Diposkan pada Drama, Family, jellokey, Lu Han, MULTICHAPTER, SCHOOL LIFE

Nice Guy (Chapter 11)

LEentfHP

Nice Guy Tittle : Nice Guy (Chapter 11) Author : Jellokey Main Casts : Lu Han Choi Ji-seul (OC) Byun Baek-hyun (Baek Hyun of EXO) Support Casts : Zhang Yi Xing (Lay of EXO) Yoon Se-jin (OC) Kim Jong-in (Kai of EXO) Kang Jeo-rin (OC) Oh Se-hoon (Se Hun of EXO) Shin Min-young (OC) And others Length : Chaptered Genre : romance, arranged marriage, school life, family, friendship Rating : PG-17 Poster : https://myelsexperience.wordpress.com/poster/ Disclaimer : This story is pure MINE. Don’t plagiat or copy paste without my permission Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4  Chapter 5  Chapter 6  Chapter 7  Chapter 8 Chapter 9 Chapter 10  chapter 11

Baekhyun mengepalkan tangannya melihat pemandangan di depannya. Lu Han sudah terlalu lama di kelas, ia ingin membantu pria itu mencari buku kimianya. Itu niatnya tadi. Dan sekarang ia menyesalinya setelah tahu apa yang menahan Lu Han. Pria itu sibuk mencium Jiseul. Baekhyun ingin pergi dari sana, tapi sepertinya kakinya punya pikiran sendiri. Dia terpaku di tempatnya menyaksikan gadis yang ia sukai berciuman dengan temannya. Dia tidak tahu berapa lama dia berdiri di tempatnya. Kakinya mulai melangkah mundur saat Lu Han menjauhkan wajahnya dari Jiseul. Dia mundur secara perlahan lalu berlari. Ini tidak mungkin. Apa yang ia lihat tidak benar. Tapi, itu kenyataannya. Lu Han dan Jiseul berciuman. Sekuat apapun Baekhyun menolak, itu memang terjadi.

“Baekhyun, kau kenapa?” tanya Chanyeol karena Baekhyun berlari dengan ekspresi yang tidak biasa. Baekhyun mengabaikan pertanyaan Chanyeol, ia ingin segera pergi dari sekolah. Ia tidak bisa melihat Lu Han sekarang.

“Aku tidak bisa ikut ke rumah Kai.” Hanya itu yang Baekhyun katakan. Itu pun tanpa menatap salah satu temannya. Teman-temannya menatap kepergian Baekhyun dengan bingung. Apa yang terjadi dengan pria itu?

Baekhyun memukul setir mobilnya. Ia tidak bisa menggambarkan bagaimana emosinya saat ini. Marah, kecewa, sedih, emosi negatif melingkupi Baekhyun. Bagaimana bisa dia tidak mengetahui ini? Dan sepertinya, teman-temannya juga tidak mengetahui ini. Apa hubungan Lu Han dan Jiseul? Bagaimana Lu Han bisa mencium Jiseul sedangkan dia tidak pernah melihat kedua orang itu berinteraksi di kelas? Baekhyun memukul stir mobilnya frustasi. Ia merasa dikhianati oleh Lu Han. Ia berkali-kali mengatakan ia menyukai Jiseul di depan pria itu seperti orang bodoh, dan pria itu hanya diam. Apa Lu Han terhibur melihat kebodohannya? Mungkin Lu Han menganggapnya seperti badut yang sedang melakukan pertunjukan di depannya. Bagaimana bisa Lu Han melakukan ini padanya? Bagaimana dia sanggup mencium Jiseul padahal dia tahu kalau Baekhyun menyukai gadis itu? Dan Jiseul, kenapa dia mau dicium Lu Han? Apa kejadian di perpustakaan tidak cukup menunjukkan padanya laki-laki seperti apa Lu Han? Banyak pertanyaan berputar di kepala Baekhyun, dan semuanya berakhir dengan satu jawaban. Lu Han mengkhianatinya.

*****

“Kau lama sekali,” Kai bersuara walaupun Lu Han belum begitu dekat dengan mereka. Lu Han memang mengambil waktu yang lama untuk menyusul teman-temannya.

“Aku baru menemukan buku kimiaku di bawah kursiku,” balas Lu Han. Kebohongannya tidak terlihat sama sekali. Sepertinya dia sangat handal dalam hal itu.

“Aku baru tahu kalau kau seceroboh itu, Lu Han.” Ujar Dyo sebelum masuk ke dalam mobilnya dikuti oleh Suho.

“Di mana Baekhyun?” tanya Lu Han setelah menyadari kalau Baekhyun tidak ada.

“Dia sudah pulang.” Jawab Chanyeol dengan keningnya yang berkerut. Ekspresi Baekhyun masih menjadi tanda tanya besar baginya.

“Pulang? Kenapa?”

“Entahlah. Dia terlihat buru-buru tadi.” Balas Chanyeol lalu masuk ke dalam mobilnya. Baekhyun tidak mengatakan pada mereka apa alasannya kembali ke dalam gedung sekolah.

“Baekhyun tidak mengatakan alasan kenapa dia tidak ikut?” tanya Lu Han pada Kai begitu mereka masuk ke dalam mobil Lu Han. Kai menumpang dengan Lu Han karena mobilnya dipakai oleh Jeorin.

“Tidak. Aku rasa itu urusan keluarga.” Dengan jawaban dari Kai, Lu Han membiarkan topik itu berlalu. Lu Han tidak sabar menunggu besok. Besok statusnya dan Jiseul akan berubah di sekolah mereka.

