Diposkan pada Fanfiction

US | Super Daddy

SD1

Author : Charismagirl

Cast :

  • Byun Baekhyun
  • Park Minri
  • Byun Chanhee
  • Byun Richan
  • Ahn Sungyoung
  • Park Chanyeol

Genre : Family, romance, friendship

Length : Vignette / series.

Super Daddy

Akhir pekan. Saat-saat yang paling di tunggu oleh pekerja kantoran. Seperti halnya Baekhyun yang menantikan saat-saat berkumpul bersama keluarga kecilnya. Seorang istri dan dua orang anak yang selalu menjadi sumber kebahagiaannya. Entah melakukan apa. Menonton televisi–kartun sepanjang hari pun tidak masalah. 

Bangun tidak perlu terlalu pagi. Bermalas-malasan di kasur bersama istri dan anak-anak menjadi agenda pertama di awal hari pekan. Meskipun akhirnya, mereka harus bangun karena Richan menangis histeris, kelaparan, atau mengompol.

Baekhyun baru saja merebahkan badannya di kasur, pada penghujung hari Jum’at. Si tampan Chanhee telah tertidur pulas setelah minta didongengkan kisah Batman, super hero kelelawar favoritnya. Sementara Minri menimang Richan, memberi Asi sampai anak itu kekenyangan, lalu tertidur dengan damai. Minri meletakkannya di box. Dua malaikat kecilnya telah terlelap.

Richan sudah berumur lima bulan. Saat-saat yang menggemaskan di masa pertumbuhannya. Dia menggigiti—dengan gusinya—apapun yang digenggamnya seperti monster cilik. Meliuri benda adalah keahliannya. Terkadang cengiran di wajahnya tampak, meski tanpa deretan gigi.

“Lelah, Appa?” Tanya Minri sembari menggeraikan rambutnya, lalu ikut berbaring di samping Baekhyun.

“Tidak juga,” Baekhyun menghadapkan badannya ke arah Minri, lalu menarik pinggang istrinya dengan intim. Minri menanggapi dengan tawa ringan. Minri melingkarkan lengannya ke leher Baekhyun, lantas mencium bibir pria itu, kemudian disambut hangat oleh bibir Baekhyun yang lembut.

Minri menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada Baekhyun, menghirup dalam-dalam aroma maskulin dari tubuh pria itu, segar, seperti daun mint bercampur buah berry.

“Baek, kau mau tidur sekarang?” Minri mendongak, mencari-cari tatapan pria itu.

“Belum, memangnya kenapa?” Tanya Baekhyun balik sembari mencium kening Minri.

“Ada hal yang ingin aku sampaikan. Aku harap hal ini tidak akan mengganggu tidur nyenyakmu di akhir pekan.”

“Kau membuatku gugup.” Baekhyun melonggarkan pelukannya. “Hamil lagi?”

Gerakan refleks tangan Minri menepuk keras pantat Baekhyun. “Bukan!” Wanita itu menatapnya dengan gusar. Jangan asal menebak.

“Ada reuni besok. Khusus wanita. Kau tahu kan? Menggosip, spa di salon, belanja dan makan-makan. Tapi tenang aku tidak akan menghabiskan simpanan bulanan.” Minri mengendikkan bahu, menunggu respon Baekhyun. Tampaknya pria itu sedang berpikir—entah menanggapi bagian mana. Khusus wanita, atau soal simpanan bulanan.

“Kalau yang kaumaksud minta izin dariku. Tentu, aku tidak akan melarangmu. Sayangku.” Baekhyun berucap dengan tulus, dengan senyuman dari bibir sampai ke matanya. Melupakan satu hal atau mungkin beberapa hal yang bisa saja menerbangkan senyuman itu, menggantinya dengan ringisan.

“Richan. Kau bisa mengurus Richan sendirian? Atau mungkin sedikit bantuan Chanhee?”

Bingo! Pria itu melongo. Lantas menelan ludahnya. Seperti ada duri yang tidak kasatmata di tenggorokannya.

