(Part 1) You Don’t Know everything

Gambar

 

Tittle                      : (Part 1) You Don’t Know everything

Author                  : Hwang Eun Hee (@AnggiNindyas)

Main Cast            : Byun Baekhyun, Shim Chaesa, Park Chanyeol, Do Kyungsoo, Oh Sehun, Kim Suho, Xi Luhan

Support cast       : You can find by your self

Gendre                : Romance, drama, school life, comedy

Rating                   : Teen

Length                  : Sequel

 

                Chanyeol menarik selimutnya manja. Kedua matanya tepejam damai. Sesekali ia mengerang bagai seorang anak kecil yang tengah tertidur pulas. Kedua sudut bibirnya terangkat. Ia tersenyum dalam tidur. Entah apa yang membuat nya seperti itu. Mungkin ia tengah memimpikan seorang wanita cantik? Mungkin.

                KRRRIIINGGGGGG

                Chanyeol terlonjak kaget. Tubuhnya jatuh terjungkal dari tempat tidur setinggi 60 senti itu. Chanyeol meringis kesakitan, ia mengusap pantatnya. Jam sialan! Apa tidak bisa membangunkan nya secara lembut?

                Siap dengan sumpah serapah nya, Chanyeol mengambil jam itu, namun tidak lama kedua mata bulatnya melotot sempurna. Jam tujuh kurang lima belas menit! Sialan, Jung Songsaenim pasti akan menyuruhnya memotong rumput disekolah nanti.

                Dengan gerakan cepat Chanyeol lari ke kamar mandi, rasa kantuknya tiba tiba hilang, padahal ia merasa baru saja ia memejamkan kedua matanya, namun sekarang sudah pukul 06:45?

                Tiga orang dalam ruang tamu itu sesekali tertawa mendengar cerita yang keluar dari wanita berusia dua puluhan itu. Kadang mereka akan mengerutkan kening ketika mendengar cerita yang benar benar membuat mereka gemas.

Nyonya Park menoleh kearah tangga. Disana ada Chanyeol, anak bungsunya yang tengah terburu buru. Kedua tangannya sibuk membenarkan dirinya. Sedangkan mulutnya tengah mengigit roti yang entah dia dapat dari mana.

“Chanyeol ah, kau mau kemana?” nyonya Park berdiri, berjalan menghampiri anak bungsunya itu. Chanyeol mendongakkan kepalanya. Ia tesenyum kecil, tangan kanannya meraih roti dari mulutnya itu.

“Eomma aku berangkat, sekarang sudah benar benar telat”

“Kau berangkat kesekolah, pukul 3 dini hari?” Tanya nyonya Park penasaran. Chanyeol yang sudah ada di ambang pintu menghentikan langkahnya. Ia melirik jam yang bertengger manis di tangan kanannya lalu mengerutkan kening. Kedua matanya membelalak kaget.

“Ya! Park Chanyeol, kau tidak akan menyapa kakak mu ini? Kau tidak ingin oleh oleh dari Jeju eoh?”

Chanyeol membalikkan badan nya. Didapatnya tatapan aneh dari ayah dan ibu, dan juga tatapan licik dari kakak nya itu. Yura melipat kedua tangannya didepan dada. Chanyeol mengedipkan kedua mata bulat nya beberapa kali. Sial! Ia dikerjai lagi.

“Aku berangkat!” Chanyeol membanting pintu dengan begitu keras membuat ketiga orang yang ada didalam rumah terlonjak kaget.

“Kau menjaili adikmu lagi?” Tanya tuan Park.

“Appa, enam bulan tidak bertemu rasa nya benar benar rindu” Yura terkekeh kecil. Ia menatap punggung adiknya lalu tersenyum lebar.

***

“Baekhyun cepat buka pintu kamarmu!”

Baekhyun meletakkan ponselnya. Ia melangkah malas kearah pintu. Sialan, pukul tiga dini hari tapi Chanyeol sudah mengganggunya. Apa ini sudah menjadi hari menggangu Baekhyun?

“Ya! Kau gila bertamu pada jam 3 pagi?” sungut Baekhyun berapi api, namun dengan kedua mata setengah terbuka. Chanyeol tidak mengindahkan ucapan Baekhyun. Ia segera berjalan kearah tempat tidur Baekhyun dan menjatuhkan tubuhnya di atas sana. Dia benar benar lelah dan mengantuk.

“Aku ingin tidur, bangunkan aku jika kau mau berangkat” ucap Chanyeol lalu menutup kedua matanya. Baekhyun mendengus sebal. Ia menutup pintu dengan kesal lalu ikut menjatuhkan dirinya disamping Chanyeol.

“Selamat tidur Chagi” goda Chanyeol. Mendengar itu Baekhyun lalu menggerakkan kakinya. Ia menendang pantat Chanyeol, beruntung dia tidak jatuh.

***

Klik

Klik

Klik

Luhan mengerutkan kening nya. Meskipun kedua matanya tertutup namun ia bisa merasakan, sebuah cahaya Blitz benar benar mengganggunya. Tidak tidak, ini belum saat nya untuk menjadi seorang artis. Tangan nya menarik selimut untuk menutup wajahnya, namun sial, tangan orang dihadapannya menahan nya lalu kembali memotret nya.

Luhan mencoba membuka matanya, meski berat. Ia mencoba menyesuaikan cahaya yang terus menghujaminya. Seorang gadis dengan kedua tangannya focus memotret. Matanya sesekali menatap Luhan lalu sesekali menatap layar diponselnya. Dia harus cepat, atau Luhan akan membunuhnya.

