[Last Part] Love Story Part 12

love-story-chap

[Last Part] Love Story part 12

Cast :

Oh Sehun

Han Seul Rin

Lu Han

Han Seul Ra

Oh Sejoon

Genre : School Life, Romance, Family.

Lenght : Chapter

 

Sebelumnya, Fantastic minta maaf karena lama banget upnya. Biasa, lagi sibuk dan jarang banget buka laptop. Akhirnya sampai juga di Last Part yey !! Happy reading ya ! ^^

 

Prolog | Part 1 | Part 2 | Part 3 | … |Part 10 | Part 11

 

Kasih sayang ya ?

Banyak yang tidak mengetahui apa maksud dari dua kata itu. Definisi orang – orang berbeda – beda, ada yang merasakan kasih sayang saat bersama orang tua, kakek nenek, atau pacar. Tapi jika kita belum pernah merasakannya bagaimana mendefinisikannya ?

Ujian tersisa dua hari dan setiap hari Seul Rin selalu melakukan hal yang sama. Mengumpulkan tugas beberapa menit sebelum waktunya lalu berdebat dengan guru karena ia tidak dapat menghargai waktu, ujar sebagian guru.

“Untuk apa menghargai waktu jika tidak bisa menghargai perasaan orang lain ?”

Ucapan Seul Rin beberapa hari yang lalu selalu terngiang – ngiang oleh Sehun. Entah kenapa gadis itu sering kali menyinggung tentang perasaan. Apa mungkin karena Sehun yang jarang mengantar jemputnya ? Tapi gadis itu mengumpulkan lembar jawaban begitu cepat sehingga Sehun kesulitan mengejarnya.

“Oh Sehun ? Kenapa buru – buru mengumpulkan lembar jawaban ? Kau tidak memeriksanya terlebih dahulu ?”

Ujian hari ini adalah Bahasa Inggris, bagi Sehun itu adalah pelajaran yang mudah. Ia sering berbicara bahasa inggris saat menemani ayahnya menemui rekan – rekan bisnis ayahnya yang tentu saja dari luar korea. Dan yang jelas ia mengumpulkan lembarannya setelah Seul Rin, itu artinya ia bisa mengejar gadis itu.

“Oh Sehun !”

Sehun tidak menghiraukan panggilan itu. Ia merapikan alat tulisnya lalu membungkuk saat melewati meja guru. “Saya ada urusan penting. Maaf.”

Suara guru itu masih terdengar. Tapi Sehun benar – benar ingin menyelesaikan masalah ini. Ia penasaran dan benar – benar ingin mengetahuinya. Dan ia ingin sebuah jawaban.

Sehun melihat gadis itu sudah di lapangan. Ia tidak tau Seul Rin akan naik angkutan umum atau membawa kendaraan sendiri. Namun jika gadis itu naik angkutan umum, ia masih bisa mengejarnya kan ?

Sesampainya di parkiran, Sehun menyalakan mesin motornya dan melajukannya ke luar area sekolah. Matanya menyapu sekeliling, mencari sosok Seul Rin. Tak cukup sulit karena seragam yang mereka pakai hari ini cukup mencolok.

“Mau kemana ?”

Seul Rin menatap Sehun yang sudah ada di hadapannya. Tatapannya datar namun matanya menyiratkan kesedihan. Kelopak mata itu sedikit sembab bahkan hampir bengkak.

“Cherry ?”

Seul Rin tersenyum miris, ia menundukkan kepalanya lalu menggigit bibir bawahnya. Kemudian menatap Sehun dengan tatapan tajam. “Mengunjungi Kyung Soo. Keadaannya mulai membaik.”

Sehun mengangguk mengerti lalu menepuk jok belakang. “Naiklah, akan kuantar. Aku juga ingin mengunjunginya.”

Seul Rin terdiam kemudian menganggukkan kepalanya lemah. Ia duduk di belakang Sehun, memegang bagian belakang motor Sehun.

Sehun menghela nafasnya kemudian melajukan motornya cepat namun hati – hati. Ia memilih diam daripada melakukan masalah lagi walaupun dia sendiri bingung apa masalahnya.

