Nice Guy (Chapter 10)

LEentfHP

Nice Guy

Tittle : Nice Guy (Chapter 10)
 Author : Jellokey
 Main Casts :
 Lu Han
 Choi Ji-seul (OC)
 Byun Baek-hyun (Baek Hyun of EXO)
 Support Casts :
 Zhang Yi Xing (Lay of EXO)
 Yoon Se-jin (OC)
 Kim Jong-in (Kai of EXO)
 Kang Jeo-rin (OC)
 Oh Se-hoon (Se Hun of EXO)
 Shin Min-young (OC)
 And others
 Length : Chaptered
 Genre : romance, arranged marriage, school life, family, friendship
 Rating : PG-17
 Poster : https://myelsexperience.wordpress.com/poster/
 Disclaimer : This story is pure MINE. Don’t plagiat or copy paste without my permission



Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4  Chapter 5  Chapter 6  Chapter 7  Chapter 8 Chapter 9 Chapter 10


“Kamar,” Lu Han mengerjapkan matanya berkali-kali. Kamar, kata itu sangat ambigu. Lu Han tidak tahu apa pengertian Jiseul tentang kata itu. Tapi di kepalanya, itu hanya memiliki satu makna. Jiseul mengajaknya ke kamar dan melanjutkan kegiatan mereka.
“Tidur,” gumam Jiseul. Itu menghancurkan harapan Lu Han. Dia mendesah berat. Ia bodoh sekali karena berpikir Jiseul mau tidur dengannya. Sikap Jiseul sangat jelas menunjukkan kalau dia tidak mau dekat-dekat dengan Lu Han. Jika bukan karena mabuk, gadis itu tidak mungkin menciumnya tadi. Lu Han mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang Jiseul. Gadis itu tidur dengan posisi berdiri.
“Baru kau yang bisa memberikan perasaan campur aduk seperti ini padaku, Jiseul. Kalau bisa, aku ingin kau mabuk setiap hari agar kau tidak bersikap seolah-olah aku ini virus mematikan.” Lu Han menggelengkan kepalanya pelan lalu mengangkat tubuh Jiseul. Ia berjalan menuju tangga, tapi ia berhenti di anak tangga pertama dan berbalik menuju kamarnya. Jiseul melarang Lu Han masuk ke kamarnya. Ia akan menghormati keputusan gadis itu. Suatu saat, dia pasti bisa masuk ke kamar Jiseul atas undangan gadis itu sendiri. Dia membawa Jiseul ke kamarnya, merebahkan tubuh gadis itu di tempat tidurnya. Lu Han membuka kancing blazer Jiseul lalu mengamati wajahnya. Dia tidak tahu bagaimana reaksi Jiseul setelah dia bangun nanti. Apa dia akan histeris? Gadis itu bergerak dalam tidurnya, mengubah posisi tidurnya menjadi menyamping. Gerakan itu membuat kalung Jiseul sedikit menyembul dari kerah bajunya. Hati Lu Han kembali memanas ketika melihat kalung itu. Ia berusaha melepaskan kalung itu dengan perlahan, tidak mau membangunkan Jiseul. Demi Tuhan, dia bisa memberikan kalung yang lebih bagus dari yang diberikan oleh Lay—berapapun jumlahnya.
“Tidak ada laki-laki yang boleh mendekatimu, Jiseul. Tidak setelah aku mengatakan suka padamu.” Lu Han mencondongkan tubuhnya lalu mencium kening Jiseul lama. Ia memandangi wajah Jiseul sebentar sebelum beranjak dari tempat tidurnya.

