Maid 90 days // Chapter 2B

maid

Title // Maid 90 days

Author // Redbaby

Main Cast // Oh Sehun – Kim Seulgi – Park Daehyun – Choi Jinri

Genre // Romance – School Life

Note : FF ini terisnpirasi dari salah satu Anime yang aku tonton jadi kalau ada kesamaan cerita,itu di karena FF ini biased from a Anime^^ tapi alur cerita keseluruhan murni dari pemikiran aku sendiri.

Prev.

Teaser // Chapter 1 // Chapter 2A

Please Don’t Be a Silent Reader!

Daehyun mengulurkan tangannya ke arah Seulgi. Kedua mata gadis itu melebar, napasnya tercekat.

“Baiklah.” Sahut Seulgi sambil menerima uluran tangan Daehyun.

Tangannya bersentuhan. Kulitnya menyentuh tangan laki-laki itu. Ia pulang bersama laki-laki itu. sungguh, ini bagaikan mimpi baginya.

Ini pertama kalinya ia bisa berinteraksi langsung dengan Daehyun. Laki-laki ia sukai dua tahun lalu.

Di tengah guyuran hujan, ia dapat memandang wajah laki-laki itu dengan jelas. Bersama dengan derasnya hujan gadis itu mengeratkan genggaman tangan Daehyun.

Terima kasih Sehun-ah.

Dari kejauhan Sehun memandangi keduanya. Sehun tersenyum. Ia senang melihat gadis itu bahagia.

***

Sehun melangkah lebar menuju loker setelah Seulgi dan Daehyun perlahan menjauh dari pandangannya. Ia membuka loker bernomor 77 miliknya kemudian mengambil sepatu ketsnya lalu memakainya. Hujan diluar sana masih belum reda, ramalan cuaca mengatakan bahwa hujan akan berhenti pada malam hari.

Sehun menutup lokernya dan kemudian bersiap untuk pulang namun seperkian detik langkahnya terhenti saat mengingat hujan masih turun dengan lebatnya. Laki-laki itu berbalik menuju lokernya untuk mengambil payung, tapi saat lokernya terbuka ia tak menemukan yang payung disana. Mungkin saja di dalam tasnya. Sehunpun bergegas membuka tas sekolahnya dan mencari benda itu namun dia tidak menemukannya.

“Sial! Aku lupa membawa payung.”

Ia baru ingat jika ia tak sekalipun membawa payung ke sekolah. Padahal sebelum berangkat ke sekolah pagi tadi ia sempat menonton televise dan mendengar adanya hujan yang akan melanda Seoul dan sekitarnya hingga malam hari nanti. Dan bodohnya lagi, Seulgi tak mengingatkannya. Tapi gadis itu saja tidak membawa payung. Bodoh.

***

Seulgi tak bisa berhenti tersenyum. Mengingat kejadian sore tadi membuat wajahnya bersemu merah. Inikah yang namanya jatuh cinta? Selalu tersenyum bahkan tertawa sendiri seperti orang gila saat mengingat hal-hal romantis yang sempat terjadi, bahkan hati selalu berbunga-bunga dibuatnya. Entahlah. Namun semua itu ia nikmati dengan senang hati.

Makan malam sudah siap dan tersaji rapi diatas meja. Seulgi melirik jam dinding dan menunjukkan pukul tujuh malam. Itu berarti waktunya makan malam. Gadis itu membuka celemeknya dan menggantungnya di balik pintu dapur lalu mengambil panci berisi sup rumput laut yang masih hangat dan kemudian meletakkannya di tengah meja makan.

Saat Seulgi akan duduk ia ingat akan sesuatu yang kurang disana.

SEHUN. Dimana laki-laki itu? biasanya jam segini ia sudah duduk manis dan bersiap menyantap sajian makan malam yang Seulgi buat. Tapi kenapa sampai sekarang laki-laki itu masih belum datang? Kemana dia? Apa ia makan malam di luar?

Seulgi beranjak dari duduknya guna memastikan apakah laki-laki itu ada di apartemennya atau tidak. Namun saat beberapa langkah tiba-tiba ponselnya bergetar. Seulgi merogoh saku celananya dan mengambil benda persegi empat itu. Nama yang tidak asing tertera di layar ponselnya. Oh Sehun.

“yeob…”

“Bawakan aku payung! Aku disekolah.”

TUUT TUUT

Seulgi mendesah kesal saat laki-laki itu tiba-tiba menutup teleponnya begitu saja setelah ia menyuruh dirinya mencari Sehun ke sekolah. Ternyata lelaki itu masih disekolah? Kenapa ia hanya diam saja? Dia kan bisa naik bis sekolah. Seulgi tak hentinya menggerutu dan terus menyumpahi laki-laki itu. Oh ayolah! Ia sama sekali tak menyukai hujan.

Dengan berat hati Seulgi menuruti perintah laki-laki itu. Bagaimanapun juga ia sudah membuat kesepakatan, kalau ia akan menuruti apapun yang lelaki itu inginkan termasuk menjemputnya kesekolah di tengah hujan deras seperti ini. Sial!

Sementara itu Sehun melirik sekilas jam tangannya, pukul 07.45 malam. Sudah tiga puluh menit lamanya setelah ia menelepon gadis itu dan sampai saat ini sosok itu belum menampakkan dirinya. Apakah gadis itu tidak mau mengikuti perintahnya? Apakah gadis itu lupa akan perjanjian yang sudah mereka sepakati sebelumnya? Atau jangan-jangan…

Pikiran buruk itu langsung ia tepis begitu saja. Ia berharap Seulgi baik-baik saja. Ya, semoga saja.

Sehun mengela napas pelan sambil mendongak memandangi air tawar yang terus menerjang bumi dari atas langit hitam di atas sana. Udara semakin dingin, sehun memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana sekolahnya. Disamping ia tidak membawa payung, ia juga tidak mengenakan jaket. Sungguh malang.

Lima belas menit berlalu. Gadis itu tak kunjung datang. Waktu terus berlalu dan malam akan semakin larut. Dari pada ia terus menunggu hingga larut malam dan sepertinya hujan tak kunjung mereda, Sehun memutuskan untuk pulang dan meneronos lebatnya hujan malam itu.

Jika saja ia tak berlama-lama di toilet sore tadi mungkin ia tak akan ketinggalan bus sekolah yang saat itu akan mengantarkan para siswa yang juga bernasib sama seperti dirinya.

