Maid 90 Days // Chapter 3

MAID901

Title // Maid 90 days

Author // Redbaby

Main Cast // Oh Sehun – Kim Seulgi – Park Daehyun – Choi Jinri

Genre // Romance – School Life

Note : FF ini terisnpirasi dari salah satu Anime yang aku tonton jadi kalau ada kesamaan cerita,itu di karena FF ini biased from a Anime^^ tapi alur cerita keseluruhan murni dari pemikiran aku sendiri hanya.

_Happy Reading_

Prev.

Teaser // Chapter 1 // Chapter 2A // Chapter 2B

-Maid 90 Days-

“Bukan hanya berjanji untuk membantuku lebih dekat dengan Jinri tapi kau juga sudah berjanji padaku untuk selalu berada disampingku dan melayaniku”

Menangislah jika menangis bisa membuat hatimu tenang”

-Maid 90 Days-

Sehun mengangkat kedua alisnya saat melihat Jinri yang menyanyikan lagu three bears dengan tarian yang lucu. Sehun berusaha menahan tawanya, namun saat melakukan gerakan tarian berputar Sehun tak tahan lagi, laki-laki itupun tertawa lepas sambil memegang perutnya.

Melihat Sehun yang tertawa, Jinri menghentikan gerakannya. Ia terdiam sejenak lalu iapun juga ikut tertawa dengan menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Ia tahu sikap konyolnya itu akan mengundang gelak tawa siapapun yang melihatnya termasuk laki-laki di depannya itu.

“Dengan cara itukah kau untuk menghilangkan rasa takutmu?” tanya Sehun ditengah tawanya yang menggelegar.

“Ya..begitulah.” Jawab Jinri dengan cengiran yang memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi.

***

Seulgi melebarkan matanya. Ia terkejut ketika mendapati berdiri sudah berada di belakang gedung sekolah dan…apa yang telah terjadi? Kenapa tiba-tiba Daehyun disana juga? Seingatnya beberapa waktu yang lalu ia sedang mengantarkan pesanan kue, dan ia terjatuh saat mencoba untuk menaiki sepeda yang akhirnya ia tak sadarkan diri ketika tubuhnya terhempas.

Tapi kenapa…

Keringat dingin mengucur membasahi pelipis gadis itu. Seluruh badannya terasa kaku, kedua kakinya terasa lemas tak kuat menopang berat tubuhnya. Aliran darahnya berdesir hebat manakala kedua bola mata coklatnya menatap lekat sepasang mata di hadapannya itu. Tatapan teduh namun menusuk itu mampu membuat Seulgi ingin ambruk seketika. Bibirnya terasa kelu tak mampu mengeluarkan sepatah kata, walau hanya sekedar kata ‘Hai’.

Matanya membulat saat bibir itu membentuk sebuah kengkungan manis. Sungguh, ingin rasanya ia berlari menjauh dari pandangan itu. Sekuat tenaga ia menggerakkan bibirnya hanya untuk mengatakan ‘aku menyukaimu’.

“Apa kau tahu sesuatu?”

Seulgi menggeleng tidak mengerti apa yang dimaksud laki-laki itu.

“Sejak pertama kali aku melihatmu, kau sama sekali tidak pernah berubah. Aku selalu memperhatikanmu dari kejauhan, setiap apa yang kau lakukan mampu membuatku tertawa.”

Laki-laki itu menatap Seulgi dalam. Ada kilatan keseriusan didalamnya. Seulgi tertegun mendengarnya. Ia terus menatap laki-laki itu menunggu ucapan selanjutnya yang akan keluar dari bibir tipisnya.

“Aku mencintaimu…”

Apa?

Ia tak salah dengar, kan? Telinganya sedang tidak bermasalah, kan?

Tapi kenapa semua ini terasa begitu tiba-tiba..

Dan..

Apa yang harus ia katakan? Jawaban apa yang harus ia berikan?

Sejujurnya..

***

“Seulgi-ya, Seulgi-ya! Gwencahana?”

Samar-samar suara berat itu memasuki telinganya. Perlahan matanya terbuka dan mengerjapkannya berkali-kali agar bisa menyesuaikan cahaya yang memasuki matanya.

Gadis itu melihat bayangan wajah yang tak begitu jelas dihadapannya. Perlahan wajah itu mulai terlihat jelas. Wajah yang sangat ia kenal. Seketika kedua matanya terbuka lebar. Daehyun, laki-laki itu sekarang ada didepannya.

Apakah tadi itu hanya mimpi?

Daehyun yang semula terlihat cemas kini bisa bernapas lega. Gadis itu akhirnya sadar dan membuka matanya setalah satu jam lamanya ia tak sadarkan dirinya. Jika saja ia tak melewati jalan itu, mungkinkah seseorang akan menolangnya? Entahlah..

“A..a..apa yang terjadi denganku? Dan…”

Ia baru menyadari jika selama ia pingsan tadi ia tertidur diatas pangkuan Daehyun. Ia dengan cepat bangun walau kepalanya masih terasa sakit dan pusing akibat benturan ringan saat ia terjatuh waktu itu. Ia membenarkan posisinya dan berusaha bersikap biasa saja, walau rasa gugup itu tak pernah hilang disaat ia berada dekat dengan lelaki itu.

“Mi…mian, sudah menyusahkanmu.”

“Tak apa. Aku senang akhirnya kau sadar.” Sahut Daehyun dengan seulas senyum “Aku sangat panic saat melihatmu tergeletak dan tak sadarkan diri, beberapa kali aku membangunkanmu tapi kau tak juga membuka matamu. Aku sangat khawatir.”

Blush…

Seketika wajah gadis itu memerah saat tahu bahwa Daehyun begitu menghawatirkannya. Ia tak menyangka kalau laki-laki yang selama ini ia sukai begitu khawatir terhadapannya. Apakah ini pertanda baik untuknya? Tanpa disadari bibirnya membentuk sebuah lengkungan. Ia begitu senang sampai-sampai ia tak bisa mengontrol dirinya.

“Gomawo.”

“Ehm.”

Daehyun terseyum lembut padanya. Dan gadis itupun balas tersenyum. Selang beberapa detik ada sesuatu yang tertangkap oleh mata lelaki itu, ada sebuah luka kecil di kening Seulgi. Daehyunpun merogoh ranselnya mencari plaster luka di dalamnya.

Seketika Seulgi terkejut saat secara tiba-tiba wajah lelaki itu mendekat kearahnya. Seulgi bergerak mundur, namun Daehyun semakin mendekat padanya. Jantungnyapun berdetak begitu cepat, saat wajah laki-laki itu hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. sial! Ia tak dapat lagi bergerak mundur ketika menyadari sebuah sepeda tergeletak tepat dibelakangnya.

Seulgi memejamkan kedua matanya seraya menggigit bibir bawahnya. Ia tak menyangka Daehyun akan melakukan hal itu padanya. Namun ia tak dapat mengelak atau menolak jika hal itu akan terjadi padanya.

“Ok, aku rasa begini saja sudah cukup untuk menutupi lukamu.”

Apa?

***

Sinar matahari mulai meredup dan perlahan kembali keperaduannya. Gudang berukuran sedang dan dipenuhi dengan barang-barang yang tak terpakai itu mulai terlihat gelap dan membuat penglihatan dua orang yang berada didalamnya tidak begitu jelas.

“Apa yang harus kita lakukan? Gudang ini juga semakin lama akan semakin gelap dan tak ada satupun yang bisa membantu kita keluar dari sini.” Ucap Jinri yang mulai cemas.