*****

 Jiseul membuka mata dan langsung menutupnya begitu merasakan sakit di kepalanya. Ia mengerang pelan. Kepalanya sakit sekali. Ia tidak pernah mengalami sakit kepala yang seperti ini.
“Kau sudah bangun?” suara itu memaksa Jiseul membuka matanya. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali lalu memfokuskan pandangannya pada Lu Han. Pria itu tersenyum padanya.
“Apa yang kau lakukan di sini?” Jiseul memejamkan matanya lagi karena merasa tenggorokannya sakit. Dia butuh air, tenggorokannya kering.
“Apa?” Lu Han balas bertanya. Ia tidak mengerti.
“Kenapa kau ada di kamarku?” Jiseul mendudukkan dirinya.
“Ini kamarku.” Dua kata itu membuat Jiseul membuka matanya lebar-lebar. Ia mengamati kamar tempat ia berada. Benar, ini kamar Lu Han. Bagaimana ia bisa ada di sini? Ia tidak ingat apapun selain meminum air yang terasa aneh. Ia tidak ingat apa yang terjadi setelah itu.
“Aku tidak tahu air apa yang kuminum tadi.” Lu Han meringis mendengar pernyataan Jiseul. Gadis itu pasti akan marah padanya karena menyimpan soju di kulkas.
“Yang kau minum bukan air tapi soju.” Suara Lu Han pelan.
“Apa?”
“Kau minum soju, bukan air.” Lu Han menghindari tatapan Jiseul. Sebentar lagi gadis itu pasti akan meledak.
“Soju?! Kau menyimpan soju di kulkas?” tanya Jiseul tidak percaya. Apa wajar anak SMA seperti Lu Han menyimpan soju di kulkas? Jiseul lupa, umur pria itu sudah legal. Tapi, tetap saja itu tidak pantas. Yang tinggal di rumah ini bukan hanya Lu Han. Setidaknya, pria itu memberitahunya.
“Apa kau meminumnya?” Lu Han mengangguk lemah.
“Kadang-kadang,” Jiseul memijit pelipisnya.
“Singkirkan minuman itu dari kulkas. Kalau kau mau meminumnya, simpan itu di kamarmu. Aku tidak mau salah minum air lagi.” Lu Han menatap Jiseul dengan mata bulatnya. Ia pikir gadis itu akan marah besar padanya.
“Jiseul,” gadis itu mengabaikan panggilan Lu Han. Ia menapakkan kakinya di lantai, menarik napas panjang sebelum memutuskan untuk berdiri.
“Aku punya obat untuk menghilangkan sakit kepala—“
“Kalau kau memberitahuku, aku tidak akan seperti ini.” Rutuk Jiseul. Ia belum melangkah. Untuk berdiri saja ia butuh usaha keras. Lu Han berdiri.
“Aku akan mengambil obat untukmu. Kau bisa istirahat sebentar di sini.”
“Aku mau ke kamarku.” Jiseul melangkah. Ia pasti jatuh di langkah kedua kalau Lu Han tidak memeluknya. Jiseul menempatkan tangannya di dada Lu Han. Ia menatap pria itu. Lu Han juga menatapnya.
“Kenapa sangat sulit bagimu untuk menerima pertolongan dariku, Jiseul?” Jiseul menatap Lu Han lama sebelum membalas pertanyaan pria itu.
“Karena kau tidak pernah berniat menolongku. Kau hanya ingin mempermainkanku.” Lu Han tersenyum miris.
“Kau tidak tahu apa makna kata main bagiku, Jiseul. Dan lebih baik begitu selamanya.” Kenapa dia tidak mau Jiseul mengetahuinya? Jiseul tidak mau memikirkan itu. Ia tidak mau kepalanya jadi semakin sakit.
“Aku tidak mau main-main denganmu, Jiseul. Aku serius sejak aku mengatakan suka padamu.” Jiseul memberontak setelah ucapan Lu Han. Dia tidak boleh dekat-dekat dengan Lu Han. Dia tidak mau dekat dengan pria itu. Pertahanannya akan runtuh kalau Lu Han terus seperti ini. Ia ingin Lu Han kembali seperti saat mereka pertama bertemu.
“Aku tidak pernah menyukai seorang gadis sampai sesakit ini,” Lu Han mengeratkan pelukannya. Tidak mau memberi ruang untuk Jiseul berontak.
“Hentikan. Lepaskan aku.” Napas Jiseul terengah-engah. Matanya berkaca-kaca menatap Lu Han.
“Kau melukaiku,”
“Kau yang melukaiku!” bentak Jiseul membuat Lu Han terkejut. Dia membebaskan Jiseul dari pelukannya.
“Aku selalu berusaha menghindarimu, Lu Han. Tapi, kau terus saja menggangguku. Kenapa—“
“Aku menyukaimu!” Pernyataan Lu Han selalu berhasil membuat Jiseul terkejut. Dan Lu Han terlihat serius.
“Itu kenapa aku selalu berusaha untuk terus berada di dekatmu. Aku tidak bermaksud untuk mengganggumu.”
“Kau terus berkata menyukaiku tapi sikapmu tidak menunjukkan itu.” Jiseul tidak akan tertipu. Dia sudah berusaha keras untuk membunuh perasaannya yang perlahan tumbuh untuk Lu Han. Alasan kenapa dia setuju kencan dengan Lay adalah pria ini. Dia tidak mau menyukai pria brengsek yang hanya bisa mempermainkan perasaan perempuan. Dia bukan gadis bodoh yang bisa dijadikan mainan oleh Lu Han.
“Apa yang tidak kulakukan untuk membuktikan kalau aku menyukaimu, Jiseul? Aku sudah putus dengan Sejin, aku tidak bisa mendekati gadis manapun karena aku tahu aku menyukaimu.” Jiseul melangkah mundur saat Lu Han bergerak maju.
“Kau tidak menyukaiku.” Rahang Lu Han mengeras mendengarnya. Sampai kapan Jiseul akan terus menampik perasaannya? Lagipula, yang tahu tentang perasaan Lu Han hanya dia. Dirinya sendiri.
“Kita akan menganggap percakapan ini tidak ada. Setelah ini kita akan bersikap seperti biasa.” Lu Han menahan tangan Jiseul sebelum gadis itu melewatinya.
“Aku tidak bisa melakukan itu lagi. Aku menyukaimu dan aku akan menunjukkan perasaanku di depan orang tua kita. Kalau bisa, aku juga akan melakukannya di sekolah.” Dia melepaskan tangan Jiseul. Jiseul diam di tempatnya. Apa mungkin dia bisa menghilangkan perasaannya saat dia tinggal satu atap dengan Lu Han? Dia bisa menyukai pria itu, karena mereka tinggal bersama—dia melihatnya setiap hari. Menghindar bukan lagi menjadi langkah yang tepat karena Lu Han sendiri sudah mengatakan kalau dia akan terus mendekatinya.
“Apa kau benar-benar menyukaiku?” Lu Han menatap Jiseul, terkejut dengan pertanyaan gadis itu.
“Ya, aku sangat menyukaimu.” Jiseul menghadapkan tubuhnya pada Lu Han.
“Lalu, kenapa hari itu.. kau dan Sejin.. di perpustakaan... melakukan seks?” suara Jiseul pelan di dua kata terakhirnya. Lu Han membulatkan matanya. Jiseul melihatnya dan Sejin melakukan itu. Itu yang membuat Jiseul berpikir kalau dia suka tidur dengan banyak perempuan. Oh, ya, itu kenyataan yang indah dulu, tapi sekarang tidak lagi. Tidak saat dia tahu bagaimana perasaannya dengan Jiseul. Setelah dengan Sejin, dia tidak pernah melakukannya lagi. Lu Han jadi jijik sendiri pada dirinya karena mengingat kelakuannya. Lu Han menggelengkan kepalanya pelan. Itu hanya masa lalu sekarang. Dia tidak perlu mengingatnya lagi.
“Itu sebelum aku menyadari perasaanku padamu.” Suara Lu Han lembut. Jiseul memejamkan matanya. Pertahanannya hampir runtuh, kenapa tidak ia runtuhkan semuanya?
“Aku menyukaimu,” Lu Han membulatkan matanya, mulutnya sedikit terbuka, terkesima karena dua kata yang baru keluar dari mulut Jiseul.
“Saat di taman, kata-katamu yang membuatku kesal mengalihkanku dari Kris dan membuatku memikirkanmu. Aku menyukaimu sejak saat itu. Tapi, sikap brengsekmu membuatku berpikir untuk membunuh rasa sukaku—“
“Jangan. Biarkan perasaan itu tumbuh, Jiseul.” Lu Han menatap Jiseul lembut. Ternyata perasaannya terbalas. Jiseul juga menyukainya. Gadis itu bahkan menyadari perasaannya jauh lebih cepat dari Lu Han.
“Kau menyukaiku,” Lu Han memeluk Jiseul. Apa dia bisa senang sekarang? Mereka saling menyukai. Dia tidak perlu menahan dirinya lagi untuk menunjukkan kasih sayangnya pada Jiseul.
“Apa yang akan kau lakukan, Lu Han?” Lu Han memberi jarak antara dirinya dan Jiseul. ia menatap Jiseul tidak mengerti.
“Kau sudah tahu aku menyukaimu. Apa yang akan kau lakukan?” Lu Han tersenyum. Ia menyelipkan rambut Jiseul di balik telinganya.
“Aku akan menyayangimu, memanjakanmu. Apapun akan kulakukan untuk membuatmu bahagia.” Lu Han terdiam sebentar. Ia baru menyadari kalau hubungan mereka sudah melebihi pasangan kekasih. Mereka suami-istri.
“Kita bisa menjalani pernikahan ini seperti pasangan normal lainnya.” Jiseul menatap Lu Han terkejut.
“Kau menerima pernikahan ini?” Lu Han mengangguk. Ia mengelus pipi Jiseul.
“Pernyataan perasaanmu barusan semakin memudahkan kita untuk menjalani perrnikahan kita. Bisa kau bayangkan bagaimana senangnya kedua orang tua kita?” Jiseul tersenyum setelah mencerna ucapan Lu Han. Orangtuanya pasti bahagia begitu mengetahui dia dan Lu Han menerima dan bahagia dengan pernikahan mereka.
“Aku tidak mengenalmu, Lu Han. Aku tidak mau terluka karena melihatmu dengan gadis lain.” Lu Han menggelengkan kepalanya sambil tersenyum meyakinkan pada Jiseul.
“Aku benar-benar menyukaimu. Aku akan membuktikannya padamu.” Jiseul memeluk Lu Han. Dia menekan pipi kanannya di dada pria itu.
“Aku juga akan menerima pernikahan kita.” Lu Han mengelus punggung Jiseul sambil mengecupi puncak kepala gadis itu. Dia tidak pernah sebahagia ini.
“Kepalamu masih sakit?” Jiseul menggeleng. Ia melepas pelukannya.
“Aku mau minum setelah itu mandi.” Lu Han menganggukkan kepalanya. Dia mencium pipi gadis itu. Lu Han masih tersenyum bahkan setelah Jiseul keluar dari kamarnya. Jiseul sudah menjadi miliknya seutuhnya. Dia tidak bisa berhenti memikirkan itu. Tapi, ada satu hal lagi yang mengganggu Lu Han. Lay, pria itu selalu membuatnya merasa terancam. Dia akan membicarakan pria itu dengan Jiseul nanti. Dering handphone Lu Han mengalihkan pria itu dari pemikirannya. Dia berjalan menuju nightstandnya dan mengambil handphonenya. Nama Minyoung tertera di layar handphonenya.
“Halo,”
“Aku ingin melanjutkan percakapan kita siang tadi,” Lu Han menghela napas. Masalah perasaannya sudah selesai. Ia rasa ia tidak perlu menceritakannya lagi dengan Minyoung.
“Aku sudah bisa mengatasi masalahku.” Minyoung tidak langsung membalas ucapan Lu Han.
“Baiklah. Kau sudah bisa mengatasi masalahmu. Tapi, aku ingin tahu detailnya.” Lu Han memejamkan matanya.
“Aku akan memberitahumu besok.”
“Sekarang. Aku menunggumu di kafe biasa kita berkumpul.” Lu Han mengerang kecil.
“Aku sedang malas keluar.”
“Kalau kau tidak menemuiku, aku akan mengatakan pada teman-teman yang lain kalau kau menyukai seseorang—Jiseul.” Ancam Minyoung.
“Baiklah, baiklah. Aku akan datang.”