Kedua mata Luhan terbelalak kaget. Sosok yang telah mengganggu tidur nya berjalan mundur beberapa langkah. Kedua mata sipitnya membulat kaget membuat Luhan benar benar gemas. Namun ia ingat, ia sedang marah dengan seseorang yang tengah menyembunyikan ponsel di balik punggungnya.

“Ya! Xi Rulu, kau mengambil fotoku secara diam diam lagi?!” Luhan menatap tajam adiknya itu.

“Tidak!”

Lagi lagi Luhan harus menahan tawanya dan menatap sangar adiknya itu. Dia mengatakan tidak, namun kepalanya mengangguk mantap.

Luhan mengambil gerakan seribu. Dia berlari mencoba mengejar Rulu, namun sial! Dia sama bergerak cepat seperti Luhan. Dan, BUK!!

Pintu tertutup tepak didepan wajah Luhan. Luhan kaget bukan main. Baiklah setidaknya, wajah tampan nya tidak jadi korban hari ini.

“Gege! Aku akan menjual dengan harga yang sangat mahal, aku akan memberikan 25% untukmu, ah tidak 10% saja cukup kan?” teriak Rulu dibalik pintu. Luhan masih terdiam mematung. Insiden pintu membuatnya benar benar kaget.

***

Kyungsoo menelan ludahnya dengan susah payah. Kedua mata besar nya itu menatap leka lekat benda berwarna merah jambu yang tersangkut di atas pohon.

“Kau harus membantuku, jika appa mengetahui ini aku benar benar malu” ucap Kyumi dengan wajah gelisah. Kyungsoo menggaruk tenguknya yang tidak gatal.

Dia bingung, ya tentu saja, sangat malah, dia mau mengambil apapun yang ada dipohon maple itu, tapi celana dalam wanita? Bahkan sampai sekarang Kyungsoo belum pernah menyentuh barang sacral milik wanita, baik celana dalam atau apapun itu.

“Jebal Kyungsoo ya” lagi lagi Kyumi memelas dengan wajah yang begitu sangat perlu dikasihani.

“Ya! Kau harus memanggilku Oppa. Kau tidak sopan!” Kyungsoo memaki. Kyumi membelalakkan kedua matanya sebal, kaget, dan ugh! Dia dan Kyungsoo sudah membahasnya berapa kali?

“Hyung”

“Oppa!”

“Oke, Sunbae”

“Ck, baiklah” Kyungsoo melepas sepatu hitam kesayangan nya itu dan tidak lupa kaos kakinya juga. Ia bertekad akan menyentuh benda itu dengan kedua ujung kukunya. Ia bersumpah.

Tangan Kyungso mencoba menggapai benda itu, dan tangan satunya memeluk erat batang kayu pohon maple. Ia merutuki dirinya sendiri karena sudah mau menolong Kyumi. Ia mendengar suara kekehan, tidak yang lebih tepat adalah suara Kyumi yang terus menahan tawanya. Kyungsoo menatap Kyumi dengan tatapan kaget. Sial! Dia terjebak lagi.

“Kyungsoo ya, hati hati” Kyumi berlari masuk kedalam rumah dengan suara tawa kemenangan yang terus menggema di telinga Kyungsoo. Kedua mata Kyungsoo membuka lebar, dan mulutnya sedikit terbuka. Ya tuhan, ini memalukan!

“Tuan! Ah, anda mengambilkan celana dalam saya, terima kasih banyak, saya mencarinya kemana mana”

Tersadar, Kyungsoo menatap menatap ajhuma dengan tatapan tidak percaya. Ia melirik celana dalam merah jambu yang ada di tangan nya. Sialan! Dengan cepat Kyungsoo  membuang celana dalam itu. Tiba tiba pertahanan nya runtuh. Kyungsoo jatuh.

“Ah, ajhuma” rintih Kyungsoo.

***

Suho berdiri disebuah padang luas. Angin semilir bermain main dengan rambutnya. Suho menutup kedua matanya, merasakan setiap hembusan angin yang menabrak wajahnya. Merasakan cahaya mentari pagi yang menerpa wajahnya. Tenang dan damai. Tidak ada tekanan apapun.

Suho melangkah kan kakinya. Sesekali ia menyibakkan rumput yang menjulang tinggi yang menghalangi langkahnya. Senyum tidak henti hentinya menghiasi wajah tampan Suho.

Sreeekkkk

Indra pendengaran nya menangkap sesuatu yang ganjil. Sebuah langkah yang diseret. Suho mengedarkan pandangan nya. Tapi ia tidak menemukan apapun.

Ugh! Suara itu datang lagi. Tapi kali ini terdengar lebih banyak. Banyak yang menyeret langkahnya. Ya ampun apa itu sadako? Kayako?

Bulu kuduk Suho berdiri, bohong jika ia mengatakan ia tidak takut sekarang. Kedua matanya terus melihat kesekeliling. Menatap cemas.

“Kau..” Suho membalikkan badan nya. Kedua matanya membelalak kaget. Selembar uang 10 ribu won berdiri dihadapan nya. Uang selembar itu begitu tinggi dan besar, bahkan tingginya melebih dirinya.

“A-apa yang kau mau?” Tanya Suho, keringat dingin telah mengalir deras pada pelipisnya.

“Apa yang kau maksud dengan kau?” Suho membalikkan badannya lagi.

Tubuhnya semakin bergetar kaget, tidak hanya satu, puluhan, bahkan mungkin ratusan, uang 10 ribu won yang sangat besar tengah mengerubuninya.

“A-apa yang kalian mau!” ucap Suho dengan susah payah. Uang itu tersenyum kecut. Kedua mata mereka menatap rendah Suho.

