Maid 90 days // Chapter 2A

maid

Title // Maid 90 days

Author // Redbaby

Main Cast // Oh Sehun – Kim Seulgi – Park Daehyun – Choi Jinri

Genre // Romance – School Life

Note : FF ini terisnpirasi dari salah satu Anime yang aku tonton jadi kalau ada kesamaan cerita,itu di karena FF ini biased from a Anime^^ tapi alur cerita keseluruhan murni dari pemikiran aku sendiri hanya.

_Happy Reading_

Teaser // Chapter 1

Takdir mempertemukan mereka.

Pertemuan dan juga sebuah janji.

keepakatan untuk saling membantu.

“Yoboseyo?”

“Cepatlah kau ke kamarmu!.” Jawab orang di seberang telepon itu. Sementara Seulgi mengernyitkan alisnya penuh tanya.

Tanpa basa basi Seulgipun menuruti perkataan orang itu dan langsung menuju ke kamarnya.

“Cepat buka jendela kamarmu!.”

Kemudian iapun membuka gorden serta jendela kamarnya. Betapa terkejutnya ia mendapati seorang laki-laki berdiri di seberang jendela dengan rambut yang acak-acakan, terlihat sekali bahwa ia baru saja bangun tidur.

“Haaaaaaaaaaah.”

“Aku lapar.”

***

Kedua matanya melebar saat seorang Oh Sehun berada tepat di hadapannya. Laki-laki itu berada bersebrangan dengannya. Jendela kamar mereka hanya berjarak tiga meter.

Sehun menatap Seulgi datar. Sesekali ia menguap sambil mengusap matanya. Laki-laki itu baru bangun tidur, terlihat jelas dari rambutnya yang berantakan. Namun demikian walau penampilannya seperti itu tidak mengurangi kesan tampan di wajahnya.

“Dari mana kau tahu rumahku dan juga…apa kau selalu mengintipku?” Seru Seulgi dengan mata yang terbelalak masih dengan posisi ponsel yang menempel di telinganya.

“Aku tidak serendah itu.” Sahut Sehun santi sambil menguap. “Aku selalu melihatmu masuk ke apartemen itu, jadi aku tahu rumahmu, dan soal aku tahu kamarmu itu…karena kau selalu menyanyi dengan keras dan selalu meneriaki nama Daehyun.” Jelas Sehun yang masih menempelkan poselnya di telinga. “Itu yang membuatku terganggu dan akhirnya aku tahu pemilik suara cempereng itu adalah kau.”

Walau mereka berdua berhadapan karena jendela mereka berdekatan, mereka tetap berbicara melalui ponsel yang masih setia menempel di telinga keduanya. Sepertinya mereka lupa kalau sekarang mereka bertatapan langusung dan lupa untuk mematikan ponselnya.

Mata gadis itu membulat. Pipinya terasa panas setelah mendengar penjelasan Sehun. Ia sangat malu sekarang. Ingin rasanya ia menyumpal mulut laki-laki itu agar ia tak terus menerus mengatakan tentang kelakuan gilanya tiap malam. Bodohnya dia tidak menyadari kalau tetangganya akan mendengarnya bernyanyi tiap malam. Terlebih tetangganya itu adalah Oh Sehun teman sekelasnya. Kenapa dia sampai tidak tahu kalau laki-laki itu tinggal dekat dengannya.

“Se..sejak kapan kau mendengarnya? Sejak kapan kau tinggal di sana?”

“Satu minggu.”

Oh tidak. Seulgi sangat malu sekarang. Bagaimana jika seandainya laki-laki itu memberitahu Daehyun dengan kelakuan gilanya? Bagaimana kalau seluruh sekolah tahu akan hal itu? Bagaimana kalau Daehyun marah karena ia sudah membuat malu laki-laki itu? Bagaimana kalau…

“Sebaiknya aku memberitahu Daehyun akan hal ini.” Gumam Sehun sambil merapikan rambutnya yang berantakan. Walau hanya gumaman kecil, namun Seulgi mendengarnya lewat ponselnya. Matanya kembali melebar serta jantungnya yang berdebar cepat.