*****

 Jiseul mengalihkan pandangannya dari tv begitu Lu Han duduk di sampingnya.
“Aku mau bertemu dengan Sehun sebentar.” Alis Jiseul menyatu. Kelihatannya Lu Han terburu-buru.
“Oke,” suara Jiseul terdengar tidak yakin. Dia tidak terbiasa dengan Lu Han yang memberitahu rencananya—meminta izin padanya.
“Apa kau ingin titip sesuatu?” Jiseul menggelengkan kepalanya.
“Apa kau akan makan di luar?” Lu Han terdiam. Jika diingat-ingat, mereka tidak pernah makan malam bersama.
“Apa kau mau menungguku? Aku tidak akan lama.”
“Aku akan menunggumu.” Lu Han tersenyum. Ia mendekatkan tubuhnya pada Jiseul lalu mengecup kening gadis itu.
“Aku pergi, baobei.” Jiseul menyentuh dada kirinya. Dia tahu apa arti panggilan Lu Han. Dulu saat pacaran dengan Kris, pria itu tidak pernah memanggilnya sayang dengan bahasa Mandarin. Kenapa ia sangat senang dipanggil baobei oleh Lu Han? Jiseul mengabaikan pertanyaan hatinya, dia beranjak dari duduknya. Ia sedikit terkejut berhadapan dengan Lu Han saat dia keluar dari ruang keluarga.
“Apa ada yang ketinggalan?” Lu Han menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
“Aku lapar. Jadi, kita makan dulu setelah itu aku akan menemui Sehun.”

