa yang pria ini bicarakan? Dia tidak pernah mencari masalah dengan Lu Han. Bagaimana bisa dia menghancurkan harga diri pria itu?
“Kau sama sekali tidak pernah menghargaiku,”
“Apa ini salah satu leluconmu, Lu Han? Kau bicara seolah-olah aku orang yang jahat.” Lu Han menggeleng kecil. Tidak ada artinya dia bicara dengan Jiseul. Apa yang dia ucapkan terdengar negatif di telinga Jiseul. Lu Han meraih pergelangan tangan Jiseul—menarik gadis itu ke pelukannya.
“Lu Han,” gadis itu memberontak di dalam pelukan Lu Han. Tapi sia-sia karena Lu Han semakin mengeratkan tangannya di tubuh Jiseul.
“Aku menyukaimu. Dan aku tahu kau sangat tidak mempercayaiku.” Jiseul berhenti merontah. Dia tidak tahu, tapi Lu Han terdengar.. tulus.
“Sebelumnya aku bersikap sangat menyebalkan padamu. Dari pertama kali kita bertemu sampai.. sekarang?” Lu Han terkekeh kecil. Dia ingin ketawa jika mengingat reaksi-reaksi yang diberikan Jiseul.
“Aku tidak akan minta maaf atas sikapku itu padamu, Jiseul. Kau tidak bisa mengharapkan itu dariku karena aku sangat senang melakukannya.” Jiseul mendengus. ‘Siapa juga yang mengharapkan maaf darimu? Pria ini besar kepala sekali.’ Lu Han mengelus rambut Jiseul lalu mencium puncak kepala gadis itu lama. Seharusnya dia melakukan ini sejak mereka menikah. Menghirup aroma citrus dari rambut gadis itu bisa memberinya ketenangan.
“Terima kasih karena membiarkan aku memelukmu. Ini bisa memperbaiki sedikit harga diriku.” Lu Han melepaskan pelukannya walaupun dia tidak rela. Dia tersenyum pada gadis yang matanya terlihat kosong.
“Ini aku, Jiseul.” gadis itu tersentak. Ia menatap Lu Han, melihat wajah pria itu yang menjadi polos di matanya. Hilang topeng playboy yang selalu Lu Han kenakan di sekolahnya. Lu Han mengacak rambutnya pelan.
“Pergilah, Jiseul. Aku akan semakin ngawur kalau kau tetap di sini.” Lu Han membalikkan tubuhnya dan kembali ke kamarnya. Jiseul merenggangkan jari-jarinya yang terkepal entah sejak kapan. Jiseul menggelengkan kepalanya. Membuang pikiran-pikiran aneh positif tentang Lu Han.
*****
Jiseul berjalan memasuki gerbang sekolahnya. Sejak berada di bus, dia terus saja memikirkan Lu Han. Jiseul mendesah berat. Lu Han pasti mengerjainya lagi. Gadis itu meyakinkan dirinya. Lay, nama itu tiba-tiba melintas di kepalanya—membuat Jiseul mengingat kencan mereka. Saat di mana mereka sudah selesai belanja dan setelahnya mereka hanya berjalan di jalanan Myeongdong sambil meminum bubble tea.
“Terima kasih untuk hari ini, Seul. Aku sangat menikmati ‘kencan kita’.” Jiseul menyedot bubble tea berharap Lay tidak melihatnya saat ini dan tidak menyadari rona merah di pipinya.
“Aku sangat menanti kencan kedua kita.” ‘Aku juga.’ Balas Jiseul dalam hati. Jiseul menatap Lay saat merasakan Lay menggenggam tangan kanannya.
“Aku sudah sangat ingin melakukan ini sejak tadi. Kau tidak keberatan?” Jiseul menggeleng membuat Lay tersenyum padanya. Dan tiba-tiba saja pria itu berhenti. Jiseul menatap Lay bingung. Lay menghela napas panjang. Sebenarnya bukan seperti ini cara Lay ingin melakukannya. Tapi, sebentar lagi mereka akan berpisah. Lay tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Saat di kafe dengan murid-muridnya tadi, dia menyadari sesuatu. Baekhyun menyukai Jiseul. Lay sangat menyadarinya. Bagaimana Baekhyun menatap Jiseul dan bagaimana Baekhyun tersipu saat Jiseul mengatakan dia tampan. Pria itu sedang jatuh cinta. Dia tidak bisa melewatkan kesempatan ini. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Siapa yang tahu, setelah ini, saat dia bertemu dengan Jiseul, ternyata gadis itu sudah bersama Baekhyun. Waktu pertemuannya dengan Jiseul sangat singkat, berbeda dengan Baekhyun yang bertemu setiap hari dengan Jiseul di sekolah.
“Aku menyukaimu,” Cup bubble tea yang ia pegang terlepas dari tangannya. Benarkah Lay baru saja menyatakan perasaan padanya?
“Aku sudah tertarik padamu sejak pertama kali aku melihatmu. Dan sekarang aku menyukaimu. Aku tahu ini terlalu cepat. Tapi itulah yang terjadi, Jiseul. Aku menyukaimu,” satu tangan Lay menyentuh wajah Jiseul. Ia mengelus pipi Jiseul karena gadis itu terlalu lama diam.