*****

Baekhyun langsung mengganti pakaiannya begitu ia sampai di rumah. Entah apa yang dilakukan teman-temannya di rumah Kai sekarang. Apa yang Lu Han pikirkan tentang ketidakhadirannya? Yang jelas tidak ada. Pria itu tidak tahu kalau dia melihatnya. Dia pasti sangat menikmati harinya. Baekhyun berdecak. Hari  ini penilaiannya pada Lu Han berubah. Dalam urusan perempuan Lu Han memang brengsek. Baekhyun memakluminya, mungkin itu sudah sifat alami Lu Han. Tapi, untuk yang terjadi hari ini, Baekhyun tidak bisa menganggap Lu Han sebagai orang yang sudah berteman dengannya selama dua tahun. Pertemanan mereka sudah tidak ada sejak ia melihat Lu Han mencium Jiseul. Dering handphonenya menarik Baekhyun keluar dari imajinasinya menghajar Lu Han. Tapi, imajinasi itu kembali saat melihat nama yang tertera di layar handphonenya. Baekhyun menolak panggilan itu. Dia tidak mau bicara dengan temannya yang pengkhianat sekarang. Baekhyun mendesah berat lalu menyandarkan punggungnya di sofa. Bahkan keindahan taman belakang rumahnya tidak bisa meringankan rasa sakit di kepala dan hatinya. Pikirannya beralih pada Jiseul. Bagaimana bisa gadis sebaik Jiseul berhubungan dengan Lu Han? Dari cerita bagaimana Jiseul putus dengan mantan kekasihnya, laki-laki seperti Lu Han tidak memiliki kesempatan untuk dekat dengan Jiseul. Lu Han sama seperti mantan kekasih Jiseul yang selingkuh darinya. Baekhyun yakin Lu Han lebih parah dari Kris. Rayuan macam apa yang Lu Han berikan pada Jiseul? Ia pikir Jiseul akan lebih pintar memilih kekasih setelah hubungannya yang gagal. Apa yang baru saja Baekhyun pikirkan? Kekasih? Semoga saja Jiseul belum terperangkap sampai sejauh itu dengan Lu Han.

“Samchon!!” Baekhyun tersentak. Ia menegakkan tubuhnya lalu melihat ke arah pintu. Detik berikutnya, seorang bocah muncul dan berlari ke arahnya. Itu bisa membuat wajah Baekhyun tersenyum.

“Bun!” balas Baekhyun dengan suara anak-anak yang dibuat-buat. Wajah antusias anak itu berubah menjadi sedikit kesal karena panggilan pamannya.

“Namaku Beom. Beooom.” Ucap bocah itu sedikit panjang agar pamannya mengerti. Baekhyun mengangguk seolah dia menangkap maksud si bocah.

“Kemari Baek-bun,” dia masih menggoda keponakannya. Kehadiran anak kakaknya membuat Baekhyun sedikit melupakan sakit hatinya.

“Namaku Baek-beom,” gumamnya sambil mendekati Baekhyun.

“Itu nama hyungku,” Baekhyun menempatkan keponakannya yang berumur empat tahun di pangkuannya.

“Tapi namaku juga Baek-beom. Appa dan Eomma yang memberiku nama itu,” Protes Baek-beom.

“Oke, Beom,” bocah itu langsung tersenyum begitu pamannya menyebut namanya.

“Dengan siapa kamu kemari?” tanya Baekhyun. Sudah dua minggu dia tidak bertemu dengan keponakannya.

“Eomma. Dia mau pergi, jadi aku bersama halmeoni dulu. Aku pikir samchon masih sekolah,” kata anak itu bijak membuat Baekhyun tersenyum.

“Samchon baru pulang. Hm,” wajah Baekhyun terlihat berpikir.

“Kamu mau ikut denganku?”

“Ke mana?” Baekhyun melihat ke sekelilingnya, lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Baek-beom.

“Makan es krim,” bisik Baekhyun. Anak itu meniru gerakan Baekhyun. Jelas sekali kalau anak ini dilarang makan es krim. Tapi, dia tidak bisa menahan dirinya untuk menerima ajakan pamannya yang selalu memanjakannya. Mereka pasti makan es krim kalau sudah bertemu dan keluarganya tahu ini tapi membiarkannya. Hanya ada tiga orang yang suka memanjakan Baek-beom dengan es krim. Baekhyun, kakaknya, dan ayahnya.

“Ayo, ayo,” bisik Baek-beom lalu meloncat dari pangkuan Baekhyun.

“Setelah itu kita bertemu dengan Jaehyun,” Baek-beom melompat di tempatnya dengan semangat.

“Cepat, samchon. Aku sudah lama tidak bertemu dengan hyung keren itu.” Baekhyun menggelengkan kepalanya. Menurutnya, Jaehyun tidak keren karena bocah itu sudah sangat dipengaruhi Kai.

“Beom lebih keren darinya. Sana, temui halmeoni. Samchon mau menelepon Kai hyung dulu.” Baek-beom menganggukkan kepalanya lalu masuk ke dalam rumah. ‘Semoga apa pun yang mereka lakukan sudah selesai.’ Batin Baekhyun sebelum menelepon Kai.

*****

Jiseul melihat-lihat dress yang sudah pernah dia lihat. Mereka ada di butik Jeon-ha sekarang. Ia pikir Jeorin akan mengajak mereka shopping di tempat lain. Koleksi milik Jeon-ha sudah ia lihat sebelum dipublikasikan.

“Aku tidak menyangka kalau kau menjadi model untuk designer terkenal.” Tiba-tiba Minyoung sudah berada di sampingnya.

“Aku bukan model. Aku hanya membantu seniorku.” Balas Jiseul sambil tersenyum kecil. Lalu matanya menatap dress yang Minyoung pegang. Itu rancangannya untuk musim panas tahun ini.

“Ini rancanganmu. Aku jadi sangat mengagumimu, Jiseul.”

“Terima kasih.” Jiseul tersipu mendengar pujian Minyoung. Design-design yang ia buat hanya akan berada di kertas kalau Jeon-ha tidak mendorongnya untuk membuatnya menjadi nyata. Jeon-ha juga bersedia memajang rancangan miliknya di butik wanita itu.

“Kau tidak membeli pakaian?” tanya Minyoung karena tidak mendapati satu jenis pakaian pun di tangan Jiseul.

“Tidak. Mungkin lain kali.” Minyoung mengangguk lalu mengangkat tangannya yang memegang tiga hanger baju.

“Aku membayar ini dulu.” Handphone Jiseul bergetar saat Minyoung membalikkan tubuhnya. Ia mengambil hadphonenya dan mendapati nama Lay di layar handphonenya.