*****

“Kau tidak bilang kalau kau mengajak Sehun,” ujar Lu Han begitu ia tiba di meja yang ditempati Minyoung dan Sehun. Lu Han melihat Sehun kesal. Sebuah pertanyaan muncul di kepala Lu Han. ‘Apa Sehun berada di sini karena aku mengatakan pada Jiseul aku akan bertemu Sehun?’ Lu Han membuang pertanyaan itu jauh-jauh. Hal seperti itu tidak mungkin terjadi. Sehun tidak mempedulikan Lu Han. Kekesalan Lu Han tidak sebanding dengan kekesalannya karena pria itu selalu berhasil membuatnya salah paham dengan Minyoung.
“Kami penasaran bagaimana kau bisa suka dengan Jiseul,”
“Kami?!” suara Lu Han tidak percaya. Ia menarik kursi dengan keras. Seharusnya dia bersama Jiseul saja di rumah. Bukan duduk di sini, membongkar rahasianya di depan Sehun.
“Sehun juga penasaran,”
“Aku tidak mau memberitahumu kalau ada Sehun,” Sehun memicingkan matanya pada Lu Han.
“Kenapa?” ucap Sehun kesal.
“Sehun,” tegur Minyoung.
“Aku serius, Minyoung. Aku tidak mau memberitahumu kalau ada Sehun di sini,” Lu Han mengabaikan tatapan mematikan Sehun yang ditujukan padanya.
“Kenapa? Sehun juga sudah tahu kau menyukai Jiseul.” Lu Han menghela napas. Minyoung pasti akan terus bertanya kalau dia tidak menjawab pertanyaannya. Gadis itu tidak akan berhenti.
“Aku menyukai Jiseul,”
“Kau sudah memberitahu kami dan itu sangat mengejutkan.” Kata Sehun tenang walaupun hatinya tidak. Ia memikirkan Baekhyun.
 “Bagaimana kau bisa menyukai Jiseul? Aku tidak pernah melihatmu dekat dengannya. Kalian bahkan tidak pernah berinteraksi di kelas.” Minyoung terus memikirkan ini sebelum Lu Han sampai.
“Bagaimana aku bisa suka pada Jiseul? Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya.” Lu Han terdiam sebentar. Ada sesuatu yang menarik Lu Han pada Jiseul. Lu Han menggelengkan kepalanya kecil. Sampai sekarang dia tidak bisa menggambarkan apa itu.
“Kami sering bertemu di luar sekolah.” Lu Han tidak mau menjelaskan lebih dalam. Ini rahasianya. Dia belum siap memberitahu teman-temannya sekarang.
“Jangan beritahu ini pada siapapun. Kau sudah berjanji, Minyoung. Kau juga Sehun.” Lu Han menatap Sehun serius.
“Tapi, Baekhyun menyukai Jiseul lebih dulu,” Sehun berkomentar. Lu Han tersenyum miris.
“Kau sudah mengerti kenapa aku tidak mau yang lainnya tahu, Minyoung? Mereka pasti berkata sama seperti Sehun.” Dia menarik napas panjang lalu mengeluarkannya.
“Tolong jangan beritahukan ini pada yang lainnya terutama Baekhyun. Aku mempercayakan ini pada kalian. Mereka belum boleh tahu.” Ucap Lu Han sangat serius.
“Kau yakin bersikap diam tidak akan menimbulkan masalah?” tanya Sehun. Dia tidak akan lagi mempermasalahkan siapa yang menyukai Jiseul lebih dulu. Siapa pun bisa menyukai gadis itu, yang penting, siapa yang gadis itu pilih sebagai kekasihnya. Bisa saja bukan Baekhyun atau Lu Han. Mungkin Jiseul menyukai laki-laki lain? Siapa yang tahu? Sehun tidak mau memusingkan ini. Dia tidak begitu mengenal Jiseul seperti dia mengenal Minyoung atau Jeorin. Yang ia pikirkan adalah Baekhyun—bagaimana perasaan pria itu saat mengetahui temannya juga menyukai gadis yang sama dengannya. Pria itu pasti tidak bisa menerima berita ini dengan baik.
“Untuk saat ini aku memilih diam,” jawab Lu Han. Sehun mengamati Lu Han sambil berpikir. Dia tidak mau hal buruk terjadi antara Baekhyun dan Lu Han.
“Kau tidak mendekati Jiseul karena tahu Baekhyun menyukainya kan?”
“Aku tidak serendah itu, Sehun.” Ucap Lu Han tersinggung. Kalau saja mereka tahu status Jiseul, ia yakin Baekhyun tidak akan berani mendekati gadis itu.
“Aku menyukainya. Kenapa kalian selalu menganggap enteng perasaanku?” Lu Han melipat tangannya kesal.
“Karena kau tipe orang yang mudah bosan. Kau mengganti teman kencanmu dua kali seminggu. Belum lagi one night stand-mu.” Lu Han mengerang mendengar penuturan Sehun. Ini yang membuat Jiseul berusaha menghilangkan rasa sukanya pada Lu Han. Itu hanya masa lalu sekarang. Lu Han tidak akan meneruskan kebiasaan buruknya itu.
“Jangan ingatkan aku soal itu. Kau membuatku merasa seperti pria paling brengsek di dunia. Ada lagi yang ingin kalian sampaikan?” Lu Han tidak mau berlama-lama di sini. Ia ingin segera pulang dan bertemu dengan Jiseul.
“Aku mendoakan yang terbaik untukmu, Lu Han.” Lu Han tersenyum pada Minyoung. Gadis ini tidak pernah mengecewakannya.
“Jangan terlalu lama diam. Pikirkan Baekhyun.” Pesan Sehun. Lu Han memejamkan matanya. Ia akan memikirkan temannya itu nanti. Sekarang, dia hanya ingin kembali pada Jiseul. Lu Han berdiri, menatap kedua temannya secara bergantian.
“Aku pulang dulu.” Minyoung menatap Sehun begitu Lu Han keluar dari kafe.
“Kau tidak perlu khawatir lagi sekarang. Orang yang suka menggodamu sudah memiliki orang lain untuk dipikirkan.” Sehun tersenyum tipis. Lu Han memang tidak mengganggunya lagi. Tapi, Baekhyun, pria itu pasti merasa dikhianati kalau mengetahui ini.