Sehun berdiri dari duduknya dan bersiap untuk berlari menerjang hujan dengan tas sekolah yang menjadi payung untuknya. Namun saat akan melangkahkan kakinya, gerakannya terhenti saat sebuah benda melindungi dirinya dari terjangan hujan. Seseorang berdiri tepat di depannya. Sehun menurunkan tasnya, dan sebuah payung melindungi kepalanya.

“YA! Kau…”

Seketika napasnya tercekat begitu saja saat menyadari bahwa orang yang berada di hadapannya itu bukanlah Seulgi melainkan orang lain. Kedua matanya membulat, seketika jantungnya berdebar begitu cepat. Sial! Lagi-lagi ia gugup di depan gadis itu.

Choi Jinri… gadis itu tersenyum manis padanya.

Kenapa gadis itu ada disini?

“K..kenapa kau ada disini?”

“Tempat kerjaku tak jauh dari sekolah ini, jadi aku selalu melewatinya setiap aku pulang kerja. Dan aku nya setiap aku pulang kerja. Dan aku melihat seseorang sedang duduk menunggu hujan reda, aku tidak menyangka jika orang itu adalah kau.

Oh God! Bisa dipastikan wajah lelaki itu merah padam sekarang. Menelan ludah saja ia susah apalagi melontarkan sepatah kata.

“Kau bekerja?”

“ya, aku bekerja paruh waktu.” Jawab Jinri dengan tersenyum lebar.

Melihat senuym itu lagi-lagi membuat jantung laki-laki itu berdetak kencang. Beruntung suara detak jantungnya tidak terdengar karena kerasnya suara hujan malam itu.

“Ti..tidak terima kasih. Aku naik bis saja.” Sehun berusaha menolak tawaran Jinri. Kalau ia menerima ajakan gadis itu, bisa-bisa ia akan terkena serangan jantung mendadak karena jantungnya terus berdetak cepat saat berada dekat dengan Jinri.

“Kalau begitu, kenapa kau tidak naik bus saja dari tadi?” Tanya Jinri yang menjebak lelaki itu. Benar kata Jinri, kenapa ia tidak naik bus saja dari tadi? Kenapa ia harus diam dan menunggu sampai hujan berhenti? Tidakkah itu sebuah kebodohan?

Sial! Kenapa aku begitu bodoh. Batinnya.

“Itu…aku…sebenarnya…”

“Jangan menolak! Ayo!”

APA? Oh Tuhan, ini benar-benar membuatnya gila.

Gadis itu. Gadis itu. kemana dia? Kim Seulgi, awas kau!

Sehun terus saja mengumpat dalam hati, menyumpahi gadis itu yang tidak menuruti perintahnya. Namun, jauh didalam hatinya ia sangat bersyukur Seulgi tidak datang sehingga ia bisa berada dekat dengan Jinri.

“Terima kasih. Aku akan mengantarkanmu pulang, aku pinjam payungmu.”

Sehun mengambil alih payung yang ada digenggaman Jinri. Sementara itu Jinri tertegun dan kemudian tersenyum lebar mengiyakan ucapan Sehun.

“Mendekatlah! Aku tidak ingin kau basah.” Pinta Sehun seraya menarik lembut lengan Jinri. Kini tubuh gadis itu sudah berada dekat dengannya kulit keduanya bersentuhan. Sehun berusaha menyembunyikan perasaan gugupnya. Bukan Ia saja yang merasakan sensasi aneh itu,namun gadis itu juga merasakannya.

Sementara itu 25 menit yang lalu.

Seulgi menutup pintu apartemennya dan menguncinya. Ia membuka payungnya lalu berjalan keluar apartemen. Gadis itu meringis saat udara dingin berhembus dan membelai kulitnya. Jaket tebal yang gunakan tak cukup untuk melindungi tubuhnya dari udara malam apalagi disertai dengan hujan lebat seperti malam ini.

Laki-laki itu benar-benar merepotkan. Ingin sekali rasanya ia mencekiknya saat ia sudah menemukannya nanti.

DRRTTTT DRRTTT

Tiba-tiba ponselnya bergetar dan memaksanya untuk berhenti. Dilihatnya nama yang tertera dilayar ponselnya. Kim Sunmi—kakanya—meneleponnya. Tanpa ragu ia menekan tombol hijau dan kemudian menempelkan ponselnya ketelinganya.

“Ne, Eonni.”

“Bisakah kau menjemputku? Aku tidak membawa paauyng, lagi pula badanku terasa melas. Sepertinya aku demam.”

“Mwo? Baiklah aku akan menjemputmu. Tunggu aku!”

Medengar kakaknya demam, Seulgi dengan cepat menyusul Sunmi. Ia tak ingin kakaknya jatuh sakit dan demamnya semakin parah karena hujan-hujanan. Tapi sebelumnya ia harus membertahu Sehun karena tidak bisa menjemput laki-laki itu. Ia harus mendahulukan Sunmi—kakaknya.

Seulgi mencari nomor kontak Sehun dan selang beberapa detik iapun menekan tombol panggil di layar ponselnya. Namun sayang nomor yang dituju tak kunjung tersambung, nomor laki-laki itu tidak aktif. Seulgi mendesah kesal seraya mengulang kembali menelepon Sehun namun tetap saja tidak berhasil. Nomor lelaki itu masih tidak aktif.

Langkah terakhir yang bisa ia lakukan ialah mengirimi lelaki itu pesan agar ia bisa membacanya. Dengan lincah jemari tangannya mengetikkan pesan di atas layar ponselnya untuk Sehun. Mengatakan kalau ia tidak bisa menyusulnya kesekolah karena ia harus menyusul kakaknya yang sedang sakit.

***

Seulgi menarik pelan selimut tebal itu dan kemudian menutupi tubuh Sunmi. Kening wanita itu di kompres dengan air dingin mengenakan handuk kecil guna menurunkan demamnya. Seulgi begitu telaten merawat kakaknya, tak heran jika Sunmi begitu menyayangi adik perempuannya itu hingga ia rela melakukan apa saja demi kebahagiaan Seulgi.

Gadis itu merapikan meja makan setelah beberapa jam yang lalu ia selesai menyantap makan malamnya dan juga memberikan obat untuk kakaknya. Hujanpun sudah berhenti. Malam sudah larut,jam menunjukkan pukul sebelas malam.