“Halo,”

“Hai. Apa aku mengganggumu?” Jiseul menggelengkan kepalanya. Sadar bahwa Lay tidak bisa melihatnya, Jiseul bersuara.

“Tidak. Ada apa?”

“Apa kita bisa bertemu?” Lu Han memintanya untuk cepat pulang. Tapi, sekarang kesempatannya untuk mengembalikan kalung Lay. Ia tidak mau menunggu lebih lama lagi.

“Iya. Di mana?”

“Di kafe tempat kita kencan.” Jiseul memejamkan matanya mengingat kencan mereka. Dia merasa jahat karena menggunakan Lay untuk menghilangkan perasaannya pada Lu Han. Mungkin mereka bisa jadi sepasang kekasih kalau Lu Han berhenti mengatakan suka padanya.

“Sampai jumpa di sana, Lay.” Jiseul mendesah berat setelah memasukkan handphonenya ke saku blazernya. Ia menghampiri teman-temannya yang sedang berada di kasir.

“Aku rasa, aku tidak bisa ikut ke kafe favorit kalian.” Ucap Jiseul dengan sedikit menyesal.

“Kenapa?” tanya Yeonsa.

“Ada yang harus aku lakukan di rumah.”

“Apa tidak bisa setelah kita ke kafe? Aku yakin kau akan menyukai kafe ini.” Jiseul tersenyum pada Jeorin.

“Lain kali, bagaimana? Aku harus pulang sekarang.”

“Sepertinya sangat penting. Kita bisa ke kafe besok, Jeorin.” Usul Minyoung. Jiseul tersenyum pada Minyoung, dia setuju dengan ide gadis itu. Dan rencana mereka berhenti sampai di situ. Jeorin, Yeonsa, dan Minyoung memutuskan untuk pulang juga.

*****

Jiseul langsung mendapati Lay di meja yang mereka tempati saat kencan begitu memasuki kafe.

“Aku harap kau baru sampai.” Kata Jiseul sambil menarik kursi di hadapan Lay.

“Sepuluh menit lebih cepat darimu,” Jiseul langsung mengalihkan tatapannya pada ice cappucino yang berada di depannya saat Lay tersenyum. Apapun yang mereka lakukan sekarang tidak bisa berlanjut.

“Kenapa kau ingin bertemu denganku?” pertanyaan Jiseul tidak terdengar manis di telinga Lay. Cara Jiseul bicara berbeda dengan cara Jiseul bicara dengannya saat mereka kencan. Lay segera mengabaikan pikirannya. Mungkin Jiseul mengalami hari yang buruk di sekolah.

“Aku merindukanmu, aku ingin melihatmu. Kita tidak bertemu di sekolah hari ini.” Lay tidak mempunyai jadwal mengajar hari ini. Jiseul menarik napas panjang sebelum bicara.

“Kita tidak bisa bertemu lagi,”

“Apa?” tanya Lay bingung. Ia menatap penuh tanya pada Jiseul, menunggu penjelasan dari gadis itu.

“Aku tidak bisa bertemu denganmu lagi. Dan aku tidak bisa menerima kalung yang kau berikan.” Jiseul meletakkan kalung yang sejak tadi ia genggam di hadapan Lay. Lay tidak mengambil kalung itu. Apa Jiseul tidak mau berhubungan lagi dengannya? Apa Jiseul menolak perasaannya?

“Kenapa?”

“Karena kau guruku,” Lay tertawa kecil mendengarnya.

“Kau jelas tidak memikirkan itu saat menerima ajakan kencanku,” Lay menatap Jiseul terluka. Gadis itu menolaknya. Dan ia masih tidak mengerti. Semua baik-baik saja kemarin.

“Kenapa?”

“Aku menyukai laki-laki lain,” Sahut Jiseul pelan.

“Apa?” Lay tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Kencan mereka sangat sempurna pada hari Minggu. Ia yakin mereka akan resmi pacaran sebentar lagi. Dan sekarang Jiseul mengatakan padanya kalau dia menyukai pria lain? Hanya dalam waktu dua hari? Napas Lay tercekat begitu dia menyadari sesuatu.

“Apa kau memanfaatkanku?” Jiseul menatap Lay dengan mata membulat.

“Ti-tidak, Lay. Aku suka jalan denganmu,”

“Lalu bagaimana bisa kau menyukai pria lain?” Jiseul menundukkan kepalanya. Dia memang memanfaatkan Lay. Tapi dia tidak pernah bermaksud seperti itu.

“Aku menyadari aku menyukainya sebelum kita kencan. Tapi, aku berusaha membuang perasaan itu karena dia tidak baik untukku,” suara Jiseul pelan.

“Dengan memanfaatkanku.” Jiseul mengangkat kepalanya dan menatap Lay penuh penyesalan.

“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud memanfaatkanmu. Aku pikir perasaan itu akan hilang karena kau pria yang baik dan dewasa—“

“Lalu kenapa, Jiseul? Dia bukan pria yang baik?” Jiseul menganggukkan kepalanya.

“Kenapa kau memilih dia?” Jiseul tidak tahu bagaimana dia telah melukai perasaan Lay. Dia tidak tahu kalau Lay sama seperti Lu Han. Dia mengganti pasangannya sama seperti dia mengganti pakaiannya. Tapi, setelah bertemu Jiseul, dia bahkan tidak bisa memikirkan gadis seperti apa yang akan dia kencani di malam hari. Kencan yang dia lakukan bukan jalan-jalan di Hongdae tapi bersenang-senang di club atau bar. Jiseul tidak tahu kalau gadis itu sudah mengubahnya.

“Karena aku menyukainya. Aku tidak bisa mengabaikan perasaanku lagi, Lay.”

“Kau melukaiku, kau tahu itu?” Lay menatap Jiseul emosi. Lukanya sudah membuat dia membenci Jiseul saat ini.

“Maafkan aku,” Lay tersenyum sinis.

“Aku tidak butuh maafmu. Maafmu tidak bisa menyembuhkan luka yang baru saja kau berikan,”

“Yixing, aku mohon ma—“ Lay memotong ucapannya lagi. Pria itu tidak bisa menerima perlakuan Jiseul padanya. Gadis itu memberinya harapan untuk hubungan serius pertamanya.