“Jangan khawatir! Aku yakin ada cara lain yang bisa kita gunakan untuk keluar dari sini.” Sahut Sehun sambil mencari sesuatu yang bisa membantu mereka.

Jinri mengedarkan pandangannya kepenjuru gudang. Ia mendongak menatap langit-langit yang sudah mulai gelap. Entah mengapa sekujur tubuhnya bergetar saat bayangan masa lalunya ketika ia terjebak di sebuah ruangan gelap itu melintas begitu saja. Ia teringat akan sesuatu yang menarik kakinya waktu itu lalu kemudian ia berteriak histeris sambil menendang-nedang kakinya. Jinri memejamkan matanya serta menggeleng kepalanya berkali-kali ia tak ingin mengingat kejadian itu.

Namun tiba-tiba…

Sementara itu, Sehun menemukan sebuah jendela yang berukuran kecil. Jendela itu tampak usang dan terdapat sarang laba-laba yang menempel disekeliling jendela itu. Secercah harapan baginya untuk bisa keluar sana. Dan yang harus ia lakukan adalah mencari sebuah tangga agar ia bisa membukanya dikarenakan jarak jendela yang cukup tinggi.

“Aku rasa jendela itu bisa membantu kita untuk ke—“

Namun disaat Sehun akan berbalik arah untuk menghadap Jinri yang berada dibelakangnya tiba-tiba saja Jinri menghambur kearahnya dan memeluk laki-laki itu erat. Sehun terkejut saat gadis itu memeluknya secara tiba-tiba. Ia sama sekali tak dapat menggerakkan tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang serta aliran darahnya berdesir hebat.

Apa yang harus ia lakukan?

Sementara itu Jinri mempererat pelukannya, bayangan menakutkan itu terus saja menghantuinya. Keringat dingin membanjiri pelipisnya dan seluruh tubuhnya bergetar hebat. Ia sama sekali membenci keadaan itu dan juga membenci adanya kegelapan yang menyelimutinya.

“Ji…jinri, gwencahana?”

Sehun mengangakat kedua tangnnya ingin mengelus puncak kepala gadis itu berusaha memberi ketenangan. Namun kedua tangannya itu terasa berat untuk melakukannya, tapi merasakan getaran tubuh gadis itu membuat Sehun melawan rasa gugupnya dan memberanikan diri menyentuh puncak kepala dan membelainya lembut berharap dengan itu dapat membuat Jinri merasa tenang.

“Tenanglah! Sebentar lagi kita akan keluar dari sini.” Ucap sehun menenangkan sambil mengelus lembut kepala gadis itu.

Sepertinya usahanya membuahkan hasil. Gadis itu perlahan mulai tenang dan tubuhnyapun tidak bergetar lagi. Perlahan pelukan gadis itu juga melonggar sesaat setelah ia merasa tenang dan bayangan ketakutan itu tak menghantuinya lagi.

Jinri melepas pelukannya seraya mundur beberapa langkah dengan wajah yang tertunduk. Ia merasa malu sekarang, Jinri tak tak ingin menampakkan wajah merahnya dihadapan laki-laki itu. Ia sama sekali tak dapat mengontrol dirinya dan tak dapat mencegah tubuhnya yang bergerak secara langsung menghambur memeluk lelaki itu. Yang ia rasakan hanya rasa takut mengingat kejadian masa kecilnya beberapa tahun yang lalu.

“Mian.”

“Tak apa.” Sahut Sehun dengan terseyum simpul “Oh, bantu aku mencari tangga utnuk bisa memanjat jendela itu.” Ucap Sehun sambil menunjuk arah jendela yang ada dibelakangnya dan Jinri mengikuti arah telunjuk lelaki itu.

“Apa kita bisa keluar dengan jendela yang sekecil itu?” sahut Jinri ragu saat melihat ukuran jendela yang hanya berukuran kecil, mengingat tubuhnya yang berukuran tiga kali lipat dari jendela itu.

***

“Aku tidak melihat mereka sejak aku menyuruhnya kegudang, aku rasa mereka sudah pulang lebih dulu.” Ucap paman Kim sambil membersihkan meja makan.

Seulgi yang beberapa menit yang lalu tiba langsung memarkirkan sepedanya di luar toko kemudian menyerahkan uang pembayaran kue ke paman Kim. Saat ia tiba dan masuk ketoko, ia tak melihat kedua temannya itu, dan menanyakan keberadaan mereka berdua.

Namun saat mendengar jawaban paman Kim, Seulgi mendengus kesal. Kemana perginya laki-laki itu setelah ia dengan seenaknya menyuruh gadis itu mengantar kue? Menggunakan sepeda pula.

Awas kau Oh Sehun…

Seulgi memanggil nama lelaki itu berkali-kali. Ia berkeliling disekitaran toko, ia yakin mereka ada di sekitar sini.

“Hei, Oh Sehun keluar kau!”

“Aku tahu kau ada di sekitar sini.”

“Tenang Oh Sehun tanganku ini tak akan tega memukulmu. Tapi tanganku akan mencincangmu habis-habisan!”

Seulgi berteriak memanggil Sehun dengan segala ancaman yang ia keluarkan. Tentu saja, gadis itu marah besar sekarang. Disaat ia harus berusaha keras mengantarkan pesanan dengan membawa sepeda yang sama sekali tak bisa ia naiki, lelaki itu malah mengambil kesempatan dalam kesempitan.

Bukankah ia juga seperti itu? Lupakan!

Samar-samar Sehun mendengar seseorang meneriaki namanya. Ia yakin orang itu adalah Seulgi. Ya tak salah lagi suara itu milih Seulgi. Tapi bagaimana caranya ia memberitahu gadis itu kalau ia terkurung didalam sana?

“Bukankah itu Seulgi?” gumam Jinri yang juga mendengar suara gadis itu. Jinripun berlari kearah pintu dan menggedornya memberikan tanda bahwa mereka berdua ada didalam gudang itu.

“Jinri-ya, sementara kau menggedor pintu itu aku akan melambaikan kain ini melalui jendela.” Sahut Sehun yang berusha menaiki tangga yang mereka temukan di sela-sela tumpukan lemari yang tak terpakai.

Jinri mengangguk sambil terus menggedor pintu seraya berteriak memanggil Seulgi.

“SEULGI! TOLONG AKU, AKU TERKUNCI DIGUDANG INI!”

Seulgi mendengar suara teriakan dari suatu tempat. Ia menoleh kearah sumber suara, ia memastikan dari manakah suara itu berasal. Seulgi berjalan kearah bangunan kecil yang ia tahu itu adalah sebuah gudang. Semakin mendekat suara itu semakin jelas terdengar. Tak salah lagi suara yang dengan berasal dari gudang itu.

“Aha! Aku menemukan kalian teman-teman.”

Seulgi berlari kecil mendekati gudang itu, namun saat ia akan mendekati pintu gudang ia melihat seseorang melambaikan kain dari arah jendela. Ia kemudian tersenyum licik dan mendapati sebuah ide dikepalanya.

Gadis itu berlari mengambil tangga yang ada di dekat pintu gudang dan membawanya kearah jendela. Perlahan Seulgi menaiki anak tangga itu untuk sampai ke atas jendela.

Sementara itu Sehun menurunkan tangannya dikarenakan lengannya terasa pegal. Ia berpikir jika usahanya itu sia-sia dan mustahil Seulgi akan melihatnya. Namun melihat Jinri yang terus menyemangatinya membuat Sehun tak menyerah dan kembali mengeluarkan melambaikan tangannya keluar jendela.