“Belanjakan kami”

“Mwo?!”

“Belanjakan kami!” dengan langkah cepat uang itu berlari mendekati Suho, mereka mengerubuni suho seperti seorang penggulat yang menindihi lawannya.

“YA! YA!YA!”

Suho bangun dari tidurnya. Nafasnya tersenggal senggal. Ia melihat kesekeliling, ia berada di tempat tidur, bukan di padang. Suho mengehela nafas lega, aih, beruntungnya dia.

“Ah, jadi ini mimpi buruk yang selalu ayah katakana padaku. Mimpi buruk seorang pewaris baru”

***

Chaesa melangkah kan kakinya. Diantara bahagia dan kesal. Bahagia karena tinggal satu tahun lagi ia harus bertahan, dan kesal karena sekolah adalah neraka baginya. Bukan karena fasilitas yang buruk, malah fasilitas disekolah itu sangat mewah. Bukan karena guru dan tugas disana, Chaesa malah sangat suka belajar dan mengurung diri diperpustakaan sekolah atau berada dihalaman belakang sekolah sambil membaca buku. Ini semua karena semua murid disana.

Semua murid disana adalah murid yang cerdas, dan memiliki otak yang sangat encer, kaya raya, sombong, dan ugh! Chaesa benci dengan orang yang terus menyombongkan dirinya dengan kekayaan yang jelas bukan milik mereka, tapi milik orang tua mereka.

Terlebih Chaesa benci enam orang yang sangat sombong.

Chaesa merutuki dirinya sendiri atas apa yang telah ia buat saat duduk du bangku junior high school. Ia begitu membangga banggakan sekolah Yeong Do tanpa tau bagaimana keadaan para siswanya.

Tidak ada siswa yang datang kesekolah menggunkan bus umum seperti dirinya. Semua siswa nya pasti mempunyai merek ponsel terbaru. Mereka melangkah dengan menarik dagunya ke atas, menandakan betapa kayanya dan berkuasanya dia. Cih!

Lampu sudah berubah menjadi tanda mempersilahkan para penyebrang jalan untuk melewat. Chaesa berjalan santai. Tidak ada wajah keceriaan yang terlihat pada wajahnya. Ia melirik jam yang ada ditangannya, masih pukul enam pagi. Bagus, dia masih punya waktu untuk sekedar meminjam buku diperpustakaan.

TTTIIITTTTTTT!!!!

Terdengar suara klakson panjang, seluruh pengguna jalan menatap kearah sumber suara. Wajah mereka begitu terkejut.

Sosok wanita tengah meringis kesakitan. Tubuhnya sempat terpental dua meter jauhnya. Chaesa tertabrak. Tidak ada luka serius, namun kedua lutunya berdarah karena terlalu memaksakannya untuk menahan dirinya.

“Agashi, neo gwenchana?” orang orang kini telah mengelilingi Chaesa. Chaesa meringis kesakitan.

Seorang ajhuma merentangkan tangannya untuk menolong Chaesa. Chaesa menyinggungkan senyum lalu menerima uluran tangan itu. Seorang ajhuma dengan badan gemuk menghampiri mobil yang baru saja menbrak Chaesa.

“Ya! Kau pria bodoh! Pagi pagi sudah membuat keribuatan! Cepat keluar dan bertanggung jawab!” ajhuma itu memukul mukul kasar kaca mobil itu. Seorang pemuda dengan perawakan badan tinggi langsung keluar.

Ia berwajah bodoh, wajah kaget, khawatir, dan takut terpancar jelas diraut wajah pria itu. “Ne, ne aku akan bertanggung jawab”

“Bawa agashi ini masuk mobil mu, kalau perlu bawa dia kerumah sakit!”

“Aniyo ajuma, aku tidak apa apa” elak Chaesa, ia membersihkan debu debu aspal yang hinggap diseragamnya.

“Apa? Ini tidak bisa apa apa, lututmu berdarah! Cepat masuk” seorang ajhuma mendorong paksa Chaesa masuk kedalam mobil pria jangkung itu.

Chaesa sedikit terharu akan perbuatan ajhuma itu, dia benar benar khawatir pada Chaesa, tapi rasa khawatir itu berujung pada hal yang tidak Chaesa suka. Sial, kenapa pria jangkung yang Chaesa benci yang harus menabraknya?

Chaesa duduk kursi disamping kursi kemudi. Pria jangkung bodoh itu juga ikut masuk, ia menatap Chaesa sebentar dengan wajah khawatir. Bahkan Chaesa tidak sudi hanya untuk menatap wajahnya.

“Gwenchana? Mianhae, aku mengantuk tadi, aku akan mengobatimu diruang kesehatan nanti”

Chaesa tidak mengatakan apapun. Ia hanya menatap jalanan lurus. Pria jangkung itu, atau Park Chanyeol melajukan mobil itu dengan kekuatan tinggi. Rasanya seperti orang munafik, ia begitu membeci Park Chanyeol namun sekarang dia duduk disamping Park Chanyeol itu. Dari ujung mata Chaesa, ia dapat melihat, si bodoh itu sesekali melirik Chaesa.

Chaesa meraih ponselnya lalu mengetikan beberapa kata disana. Ia menarik nafas dalam dalam, sungguh, ini akan jadi yang pertama dan terkahir kalinya untuk Chaesa. Berbicara dengan Chanyeol.

“Eum, kau turunkan aku di dipertigaan depan sana” ucap Chaesa dingin. Chanyeol melirik Chaesa dengan tatapan tidak percaya.