Baekhyun menggerakkan bola matanya ke mana saja. Memutar video dari proyektor penglihatan yang hanya bisa dilihat olehnya. Rekaman itu memutar saat-saat memandikan bayi. Kau pasti kena ciprat air atau sabun, rambutmu akan dijambak sebagai ungkapan protes ‘Ayah, pelan-pelan! Sabunnya kena mataku’. Memberi makan bayi. Sendok yang diketuk-ketuk ke meja dengan nada tidak sabaran, menghamburkan makanan, menyemburkannya atau tersedak. Menidurkan bayi. Menangis. Menangis. Dia menangis sampai kupingmu mendengung. Dan hanya ibunya yang bisa menenangkan. Lalu kau terserang migrain.

“Baek, kau masih disini?” Minri menarik pelan ujung kaos Baekhyun, memutus khayalan menakutkan yang baru saja berputar. Belum apa-apa Baekhyun sudah terserang sakit kepala.

“Reuni, tanpa anak-anak?”

“Kalau hanya makan-makan mungkin aku bisa. Tapi seperti yang aku bilang di awal. Rangkaian acara untuk sepanjang hari.” Minri melepaskan pelukan, memberi ruang agar bisa melihat wajah Baekhyun sepenuhnya. Senyum keibuan terukir di wajahnya. “Anak-anak lebih penting. Aku tidak usah pergi saja.”

“Izinkan aku berpikir, lima menit.” Ujar Baekhyun.

“Eum,” Minri merapatkan tubuhnya lagi. Lima menit terasa begitu lama. Minri tertidur.

***

“Huweee… maaa..maa.” Alarm pagi hari. Minri mengeliatkan tubuhnya sesaat sebelum bangkit dari kasur, menuju box tidur Richan.

“Selamat pagi, cantik.” Minri mengangkat tubuh bayi itu. Kakinya tidak henti bergerak. Minri mengenali tangisan itu sebagai tanda bahwa Richan lapar. Minri membawa tubuhnya ke kasur, lalu mencurahkan air kasih sayangnya. Anak itu meminum dengan lahap. Kedua matanya terbuka, menatap Minri seolah bicara ‘Terimakasih, eomma memang terbaik!’.

“Jam berapa ini, sayang?” bayi besar telah bangun.

“Masih jam enam. Tidur lagi sana.”

Baekhyun menggulingkan tubuhnya sampai membentur Minri. Lalu bangun dan mengacaukan ketenangan anak bungsunya dengan menciumi pipi anak itu. Lalu Richan melayangkan kepalan tangannya yang mungil ke wajah Baekhyun. Protes.

Minri tertawa, antara geli dan kasihan.

“Kau tidak lupa kalau ini akhir pekan ‘kan? Tidak apa-apa kalau mau tidur lebih lama.”

Baekhyun duduk, lalu membenarkan rambutnya. “Aku sudah punya keputusan.”

“Soal apa?” Minri mengusap-usap kepala Richan, sementara anak itu mengemut jempolnya. Kakinya tidak akan berhenti menendang udara.

“Kau boleh pergi, dan aku akan menjaga kedua anak kita.”

Minri menurunkan Richan ke kasur.

“Bukan aku tidak percaya padamu, tapi kau serius?”

Richan berguling, hingga tengkurap. Tubuhnya bergerak dengan menggunakan perut, menuju Baekhyun lalu menarik-narik baju pria itu. Dia berusaha naik ke tubuh Baekhyun. “Pa…amapapa.” Anak itu berceloteh dengan bahasa bayinya.

“Serius. Padahal aku ingin mengatakan padamu, tepat setelah waktu lima menitku habis.”

“Maaf, aku tidur lebih dulu.”

“Karena aku baru mengatakan pagi ini. Sepertinya tidak ada ‘list what to do’ untukku?”

“Sebenarnya aku sudah menyiapkannya.” Minri bangkit dari duduk, meraih tas jinjingnya, mengeluarkan gulungan kertas, lalu menyerahkannya ke pada Baekhyun. Baekhyun menebak panjang kertas itu bisa saja mencapai lantai.