Sehun mendongakkan kepalanya dan meninggikan badannya untuk bisa melihat keluar jendela. Namun sayang saat ia akan bersiap mengulurkan tangannya ia dikejutkan dengan kemunculan Seulgi yang secara tiba-tiba dan langsung membuat laki-laki itu terjatuh dari tangga.

“Hei, aku menemukanmu, Oh Sehun…”

“KYAAAAAA”

BRUUUKK

“Ops”

***

Dua hari setelah kejadian digudang itu, Sehun masih tidak bisa berjalan karena kakinya yang masih dibalut dengan perban karena saat itu kakinya tertindih oleh tangga yang dinaikinya bersamaan dengan tumpukan-tumpukan kardus berisi buku-buku meninmpa tubunya. Seulgi merasa bersalah karena itu adalah ulahnya yang mengejutkan Sehun dan membuat laki-laki itu terkejut dan akhirnya terjatuh.

Selama dua hari pula Seulgi merawat Sehun, membantunya berdiri dan selalu membawakannya makanan. Dan tepat hari ini Sehun memutuskan untuk pergi kesekolah setelah dua hari ia abesen. Dan tentu saja semua itu ada alasannya.

Choi Jinri.

Walaupun Jinri selalu datang menjenguknya sepulang sekolah, namun masih saja ia ingin tetap melihat wajah gadis itu. Yah, namanya saja orang yang lagi jatuh cinta. Tidak melihat orang yang disukai barang sekali saja membuat hati gelisah.

“Aisshh! Kau menyusahkanku saja.” Dengus Seulgi sambil menopang lengan Sehun membantu laki-laki itu berjalan.

“Ini juga karena ulahmu, kalau saja kau tidak muncul dengan tiba-tiba aku tak akan seperti ini, bodoh.”

Seulgi mendengus kesal, saking kesalnya ia menarik paksa tangan Sehun dan memaksanya untuk berjalan lebih cepat dan ia tak peduli dengan keadaan kaki lelaki itu. Sehun tertarik kedepan dan terseret oleh Seulgi, ia berjalan terpaksa berjalan dengan kaki yang terpincang. Ia berteriak berusaha menyuruh gadis itu untuk berhenti, namun percuma saja karena Seulgi tak menghiraukan teriakan Sehun dan terus menyeret lelaki itu tanpa ampun.

***

“Aku ingin sebuah photo yang menarik dan juga sebuah photo yang bisa aku simpan di deompetku. Tapi aku tidak yakin haslnya akan bagus, melihat kemampuanmu yang seperti itu. Andaikan dulu aku kursus photography, mungkin aku bisa membuat sebuah bingkai dan memajang photonya dikamarku.”

“Simpan saja curahan hatimu itu.” Sahut Seulgi cepat.

Keduanya sedang mengganti sepatu didepan loker masing-masing. Sementara Sehun yang kakinya masih terbalut perban harus menunggu Seugi selesai memakai sepatunya karena gadis itu yang akan membuka sepatu lelaki itu dan menggantikannya karena Sehun masih kesulitan untuk menunduk dan membuka sepatunya sendiri mengingat tangan kanannya yang juga masih terasa sakit dan nyilu jika menyentuh sesuatu.

“Jika kau kesulitan untuk mengambil photonya beritahu aku, aku tidak ingin photo yang sama persis seperti punyaku. Itu sangat buruk. Aku ingin setiap hari melihat kegiatan yang ia lakukan, dan kau harus mengambil gambarnya sebanyak mungkin. Jangan menge—“

“Diam dan serahkan semuanya padaku! Kalau tidak, aku akan mematahkan kakimu.” Sela Seulgi cepat. Gadis itu begitu geram mendengar ocehan Sehun yang sedari tadi hanya membahas photo Jinri yang akan ia ambil nantinya. ‘Dasar laki-laki cerewet’ gumamnya. Tak bisakah ia diam dan menyerahkan semua itu pada Seulgi? Lagipula ia sudah berjanji kan untuk mengambilkan gambar Jinri untuknya. Menyebalkan!

Mendengar ancaman mengerikan itu Sehun langsung menutup mulutnya rapat-rapat dan hanya memperhatikan gerakan Seulgi yang sedang membuka ikatan tali sepatunya itu. Benar, ia harus mempercayakan semuanya pada gadis itu, ia yakin Seulgi tak akan mengecewakannya.

-1 hours ago-

Seulgi membuka kamar Sehun yang tiap hari tidak pernah dikunci oleh pemiliknya, ia berjalan menuju tempat tidur di mana ada Sehun di balik selimut tebal itu. Seulgi melipat kedua tangannya di depan dada, ia menatap tajam gundukan selimut didepannya itu bersiap mengeluarkan suara cemprengnya. Namun ia sebelumnya ia mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan.

“SUDAH BERAPA KALI AKU MEMPERINGATIMU UNTUK TIDAK MENARUH TISU BASAH DI DALAM SAKU CELANAMU, HUH? KAU TAHU BETAPA MENJIJIKANNYA ITU? AKU BAHKAN TIDAK BISA MENCUCINYA KARENA TISU ITU! PERLU BERAPA KALI AKU HARUS MEMBERITAHUMU, APA KAU TIDAK KASIHAN PADAKU YANG SELALU MENGOMELIMU TENTANG PENTINGNYA MENJAGA KEBERSIHAN? KALAU KAU TETAP SEPERTI ITU AKU TAK AKAN SEGAN MEMATAHKAN KEDUA TANGAN DAN KAKIMU! HAAH, AKU BENAR-BE—“

“Ya…ya…ya aku mengerti…aku mengerti! Bisakah kau tidak meributkan hal-hal kecil seperti itu di telingaku?” sela Sehun cepat sambil membuka selimutnya seraya menutup kedua telinganya. Gadis itu benar-benar membuat kupingnya tuli dalam sekejap. Oh, Tuhan makanan apa yang setiap hari ia makan sampai suara gadis itu bagaikan petir dipagi hari.

Seulgi menegakkan badannya dan menurunkan kedua tangannya. Ia kemudian menghela napas lega setelah berteriak beberapa detik mengomeli lelaki itu. Ia tak menyangka jika marah dan berteriak seperti tadi mampu membuatnya kehabisan oksigen. Bisa dibayangkan kalau setiap hari ia melakukan itu, bisa dipastikan ia akan mengidap penyakit asma.

Gadis itu melewati tempat tidur Sehun dan menuju jendela kamar sambil berkata “Bagus kalau kau mengerti, sekarang cepat kau bangun dan rapikan tempat tidurmu sementara aku akan mencari pakaian kotor di lemarimu.”

Sinar matahari mulai memasuki kamar melalui jendela setelah Seulgi menyibak gorden yang menutupinya. Sehun yang masih di atas tempat tidur menggeliat meregangkan semua otonya. Ia menyingkirkan selimutnya lalu kemudian bangkit, Sehun menggerakkan kakinya perlahan mengingat keadaan kaki kanannya yang masih terluka.

Sementara Seulgi melangkah kesisi ruangan lainnya menuju lemari laki-laki itu. Ia membuka lemari itu dan langsung memilah pakaian kotor yang akan ia cuci. Tiga lembar baju sudah berada ditangannya lalu gadis itu menuju bagian bawah lemari untuk mengambil pakaian lainnya. Saat akan mengambil baju kaos berwarna putih, ia tak sengaja melihat sebuah kardus kecil. Seulgi penasaran dengan isinya dan langsung mengambilnya dan membukannya.