Perjalanan ke rumah sakit terasa hening. Tak terasa mereka sudah tiba di rumah sakit. Merekapun berjalan menuju ke kamar rawat Kyung Soo dan laki – laki itu masih tidur dengan lelapnya disana. Ia tidur sangat lelap, seperti tidak ingin diganggu oleh siapapun.

“Kenapa ?”

Seul Rin menoleh ke arah Sehun yang masih menatap sosok Kyung Soo yang masih terbaring lemah. Tatapan itu terlihat kosong, tatapan itu tidak sepenuhnya memperhatikan Kyung Soo. Sehun menoleh kearahnya tiba – tiba dan merekapun bertukar pandangan. “Jawablah.”

Seul Rin menghela nafas lalu duduk di pinggiran ranjang Kyung Soo. “Dokter Lee menyuruhku melepaskan alat bantu Kyung Soo karena tidak ada tanda – tanda dia akan bangun.”

“…”

“Aku ingin mencari tahu tentang kebakaran itu namun aku tidak bisa. Kau ingat kalau kita sedang ujian ? Dan lagi, aku orang baru disini. Aku tidak tahu apapun tentang kejadian bahkan sekolah itu.”

Sehun mengerti itu, sangat mengerti.

“Aku juga belum menemukan Luhan Gege. Aku tidak tau apa yang terjadi padanya. Aku tidak tau bagaimana keadaannya.”

Ya, Sehun juga merasakannya.

Isakan Seul Rin mulai terdengar. Tubuh gadis itu bergetar dan ketika Sehun melihatnya, Seul Rin menundukkan kepalanya dan terdapat tetesan air di punggung tangannya. Sesedih itukah ?

“Aku bingung Sehun~ah. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan. Aku tidak tau apapun dan aku butuh seseorang. Disaat aku bahagia bertemu orang tuaku, tak lama setelah itu banyak masalah yang kubuat. Kau dan Seul Ra eonni, Mama Lu dan-“

Sehun memeluknya, membuat ucapan Seul Rin terpotong. Seul Rin membalasnya, ia menyembunyikan wajahnya di pelukan Sehun, tak ingin seorangpun melihat wajahnya yang mungkin agak menyedihkan. “Aku disini sekarang.”

Tangisan Seul Rin semakin terdengar dan suara itu mendominasi ruangan itu.

****

Jiyeon tidak sadarkan diri. Luhan berdiri di dekat ranjang Jiyeon. Wajah itu masih cantik seperti biasa. Tanpa sadar Luhan tersenyum sendiri.

“Jiyeon~ah,” panggil seseorang dan sontak membuat Luhan melihat orang itu. “kau siapa ?”

Luhan memperhatikan wanita itu dan yang ia yakini adalah Eomma Jiyeon. Iapun membungkuk dan tersenyum menyapa wanita itu.

‘Plakk’

Sebuah tamparan mendarat di pipi putih Luhan yang mulai memerah. Mata wanita itu menatap Luhan penuh kebencian. “Kau yang menghamili Jiyeon ?!!”

“A-apa ?”

“Kau yang menghamili Jiyeon ?! Lihat apa yang kau lakukan ! Gara – gara kau dia semakin sakit !”

Luhan kaget, jadi gadis ini hamil tapi kenapa tubuhnya kurus ? “Maaf, anda salah orang. Saya baru mengenal Jiyeon beberapa hari yang lalu.”

Wajah wanita itu melemas. Ia membungkuk, “Maafkan aku, aku terlalu syok karena Jiyeon.”

Luhan memasang senyum manisnya kemudian mengangguk. “Apa anda mamanya Jiyeon ?”

Wanita itu masih mengelus rambut Jiyeon dengan lembut lalu menggeleng pelan. “Aku bibinya, ibunya sudah meninggal sejak Jiyeon berusia setahun.” Senyuman Bibi Jiyeon masih terpasang, tetapi tersirat kesedihan disana yang entah apa itu artinya.

“Luhan~ssi ?”

Seorang suster terkejut melihat Luhan yang berada di kamar Jiyeon. Suster itu melihat kembali catatannya lalu menatap Luhan lagi. Tatapannya menunjukkan kekhawatiran lalu dengan cepat ia berucap, “Sekarang waktu anda untuk check up lagi, Luhan~ssi. Dokter Lee sudah menunggu anda.”