Hari ini Sehun tidak makan malam dirumahnya. Entahlah, mungkin laki-laki itu marah padanya. Dua minggu sudah ia mengenal laki-laki itu, dan selama itu pula ia tahu sifat Sehun seperti apa. Karena ia yakin besok laki-laki itu pasti tidak akan marah lagi padanya. Oleh karena itu ia tak ambil pusing kalau Sehun marah padanya.

Seulgi merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya. Gadis itu menghembuskan napasnya pelan. Seketika ingatannya melayang pada kejadian beberapa jam yang lalu saat ia bersama dengan laki-laki itu. ya, Park Daehyun. Lagi-lagi ia tak bisa menahan senyum di bibirnya. Ah, mungkin sebentar lagi ia gila akan lelaki itu.

Namun ia dibuat terkejut saat mendengar jendela kamarnya di ketuk keras. Seulgi menoleh lalu kemudian bangkit dari tempat tidurnya. Gadis itu beranjak sambil berdecak kesal dengan jendela yang terus menerus diketuk keras.

Dibukanya gorden jendelanya lalu membuka kaitan jendela kamarnya. Matanya menyipit saat mendapati sosok laki-laki yang menatapnya tajam. Sorot matanya begitu mengintimidasi gadis itu. rambut yang acak-acakan dan sedikit basah membuat Sehun terlihat mempesona.

“Kenpa kau melihatku seperti itu?”

“kenapa kau tidak menyusulku ke sekolah?”

Seulgi mengangkat sebelah alisnya. Ia bingung dengan pertanyaan Sehun, apa pesan yang ia kirim tidak tersampaikan? Sehingga Sehun bertanya seperti itu?

“Aku sudah meneleponmu berberapa kali, tapi nomormu tidak aktif. Apa kau tidak membaca SMS dariku?”

Sehun tertegun. Ia baru ingat setelah ia menelepon Seulgi waktu itu, tiba-tiba hadphonenya mati karena battery ponselnya lowbat. Lagipula, pesan apa yang dikirimkan gadis itu padanya? Sehun kemudian merogoh ponselnya didalam saku celananya. Ia lalu menghidupkan handphonenya setelah beberapa waktu yang lalu men-chargernya.

Form Seulgi

Sehun-ah, maaf aku tidak bisa menyusulmu. Kakakku demam jadi aku harus menjemputnya sekarang juga. Kau naik bus saja dan langsung pulang, setelah itu kau bisa kerumahku untuk makan malam. Annyeong.

Sehun mematikan handphonya dan kemdian memasukkannya kembali ke dalam saku celananya setelah membaca pesan yang dikirimkan Seulgi untuknya. Baiklah! Berarti ia tak punya alasan untuk marah pada gadis itu, lagipula ia bisa berduaan dengan Jinri dengan Seulgi yang tidak datang menysulnya. Itulah keuntungan baginya. Tapi…

“Bailklah aku memaafkanmu. Tapi kau harus menggantinya.”

“Apa? Menggantinya?”

“Iya, menggantinya.” Ucap Sehun mengulangi perkataannya. “Besok kau harus mentraktirku…dan tidak ada acara menolak ataupun membantah! Ini perintah dariku dan kau harus menurutinya!”

Seulgi menghela napas berat. Ia memutar bola matanya. Gadis itu menganggukkan kepalanya pasrah mengiyakan permintaan Sehun. Bagaimanapun juga, laki-laki itu sangat berpengaruh dan sangat penting baginya untuk bisa lebih dekat dengan Daehyun.

“Oke. Baiklah besok aku akan mentraktirmu.”

Sehun tersenyum lebar. Ia benar-benar puas melihat gadis itu pasrah karena tak mampu menolak perontah darinya.

***

“Aish…Kau malah pakai acara terlambat. Cepat habiskan sarapanmu dua puluh menit lagi kelas akan dimulai.” Sungut Seulgi sambil menyiapkan bekalnya dan juga Sehun. Sementara itu Sehun dengan lahap menghabiskan sarapannya, pagi ini ia terlambat bangun karena semalaman ia habiskan untuk bermain game favoritnya.

Sesudah Seulgi menyiapkan bekal, ia kemudian menyiapkan sarapan untuk kakaknya. Beruntung Sunmi sudah sembuh dan demamnya sudah turun sehingga ia bisa beraktifitas seperti biasanya. Wanita itu keluar dari kamarnya dengan wajah yang tampak lebih segar dari sebelumnya. Masih dengan piama yang ia kenakan, wanita itu beranjak menuju meja makan sambil menyapa hangat Sehun dan Seulgi tak lupa juga dengan senyum cerianya yang selalu menghiasi wajahnya.

“Nunna, kau sudah sembuh?” tanya Sehun yang juga meberikan perhatian pada Sunmi. Ia sudah menganggap wanita itu sebagai kakaknya sendiri.

“Apa aku sekarang terlihat masih pucat?” sahut Sunmi dengan gurauan khasnya.

Sehun hanya tersenyum menanggapi gurauan wanita itu. Sunmi menarik kursi lalu mendudukinya bersiap menyantap sarapan yang sudah disiapkan Seulgi untuknya.

“Eonni, kau harus makan yang banyak dan jangan lupa untuk minum vitaminmu, arasso!”

“Ne, Eomma.” Sahut Sunmi dengan tersenyum lebar pada adiknya itu. Seulgi semakin dewasa setelah kedua orang tua mereka tiada beberapa tahun yang lalu. Sementara itu Seulgi tersenyum menanggapi candaan kakaknya itu.

“Baiklah. Aku berangkat dulu, ayo!” ucap Seulgi sambil menarik paksa lengan Sehun yang saat itu masih asyik memakan roti bakarnya namun aktifitas makannya terpaksa terhenti.

Sunmi tertawa melihat tingkah kedua adiknya itu. Dimana Sehun yang meronta meminta Seulgi melepaskan cengkramannya dan tidak menyeretnya seperti anak kecil yang ketahuan mencuri. Dan Seulgi yang terus menolak dengan mengatakan ‘sebentar lagi kita akan terlambat jika kau tidak cepat-cepat berangkat ke sekolah’

***

Beruntung mereka berdua datang tepat waktu lima menit sebelum pelajaran dimulai dan mereka terhindar dari hukuman. Seperti biasa,tatapan semua murid selalu tertuju pada mereka. Semua siswa menganggap mereka pasangan paling romantic sepanjang sejarah di sekolah itu. Sementara keduanya hanya menghela napas pasrah dengan hal itu.