“Aku menginginkanmu. Aku tidak akan menyerah sampai aku mendapatkanmu.”

“Yixing,” Jiseul menatap Lay dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak menyangka percakapan mereka akan seperti ini. Ia pikir semua akan baik-baik saja. Ia pikir ia bisa berteman dengan Yixing.

“Pergi, Jiseul. aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu kalau kau masih berada di depanku.” Ucap Lay tanpa melihat gadis itu.

“Yixing,” cairan bening mengalir dari sudut mata kanan Jiseul. Dia belum beranjak dari duduknya. Apa Lay akan membencinya? Gadis itu tersentak saat mendengar decitan kursi yang digeser dengan kasar. Lay meninggalkannya di kafe itu. Jiseul menghapus air matanya. Percakapan mereka berakhir dengan buruk. Dia tidak berteman dengan Lay. Bagaimana dia bisa menghadapi Lay sebagai gurunya kalau seperti ini?

*****

Jiseul menutup pintu rumahnya lalu bersandar di sana. Apa dia sanggup melihat Lay besok setelah apa yang telah ia lakukan pada pria itu? Kalau saja dia berpikir berkali-kali sebelum menerima ajakan Lay, dia tidak akan seperti ini.

“Jiseul?” Jiseul beranjak dari tempatnya begitu mendengar suara Lu Han. Ia berjalan mendekati pria itu.

“Kenapa kau lama sekali? Jeorin sudah pulang sejak satu jam yang lalu.” Jiseul tidak menjawab. Dia menatap pria itu. Apa yang terjadi kalau Lu Han tidak mengatakan suka padanya? Apa dia masih tetap jalan dengan Lay?

“Kau baik-baik saja, baobei?” tanya Lu Han khawatir. Lu Han pikir seharusnya Jiseul merasa senang setelah jalan dengan teman-temannya.

“Baobei?” panggil Lu Han.

“Aku bertemu dengan Lay,” tatapan khawatir Lu Han berubah menjadi datar.

“Aku sudah mengembalikan kalungnya,”

“Apa kalian hanya berdua?” Jiseul mengangguk. Lu Han membuang napasnya kasar.

“Seharusnya kau mengajakku, Jiseul.”

“Yang penting aku sudah mengembalikan kalungnya, Lu Han.” Jiseul berucap sambil melewati pria itu. Lu Han mengikuti Jiseul yang berjalan ke kamarnya.

“Tapi aku tidak suka kau sendirian bertemu dengannya,”

“Dan dia tidak suka aku mengembalikan kalungnya.” Balas Jiseul emosi. Dia sudah cukup pusing memikirkan pertemuannya dengan Lay hari ini. Dia tidak butuh Lu Han untuk menambah beban pikirannya lagi. Jiseul menghela napas setelah melihat Lu Han hanya diam di tempatnya dan tidak mengomentari ucapannya.

“Dia marah karena aku memanfaatkannya. Aku tidak bermaksud melukainya. Aku pikir semua akan baik-baik saja karena.. kau tahu.. hubungan kami belum begitu serius. Aku tidak tahu bagaimana menghadapinya di kelas besok.” Jiseul memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Lu Han mendekati Jiseul yang duduk di tepi tempat tidur. Ia duduk di samping gadis itu. Dia tidak suka dengan kata-kata yang diucapkan Jiseul. Tapi, dia menahan dirinya untuk tidak mengatakan kata-kata yang bisa membuat Jiseul kesal kepadanya

“Dia gurumu. Kau tidak perlu memikirkan hal yang sudah terjadi. Saat ini dan seterusnya, status kalian yang pasti adalah guru dan murid.” Lu Han menarik Jiseul ke dalam pelukannya. Jiseul menutup matanya. Dia merasa lelah.

“Kalau saja kau datang lebih cepat,” ucap Jiseul di leher Lu Han. Pria itu mendesah berat. Jiseul benar, kalau saja dia menyadari perasaannya lebih cepat, Jiseul tidak akan pernah dekat dengan Lay.

*****

“Ini bukan ide yang bagus, Lu Han.” Jiseul menatap Lu Han yang sedang memarkirkan mobilnya. Ia sudah berkali-kali mengatakan itu pada Lu Han tapi pria itu tetap berkeras pada pendiriannya. Mereka tidak bisa dibilang diskusi di rumah karena yang akan mereka lakukan sekarang adalah keinginan Lu Han bukan kesepakatan mereka berdua. Lu Han ingin murid-murid di sekolahnya tahu kalau mereka adalah pasangan kekasih.

“Ini akan membuat Lay berhenti mendekatimu.” Kata Lu Han lalu keluar dari mobil. Setelah mendengar kalau Lay tidak akan menyerah sampai dia bisa mendapatkan Jiseul, Lu Han semakin yakin untuk tidak menyembunyikan hubungan mereka. Lu Han membuka pintu mobil penumpang.

“Ayo,” Jiseul tidak mau keluar, tapi pada akhirnya dia keluar dari mobil. Pria itu menutup pintu mobil lalu menekan tombol lock di kunci mobilnya.

“Aku benar-benar jahat,” ucap Jiseul pelan. Ia terus mengingat ucapan Lay yang mengatakan kalau dia memanfaatkan pria itu.

“Aku tidak mungkin mengencani gadis yang jahat. Gadis jahat tidak termasuk dalam tipe gadis idealku. Jadi, kau tidak jahat.” Lu Han menarik pelan kedua sudut bibir Jiseul dengan telunjuknya. Ia ingin gadis itu tersenyum dan berhenti memikirkan Lay.

“Lu Han, jangan sekarang.” Mohon Jiseul.

“Aku akan menciummu di sini kalau kau tidak mengikutiku ke kelas sekarang.” Ancam Lu Han.

“Paling tidak tunggu sampai Lay tidak mengajar di sini,” Jiseul masih memohon. Dengan begitu dia tidak akan merasa bersalah kalau melihat Lay.

“Lalu bagaimana denganku, Jiseul?” tanya Lu Han. Dia tidak mau Jiseul berpikir kalau dia orang yang egois, tapi, mau bagaimana lagi? Lu Han tidak bisa menahan perasaannya. Ia tidak mau merasa cemburu saat melihat Jiseul didekati pria lain.