Astaga, bagaimana mungkin Luhan bisa melupakan jadwalnya itu ? Kemarin Dokter Lee sudah menyuruhnya untuk tetap diam di dalam kamarnya tetapi ia tetap saja pergi keluar karena kakinya terasa gatal jika tidak bertemu Jiyeon. Apalagi saat Jiyeon tiba – tiba tidak sadarkan diri dihadapannya, membuat Luhan iba dan kaget bersamaan. Lalu ia melupakan jadwal pentingnya hari ini.

“Baiklah, saya akan kembali.” Luhan menatap Jiyeon yang masih belum sadarkan diri dengan berat hati, ia kemudian melihat ke Bibi Jiyeon lalu berkata, “Saya permisi.”

Luhan langsung pergi, tidak ingin mengatakan hal – hal yang menjurus seperti perpisahan yang memang menyedihkan. Lagipula ini bukan akhir kan ?

“Kenapa kau bersikeras menyuruh mereka melepas alat bantu Kyungsoo, Sehun~ah ?!”

Suara itu membuat langkah Luhan terhenti. Di depannya. Sepasang laki – laki dan perempuan sedang berhadapan. Dengan wajah perempuan yang memerah dengan aliran mata di pipinya. Perempuan itu terduduk, meringkuk. Menutup wajahnya dengan kedua lengannya.

****

“Kau tidak tau bagaimana hidupnya Han Seul Rin ! Jika ia masih bertahan, tidak hanya keluarganya yang semakin sedih tapi dirinya juga !”

Seul Rin masih menangis, wajahnya sama sekali tidak menatap Sehun. Dalam ingatannya masih teringat jelas bahwa Dokter mengatakan bahwa Kyungsoo tidak memiliki kesempatan hidup karena jiwanya benar – benar menolak untuk bangun. Entah apa maksud dari Kyung Soo itu.

“Aku tau keluarganya, Seul Rin~ah. Dia memiliki adik dan mereka yatim piatu. Kyung Soo bekerja mati – matian untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, kan ?”

Seul Rin tidak menjawab, tapi kali ini ia mendengar. Perlahan, Sehun berhasil membuka hati Seul Rin yang keras. “Kenapa kau begitu egois Oh Sehun ? Kau tidak bersimpati pada keluarganya ? Kau tidak merasakan bagaimana perasaan adiknya ketika tahu kalau Kyung Soo telah pergi ? Apa yang akan kau jawab ? Apa yang akan kau katakan ?”

Lagi – lagi Seul Rin mengungkit perasaan. Dan tentu saja hati Sehun terasa dipukul. Ia mengambil nafas panjang lalu berjongkok sehingga berhadapan dengan gadis itu. “Aku laki – laki.”

Pendek. Singkat. Tidak jelas.

Sehun mengelus rambut Seul Rin lembut lalu tersenyum manis. “Laki – laki tidak bermain perasaan Cherry~ah. Kau tau itu ?”

Seul Rin mendongakkan kepalanya sehingga keduanya saling bertatapan. “Kami bermain logika dan waktu. Kami bingung bagaimana mengungkapkan perasaan itu dan jika kau mengatakan bahwa aku egois. Ya, aku memang egois. Sebenarnya kami tau bagaimana perasaan para wanita, kami tau dan sangat tau. Tapi karena kami bingung mengutarakannya, maka itulah.”

Seul Rin merasa ditampar oleh ucapan Sehun. Ia memang terlalu memainkan perasaan dan selalu mengutamakannya. Tidak memikirkan logika yang memang lebih logis. Dan sekarang, ia menjadi malu sendiri.

“Bagaimana dengan adiknya ?” tanya Seul Rin dengan suara seraknya karena sedari tadi ia berteriak dan menangis. Membuat suaranya menghilang.

“Aku akan mengurusnya, membantu Kyung Soo untuk menjaga dan merawatnya.”

****

Luhan baru tau kalau Kyung Soo lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya. Ia kira namja itu akan berusaha sekuat tenaga agar tetap hidup dan terus bersama kedua adiknya namun kenyataannya malah sebaliknya. Sudah 2 hari yang lalu ia dimakamkan. Ia belum sempat mengunjungi makamnya karena belum diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit.