“Haah. Sampai kapan mereka akan seperti itu?” keluh Seulgi sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dengan kepala yang di rebahkan di pinggiran kursi. Gadis itu mendesah pelan seraya meniup poninya ke atas.

Sehun melirik Seulgi sekilas. Ia juga mengeluhkan hal yang sama. Sehun juga melakukan posisi yang sama. Ia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi yang berada di samping Seulgi. Ia menatap langit-langit kelas.

Kelas saat itu sudah sepi karena semua murid sudah berhambur keluar kelas menuju kantin karena jam pelajaran pertama telah usai dan diganti dengan jam istirahat yang selalu ditunggu oleh seluruh siswa.

“Hei. Kalian berdua kenapa? Apa kalian sakit?” tiba-tiba Jinri muncul dari ambang pintu yang kemudian berjalan menghampiri Sehun dan Seulgi.

Mendengar suara Jinri, Sehun dengan cepat menegakkan badannya dan memperbaiki posisinya. Ia berdehem sambil menelan ludah dalam-dalam.

“Kami tidak sakit.” Sahut Sehun dengan tersenyum simpul.

“Jinri-ya, terima kasih atas bantuanmu malam itu.” ucap Sehun sambil mengambil sesuatu dari dalam tasnya. “Terima kasih telah meminjamkan payungmu padaku.” Lanjut Sehun yang kemudian menyodorkan payung berwarna biru tua itu pada Jinri yang kini tengah duduk didepannya. Jinri menerimanya dengan tersenyum manis.

“Jadi Jinri meminjamkanmu payung? Kalau begitu,kenapa kau menyuruhku menyusulmu kesekolah?” sahut Seulgi secara tiba-tiba yang sedari tadi hanya diam pada posisinya saat Jinri menyapanya.

“Itu karena kau tak kunjung datang, makanya aku meminjam payungnya. Kalau saja Jinri tidak melihatku, mungkin saja aku menginap di sekolah waktu itu.”

“Jinri-ya. Kau benar-benar baik karena telah membantu laki-laki merepotkan ini.” Seulgi tertawa lebar ketika melihat wajah kesal Sehun.

Seisi ruangan dipenuhi oleh gelak tawa Seulgi yang puas telah membuat Sehun kesal. Jinri yang melihatnya hanya tertawa geli.

Namun tiba-tiba tawanya terhenti begitu saja saat Sehun menutup mulut gadis itu mengenakan buku yang berhasil membuat tawa gadis itu terhenti. “Jinri-ya, sebagai gantinya maukah kau makan siang bersamaku? Aku membawa bekal yang pastinya sangat lezat. Tapi lebih baik jangan makan disini, ya.” Ajak Sehun sambil terus menutup mulut Seulgi agar gadis itu tidak lagi mengejeknya. Tak peduli jika Seulgi yang terus menerus berusaha melepaskan tangannya dari mulut gadis itu.

Dengan cepat Sehun meraih kotak bekalnya dan kemudia menarik tangan Jinri dan mengajaknya keluar kelas.

“YAAAAAA!”

***

“Maaf, aku sudah menarik tanganmu dengan paksa.” Ucap Sehun sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kini mereka berdua ada di atas atap gedung sekolah. Tempat favorit para siswa saat jam istirahat tiba.

“Oh ya, kau belum makan siang, kan? Ini makanlah.” Sehun membuka tutup kotak bekalnya lalu kemudian menyodorkannya ke Jinri.

“Waah…kelihatannya lezat. Apa kau yang memasaknya?” tanya Jinri kagum melihat bekal Sehun yang terlihat lezat dimatanya. Kedua tangannya terulur menerima bekal yang diberikan Sehun untuknya.

“Seulgi yang membuatkannya untukku.”

“Seulgi…ah, apakah aku boleh memakannya?”

“Tentu.”

Dengan senyum lebarnya Jinri mengambil sumpit yang sudah Sehun siapkan kemudian mengambil telur dadar lalu memakannya. Tak membutuhkan waktu lama untuk mengetahui apakah rasanya lezat atau tidak karena Jinri langsung berteriak ‘Oisiiiiii’ yang disambut senyuman bahagia dari Sehun melihat Jinri begitu menikmati bekalnya—bukan—lebih tepatnya—bekal buatan Seulgi—untuknya yang diberikan kepada Jinri.

Kedua matanya tak lepas memandangi gadis didepannya itu. Ada rasa yang membuncah dihatinya ketika ia dapat memandang wajah gadis itu dengan jarak dekat seperti itu. meski perutnya merontak untuk segera diisi, tapi melihat Jinri yang sedang makan begitu lahapnya mampu membuat rasa laparnya hilang seketika.

“Kau tidak makan?”

Dengan sekejap laki-laki itu tersadar dari lamunannya dan membuang pandangannya kesembarang arah ketika Jinri tiba-tiba menoleh kearahnya. Ia berharap gadis itu tidak menyadari kalau dirinya sedari tadi menatapnya.

“Ti..tidak.”

***

Seperti biasa, sebelum pulang sekolah Seulgi selalu bertugas membersihkan halaman bunga serta merawatnya. Itu karena ia yang menawarkan diri ke pihak sekolah untuk merawat kebun bunga yang berada di belakang sekolah. Disamping ia mencintai kebersihan gadis itu juga sangat suka berkebun. Dan suatu hari nanti ia berkeinginan untuk memiliki rumah dengan halaman luas dan dipenuhi dengan tanaman bunga yang cantik-cantik dan penuh warna.

Ia tak sendiri di sekolah itu masih ada club sepak bola yang selalu berlatih setiap sore di lapangan sekolah dekat dengan kebun bunga belakang sekolah. Seolah kebun bunga itu miliknya, Seulgi dengan sangat telaten menyiramnya bahkan menaburkan pupuk kesetiap tanaman.

Tiba-tiba…
SRAAAAK

Sebuah bola menghantam kumpulan bunga yang sedang mekar dengan indahnya. Seulgi dengan cepat menoleh dan seketika kedua matanya membulat sempurna. Tatanan bunga itu hancur dengan sekejap akibat hantaman bola yang begitu keras.