Kedua alisnya terangkat saat melihat isi di dalam kardus kecil itu. Ada begitu banyak photo didalamnya. Namun gambar yang ia lihat tidak begitu jelas karena object photo yang diambil terlihat buram. Benar-benar pengambilan gambar yang buruk, sungguh tidak berbakat orang yang mengambil photo tersebut. Tapi setelah Seulgi memperhatikan dengan sangat detail barulah ia menyadari kalau orang yang ada didalam photo itu adalah sahabatnya. Choi Jinri.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Sehun yang secara mengejutkan sudah berada di belakang gadis itu. Seulgi terkejut dan langsung menoleh kebelakang. Namun keterkejutannya tidak berakhir disitu saja, ia terjungkir ke belakang saat wajah laki-laki itu sangat dekat dengannya.

Sehun menyipitkan matanya dan langsung mengambil kardus kecil itu dari tangan Seulgi dan berkata “Photo ini aku ambil saat kami masih SMP dan saat itu aku terlalu takut untuk meminta photonya. Jadi aku putuskan untuk mengambil gambarnya secara diam-diam. Yah, walau aku tahu hasilnya seburuk itu.”

“Mau aku ambilkan photonya? Baru kali ini aku lihat sebuah photo dengan kualitas terburuk.” Ucap Seulgi sembari melirik Sehun yang sedang menggaruk tengkuknya malu.

***

“Annyeong!”

Seulgi dan Sehun sontak menoleh kearah Daehyun. Lelaki itu tersenyum lebar. Daehyun beralih menatap Sehun dan bertanya “Bagaimana kakimu? Sudah sembuh, kah?”

“Kau lihat sendiri kan aku masih belum bisa membuka sepatu sendiri dengan tangan yang seperti ini. Lagipula kakiku saja masih bebat.” Jawab Sehun dengan mengendikkan kepalanya kearah Seulgi yang sedang membuka sepatunya. Namun lagi-lagi gadis itu terlihat gugup dan hanya menunduk dengan wajah yang memerah. Bagaimana tidak, Seulgi selalu teringat kejadian tempo hari ketika melihat lelaki itu.

“Oh, bagaimana keadaan keningmu? Sudah tidak memar lagi, kan?” tanya Daehyun beralih menatap Seulgi. Mendengar pertanyaan lelaki itu, Seulgi tertegun dan tak sadar menekan pergelangan kaki Sehun sehingga membuat lelaki itu memekik kesakitan.

“Hei! Kau benar-benar ingin mematahkan kakiku, huh?”

“Eh, Mi…mian.”

Apakah lelaki itu menaruh perhatian padanya?

Entahlah…

***

Suara seorang laki-laki terdengar di seluruh kelas melalui pengeras suara di masing-masing kelas. Semua siswa sontak menghentikan semua aktifitas yang mereka lakukan dan mendengarkan pengumuman yang disampaikan oleh seseorang yang berada di balik suara itu.

“Perhatian untuk semua siswa baik kelas satu, dua dan tiga untuk berkumpul di aula sekolah sekarang juga! Sekali lagi, diminta untuk semua siswa untuk berkumpul di dalam aula sekarang juga!”

Setelah pengumuman itu berkumandang, semua siswa kemudian berbisik dan bertanya-tanya ada hal apakah yang akan di sampaikan oleh pihak sekolah untuk mereka semua.

Beberapa menit berlalu semua siswa sudah berkumpul di aula sekolah dan berbaris dengan rapi. Di depat mimbar ada enam anggota osis dan dua orang dewan sekolah yang akan siap memberikan sebuah pidato. Kim Nari yang merupakan ketua dewan dan didampingi oleh Kim Daehyun siap untuk memberiakan sebuah pengumuman kepada seluruh siswa yang telah menunggu.

Gadis berambut panjang dan memiliki wajah dengan tatapan dingin itu berdehem sebelum mengeluarkan suara lantangnya. Semua siswa tahu kalau Kim Nari merupakan ketua dewan yang sangat tegas. Tidak salah kalau gadis itu terpilih menjadi ketua osis sekaligus ketua dewan sekolah selama tiga kali berturut-turut.

Suara microphone yang berbunyi melengking mengawali pidato pagi itu.

“Semuanya luruskan barisan!” ucap Nari sang ketua lantang. Sementara itu semua siswa dengan sigap merentangkan tangan kedapan dan setelah itu melipat kedua tangan kebelakang punggung. Barisanpun terlihat rapid an semua siswa menghadap kedepan dengan tegap.

“Belakangan ini, banyak dari kalian telah melupakan buku pegangan murid!” lanjutnya tegas. Semua siswa tamak tertegun dan beberapa dari mereka menunduk karena merasa apa yang dikatakan sang ketua itu benar adanya. Mereka semua memang melupakan hal itu.

“Kami juga punya bukti. Menurut laporan bidang kedisiplinan selama pemeriksaan minggu lalu barang pribadi ada…eh, ada berapa banyak?” ucapanya terhenti karena ia lupa jumlah murid yang telah melanggar aturan tersebut. Selang beberapa detik kemudian Daehyun memberitahu jumlah yang benar dengan cara berbisik di telinga gadis itu. Melihat aksi yang dilakukan oleh Daehyun, Seulgi menyipitkan matanya dan kedua tangannya terkepal erat. Melihat pemandangan didepannya membuat dirinya ingin meninju apapun di sekitarnya karena kesal.

“Keseluruhan total lima puluh enam orang telah lupa…” sekali lagi jumlah yang disebutkan tidak tepat sehingga Daehyun mengulangi memberitahu jumlah yang benar dengan cepat. Lagi. Seulgi yang melihatnya geram dan kesal.“Tunggu, itu salah. Sebanyak lima puluh Sembilan.”

“Biarpun rinciannya begitu, bagaimanapun juga datang kesekolah tanpa buku pegangan murid seperti melupakan kebanggan kalian sebagai murid Kyungsang.”

“KALIAN INGATLAH BAIK-BAIK!.”

“YA” semua murid menjawab dengan serempak.

Melihat semua murid tampak mengerti Kim Nari mengangguk tegas dan langsung memberikan microphone yang dipegangnya kepada Daehyun dan bersiaap berbalik dan turun dari mimbar.

“Apakah kau sudah yakin untuk berbicara?”

Langkah Nari terhenti saat seseorang mengeluarkan suara dan berbalik menoleh. Dilihatnya Seulgi menatapnya tajam.

“Kau melupakan satu hal.” Lanjut gadis itu dengan tatapan yang menantang. Sementara itu Nari hanya diam dengan tatapan dinginnya.

“Se…Seulgi.” Gumam Daehyun memanggil nama gadis itu karena ia terkejut kalau teman sekelasnya itu berani membantah seorang Kim Nari.

“Anak kecil, kau mengatakan sesuatu?” sahut Nari dengan suara datarnya namun tetap terdengar dingin. Seulgi yang dipanggil dengan sebutan anak kecil langsung menypitikan matanya. Siapa yang dimaksud anak kecil? Hei, dia sekarang sudah berumur tujuh belas tahun bukan anak kecil lagi! Apa karena badannya yang mungil sehingga ia di panggil anak kecil?

“SIAPKAN!”

Nari tertegun dan kemudian tersadar kalau sedari tadi ia belum menyiapkan para murid dan mengembalikan posisi mereka seperti semula. “Oh, aku lupa.” Beberapa detik kemudian ia mengeluarkan perintah untuk menyiapkan para siswa, dan kemudian mereka mengembalikan posisi ke awal.