*****

 Lu Han memasuki rumahnya dengan hanya Jiseul yang ada di pikirannya. Dia tidak mau memikirkan siapapun sekarang. Tidak di saat dia bisa menghabiskan waktu hanya berdua dengan Jiseul. Senyum mengembang di wajah Lu Han saat mendapati Jiseul terbaring di sofa sambil menonton tv.
“Apa aku lama?” Jiseul mengalihkan pandangannya dari tv begitu mendengar suara Lu Han. Dia segera mendudukkan dirinya. Lu Han berjalan mendekati Jiseul lalu duduk di samping gadis itu.
“Tidak. Kau pergi tidak sampai satu jam,” Jiseul kembali melihat tv. Mereka tidak pernah seperti ini sebelumnya. Kalau Jiseul tahu Lu Han ada di rumah, dia akan tetap berada di dalam kamarnya.
“Kau sudah mengerjakan pr matematikamu?” Lu Han menatap Jiseul.
“Kita ada pr?” Jiseul mengangguk membuat Lu Han mengerang. Kenapa mereka harus punya pr? Dia sedang ingin bersama Jiseul.
“Aku akan mengerjakannya nanti.” Lu Han meraih tangan kiri Jiseul lalu menggenggamnya.
“Yixing, kau tidak akan menemuinya lagi kan?”
“Kau ingin aku menemuinya?” Lu Han memejamkan matanya. Jiseul melakukannya lagi. Membalas pertanyaannya dengan pertanyaan. Dan itu bukan pertanyaan yang bagus.
“Tentu saja tidak.”
“Aku akan menemuinya besok. Aku ingin mengembalikan kalung yang Lay berikan padaku.” Jiseul terdiam sebentar. Ia baru menyadari kalau ia tidak memakai kalungnya saat ia mandi tadi. Ia sudah mencari di dapur, ruang makan, dan kamar Lu Han saat pria itu pergi tadi. Tapi, dia tidak menemukannya.
“Apa kau melihat kalungku?” Lu Han tidak menatap Jiseul. Dia merasa iri, cemburu. Dalam waktu yang singkat Jiseul sudah akrab dengan guru barunya.
“Aku yang melepasnya,” Lu Han yang melepasnya? Kapan? Kenapa Jiseul tidak merasakannya?
“Aku tidak suka melihatmu memakai barang pemberian pria lain.”
“Kenapa aku tidak tahu?” Lu Han meletakkan tangan kirinya di atas tangan Jiseul yang ia genggam.
“Karena aku melepasnya saat kau sedang tidur.” Jiseul menganggukkan kepalanya mengerti.
“Kau menyimpannya kan? Aku harus mengembalikannya besok.”
“Aku akan memberikannya padamu nanti,” Lu Han menatap Jiseul lama.
“Apa kau ingat kalau kau menciumku tadi?” Jiseul melihat Lu Han dengan mata bulatnya.
“Aku.. menciummu?” ucap Jiseul terbata. Lu Han mengangguk sambil tersenyum geli melihat ekspresi Jiseul. Wajah terkejutnya sangat lucu.
“Aku tidak mungkin melakukannya,” sanggah Jiseul, tidak mau menatap Lu Han. Bagaimana kalau itu benar?
“Tapi kau melakukannya. Aku bersumpah, kalau kau masih tetap mengabaikanku, aku akan terus menyimpan soju di kulkas agar aku bisa mendapatkan ciuman darimu setiap hari.” Jiseul menarik tangannya dari genggaman Lu Han dan menatap pria itu tajam, berusaha menutupi rasa malunya.
“Apa kau sudah menyingkirkan minuman itu dari kulkas?”
“Sudah, baobei. Aku tidak mau membuatmu marah,” Lu Han mendekatkan bibirnya ke telinga Jiseul.
“Tapi, aku akan sangat senang kalau kau menciumku seperti itu lagi. That’s hot.” Bisik Lu Han. Jiseul mendorong tubuh Lu Han, membuat pria itu tergelak.
“Aku tidak ingat. Jadi, aku tidak menciummu.”
“Mau aku ingatkan?” goda Lu Han.
“Lu Han,” rengek Jiseul. Ia tidak mungkin mencium Lu Han kalau dia sadar. Lu Han menarik Jiseul ke dalam pelukannya. Perlahan tawanya mereda.
“Mulai sekarang, kau tidak perlu malu lagi kalau ingin menciumku.”
“Berhenti bicara tentang ciuman,” Lu Han tersenyum. Dia menekan pipinya di kepala Jiseul.
“Kita tidur bersama mulai malam ini kan?”
“Kau mau tidur denganku?” balas Jiseul.
“Pertanyaan apa itu, baobei? Tentu saja aku mau tidur denganmu. Aku akan terus memelukmu seperti ini.” Jiseul menganggukkan kepalanya. Ia tidak pernah berpikir kalau mereka akan membicarakan ini.
“Kamarmu atau kamarku?” tanya Lu Han.
“Kamarmu. Itu kamar yang dipilihkan Mama untuk kita.”