“Ja…jangan…jangan…aku mohon jangan beritahu apapun pada Daehyun.” Seulgi memohon sambil mengibaskan kedua tangannya kehadapan Sehun dengan tangan kanan menggenggam ponselnya.

Kalau semua itu terjadi tamatlah riwayatnya kali ini. Sementara Sehun memiringkan sedikit kepalanya sambil mengangkat bahu. Ia tersenyum kecil melihat Seulgi yang memohon seperti itu. Ada rasa yang menggelitik di perutnya melihat wajah gadis itu memerah. Ingin rasanya ia tertawa lebar.

Seulgi memberengut melihat Sehun yang tertawa lepas. Laki-laki itu benar-benar menyebalkan. Mimpi buruk apa yang di alaminya sampai ia harus menghadapi laki-laki seperti itu. Bagaimana caranya ia bisa membalas Sehun ya?

Oh, ia tahu…

“Bagaimana kalau aku juga memberitahu Jinri tentang surat cinta yang kau buat untuknya.” Katanya “Sepertinya itu akan menjadi hot topic di sekolah.” Ancam Seulgi pada akhirnya. Kini giliran Sehun yang terbelalak mendengar ancaman Seulgi.

“Bagaimana menurutmu, Oh Sehun? Apakah aku harus melakukannya?” Goda Seulgi dengan tersenyum licik ke arah Sehun. Benar… dengan begini laki-laki itu tak akan berani macam-macam padanya, bukan? Rahasia terbesar Sehun ada padanya dirinya. Dan sebaliknya rahasia terbesar Seulgi ada di tangan Sehun.

“Katakan saja. Aku laki-laki dan tidak masalah kalau aku mengatakan perasaanku pada seorang wanita…sedangkan kau?” Balas Sehun mengancam “Aku yakin kau akan frustasi di tolak oleh laki-laki yang kau sukai.”

Kini kemenangan berpihak pada Sehun. Kata-katanya ada benarnya juga. Mental seorang laki-laki berbeda dengan wanita. Seulgi tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengannya nanti kalau Daehyun menolaknya. Apakah ia akan frustasi seperti yang di katakana Sehun, atau malah akan lebih parah…

Seulgi menggelengkan kepalanya menghilangkan pikiran buruk di kepalanya.

“Katakan apa maumu, Oh Sehun?” Tanya Seulgi tajam.

Alis Sehun mengernyit, lalu membuka mulut sambil mencondongkan tubuhnya ke depan. “kau harus membantuku mendekati Jinri, karena aku tahu kau adalah sahabatnya.”

Seulgi mengangkat sebelah alisnya lalu berkata “Hanya itu? Baiklah. Itu sangat mudah bagiku.” Sahut Seulgi percaya diri.

“Tidak.” Sahut Sehun cepat “Kau juga harus menuruti semua perintah dan kemauanku selama tiga bulan.” Lanjut Sehun sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Laki-laki itu tersenyum kecil, lalu menambahkan “Kalau kau tak mau…”

“B…Baikalah…” Sela Seulgi dengan cepat. Ia tahu apa kata-kata selanjutnya yang akan keluar dari mulut laki-laki itu.

“Oke…kita sudah sepakat. Kalau kau mengingkarinya…”

“Aku akan memberitahu Daehyun tentang hal ini” Sela Seulgi lagi, melanjutkan kata-kata yang ia tahu akan berbunyi seperti itu.

“Bagus kalau kau sudah mengerti. Sekarang cepat buatkan aku sarapan.” Perintah Sehun, lalu berbalik dan menutup gorden jendalanya.

Seulgi mendesah kesal. Oh, baiklah. Awal musim gugur merupakan awal yang buruk baginya. Penderitaan macam apa yang akan di laluinya di waktu-waktu mendatang? Sungguh misteri.

***

Sekilas ia melirik ponsel yang bertuliskan nomor apartemen yang di kirimkan oleh laki-laki itu. Ya benar. Nomor 60 tak salah lagi, pikirnya. Gadis itu menatap intercom yang terpasang di samping pintu, menekan bel apartemen Sehun berulang-ulang. Setelah menunggu beberapa detik dan tidak mendapat jawaban, ia menghela napas panjang. Tentu saja, ia belum tahu bahwa Sehun belum bangun dari tidurnya saat usai meneleponnya beberapa waktu yang lalu.