“Kau juga tertarik padaku, Seul. Aku bisa merasakannya,” Jiseul mengedipkan matanya berkali-kali lalu memfokuskan penglihatannya pada wajah Lay.
“Aku tertarik padamu,” Lay tersenyum.
“Tapi itu belum sampai pada perasaan suka seperti yang kau miliki padaku.” Kedua tangan Lay sudah berada di wajah Jiseul.
“Aku tahu itu. Tapi aku yakin kau akan menyukaiku. Kau hanya butuh waktu, sayang.” Jiseul memejamkan matanya saat merasakan bibir Lay di keningnya.
“Kita akan seperti ini sampai kau menyukaiku. Selama itu, kita akan saling mengenal satu sama lain. Apa kau setuju?” Jiseul tersenyum lalu mengangguk.
“Terima kasih, Lay.” Gadis itu mengikis jarak di antara mereka, lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Lay. Pria itu mengelus punggung Jiseul dan mengecup puncak kepalanya. Dia membiarkan pelukan itu sedikit lebih lama lalu memberi jarak di antara mereka.
“Kita makan dulu lalu aku akan mengantarmu pulang.”
“Aku pulang naik taksi saja. Ibuku—“
“Jiseul,” suara Baekhyun menghentikan ingatan Jiseul semalam. Gadis itu menoleh ke sebelah kanannya, mendapati Baekhyun yang tersenyum padanya.
“Aku sudah memanggilmu berkali-kali, tapi kau tidak mendengarku.” Jiseul tersenyum tipis.
“Maaf, aku memikirkan sesuatu. Jadi, aku tidak mendengarmu.”
“Ada yang berbeda denganmu, Baekhyun.” Ujar Jiseul setelah mengamati Baekhyun. Penampilan pria itu berbeda hari ini. Dia tidak memakai eyelinernya. Hanya itu, tapi perubahan yang terlihat sangat besar.
“Kau lebih… tampan seperti ini.” Baekhyun tidak bisa menahan senyumnya. Tangannya menggaruk tengkuknya—tersipu malu. Hal yang sangat menyenangkan saat mendengar gadis yang kau sukai mengatakan dirimu tampan.
“Ini pertama kalinya aku tidak memakai eyeliner sejak masuk sekolah. Aku akan lebih sering melakukannya.” Baekhyun berujar pelan di kalimat terakhirnya.
“Kau langsung ke kelas?” Baekhyun menatap Jiseul.
“Ya. Aku sudah membawa semua buku pelajaran untuk hari ini.” Baekhyun mengganggukkan kepalanya.
“Apa kau mau bergabung dengan kami saat istirahat nanti?” Baekhyun akan lebih berusaha mendekati Jiseul mulai sekarang. Untuk yang satu ini, Baekhyun akan sedikit mendengarkan ucapan sahabatnya yang mantan playboy itu. Siapa saja bisa mendekati Jiseul, baik itu orang yang muda atau lebih tua dari Jiseul. Dia tidak bisa membiarkan itu terjadi. Tidak saat dia benar-benar menyukai Jiseul.
“Apa tidak apa-apa?” Jiseul sudah pernah makan bersama Chanyeol—ini terjadi secara natural karena pria itu kekasih temannya—Kyungsoo dan Suho, mereka semua orang yang menyenangkan. Jiseul tidak tahu bagaimana dengan teman Baekhyun yang lain.
“Tidak. Mereka juga teman sekelasmu. Ini hal yang normal.”
“Baiklah.” Jiseul sama sekali tidak berniat untuk bergabung ke dalam lingkaran orang-orang yang populer. Tapi, dia tidak mau menolak Baekhyun. Lagipula ini tahun terakhirnya di sekolah. Ia ingin memiliki lebih banyak teman.
“Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanya Jiseul sedikit tidak nyaman karena Baekhyun menatapnya sambil tersenyum.
“Aku hanya senang bisa bersamamu seperti ini.” Jiseul membuka mulutnya tapi tidak ada satupun kata yang keluar. Ia terlalu pusing untuk mengatur kata-kata yang ingin dia ucapkan. Jadilah dia diam tidak mengucapkan apapun dengan Baekhyun yang tersenyum sepanjang jalan menuju kelas mereka.
*****
Suasana kelas yang riuh menjadi tenang saat Lay memasuki kelas. Dia meletakkan buku-buku dan tas kerjanya di atas meja lalu menyapa murid-muridnya.
“Morning, class.” Lay tersenyum, memfokuskan tatapannya pada Jiseul sebentar lalu mengedarkan tatapan ke seluruh penjuru kelas.
“Saya harap kalian semua mengalami weekend yang menyenangkan.” Lay mengambil buku pelajarannya dan lansung membuka halaman buku yang sudah dia tandai tadi malam.