*****

“Pagi, baobei,” sapa Lu Han lalu mencium puncak kepala Jiseul yang sedang memakan rotinya.
“Pagi, Lu Han.” Balas Jiseul lalu melanjutkan sarapannya. Ia juga memperhatikan Lu Han yang memakan roti selai cokelat yang dia siapkan.
“Apa menu yang kau inginkan untuk sarapan?”
“Aku sudah biasa makan roti. Tapi, apapun yang kau siapkan akan kumakan.” Jiseul menggeser piringnya sedikit ke depan lalu melipat tangannya di meja dan mengamati Lu Han. Dia bisa merasakan perubahan sikap Lu Han, dan ini hal yang positif. Mungkin Nyonya Lu benar, Lu Han pria yang baik. Ia rasa pergaulan Lu Han yang salah. Tapi, teman-teman Lu Han di sekolah semuanya baik. Jadi, apa yang salah dari Lu Han?
“Apa aku tampan, Jiseul?” Jiseul tersentak mendengar pertanyaan aneh Lu Han. Lu Han menanyakan itu karena Jiseul terus memandanginya. Dan juga karena ia teringat dengan Jaehyun yang menanyakan pada Jiseul apakah Baekhyun tampan.
“Kau tampan,”
“Lebih tampan dari Baekhyun?” Jiseul menatap Lu Han bingung. Kenapa Lu Han menyinggung Baekhyun? Walaupun bingung, Jiseul tetap menjawab Lu Han.
“Kau dan teman-temanmu semuanya tampan. Para gadis pasti menggilai kalian.” Ya, itu benar. Tapi, bukan itu jawaban yang ingin Lu Han dengar.
“Katakan kalau aku lebih tampan dari Baekhyun,”
“Kenapa?” Jiseul tidak bisa menutupi kebingungannya lagi.
“Katakan saja,” tuntut Lu Han. Jiseul menghela napas. Ia tahu Lu Han orang yang keras kepala—penuntut—sekarang.
“Kau lebih tampan dari Baekhyun.” Lu Han tersenyum lebar. Dia bisa tenang sekarang. Baekhyun bukan saingannya lagi. Jiseul miliknya. Itu sudah mutlak.
“Kita berangkat sekolah bersama,”
“Apa tidak apa-apa?” tanya Jiseul khawatir.
“Tidak apa-apa. Orang-orang tidak akan ada yang tahu kalau kita menikah.” Jiseul menganggukkan kepalanya begitu melihat keyakinan di mata Lu Han.
“Kita berangkat?” Jiseul menganggukkan kepalanya lagi. Dia bangkit dari duduknya dan mengikuti Lu Han menuju ruang tamu, mengambil tas mereka yang berada di sofa.
“Aku bisa terbiasa dengan ini,” komentar Lu Han sebelum keluar dari rumah mereka. Lu Han membukakan pintu mobil buat Jiseul lalu menuju pintu pengemudi setelah gadis itu masuk ke dalam mobil.
“Kau ada rencana setelah pulang sekolah?” tanya Lu Han, matanya menatap fokus ke jalan.
“Tidak. Kenapa?” Lu Han meraih tangan kiri Jiseul, membawanya ke bibirnya lalu mencium tangan gadis itu.
“Aku ingin kencan denganmu,” dia meletakkan tangan mereka di pahanya, mengemudi menggunakan satu tangan.
“Aku menyukai idemu,” Lu Han tersenyum. Ia juga menyukai ini, bisa melakukan apapun yang dia inginkan bersama Jiseul.
“Lu Han, kalung yang diberikan Lay,” Senyum Lu Han menghilang begitu nama Lay keluar dari mulut Jiseul. Kenapa Jiseul selalu menyebut nama Lay di saat yang tidak tepat?
“Kau belum memberikannya padaku,” Lu Han melepas tangan Jiseul. Dia mengemudi dengan dua tangan sekarang.
“Ada di saku celanaku. Aku akan memberikannya padamu setelah kita sampai di sekolah. Setelah ini, kau tidak akan menemuinya lagi kan?” Jiseul melihat Lu Han. Pria ini menanyakannya lagi.
“Aku tidak bisa menghindari pertemuan dengannya di kelas,” Lu Han mendengus.
“Maksudku, jangan bertemu hanya berdua dengannya. Tolak dia kalau dia mengajakmu bertemu. Ugh.. ini menyebalkan sekali,” Jiseul melihat Lu Han aneh. Dia seperti perempuan yang sedang PMS.
“Aku tidak akan menemuinya. Tapi, aku tidak bisa membayangkan apa reaksi Lay nanti saat aku mengembalikan kalungnya dan mengatakan padanya alasanku mengembalikannya. Dia pasti—“
“Berhenti memikirkan guru itu. Kau menyukaiku. Pikirkan saja itu. Perasaannya atau apapun reaksinya itu masalahnya sendiri.” Jiseul melihat Lu Han jengkel. Dia tidak bisa menutupinya lagi.
“Apa kau selalu seperti ini? Hanya memikirkan diri sendiri?” Lu Han mencengkeram setir mobil dengan erat sampai buku-buku jarinya memutih. Kecepatan mobilnya semakin meningkat.
“Lay—“ Jiseul terpekik saat Lu Han membanting setirnya ke tepi jalan dan mengerem dengan mendadak, membuat ban mobilnya berdecit keras.
“Hentikan, Jiseul.” Lu Han menutup matanya, suaranya seperti geraman.
“Kau bisa membuat kita terbunuh kalau kau terus membicarakan Yixing.” Lu Han menghela napas lalu menatap Jiseul.
“Jangan pernah bahas pria lain saat kau sedang bersamaku. Aku bukan pria yang baik kalau menyangkut gadis yang kusukai dan pria yang mencoba mendekatinya.” Lu Han melajukan mobilnya kembali dengan kecepatan normal, tidak mempedulikan reaksi terkejut Jiseul karena ‘kemarahannya’. Jiseul mengalihkan tatapannya ke jalanan. Masih banyak tentang Lu Han yang tidak dia ketahui. Dan hari ini, dia mendapati sifat buruk Lu Han yang lain. Pria itu tidak bisa mendengarkan orang bicara. Lu Han bukan tipe orang yang bisa kalian ajak berdiskusi. Dia akan bersikeras menjadikan pikirannya sebagai keputusan akhir. Apa yang salah dengan dia membicarakan Lay? Bicara tentang Lay bukan berarti dia akan bersama Lay kan? Hari pertama mereka berangkat ke sekolah bersama sudah setegang ini. Jiseul tidak bisa membayangkan bagaimana hari selanjutnya. Semoga tidak seperti hari ini. Sisa perjalanan menuju sekolah mereka diselimuti dengan keheningan. Lu Han merutuki sikapnya pada Jiseul setelah emosinya stabil. Bagaimana kalau Jiseul kembali membencinya? Tapi, Lu Han tidak bisa membohongi dirinya. Dia tidak suka mendengar Jiseul membicarakan pria lain apalagi sampai melihat Jiseul bersama pria lain. Lu Han memarkirkan mobilnya di parkiran sekolah. Ia mematikan mesin mobil.
“Berikan kalung Lay,” Lu Han menutup mulutnya kembali begitu mendengar Jiseul. Dia ingin bicara tapi Jiseul sudah mendahuluinya. Lu Han menghela napas lalu mengambil kalung Lay dari saku celananya. Ia memberikan kalung itu pada Jiseul.
“Maafkan aku,” ujar Lu Han saat Jiseul hendak membuka pintu mobil.
“Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya,” Jiseul menatap Lu Han tidak mengerti.
“Aku tidak pernah seposesif ini pada seorang gadis,” Apa Jiseul harus merasa senang mendengar itu? Lu Han mencondongkan tubuhnya pada Jiseul lalu menangkupkan tangannya di wajah gadis itu.
“Maafkan aku, baobei,” Jiseul melihat wajah Lu Han yang semakin mendekat padanya, tatapannya beralih pada bibir pria itu. Matanya terpejam begitu bibir mereka bersentuhan.
“Maafkan aku,” Kata Lu Han tepat di bibir Jiseul, matanya menatap lembut gadis itu.
“Kau menyebalkan,” dia memeluk Lu Han.
“Apa itu artinya aku dimaafkan?” Jiseul menganggukkan kepalanya. Lu Han bernapas lega.
“Aku tidak mau ke kelas,” Ya, Lu Han tidak mau karena di kelas dia harus pura-pura tidak kenal dengan Jiseul. Jiseul memberi jarak di antara mereka.
“Berikan handponemu. Kita tinggal bersama tapi kita tidak mempunyai nomor ponsel masing-masing.” Jiseul memberikan handphonenya pada Lu Han. Lu Han memberikan handphone Jiseul kembali padanya setelah nomornya tersimpan di handphone gadis itu dan nomor Jiseul tersimpan di handphonenya.
“Aku ke kelas duluan.” Lu Han menghela napas setelah Jiseul keluar dari mobilnya. Ia melihat gadis itu semakin jauh sampai tidak terlihat. Dia ingin selalu berada di dekat Jiseul, bisa memperlihatkan pada orang-orang kalau Jiseul miliknya. Tapi, sepertinya dia harus bersabar.
“Kita lihat apa yang akan terjadi hari ini.”