“HAAAAAAAH.”

Sementara itu para siswa yang tadinya sedang asyik bermain bola terdiam saat bola yang di tending oleh salah satu diantara mereka terlempar jauh dan mengenai kebun bunga belakang sekolah. Mereka terlihat ketakutan melihat Seulgi yang berteriak histeris saat tahu kebun bunganya hancur akibat bola yang mereka mainkan.

“SIAPA YANG MENENDANG BOLA KESINI,HUH?” Teriak Seulgi histeris sambil berkacak pinggang kearah sekelompok laki-laki yang ngeri ketakutan melihat kilatan amarah gadis itu.

Tiba-tiba salah satu diantara mereka berlari menghampiri Seulgi. Laki-laki itu meminta maaf dengan membungkuk 90 derajat setelah tiba di hadapan Seulgi.

“Aku tidak sengaja menendangnya begitu keras dan menghancurkan tanamanmu.” Ucap laki-laki itu berusaha meminta maaf. Namun tak ada respon dari gadis dihadapannya itu. Ia bingung saat melihat gadsi itu yang hanya menatapnya dan tidak merespon permintaan maafnya.

Seulgi tertawa kaku berusaha menutupi kegugupannya. Ia tak tahu kalau yang menendang bola itu adalah Daehyun, raut wajah yang tadinya merah padam karena kesal melihat tanamannya hancur kini merah padam karena malu.

“G..Gwenchana…aku tahu kau tidak sengaja, hahaha.” Ucap Jinri meyakinkan Daehyun seraya menepuk-nepuk pelan lengan laki-laki itu. Ia tertawa kikuk.

“Benarkah?…ah, tunggu sebentar!”

Daehyun memungut bola yang tergeletak dibawah kaki Seulgi lalu kemdian berbalik dan berlarik kecil ke arah teman-temannya. Sementara itu siswa club sepak bola yang tadinya was-was takut kalau Seulgi akan membunuh Daehyun kini bernapas lega melihat Daehyun kembali dengan selamat.

Seulgi menatap Daehyun yang berlari kearah segerombolan laki-laki itu lalu kemudian ia melihat Daehyun menyerahkan bola itu kesalah satu dari mereka dan dia terlihat mengucapkan sesuatu kepada teman-temannya itu. Gadis itu tertegun saat melihat Daehyun berbalik arah dan berlari menghampirinya.

“Sebagai permintaan maafku, aku akan membantumu memperbaiki tanaman-tanaman itu.” Ucap Daehyun dengan mengendikkan sedikit kepalanya kearah tanaman yang terlihat hancur.

Bagaikan petir disiang bolong. Ini kedua kalinya ia akan bersama dengan laki-laki itu. Berada dekat dengannya dan kembali merasakan sensasi luar biasa saat ia memandangi wajah Daehyun dengan jarak dekat.

“Gomawo.”

Daehyun tersenyum lembut sembari mengacak lembut puncak kepala Seulgi seraya berkata “Kau tidak pernah berubah saat pertama kali aku melihatmu.”

DEG

OH GOD! Jantungnya terasa ingin keluar sekarang. Darah di dalam tubuhnya berdesir hebat, bahkan kedua lutunya terasa lemas. Oh, tidak! bagaikan kembang api yang menyembur keluar dari kepalanya. Ia begitu bahagia sekarang.

Disaat yang bersamaan, Sehun yang juga merupakan anggota club sepak bola itu hanya menatap datar pemandangan yang ada didepannya darikejauhan.

***

Seulgi membereskan buku pelajarannya lalu memasukkannya kedalam tas. Kebun yang sempat hancur akibat tendangan bola yang menghantam tanaman bunga beberapa waktu yang lalu sudah kembali tertata dengan rapi. Setelah semuanya selesai Daehyun memutuskan untuk pulang terlebih dahulu karena laki-laki itu ada janji dengan temannya.

Gadis itu melirik jam tangannya. Waktu menunjukkan pukul enam sore, waktunya ia pulang kerumah. Sepertinya Sehun sudah lebih dulu pulang usai latihan dengan teman clubnya. Baiklah, sepertinya ia tak harus memenuhi perimintaan Sehun kali ini—mentraktirnya sepulang sekolah.

Seulgi melangkah lebar dengan percaya diri karena ia tak harus memenuhi permintaan laki-laki itu. Ia tersenyum lebar mengingat uang jajannya tak akan berkurang untuk lelaki itu. Seulgi melangkah keluar kelas, namun saat akan berbelok seseorang menarik ranselnya mengakibatkan gadis itu tertarik kebelakang. Sial! Laki-laki itu sedari tadi berdiri di balik pintu, ternyata Sehun belum pulang dan ia menunggu gadis itu.

“Mau melarikan diri?”

Kedua bahu gadis itu merosot kebawah. Ia mendesah lemas. Sial! Ia mengumpat dalam hati, kenapa ia tak menyadari jika laki-laki itu ada disana? Dugaannya meleset dan harapan mempertahankan uang jajannya lenyap seketika.

***

Seulgi menelan ludah dalam-dalam melihat betapa banyaknya makanan yang dipesan laki-laki itu. Melihat Sehun sedang makan dengan lahapnya membuat rasa laparnya hilang begitu saja. Ia berdoa dalam hati berharap semua pesanan ini tidak menguras kantongnya.

“Hei, apa seharian ini kau belum makan? Sampai kau begitu lahap dan…memesan begitu banyak makanan?” ucap Seulgi dengan menurunkan volume suaranya saat mengucapkan kata-kata terakhirnya.

Untuk memastikan uangnya cukup atau tidak untuk membayarnya, gadis itu merogoh tas sekolahnya mengambil dompetnya lalu memeriksa uangnya. Raut wajahnya berubah menjadi panic saat uang yang ada didalam dompetnya hanya berkisar beberapa won saja, dan mungkin itu tak akan cukup membayarnya.

“Annyeong!”

Hampir saja makanan yang ada dimulut laki-laki itu tidak mencuat keluar saat seseorang menyapa mereka berdua. Sehun mengenal suara itu sehingga membuatnya tersedak dan hampir menyemburkan makanannya.

“kau kenapa? Makanya kalau makan itu hati-hati, cepat minum!” Sahut Seulgi sembari menyodorkan segelas air minum. Sehun dengan cepat mengambilnya dan langsung meneguknya.