“Baiklah. Hari ini kita akan belajar tentang…” Satu orang siswa sudah memperhatikan Lay sejak dia masuk. Jangan berpikir kalau murid ini memiliki maksud yang baik. Lu Han menatap Lay seperti dia menatap musuhnya—pria itu memang musuhnya. Bibirnya membentuk garis tipis saat ia melihat Lay tersenyum tapi matanya tertuju pada Jiseul. Dia tidak tahu apakah Jiseul membalas senyum Lay atau tidak karena Lu Han hanya bisa melihat punggung Jiseul. Jiseul yang berada di depan meja guru benar-benar sangat menguntungkan Lay. Lu Han mendengus kecil. Bahkan disaat belajar pun mereka bisa—bagaimana Lu Han mendeskripsikannya? Bermesraan? Ya, itu. Lu Han tahu betul mereka sangat mampu melakukan itu. Seperti saat di kafe, mereka bisa bermesraan melalui mata mereka. Lu Han tidak tahu seperti apa hubungan mereka. Tapi, dia yakin ada sesuatu diantara Jiseul dan Lay. Apa yang Lay jelaskan tidak ada yang bisa Lu Han cerna. Kalau seperti ini terus dia pasti gagal dalam ulangan bulanan biologinya. Bukan otaknya yang salah, tapi gurunya. Sebagus apapun Lay menerangkan dia tidak akan bisa menangkapnya. Lu Han sangat berharap waktu cepat berlalu agar gurunya itu segera pergi dari sekolahnya. Dengan begitu, biologinya tidak bermasalah dan Lay tidak akan sering bertemu dengan Jiseul. Itu bisa sedikit meringankan bebannya. ‘Bahkan saat menerangkan pun dia hanya mondar-mandir di depan Jiseul.’ Lu Han membuang napasnya kasar saat Lay sudah berjalan menuju belakang kelas. Sekarang pria itu berjalan mengelilingi kelas sambil menerangkan pelajarannya. Tatapan Lu Han beralih pada Baekhyun yang sedang menulis. ‘Apa dia tidak tahu—masih belum sadar kalau ada pria yang mendekati gadis yang dia sukai?’ Lu Han mengedikkan bahunya. Buat apa dia peduli? Dia harus mencari jalan agar Jiseul percaya kalau dia menyukainya. Lay sudah selesai menjelaskan topik pelajarannya hari ini. Sekarang, dia sedang berdiri—bersandar di meja.
“Dari yang saya bahas tadi, apakah ada yang ingin bertanya?” Lay membiarkan dua puluh detik berlalu, tapi tidak satu pun muridnya yang mengangkat tangannya.
“Lu Han?” panggil Lay membuat Lu Han tersentak. Pria itu segera membenarkan posisi duduknya—dia tidak melipat tangannya di dada lagi.
“Ada yang ingin kau tanyakan?” ucap Lay. Ia sudah lama memperhatikan laki-laki itu. Dia tidak mengubah posisi arogannya sejak ia masuk sampai ia memanggilnya namanya. Pikiran anak itu tidak pada pelajaran yang ia jelaskan.
“Tidak, Mr. Zhang.” Ia segera membuka buku tulisnya. Pura-pura sibuk menulis pada yang ia lakukan hanya mencoret-coret bukunya tidak jelas.
“Kim Jongin?” Ia cukup terkejut mendapati Kai tidak mencari masalah padanya. Pria itu bahkan sesekali menulis saat dia menjelaskan tadi.
“Saya mengerti semua yang anda jelaskan, seonsangnim.” Lay menaikkan sebelah alisnya. ‘Anak ini menjadi sopan. Apapun yang membuatnya seperti ini, itu bagus.’ Lay menganggukkan kepalanya.
“Jiseul?” tangan Lu Han berhenti mencoret. Kenapa dia merasa Lay memanggil Jiseul dengan sangat akrab? Suara pria itu berbeda saat memanggil Jiseul, lebih lembut. Lu Han mengangkat kepalanya, melihat Lay dan Jiseul.
“Tidak ada, Mr. Zhang.” Pria itu bahkan menatap Jiseul lebih lama dari waktu yang dibutuhkan. Ini tidak bisa dibiarkan. Lu Han menggelengkan kepalanya. Jiseul bisa menyukai Lay kalau mereka seperti ini terus. Lu Han tidak mau menipu dirinya. Lay berkarisma. Tidak ada wanita yang tidak terpesona olehnya, termasuk Jiseul. Lu Han panik. Tidak ada yang boleh memiliki Jiseul selain dirinya. Tidak Yixing, tidak Baekhyun, tidak siapa pun. Hanya dia.
“Baiklah, tidak ada yang bertanya. Saya akan menulis inti dari materi yang saya jelaskan tadi karena saya yakin beberapa dari kalian ada yang tidak menyimak penjelasan saya.” Ucapan Lay menyadarkan Lu Han. ‘Apa dia baru saja menyindirku? Oh God, guru ini harus segera diganti. Aku tidak tahan lagi melihat wajah dan kelakuannya.’ Batin Lu Han kesal dan frustasi.
“Terserah kalian mau menulisnya atau tidak.” Lay menuju papan tulis dan mulai menulis. Tidak sampai lima belas menit, Lay sudah selesai dan dia sudah duduk di kursinya.
“Setelah kalian selesai, kerjakan soal pilihan berganda pada halaman dua puluh lima. Kita akan membahasnya bersama nanti.” Lay menatap seluruh kelas lalu menatap Jiseul—memperhatikan gadis itu yang mulai mengerjakan soalnya. Tak berapa lama kemudian gadis itu sudah selesai. Lay tersenyum melihatnya. Jiseul menatapnya sebentar lalu gadis itu menunduk, memfokuskan dirinya entah pada apa. Merasakan handphonenya bergetar, Lay menarik handphonenya dari saku celananya.
From: My angel
Kau memakai dasi yang aku pilihkan kemarin.

