Posted in Baek Hyun, Chan Yeol, Chapter, Chen, D.O, EXO-K, EXO-M, Fanfiction, Fantasy, fluff, Kai, Kris, Lay, Lu Han, nintiyasstory

Vampires vs Wolves #10 –The Journal

Vampires Vs Wolves

 

Tittle : Vampires vs Wolves

Subtittle : #10 –The Journal

Author : Nintiyas

Main Cast :

  • Ahreum ex T-ara as Lee Ahreum
  • EXO-K as Vampires
  • EXO-M as Wolves

Other Cast :

  • Dasom Sistar as Kim Dasom
  • Minhyuk BTOB as Lee Minhyuk

Genre : Fantasy, School Life, Fluff, Romance

Rating : PG-15, T

Diclaimer : WARNING!! This is my story, my imagine, also my fantasy. BEWARE!! I DO NOT LIKE COPYCAT ^^

A/N : First, I wanna say Hellove and thank you for all of my lovely readers who still await for this fanfiction ofc xD kkkkkk~~ and, Welcome for my new readers ^^ udah 2 tahun lebih ya? iya 2 tahun lebih gak diupdate lol! makasih yang masih mau nungguin dan penasaran sama chapter selanjutnya. saya benar-benar meminta maaf ya~ dikarenakan masalah pribadi/? jadi terbengkalai 2 tahun gini deh lol! kedepannya saya akan usahakan update FF karya saya seminggu sekali 🙂 Amin! oh ya, untuk pemanasan setelah 2 tahun dikasih yang ringan dulu kali ya :p next chapter inshallah lebih menantang/? kritik dan saran? sangat dibutuhkan 🙂 HAPPY READING ❤

List : Teaser  ││ Chapter 1 ││ Chapter 2 ││ Chapter 3 ││ Chapter 4 ││ Chapter 5 ││ Chapter 6 ││ Chapter 7 ││ Chapter 8 ││ Chapter 9

Summary : Menjalani kehidupan yang menyenangkan dan bahagia dengan potret keluarga yang harmonis dan utuh. Itulah cita-cita sederhana dari seorang gadis remaja yang terlalu naif untuk mengetahui bahwa kenyataan dan hukum alam lebih pahit dibanding dengan penalarannya dalam hidup. Menjadi putri dan cucu satu-satunya dari keluarga Lee yang notabene adalah keluarga yang berkecukupan dalam hal materi. Tak pernah membuat ahreum merasa semua lebih baik. Bahkan, dirinya hidup dengan latar belakang semua gunjingan dari para warga disekitar rumahnya. Entah itu tentang sang Harabeoji, sang Appa, tentang status sang Eomma, sampai kasus manusia vampire juga manusia serigala yang dekat dengan sang harabeoji dan sang appa. 

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

“Mwo? Jangan salah sangka atas pelukan tadi, eoh! Jangan per-,” ucapan Ahreum terputus tepat setelah Kai mendaratkan kecupannya dikening Ahreum. Kali ini kecupannya begitu lembut, tidak seperti kecupan keraguan seperti semalam.

“Mianhae…” ujar Kai begitu lirih.

“Uh..?” sahut Ahreum berpura-pura bingung.

“Aku sudah mengecupmu, harusnya kamu mengatakan sesuatu, eoh!” balas Kai mengalihkan perhatian Ahreum.

 

Ahreum tersenyum geli melihat tingkah Kai. Dasar Kai! Apa perlu dia mengecup keningku hanya untuk meminta maaf? Batin Ahreum.

“Arraseo… arraseo.” Jawab Ahreum dengan sedikit memukul kening Kai. “Itu balasanku, wleeee~~” tambah Ahreum seraya menjulurkan lidahnya mengejek Kai.