“Apa kau berpikir aku akan diam saja saat melihat Lay mendekatimu?” Jiseul tidak menjawab. Lu Han menarik napas panjang lalu mengeluarkannya. Ia tidak yakin bisa melakukan ini. Tapi, demi Jiseul ia akan mencobanya.

“Baiklah. Kita akan menjadi orang asing hari ini. Kita lihat apakah aku bisa menahan diriku atau tidak.” Jiseul memegang tangan Lu Han sebelum pria itu berbalik.

“Kau.. tidak marah?” ucap Jiseul tidak yakin. Lu Han menggelengkan kepalanya.

“Sampai jumpa di rumah.” Jiseul masih memegang tangan Lu Han. Ia ragu dengan jawaban Lu Han.

“Lepaskan tanganku. Kita orang asing, bukan?” Lu Han terkejut begitu Jiseul memeluknya. Ucapannya barusan bertujuan untuk menyindir Jiseul. Ternyata egonya masih belum rela untuk mengikuti keinginan Jiseul.

“Kau tahu aku tidak mau kita seperti ini, kan? Tolong, mengerti posisiku, Lu Han.” Dengan ragu Lu Han membalas pelukan Jiseul. Ia tidak bisa hanya memikirkan dirinya saja kalau mau hubungannya bertahan lama dengan Jiseul.

“Aku mengerti.” Lu Han memberi jarak di antara mereka.

“Aku ke kelas duluan,” Jiseul mencium pipi kanan Lu Han.

“Aku di belakangmu,” Jiseul mulai berjalan setelah Lu Han berada kira-kira empat langkah di depannya. Semoga Lay sudah tidak emosi lagi. Pikir Jiseul sambil melihat bagian belakang tubuh Lu Han. Keduanya tidak menyadari kalau sejak di parkiran sekolah mereka sudah diawasi.

*****

Jiseul menundukkan kepalanya saat Lay menyapa murid-muridnya. Ia salah kalau berpikir Lay tidak seemosi kemarin. Pria itu masuk dengan ekspresi yang kaku, tidak ada senyum di wajahnya. Dan bukannya menerangkan pelajaran di kelas, Lay malah memberikan tugas pada mereka.Pria itu memberikan soal lebih banyak dari biasanya. Jiseul sungguh tidak nyaman duduk di depan Lay. Sekarang ia menyesali keputusannya pindah tempat duduk. Lay mengamati murid-muridnya selain Jiseul. Mungkin saja salah satu siswanya adalah alasan Jiseul tidak mau melanjutkan hubungan mereka. Mata Lay berhenti pada sosok Baekhyun yang mengerjakan tugasnya. Lama ia mengamati laki-laki itu, tapi, ia malah berpikir bukan Baekhyun orangnya. Lay membuang napasnya kasar. Sulit untuk mengetahuinya kalau suasana tenang seperti ini. Mungkin dia bisa mencari tahu saat istirahat nanti. Lay memutuskan untuk mengerjakan pekerjaan kantornya. Ia mengambil laptop dari tas kerjanya. Lay tidak bisa menahan dirinya untuk melihat Jiseul sebelum memulai pekerjaannya. Ia memandangi gadis yang bisa membuat napasnya berhenti saat ia menatapnya. Ia akan melakukan apa saja untuk menyadarkan Jiseul kalau gadis itu salah telah menolaknya. Alis Lay menyatu saat Jiseul menghentikan pekerjaannya dan tangan gadis itu dengan perlahan turun ke laci mejanya. Gerakan Jiseul terlihat gugup. Apa Jiseul sedang berhubungan dengan pria itu?

“Ehem,” Jiseul tersentak mendengar dehaman Lay. Ia segera meletakkan handphonenya ke laci dan kembali melakukan tugasnya.

“Apa yang baru saja kamu lakukan Jiseul?” suara Lay membuat murid-murid yang lain memperhatikan Jiseul. Semua perhatian tertuju padanya sekarang. Jantung Jiseul berdetak kencang. Saat ini Lay sangat profesional. Jiseul memberanikan diri untuk menatap gurunya.

“Tidak ada, Mr. Zhang.” Lay tersenyum seolah mengatakan aku tahu apa yang kau lakukan.

“Keluarkan handphonemu,”

“Tapi,” Jiseul tidak melanjutkan ucapannya begitu Lay berdiri dan berjalan ke mejanya. Ia menengadahkan tangannya di depan gadis itu. Jiseul menggigit bibirnya, dengan tidak rela memberikan handphonenya pada Lay.

“Ini yang terjadi kalau kalian bermain-main di kelas saya. Saya akan menahan handphonemu, Jiseul.”

“Seonsangnim—“

“Kerjakan tugas kalian. Temui saya di kantor saat istirahat nanti.” Ucap Lay lalu kembali ke kursinya. Ia meletakkan handphone Jiseul di mejanya lalu menatap gadis yang sejak tadi sudah menatapnya. Ini kontak mata terlama sejak pertemuan mereka kemarin. Akhirnya, Jiseul menyerah. Ia kembali mengerjakan tugasnya. Lay mengambil handphone Jiseul begitu yakin gadis itu tidak melihatnya lagi. Ia tidak menyangka Jiseul akan sangat ceroboh hari ini. Ia sudah mengingatkan gadis itu untuk tidak bermain dengan handphonenya saat pelajaran beberapa hari yang lalu. Tapi, karena cerobohnya gadis itu, ia jadi punya jalan untuk mengetahui siapa orang ketiga yang mengganggu hubungan mereka. Lay mengerang pelan begitu mengetahui handphone Jiseul memakai password. Pantas saja gadis itu tidak berusaha keras untuk mempertahankan handphonenya.

*****

“Mau kutemani menemui guru kesayanganmu?” Lu Han bertanya. Ia berjalan di belakang Jiseul saat gadis itu keluar kelas. Saat mereka hampir mendekati kantor guru, barulah  Lu Han berjalan di samping Jiseul.

“Dia bukan guru kesayanganku,” balas Jiseul pelan.