“Mwo? Tidak, aku akan mengantarmu sampai sekolah, lagi pula dari seragam yang kau pakai, kita satu sekolah kan? Aku akan bertanggung jawab” Ucap Chanyeol.

Chaesa mendelik kesal “Ayolah, ini bukan hal yang serius, seseorang sedang menungguku disana”

Chanyeol mengangguk kecil. Ia menurunkan Chaesa ditempat yang Chaesa inginkan. Pertigaan didepan sana.

“Aku sungguh menyesal” ucap Chanyeol. Chaesa menutup pintu dengan sedikit keras. Chanyeol masih menatapnya dengan tatapan menyesal.

“Bukan masalah”

***

Xiumin mentapa Chaesa kaget. Kedua lutut Chaesa berdarah, tapi ia tetap diam dan seperti tidak peduli.

“Ya! Ada apa dengan mu? Kenapa lututmu berdarah?” Tanya Xiumin, Chaesa tidak menjawab, ia hanya berjalan seperti orang pincang lalu masuk kedalam mobil Xiumin.

“Cepat kesekolah lalu obati lukaku. Nanti akan aku ceritakan”

***

Kyungsoo melempar apel ke atas lalu menangkapnya, melempar, menangkap, terus seperti itu. Wajahnya ditekut kesal. Bagaimana tidak, pagi pagi sekali Kyumi sudah mengerjainya dengan celana dalam milik pembantunya dirumah. Itu memalukan.

Harusnya Kyungsoo sadar, Kyumi sangat pandai memanjat, ia tidak mungkin membutuhkan bantuan Kyungsoo hanya untuk hal sekecil itu.

Kyungsoo mengacak acak rambutnya frustasi.

“Ya, wae geurae?” Kyungsoo memalingkan wajahnya. Di tatapnya sosok pria dihadapan nya sambil menatapnya bingung. Byun Baekhyun.

“Kyumi lagi?” Tanya Baekhyun.

Mendengar namanya saja sungguh sudah membuat kyungsoo ingin memaki siapa saya yang ada dihadapan nya.

“Baiklah, apa yang sudah membuat pagi mu kacau hari ini?” Tanya Baekhyun, ia mengambil apel ditangan Kyungsoo lalu mulai mengigitnya.

Kyungsoo mulai menceritakan bagaimana Kyumi memelas meminta Kyungsoo untuk meraih celana dalam merah muda milik wanita sampai ketika ajhuma dirumahnya terkejut dan berterima kasih banyak akan bantuan Kyungsoo.

“Sungguh, harusnya aku tau sekarang tanggal berapa” dumel Kyungsoo. Baekhyun tertawa terbahak bahak. Ia memegang perutnya dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanan nya masih memegang apel yang hanya tersisa setengah.

“Adik ku mengambil foto ku yang sedang tertidur, ish semua wanita jadi menertawakan ku. Ini menggelikan”

Kini Luhan yang mengeluh. Ia menjatuhkan dirinya di kursi dibelakang Kyungsoo. “Mwo? Sekarang dia akan menjualnya berapa?” Tanya Kyungsoo.

“Dia pasti sudah kaya dengan menjual foto foto ku”

“Oh, sehun ah, bagaimana pagimu hari ini?”

Sehun tersenyum kecil, ia melangkah menghampiri Kyungsoo, Luhan dan Baekhyun. “Seperti biasa, burung burung menyambut kedatangan ku. Sungguh menyenangkan”

“Mana Suho?” Tanya Baekhyun.

“Kau tidak perlu mencari dia, dia bahkan sibuk menjadi president sekolah”

“Chanyeol?” kali ini Sehun yang bertanya.

“Aku habis menabrak seseorang”

“MWO?!”

***

Krystal keluar dari mobil mewahnya. Rambut panjang hitam nya ia biarkan tergerai tanpa hiasan apapun dikepalanya. Baiklah, dia memang sangat cantik.

“Ya, lain kali kau harus menjalankan mobil ini lebih cepat, mau ku laporkan pada ayah eoh?” Krystal berjalan pergi meninggalkan sang sopir yang tengah mengelus dadanya. Menghadapi Krystal memang perlu kesabaran yang besar.

Krystal berjalan dengan angkuhnya. Sesekali matanya melirik kearah sekitar. Memberikan tatapan death glare yang membuat orang yang tengah membicarakannya terdiam seketika.

“Ya, aku tidak suka dengan Krystal”

“Nado, dia terlalu angkuh, mentang mentang dia dekat dengan president sekolah”

“Tidak hanya itu, dia juga dekat dengan Baekhyun, Luhan, Chanyeol, Kyungsoo, Sehun, dan Suho”

“Dia pasti penjilat yang luar biasa”

Krystal melipat kedua tangannya didepan dada “Ya aku penjilat, apa perlu aku menjilat kalian?”

Kedua orang itu menatap Krystal dengan tatapan kaget. Mereka lalu berjalan pergi meninggalkan Krystal. Wanita itu benar benar!

***

Chaesa meringis kecil, Xiumin memang sahabat yang sangat baik, dia mengobati luka Chaesa dengan sangat hati hati. Tidak begitu dalam lukanya. Namun jika tidak segera di obati akan berdampak buruk bagi Chaesa sendiri.

Xiumin menghela nafas lega, ia duduk disamping Chaesa. Menatap sahabatnya baik baik.

“Jadi kenapa kau bisa seperti ini?”

Chaesa menghela nafas sebentar lalu menatap Xiumin “Sudah ku katakan sibodoh itu menabrak ku”

“Kenapa kau tidak minta pertanggung jawaban dari nya?” Tanya Xiumin seperti seorang polisi yang tengah mengintrogasi narapidana.