“Mereka bukan anak kecil lagi sekarang tapi masih saja bodoh mau berbaris dan mendengar omong kosong tidak berguna ini.” Gumam Seulgi pelan, namun suaranya itu mampu didengar oleh semua murid termasuk Daehyun dan Nari. Daehyun yang mendengar umpatan Seulgi tersenyum samar dan berusaha menenangkan keduanya.

“Apakah itu benar-benar buruk? Kau hanya meletakknya kedua tanganmu di belakang punggung!”

“Apaan.” Sahut Seulgi dengan kesal. Daehyun yang mencium aroma pertengkaran di sana berusaha menenangkan Seulgi agar tidak menimbulkan perkelahian. Apalagi ia tahu kalau Nari sang ketua sangat membenci ada orang yang membantahnya apalagi melewannya.

“Hey, Seulgi-ya!” panggil Daehyun agar gadis itu tak lagi memperpanjang masalah itu, namun Seulgi tak menghiraukannya.

“Hebat, mencoba untuk membuatku berkeringat awal pagi ini.”

“Ketua, tenangkan dirimu juga.” Bujuk Daehyun pada gadis itu.

“Apa yang kau tahu?! Tidak sakit pinggang, tidak merasakan lelah? Itu menyebalkan namun kami tetap melipat kedua tangan kebelakang! Kami terlihat sangat—“ ucap Seulgi sarkatis dengan tubuh yang sedikit maju seolah ingin menghampiri Nari yang menatapnya tajam. Sebenarnya ia tak ingin membuat kehebohan pagi itu apalagi meributkan sesuatu yang tak penting seperti ini. Tapi semua itu dikarenakan sesuatu yang mengganjal dihatinya saat melihat adegan Daehyun yang berbisik pada gadis itu, dan membuat ia sangat kesal.

“Seulgi.” Gumam Jinri yang melihat temannya marah-marah seperti itu. Ini pertama kalinya ia melihat sahabatnya itu tampak emosi dan berani melawan ketua dewan sekolah.

“S…Seulgi tolong tenangkan dirimu!” ucap Daehyun yang dengan cepat mendekap tubuh gadis itu agar tidak meneruskan perlawannya. Sementara itu Seulgi sangat terkejut ketika kedua tangan lelaki itu mendekap tubuhnya. Seketika ia terdiam mematung dan mulutnya tertutup rapat.

“Maafkan aku ketua silahkan kembali kekelas.” Ucap Daehyun meminta maaf mewakili Seulgi. Kim Nari sang ketua mendengus kesal dan kemudian berbalik meninggalkan aula. Baru kali ini ada seseorang yang berani membentaknya dan melawannya.

Semua siswa tampak kebingungan dengan apa yang telah terjadi pagi itu. Sebagian siswa berbisik “Ada apa?” dan pula siswa yang merasa terkejut melihat Seulgi yang langsung terdiam saat Daehyun mendekapnya. “Si ratus kebersihan bentrok dengan ketua.”

Sementara itu Sehun yang sedari tadi hanya memperhatikan perdebatan sengit itu melempar pandangannya kesembarang arah dengan berkata “Untuk pertama kalinya aku ingin amnesia karena telah mengenal gadis itu.” Apa yang telah dilihatnya sangat membuat dirinya malu dan jika ada seseorang yang mengatakan bahwa Kim Seulgi adalah temannya maka ia akan langsung menjawab ‘aku tidak mengenalnya’

***

Sepanjang pelajaran dimulai Seulgi hanya diam mematung dengan senyum aneh diwajanya. Sehun yang menyadari itu hanya menggelengkan kepalanya prihatin. Semenjak kejadian Daehyun yang medekapnya di aula beberapa waktu yang lalu gadis itu tak hentinya senyum-senyum sendiri dan tak memperhatikan guru yang sedang menerangkan pelajaran hari itu.

“Sampai kapan kau akan terus seperti itu? Kau tidak makan?”

Seulgi tak menjawab dan masih dengan wajah yang bersemu merah. Ini satu jam lamanya gadis itu tak berhenti tersenyum. Sampai jam pelajaran usaipun ia masih tetap sama dengan posisinya. Sehun mendesah seraya mengambil kotak bekalnya dan membukanya tak ketinggalan bekal milik Seulgi juga dibukanya. “Lihat saja sampai kapan kau senyum-senyum seperti itu.” Gumam Sehun sambil tersenyum licik karena ia akan melancarkan ide jahilnya pada gadis itu. Sehun mengambil sumpitnya dan langsung menyumpit nasi lalu kemudian tangan kirinya meraih pipi Seulgi dan menariknya kedepan. Sehun lalu memasukkan nasi itu kemulutnya.

Seulgi terkejut dan tersedak karena Sehun menyuapinya dengan tiba-tiba. Gadis itu panic sambil menepuk dadanya dan mencari air minum. Sehun yang melihatnya tertawa puas karena telah mengerjainya. Melihat Seulgi yang panic mencari air, lelaki itu menyodorkan botol mineral dan dengan cepat gadis itu mengambilnya dan meneguk isinya.

“Hei, kau ingin membunuhku, ya?” bentak Seulgi kesal.

“Kalau kau melamun lagi seperti tadi, aku akan melakukan hal yang lebih parah lagi. Sekarang cepat makan bekalmu dan aku akan memberikan solusi untukmu.” Sahut Sehun sarkatis dan kemudian menyodorkan bekal makanan untuk gadis itu. Seulgi yang mendapati perlakuan yang semena-mena tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti perintah lelaki itu, kalau ia tak ingin mendapatkan perlakuan yang lebih kejam lagi dari Sehun.

Seulgi menyantap bekalnya dengan semangat karena ia tak sabar dengan solusi yang akan diberikan lelaki itu untukya. Kira-kira solusi apa yang akan di berikan lelaki itu, ya?

Suasana kelas saat itu tampak sepi hanya ada beberapa orang saja yang ada disana. Beberapa murid itu ada yang tertidur menghabiskan waktu istirahat ada juga yang bergosip dengan teman sebangkunya.

“Katakan dengan sejujurnya saja tentang perasaanmu padanya.”

Seulgi yang mendengar itu hampir saja menyemburkan makanannya. Ia terkejut dengan apa yang dikatakan Sehun barusan. Itu berarti ia harus menembak lelaki itu? Oh, Tuhan itu sama saja bunuh diri. Bagaimana kalau Daehyun menolaknya? Bagaimana setelah ia menyatakan perasaannya, lelaki itu akan menjauhinya? Bagaimana kalau…

“Sebelum ketua dewan yang bernama Kim Nari itu akan mengambil Daehyun darimu.”

Tidak mungkin. Itu tidak mungkin terjadi. Kalau itu terjadi entah apa yang akan terjadi pada dirinya, bisa saja ia akan gantung diri atau semacamnya kalau orang yang disukainya direbut oleh perempuan lain. Itu pasti sangat menyakitkan. Lalu apakah ia akan mengikuti saran dari Sehun?

“A…apa maksudmu, hahaha. Tidak mungkin aku melakukan itu, kan.” Sahut Seulgi sambil menahan kegugupannya.

“Katakan sekarang atau tidak sama sekali, penyesalan itu sangat menyakitkan, lho.”

Seulgi tersenyum simpul sambil memikirkan kembali apa yang dikatakan lelaki itu. Apakah ia harus mengikuti saran itu atau tidak, atau ia akan menyesal untuk selamanya. Ah, ini benar-benar gila.