 

 

Ahreum melompat turun dari meja wastafel yang tak terlalu tinggi itu, ia kemudian berlari keluar toilet disusul Kai dibelakangnya. Dan keduanya berhenti tepat di depan Lay, Sehun dan Tao yang berada di depan toilet perempuan lengkap dengan wajah panik mereka dan tangan yang disilangkan di depan dada masing-masing, menatap tajam kearah Ahreum dan Kai.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Vampires vs Wolves

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tao tetap saja mengekor dibelakang Ahreum. Padahal, jam istirahat akan berakhir 15 menit lagi.

Berulang kali Ahreum menyuruh Tao berhenti menangis, lagipula apa yang ditangisi Tao? Oh, benar dia mencurigai Kai, Tao bahkan merasa keduanya menyembunyikan sesuatu.

 

“Hey! Baby panda! Aiissh, apa kamu tidak malu? Seisi kantin melihatmu dengan tatapan mengejek.” Resah Sehun melihat tingkah Tao.

“Tao-ah bukankah sudah kujelaskan tadi? Kai hanya membantuku dari Dasom, sungguh.” Jelas Ahreum entah yang keberapa kalinya.

“Aaaaahhh, bohong! Bohong! Kalian terlihat tersenyum bersama dengan sangat gembira. Lay-ge!!! Aaaahh, shirreeeooshiirreeeooo!!! Aku benci ini!!” rengek Tao ditengah tangisannya. Yah, walaupun itu bukan tangisan dalam artian tangisan, tetap saja itu tangisan. Karena pada faktanya, air mata Tao tak henti-hentinya mengalir dari sudut matanya.

 

Lay hanya dapat menggeleng iba melihat sikap Tao.

Tepat ketika Ahreum berdiri untuk mengambil makan siang yang telah ia pesan beberapa menit tadi. Lay akhirnya membuka mulutnya untuk menjelaskan.

 

“Tao, kau jangan berlebihan seperti itu. Apa kau lupa? Ahreum berhak memilih dengan siapa dia akan melanjutkan hidupnya.” Jelas Lay. “Dengan siapa dia akan memihak, lebih tepatnya.” Sela Sehun mengkoreksi.

“Huueeee… tapi, Lay-ge!! Aku tidak rela jika pendamping sang jiwa suci adalah Kai. Andwaaaeee!!!” ujar Tao bersikukuh.

“Hyaaakk! Apa salahnya dengan Kai? Ya, walaupun dia tidak terlalu tampan. Tapi, dia orang yang baik.” Lagi. Sehun membela.

 

Sementara itu, orang yang mereka bicarakan hanya mengulas senyum sekilas sebelum akhirnya memutuskan kembali ke rumah ─tentu saja ini karena dia tak memakai seragam sekolah. Akan sangat aneh bila Kai mengikuti pelajaran tanpa memakai seragam sekolah, bukan?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

  • Flashback

Malam setelah Ahreum lahir, dan malam itu juga sang ibu hanya berpesan untuk tak mengungkap identitasnya pada sang mertua ─kakek Ahreum.

 

“Jiwa suci gadis ini. Tidak, jiwa suci putri kita. Dia bisa merubah dunia menjadi lebih baik, dia juga bisa menghentikan takdir dari kejahatan kakakku.” Ujar seorang wanita pada Ayah Ahreum.

 

Tunggu! Apakah dia menyebutkan putri? Oh, putri yang dimaksud adalah Ahreum.

Apa? Ahreum? Putri yang dia maksud? Baiklah, berarti dia adalah pemimpin dari para nemora?

 

“Sayang, bagaimana aku bisa merawat putri kita sendiri. Bagaiman aku tega membuat kau menyerahkan diri pada kakakmu yang tirani itu.” Ucap ayah Ahreum pasrah.

 

Sang wanita hanya tersenyum simpul seraya berkata “Akan lebih baik jika dia tidak mengenal ibunya ini, akan lebih aman jika dia tidak ditemukan para nemora terlebih oleh kakakku. Bibinya tidak akan membiarkan Ahreum kita hidup bahagia. Kumohon, ijinkan aku mengecupnya untuk terakhir kalinya.”