“Bukankah sudah ku katakan padamu, aku benci, aku membenci mereka, aku benci keadaan tadi”

“Ck, aku bingung, hanya karena mereka kaya kau membenci mereka? Itu tidak logis Chaesa ya”

Chaesa menatap Xiumin dengan tatapan death glare.

“Baiklah, terserah apa katamu”

Chaesa melangkah pergi menjauh dari Xiumin. Dia kesal, orang  ini benar benar, bukan setahun dua tahun Chaesa dekat dengan Xiumin, tapi hampir lima tahun, tapi kenapa Xiumin masih belum mengerti dirinya. Dan kenapa Chaesa tidak bisa jujur pada Xiumin?

Bukankah dia sahabatnya? Bukankah mereka selalu bersama, tapi kenapa? Kenapa Chaesa masih belum percaya pada Xiumin. Harusnya dia berterimakasih pada Xiumin, karena sudah mau dengan sabar berteman dengan nya. Siapa lagi yang mau berteman dengan nya selain Xiumin?

Bahkan Xiumin tidak tahu bagaimana latar belakang keluarga Chaesa, Chaesa masih takut untuk mengatakan nya. Kenapa? Karena ia takut. Hanya itu jawaban nya.

Sesekali Chaesa meringis kecil, kedua lututnya sakit, tapi ia terus memaksakan nya berjalan, dia benar benar tidak mencintai tubuhnya. Pasti akan ada bekas luka nanti, ugh Chaesa tidak peduli, melihat ada kapas yang menempel pada lututnya ini, ibunya pasti sudah akan membelikan keperluan untuk Chaesa. Obat penyembuh, obat penghilang bekas luka, antiseptic.

“Eoh, kau wanita yang ku tabrak tadi, bagaimana keadaan mu?” Chaesa terus melangkah seolah olah ia tidak mendengar apa yang dikatakan pria jangkung itu-Park Chanyeol-.

Namun tanpa Chaesa duga, Park Chanyeol itu malah mengikuti Chaesa, dia mencoba menyamakan langkahnya dengan Chaesa. Namun Chaesa terus manatap lurus, tidak peduli.

“Kau mendengarku? Apa kau marah? Kau menolakku untuk bertanggung jawab, apa aku salah?maafkan aku” Chaesa menghentikan langkahnya. Ia menatap Chanyeol dengan tatapan dingin, tidak suka, dan menyebalkan. Chaesa melipat kedua tangannya didepan dada.

“Kau bisa lihat, apa aku baik baik saja, atau aku terlihat menyedihkan? Berhenti mengikutiku, tidak usah peduli padaku. Aku tidak mengenalmu” Chaesa kembali melangkahkan kakinya, namun sebuah tangan kekar menahan langkahnya. Dengan tatapan tidak suka Chaesa menatap pria yang telah berani menyentuh pergelangan tangannya.

“Apa kau pernah di ajarkan sopan santun? Bersikaplah baik pada seseorang yang sedang tulus menolong mu”

Pria dihadapan Chaesa menatap Chaesa dengan tatapan benci. Lebih dari Chaesa. Pria bername tag ‘Byun Baekhyun’ itu tidak melepaskan pergelangan tangannya.

“Apa aku mengenalmu?”

Chaesa melepaskan pergelangan tangannya. Ia melangkah pergi meninggalkan Chanyeol dan Baekhyun. Baekhyun mengedipkan matanya beberapa kali. Kaget. Biasanya orang orang akan mengelu elukannya, tapi ini malah dia bersikap tidak peduli. Apa dia benar wanita?

“Jadi wanita itu yang kau tabrak?” Tanya Baekhyun dengan tatapan tidak percaya. Chanyeol mendesah kecil lalu mengangguk.

“Wah, jika aku jadi dirimu, aku langsung akan kembali menabraknya sampai mati”

***

Wanita itu terus memperlihatkan senyum manis dibibirnya. Sesekali pria jangkung dihadapannya dengan sukses membuat wanita didepannya tertawa lepas. Wanita itu terus mencoba meraih bola yang dipegang pria itu, namun karena postur tubuhnya yang lebih pendek dari pria dihadapannya, wanita itu terpaksa harus mengalah. Lihat, pria itu-Kris- malah tertawa. Tertawa menertawakan lebih tepatnya. Wanita itu-Jung Hyemi- melangkah kakinya gontai kepinggir lapangan. Keringat bercucuran deras. Melihat itu Kris mengikuti Hyemi lalu ikut menjatuhkan dirinya disamping Hyemi.

Baekhyun menghela nafas pelan. Sialan! Kenapa mereka harus bermesraan dihadapan Baekhyun? Apa mereka sengaja bermesraan seperti itu?

“Jadi profesimu sekarang adalah seorang pengintip?” Baekhyun mendongakkan kepalanya, didapatnya Sehun dengan Bubble tea ditangannya. Hei, apa dia bodoh? Ini musim dingin tapi dia memakan Buble tea? Sehun yang mengerti dengan tatapan Baekhyun lalu mencoba menjelaskan.

“Seorang fans ku yang memberikan padaku, aku tidak sebodoh itu” Sehun memanyunkan bibirnya sebal. Sebal karena dikatai bodoh, walaupun memang begitu adanya.

“Jawab pertanyaan ku, jadi seorang kau menjadi seorang pengintip?” Tanya Sehun , lagi.

“Mwo? Untuk apa?”