“Kemana dia?” Gumamnya pelan.

Gadis itu masih berdiri menghadap intercom. Sebelah tangannya terangkat sekali lagi hendak menekan bel, tetapi tidak jadi. Tangannya di turunkan kembali. Ia mendesah pelan lalu mengangkat tangannya kembali, tapi sekarang tidak untuk menekan bel melainkan mendorong pintu apartemen itu perlahan karena ia baru menyadari kalau pintu itu tidak terkunci. Mungkin Sehun sengaja membuka kuncinya karena tahu Seulgi akan datang dan membiarkannya masuk ke dalam tanpa repot-repot membukakan pintu untuknya.

Seulgi memasuki apartemen itu perlahan. Awalnya ia ragu untuk melangkahkan kakinya. Dengan langkah hati-hati ia melangkah lebih dalam memasuki ruangan berukuran luas itu. Kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan menyusuri seisi ruangan.

Di lihatnya sebuah tv yang masih menyala di tengah ruangan. Apakah tv nya selalu hidup sepanjang malam dan laki-laki itu tak mematikannya? Batinnya. Ruangan itu begitu gelap, hanya di sinari oleh cahaya tv yang menyala. Jendela ruangan itu tak pernah terbuka membuat suasana di dalamnya terasa lembab.

“Hello! Apakah ada orang di sini?.” Serunya. Mungkin ia terlalu lancang masuk ke rumah orang tanpa seijin pemiliknya. Tapi ia sudah berada di sini sekarang, ia tak dapat kembali. Itu di karenakan ia telah sepakat dengan perjanjian konyol itu.

Hening. Tak ada suara yang menyahut. Seulgi secara perlahan mencari saklar lampu karena keadaan ruangan yang gelap, walau ada sinar tv yang menyala tak cukup untuk membuatnya dapat melihat dengan jelas.

Bingo!. Ia menemukan saklar lampunya. Dan—

Apakah ruangan apartemen mewah seperti ini? Apartemen ini tak layak di sebut mewah, lebih tepat kalau dikatakan tempat pembuangan sampah. Seulgi memperhatikan seluruh ruangan apartemen itu. Tak ada yang membuat matanya kagum dengan ruangan besar itu. Apakah semua laki-laki tidak pernah memperhatikan kebersihan. Dan apakah rumah seorang laki-laki selalu berantakan seperti itu?

“Apakah aku harus membersihan semua ini?” Gumam Seulgi sambil berjalan perlahan melewati lantai yang di penuhi dengan bungkusan makanan serta pakaian yang tak berada pada tempatnya.

“Sepertinya memang harus begitu.”

Seulgi melirik jam tangannya. Pukul 07.15 ada sekitar lima belas menit untuknya untuk membereskan semua itu sebelum jam sekolah mulai. Sekali lagi jiwa kebersihannya menyerang dirinya. Ia tak peduli apakah si pemilik rumah mengijinkannya atau tidak. Yang jelas ia harus membersihkan ruangan itu.

Percayalah sedikit apapun waktu yang di miliki gadis itu, ia pasti akan menyelesaikan semuanya dengan rapi.

***

Sehun mengerjapkan kedua matanya saat berdiri di ambang pintu kamarnya menatap ke sekeliling ruangan apartemennya. Ia menyipitkan matanya melihat keadaan partemennya yang tiba-tiba berubah drastic dalam waktu satu malam. Apa yang terjadi? Seingatnya semalam apartemennya masih dalam keadaan berantakan.

“Ini pertama kalinya aku melihat apartemen seperti pembuangan sampah. Aku benar-benar mual melihatnya. Jadi aku putuskan untuk membersihkannya. Dan kau bisa lihat sendiri, kan hasilnya? Jauh lebih baik dari sebelumnya.” Jelas Seulgi sambil mengeringkan piring dan gelas yang sudah ia cuci.