 

Wanita itu mengecup dengan lembut kening Ahreum yang saat itu masih bayi. Wanita itu meneteskan air matanya, membasahi pipi Ahreum yang chubby. Dia membelai puncak kepala Ahreum dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang.

 

“Ahreumku sayang, tumbuhlah menjadi gadis cantik dan temukanlah takdirmu. Ahreumku yang manis, kelak kau akan menjadi penengah antara manusia, kaum vampires, kaum wolves dan kaum nemora. Ibu yakin, kamu jauh lebih baik dan lebih bijak daripada ibu nantinya.”

 

Wanita itu kemudian pergi, menyerahkan Ahreum pada Jung Ajjhuma dan suaminya.

 

Ah, jadi dia memang ibu kandung Ahreum. Dia adalah istri dari ayah Ahreum. Dia juga menantu dari tuan besar Lee.

.

.

.

.

.

Peperangan pecah tepat ketika ibu kandung Ahreum pergi meninggalkannya. Kakek dan Ayah Ahreum masih bersiteruh memperebutkan hak asuh Ahreum. Tak ada yang mau mengalah, keduanya merasa benar. Ayah Ahreum seolah menahan pilu yang teramat dalam. Di malam yang sama, ia harus rela kehilangan orang yang paling ia cinta, kehilangan istri yang bahkan sebelum sang Ayah bisa mengenal dan merestui mereka.

Keadaan semakin memburuk ketika kaum nemora datang dan mengaku akan mengambil hak asuh Ahreum. Dengan sombongnya, seorang kaum nemora bernama Menma. Mengaku telah menjadi istri dari anak tuan besar Lee, dan Ahreum adalah anak kandung mereka.

Kemarahan sang kakek serasa sudah diubun-ubun. Dia benar-benar merasa gagal mendidik putra tunggalnya.

 

Bodoh! Dari sekian banyak wanita, kenapa kau memilih Menma?  Dia jelas-jelas tak segan bahkan untuk membunuh keturunannya sendiri. Rutuk sang kakek dalam hati.

Usaha Menma tak sia-sia untuk mengadu-domba ayah dan kakek Ahreum. Para vampires dan wolves, masing-masing membela tuannya. Tak peduli meski bertaruh nyawa sekalipun. Bahkan kedua kaum itupun berjanji, akan selalu melindungi nona muda Ahreum sampai keturunan vampires dan wolves benar-benar musnah.

 

─         Flashback End           ─

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

“Kami pulang”

 

Salam mereka berempat dengan suara yang sedikit lelah. Seperti biasa, Tao selalu membuang tasnya kesembarang tempat.

 

“Hyaaak! Sudah berapa kali kubilang! Bereskan tasmu! Taruh ditempatnya berasal.” Oceh Baekhyun yang saat itu berada di ruang tengah, duduk dengan menikmati channel animal planet.

“Aiiissshh, iya iya! Nanti kubereskan.” Jawab Tao seraya menghempaskan tubuhnya disofa tepat disamping Baekhyun.

 

Spontan saja, Baekhyun menendang pantat Tao dari samping. Bukan tendangan yang keras, sebetulnya. Benar saja, sedetik setelah Tao terjatuh dilantai, dia langsung berdiri dengan bibir yang cemberut dan menggerutu tentang ulah usil Baekhyun itu seraya menyeret tas sekolahnya yang bahkan tak terlalu berat itu.

Sementara itu, Ahreum sudah berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Dia melirik sekilas ke kamar Kai yang pintunya sedikit terbuka.

 

Uhm, kosong. Mungkin Kai belum pulang. Batinnya seraya mengendikkan bahunya. Kemudian dia kembali berjalan menuju kamarnya yang berada paling akhir diantara deretan kamar dilantai dua.