“Tak habis pikir,” gumam Luhan untuk kesekian kalinya.

“Oppa !” seru Seul Ra dengan nada kesal. Sudah kesekian kalinya ia bertanya tapi kesekian kalinya juga ia diabaikan oleh Luhan. Ia berdecak lalu mengambil tasnya. “Sudah malam, aku pulang ya ?”

Luhan mengangguk saja. Seul Ra menggeleng pelan lalu mengecup pipi Luhan pelan. “Aku khawatir, kenapa Oppa agak berubah ya ? Kuharap masalah Oppa tidak berangsur lama. Aku pergi dulu.”

Seperginya dari kamar Luhan. Seul Ra segera bergegas pulang ke rumahnya. Hari ini orang tuanya pulang, jadi ia tidak bisa pulang terlalu larut.

“Aku pulang,” ujar Seul Ra setelah memasuki rumahnya. Di dengarnya suara ramai dari ruang sebelah. Kakinya membawa ke ruangan itu. Dilihatnya Ayah, Ibu dan adiknya sedang bercanda ria.

“Kapan mereka seperti itu padaku ?” gumamnya. Ia melangkah mundur, berjalan ke kamarnya yang memang berlawanan arah dengan ruang makan.

“Rara.” Seseorang memanggilnya dengan suara yang begitu lembut. Membuat langkahnya berhenti. Tubuhnya enggan berbalik, merasa malu sekaligus takut tak dianggap di keluarga ini. “Makan malam dulu, nak.”

Bendungan itu tak kuasa menahan air matanya. Tubuhnya bergetar dan membuat pertahanannya runtuh. Pipinya terasa dingin, namun memberikan sengatan kehangatan terutama saat mata Seul Ra bertemu dengan mata itu. Mata ibunya.

“Ayo, kami menunggumu.”

Seul Ra pasrah, mengikuti ibunya yang menariknya lembut ke ruang makan. Ia duduk di samping Seul Rin yang masih memasang senyum manis yang menurutnya menyebalkan –dulu.

“Eonni mau makan apa ? Kudengar Eonni suka salad buah jadinya kubuatkan itu.”

Salad buah ? Bukankah itu makanan yang sering ia buat untuk Sehun ? Makanan yang diberikan Sehun pada Seul Rin di hari putusnya dengan Sehun. “Gomawo.”

Rasanya pahit. Bahkan buah melon yang biasanya manis di mulutnya terasa sangat pahit, padahal ia belum memberi cokelat. Ia celupkan melon kedua kedalam susu kental manis dan rasanya sama saja. Pahit.

“Enak ?”

Seul Ra mengangguk, lebih baik diam daripada menambah masalah apalagi kalau berhubungan dengan perasaan. Cukup ia menyakiti dirinya sendiri, jangan sampai menyakiti perasaan orang lain. Ia percaya pada karma.

“Bagaimana sekolah kalian ? Appa dengar ujiannya sudah selesai.”

“Lancar, tapi akhir akhir ini ada sedikit masalah jadinya tidak terlalu teliti mengerjakannya,” jawab Seul Rin sambil mengambil lauk setelah Seul Ra mengambil lauk.

“Masalah apa ?” tanya Appa.

“Appa tau Do Kyung Soo ? 2 hari yang lalu ia dimakamkan, kasihan kedua adiknya yang sekarang tidak memiliki siapa – siapa.”

“Kenapa tidak kau bawa mereka kesini ?”

“Sehun yang mengurusnya, ia bilang Sejoon perlu teman di rumah. Jadi ya begitu.”

Teman ya ? Seul Ra juga ingin teman. Perlahan senyuman Seul Ra mereka namun matanya terlihat sendu.

“Ah iya, aku dan Sehun sepakat tidak bertunangan dulu. Kami ingin fokus ke pendidikan dulu lalu mencari pekerjaan. Kami tidak ingin membebani kalian hanya karena perjodohan.”

Semuanya terdiam, sibuk dengan pikiran masing – masing. Hingga jam makan malam selesai semuanya masih terdiam. Bahkan Tuan Han lupa menanyakan ke putri sulungnya.

****

“Ah leganyaaa~”

Seul Rin menidurkan kepalanya di atas meja. Begitu pula dengan yang lain, namun yang lainnya banyak yang memilih lesehan di lantai daripada duduk di kursi.