“Kau sudah menyiapkannya.” Baekhyun mengulangi perkataan Minri, lalu membaca singkat isi yang tertulis. Keningnya terkadang berkerut, atau menggaruk leher. Respon wajar untuk orang yang kebingungan.

“Jadi bagaimana?”

“Kupikir seorang ibu selalu perlu mother time karena mengurus anak-anak tidaklah mudah. Kau boleh menikmati waktumu sementara aku yang bertanggung jawab atas anak-anak.”

“Well…” ucap Minri dengan sedikit ragu. “Aku mau mandi—“

“Eomma, Chanhee lapar.” Anak lelaki dengan piyama kusur berdiri di depan pintu.

“—Setelah aku mengurus yang satu ini.” Minri mengecup singkat bibir Baekhyun. “Gendong Richan, aku akan menyiapkan sarapan untukmu juga.” Sambungnya, lantas bergegas menuju dapur.

***

Ketiga Byun itu mengantarkan Minri di depan pintu. Baekhyun dengan tatapan sedikit tidak rela dan migrain. Chanhee melambaikan tangannya dengan ceria. Dan Richan mengemut karet dinosaurus, mengamati Minri dengan matanya yang jernih.

“Eomma pergi dulu ya, Sayang.” Lalu melayangkan kecupan satu per satu. Tidak ada ibu yang pergi tanpa rasa khawatir. Tapi menaruh kepercayaan pada suami sekaligus ayah anak-anak adalah tindakan yang tepat, setidaknya saat ini. Dimana kau harus meninggalkan mereka—yang mungkin secara hiperbola—akan menghancurkan tempat tinggal mereka. Titanic versi lain.

“Hati-hati di jalan, Eomma.”

“Hubungi aku kalau ada apa-apa, aku akan usahakan langsung pulang.” Minri melambaikan tangan. Lalu Richan membalas lambaian tangan itu hingga dinosaurusnya terpental, ke kepala Baekhyun.

Baby sitting dimulai.

***

Sebagian besar para Ayah melupakan list to do yang diberikan istrinya, lalu beralih pada insting. Insting Ayah.

“Appa, Richan tidak mau makan buburnya.” Ucap Chanhee sembari membantu menyuapi Richan, tapi anak itu menyemburkannya. Lalu mendorong mangkuk makannya. Richan ingin sekali meluncur dari kursinya. Tapi safety belt kursi itu terlalu safety. Dia tidak bisa kemana-mana

Appa tidak memberi racun, tenang saja.

“Richan, makan ya. Nanti laper lho. Aaaa…” Baekhyun melayangkan sendok Richan, seperti sedang meluncurkan rudal. Anak itu menatap ngeri, dan lebih memilih memasukan kepalan tangannya. Lalu melumuri dengan liur.

“Mungkin buburnya terlalu encer, Appa.” Ungkap Chanhee.

Baekhyun segera berlari ke dapur, lalu membaca instruksi dari belakang kotak. Tidak ada yang salah dengan bubur biskuit buatan Baekhyun.

Kertas yang ditulis Minri melambai, ingin memberikan solusi, tapi Baekhyun masih mondar-mandir seperti setrikaan panas. Baekhyun menjambak rambutnya sendiri saat Richan memasukkan tangannya ke dalam mangkuk, lalu menepuk buburnya hingga terciprat kemana-mana. Anak itu terkikik geli dengan hasil pekerjaannya.

Mungkin kalau anak itu lapar, dia akan memakan buburnya. Baekhyun akan membuatkan lagi nanti. Baekhyun menyingkirkan mangkuk itu dan mengelap segala tumpahannya. Richan dilepaskan dari kurungan, di letakkan di karpet ruang tengah. Anak itu berbalik, tengkurap. Lalu bergerak dengan perut, menghampiri Chanhee yang sedang menonton kartun.

“Ba..ba..”

“Richan, duduk sama Oppa sini, kita nonton kartun.”

Ide bagus.

Baekhyun membantu mendudukkan Richan, lalu Chanhee memangkunya. Kedua anak itu fokus pada televisi. Kartun dapat menjinakkan monster kecil. Hebat.

Baekhyun mendesah lega saat selesai membersihkan kekacauan di tempat makan. Cucian piring pun menunggunya.