 

‘Kleeekkk’

 

Pintu kayu bercat putih itu terbuka dengan sempurnanya. Ahreum melangkahkan kakinya memasuki kamarnya itu, seraya menaruh tas miiknya diatas meja belajar yang letaknya tepat disebelah kiri pintu. Dia kemudian berjalan mendekati lemari pakaiannya, hendak mengganti seragamnya dengan piyama kesayangannya. Yah, Ahreum memang lebih sering menggunakan piyama pororo miliknya jika ia berada dirumah. Menurutnya, itu lebih praktis dan nyaman tentunya.

.

.

.

.

.

Angin bertiup melewati pintu kaca yang tepat mengarah ke balkon kamarnya itu, menerpa rambutnya yang tergerai bebas. Ahreum bahkan sempat menoleh sekilas kearah angin itu berasal.

 

Ia sempat menghembuskan nafasnya lalu berjalan kearah balkon kamarnya. Tentu saja untuk menutup pintu kaca itu. Karena, yah cuaca diluar sangat dingin.

 

“Kurasa tadi semua jendela dan pintu kaca ini sudah ku kunci rapat-rapat.” Gerutunya pada pintu kaca yang terbuka walau tak begitu lebar itu. Ahreum sempat melihat keluar untuk menarik beberapa tirai kamarnya yang terbawa angin itu.

Ya Tuhan! Mungkin angin dan tirai kamar ini sengaja membawaku ketempat yang benar. Puji Ahreum dalam hatinya.

 

Kini Ahreum sepenuhnya berdiri dibalkon kamarnya, manik matanya tepat memandang ke sosok yang tadi ia cari, pada sosok yang benar-benar ingin ia lihat─yah meskipun secara logika mereka telah bertemu beberapa jam yang lalu disekolah.

Sosok itu sedang bertelanjang dada, dan entahlah apa yang sedang ia lakukan. Ahreum tak begitu yakin dengan apa yang sosok itu lakukan, yang jelas sekarang Ahreum sangat fokus pada tubuh sosok itu.

 

Demi darah rusa segar! Terlihat jelas senyum mesum dan menggelikan, oh! Jangan lupakan wajah yang bersemu merah. Hey! Apa yang sebenarnya kau lihat Lee Ahreum?

 

“Oh ho! Apa kau menikmati tubuhku ini, huh?” ejek si pemilik tubuh, yang memang sedari tadi ditatap oleh Ahreum.

Spontan saja, Ahreum merundukkan tubuhnya hingga ia tak terlihat lagi, karena tertutup oleh pagar tembok balkon kamarnya.

“Hyaak!! Aku sudah melihat wajahmu yang mesum itu! Kau sudah tertangkap basah, aiguuuu ternyata seorang nona Lee Ahreum bisa menikmati tubuh topless seorang Kai, huum?” lagi dan lagi. Si pemilik tubuh itu mengejek Ahreum. Kai benar-benar menahan tawanya.

Dengan tetap pada posisinya─bersembunyi dibalik tembok balkonnya. Ahreum membela dirinya. “Apa? Aku hanya melihat pohon bukan melihat tubuhmu Kai-ssi!!” tegasnya. “Hmm, lagipula apa yang bisa kulihat dari tubuh dengan kulit tan sepertimu, aiguuuu.”

 

Hening…

 

Kini tak ada balasan apapun dari Kai. Sejenak, Ahreum merutuki ucapannya tentang menghina kulit Kai yang tan itu. Dia beberapa kali memukul kepalanya sendiri seraya mengumpat ‘bodoh’ pada dirinya sendiri.

Tapi, tetap saja hening…

 

Baiklah, Ahreum merasa bersalah. Biar bagaimanpun, ucapan Kai benar. Ia sempat menikmati tubuh Kai tadi. Dengan memberanikan diri, Ahreum melihat situasi dibawah sana. Memastikan bahwa Kai tidak marah padanya. Ahreum sedikit memicingkan kedua matanya, memastikan bahwa Kai memang sudah tak berada disana.

Dia mengernyitkan dahinya sekilas, kemudian berdiri dan merapikan seragamnya yang sedikit kusut karena posisinya tadi. “Apa Kai benar-benar marah?” Tanyanya risau seraya menggigit bibir bawahnya.