Sehun meletakkan tas sekolahnya di sofa ruang duduk. Laki laki itu menoleh ke arah Seulgi yang berada di dapur lalu berkata “Kau benar-benar berbakat menjadi seorang pelayan.” Ucap Sehun dengan nada yang di buat-buat seolah ia kagum pada Seulgi. Sehun tertawa puas telah berhasil membuat Seulgi memberengut kesal.

Namun kepuasannya itu hanya bertahap beberapa detik saja setelah sesuatu menghantam kepalanya.

Sehun meringis sambil mengusap kepalanya dan mendapati sebuah wortel tergeletak di bawah kakinya. Rupanya Seulgi melempar Sehun dengan wortel berukuran kecil dan tepat mengenai kepala laki-laki itu.

“Hanya ada mie instan dan wortel itu yang ada di dapurmu. Jadi cepat kau makan sarapanmu sebelum kita terlambat ke sekolah.” Sahut Seulgi di sertai tawanya yang menggelegar. Kini giliran gadis itu yang puas telah membuat laki-laki itu meringis kesakitan dan memberengut kesal seraya berjalan menuju meja makan.

***

“Dengar! Aku tak tahu takdir apa yang telah mempertemukan kita berdua. Tapi aku yakin Tuhan sudah mempermudah jalan kita untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, dengan takdir ini. Aku harap kita bisa bekerja sama untuk mendekati target masing-masing. Kau harus menjadi penengah buatku dengan Daehyun, dan aku akan menjadi penengah antara kau dan Jinri, bagaimana?” Tawar Seulgi seraya menoleh ke arah Sehun yang juga balas menoleh Seulgi.

Sehun mengangguk mantap menyetujui tawaran Seulgi. Setelah di pikir-pikir, ucapan gadis itu ada benarnya juga. Tuhan telah mempermudah jalannya untuk mendekati Jinri dengan adanya Seulgi yang akan menjadi penengah buatnya begitu juga sebaliknya.

“Tapi kau jangan lupa dengan perjanjian kita, kalau kau akan menuruti perintahku selama tiga bulan kedepan. Aku mau di hari natal nanti, aku bisa menyatakan perasaanku pada Jinri.”

“Sejak kapan kau menyukainya?”

“Lima tahun yang lalu.”

“Wah. Kau benar-benar hebat, Oh Sehun.” ujar Seulgi tersenyum lebar seraya menoyor kepala laki-laki itu. Sehingga membuat Sehun terhuyung ke depan dan memberengut kesal.

Seulgi tahu Jinri, Daehyun dan Sehun sudah berteman sejak mereka duduk di bangku SMP dan akhirnya mereka bertemu lagi dan di satukan dalam kelas yang sama. Sungguh sebuah takdir yang menarik, bukan?

Ia berharap semoga suatu saat nanti mereka mendapatkan kebahagian yang mereka harapkan. Termasuk dirinya, yang berharap mendapat seseorang yang bisa membuat hidupnya bahagia.

***

“Seulgi-yaaa”

Sehun dan Seulgi sontak berhenti dan menoleh ke arah sumber suara. Tak jauh dari posisi mereka terlihat Jinri melambaikan tangan dan tersenyum lebar ke arah keduanya.Jinri berlari kecil menghampiri mereka berdua. Dan Seulgi balas melambaikan tangan seraya tersenyum lebar. Sementara itu Sehun sontak melempar pandangannya ke sembarang arah saat melihat Jinri menghampiri mereka.

“Senang bertemu denganmu lagi.” Ucap Jinri gemas sambil mencubit pipi Seulgi dan menggoyangkannya ke kiri dan ke kanan. Beginilah kalau gadis itu bertemu dengan sahabatnya. Ia akan memeluknya erat, mengacak-acak rambutnya dan mencubit pipinya seperti yang di lakukannya sekarang.

Jinri melepaskan cubitannya dari pipi Seulgi saat menyadari kehadiran Sehun di sana. Sementara Seulgi langsung mengelus-elus kedua pipinya sambil bergumam pelan. Jinri kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Sehun yang saat itu lebih memilih memandang arah lain.

“Annyeonghaseyo Oh Sehun.”