“Aku akan menemuinya sendiri.” Lu Han menghentikan langkahnya. Jiseul juga berhenti lalu menatap pria itu.

“Dia melakukan ini agar bisa berduaan denganmu. Aku tidak mempercayainya,” Jiseul menggelengkan kepalanya kecil.

“Berhenti berpikir negatif tentang orang lain, Lu Han. Dia tidak seperti itu. Dia hanya belum bisa menerima keputusanku,” Jiseul berharap Lu Han bisa mengerti ucapannya.

“Lupakan handphonemu. Kita bisa membeli handphone baru untukmu,” Jiseul mendesah berat. Selalu mencari cara yang mudah daripada menyelesaikan masalah.

“Aku harus mengambil handphoneku. Ada hal-hal penting di dalamnya,” Lu Han mendengus kecil. Hal penting apa yang ada di handphone Jiseul? Foto mantan-mantannya?

“Sepertinya foto mantan terakhirmu sangat penting. Siapa namanya?” batin Jiseul mengelus dadanya. Sabar, Jiseul. Gadis itu memejamkan matanya sebentar lalu membukanya.

“Aku suka kau posesif padaku, Lu Han. Tapi, bisakah kau menguranginya sedikit? Itu menyinggungku saat kau mengatakan aku menyimpan foto Kris. Percaya padaku, foto-fotonya sudah tidak ada di handponeku. Kita bicara lagi nanti.” Jiseul menyudahi pembicaraan mereka. Mereka tidak akan berhenti bicara kalau Jiseul tidak segera pergi. Lu Han meringis pelan begitu Jiseul masuk ke kantor Lay. Dia menyesali ucapannya pada Jiseul. Dia tidak bisa mengendalikan dirinya. Dia tidak pernah posesif seperti ini sebelumnya.

*****

Jiseul berdiri dengan gugup di hadapan Lay. Tatapan menilai dari pria itu yang membuatnya tidak berani menatap gurunya.

“Aku pikir aku bisa dengan mudah mengetahui siapa yang merusak proses pendekatan kita. Ternyata handphonemu memakai password. Aku sangat tidak beruntung.” Ucap Lay dengan nada mencemooh. Lay menyandarkan tubuhnya di punggung kursinya. Menggerakkan kursi ke kanan dan kiri dengan pelan, ia terlihat santai, tapi itu malah semakin membuat Jiseul gugup. Tangan gadis itu berkeringat karena gugupnya.

“Ambil handphonemu. Aku punya cara lain untuk mengetahui siapa orang itu.” Mesin di kepala Jiseul berputar. Apa maksud Lay? Apa pria itu mencari tahu siapa yang dekat dengannya? Jiseul jelas bodoh karena berpikir Lay akan membiarkannya begitu saja. Pria itu bahkan sudah menahan handphonenya agar mengetahui siapa ‘kekasihnya’ sekarang.

“Apa kau akan terus memperlakukanku seperti ini?” Jiseul tidak bisa menahan dirinya lagi. Ia tidak yakin jawaban apa yang akan diberikan oleh Lay. Dia hanya tidak ingin Lay memperlakukannya sebagai musuh.

“Memangnya, aku memperlakukanmu seperti apa, Jiseul?” Jiseul berjalan mendekati meja Lay lalu menngambil handphonenya. Jiseul terlihat ragu.

“Musuhmu. Kau melihatku seperti di kepalaku tertulis ‘orang yang memanfaatkanku’. Sungguh, Lay. Tujuanku berkencan denganmu bukan untuk mendapatkan reaksi dari orang yang kusukai. Aku berniat membuang perasaan—“ tawa kecil dari Lay memotong ucapan Jiseul. Dia beranjak dari dari duduknya, mendekati Jiseul—berdiri di hadapan gadis itu.

“Percaya padaku, sayang. Menjadikanmu musuhku tidak pernah ada di pikiranku,” Jiseul menahan napasnya saat Lay menyentuh pipinya. Ia mengelus pipi gadis itu menggunakan ibu jarinya sambil berpikir apa yang membuat Jiseul tidak memilihnya.

“Kau tidak akan berpikir aku memusuhimu kalau kau tidak mengucapkannya kemarin,” tangan Lay yang berada di pipi Jiseul turun ke leher gadis. Dengan refleks Jiseul menempatkan kedua tangannya di dada Lay saat pria itu menarik tubuhnya merapat padanya.

“Lay,” Jiseul bergerak di dekapan Lay, tapi percuma karena Lay menahan tubuhnya cukup kuat.

“Aku akan memperlakukanmu seperti ratu sampai kau akan berpikir tidak mau jauh dariku. Itu kalau kau mau menjadi kekasihku,” Lay mendorong tubuh Jiseul darinya, lalu kembali ke kursinya.

“Bisakah kita berteman?” Lay menatap Jiseul lama. Apa gadis itu pikir dia anak-anak? Orang dewasa mana pun tidak ada yang mau berteman dengan wanita/pria yang disukainya, apalagi kalau orang yang kita sukai tahu perasaan yang kita miliki. Kalau pun ada orang yang seperti itu, orang itu jelas bukan dia.

“Pintunya ada di sana, Jiseul.” Ujar Lay tanpa menatap gadis itu. Tatapannya terfokus pada layar laptopnya. Jiseul membuang napasnya berat lalu meninggalkan kantor Lay. Dia masih belum bisa menyelesaikan masalahnya. Dia akan bersabar. Dia tidak mau Lay membencinya. Lay membuka email dari asisten pribadinya setelah Jiseul keluar dari ruangannya. Hanya berbekal foto dan alamat rumah Jiseul, ia menyuruh asistennya untuk mencari tahu tentang Jiseul. Itu ia lakukan setelah ia meninggalkan Jiseul di kafe kemarin. Ini lebih cepat dari dugaannya. Ia melewatkan biodata Jiseul karena datanya sama dengan milik sekolah. Ia hanya ingin tahu dengan siapa Jiseul bertemu selain dirinya.