“Uhm, letaknya memang sangat pas untuk melihatku dari bawah sana, iyakan?” Tanya suara berat itu seraya menunjuk tempat Kai berdiri tadi.

 

Glek!

 

Ini benar-benar akan menjadi hal memalukan bagi Ahreum. Baiklah sekarang dia benar-benar ketahuan bahwa beberapa menit yang lalu ia menikmati tubuh Kai yang topless.

Ahreum langsung menoleh kearah jari telunjuk itu berasal. Dia tersenyum─lebih tepatnya memaksakan supaya sudut bibirnya terangkat.

“Kai!!! Aiguuu, aku mencarimu daritadi. Ahh, dingin sekali diluar. Ayo masuk kedalam, fiuuhh.” Ucap Ahreum seolah ingin lari dari pertanyaan Kai tadi.

“Dingin? Jangan khawatir, aku sudah memakai bajuku.” Balas Kai. Dia tersenyum menggoda kearah Ahreum.

Ahreum mendengus kesal, dia tak memdulikan Kai dan langsung masuk ke kamarnya. Ahreum bahkan langsung menutup pintu kaca yang menghubungkan kamarnya ke balkon. Ia bahkan tega membiarkan Kai diluar.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Di teras rumah, terlihat Baekhyun duduk bersandar dikursi seraya menatap kosong kearah bulan purnama yang memancarkan sinarnya menembus masuk manik mata Baekhyun.

Ahreum berjalan─lebih terkesan berjinjit, seolah berharap Baekhyun tak mendengar suara derap langkahnya.

Yeah! Baekhyun memang takkan mendengarnya jika saja. Oh, baiklah siapa yang suka dengan kata ‘jika saja’ yah yang jelas itu pertanda yang kurang menyenangkan. Yap! Baekhyun seketika menengok kearah suara ‘benda’ terjatuh dilantai.

 

Benda?

Terjatuh?

Dan dilantai?

 

Baekhyun mengerjapkan matanya berkali-kali. Mencoba menyesuaikan cahaya lampu yang menerangi teras rumahnya. Tepat didepan pintu rumah itu. Ahreum terpeleset dengan posisi yang cukup menggemaskan bagi Baekhyun.

Baiklah ini semakin membingungkan. Bagaimana bisa seseorang yang terpelest terliht menggemaskan? Oh, ayolah Baek!

“Ini memalukan! Aku mencoba mengagetkanmu, sungguh!” Ahreum merutuki posisinya sendiri.

Baekhyun terlihat jelas menahan tawa. Dia bahkan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Meminimalisir tiap suara yang keluar.

“Uhm, mencoba mengagetkanku? Lalu kenapa kau malah terduduk dan menenggelamkan wajahmu diantara kedua lututmu, huh?”

“Ahh! Benar-benar moment yang menyebalkan.” Lagi. Ahreum memprotes posisinya. Dia berani bersumpah, tulang ekornya membentur lantai walau tak terlalu keras. Tapi, yeah entahlah rasanya sangat sakit menurut Ahreum.

“Biarkan aku membantumu berdiri, Reum.” Baekhyun menawarkan bantuan. Dia bahkan sudah mengambil ancang-ancang untuk berdiri.

“Ahh, aku bisa berdiri sendiri.” Tepis Ahreum. Ia berdiri dengan usahanya sendiri, Ahreum sedikit meringis kesakitan saat ia berhasil berdiri.

 

Baekhyun tersenyum, kemudian menepukkan tangan kanannya diatas kursi yang tepat berada disebelahnya.

Ahreum mengangguk tanda mengerti, ia berjalan lebih mendekat pada Baekhyun. Perlahan namun pasti, Ahreum duduk disebelah Baekhyun.

 

Tak ada respon dari Baekhyun setelah itu. Baekhyun hanya diam, dengan tatapan yang masih mengarah ke bulan.