Seketika napasnya tercekat saat mendapati wajah Jinri berada tepat di depannya—begitu dekat—malah. Detak jantung laki-laki itu berdetak begitu cepat. Pipinya memanas dan wajahnya memerah saat kedua matanya memandang jelas wajah itu. Senyuman itu.

Kenapa di saat seperti ini otaknya malah melambat untuk bekerja. Seakan seluruh saraf otaknya tak berfungsi untuk menyalurkan perintah ke seluruh anggota tubuh lainnya. Ia ingin menjauhi wajah itu, ia ingin berlari. Tapi kenapa terasa sangat susah?

Jinri mengibaskan kedua tangannya di depan wajah laki-laki itu. Satu detik, dua detik, tiga detik…

Sehun mengerjapkan kedua matanya. Ia tersadar dari lamuannya. Lalu melemparkan pandangannya ke arah lain sambil berusaha bersikap normal. Sehun berdehem sebelum mengeluarkan suaranya “H…Hai.”

“Sepertinya akhir-akhir ini kalian selalu terlihat bersama.” Katanya sambil menatap keduanya bergantian “Apa kalian pacaran seperti gossip yang beredar di sekolah?” Tanya Jinri sambil menangakupkan kedua tangannya di depan dada dan menopang dagunya dengan sebelah tangannya seolah sedang mengintrogasi keduanya.

“APA?” Sahut keduanya bersmaan.

“Kau salah paham JInri.”

“Iya kau salah paham, itu hanya gossip. Kau jangan mempercayai gossip seperti itu.”

“Kami hanya berteman tidak lebih.”

“Tolong jangan percaya mereka.”

Mereka berdua secara serempak berusaha menjelaskan hingga tak sadar Jinri menatap keduanya bergantian berusha mendengar apa yang mereka katakan.

“Kau harus percaya pada kami…”

Bersamaan dengan ucapan Seulgi barusan, bus mucul dan berhenti di depan mereka bertiga.

***

Tak heran semua murid di sekolah selalu memperhatikan mereka berdua bahkan sebuah gossip mengatakan kalau mereka adalah sepasang kekasih. Mereka berpikir bahwa seorang Oh Sehun yang mengerikan bisa dekat dengan seorang gadis. Selama empat hari belakangan ini Sehun dan Seulgi terlihat selalu berangkat dan pulang sekolah bersama. Itu di karenakan apartemen keduanya berdekatan.

“Jadi apartemen kalian bersebelahan?” tanyanya memastkan “Kenapa aku tidak tahu, ya?” lalu bergumam pelan sambil memakan roti isinya. Seulgi mengangguk mengiyakan.

Mereka bertiga sedang menyantap makan siangnya saat jam istirahat mulai sejak beberapa menit yang lalu. Sehun diam tak mengeluarkan sepatah kata dan hanya menunduk sambil menyantap bekal yang selalu dibuatkan Seulgi tiap pagi.

Bagaimana ia bisa menegakkan kepalnya ke depan, kalau Jinri duduk tepat di depannya. Menatapnya saja ia gugup apalagi berbicara dengannya. Sejak Sehun mengenal Jinri lima tahun silam, ia sama sekali gugup jika berhadapan dengan gadisi itu. Entah apa yang membuatnya menyukai gadis itu hingga sekarang. Tapi yang jelas ia mengagumi senyum manis gadis itu.

“Hei, kenapa kau diam? Kau sakit, Sehun-ah?” Tanya Jinri pada Sehun yang di lihatnya hanya diam dan lebih memilih menunduk. Ia mengira laki-laki itu sakit.

Sehun tertegun. Ia mendongak sambil memaksa tersenyum. “Aku tidak sakit.” Jawab Sehun sekenanya.

“Tapi kenapa kau hanya diam saja?” Tanya gadis itu lagi. Baru saja laki-laki itu membuka mulut menjawab pertanyaan Jinri, Daehyun menghampiri mereka lalu menyapa.

Tertolong. Dia harus berterima kasih pada Daehyun karena telah menyelematkannya untuk tidak perlu menjawab pertanyaan gadis itu. kau tahu apa alasannya, bukan?