Lay tersenyum membacanya. Ia mengetik balasan untuk pesan Jiseul sambil memegang dasi yang berwarna biru gelap itu.

To: My angel
Aku menyukainya. Kau sudah menyelesaikan tugasmu? Aku akan menghukummu kalau kau belum selesai.

From: My angel
Aku sudah menyelesaikannya. Aku tidak akan mengirim pesan padamu kalau aku belum selesai. Aku tidak mau guruku marah. :p

Lay menggelengkan kepalanya kecil sambil tersenyum geli.

To: My angel
Kita akan bicara nanti, sayang. Tidak baik bermain handphone saat jam pelajaran sedang berlangsung.

From: My angel
Siap, seonsangnim.

Jiseul mengangkat kepalanya lalu tersenyum kecil pada Lay. Pria itu balas tersenyum lalu berdiri.
“Apa kalian sudah selesai?”
*****

“Hari ini kau berbeda, Kai. Kau tidak mengganggu Mr. Zhang seperti hari itu.” Kata Chanyeol setelah meletakkan nampan berisi makanannya di meja. Kai mengerang kecil. Chanyeol tidak tahu kalau dia sangat menahan dirinya untuk tidak membuat Lay kesal tadi.
“Ini demi Jeorin-ku. Aku akan lebih memikirkan sikapku sebelum berbuat mulai hari ini.”
“Di mana Kyungsoo dan Suho?” tanya Sehun. Tadi mereka bersama-sama menuju kafetaria tapi sekarang mereka tidak ada bersama mereka.
“Dipanggil guru. Di mana Minyoung?” Balas Kai.
“Dia ke toilet.” Alis Sehun menyatu setelah mengingat bagaimana Minyoung menyampaikan itu padanya. Gadis itu terlihat gugup.
“Lu Han juga tidak ada. Apa kalian menyadari ada yang aneh dengan Lu Han belakangan ini?” Chanyeol menatap teman-temannya satu per satu.
“Dia seperti menyembunyikan sesuatu dari kita.” Sambung Chanyeol. Entah kenapa perasaan Sehun tidak enak. Lu Han dan Minyoung tidak ada di sini. Apa mereka.. bertemu? Sehun segera menyingkirkan pikiran negatifnya. Tapi hal itu muncul lagi setelah dia menngingat siapa yang menelepon Minyoung semalam. Minyoung tidak tahu kalau semalam dia memeriksa handphonenya secara diam-diam. Biasanya Minyoung akan memberitahunya kalau Lu Han meneponnya. Tapi semalam tidak. Apa yang mereka lakukan di belakangnya? Sehun menjadi curiga sekarang.
“Dia normal kemarin.” Sahut Kai.
“Yeonsa, kau sudah lama mengenal Jiseul kan?” tanya Jeorin mengubah topik pembicaraan di meja mereka.
“Aku mau menjemput Minyoung. Dia sudah terlalu lama di toilet.” Sehun menarik diri dari kumpulan teman-temannya. Dia tidak bisa tenang saat Minyoung dan Lu Han tidak ada bersama mereka.
“Kau pasti tahu kalau dia bekerja di butik milik Jeon Jeon-ha?” Yeonsa menggelengkan kepalanya sambil mengunyag sandwich-nya.
“Dia tidak bekerja di sana. Dia hanya mencari pengalaman dan belajar dengan Jeon-ha unni tentang fashion. Bagaimana kau tahu tentang ini?”
“Aku customer tetap Jeon-ha unni. Saat aku ke butiknya aku melihat dress karya-nya dan juga foto dia di majalah koleksi Jeon-ha unni.” Jawab Jeorin lalu matanya membulat melihat Baekhyun dan Jiseul berjalan menuju meja mereka lengkap dengan nampan di tangan mereka.
“Baekhyun membawa Jiseul kemari.” Kata Jeorin pelan lalu meminum jus stroberinya.
“Di mana yang lainnya?” tanya Baekhyun setelah menarik kursi untuk Jiseul. Kai tersenyum miring melihat itu.
“Mereka sibuk dengan urusan masing-masing.” Sahut Kai.
“Ini Jiseul. Kalian sudah mengenalnya.” Walaupun begitu Baekhyun merasa dia masih perlu mengenalkan Jiseul pada teman-temannya.
“Senang bisa mengenalmu, Jiseul.” kata Jeorin. Jiseul menganggukkan kepalanya lalu tersenyum pada Jeorin.
“Aku harap kita bisa hang-out seperti kemarin Jiseul.”
“Hang-out?” Jeorin menatap Kai. Kenapa dia tidak tahu?
“Kami tidak sengaja bertemu dengan Jiseul di kafe kemarin.” Jawab Baekhyun.
“Aku sudah mengajakmu, baby. Tapi kau menolakku, ingat?” Jeorin mengerucutkan bibirnya. Kai pasti akan terus mengungkit tentang itu.
“Adikmu sangat lucu, Jeorin. Aku jadi ingin punya adik seperti Jaehyun.” Jeorin menatap Jiseul. Baekhyun tidak salah memilih gadis. Salah satu tanda orang berhati lembut adalah dia menyukai anak kecil. Jeorin semakin mengagumi Jiseul karena itu.
“Dia juga sudah berhasil merebut hatimu.” Jeorin menggelengkan kepalanya kecil. Tidak ada yang bisa menolak pesona adiknya.
“Jadi, Jiseul,” suara Kai membuat Jiseul menatap pria itu.
Apa kau sudah lama menjadi model untuk koleksi Jeon-ha noona?” Jiseul membulatkan matanya. Bagaimana mereka tahu? Seniornya itu menjadi salah satu desaigner ternama di Seoul, wajar mereka tahu. Kalau dirinya?
“Kami melihat fotomu di majalah Jeon-ha’s collections.” Terang Jeorin.
“Aku bukan model seperti yang kalian pikirkan. Aku hanya membantu Jeon-ha unni. Sudah dua bulan lebih aku membantunya. Belajar dengan Jeon-ha unni juga menyenangkan.” Jawab Jiseul.
“Aku tidak mengerti kenapa kau tidak menetapkan model sebagai pekerjaanmu sampai sekarang, Jiseul.” Jiseul menatap Yeonsa jengah. Ia sudah mengatakan ini berkali-kali padanya, dia tidak mau menjadi model, dia ingin menjadi orang yang merancang busana yang dikenakan para model.
“Kita harus sering-sering melakukan ini, Baekhyun.” Baekhyun menatap Kai. Dari tadi dia hanya mendengarkan pembicaraan teman-temannya. Dia bisa menangkap maksud Kai. Dan dia sangat berterima kasih karena pria itu mau membantunya.