***

Jam pelajaran telah usai semua murid sudah pulang kerumah masing-masing. Seperti biasa Seulgi selalu menyempatkan diri untuk pergi kekebun bunga belakang sekolah untuk sekedar menyiram tanaman dan memberi pupuk. Hari itu tak ada club sepak bola yang bermain dikarenakan hari ini pelatih mereka tidak bisa datang karena urusan tertentu. Dan itu membuat Seulgi tampak bersyukur karena tak akan ada lagi bola yang merusak tanamannya seperti waktu lalu.

Hari itu juga Sehun tidak bisa pulang bersamanya karena ada sesuatu yang akan dibahas bersama club sepak bolanya sepulang sekolah jadi Seulgi akan pulang seorang diri hari itu.

“Katakan sekarang atau tidak sama sekali, penyesalan itu sangat menyakitkan, lho.”

Kalimat itu selalu terngiang dibenaknya dan selalu membuat jantungnya berdetak cepat karena kata-kata itu. Apa iya ia harus mengungkapkan perasaannya?

Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali untuk menepis pkiran-pikiran buruk itu. Cinta memang membuat semua orang gila. Seulgi berusaha mengabaikan perasaan tak karuannya sambil terus menyiram tanaman didepannya. Akankah cinta itu seindah bunga yang bermekaran?

“Ketua.”

Suara itu terdengar jelas ditelinganya. Suara yang tak asing lagi baginya. Seulgi menghentikan aktivitas menyiramnya. Ia menajamkan pendengarannya dengan memiringkan sedikit kepalanya.

“Biar aku bantu membawakannya, barang seberat itu tak cukup untuk kau bawa sendiri.”

“Tak apa, aku sudah terbiasa bawa barang seberat ini.”

Ya, benar tak salah lagi itu adalah suara Daehyun dan juga Kim Nari ketua dewan sekolah. Apa yang sedang mereka lakukan? Seulgi menoleh kearah sumber suara dan ternyata mereka berdua tak jauh dari tempat ia berdiri. Matanya melebar saat melihat adegan yang seharusnya tak ia lihat. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya, ada sesuatu yang telah menusuk hatinya. Itu bagaikan benda tajam yang menghujam hatinya. Seluruh tubuhnya terasa lemas, kedua lututnya bergetar hebat dan tak mampu menopang berat tubuhnya. Pemandangan itu benar-benar menyakitkan baginya. Bodoh, tak seharusnya ia menoleh dan melihatnya!

***

Dua hari berlalu sejak kejadian di belakang sekolah tempo hari, Seulgi selalu terlihat melamun. Selama dua hari itu juga ia tidak bisa tidur hingga membuat lingkaran hitam di sekitar matanya. Sehun yang merasakan keanehan dari gadis itu berusaha menanyakan apa yang sedang terjadi pada temannya itu, namun Seulgi tak menjawab dan malah mengabaikan lelaki itu.

Setiap pulang sekolah Seulgi selalu lebih dulu keluar kelas dan langsung pulang. Biasanya sepulang sekolah ia selalu menyempatkan diri untuk ke kebun bunga belakang sekolah untuk menyiramnya dan memberikan pupuk ke setiap tanaman bunga. Tak hanya itu saja, yang awalanya Seulgi selalu menuruti perintah dan permintaan Sehun gadis itu tak pernah menolaknya sekalipun. Tapi sekarang Seulgi selalu mengabaikannya dan bahkan membentak Sehun hingga membuat lelaki itu tertegun dengan sikap Seulgi yang telah berubah drastic sejak dua hari yang lalu, tepat sepulang sekolah usai pelajaran olahraga sore itu.

Tak hanya Sehun tapi Jinri juga merasakan hal yang serupa. Ia merasa bahwa sahabatnya itu sekarang lebih sering memilih untuk menyendiri dan lebih memilih untuk memakan bekalnya di atap sekolah dan menjauh darinya dan Sehun.

“Sehun-ah, ada apa dengan Seulgi? Ia seperti bukan Seulgi yang aku kenal.” Tanya Jinri pada Sehun saat mereka berdua berada di dalam kelas sepulang sekolah.

Sehun menggeleng “Aku tidak tahu. Saat aku kerumahnya saja, ia selalu mengabaikanku.” Jawab Sehun dengan nada khawatir.

Benar. Sehun memang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu. Setiap ia berusaha mendekatinya Seulgi selalu menjauh. Apa yang di sembunyikan gadis itu? Apa ia ada masalah? Walaupun ia ada masalah, tak mungkin ia tak tahu karena Sunmi akan selalu memberitahukannya. Tapi sekarang…

Hari inipun saat jam istirahat tiba, Sehun hendak membuka bekal yang setiap pagi dibuat Seulgi. Tak seperti biasanya , isi bekalnya hanya nasi dan onigiri saja. Sebenarnya ia tak mempermasalahkan menu bekalnya, tapi yang permasalahkan Seulgi selalu pergi ke atas atap setiap jam istirahat tiba. yang lebih anehnya lagi, ia sama sekali tak mengerti dengan apa yang ia lihat. Seulgi selalu menjauh saat melihat Daehyun didekat mereka. Ada sebuah kekecewaan dimatanya saat gadis itu menatap lalaki itu. Namun Sehun tak ingin mengambil sebuah kesimpulan yang salah, biarkan gadis itu yang akan menjelaskan semuanya nanti.

Sementara itu Daehyun merasa bersalah pada gadis itu, ia hanya bisa diam dan tak berkata apapun saat Seulgi menjauh dan mengabaikannya.

“Mianhae”

***

“Seulgi-ya…”

Sehun memanggil pelan gadis didepannya. Gadis itu diam dan tak melanjutkan langkahnya. Sehun mendekat sebelum gadis itu berbalik menghadap kearahnya. Beberapa detik kemudian Seulgi berbalik dengan senyuman yang mengembang di wajahnya. Sehun tertegun melihatnya, dibalik senyum manisnya tersimpan sebuah luka yang mendalam.

“Mian.” Ucap Seulgi singkat dan membuat Sehun bertanya-tanya maksud permintaan maaf gadis itu.

“Mian karena aku belum memenuhi janjiku untuk mengambil photo Jinri untukmu.” Lanjutnya. Sehun tersenyum simpul. Ada perasaan lega saat melihat gadis itu tidak mengabaikannya lagi tapi disisi lain ia masih belum mengetahui apa sebenarnya yang terjadi pada gadis itu.

“Tak apa.” Sahut Sehun singkat.

“Bagaimana bisa kau bilang tidak apa-apa sementara aku sudah berjanji untuk membuatmu lebih dekat dengan Jinri selama tiga bulan sebelum hari natal tiba. Sementara dua bulan lagi natal akan segera tiba, dan kau sama sekali belum ada kemajuan mendekati Jinri.”

“Bukan hanya berjanji untuk membantuku lebih dekat dengan Jinri tapi kau juga sudah berjanji padaku untuk selalu berada disampingku dan melayaniku.”

“Mwo! Itu sangat memberatkanku.”

“Kau tidak bisa menolak, karena aku sudah membuat surat perjanjian.” Sahut Sehun sambil menunjukkan sebuah kertas yang berisi sebuah perjanjian. Seulgi melebarkan matanya tak percaya, apa itu tidak terlalu berlebihan? Lelaki ini benar-benar…

“Dan karena kau sudah berani mengabaikanku, kau harus membayarnya dengan mentraktirku makan kue.”