“Boleh aku bergabung dengan kalian?”

“Tentu saja boleh. Ayo, duduklah.” Sahut Sehun cepat. Daehyun terseyum lalu mengambil duduk di samping Jinri dan tepat berada di depan Seulgi.

Gadis itu langsung menunduk malu. Sehun kemudian menoleh ke arah Seulgi. Ia tahu kalau gadis pasti akan langsung malu dan gugup sama seperti dirinya.

Seulgi menunduk sambil terus memakan bekalnya dengan cepat. Ia berdoa dalam hati agar bel masuk cepat berbunyi dan ia tak lagi gugup seperti ini.

Baiklah apakah sekarang saatnya untuk menjalankan rencana mereka? Sepertinya iya.

“Daehyun-ah, kau sudah makan?” Tanya Sehun lalu kemudian mengendikkan kepalanya kearah Seulgi.

“Kau tahu? Seulgi jago lho memasak. Apa kau mau mencicipinya, Daehyun-ah?”

Seulgi tertegun lalu menoleh Sehun yang menatapnya dengan tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Kau tidak bercanda kan, Oh Sehun?

Sehun mengendikkan sebelah matanya sebagai tanda bahwa ini kesempatan bagus.

“Benar kan Kim Seulgi?”

“Wah, yang benar? Boleh aku mencicipinya?” Daehyun begitu antusias dan ingin mencicipi bekal yang Seulgi bawa.

“Tentu.” Sahut Sehun cepat lalu meraih kotak bekal Seulgi tanpa ijin gadis itu. Seulgi terbelalak saat mendapati bekalnya sudah berpindah tangan dan sekarang Daehyun mengambil telur dadar goreng dengan tangannya.

Ini benar-benar gila. Bagaimana kalau telur dadar itu tidak enak? Bagiamana kalau Daehyun menertawakannya karena masakannya ternyata tidak selezat yang ia pikirkan. Kalau saja itu terjadi orang pertama yang akan ia salahkan adalah laki-laki disampingnya itu.

Seulgi menanti reaksi Daehyun setelah ia memasukkan telur dadar goreng ke mulutnya. Sementara Sehun hanya tersenyum kecil melihat ekspresi gadis itu.

Dua detik kemudian…

“Boleh aku mengambil satu lagi? Sepertinya aku menyukai telur dadar buatanmu.” Ucap Daehyun. Laki-laki itu tersenyum lalu mengambil lagi telur dadar yang hanya tersisa satu di kotak bekal Seulgi setelah gadis itu mengangguk mengiyakan permintaan Daehyun.

Tentu saja ia mengijinkannya. Bila perlu ia akan memberikan seluruh bekalnya untuk laki-laki itu jika ia mau.

“Yang benar?” Sahut JInri tiba-tiba. Gadis itu juga tertarik ingin mencicipinya juga.

“Ini makanlah. Bekalku dan Seulgi sama, jadi kau boleh memakannya.” Sehun mendorong bekal makanannya ke arah Jinri. Gadis itu menerimanya dan kemudian mengambil sumpit milik Sehun untuk mengambil telur dadar itu.

“Gomawo, Sehun-ah.”

Sehun dan Seulgi saling menoleh seraya tersenyum senang. Kali ini rencana mereka berjalan dengan lancar. Semoga rencana selanjutnya juga akan berjalan dengan lancar.

***

Hujan turun membasahi kota Daegu dan sekitarnya. Bersamaan dengan itu jam pelajaran telah usai saatnya seluruh siswa untuk kembali ke rumah masing-masing. Ujan yang terus turun dari sejak siang tadi belum juga mereda, membuat seluruh siswa terpaksa menunggu sampai hujan mereda. Ada juga yang membawa payung dan langsung pulang, dan aja juga yang menunggu jemputan mereka datang sambil bercanda sesame temannya untuk mengisi waktu sembari menunggu.

“Bagaimana ini? Aku lupa membawa payung.” Gumam Seulgi. Ia berdiri di depan pintu masuk sambil memandangi hujan yang sedari tadi tidak kunjung berhenti. Sudah satu jam lamanya ia menunggu hujan reda. Sebenarnya ia tidak sendiri, Jinri menemaninya sebelum gadis itu memutuskan untuk menerobos hujan karena ia harus cepat-cepat sampai di toko kue milik bibi Kim tempatnya ia bekerja paruh waktu.