*****
“Apa yang ingin kau bicarakan, Lu Han?” tanya Minyoung langsung. Dia menatap punggung Lu Han yang sedang melihat ke luar jendela. Sepasang kekasih yang sedang duduk di bangku taman sekolahnya menjadi pusat perhatian Lu Han. Dia sangat ingin seperti itu bersama Jiseul. Duduk berdua, berbicara sambil menikmati keindahan bunga-bunga yang ada di taman sekolahnya—di mana pun boleh asalkan dia bersama Jiseul. Lu Han berbalik. Dia berjalan menuju kursi di belakang piano.
“Tutup pintunya, Young.” Minyoung menutup pintu ruang musik lalu berjalan mendekati Lu Han.
“Aku tidak punya banyak waktu,” ucap Minyoung sambil melihat jari-jari Lu Han yang bermain di atas tuts-tuts piano.
“Aku harus kembali pada Sehun sebelum waktu istirahat berakhir.” Lu Han menghentikan gerakan jari-jarinya.
“Kau tidak memberitahu dia kalau kau akan menemuiku?”
“Terakhir kali aku menyebut namamu di depannya, dia marah padaku. Aku tidak mau itu terjadi.” Lu Han menggelengkan kepalanya geli. Sehun benar-benar gila.
“Katakan, Minyoung. Apa dulu aku seposesif itu padamu?” Minyoung memutar bola matanya.
“Kau tidak posesif padaku karena di belakangku kau mengencani perempuan lain.” Minyoung malas membahas ini karena dia sudah bersama pria lain dan dia bahagia. Tapi anehnya, Lu Han selalu punya cara untuk membahas masa lalu mereka dan kemampuannya melakukan itu sangat hebat jika di depan Sehun.
“Jangan berkata seperti itu. Kau melukai perasaanku. Kau hanya datang di saat yang tidak tepat. Aku ma—“
“Kau mabuk. Aku tahu, Lu Han. Sekarang katakan, apa masalahmu.” Lu Han menatap Minyoung lama. Setelah semua yang ia lakukan pada Minyoung, gadis itu masih mau berteman dengannya. Dia sangat beruntung dalam hal ini.
“Tolong jangan beritahu siapa pun tentang ini,” Minyoung menganggukkan kepalanya. Lu Han terlihat serius, ini hal yang jarang terjadi.
“Aku menyukai seorang gadis,”
“Kau menyukai seorang gadis. Lalu?” Minyoung tidak terkejut mendengarnya. Dia dan teman-temannya sudah biasa mendengar itu. Dalam satu bulan, Lu Han bisa mengatakan itu sebanyak empat kali di depan mereka.
“Aku tidak tahu bagaimana caranya membuat dia menyukaiku,” Lu Han menundukkan kepalanya.
“Kau yakin sedang menanyakan ini padaku, Lu Han? Bukankah itu keahlianmu?” Minyoung tidak bisa menyembunyikan kesarkastisannya. Lu Han mengangkat kepalanya membuat Minyoung terkejut saat pria itu menatapnya.
“Aku tidak tahu. Aku sudah melakukan segala cara yang kutahu, tapi semua itu tidak bisa membuat dia menyadari perasaanku.” Lu Han terlihat tidak berdaya. Ini pertama kali Minyoung melihat Lu Han seperti itu.
“Kau serius,” suara Minyoung pelan. Lu Han tertawa kecil.
“Kau pikir aku bercanda? God, Minyoung, kau benar-benar keterlaluan.” Minyoung menyentuh pundak Lu Han.
“Aku tahu saat ini akan datang, Lu Han. Tapi, aku tidak menyangka akan secepat ini.” Lu Han mendesah berat. Minyoung menarik tangannya kembali ke sisi tubuhnya.
“Katakan apa saja yang sudah kau lakukan pada gadis ini.”
“Aku mendekatinya tentu saja. Tapi dia selalu punya cara untuk mendorongku menjauh. Kalau aku berusaha lebih keras dia akan menjauhiku.” Minyoung tersenyum tipis. Akhirnya Lu Han menemukan gadis yang bisa mengimbanginya.
“Gadis ini lebih muda atau lebih tua darimu?” Lu Han mengingat Jiseul. Mereka memang sekelas, tapi Jiseul lebih muda darinya satu tahun.
“Tujuh belas. Dia lebih muda dariku.”
“Apa dia sekolah di sini?” Lu Han menelan salivanya. Sebentar lagi Minyoung akan tahu.
“Tidak ada yang mengetahui ini selain dirimu. Kau harus berjanji untuk tidak memberitahunya pada siapa pun.” Minyoung terdiam cukup lama. Ini tidak semudah yang ia pikirkan. Ia akan menyimpan rahasia Lu Han. Ia ingin pria itu kembali seperti saat dia baru mengenalnya.
“Aku janji.”
“Apa yang kalian lakukan di sini?” suara itu mengejutkan Lu Han dan Minyoung. Minyoung membalikkan tubuhnya, mendapati Sehun berdiri di ambang pintu.
“Sehun,” Sehun melangkah lebih jauh ke dalam ruang musik—berhenti satu meter dari Minyoung.
“Aku tidak tahu kalau ini toilet yang kau masuk, Minyoung.” Ucap Sehun datar, rahangnya mengeras.
“Apa yang kau janjikan pada Lu Han?” Sehun melihat Lu Han yang berada di belakang Minyoung. Pria itu tersenyum padanya. Apa ini salah satu cara Lu Han untuk menggodanya? Sehun tidak mempercayai itu sekarang. Tidak saat ia mendapati Lu Han dan Minyoung berada di ruangan yang sama—hanya berdua.
“Aku yakin ini akan terjadi. Suatu saat kalian akan saling menemui seperti ini. Kalian—“
“Berhenti bicara sebelum ucapanmu bisa menyakiti Minyoung.” Sela Lu Han.
“Apa yang kalian lakukan di belakangku? Apa kau juga meniduri Minyoung, Lu Han?” Lu Han menatap Sehun tidak percaya. Ini keterlaluan. Sehun bisa menuduhnya sesuka hatinya, tapi, Minyoung, dia tidak pantas mendapatkan tuduhan itu.
“Sehun, kau.. tidak percaya padaku?” Emosi terluka terlihat jelas di mata Minyoung. Setelah semua yang mereka lakukan bersama, Sehun bisa menuduhnya.. selingkuh dengan Lu Han? Minyoung tahu dia salah, seharusnya dia memberitahu Sehun tentang pertemuannya dengan Lu Han. Tapi dirinya yang bodoh malah menyembunyikannya. Satu-satunya yang bisa menyebabkan pertengkaran hebat diantara mereka hanya Lu Han. Dan dia membiarkan itu terjadi. Sehun menatap Minyoung sama terlukanya. Dia ada di sisi Minyoung sejak gadis itu putus dengan Lu Han. Dia melihat bagaimana hancurnya Minyoung saat pria itu mengkhianatinya. Yang hanya mengartikan satu hal, perasaan Minyoung pada Lu Han sangat dalam. Mereka bisa saja kembali bersama meskipun Minyoung masih berstatus sebagai kekasihnya.