“Sehun-ah—“ ucapnya. Seulgi menghela napas pelan saat Sehun menyelanya. Sebenernya ia ingin meminta maaf karena telah menjauhinya, ia merasa bersalah karena pernah membentaknya. Ia berpikir bahwa apa yang dikatakan lelaki itu sebelumnya memang benar adanya, seharusnya ia menyatakan perasaannya lebih cepat agar kejadian yang ia lihat waktu itu tidak terlalu membuatnya kecewa dan sedih. Setidaknya ia sudah mengatakannya, mengungkapkannya. Ia marah pada dirinya sendiri yang begitu bodoh.

“Tidak ada alasan apapun.” Sela Sehun cepat sebelum gadis itu menyelesaikan kalimatnya.

Sehun menggiring Seulgi keluar kelas dan mengajaknya ke toko kue tempat Jinri bekerja paruh waktu. Sehun tahu walau ada sesuatu yang belum ia ketahui dari gadis itu. Namun, walau demikian ia tetap bersyukur gadis itu tak lagi menajuhinya dan mengabaikannya. Biarkan untuk sementara gadis itu menyembunyikannya darinya.

“Sehun-ah maafkan aku karena sempat membencimu karena kata-kata yang kau katakana waktu itu memang benar… Penyesalan memang sangat menyakitkan.” Ujarnya dengan tersenyum kecil.

Sehun tertegun mendengar ucapan gadis itu. Apakah ada sesuatu yang terjadi antara Daehyun dan Seulgi? Jadi yang membuat Seulgi bersikap aneh belakangan ini dikarenakan lelaki itu?

“Maksudmu?” tanya Sehun ingin memastikan lebih jelas maksud perkataan gadis itu.

Seulgi tersenyum simpul dan kemudian menarik lengan lelaki itu untuk berjalan lebih cepat menuju toko kue yang berada dekat sekolah.

“Kalau kita tidak cepat-cepat, kuenya akan cepat habis.”

***

Daehyun berjalan menyusuri trotoar menuju halte bus yang berada diseberang jalan. Menjabat sebagai wakil dewan membuatnya tidak bisa menghabiskan waktu bermain bersama teman-temannya. Walaupun hari sabtu dan minggu libur, tetap saja ia harus kesekolah selama satu bulan kedepan sebelum festival sekolah tiba. Ia harus menyiapaka segala sesuatunya untuk menyambut festival tahunan sekolahnya.

Baiklah, tidak ada salahnya menghabiskan waktu pulang sekolah ini kan? Makan kue contohnya atau minum kopi atau semacamnya. Sepertinya menyenangkan dan kebetulan sekali ada toko kue berada tak jauh dari sekolah dan ia bisa mampir kesana.

Lelaki itu berjalan menuju toko kue yang berada beberapa meter saja dari halte bus sekolah. Sepertinya ini pertama kali ia ke toko itu sejak ia bersekolah di Kyungsang, selama ini ia tak sekalipun melirik toko tersebut atau sekedar berkunjung saja ia belum pernah.

Hanya beberapa meter saja ia sudah sampai di depan toko kue itu. Namun saat akan mendekati toko langkahnya terhenti saat kedua matanya menangkap dua orang yang sangat ia kenal sedang tertawa dan bersenda gurau. Ia lihat gadis itu tampak tertawa bahagia saat ia berada di samping lelaki itu. Tapi kenapa melihatnya bahagia seperti itu membuat hatinya sakit? Ada apa dengannya? Bukankah seorang teman lebih senang melihat temannya bahagia? Tapi kenapa tidak begitu dengannya? Melihat ia tertawa lepas dengan laki-laki lain rasanya…

“Hei, aku ingin kau mengambil photonya dengan sempurna.”

“Tsk, kau meremehkan kemampuanku, huh?”

“Bagaimana aku tidak meremehkanmu sementara hasil jepretan photomu saja seperti itu.” Sahut Sehun kesal sambil memperlihatkan hasil photo yang diambil Seulgi. Dalam photo itu tampak Jinri yang sedang melayani seorang pengunjung dan hanya terlihat kepala bagian belakangnya saja.

Seulgi tertawa geli. Ia sama sekali tak menyadari hasilnya akan seperti itu. “Kau sendiri yang salah, siapa suruh menggangguku. Kau tahu sendiri kan kalau aku tidak bisa di ganggu kalau aku sedang konsentrasi.”

Sehun berdecak kesal, ia meraih kamera yang berada di genggaman gadis itu. Ia ingin mencoba sendiri mengambil photo Jinri. Seulgi terkejut tapi masih tetap melanjutkan tawanya melihat ekspresi kesal temannya itu. Merasa puas tertawa, Seulgi kemudian beralih mengambil jus lemon di hadapannya seraya menatap keluar jendela. Ia tertegun saat melihat sosok lelaki berdiri tak jauh dari toko dan sedang terpaku menatapnya dari luar. Betapa terkejutnya ia saat melihat Daehyun berada tak jauh di depannya.

Daehyun tertegun saat gadis itu menoleh kearah luar jendela dan ia tampak terkejut dengan kehadirannya disana. Selang beberapa detik ia menunduk dan perlahan berbalik untuk pergi menjauh. Ia tak ingin melihat gadis itu berlama-lama, karena ia akan selalu dihantui rasa bersalah atas kejadian hari itu. Ya, sebaiknya ia pergi menjauh.

Ada perasaan kecewa saat lelaki itu beranjak pergi. Seolah ia tak rela jika Daehyun pergi dari hadapannya. Kecewa, itulah yang ia rasakan sekarang. Sedih, tentunya ia merasakan itu juga. Tapi apa yang harus ia lakukan?

Bodoh…

Ia benar-benar bodoh. Kalau saja waktu itu ia tidak lari, mungkin saja ia akan tahu kata-kata selanjutnya yang akan dikatakan lelaki itu.

***

Sehun berdecak kesal sambil terus menekan nomor yang sedari tadi ia hubungi. Ini sudah yang kesekian kalinya ia menghubungi gadisi itu, namun yang dihubungi tak juga menjawab. Ia membutuhkan gadis itu sekarang untuk membantunya mengerjakan tugas kimia yang sangat ia benci. Tsk, kemana gadis itu?

Kenapa ia tidak kerumahnya saja? Lagipula ini waktunya makan malam dan ia juga pastinya kerumah Seulgi,kan? Dasar bodoh.

Ia kemudian meraih jaket yang tergeletak di atas sofa lalu kemudian mengambil beberapa buku kimia yang akan ia kerjakan nanti bersama Seulgi.

Seperti biasa Sehun jika kerumah gadis itu tak pernah mengetuk pintu terlebih dulu karena ia selalu masuk tanpa permisi karena seisi rumah sudah tahu dan hafal dengan kedatangan lelaki itu.

“Hei! Seulgi-ya. Kenapa kau tidak menjawab teleponku?” ucap Sehun sambil menaruh buku di atas meja dekat dapur. Ia berkeliling ruangan mencari gadis itu tapi tak juga ia temukan. Tumben dia tidak ada dirumah jam segini. Kemana perginya? Mungkin pergi berbelanja. Pikirnya.

Lelaki itu merebahkan tubuhnya diatas sofa sambil menyalakan tv seraya menunggu gadis itu pulang berbelanja. Diacaknya tombol channel mencari siaran favoritnya. Disaat ia sedang asyik menonton program favoritnya, ponselnya bergetar dan lelaki itu merogoh saku celananya.