“Karna kau cemburu”

“Aku? Ya, kau bercanda”

“Ani”

Baekhyun mendelikkan sebal. Ia bangkit dari duduk nya lalu melangkah pergi meninggalkan Sehun. Sial, dia memang selalu bisa membuat Baekhyun kembali kemasa lalu.

“Kau mau kemana?” Tanya Sehun sedikit berteriak.

“Kemanapun asal tidak ada kau disampingku”

“YA!”

***

Chaesa menatap pantulan dirinya dicermin. Rambut panjang nya yang lurus kini sudah berbentuk bergelombang. Poni yang biasa menghiasi dahinya kini ditarik kebelakang. Sebuah dres panjang berwarna putih tanpa lengan menghiasi tubuhnya.

Harusnya Chaesa ingat, kalau hari ini ada pertemuan penting yang harus Chaesa temui, ia pasti akan lebih berhati hati menjaga tubuhnya.

“Chaesa ya, kau sudah siap?” suara Chaerin eonni terdengar jelas di telinga Chaesa. Chaesa menghela nafas pelan.

“Ne, aku akan cepat turun”

Chaesa mengangkat dress panjang nya itu. Ugh! Baju ini benar benar menyusahkan.

Dia memang tidak akan mewarisi perusaan ayahnya, karena perusahaan itu sudah sudah sepenuhnya berada ditangan kakak nya dan kakak iparnya. Beruntungnya Chaesa hanya akan melanjutkan usaha ibunya.

“Omo omo omo! Lihat dirimu, dres itu pasti menyulitkan mu. Kau sih, kenapa tidak hati hati eoh?” ibu Chaesa menghampiri Chaesa yang kesulitan berjalan. Lihat betapa paniknya ibunya sekarang. Ada begitu banyak penyesalan di diri Chaesa. Dia seharusnya menurut naik mobil seperti yang ibunya bilang. Dengan begitu kecelakaan tidak akan terjadi, dan lebih baiknya lagi dia tidak akan bertemu Park Chanyeol. Ya ucapan ibu memang selalu benar.

“Apa masih sakit?” Tanya nyonya Shim. Chaesa memaksakan sebuah senyum kecil lalu menggeleng pelan.

“Aniyo, obat yang eomma berikan benar benar bermafaat, gumaweoyo” Chaesa memeluk Eommanya penuh kasih. Senyum lembut terlukis di kedua wajah mereka.

“Ah lihat betapa cantinya anak appa. Kalian baik baik disana. Chaerin, jaga adikmu baik baik arra?”

Chaerin terkekeh kecil. Dia menggandeng tangan Chaesa. “Aku tidak mungkin menyakiti adik ku sendiri”

***

“Jadi kau akan tetap datang?” Tanya Chanyeol yang tengah duduk di ambang tempat tidur Baekhyun.

Baekhyun membenarkan letak dasi yang sekarang tengah mengikat lehernya. Ugh. Dia benci datang ke acara seformal itu.

“Menurutmu siapa lagi? Aku anak tunggal disini”

Chanyeol menutup kedua matanya. Dia membenarkan letak topi yang tengah ia pakai. Terkadang jika mendengar cerita Baekhyun membuat Chanyeol merinding. Dibalik tawa nya, dibalik senyumnya, dia sangat menderita.

“Tidak ada niat kabur lagi?” Chanyeol menatap Baekhyun lekat lekat. Ada sebuah ide bodoh yang pasti akan membantu Baekhyun dari jeratan perintah orang tuanya.

“Kau ingat? Terakhir aku kabur, aku tidak sekolah selama seminggu. Appa benar benar menyiksaku”

Baekhyun meraih sebuah jas hitam yang tergantung tak jauh dari cermin lebar yang tengah menampilkan kopian Baekhyun. Lengkap sudah, jas dan dasi. Lihat, bahkan karena penampilannya sekarang tidak akan ada yang menyangka kalau dia seorang murid sekolah menengah akhir yang sebentar lagi akan menempuh ujian perguruan tinggi.

Chanyeol mengangguk kecil. Benar, ia ingat betul ketika dia datang menjenguk Baekhyun. Kamarnya begitu acak acakan, pecahan kaca, guci dan apapun itu berserakan dimana mana. Yang ia lihat Baekhyun tengah terbaring lemah dengan tubuh yang terbesit, seperti seseorang telah mencambuknya. Percaya tidak percaya, tapi ayahnya sendiri yang telah melakukannya.

“See, aku benar benar tampan sekarang?” Tanya Baekhyun pada Chanyeol. Chanyeol mencibir.

“Kau tidak lebih tampan dari seorang Park Chanyeol”

Tiba tiba pintu terbuka. Sosok pria yang berusia enam puluh tahunan itu masuk tanpa mengetuk pintu sedikitpun. Chanyeol yang kaget langsung terdiri disamping Baekhyun. Pria itu menatap tajam kearah Baekhyun dan Chanyeol.

“Aku kira kau akan kabur. Cepat pergi, acaranya akan dimulai sebentar lagi” ucap tuan Byun tanpa berbasa basi, atau sekedar mengucapkan jika ankanya itu tampan dan gagah. Baekhyun mengangguk kecil.

“Jika aku diperbolehkan aku ingin sekali kabur” Chanyeol membulatkan. Ya ampun berani sekali anak ini.

“Bahkan tidak dalam mimpimu” Appa Baekhyun melirik kearah Chanyeol, tatapannya semakin tajam. Chanyeol benar benar kikuk. Dia membungkukkan badannya. Biarpun sudah bersahabat dengan Baekhyun sejak dalam kandungan, tapi benar benar sulit hanya untuk berbicara hal ringan dengan ayahnya itu.