“Aku tahu rayuan yang selalu kau tujukan pada Minyoung bukan untuk menggodaku, atau membuatku kesal untuk kepuasanmu. Kau melakukan itu untuk mendapatkan Minyoung kembali.” Lu Han menggelengkan kepalanya. Pikiran Sehun sudah terlalu jauh dari kenyataan.
“Minyoung, kau yakin masih mau melanjutkan hubungan kalian setelah semua yang dia katakan?” Minyoung tidak menjawab, ia hanya menatap Sehun. Apa Sehun sebuta itu untuk melihat perasaannya?
“Kau tidak percaya padaku?”
“Aku percaya padamu. Aku selalu berusaha mempercayaimu saat kau mengatakan kalau dia dekat-dekat denganmu untuk membuatku kesal. Tapi ini,” Ia menunjuk Lu Han dan Minyoung bergantian.
“Membuat keraguanku muncul lagi.” Lu Han melihat Minyoung. Gadis itu terlihat sangat terluka mendengar ucapan Sehun. Salah satu penyesalan Lu Han dalam hidupnya adalah menghancurkan kepercayaan Minyoung padanya. Ia terbebas dari penyesalannya sejak Minyoung mau berteman dengannya. Ia tidak bisa menjadi penyebab pertengkaran Minyoung dan Sehun lagi—ya, Lu Han mengetahui ini tapi dia terus melakukannya dulu.
“Kau bisa mencari gadis yang bisa membuatmu percaya padanya, Sehun. Aku tidak bisa bersabar lagi menghadapi sikapmu yang selalu meragukanku,” Lu Han bisa melihat Sehun yang terkejut mendengar ucapan Minyoung. Apa Sehun berpikir Minyoung akan mengakui semua tuduhan yang dia tujukan padanya? Dan memohon padanya untuk memaafkan gadis itu? Itu hanya terjadi di dunia imajinasi Sehun.
“Sikapmu yang moody ditambah kau selalu meragukanku, aku tidak bisa menghadapinya. Tidak lagi.” Kali ini Lu Han benar-benar yakin Minyoung tidak bisa mengatasi temannya yang bodoh itu. Gadis itu mengatakannya dengan jelas. Lu Han tidak mau hubungan temannya hancur. Perasaan Minyoung pada Sehun sangat besar. Begitu juga sebaliknya. Pria itu hanya tidak bisa mengatasi kecemburuannya pada Lu Han. Dia tidak bisa membiarkan ini terjadi. Dia tidak mau Sehun menyesal seperti dirinya nanti.
“Minyoung,” Sehun bersuara sebelum gadis itu melewatinya.
“Aku menyukai seseorang,” suara itu menghentikan langkah Minyoung dan tangan Sehun sebelum berhasil mencapai lengan Minyoung.
“Tapi bukan Minyoung, Sehun.” Lu Han memejamkan matanya. Ia berencana hanya Minyoung yang mengetahui ini, tapi sepertinya itu tidak berjalan sesuai rencananya.
“Aku menyukai Jiseul.” Minyoung membalikkan tubuhnya. Lu Han tersenyum melihat Sehun yang terkejut. ‘Rasakan. Itu akibat kalau kau membuat spekulasi sendiri.’
“Aku meminta Minyoung menemuiku karena aku membutuhkan saran dari seseorang yang bisa bersikap netral antara aku dan Baekhyun. Dan menurutku Minyoung orang yang tepat.” Lu Han melihat Minyoung. Mereka tidak bisa melanjutkan pembicaraan mereka sekarang. Suasananya tidak mendukung.
“Tolong jangan beritahu ini pada siapa pun, Sehun. Aku akan meninggalkan kalian berdua di sini.” Lu Han berjalan menuju Minyoung. Ia berhenti tepat di samping gadis itu.
“Maafkan aku.” Bisik Lu Han lalu melanjutkan langkahnya menuju pintu. Sehun maupun Minyoung tidak bergerak setelah Lu Han menutup pintu. Apa yang terjadi barusan membuat Sehun berpikir. Minyoung sudah melakukan banyak hal untuknya. Setelah ibunya, hanya Minyoung wanita yang bisa menghadapi sikap moodynya. Ya, dia laki-laki, tapi itulah Sehun. Dia orang yang sangat moody. Belum lagi, keraguannya setiap melihat Minyoung berada dekat dengan Lu Han. Dia sangat tidak adil. Minyoung memberikan segalanya pada Sehun. Tapi dia? Dia bahkan tidak bisa memberikan kepercayaan yang penuh pada Minyoung.
“Katakan kau masih sabar menghadapi sikap moody-ku, Minyoung. Tolong, tarik kembali kata-katamu.” Sebelumnya Minyoung tidak pernah mengatakan itu. Dia selalu menahannya. Tapi, tadi Minyoung tidak bisa mencegah itu keluar dari mulutnya. Tidak setelah Sehun mengatakan dia meragukannya. Tidak setelah Sehun menuduhnya tidur dengan Lu Han. Dia serendah itu di mata Sehun. Minyoung memejamkan matanya, membiarkan air mata yang ia tahan mengalir di pipinya. Sehun membalikkan tubuhnya menghadap Minyoung. Matanya berkaca-kaca melihat Minyoung. Ini pertama kali Minyoung menangis karena dirinya. Kata-kata tuduhannya yang melakukan ini pada Minyoung. Sehun ingin memeluk gadis itu. Tapi, dia takut Minyoung akan menolaknya.
“Tolong katakan kau akan memaafkan pria-mu yang brengsek ini,” Minyoung menatap Sehun. Bibirnya bergetar. Ia sangat mencintai pria yang berdiri di depannya. Apa yang pernah ia miliki dengan Lu Han, jelas sangat berbeda dengan apa yang ia miliki dengan Sehun. Kenapa dia tidak bisa melihat itu?
“Aku mencintaimu, Minyoung. Sangat mencintaimu sampai-sampai aku takut kehilanganmu.” Jantung Sehun berdetak cepat. Ketakutan menghinggapinya karena kediaman Minyoung.
“Katakan sesuatu,” Sehun memelas. Ia akan menyesali ini seumur hidupnya kalau Minyoung mengakhiri hubungan mereka.
“Apa yang ingin kau dengar, Sehun? Aku sudah mengatakan semuanya padamu.” Sehun menggelengkan kepalanya keras. Bukan itu yang ingin dia dengar. Seandainya dia bisa memutar waktu, dia akan melakukan apa saja agar Minyoung tidak mengatakan kata-kata yang menyakitkan hatinya itu.