“Chanhee-ya.. tolong jaga Richan ya, Appa mau cuci piring dulu.”

Tidak ada sahutan. Kedua anak itu tenggelam dalam dunia kartun.

***

“Hai Minri, kau tampak semakin cantik meski telah melahirkan dua anak.” Ucap seorang wanita yang Minri sesali dia lupa namanya, harusnya Minri membuka album alumni sebelum menyetujui ajakan pertemuan ini.

“Ya… terimakasih.” Minri tersenyum canggung, lalu bergabung dengan yang lain, membagi pelukan ala wanita.

Sambil berjalan menuju tempat makan, mereka berbincang-bincang. Ada sekitar lima orang wanita. Semuanya sudah menikah. Ada yang memiliki dua anak, satu anak, tidak ada wanita hamil. Terlalu beresiko.

“Kudengar kau menjual toko bungamu. Padahal aku suka sekali membelinya denganmu. Instingmu soal rangkaian bunga selalu tepat pada tujuan dan nilai seni yang tinggi.”

“Aku tidak menjualnya, hanya menyewakan. Mungkin kalau waktuku memungkinkan, aku akan kembali membuka ‘Byun Fam Florist’.” Ungkap Minri.

“Aku tunggu.”

“Ah iya, anakmu sedang bersama neneknya?”

“Tidak, dia sedang bersama Ayahnya.”

“Suamimu hebat juga mengurus anak, ya.”

Minri mengamini dalam hati dan berharap semoga mereka baik-baik saja. Tidak ada Titanic versi lain.

Sementara Minri melamun, teman-temannya mulai menjerit histeris melihat layar ponsel. Bukan, bukan idola yang harus diteriaki seperti itu. Tapi anak kecil. Saatnya mengenalkan anak-anakmu, pada teman-teman. Ponsel Minri diperebutkan seperti mangsa. Tidak henti-hentinya disebut lucu, menggemaskan, aku ingin mencubit pipinya.

Minri tertawa dengan canggung, sepertinya mereka tidak akan percaya kalau Richan bisa melakukan perlawanan. Ayahnya selalu menjadi korban.

Lagi ngapain ya mereka sekarang?

***

Richan dan Chanhee menghamburkan mainannya di ruang tengah. Menciptakan suasana warna-warni seperti fim Toy Story. Lalu Chanhee mulai membangun kisahnya sendiri. Richan bertepuk tangan seolah mengerti, menyodorkan apapun yang dia senangi pada Chanhee.

Kadang, hanya Chanhee yang bisa mengerti dengan apa yang Richan katakan. Dengan bahasa canggihnya yang belum ada tertulis di kamus manapun. Seseorang harus menciptakan kamus bahasa bayi, sungguh. Ini penting.

Baekhyun bernafas lega melihat ketenangan itu. Dia melangkahkan kaki mendekat, lalu berjengit kaget seperti terinjak ranjau. Ah, ranjau anak-anak. Puzzle balok yang berhamburan. Baekhyun menyingkirkan beberapa hamburan balok untuk mengosongkan area duduknya. Anak-anak meliriknya sesaat, lalu bermain lagi.

Baekhyun membuka ponselnya. Apa sebaiknya dia menghubungi Minri? Baekhyun menggelengkan kepalanya. Dia tidak boleh mengganggu, dia sudah berjanji.

“Appa, Chanhee lapar…”

“Kita pesan jajangmyeon, ya. Chanhee belum pernah mencoba kan?”

“Ne!! Mauuuuu.”

“Kyaaaa!!” Richan ikut berteriak, membuat Baekhyun gemas lantas mengacak-acak rambut anak itu.

Dua puluh menit kemudian jajangmyeon mereka datang. Terhitung sepuluh kali Chanhee menanyakan hal yang sama, Appa kapan ajussi penjual mie datang?

Chanhee melahap dengan cepat, sementara Richan mengoceh minta lepaskan dari kursi bayi yang mengurungnya. Saus hitam belepotan di mulutnya, antara ngeri sekaligus senang. Chanhee menghabiskan makanannya itu artinya Baekhyun bisa mencoret list memasak untuk makan siang. Pengecualian untuk membuatkan makanan Richan lagi.