Sementara itu Sehun masih berada di ruang guru untuk membicarakan nilai laki-laki itu yang tidak pernah ada peningkatan yang signifikan. Guru Shin memanggilnya setelah bel pulang berbunyi dan Seulgi memutuskan untuk lebih dulu pulang. Tapi karena hujan yang terus turun, terpaksa gadis itu harus menunggu hujan reda lebih lama.

Sekarang hanya dia yang tersisa di sana. Seluruh siswa sudah pulang beberapa menit yang lalu. Seulgi merapatkan jas sekolahnya karena hembusan angin yang cukup dingin sore itu. ingin rasanya ia cepat-cepat pulang dan langsung meringkuk di dalam selimut tebalnya.

“Kau belum pulang.” Tanya seseorang dari belakang.

Seulgi berbalik dan mendapati Daehyun berdiri di depannya sambil bersiap membuka payungnya. Laki-laki itu baru menyelesaikan rapat anggota dewan kesiswaan di ruang osis.

Seulgi menyebarkan pandangannya. Sepi, tidak ada orang di sekolah itu. Hanya mereka berdua di sana. Oh Tuhan, bagaimana ini? Apakah ia bisa bersikap normal saat ia berdua dengan laki-laki itu?

“Kau mencari Sehun?” Tanya Daehyun, mengikuti pandangan mata gadis itu.

“Ehm.” Seulgi hanya bergumam menanggapinya.

“Tadi aku bertemu dengannya. Dan dia menyuruhku untuk mengantarkanmu pulang.” Jelas Daehyun. Laki-laki itu melewati Seulgi seraya mendongak ke atas memastikan apakah hujan sudah mereda atau belum.

Seulgi mengangkat kedua alisnya. Sehun yang menyuruh laki-laki itu mengantarnya pulang? Seulgi bergumam. Ia bingung apakah ia harus mengiyakan saat Daehuyn menawarinya untuk pulang bersama?

“Sepertinya hujan tidak akan berhenti dalam waktu yang cepat.” Gumam Daehyun. Laki-laki itu membuka payungnya dan menoleh ke arah Seulgi.

“Kenapa diam? Ayo! Aku akan mengantarmu pulang.”

DEG

Tiba-tiba saja jantungnya berdetak begitu cepat. Seluruh darahnya berdesir hebat saat ini. Ia menepuk kedua pipinya memastikan kalau semua ini bukan mimpi. Akh. Pipinya terasa sakit. Ini bukan mimpi.

Daehyun mengangkat sebelah alisnya bingung melihat sikap Seulgi yang aneh. Tapi detik berikutnya laki-laki itu tersenyum melihatnya.

“Kenapa? Kau tidak ingin pulang bersamaku?”

“Ti….tidak bukan begitu…”

“Kalau begitu, ayo!”

Daehyun mengulurkan tangannya ke arah Seulgi. Kedua mata gadis itu melebar, napasnya tercekat.

“Baiklah.” Sahut Seulgi sambil menerima uluran tangan Daehyun.

Tangannya bersentuhan. Kulitnya menyentuh tangan laki-laki itu. Ia pulang bersama laki-laki itu. sungguh, ini bagaikan mimpi baginya.

Ini pertama kalinya ia bisa berinteraksi langsung dengan Daehyun. Laki-laki ia sukai dua tahun lalu.

Di tengah guyuran hujan, ia dapat memandang wajah laki-laki itu dengan jelas. Bersama dengan derasnya hujan gadis itu mengeratkan genggaman tangan Daehyun.

Terima kasih Sehun-ah.

Dari kejauhan Sehun memandangi keduanya. Sehun tersenyum. Ia senang melihat gadis itu bahagia.

To Be Continued

PREVIEW NEXT PART (2B)

“Sehun-ah apa yang harus kita lakukan?”