Gadis itu—Jinri—hanya tertawa melihatnya. Jinri mengenakan pakaian pelayan dan terdapat nametag di bagian depan dadanya. Gadis itu bekerja di restoran tempat Sehun dan Seulgi berada sekarang.

“Kau bekerja disini? Bukankah kau kerja di toko roti dekat sekolah?” tanya Seulgi. Yang ia tahu temannya itu bekerja di kedai roti dekat sekolah dan ia sering berkunjung sekedar membeli roti atau menghabiskan waktu luang bersama Jinri jika gadis itu tidak sedang sibuk melayani pembeli.

“Aku bekerja di dua tempat, dan hari ini jadwalku untuk bekerja disini.” Jawab Jinri dengan cengiran khasnya.

“Wah, kau hebat Jinri-ya.” Sahut Seulgi tersenyum girang seraya melirik sekilas kearah Sehun.

Lai-laki itu tampak terkejut mendengar bahwa Jinri selama ini kerja paruh waktu dan ia tak tahu mengenai hal itu. Gadis yang sangat luar biasa, pikirnya. Kegaguman akan gadis itu semakin besar dirasakannya. Tak hanya cantik, baik, pintar, namun ia juga seorang yang pekerja keras.

“hei, kenapa kau bengong? Ayo cepat, ini sudah malam. Aku harus menyiapkan makan malam untuk kakakku.” Seulgi mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajah Sehun.

Sehun berdehem seraya berusaha menyembunyikan rasa malunya karena ia ketahuan sedang memandangi Jinri sejak gadis itu asyik berbicara dengan Seulgi hingga Jinri kembali bekerja dan menghilang dari hadapannya.

Seulgi mendengus sambil mencibir laki-laki itu. selang beberapa detik kemudian seorang pelayan menghampiri mereka membawa bil pembayaran. Pelayan wanita itu memberikan catatan pembayaran pada Seulgi dan gadis itu dengan cepat melihat jumlah yang harus di bayar.

350.000 won. Seulgi menelan ludah dalam-dalam melihat jumlah yang harus dibayar. Perlahan ia mengambil dompet didalam tasnya kemudian ia mengeluarkan isinya secara perlahan. Uang yang ia miliki hanya 100.000 won saja. Itu berarti uangnya tak cukup untuk membayarnya. Sial! Apa yang harus dilakukannya?

“Kembaliannya ambil saja.”

Tiba-tiba Sehun mengulurkan sejumlah uang kepada pelayan wanita itu. seulgi terkesiap, ia dengan cepat menoleh kearah Sehun dengan mata yang menyipit. Tatapan penuh tanya terlihat jelas diwajahnya.

***

Sehun merebahkan tubuhnya di atas sofa sambil membaca komik yang ia ambil dari rak buku milik Seulgi. Sepulangnya dari restoran beberapa waktu yang lalu, Sehun tidak langsung pulang ke apartemennya melainkan ia lebih memilih bersantai di apartemen gadis itu. seperti biasa Seulgi tak keberatan jika Sehun selalu menghabiskan waktu di apartemennya. Hitung-hitung ia tidak merasa sendiri lagi, berkat kehadiran Sehun ia tak perlu lagi merasa kesepian menunggu kedatangan kakaknya yang selalu pulang larut malam bahkan hingga pagi.

“Aku akan mengganti uangmu besok.” Ujar Seulgi sembari mencuci beras untuk dimasak. Ia merasa kalau ia harus melakukan hal itu, bagaimanapun juga itu sudah menjadi kewajibannya untuk memenuhi janji yang sudah ia sepakati.

“Tidak perlu.” Sahut Sehun santai sambil membalikkan halaman demi halaman komik yang ia baca.

“Tidak. Aku akan tetap menggantinya walaupun kau menolaknya.”

Sehun menutup komiknya lalu bangkit dan mengganti posisinya menjadi duduk. Ada sebuah ide yang terlintas di benaknya. Sehun berdiri kemudian beranjak menghampiri Seulgi ke dapur yang berada hanya beberapa meter saja dari ruang tengah.

Seulgi membasuh tangannya setelah menanak nasi dan melanjutkan untuk mengambil sayuran yang ada didalam kulkas yang berada di dekat pintu dapur. Namu saat ia akan berbalik ia dikejutkan dengan keberadaan Sehun yang secara tiba-tiba berada tepat dihadapannya. Seulgi melangkah mundur beberapa langkah.

Sehun melipat kedua tangannya didepan dada dengan kepala yang sedikit dimiringkan. Menatap Seulgi intens membuat gadis itu menyipitkan mata, bingung.

“Baiklah kalau itu maumu, aku terima…tapi aku tidak mau meneriama balasan dalam bentuk uang.”

“Maksudmu?”

“Kali ini kau harus mengajakku ke toko kue tempat Jinri bekerja.”

“Hanya itu? Baiklah.”

Dalm hati Seulgi berteriak senang ia tak harus mengganti uang laki-lakit itu. Dan kali ini permintaan Sehun sangatlah gampang dan tak menyusahkan baginya.

***

Keesokan harinya, sepulang sekolah Sehun dan Jinri mengunjungi toko kue tempat Jinri bekerja. Sesuai kabar yang Seulgi terima,hari ini adalah jadwal Jinri bekerja di toko itu. Awalnya Sehun ragu karena ia begitu gugup untuk bertemu dengan gadis itu. Namun rasa rindunya untuk dapat melihat gadis itu membuat Sehun menguatkan hatinya untuk bisa melihat wajah Jinri. Walau setiap harinya ia selalu melihatnya di sekolah, tapi entah kenapa ia tetap ingin melihat wajah itu setiap detiknya.

“Selamat datang di toko kue kami.” Seorang pelayan menyapa mereka berdua saat memasuki toko itu. didalamnya terlihat banyak pembeli yang sedang mengantri untuk membeli kue yang terkenal akan kelezatannya itu.

“kau melihatnya?” tanya Seulgi seraya mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru toko. Gadis itu mencari sosok yang sama dengan orang yang ingin Sehun lihat. Choi Jinri.

“Aku belum melihatnya.”

Suasana toko yang begitu ramai membuat keduanya susah untuk menemukan Jinri diantara orang-orang yang sedang mengantri membeli roti.