“Annyeong haseyo ajjushi” tuan Byun tidak mengucapkan apapun. Dia melangkah pergi meninggalkan Baekhyun dan Chanyeol.

Setelah punggung tuan Byun menghilang Chanyeol menjatuhkan dirinya dikasur milik Baekhyun “Ya tuhan, aku benar benar kaget. Sungguh!”

***

Gedung yang menjulang tinggi itu benar benar sudah di penuhi oleh beberapa orang penting berdasi dan wajah serius mereka. Mereka tidak peduli dengan orang lain. Tatapan nya lurus kedepan dan langkahnya yang panjang panjang sudah mengatakan jika mereka orang orang berkelas yang sibuk.

Baekhyun menatap kesekeliling. Ia menghela nafas kesal. Ia tidak suka dengan suasana seperti ini. Ini bukan dunianya. Lebih baik terus terusan bersama Chanyeol dan dianggap homo dari pada harus berada disini. Ugh! Sial. Lagi lagi ia terjebak dalam permainan yang dibuat oleh ayahnya.

Acara hari ini adalah peresmian kerja sama antara perusahaan milik ayahnya Byun dan perusahaan milik keluarga Shim. Seketaris Baekhyun menyadarkan dari lamunan Baekhyun.

“Tuan, kita duduk sana” sekertaris Cha menunjuk sebuah kursi. Baekhyun mengangguk kecil lalu berjalan kearah kursi yang di tunjuk.

Baekhyun duduk dengan tenang. Kedua matanya terus mengamati orang orang yang tengah sibuk dengan kertas dan laptop milik mereka. Sebenarnya sesibuk apa mereka sampai tidak menghiraukan calon pengurus perusahaan Byun Coperation?

Kedua manic mata Baekhyun membulat seketika. Ia menangkap sosok perempuan dengan dress putih panjang tanpa lengan. Bahkan ia tidak dapat melepaskan pandangannya. Wanita itu membuat Baekhyun tidak dapat berkedip. ‘Cantik’ hanya itu yang mampu Baekhyun cerna.

Tapi tunggu, sedang apa dia sini? Apa mungkin dia salah satu dari orang orang dengan otak yang dipenuhi dengan kata kerja disana?

“Sekertaris Cha, kau tau siapa mereka?” Baekhyun menunjuk wanita ber dress putih panjang-Chaesa- dan seorang wanita dengan dres merah jambu di atas lutut-Chaerin-.

Sekertaris Cha melihat kearah yang ditunjuk oleh Baekhyun. Senyum merekah terlihat jelas di bibir sekertaris Cha.

“Mereka berdua anak dari tuan Shim, yang bekerja sama dengan perusahaan anda”

Baekhyun terdiam. Anak dari tuan Shim. Yang bekerja sama dengannya. Itu artinya dia bekerja sama dengan Chaesa? si gadis angkuh yang sangat sombong itu?

“Jadi aku akan berhubungan dengan Chaesa?” Tanya Baekhyun. Sek Cha menoleh kearah Baekhyun dengan tatapan kaget.

“Jadi anda mengenalnya?”

“Secara teknis, aku tau dia, tidak saling mengenal” Sek Cha mengangguk kecil.

“Yang memakai dres merah jambu itu Shim Chaerin, anak pertama dari tuan Shim. Dia sudah menikah, dan perushaan Shim ini diserahkan sepenuhnya kepadanya. Yang memakai dress putih itu adiknya, Shim Chaesa. saya benar benar terkejut bisa melihatnya. Bisa dibilang dia orang yang anti social. Bahkan jarang sekali orang yang tau jika Shim Chaesa anak dari tuan Shim”

Baekhyun mengangguk kecil.

“Bisa kau jelaskan tentang Shim Chaesa?”

“Shim Chaesa itu penerus perusaan butik milik nyonya Shim yang memiliki dua puluh cabang di korea, dan tiga puluh cabang di luar negri, seperti Jepang, China, Belanda, Amerika, dan Singapore. Tapi saya benar benar baru melihat Shim Chaesa secara live seperti ini. Saya pernah mendengar dari Shim Chaerin jika Chaesa ini sangat merahasiakan tentang latar belakang keluarganya”

Baekhyun mengerutkan dahi. “Kenapa?”

“Jika itu masalahnya saya juga tidak tahu”

Baekhyun tersenyum kecil. Jadi pewaris ini ingin bersembunyi sembunyi? Baiklah, bisa diatur.

***

Pukul enam tepat. Baekhyun tersenyum kecil. Suasana pagi hari disekolah benar benar menyenangkan. Udara yang segar dan yang lebih baik adalah tidak ada jeritan atau teriakan wanita yang membuat Baekhyun menutup kedua telinganya dengan earphone dengan volume penuh.

Baekhyun melangkahkan kedua kakinya kearah ruang tempat biasa kluc balet latihan. Baekhyun tersenyum kecil. Ingatan yang menyesakkan kembali terekam ulang dalam otaknya.

“Oh, Oppa. Kau menungguku disini?” Baekhyun mendongakkan kepalanya. Perempuan dengan bandana pita besar melekat dirambut hitamnya tersenyum kecil kearah Baekhyun.

“Oppa, disini dingin. Kenapa tidak masuk?” Tanya nya lagi. Baekhyun hanya tersenyum kecil. Sebenarnya dia kedinginan, sebenarnya tubuhnya menggigil, tapi untuk wanita dihadapannya, dia rela kedinginan. Bahkan sampai sakit pun dia rela.