 

Baiklah Baek, hentikan tatapan itu. Kau bukanlah manusia serigala yang akan berubah dengan menatapa bulan purnama. Batin Ahreum asal.

“Ehm, Baek!”

“Uh, iya maaf. Aku terlalu terpesona dengan bulan purnama malam ini.”

“Kenapa? Apa malam mini ada sesuatu yang istimewa?”

Baekhyun menggelengkan kepalanya mantap. Karena dia masih ragu untuk memberi tahu Ahreum.

“Reum-ah, apa hal yang paling kau inginkan di dunia ini?”

“Eh?”

“Di dunia ini. Apa yang paling kau inginkan?”

“Entahlah. Belum ada seorangpun yang menanyakan hal itu padaku.”

“Belum pernah ada yang menanyakan, tak berarti kau tak memilikinya kan?” ujar Baekhyun menegaskan ditiap katanya.

 

Kini giliran Ahreum yang hanya berdeham dan menggelegkan kepalanya bingung.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

D.O melambaikan tangannya kearah Ahreum, ia membalas lambaian tangan D.O dengan senyuman terpampang sempurna disudut-sudut bibirnya.

Beberapa detik kemudian, mobil SuHo menjauh meninggalkan pekarangan rumah mereka. Ini hari yang baru untuk sekolah. Setelah kejadian, dimana Dasom hampir saja mencelakai Ahreum. Jika saja, yeah jika saja Kai tak datang tepat waktu.

“Aku malas ke sekolah.” Rengek Ahreum dalam mobil.

“Ada aku!” tegas Kai.

“Lagipula sekolahkan menyenangnkan, sungguh.” Tao. Kini ia yang bersuara lengkap dengan nada polosnya.

Ahreum hanya mengangguk malas seraya cemberut dan melipat kedua tangannya didepan dada.

 

Mobil berdecit, tepat ketika SuHo menginjak pedal rem. Itu menandakan mereka telah sampai disekolah.

SuHo mengerling sekilas kearah Ahreum, sekedar memberinya senyuman selamat pagi dan senyuman semangat. Tak lama setelah itu mobil SuHo semakin menjauh dari area sekolah.

Ahreum sempat menghembuskan nafasnya berat. Sebelum akhirnya tangan dingin itu─tangan yang sama, dengan ukuran dan dingin yang sama pula. Menggenggam tangan kirinya, jemari-jemarinya yang panjang dan terkesan lebih besar dari milik Ahreum menelusup masuk disela-sela jemari mungil Ahreum.

Dia berbisik sekilas tepat ditelinga Ahreum. Bukan kata-kata yang penting memang, tapi cukup membuat Ahreum tersenyum.

 

“Heool..heooll lihat si hitam itu! Menggandeng kedua tangan Ahreumku dengan bebasnya.” Kesal Tao.

“Terlebih lagi ini diarea sekolah.” Tambah SeHun. Mereka berdua saling menghelas nafas yang teramat berat.

“Oh ho! Lihat kelakuannya, Lay-ge! Ya ampun, aku benar-benar ingin menendang Kai darisini.” Lagi. Tao menumpahkan kekesalan dan kecemburuannya dari belakang Kai dan Ahreum.

Lay hanya terkekeh pelan, dia mengacak rambut Tao dan SeHun sebelum akhirnya berjalan mendahului Kai dan Ahreum. Lay bahkan sempat berbalik badan mengarah Kai dan Ahreum saat jaraknya berada lima langkah lebih jauh dari mereka. Lay memberi tanda ‘selamat’ dengan tatapannya pada Kai, kemudian ia berbalik memunggungi keduanya dan berjalan lebih cepat memasuki gedung sekolah.

Merasa menjadi orang tak dianggap oleh Ahreum dan Kai, Tao dan SeHun memutuskan untuk memasuki gedung sekolah dengan berlari secepatnya melewati keduanya tanpa melihat Ahreum atau Kai sedikitpun.