“Sepertinya kita harus menunggu sampai suasan toko tidak begitu ramai.” Ucap Seulgi seraya berjalan mencari meja kosong untuk mereka berdua. Matanya tertuju pada meja kosong yang berada dekat jendela.

Sehun mengagguk setuju sambil mengikuti Seulgi dari belakang meunuju meja kosong dekat jendela. Mereka harus menunggu sampai keadaan tidak lagi ramai dan mereka bisa bertemu dengan Jinri.

Dua puluh menit berlalu.

Toko kue itu tak lagi ramai, semua pungunjung sudah pergi. Selama menunggu Sehun dan Seulgi hanya mendesah pelan seraya menatap keluar jendela guna menghilangkan rasa bosan akibat menunggu. Hingga akhirnya keadaan toko sudah tidak ramai lagi.

Jinri mengusap keringatnya menggunakan lengan bajunya. Ia mengehela napas pelan setelah pekerjaannya sudah usai melayani para pembeli. Pandangannya tertuju kearah meja yang ditempati dua orang yang sedang memakai seragam sekolah yang sama dengannya.

Senyumnya melebar saat mengetahui dua orang itu adalah orang yang ia kenal. Jinri menghampiri mereka berdua.

“Annyeong.”

Mereka berdua terkesiap lalu kemudian menoleh kearah Jinri. Seulgi balas menyapa dengan senyuman manisnya sementara Sehun hanya tersenyum kikuk seperti biasanya.

“Ah, apa kalian ingin memesan kue?” tanya Jinri antusias dengan menatap Sehun dan Seulgi bergantian.

Seulgi mengangguk mantap lalu menoleh kearah Sehun yang saat itu juga mengangguk. “Aku sangat rindu ignin memakan cupcake toko ini.” Ucap Seulgi. Sudah beberapa minggu ia tak lagi memesan cupcake buatan toko itu.

“Jinri-ya kemari sebentar.” Seorang pria paruh baya memanggil Jinri. Seketika mereka berteiga menoleh kearah sumber suara. “Ne.” Jinri dengan cepat menyahut lalu kemudian menoleh kembali kearah kedua temannya itu dengan sennyum lalu berkata “Aku akan kembali, tunggu sebentar.”

Sehun dan Seulgi mengangguk mengiyakan. Sementara Jinri berbalik menghampiri pria paruh baya itu. sehun memperhatikan Jinri yang sedang membicarakan sesuatu, terlihat Jinri mengangguk seperti mengerti apa yang dikatakan pria itu. sesaat kemudian ia melihat Jinri membungkuk lalu berbalik kearahnya dengan berlari kecil.

“Maaf menunggu. Seulgi-ya, Sehun-ah…bolehkan aku meminta bantuan kalian?”

“Bantuan apa?”

“Paman Kim memberitahuku, apakah kalian berdua bisa membantu kami, karena dia tahu kalian adalah temanku. Kami sedang kekurangan pelayan karena pelayan di toko kami banyak yang tidak masuk jadi kami membutuhkan seseorang untuk membantu mengirimkan pesanan kue pada para pelanggan.” Jinri menjelaskan panjang lebar apa yang di katakan pria paruh baya yang dikenal dengan paman Kim itu.

“Oh, tentu saja. Sehun akan siap membantumu, Jinri.” Sahut Seulgi girang sambil menepuk pundak Sehun. Sementara itu Sehun dengan cepat menoleh kearah Seulgi dengan tatapan seolah bertanya ‘apa yang kau katakana?’

“Benarkan, Oh Sehun?” tanya Seulgi dengan senyuman menggodanya.

“Te..tentu akau siap untuk membantumu…tentunya Seulgi juga akan siap membantumu juga.” Sahut Sehun seraya mendekap bahu Seulgi seolah tak akan membiarkan gadis itu melarikan diri. Seulgi terkesiap lalu kemudian tertawa kikuk sembari membenarkan ucapan Sehun, walau dalam hatinya ia sangat ingin mencekik laki-laki disampingnya itu.

“Benarkah? Gomawoyo.” Ucap Jinri mengucapkan terima kasihnya sambil membungkuk Sembilan puluh lima derajat.

***

“Terima kasih kalian mau untuk membantu kami. Ada beberapa pesanan yang harus dikirim hari ini juga, jadi kau membutuhkan bantuan kalian.”

Paman Kim memperlihatkan empat kotak yang yang didalamnya ada beberapa jenis kue yang harus di antarkan ke setiap pelanggan yang sudah memesan sejak siang hari tadi.

Kotak pesanan itu susah siap di dalam keranjang sepeda yang sudah disiapkan sebelumnya.

“Apakah diantara kalian yang bersedia mengantarkannya?” tanya paman Kim penuh harap.

“Tentu saja paman. Kim Seulgi, temanku yang akan mengantarkannya.” Sehun mendorong Seulgi kedepan. Sehingga membuat paman Kim tersenyum lega karena pesanan kuenya ada yang mengantarkan.

Sementara itu Seulgi melebarkan kedua matanya terkejut mendapati dirinya yang harus mengantarkan semua pesanan itu. semua itu karena laki-laki itu yang dengan seenaknya menunjuk dirinya.

‘awas kau Oh Sehun!’

Diliriknya sehun yang berdiri dibelakangnya, laki-laki itu tersenyum lebar mengisyaratkan ‘biarkan kau berdua dengan Jinri’ melihat senyuman itu membuat Seulgi kesal dan sangat ingin meninju wajah laki-laki itu.

“Aissh.. bagaimana caraku menaiki sepeda ini? Awas kau OH SEHUN!”

Seulgi berteriak kesal sambil berlari dengan menarik sepeda itu. Sejak kecil ia sama sekali tidak bisa naik sepeda. Walau ia sudah beberapa kali berlatih, tetap saja ia selalu gagal.

Sepeninggalnya Seulgi. Sehun dan Jinri bertugas membersihakan toko karena beberapa menit lagi toko akan tutup.

Walaupun keduanya diselimuti dengan kecanggungan,mereka berdua tetap menjalankan tugas membersihkan seisi ruangan toko. Terlihat Jinri yang sedang membersihkan meja pengunjung dan Sehun yang terlihat sedang mengepel lantai.

“Bisakah kalian berdua membawa ini kegudang?” tiba-tiba paman Kim menunjukkan sebuah meja yang tampak sudah tak layak pakai karena kaki meja itu tampak akan patah dan juga sudah tampak using.