“Richan lapar? Tadi disuruh makan tidak mau.”

Satu.. dua.. tiga..

Seolah mengerti perkataan Baekhyun, Richan menangis keras. Chanhee mengedipkan matanya, menatap adiknya lalu menyelesaikan suapan terakhir.

“Appa membuat Richan menangis.” Chanhee mengerucutkan bibirnya, lalu mengusap punggung adiknya dengan tangan. Tangisnya tidak reda sedikitpun.

“Arraseo, Appa buatkan makanan lagi untuk Richan. Jangan menangis ya, cantik.”

Richan mengulurkan kedua tangannya, minta bebaskan. Dan Baekhyun mengabulkannya. Tangis anak itu seketika reda. Baekhyun melakukan dua pekerjaan sekaligus, membuat bubur dan menggendong Richan, dengan bantuan alat gendong. Sambil memantul mantulkan tubuhnya, Baekhyun mengaduk bubur Richan. Baekhyun menyuapi anak itu. Lagi-lagi ditolak.

“Huwaaa!!” Richan tidak suka.

Baekhyun melirik kertas Minri melambai-lambai di atas lemari pendingin. Dia membacanya dan menemukan catatan tentang makanan Richan.

Menambahkan sesendok kecil madu adalah jawabannya. Richan akhirnya memakan buburnya dengan riang, tanpa menyemburkannya.

***

Jam menunjukkan saatnya tidur siang. Baekhyun berencana mengganti popok Richan terlebih dahulu agar anak itu bisa tidur dengan nyenyak.

Tepat saat Baekhyun kembali ke ruang tengah untuk meminta anak-anaknya tidur siang. Kedua malaikat kecil itu sudah terlelap dengan posisi sebebas-bebasnya.

Well, ini terlalu mudah. Baekhyun hampir menarikan tarian kemenangan. Setelah membenarkan posisi Chanhee dan memberi Richan bantal yang nyaman, Baekhyun meluruskan punggungnya. Tidurnya anak-anak adalah saatnya istirahat untuk Baekhyun.

Baekhyun memakan jajangmyeon-nya yang dingin sendirian, di dapur, sambil membaca Koran. Sudah lewat tengah hari. Saat-saat mengesankan dalam hidupnya mengurus anak-anak sendirian. Membayangkan kalau Minri setiap hari melakukannya, membuat Baekhyun ingin menciumi wanitanya itu dan mengucapkan terimakasih ribuan kali.

Tiba-tiba Baekhyun merindukan Minri.

Setelah membereskan makanannya Baekhyun ke ruang tengah. Ia mengambil posisi di dekat anak perempuannya lantas berbaring diatas bantal sofa. Baekhyun memandangi anak itu, lalu mengusap pipinya yang empuk lantas memberikan kecupan ringan.

Baekhyun mengeliat puas, lalu diserang rasa kantuk yang berat.

***

“Papapa…” RIchan menduduki perut Baekhyun, lalu menarik rambut ayahnya itu membuat Baekhyun meringis, lantas duduk.

“Wae geurae Richan-ah?”

RIchan mengarahkan jarinya yang mungil ke kamar mandi, kemudian menarik tangan Baekhyun. Baekhyun pikir Richan ingin menunjukkan sesuatu padanya. Pria itu kemudian menggendong Richan menuju kamar mandi.

“Wek wek!”

Richan paling senang kalau mandi bersama bebek kuningnya. Anak itu betah berlama-lama dalam air. Namun kesenangannya segera terhenti setelah Minri mengangkatnya lalu menggulung badan anak itu dengan handuk merah muda. Richan tentu saja protes. Terkadang dia merajuk pada Minri hanya karena hal ini.

“Mandi?” Tanya Baekhyun sambil menatap mata RIchan yang sipit.

“Nyeee!!”

Baekhyun menurunkan Richan ke bathub, lalu melepaskan pakaian anak itu. Dia mengatur suhu air lalu mengalirkan air ke dalam bathub. Richan berseru dan memukul-mukul air sampai keciprat ke wajahnya, sementara bebek mandinya mengapung di sisi lain.