‘Pukk’

“Ahh! Sakit bodoh !” teriak Seul Rin begitu kerasnya sambil mendelik ke orang yang menepuk kepalanya tadi.

“Ohh, begitu. Dasar adik durhaka !”

Seul Rin berdecik. “Aku lelah ge, sana cari Seul Ra eonni daripada menggangguku. Kau tidak tau rasanya menggoreng ratusan nasi dalam 3 hari. Menyebalkan !”

Luhan terkekeh lalu meletakkan minuman dingin yang ia pukulkan ke Seul Rin tadi. “Haha, akhirnya kau menemukan bakatmu juga. Tidak ingin melanjutkan mendesain ?”

Seul Rin menggeleng. “Aku sudah tidak bisa memikirkan kain – kain itu lagi sejak pindah kesini. Dan entah kenapa hatiku jadi begitu lekat dengan sutil dan kompor,” ujarnya dengan wajah berseri – seri.

Luhan memasang wajah jijik lalu menoyor kepala Seul Rin. “Kata – katamu euhh, menjijikkan.”

Seul Rin hanya terkekeh, ia meminum minuman dari gegenya itu lalu kembali menidurkan kepalanya. Baru sebentar ia memejamkan mata namun matanya kembali terbuka. “Ge,” panggilnya pelan.

Luhan hanya bergumam membalasnya, matanya sibuk membuka lembaran majalah bolanya. Matanya membesar ketika sebuah artikel menyebutkan bahwa club favoritnya menang.

“Gege kemana selama beberapa minggu yang lalu ?”

Pertanyaan Seul Rin membuat sinar di mata Luhan meredup. Wajahnya sibuk berpura – pura memahami isi artikel majalahnya.

“Gege menyembunyikan sesuatu ?”

Luhan tersenyum lalu menggeleng pelan. “Gege hanya tidak enak badan jadinya harus di rawat di rumah sakit. Tapi sekarang sudah sembuh jadi bisa bersekolah lagi.”

Seul Rin menatap mata Luhan lekat, meminta penjelasan lebih namun sepertinya Luhan enggan memberi tahunya. “Baiklah, semoga lekas sembuh Ge.”

****

2 Tahun kemudian

“Jiyeon~ah ! Kau benar – benar tidak mau kencan denganku ?”

Jiyeon berlari secepat mungkin di koridor kampus itu. Sesekali ia menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa namja yang mengejarnya itu berhenti. Namun yang terjadi malah sebaliknya. “Sialan.”

Jiyeon berlari ke bangunan fakultas kesehatan yang baru pertama kali ia datangi, demi menghindari Oh Sejoon. Senyumannya semakin lebar begitu melihat malaikat penolongnya ada di depan mata. “Luhan Oppa !”

Mendengar panggilan itu, Luhan mencari sosok yang memanggilnya. Ia tak percaya bahwa Jiyeon mau kesini. “Kenapa ?”

Jiyeon menggeleng. “Biasa.”

Tak lama setelah itu Sejoon tiba dengan wajah kesal. “Dulu Seul Rin sekarang Jiyeon. Siapa lagi yang mau kalian ambil,” desis Sejoon sambil melipat tangannya di dada. Matanya memicing begitu melihat tangan Jiyeon memegang lengan Luhan.

“Kalian ?”

“Hmm, kau dan hyungku sama saja. Perebut.”

Luhan terkekeh mendengar jawaban itu. Tangannya melepas pegangan Jiyeon lalu mengacak rambutnya. “Aku sudah punya Rara, ingat ? Sana balik ke Sejoon.”

Luhan meninggalkan keduanya dengan senyuman jahil. Sejoon mengucap syukur di dalam hatinya dan Jiyeon bersumpah serapah di dalam hatiya.

“Ayo, Kei. Kita pergi !”

“Berhenti memanggil nama kecilku seolah – olah kau mengenalku !”

Sejoon merangkulnya lalu tersenyum jahil. “Kau memang teman kecilku.”

****

“Jadi Ji, panggil aku Eonni.”

“Monni (Halmeoni).”

“Huaaa, aku menyerah. Kenapa Jiyeon bisa melahirkan anak bebal seperti ini sih ?”