“Ya, kemana saja kau? Aku dari tadi menunggu, cepat pulang! Aku lapar.”

“Aku ada ditaman depan apartemen.”

Ditaman? Kenapa dia ada disana? Sudahlah, dari pada terus memikirkan alasan apa yang membuat gadis itu berada di taman, lebih baik ia dengan cepat menyusulnya kesana.

Sesampainya ditaman Sehun mengitari pandangannya mencari gadis itu berada. Tepat saat ia akan menuju kolam kecil dekat taman itu, ia melihat seseorang sedang duduk di sebuah bangku kecil yang menghadap kearah kolam. Itu pasti dia, tanpa ragu Sehun menghampiri gadis itu.

“Ternyata kau disini?” ujar Sehun sambil mengambil tempat di samping Seulgi. Gadis itu menoleh sebentar dan kembali memusatkan pandangannya kedepan.

“Ada apa? Kenapa kau tidak menjawab teleponku?” tanya Sehun mengulangi pertanyaannya yang belum sempat di jawab gadis itu.

“Mian, tadi aku mematikan ponselku jadi aku tidak tahu ada panggilan darimu.” Jawab Seulgi dengan nada rendah. Sehun menatap gadis itu dengan tatapan bertanya. Ada apa sebenarnya dengan gadis disampingnya itu? tak biasanya ia berperilaku kalem seperti itu. Biasanya…

Seulgi mendongak menatap langit malam yang saat itu bintang terlihat bersinar dengan terangnya membuat pemandangan malam itu begitu indah.

“Sehun-ah.”

“Ehm.”

“Kapan kau akan menyatakan perasaanmu ke Jinri?”

Sehun tertegun. Kini giliran dia yang mendapat pertanyaan yang sama seperti pertanyaan yang ia lontarkan untuk Seulgi sebelumnya. Mengatakan perasaannya pada gadis itu? itu berarti ia akan menembak Jinri?

“Entahlah…”

“Katakan sekarang atau tidak sama sekali, penyesalan itu sangat menyakitkan, lho.” Ucapnya mengulang kembali perkataan lelaki itu beberapa hari yang lalu “Itukan yang kau bilang padaku? Dan itu semua benar, Sehun-ah. Aku sekarang mengalaminya.” Lanjutnya dengan tersenyum kecil namun terlihat miris.

Sekali lagi Sehun tertegun dengan perkataan Seulgi padanya. Ia sungguh tak mengerti maksud perkatan gadis itu. Sehun menatap Seulgi dalam, dan gadis itu juga balas menatapnya. Lelaki itu menyusuri jawabannya di dalam mata hitam Seulgi. Tapi hanya sebuah kekecawaan yang ia dapat dari mata bulat itu.

“Apa semua ini ada hubungannya dengan Daehyun?” tanya Sehun memastikan “Apa yang telah ia lakukan padamu?”

Seulgi menggeleng tidak membenarkan dugaan lelaki itu. Namun sayang sedetik kemudian sebutir cairan bening menetes dari pelupuk matanya. Seulgi terkejut dan kemudian langsung berbalik membelakangi Sehun sambil menghapus air matanya. Ia tak ingin terlihat lemah hanya karena urusan laki-laki. Itu sangat memalukan baginya. Ia yakin Sehun pasti akan menertawakannya melihat dirinya mangis seperti itu.

“Menangislah jika menangis bisa membuat hatimu tenang.” Ucap Sehun pelan. Ternyata dugaannya salah kalau ia mengira laki-laki itu akan menertawakannya. Seulgi kemudian berbalik menghadap Sehun dengan tertawa pelan sambil berkata “Tidak mungkin aku menangis didepanmu, Oh Sehun. Aku bukan gadis lemah seperti yang kau kira.” Sahutnya sambil terkekeh.

Sehun hanya diam tanpa membalas. Ia membiarkan gadis itu membuktikan perkataannya. Sekuat apakah dirinya untuk tidak menangis di tengah perasaan hatinya yang sedang rapuh.

Beberapa detik kemudian Seulgi kembali meneteskan air matanya, dan lagi-lagi ia berusaha menepisnya dengan menghapus paksa air matanya menggunakan kedua tangannya. Tapi saat ia akan menghapus air menghapus air matanya untuk yang kedua kalinya. Tangan Sehun mencegahnya, ia menggenggam tangan gadis itu lembut. Seulgi tidak melawan dan hanya menunduk, ia tak mau menunjukkan wajah buruknya di depan lelaki itu.

Sehun menangkup pipi Seulgi dengan kedua tangannya. Wajah gadis itu terangkat dan Seulgi menatap Sehun. Jemari laki-laki itu menghapus cairan bening yang membasahi pipi gadis itu. Akhirnya Seulgi tak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak menangis, beberapa detik kemudian gadis itu menangis sejadi-jadinya.

“Aku menyesal melihatnya, Sehun-ah.” ucapnya disela-sela isakan tangisnya. Sehun yang melihat Seulgi seperti itu langsung meraih tubuh gadis itu dan mendekapnya. Ia sungguh sakit melihat keadaan gadis itu. ia tak ingin melihat Seulgi terus menerus terlihat buruk didepannya. Ia ingin Seulgi kembali seperti sedia kala yang selalu ceria dan pemarah. Ia tak ingin melihat Seulgi seperti ini.

“Kenapa? Kenapa aku harus melihatnya mencium gadis itu, Sehun-ah? Dan bodohnya aku yang tidak bisa membencinya sedikitpun.”

Sehun tertegun dan sekaligus terkejut mendengar setiap ucapan gadis itu. Sehun kemudian mengeratkan pelukannya berusaha memberikan ketenangan pada gadis itu. Ia tak tahu kenapa hatinya begitu sakit mendengarnya. Lelaki itu membiarkan gadis itu menangis dan membasahi pundaknya dengan air matanya. Karena hanya itu yang bisa ia lakukan malam itu.

***

Sehun berdiri sambil menyandarkan punggungnya di tembol sembari menunggu kedatangan Daehyun yang sebelumnya ia meminta laki-laki itu datang menemuinya di atap sekolah. Tak membutuhkan waktu lama untuk Sehun menunggu lelaki itu.

Daehyun datang menemuinya. Daehyun tersenyum sambil menyapa sahabatnya itu. Sehun tersenyum kecil dan perlahan mendekat kearah Daehyun.

Sejurus kemduan tangan Sehun terangkat dan melayangkan sebuah pukulan di wajah lelaki itu.

-To Be Continued-

curcol dikit : sebelumnya aku minta maaf karena udah bikin kalian nunggu lama >< dan aku minta maaf  klo ceritanya semakin kesini rada ga nyambung atau basi atau membosankan atau ga ada alur certanya.. karena demi apa bikin sebuah cerita itu susahnya minta ampun apalagi dikerjain sama orang yg moodyan kaya aku ini. ngerjain satu chapter aja bisa ngabisin dua minggu lebih biar ceritanya nyambung n ga ngebosenin T__T . oya hati-hati bacanya karena typo menyebar disetiap sudut FF. dan kalau ada yang masih bingung dengan alur cerita FF ini, aku cuma mau kasi tau kalau FF yg aku buat ini alurnya mengalir begtu aja tanpa tujuan tertentu (jawab aja aku bingung #abaikan) -__-

aku masih setia nunggu komentar, masukan dan saran dari kalian biar aku ada sedikit pencerahan buat nerusin chapter selanjutnya xD

91 thoughts on “Maid 90 Days // Chapter 3

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s