Wanita itu meraih kedua tangan Baekhyun. Di genggamnya erat. Sebuah kehangatan menjalar keseleruh tubuh Baekhyun. Sial dia terjebak.

Baekhyun mengehela nafas. Banyak sekali kenangan di tempat ini, kenangan dirinya dengan teman teman disekitarnya, namun kenapa malah ingatan tentang wanita itu yang dia ingat. Kenapa ingatan tentang hari dimana wanita itu sukses membuat hati Baekhyun berdebar sangat kencang?

                Baekhyun terlonjak kaget. Ia mundur beberapa langkah. Wanita yang tadi telah membuatnya flash back sekarang tengah menantapnya dengan tatapan yang sama kagetnya dengan nya. Keningnya mengkerut

“Baekhyun ah, sedang apa kau disini?’ Tanya wanita itu- Jung Hyemi- Baekhyun mengedipkan kedua mata berulang ulang. Mencoba memikirkan jawaban apa yang akan dia berikan pada Hyemi.

“Merindukan ku?” Tanya Hye Mi dengan nada mengejek. Baekhyun menatap Hyemi dengan tatapan tajam, tidak suka. Hyemi melipat kedua tangannya didepan dada. Seolah olah menantang Baekhyun dengan pertanyaan nya tadi.

“untuk apa aku merindukan mu?” Tanya Baekhyun dengan nada sedingin mungkin. Meski terelihat aneh.

“Kau masih mencintaiku kan? Kau masih belum dapat berpindah hati dari ku kan? Bakan sampai sekarang aku belum pernah melihat mu dekat dengan wanita lain. Sepertinya kau benar benar mencintaiku”

Damn! Wanita ini baru saja menjatuhkan nya? Dia pikir siapa dia berani mempermalukan seorang Byun Baekhyun.

“Aku sudah punya seorang yeojachingu”

“Oh benarkah?”

“Dia jauh lebih baik dari pada kau, penjilat”

***

Krystal menjijitkan kedua kakinya. Mencoba melangkah dengan langkah sepelah mungkin dan tidak terdengar. Kepalanya menatap kesekeliling, mencoba mengawasi. Meskipun ia tahu tidak akan ada seseorang yang datang kesekolah pukul enam pagi kecuali orang orang yang sangat pintar.

Kepalanya menyembul. Meskipun ia berada diluar ruangan, tapi ia masih mendengar suara alunan music gendre R&B.

Tubuhnya begitu lihai menari, lentur dan ugh sexy! Kedua mata Krystal meleleh. Lututnya lemas. Ia pasti sudah sangat bersalah karena sudah mengintip seseorang yang tengah menari.

Pria itu berhenti menggerakkan tubuhnya. Ia memicingkan kedua matanya kearah kaca besar yang ada dihadapannya. Kedua matanya menangkap sosok wanita yang berada dijendela. Satu hal yang perlu Krystal pelajari saat ini. Cermin itu memantulkan.

***

Baekhyun menendang pintu lokernya dengan keras. Sial harga dirinya jatuh begitu saja karena mantan kekasihnya itu.

“Kau gila?!”

Buk!

Satu tendangan lagi meluncur bebas pada loker besi dihadapan Baekhyun. Suara nya begitu menggema.

Chaesa baru saja datang. Dia menyimpan payung dan beberapa buku ke dalam loker. Baekhyun menatap Chaesa dengan tatapan tajam, namun ia tidak mengeluarkan sepatah katapun. Chaesa melangkah dihadapan Baekhyun. Tidak mengeluarkan sepatah katapun, seperti seseorang yang tidak mengenal sebelum nya.

“Ya! Nyonya Shim!” ucap Baekhyun dengan nada lantang. Tapi sosok didepannya tidak bergeming. Ia tetap berjalan, dan menganggap ucapan Baekhyun angin lalu.

“Ya! Tidak perlu berpura pura tidak mendengar, nyonya Shim, calon penerus butik milik nyonya Kim Seul ah yang memiliki dua puluh cabang dikorea dan tiga puluh cabang di luar negri”

Chaesa menghentikan langkahnya seketika. Kedua matanya membulat kaget. Bagaimana bisa dia tau. Chaesa membalikkan badannya. Dia melangkah mendekati Baekhyun dengan senyum mengejek.

“Omo omo, apa aku mengatakan kata rahasia?” Baekhyun menutup mulutnya dengan kedua tangan seperti seorang wanita yang baru saja membocorkan rahasia besar.

“Apa yang kau mau?” ucap Chaesa dengan tatapan benci. Baekhyun menurunkan kedua tangannya lalu tersenyum yang dibuat buat sangat manis.

“Aku? Aku mau kau jadi pacar ku”

-TBC-

 

17 thoughts on “(Part 1) You Don’t Know everything

  1. itu baekhyun langsung to the point aja yaa? okey baekhyun aku mw koq jadi pacar kamu ///plaaak/// *abaikan*..aku readers baru, salam kenal buat author🙂

  2. wawwwww makin seru…
    di awal2 td byk bgian yg membuat q g brenti ngakak… tp mkin k akhit, mkin srius, tp q suka !
    q lnjt bca ya…

  3. jiahhhh,,,
    baeky muncullll jadi pria yang menyebalkan (lho,,,kok,,,heheh)
    ceritanya menarik,,bikin penasaran…
    lanjut yaaa…hehehe..
    gomawoyo🙂

  4. anyeong
    ya ampun, baru awal sudah di jadikan pelarian baekhyun ,keke apa mereka akan sering bertengkar?
    haha ya ampun suho itu mimpinya kayak mimpi tuan crap(sepogebob)*benernggakyatulisannya*hehe

    @_@fighing

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s