*****

“Hanya kalian saja yang ada di sini?” tanya Lu Han saat melihat Sehun, Chanyeol, dan Baekhyun di ruangan EXO biasa berkumpul.
“Aku tidak tahu apa yang Kai, Dyo, dan Suho lakukan.” Kata Chanyeol. Lu Han mengambil tempat duduk di samping Sehun lalu fokus ke handphone yang sejak keluar kelas sudah berada di tangannya. Ia ingin bersama Jiseul saat jam istirahat tapi gadis itu sudah lebih dulu bersama Yeonsa, jadi mereka hanya bisa saling bertukar pesan.
“Aku ingin tahu pendapat kalian,” Baekhyun bersuara. Lu Han tidak memperhatikannya karena pesan dari Jiseul tidak membuatnya senang. Rencana kencan mereka terancam batal karena Jeorin mengajak Jiseul shopping. Apa yang ada di pikiran perempuan hanya shopping? Batin Lu Han kesal. Ayolah, Lu Han ingin melakukan kencan normal yang dilakukan anak SMA. Bergandengan tangan menikmati sore di Hongdae atau di Sungai Han. Lu Han tidak peduli di mana mereka akan kencan, dia hanya ingin kencannya tidak batal hari ini.

To: Jiseul
Cari alasan untuk menolak ajakan Jeorin. Aku tidak mau kencan kita batal, baobei.

“Aku ingin menyatakan perasaanku pada Jiseul,” pernyataan Baekhyun membuat ibu jari Lu Han berhenti untuk menyentuh ikon kirim pada layar handphonenya. Hal itu ditanggapi dengan antusias oleh Chanyeol.
“Akhirnya, Baekhyun. Apa kau perlu bantuan untuk menyediakan tempat? Kau tahu, menyatakan perasaanmu dengan romantis,” Chanyeol menggerakkan kedua alisnya penuh arti. Baekhyun menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Temannya ini selalu mendukungnya.
“Tidak. Aku merencanakan itu kalau Jiseul sudah jadi kekasihku. Aku hanya perlu waktu berdua dengannya saat menyatakan perasaanku. Bagaimana menurut kalian?” Baekhyun menatap temannya satu per satu. Pesan yang akan ia kirim pada Jiseul terlupakan. Lu Han hanya bisa menatap Baekhyun.
“Aku mendukungmu, teman.” Ucap Chanyeol.
“Apa kau sudah memastikan kalau Jiseul single?” pertanyaan Sehun membuat Lu Han menatapnya. Oh, iya, Sehun tahu rahasianya. Lu Han hampir melupakan itu.
“Jiseul sedang sendiri. Bagaimana pendapatmu, Lu Han?” Lu Han tersentak mendengar pertanyaan Baekhyun. Bagaimana pendapatnya? Tentu saja dia tidak mau Baekhyun melakukannya. Jiseul berhubungan dengannya. Gadis itu bukan hanya kekasihnya, tapi istrinya. Lu Han ingin mengatakan itu pada Baekhyun. Tapi, ia tidak bisa. Apa yang akan Baekhyun pikirkan tentangnya kalau dia mengatakan itu?
“Aku tidak bisa berkomentar.” Baekhyun tersenyum penuh arti pada Lu Han.
“Aku lupa. Kau sangat ahli di bagian ‘lainnya’.” Lu Han tidak menanggapi Baekhyun. Baekhyun tidak boleh menyatakan perasaannya pada Jiseul karena sudah pasti Jiseul akan menolaknya. Apa dia beritahu saja hubungannya dengan Jiseul pada teman-temannya sekarang?
“Baiklah. Sekarang aku makin yakin.” Baekhyun bangkit dari duduknya.
“Aku mau menemui calon pacarku dulu.” Senyum Baekhyun membuat Lu Han tidak nyaman. Dia baru memulai hubungannya dengan Jiseul tapi masalah seperti ini sudah datang? Dan yang mebuatnya lebih parah lagi, masalah itu datang dari temannya sendiri.
“Aku mau menemui pacarku.” Chanyeol mengekor di belakang Baekhyun.
“Kau lihat?” Sehun bersuara setelah memastikan hanya tinggal mereka berdua di dalam ruangan itu.
“Kenapa kau tidak mengatakan kau menyukai Jiseul pada Baekhyun tadi? Biarkan dia tahu kalau dia punya rival.”
“Mungkin aku akan melakukannya kalau Jiseul belum jadi kekasihku.” Ucap Lu Han lemah.
“Apa?” Sehun menatap Lu Han tidak percaya. Baru semalam Lu Han mengatakan padanya dan Minyoung kalau dia menyukai Jiseul, dan sekarang mereka sudah resmi pacaran?
“Kau mendengarnya,” Lu Han sudah memutuskan ini. Dia akan membiarkan orang-orang mengetahui hubungannya dengan Jiseul. Bukan status pernikahan mereka, murid-murid di sekolahnya hanya tahu kalau mereka adalah pasangan kekasih. Ini ide yang paling bagus yang muncul di kepala Lu Han saat Baekhyun sibuk membicarakan perasaannya. Kalau murid-murid di sekolahnya tahu mereka pasangan kekasih, mereka tidak perlu bertemu sembunyi-sembunyi, atau saling mengirim pesan padahal mereka sangat dekat. Hari ini permulaannya tapi Lu Han sudah tidak tahan.
“Wow, Lu Han. Kau cepat sekali.”
“Kau tahu aku selalu cepat,” Sehun menggelengkan kepalanya melihat kesombongan Lu Han.
“Kau orang pertama yang tahu dan aku akan memberitahu yang lainnya.” Sehun menganggukkan kepalanya setuju.
“Itu bagus. Akan lebih baik kalau Baekhyun mengetahuinya sebelum dia menyatakan perasaannya pada Jiseul. Dia pasti terluka, tapi, lukanya tidak akan sesakit kalau dia terlambat mengetahuinya.” Lu Han merenungkan kata-kata Sehun. Apa pun yang terjadi dia pasti akan tetap menyakiti Baekhyun kan?