“Tolong, jangan yang itu. Apa saja, asal jangan yang itu.” Sama seperti Minyoung, pria itu akhirnya menangis.
“Katakan kau masih menginginkanku, Minyoung. Tolong katakan.” Sehun memegang bahu Minyoung, menggerakkan tubuh gadis itu sedikit kasar.
“Aku akan melakukan apa saja agar kau mengatakannya. Aku mohon, Minyoung.”
“Aku mencintaimu,” bisik Minyoung. Sehun menghentikan gerakannya.
“Apa kau tidak bisa merasakan itu, Sehun?” gadis itu mencoba tersenyum pada Sehun. Dia pernah beberapa kali mengatakan itu pada Sehun.
“Apa aku harus mengatakannya setiap hari agar kau mempercayaiku?” Sehun memeluk Minyoung erat.
“Maafkan aku, Youngie. Maafkan aku,” Minyoung membalas pelukan Sehun.
“Kenapa kau selalu mempermasalahkan Lu Han?” ‘Karena dia mantan pacarmu.’ Sehun ingin mengatakan itu. Tapi, dia tidak bisa mengatakannya karena dia pihak yang bersalah di sini. Dia sudah menuduh Minyoung atas sesuatu yang tidak pernah gadis itu lakukan.
“Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku janji, chagi.” Sehun mencium puncak kepala Minyoung lalu menekankan pipinya di kepala gadis.
“Aku selalu menginginkanmu, Sehun. Aku selalu menginginkanmu di sisiku.” Sehun memejamkan matanya. Dia pria paling beruntung di dunia karena memiliki kekasih seperti Minyoung. Dia akan berusaha mengubah sikapnya mulai sekarang. Untuk Minyoung, ia akan melakukan apa saja agar gadis itu tidak menangis. Ia bersumpah, ini terakhir kali Minyoung menangis karena dirinya dan di depannya.
“Ayo bolos, Minyoung. Kita akan pergi ke mana saja yang kau inginkan. Aku hanya ingin berdua denganmu saat ini.” Minyoung membersihkan cairan yang keluar dari hidungnya menggunakan blazer Sehun sebelum melepaskan pelukannya. Dia tersenyum melihat bekas ingusnya lalu menatap Sehun. Sehun tersenyum geli melihat Minyoung. Ia membuka kancing blazernya.
“Kau bisa memakai kemejaku,” Minyoung memicingkan matanya pada Sehun.
“Jangan menyindirku,”
“Aku serius, sayang. Aku akan melakukannya sendiri untukmu.” Minyoung menunjukkan hidungnya pada Sehun.
“Sudah bersih,” Sehun menangkupkan kedua tangannnya di wajah Minyoung, mengamati hidung gadis itu.
“Aku tidak mau bolos,” Sehun menganggukkan kepalanya. Dia menghentikan kebiasaan lamanya itu sejak Minyoung putus dengan Lu Han.
“Kau tidak boleh bolos,” Sehun menatap Minyoung, dia mengusap pipi Minyoung menggunakan ibu jarinya.
“Aku mengerti. Maafkan aku mengatakan itu.” Kedua tangannya turun menuju pinggang kekasihnya.
“Tapi aku ingin dicium,” suara Minyoung pelan. Sehun melangkah mundur—menarik Minyoung bersamanya—sampai kakinya menyentuh meja.
“Kau ingin dicium di mana?” dia duduk di atas meja itu lalu menarik Minyoung, membuat gadis itu berada di antara pahanya.
“Bibir,” bisik Minyoung. Sehun mengabulkannya. Dia mencium gadis itu, mengulum bibir bawah gadisnya lembut, menggigit kecil bibir Minyoung bergantian atas dan bawah sebelum melepas ciumannya.
“Di mana lagi?” bisik Sehun, matanya sayu menatap Minyoung.
“Di mana pun yang kau inginkan,” Sehun mengerang lalu mencium Minyoung keras di bibirnya, singkat tapi bisa menarik pasokan oksigen dari paru-paru Minyoung. Membuat gadis itu tersengal-sengal saat Sehun melepas ciumannya.
“Aku tidak akan rela melihat pria lain menatapmu kalau kau semanis ini,”
“Bukankah kau sudah melakukan itu sejak lama?” Minyoung menyentuh pipi Sehun lalu mengecup bibir Sehun. Ya, Sehun selalu memberikan tatapan mematikannya pada pria asing yang berani menatap Minyoung. Gadis ini benar-benar mengerti dirinya.
“Ayo ke kelas,”
“Apa?” ucapan Minyoung meletuskan gelembung kebahagiaan Sehun.
“Kelas. Bel baru saja berbunyi,” Sehun menahan Minyoung yang hendak menjauh darinya. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Minyoung dan kakinya di paha gadis itu.
“Tapi, aku belum selesai menciummu,”
“Kita tidak akan keluar dari sini kalau kau menciumku sekarang,” Minyoung menahan bibir Sehun menggunakan tangannya.
“Kelas.” Ucap Minyoung serius. Sehun melepaskan tangannya. Kakinya masih bertahan di tempatnya.
“Kau menggodaku,”
“Aku tidak menggodamu. Waktu istirahatnya saja kurang lama.” Sahut Minyoung.
“Kita bisa memperlama waktu istirahatnya,” Jawab Sehun tidak menyerah.
“Oh Sehun, kita sudah terlambat dua menit.”
“Kenapa kita tidak memperpanjangnya menjadi lima belas menit?” Sehun menatap Minyoung penuh harap. Minyoung menggelengkan kepalanya tidak setuju.
“Aku akan membayarnya nanti padamu. Ayo.”
“Cium aku dulu,” Minyoung menghela napas. Ia meletakkan dua jarinya di bibirya lalu dengan cepat menempelkan jarinya di bibir Sehun.
“Ayo.” Sehun mendesah berat. Dia menyerah. Ia menapakkan kakinya di lantai lalu menggenggam tangan Minyoung.
“Kita harus melanjutkannya nanti.” Ucap Sehun sebelum keluar dari ruang musik. Minyoung menggelengkan kepalanya geli. Sehun-nya ini jarang sekali menyerah sebelum mendapatkan keinginannya.
“Kau akan mendapatkannya, darling. Aku janji.”