“Appaaa.. ponsel appa berbunyi.”

Baekhyun mengangkat telepon dari rekan kerjanya, kemudian kembali tiga menit kemudian. Jantungnya berhenti berdetak saat menemukan anak gadisnya yang mungil terbaring di lantai kamar mandi dengan cairan merah pekat yang menggenang.

Andwae!!! Putriku!!!

***

Senja telah menyapa saat Minri keluar dari salon kecantikan. Dia pamit pada teman-temannya, lalu berpisah di tempat parkir. Minri senang sekali. Badannya terasa rileks. Dia tidak sabar ingin pulang ke rumah, menemui anak-anaknya. Dan juga suaminya.

Minri masuk ke dalam mobilnya, melirik jam tangan. Eum, menghadiahi Baekhyun dengan es krim sepertinya bukan ide buruk. Minri membelokkan mobilnya ke toko es krim dan membeli satu boks besar. Sementara menunggu, dia melihat salah satu pelanggan yang dikenalnya.

“Ahn Sungyoung!”

“Eonni!!” Balas wanita yang sedang hamil itu sembari tersenyum. Dressnya tampak menggelembung.

“Beli es krim juga?”

“Iya, hehe.” Dengan cengiran di wajahnya, sembari mengusap perut, Minri tahu siapa yang lebih menginginkan makanan itu.

“Eonni, aku rindu Chanhee dan Richan… bagaimana anak itu sekarang?”

“Ke rumahku, jangan mengurung diri terus.”

“Chanyeol,” Sungyoung mengerucutkan bibir. “Eonni tau Chanyeol bagaimana kan?”

“Dimana dia disaat istrinya sedang mengantri es krim?”

“Aku menyuruhnya membeli pizza dan kimbab.”

“Astaga, kau jadi pemakan segala.”

“Ah eonni…” Sungyoung menepuk pelan lengan Minri.

“Nona, ini pesanan Anda.”

Sembari menunggu Chanyeol menjemput, Sungyoung duduk di salah satu bangku, dan Minri duduk di depannya. Mereka mengobrolkan beberapa hal yang terlewat dan Minri paling semangat menceritakan perkembangan Richan.

***

“Eomma pulang…” Minri membuka pintu apartmen, tidak ada seorangpun yang menyahut. Keadaan yang terlalu sepi itu terasa tidak wajar. Mencekam.
Minri meneruskan langkahnya ke ruang tengah, menemukan tiga Byun sedang tidur lelap dengan posisi acak.

Kaki Richan ke perut Baekhyun, sementara tangan Chanhee ke leher Baekhyun. Minri tertawa kecil membayangkan dua monster kecil itu menjajah ayahnya.

Minri melihat keanehan pada wajah Baekhyun. Kening pria itu berkeringat dan keningnya mengkerut. Bibirnya memanggil-manggil nama RIchan dengan lirih dan pedih. Minri segera duduk d samping Baekhyun dan mengguncang pelan lengannya.

“Baek.. gwaenchana? Baekhyun… banguuuun.”

Bukannya Baekhyun, justru kaki Richan yang bergerak dan turun dari perut baekhyun. Anak itu berguling hingga tengkurap. Mulutnya menguap luas lantas memperhatikan Minri.

“Eommaaa…ehehe.” Richan mencoba duduk, lalu memanjat badan Minri.

“Sudah bangun eoh?” Minri menciumi pipi Richan, sehingga anak itu harus menyeimbangkan badan dengan memeluk leher ibunya.

“Paa?”

“Bangunkan Appa yuk, sepertinya Appa sedang bermimpi buruk.”

“Papapa…” Richan menarik-narik tangan Baekhyun, memukulnya, sampai hampir saja menggigit kalau Minri tidak mencegahnya.

“Richan?” Baekhyun membuka matanya, lantas duduk dengan tiba-tiba. Dia memegangi kepalanya yang sedikit berdenyut karena terlalu kaget dengan gerakan responsive itu. “Putri appa!!” Baekhyun segera memeluk Richan erat, membuat Minri mengerutkan keningnya, khawatir Baekhyun telah melakukan kesalahan yang besar.