*****


 Lu Han berlama-lama memasukkan buku dan alat-alat tulisnya ke dalam tasnya. Sama seperti Jiseul. Gadis itu juga bergerak lambat. Mereka bahkan belum selesai saat kebanyakan teman-temannya sudah keluar kelas.
“Ayo, Jiseul.” ajak Jeorin yang sudah berdiri di depan mejanya bersama teman-temannya yang lain. Rencana shopping mereka tetap berjalan. Jiseul tidak bisa menolak ajakan Jeorin.
“Kalian duluan saja. Aku mau ke toilet dulu.”
“Lu Han, kau lama sekali.” Kai yang merangkul Jeorin bersuara.
“Aku tidak menemukan buku kimiaku. Aku mau mencarinya dulu.” Balasan dari Lu Han membuat teman-temannya menatapnya penuh tanya. Bagaimana bisa Lu Han kehilangan bukunya? Itu aneh.
“Kalian duluan saja. Aku akan segera menyusul.”
“Baiklah. Kami menunggumu di parkiran.” Walaupun aneh, mereka tetap membiarkan Lu Han melakukan apa yang dia katakan. Lu Han menghentikan aksi pura-puranya setelah teman-temannya keluar kelas. Ia mendekati Jiseul dan langsung melingkarkan tangan kirinya di pinggang Jiseul. dia mencium pipi gadis itu lalu meletakkan dagunya di bahu Jiseul.
“Kau lama sekali,” Jiseul menoleh, membuat jarak wajah mereka sangat dekat.
“Kau yang menyuruhku,” gadis itu pura-pura kesal. Lu Han tersenyum lalu menarik dirinya dari Jiseul. Ia memegang bahu Jiseul lalu menggerakkan gadis itu untuk menghadapnya.
“Kau melakukannya dengan baik,” Lu Han mengelus pipi Jiseul dan menatap gadis itu lembut.
“Jadi, kau tidak pulang bersamaku?” Jiseul mengangguk. Ia menempatkan tangannya di pinggang Lu Han karena melihat ekspresi kecewa pria itu.
“Jangan sedih. Aku tidak akan lama,” Lu Han mendengus mendengar ucapan Jiseul.
“Baru kau yang mengatakan shopping tidak membutuhkan waktu yang lama. Kau akan tahu bagaimana gilanya Jeorin saat shopping nanti. Terkadang aku kasihan pada Kai kalau dia menceritakan bagaimana dia menemani Jeorin shopping. Anehnya, dia menceritakan dengan senang.”
“Kai menceritakan itu pada kalian?” Lu Han terkekeh kecil melihat wajah terkejut Jiseul.
“Laki-laki juga bergosip, sayang. Tapi, aku bisa menjamin kalau yang kami gosipkan positif untuk kami,” Jiseul memutar matanya. Apa yang mereka gosipkan belum tentu positif untuk orang lain kan?
“Aku senang kau akrab dengan Jeorin dan Minyoung. Mereka gadis yang baik. Di sekolah ini, banyak orang yang bermuka dua.” Jiseul hanya menatap Lu Han. Pria ini bicara seolah-olah dia sangat berpengalaman. Lu Han menggerakkan kedua ibu jarinya di masing-masing alis Jeorin yang berkedut.
“Kau berpikir seperti orang tua,” Jiseul melepaskan tangannya dari pinggang Lu Han karena ucapan pria itu. Dia pura-pura kesal.
“Aku ingin kau menikmati waktumu dengan teman-teman perempuanmu. Tapi, aku juga tidak ingin berbohong, baobei. Kalau bisa potong waktu shopping kalian, eoh?” gadis itu menganggukkan kepalanya. Lu Han menghela napas.
“Pergilah, mereka pasti menunggumu.” Jiseul mengambil tasnya lalu memakainya.
“Aku hanya bercanda tadi,” kata Lu Han menahan Jiseul.
“Kau gadis paling cantik yang pernah kutemui,” Jiseul tersenyum.
“Aku tahu. Sampai nanti, Lu Han.” Lu Han menahan tangan Jiseul sebelum gadis itu pergi. Jiseul menatap Lu Han bingung. Pria itu tersenyum lalu mendekatkan wajahnya pada Jiseul. Matanya membulat begitu bibir Lu Han menempel di bibirnya. Dia masih belum terbiasa dengan ciuman Lu Han. Jiseul memejamkan matanya perlahan merasakan Lu Han mengulum bibirnya lembut. Ia merasa ciuman Lu Han berbeda. Ini pertama kalinya Lu Han tidak menciumnya dengan agresif. Kedua larut dalam ciuman mereka, melupakan fakta kalau teman-teman mereka sedang menunggu. Dan hal yang paling penting, mereka tidak menyadari kalau ada yang menyaksikan gestur kasih mereka. Orang itu mengepalkan kedua tangannya.


TBC...

Aku minta maaf kalau updateku di sini lama. Buat yang ingin liat kelanjutannya bisa lihat di blogku Jellokey's World. aku lebih cepat update di sana. Comment guys :)

2 thoughts on “Nice Guy (Chapter 10)

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s