Tapi, bukan Tao namanya jika tak membuat Ahreum bingung. Yeah benar!

Sempat-sempatnya Tao berlari dengan menutup telinganya dan berteriak dasar-si-hitam-menyebalkan.

“Sepertinya kau ada masalah dengan Tao.” Tebak Ahreum.

“Ehm, entahlah. Dia orang yang aneh, mungkin dia memendam rasa padaku. Atau mungkin dia cemburu terhadapku.”

“Ya ampun, kau menyebalkan. Kenapa jawabanmu seperti itu, cih!” Ahreum melepas genggaman Kai, dia justru berlari mengejar Tao.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Istirahat pertama baru saja dimulai, tapi Ahreum malah menghabiskan waktunya di perpustakaan bersama keempat pengawalnya. Yah, mereka memang bukan pengawal. Tapi, entahlah kemanapun Ahreum pergi mereka berempat selalu mengekor dibelakang Ahreum─pengecualian dalam kelas dan kamar mandi, tentu saja.

“Apa yang kau cari, Reum?”

“Bahan materi untuk tugas essai sejarahku, Tao.” Tao hanya mengangguk dan membentuk bibirnya menjadi huruf ‘O’

“Apa temanya?”

“Euhm, tentang sejarah terpisahnya Korea Selatan dan Korea Utara, Lay.”

“Baiklah, aku akan membantu menemukannya.”

“Terima kasih, kau benar-benar yang terbaik hehehe.” Puji Ahreum dengan mengangkat ibu jarinya diudara.

 

Suasana menjadi sedikit hening─bukan karena ini perpustakaan. Baiklah, ini memang perpustakaan yang sudah seharusnya hening, bukan? Tapi, entahlah suasana menjadi hening saat semuanya membantu Ahreum menemukan buku referensi yang cocok untuk tugas essainya.

Ahreum memilah sedikit demi sedikit barisan buku yang berada dirak didepannya itu. Debu menempel ditelapak tangannya.

“Berakhirnya masa Joseon dan munculnya perserikatan baru Korea” gumam Ahreum sambil menarik buku yang judulnya telah ia baca dengan jelas.

 

Bruk!

 

Bunyi debum itu terdengar jelas ditelinga kelimanya. Ahreum melirik sekilas pada buku yang terjatuh itu. Baiklah, kini perhatian Ahreum benar-benar tertuju pada buku itu. Bahkan, ia mengacuhkan buku yang mungkin bisa menjadi bahan materi tugas essai pelajaran sejarahnya.

Ahreum sedikit berjongkok, lalu memungut buku yang tepat terjatuh dihadapannya itu. Dia meniup permukaan buku itu, kepulan debu berterbangan tepat saat Ahreum meniup sampul buku itu.

 

‘JURNAL HARIAN LEE’

 

Ahreum menghela nafas saat membaca judul dari buku yang tidak terlalu asing itu. Ahreum berjalan kearah Lay, Kai, Tao dan SeHun yang sedari tadi memerhatikan gerakan Ahreum. Keempatnya menatap wajah Ahreum seolah bertanya hey-kenapa-dengan-perubahan-wajahmu-manis.

“Belum menemukan bahan materimu?” Tanya Lay tepat saat Ahreum telah duduk disampingnya.

Diam. Ahreum hanya menghela nafas dan tetap menatap sampul buku yang ia temukan.

 

“Apa menurutmu ini ada hubungannya dengan jalan kehidupanku selama ini?” Tanya Ahreum dengan mengangkat buku tebal itu.

 

‘JURNAL HARIAN LEE’

-TO BE CONTINUED-

 

 

Iklan

Penulis:

Im just a simple girl who have a million fantasy and imagination. Let's come closer and check it out what I have, and become my Friends here ^^ Remember! my imagination, fantasy even my dream is not FREE!!! so do not forget to leave COMMENT ^O^ Gomawo~

3 thoughts on “Vampires vs Wolves #10 –The Journal

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s