“Maafkan Appa… maaf ya…”

“Ap-ppa!” Richan memukul-mukul bahu Baekhyun, lalu menyerah dan memilih untuk membalas peluk ayahnya.

“Ada apa? Kau kelihatan panik.”

“Aku bermimpi, Richan… astaga! Aku tidak ingin membayangkannya lagi.” Baekhyun menatap Minri, lalu tersenyum lebar, wajah khawatirnya perlahan memudar. “Eomma kapan tiba? Selamat datang eomma… Appa sangat merindukan Eomma.”

Minri terkikik geli, lalu terhenti saat Baekhyun menatapnya. Belum juga sehari, ucapnya dalam hati.

“Kelihatannya Appa sudah menjaga anak-anak dengan benar. Eomma punya hadiah. Es Krim.” Minri mengambil alih Richan. Anak itu sedang menggigit jarinya, dan Minri menarik tangan anak itu lalu menggantinya dengan mainan empuk yang higienis. “Ayo ke dapur”

Chanhee menggeliat, dengan wajah mengantuk anak itu berusaha duduk.

“Eomma! Chanhee mau es krim.”

Telinganya tajam juga.

“Kajja…” Minri menuntun tangan Chanhee. Lalu mereka duduk bersama di meja makan.

“Ppa.. wek wek!”

Baekhyun tersedak keras.

“Richan, appa mohon jangan sekarang. Eomma, mulai sekarang jangan pernah meninggalkan Richan sendirian di kamar mandi. Kalau ada telepon berbunyi abaikan saja sampai eomma selesai memandikan Richan. Jangan biarkan anak-anak bermain di dekat kompor, stop kontak atau benda berbahaya lainnya.”

Minri mengangkat satu keningnya. Sementara Baekhyun menghela nafas lalu memijat kening.

“Sepertinya mimpi Appa menakutkan.”

“Eoh.” Baekhyun mengerucutkan bibir. Lalu berdiri, dia memeluk anak dan istrinya bersamaan. Melihat hal itu, Chanhee turun dari kursinya dan ikut bergabung. “Appa… sayang kalian. Jangan terluka ya…”

“Terimakasih, Baekhyun. Appa.” Ucap Minri sembari melayangkan kecupan ringan di bibir suaminya itu.

“Paaa…” Richan mengangkat kedua tangannya ke atas kepala.

“Apa Richan bermaksud mengatakan ‘saranghae’ eomma?”

Minri mengangguk pelan, sementara Baekhyun mengangkat tubuh Richan tinggi-tinggi, lalu menciumi anak itu dengan gemas. Richan tertawa keras.

Chanhee ikut tertawa lalu memeluk pinggang Minri, bersama-sama memperhatikan Ayah dan adiknya.

Minri tidak bisa melukiskan betapa bahagianya ia memiliki Baekhyun dan anak-anak. Dan sosok superhero tanpa jubah itu adalah suaminya.

*END*

Iklan

Penulis:

My name is Rima [Park Minri], 93-line. I live in Banjarmasin-Indonesia. I'am SHAWOL especially flame, I really really love Choi Minho. He's my inspirasion. I love SHINee, SHINee is Lee Jinki, Kim Jonghyun, Kim Kibum, Choi Minho, Lee Taemin. And I just wanna share my imagination. With Love ~charismagirl~

24 tanggapan untuk “US | Super Daddy

  1. waaaaah aku sekalinya mampir ke sini ada postingan eon, seneng banget baca cerita ttg minri sama baek, dan tau2 chanhee udah punya ade lagi, itu kapan ya episodenya? (haha ketauan banget engga update)

    semangat ya eon nulisnyaaa👍

  2. yang jadi guru mah beda..
    tapi sekalinya update keren banget..

    sukses buat karirnya..
    aku ngefans BANGET sama tulisan kaka.. bukan kakanya loh #kidding..

    KALAU BISA SERING SERING UPDATE..
    makasih udah acc bbm aku..

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s