*****
Jiseul meletakkan tas sekolahnya di sofa ruang tamu lalu berjalan menuju dapur. Dia haus sekali. Dia membuka kulkas lalu mengambil botol dan langsung meminum isinya setengah botol. Jiseul mengernyit begitu dia bisa merasakan air yang baru dia minum. Rasanya bukan seperti air biasa. Dia mengabaikan itu dan menuju ruang makan sambil membawa botol airnya. Dia duduk di kursi makan setelah membuka tutup saji makanan. Jiseul terdiam, dia tidak begitu lapar. Tangan Jiseul terangkat untuk menyentuh lehernya. Di sana terdapat kalung pemberian Lay yang sudah terpasang sejak istirahat kedua. Dia tidak mau menerima kalung berbandul cupid itu. Tapi, Lay memaksa. Katanya, itu ucapan terima kasih pria itu karena sudah memilihkan pakaian yang bagus untuknya padahal Lay sudah membelikan sebuah dress untuknya kemarin. Jiseul tidak tahu kenapa dia merasa terbebani memakai kalung itu. Dia tertarik pada Lay, itu benar. Tapi itu tidak membuat dia merasa layak menerima pemberian pria itu. Jiseul meletakkan kedua tangannya di meja. Kenapa matanya berkunang-kunang? Jiseul menggelengkan kepalanya keras. Kenapa tiba-tiba dia mengantuk? Dia ingin tidur sekarang. Jiseul berdiri dan dia langsung memegang meja. Kakinya tidak cukup kuat menopang berat badannya. Jiseul menggerakkan kakinya, tapi ketidakseimbangan tubuhnya membuat dia lagi-lagi harus memegang meja dan saat itu tanpa sengaja dia menyenggol botol yang ia letakkan di pinggir meja, membuat botol kaca itu jatuh dan pecah. Lu Han yang baru pulang—hendak masuk ke kamarnya—dan mendengar keributan itu langsung menuju ruang makan.
“Jiseul?” Lu Han menatap bingung dan khawatir pada gadis itu. Gadis itu menatapnya sayu.
“Han,” dia langsung mendekati Jiseul dan memegang bahu gadis itu. Ada apa dengan gadis itu?
“Kau sakit?” Jiseul menggelengkan kepalanya lemah. Dia menatap Lu Han dengan kesadarannya yang masih tersisa. Saat dia bersama Lay tadi di atap sekolah, kenapa dia melihat Lu Han di sana? Jiseul menyentuh wajah Lu Han dengan satu tangannya. Dia melihat Lu Han saat Lay hampir menciumnya. Bukan, bukan. Dia melihat wajah Lu Han bukan wajah Lay saat pria itu hampir menciumnya tadi.
“Kau..” dia menusuk dada Lu Han dengan telunjuknya.
“Hampir menciumku tadi.” Kebingungan Lu Han semakin besar. Dia tidak melakukan itu. Saat di sekolah tadi, dia menahan dirinya untuk mendekati Jiseul. Bagaimana mungkin dia hampir mencium Jiseul? Jiseul melepaskan tangan Lu Han dari bahunya.
“Kau mendekatkan wajahmu padaku seperti ini tadi,” Jiseul melingkarkan kedua tangannya di leher Lu Han lalu mendekatkan wajahnya pada Lu Han, menyisakan jarak tidak sampai satu senti dari bibir Lu Han. Napas Lu Han memburu. Apa yang terjadi? Jiseul mau menciumnya? Jiseul dalam keadaan sadar tidak akan mau menciumnya. Pikiran itu menyadarkan Lu Han.
“Jiseul, sayang, apa kau sakit? Atau kau sedang bermimpi?” tanya Lu Han ragu. Kalimat terakhirnya tidak mungkin terjadi. Jiseul tidak mungkin memimpikannya. Tapi, saat ini, hanya itu yang masuk akal menurut Lu Han. Jiseul sedang bermimpi.
“Lay memberikan kalung padaku, setelah itu kau hampir menciumku—“
“Apa?” ‘Lay memberikan kalung padanya?’ Lu Han tidak mendengar kata-kata Jiseul setelah itu. Dia menyentuh leher Jiseul. Benar, di balik kemeja Jiseul, Lu Han bisa merasakan sesuatu. Dia merasakan hatinya memanas. Jiseul tidak boleh memakai barang pemberian pria lain. Tidak boleh, sekalipun dia tidak ada.
“Lu Han.. dia selalu menciumku sesukanya,” Lu Han menatap Jiseul lagi. Gadis ini jelas ngelantur. Tidak diragukan lagi. Dia juga salah menggunakan kata. Selalu, kata itu memiliki makna yang besar. Selalu mencium, dia pasti melakukannya setiap saat kalau dia bersama Jiseul. Nyatanya, dia sudah lama tidak mencium gadis itu.
“Dia tidak pernah memikirkan perasaanku setelah dia melakukan itu,” Lu Han hanya menatap Jiseul. Kenapa Jiseul mengatakan semua itu sekarang? Napas Lu Han tercekat saat gadis itu menjilat bibirnya. Jiseul menundukkan kepalanya.
“Apa yang dia rasakan setelah aku melakukan itu?” bisik Jiseul pada dirinya sendiri. Matanya semakin berat. Tapi dia mengangkat kepalanya dan secara tiba-tiba mencium Lu Han. Lu Han membulatkan matanya. Apa ini nyata? Apa Jiseul benar-benar memejamkan matanya dan menciumnya sekarang? Lu Han bisa meyakinkan dirinya kalau ciuman mereka nyata setelah dia membalas ciuman Jiseul. Mereka berciuman. Tidak ciuman biasa karena Jiseul menggunakan lidahnya untuk menjilat bibir Lu Han, membuat Lu Han membuka sedikit mulutnya. Lu Han menarik Jiseul semakin rapat padanya, ingin merasakan hangatnya gadis itu. Dia mengerang kecil saat Jiseul meremas rambutnya. Jiseul tidak sadar saat menciumnya. Lu Han mengetahuinya setelah dia menyesapi lidah Jiseul. Dan dia sama sekali tidak peduli. Yang ia tahu Jiseul sedang menciumnya. Ia akan mengingat ini, ciuman pertama yang Jiseul berikan padanya. Tautan bibir mereka terlepas dengan bunyi ‘pop’, napas mereka terengah. Lu Han melihat Jiseul yang menutup matanya. Lu Han mengangkat tangannya, mengusap bibir Jiseul menggunakan ibu jarinya. Dia ingin mencium Jiseul lagi. Tapi, sebelum itu terwujud, Jiseul sudah menjatuhkan kepalanya di dada Lu Han.
“Kamar,”

TBC….

Iklan

Penulis:

Simple. I'm SHAWOL,94 line.SMtown lover. https://yosephinalina.wordpress.com/

20 tanggapan untuk “Nice Guy (Chapter 9)

  1. udah lama.ga baca ff ini yampun:”( jarang nge check jadi ketinggalan. huhu:(
    makin gemesin aja ya mereka. wkwk kapan bersatunya sih mereka:( gemes aku tuh. wkwkwk

  2. Yaampun ternyata udah di update aku nunggu bgt ni ff, aku pernah mention buat minta pw tp gadbls & twitter ku bermasalah.. Duh jiseul sebenarnya suka luhan.. Tapi pas minum dia minum apa ko rasanya beda? Apa sejenis obat memabukan? Ditunggu bgt kelanjutanya hehe

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s