“Hush, Eonni. Dia masih 2 tahun, wajarlah lagipula aneh juga kalau dia memanggilmu Eonni.”

Seul Ra menatap Hyeji dengan kesal, anak itu malah tersenyum tanpa dosa padanya. “Aishh, terserah lah !”

Seul Ra pergi meninggalkan Seul Rin dengan Hyeji, anak Jiyeon yang lahir prematur. Sebuah keajaiban membuat keduanya selamat dan sehat. Walaupun Jiyeon masih memiliki kanker tapi bagi Jiyeon itu bukan masalah.

“Cherry, kau di dalam ?”

Seul Rin menoleh ke pintu masuk dan melihat Sehun disana. “Eoh, kau datang ?”

Sehun tersenyum lalu duduk disamping Seul Rin. “Aku laki – laki, harus menepati janji. Bagaimana dengan kedai kecilmu ?”

“Lancar, anak klub Coclass membantuku disana jadi baik saja untuk sejauh ini.”

Sehun mengambil alih Hyeji di pelukan Seul Rin. Keduanya terdiam.

“Sehun”

“Cherry”

Keduanya kembali diam, “Err.. Kau duluan, Ladies first,” ujar Sehun.

“Aku bingung bagaimana kita kedepannya,”

Sehun terdiam, menunggu kelanjutan ucapan Seul Rin. 5 menit dengan keheningan akhirnya ia buka suara. “Kita sedang berada diatas kereta. Roda berputar untuk menepuh jalan, kadang baik kadang buruk, kadang mulus kadang kasar, dan untuk mencapai tujuan kita perlu waktu.”

Seul Rin memainkan tangan Hyeji sambil mendengarkan dan mencermati. “Jangan berhenti, aku ingin kita bersama tiba di tujuan. Mungkin awalnya kita tidak bersama di satu kereta. Kau beralih ke keretaku karena keretamu sedang diperbaiki. Kau masih memiliki keretamu namun untuk kali inia, pergilah ke tujuan bersamaku dengan keretaku.”

Seul Rin tersenyum manis, “Aku mengerti.”

-THE END-

 

‘Kisah cinta tak harus antara laki – laki dan perempuan.

Cinta berasal dari empati setiap orang

Akan tumbuh pada akhirnya jika kita merawatnya

 

Cinta memiliki banyak arti

Kasih sayang, rindu, suka, kagum atau hanya nafsu

Bagaimana kamu memulainya maka itulah yang kamu dapatkan

 

Cinta tak harus berakhir bahagia

Ada akhir untuk kita semua

Happy or Sad ?

           

Pergilah..

Capai tujuanmu dengan cintamu

Jangan berhenti hanya karena keretamu rusak

Masih ada kedua kaki yang mampu membawamu kesana

Jangan berhenti karena kakimu sakit

Masih ada kawan yang selalu datang membantu’

 

Catatan Fantastic818 – Love Story

 

 

 

Maaf kalau endingnya terkesan memaksa, tapi ini udah cukup panjang bagi seorang fantastic. Kenapa fantastic ngebut bikin ending ? Soalnya fantastic udah bingung harus gimana, daripada nanti partnya kepanjangan tapi fantastic lupa sama alur dan mesti baca ulang semua part jadi ya mending di endingkan.

Dan selamat tinggal buat Sejoon, si OC yang kayanya punya banyak fans ya xD. Paaii Sejoon~

Dan sejujurnya, fantastic bener – bener sibuk. Apalagi sekarang udah kelas 11. Udah jadi kakak kelas dan senior di sekolah maupun di organisasi jadi ya mesti pinter – pinter waktu keknya.

Buat readers fantastic yang setia buat nungguin.. Makasih banyak lho ya udah mau dukung fantastic hingga fatastic jadi kaya gini. Tanpa kalian, apalah aku nih.

Akhir kata, makasih dan saranghaeyoo :****

6 thoughts on “[Last Part] Love Story Part 12

  1. jadi kasian ama kyungsoo
    kasusnya gk terselesaikan
    dan sampai sekarang pun seul ra gk tahu soal penyakit luhan
    haduhhh gk berasa udah ending aja
    sehun ma seul ra bahagia itu udah cukup

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s