Jinri tampak khawatir saat hari sudah gelap. Keadaan gudang itupun semakin gelap. Tak ada penerangan yang bisa membantu mereka untuk bisa keluar dari gudang itu.

“Tenanglah, aku yakin kita pasti bisa keluar dari sini.” Ucap Sehun berusaha menenangkan.

Sementara itu Seulgi yang sedari tadi mencari keberadaan Sehun yang dengan seenaknya meninggalkannya saat ia bertugas mengantarkan pesanan kue bibi Kim. Ia kesal.

“Lihat saja, kalau aku ketemu. Akan aku bunuh kau, Oh Sehun.”

***

Laki-laki itu tersenyum. Tatapan matanya tak henti memandangi gadis di depannya. Setiap tingkah serta gerakan tubuhnya mampu membuat Sehun tertawa kecil, sungguh lucu pikirnya.

Deg..

Entah kenapa degup jantungnya begitu cepat dari biasanya, saat kedua mata mereka bertemu. Ingin rasanya ia berpaling namun ia tak mampu. Ingin sekali ia terus menatap bola mata coklat itu walau hanya dalam kejauhan.

Seketika dadanya terasa sesak, begitu manisnya senyuman itu hingga membuat Sehun lupa cara bernafas dengan baik. Dengan cepat ia berbalik menghindari tatapan itu, jika tidak ia akan mati kehabisan oksigen.

“Hai—“

***

Keringat dingin mengucur membasahi pelipis gadis itu. Seluruh badannya terasa kaku, kedua kakinya terasa lemas tak kuat menopang berat tubuhnya. Aliran darahnya berdesir hebat manakala kedua bola mata coklatnya menatap lekat sepasang mata di hadapannya itu. Tatapan teduh namun menusuk itu mampu membuat Seulgi ingin ambruk seketika. Bibirnya terasa kelu tak mampu mengeluarkan sepatah kata, walau hanya sekedar kata ‘Hai’.

Matanya membulat saat bibir itu membentuk sebuah kengkungan manis. Sungguh, ingin rasanya ia berlari menjauh dari pandangan itu. Sekuat tenaga ia menggerakkan bibirnya hanya untuk mengatakan ‘aku menyukaimu’.

***

Hanya satu kata yang terucap.

“AKU MENYUKAIMU!”

***

Dengan langit yang mulai meredup, luasnya hamparan bumi masih disinari cahaya mentari yang hampir mulai tenggelam. Semilir angin laut, seakan memberi kekuatan kepada batin untuk teguh dalam merenung.

Kini lelaki bertubuh tinggi itu bersiap untuk mengeluarkan isi hatinya melalui teriakan yang mewakili semuanya. Sebuah teriakan yang di yakini mampu mengurangi beban pikiran.

Sehun berteriak kencang ke arah hamparan laut luas seolah beban yang ada di pikirannya dapat di telan oleh ombak yang menggulung.

Sementara itu, di waktu yang bersamaan gadis itu juga berteriak di atas hamparan rumput hijau. Berharap sesuatu yang mengganjal hatinya itu dapat terbang bersama dengan rerumputan kering dan melayang jauh ke angkasa. Hingga dapat menghilang dengan sendirinya.

Mereka berdua berteriak menghempaskan beban di hati keduanya.

***

Note : Sebelumnya author minta maaf sebesar-besarnya kalau dicahpter ini author buat ga begitu panjang karena author udah nyiapin ceritanya di part B yang panjang banget jadi author sengaja bikinnya pendek di chapter ini ><

Oh, ya sebenernya FF ini author bikin alurnya kaya anime jadi ga bertele-tele kaya FF kebanyakan. jadi sorry pake banget buat ga ngerti sama FF ini *bow*

kalau kalian baca sampai part selanjutnya pasti bakalan ngerti kok^^

GOMAWO buat kalian yang udah sempetin baca  dan ngasi saran dan juga kritiknya😀

Tunggu part selanjutnya besok ya😀

111 thoughts on “Maid 90 days // Chapter 2A

  1. Ping-balik: Maid 90 Days // Chapter 7 | EXO Fanfiction World

  2. Ping-balik: Maid 90 Days // Chapter 7 | R E D B A B Y ~♥

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s