Choi Jiseul sudah tidak tinggal di rumah orangtuanya selama seminggu. Ini menarik perhatian Lay. Jiseul tidak tinggal dengan orangtuanya? Apa gadis itu tinggal sendiri? Lay menggeser kursor ke bawah, berhenti sebentar, melihat foto rumah yang mewah. Ia menggeser kursornya ke bawah lagi. Foto yang ditampilkan di layar laptopnya membuat berhenti. Foto Jiseul memeluk seorang laki-laki. Foto itu diambil tadi pagi di parkiran sekolah. Lay mendesah lalu memejamkan matanya. Lay tidak percaya ini. Ia melihat foto itu lagi. Bukan Baekhyun, tapi, Lu Han yang Jiseul peluk. Tapi, kenapa Jiseul tidak mau satu meja dengan Lu Han? Gadis itu bahkan tidak mau menatap Lu Han. Semuanya menjadi klik di kepala Lay saat ia mengingat ucapan Jiseul. Lu Han bukan orang yang baik untuknya. Lalu, bagaimana bisa mereka sedekat itu hanya dalam hitungan hari?

Choi Jiseul tinggal bersama Lu Han. Kalimat ini membuat mata Lay membulat. Lay menggeser kursornya ke bawah menggunakan telunjuknya yang gemetar.

Mereka sudah menikah. Foto data pernikahan Lu Han dan Jiseul dari kantor catatan sipil menjadi akhir dari email yang dikirim asistennya. Lay menatap nanar foto itu. Menikah. Jiseul sudah menikah dengan Lu Han? Saat pertama kali ia melihat Jiseul, gadis itu sudah menikah dengan Lu Han. Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Dia menyukai gadis yang sudah menikah? Ia bahkan masih mempertahankan gadis itu sampai sekarang. Lay tersenyum miris. Tuhan benar-benar memberinya pelajaran kali ini.

*****

Tangan Baekhyun berhenti di udara saat melihat Lu Han memasuki kafetaria. Akhirnya pria itu menunjukkan batang hidungnya. Tapi, dia tidak mau bicara dengan Lu Han di depan teman-temannya yang lain. Ia meletakkan sendok yang ia pegang, meminum jus jeruknya, lalu berdiri sambil memegang nampannya.

“Aku ke kelas duluan.” Ucap Baekhyun pada teman-temannya, tidak menunggu balasan dari mereka.

“Kenapa Baekhyun? Dia aneh hari ini.” Kata Suho. Sejak pagi, Baekhyun sudah berbeda. Pria itu lebih banyak diam. Untuk pria yang biasa ngobrol seperti Baekhyun itu terlihat mengerikan.

“Hm, dia terlihat normal semalam saat kami bermain dengan Baek-beom dan Jaehyun,” tutur Kai sambil berpikir. Sikap Baekhyun kemarin saat ia buru-buru pulang sudah terjawab. Pria itu ingin bersama keponakannya. Pemikiran teman-teman Baekhyun jelas salah.

“Baekhyun ke mana?” tanya Lu Han sambil meletakkan nampannya di meja. Ia melihat Baekhyun sedang makan saat ia memasuki kafetaria. Dan dia merasa bingung ketika Baekhyun menatapnya tajam saat mereka bertemu pandang.

“Ke kelas,” balas Dyo.

“Aku mengkhawatirkan Baekhyun,” ucapan Chanyeol menarik perhatian teman-temannya.

“Dia tidak biasanya diam seperti ini. Pasti ada sesuatu.” Dari mereka berlima hanya Chanyeol yang mengenal Baekhyun lebih baik. Dia dan Baekhyun sudah berteman sejak kecil.

“Dia terlihat aneh sejak keluar dari gedung sekolah kemarin. Ia tidak mau membicarakan ini denganku,” alis Chanyeol menyatu karena kerasnya ia berpikir. Kata-kata Chanyeol membuat Lu Han mulai merasa tidak tenang.

“Apa maksudmu?” tanya Lu Han.

“Dia kembali lagi ke gedung sekolah kemarin,” Lu Han tidak bisa melanjutkan makannya lagi. Tidak mungkin Baekhyun kembali ke kelas, kan?

“Setelah itu dia diam seperti ini.” Baekhyun belum bicara dengannya hari ini. Pria itu bahkan tidak menjawab panggilannya kemarin. Ini membuat Lu Han khawatir. Bisa saja Baekhyun melihatnya mencium Jiseul. Ini tidak boleh terjadi. Ia tidak menginginkan Baekhyun mengetahui hubungannya dan Jiseul dengan kejadian ia mencium Jiseul. Semoga dugaannya salah. Ia akan bicara dengan Baekhyun nanti. Ia tidak mau Baekhyun berpikir yang tidak-tidak tentangnya.

*****

“Bagaimana rencanamu, Baekhyun?” Chanyeol pikir ini topik yang bagus untuk memancing Baekhyun mengatakan apa yang mengganggu pria itu. Jiseul selalu menjadi topik yang menyenangkan buat Baekhyun.

“Rencana?” tanya Baekhyun setelah meletakkan tas olahraganya di bangku. Ia tidak bisa memikirkan apapun selain pengkhianatan Lu Han. Ia juga tidak akan datang ke permainan sepakbola yang diadakan teman-temannya kalau ada Lu Han. Baekhyun mendengus dan ini tidak lepas dari pengamatan Chanyeol. Lu Han pasti sedang bersama Jiseul makanya pria itu tidak bersama mereka sekarang.

“Menyatakan perasaanmu pada Jiseul.” Baekhyun seperti tidak menduga Chanyeol akan mengatakan itu. Ia terdiam sebelum membungkuk, pura-pura memeriksa tali sepatunya.

“Aku tidak pernah punya rencana seperti itu.” Gumam Baekhyun sebelum meninggalkan Chanyeol, berjalan menuju teman-temannya yang sudah berada di lapangan. Chanyeol memiringkan kepalanya. Ia bisa mendengar ucapan Baekhyun. Kemarin anak itu sangat antusias mengatakan rencananya. Kenapa sekarang berubah? Chanyeol berdiri. Ia akan mencari tahu itu nanti.

“Chanyeol!” suara itu muncul sebelum Chanyeol melangkahkan kakinya.