Jinri dan Sehun mengiyakan dan menuruti permintaan paman Kim. Mereka berdua menghampiri meja itu yang kemudian langsung mengangkatnya. Berat meja itu tidaklah begitu berat sehingga tidak begitu membebani mereka berdua.

Gudang yang dimaksud paman Kim berada tidak jauh dari toko dan letaknya ada dibelakang toko tersebut. Setelah sampai didepan gudang, Jinri membuka pintunya lalu kemudian mereka berhati-hati memasukkan benda itu kedalamnya. Keadaan gudang tampak gelap hanya diterangi dengan sedikit cahaya yang masuk dari celah-celah jendela gudang.

“Sebaiknya kita meletakkannya disini saja.” Ucap Sehun member aba-aba.

Sekarang meja itu sudah diletakkan disamping lemari yang berisi barang-barang lainnya yang sudah tak terpakai.

Sementara itu diwaktu yang bersamaan seorang wanita paruh baya sedang melewati gudang itu, wanita yang merupakan istri dari paman Kim menoleh kearah gudang. Ia terlihat bingung melihat keadaan gudang yang terbuka ‘siapa yang membuka gudang ini’ pikirnya.

Bibi Kim kemudian menutup pintu itu dan menguncinya. Sehun dan Jinri sontak menoleh kearah pintu yang secara tiba-tiba tertutup dan sepertinya ada seseorang yang menguncinya dari luar. Mereka berdua kemudian dengan cepat berlari kearah pintu dan menggedor pintu itu dengan keras agar orang yang ada diluar mendengarnya dan membukakan pintunya. Namun usaha mereka sia-sia saja, tak ada yang mendengar dan membukakan mereka pintu.

“Sehun-ah, apa yang harus kita lakukan?” tanya Jinri panic. Ia tampak ketakutan saat memperhatikan suasana gudang yang gelap dan udaranya yang lembab.

“Tenang! Akau akan berusaha mencari jalan keluarnya.” Sahut Sehun menenangkan Jinri.

“Kau takut?” tanya Sehun setelah melihat Jinri yang hanya diam dan tampak ketakutan.

“Tidak…aku tidak takut.” Balas Jinri sambil tertawa berusaha menyembunyikan rasa takutnya. Ia tak ingin terlihat lemah dihadapan orang lain.

Sehun tersenyum lembut kearah Jinri. Laki-laki itu mengacak pelan rambut gadis itu, sembari berkata “Ada aku disini yang akan menjagamu.”

“Siapa yang takut… aku tidak takut sama sekali.”

***

“AAAAAAAAA”

Seulgi berteriak sambil terus menarik sepedanya dengan berlari kencang agar cepat sampai ke toko. Semua pesanan sudah diantarkan ke masing-masing pelanggan. Seulgi ingin segera sampai dan dengan segera memberi pelajaran pada laki-laki itu.

“Enak saja ia menyuruhku dan membiarkanku mengantar semua pesanan itu sementara ia berduaan dengan Jnri.” Sungut Seulgi kesal. Ia mengatur napasnya karena sedari tadi ia hanya berlari tanpa menaikis sepedanya.

“Lebih baik aku coba menaiki sepeda ini agar aku cepat pulang.” Gumam Seulgi.

Seulgi dengan hati-hati menaiki sepedanya. Perlahan ia menaikkan sebelah kakinya untuk bersiap mengayuh sepada. Bagus! Sedikit lagi sepedanya akan melaju. Seulgi tersenyum lebar mendapati dirinya akhirnya berhasil mengayuh sepedanya dan perlahan sepeda itu melaju sedikit kencang.

Namun hanya beberapa kayuh saja, sepedanya tiba-tiba oleng kesamping karena gadis itu belum sepenuhnya bisa menyeimbangkan tubuhnya. Alhasil ia terjatuh dan berguling-guling ke bawah, karena dataran yang ia lewati tidaklah rata. Tubuh gadis itu terjatuh dan terhempas di atas rerumputan hijau. Sementara sepeda yang di naikinyapun juga terlempar bersama dengannya.

Seketika pandangannya memudar dan seketika apa yang didepannya menjadi gelap.

***

Keringat dingin mengucur membasahi pelipis gadis itu. Seluruh badannya terasa kaku, kedua kakinya terasa lemas tak kuat menopang berat tubuhnya. Aliran darahnya berdesir hebat manakala kedua bola mata coklatnya menatap lekat sepasang mata di hadapannya itu. Tatapan teduh namun menusuk itu mampu membuat Seulgi ingin ambruk seketika. Bibirnya terasa kelu tak mampu mengeluarkan sepatah kata, walau hanya sekedar kata ‘Hai’.

Matanya membulat saat bibir itu membentuk sebuah kengkungan manis. Sungguh, ingin rasanya ia berlari menjauh dari pandangan itu. Sekuat tenaga ia menggerakkan bibirnya hanya untuk mengatakan ‘aku menyukaimu’.

“Apa kau tahu sesuatu?”

Seulgi menggeleng tidak mengerti apa yang dimaksud laki-laki itu.

“Sejak pertama kali aku melihatmu, kau sama sekali tidak pernah berubah. Aku selalu memperhatikanmu dari kejauhan, setiap apa yang kau lakukan mampu membuatku tertawa.”

Laki-laki itu menatap Seulgi dalam. Ada kilatan keseriusan didalamnya. Seulgi tertegun mendengarnya. Ia terus menatap laki-laki itu menunggu ucapan selanjutnya yang akan keluar dari bibir tipisnya.

“Aku mencintaimu, Kim Seulgi.”

“Daehyun-ah, kau…”

To Be Continued

Mian sebelumnya aku mau minta maaf karena post FF nya kelamaan karena kemarin-kemarin ada kesibukan yang secara tiba-tiba dan aku baru sekarang update FF nya>< dan mian kalau makin kesini ceritanya agak ngawur n ga jelas (T_T).

Dichapter ini aku ga ada cantumkan preview dan di chapter ini ceritanya Full untuk bagian chapter 2B.^^

gomawo yang udah setia baca n ngasi komentar dan saran dari kalian goamawo *bow*

98 thoughts on “Maid 90 days // Chapter 2B

  1. sehun sama jinri terkunci trus gmana tuh?seulgi mlah ninggalin eh malah jatuh dan pingsan, apa benar daehyun nyatain perasaannya?apa hanya mimpi?

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s