“Lu Han. Aku pikir kau tidak datang,” Lu Han tersenyum lalu meletakkan tasnya di bangku.

“Aku pikir lebih menyenangkan bermain sepak bola daripada berdiam diri di rumah.” Jiseul pergi dengan teman-temannya lagi. Jadi, lebih baik ia bermain dengan teman-temannya daripada di rumah. Ia berjalan bersama Chanyeol. Teman-temannya sedang melakukan pemanasan.

“Ada apa? Kenapa kau berhenti?” tanya Kai yang berada di sebelah kanan Baekhyun. Pria itu sudah menghentikan pemanasannya dan ekspresi wajahnya sudah berubah. Rahang pria  itu mengeras. Dan matanya, matanya seperti bisa membunuh orang. Dia marah. Pikir Kai. Kai mengikuti arah pandangan Baekhyun. Lu Han? Tapi di sebelah Lu  Han ada Chanyeol. Pada siapa Baekhyun marah?

“Kenapa dia datang?” ucap Baekhyun sambil mengertakkan giginya.

“Hei, Baekhyun!” panggil Kai karena temannya itu berjalan menjauhi mereka. Chanyeol dan Lu Han menghentikan langkah mereka. Chanyeol bingung melihat Baekhyun yang hendak meninggalkan lapangan padahal permainan akan segera dimulai.

“Baek, kau mau ke mana?”

“Aku malas bermain dengan pengkhianat.” Balas Baekhyun sambil melewati Lu Han. Lu Han mendengarnya dengan jelas. Baekhyun memanggilnya pengkhianat.

“Baekhyun,” Baekhyun menghentikan langkahnya. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya. Tidak ada gunanya menahan dirinya lagi. Dia akan mengeluarkan kekesalan dan kekecewaannya pada Lu Han hari ini. Pria itu membalikkan tubuhnya. Menatap Lu Han dengan segala kebencian yang ia punya saat ini.

“Apa maksudmu?” Baekhyun berdecak tidak percaya. Kata polos tidak cocok untuk Lu Han. Apa dia harus menyadarkan Lu Han tentang itu juga? Baekhyun berjalan mendekati Lu Han. Pria itu  sudah menghancurkan kepercayaannya. Tinjuan yang dilayangkan Baekhyun ke wajah Lu Han membuat Chanyeol dan empat teman dekatnya yang lain terkejut.

“Baekhyun!” Chanyeol mendekati Baekhyun dan memegang bahu pria itu tapi Baekhyun menggerakkan bahunya yang dipegang Chanyeol lalu menarik kerah baju Lu Han.

“Kau mencium Jiseul, brengsek!” Lu Han membulatkan matanya, nyeri di rahangnya terlupakan.

“Kau tahu..” Lu Han terus saja mengejutkannya dengan balasan yang menurutnya bodoh. Ia menghempaskan tubuh Lu Han dengan kasar membuat pria itu mundur dua langkah. Kalau Sehun tidak menopang tubuhnya mungkin Lu Han sudah jatuh. Kai, Suho, dan Dyo juga sudah ada di dekatnya sekarang.

“Aku melihatnya. Kau..” Baekhyun menunjuk Lu Han menggunakan telunjuknya.

“Aku tidak percaya kau bisa melakukan itu padaku. Kau sanggup mencium Jiseul setelah tahu bagaimana perasaanku padanya!” Kata-kata Baekhyun mengejutkan teman-temannya. Mereka melihat Lu Han tidak percaya, termasuk Sehun sekalipun ia sudah tahu hubungan Lu Han dan Jiseul.

“Apa hubunganmu dengan Jiseul?” Lu Han hendak menjawab Baekhyun, tapi, pria itu sudah bicara lagi.

“Jiseul tidak mungkin mau menciummu. Kau pasti memaksanya.” Dulu memang seperti apa yang Baekhyun katakan. Sekarang tidak.

“Apa aku terlihat memaksanya kemarin?” Chanyeol menahan Baekhyun sebelum pria itu bisa mendekati Lu Han. Lu Han tidak bermaksud menyinggung Baekhyun dengan ucapannya. Tapi, dia tidak bisa menahan dirinya. Teman-temannya selalu saja menganggapnya pria brengsek. Dia tidak seperti itu dengan Jiseul.

“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud memberitahumu dengan cara seperti ini, tapi, Jiseul kekasihku sekarang.”

“Apa?!” Dyo, Suho, dan Kai bersuara, sedangkan Baekhyun dan Chanyeol menatapnya terkejut.

“Aku ingin memberitahumu. Tapi—“

“Aku tidak percaya. Gadis seperti Jiseul tidak mungkin mau berhubungan denganmu,”

“Aku mungkin tidak sebaik dirimu, Baekhyun. Jiseul menerimaku. Kau bisa bertanya padanya kalau kau tidak percaya padaku.” Baekhyun menatap Lu Han masih dengan kemarahan yang sama. Ucapan Lu Han berputar di kepalanya. Jiseul adalah kekasihnya. Lu Han mengatakan itu dengan yakin. Pria itu tidak bohong. Baekhyun tertawa mengejek dirinya.

“Kau pasti menganggapku tolol karena terus mengatakan suka pada Jiseul di depanmu di saat dia sudah menjadi milikmu.” Lu Han menggelengkan kepalanya. Dia tidak pernah berpikir seperti itu. Tidak juga. Pernah sekali, saat dia sedang kesal, hanya saat dia kesal.

“Maafkan aku, Baekhyun. Kalau bisa, aku ingin memberitahumu—“

“Aku tidak mau berteman denganmu lagi.”

TBC…

visit my wattpad @jellokey

Iklan

Penulis:

Simple. I'm SHAWOL,94 line.SMtown lover. https://yosephinalina.wordpress.com/

8 tanggapan untuk “Nice Guy (Chapter 11)

  1. kasihan baekhyun…. eoni, minta id line dong. q cuman punya line ama bbm aja… gumawo eoni… maaf baru komen, udah lama baca g pernah komen….

  2. wah kasihan baekhyun… jiseul jg kasihan… luhan jahat i… lanjut thor bgs ceritanya maaf Baru komen d part ini kmrn2 gk tau caranya komen…😢

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s