Maid 90 Days // Chapter 4

MAID901

Title // Maid 90 days

Author // Redbaby

Main Cast // Oh Sehun – Kim Seulgi – Park Daehyun – Choi Jinri

Genre // Romance – School Life

Note : FF ini terisnpirasi dari salah satu Anime yang aku tonton jadi kalau ada kesamaan cerita,itu di karena FF ini biased from a Anime^^ tapi alur cerita keseluruhan murni dari pemikiran aku sendiri hanya.

Warning Typo!

_Happy Reading_

“Dan…itu semua akan berakhir nantinya.”

~~~

“Aku mengerti… walaupun aku juga menyukaimu, tapi kita bisa menjadi teman yang baik dan menjalin hubungan yang baik juga.”

-Maid 90 days-

Prev.

Teaser // Chapter 1 // Chapter 2A // Chapter 2B // Chapter 3

“Ketua.” Daehyun mengejar Nari yang saat sedang membawa keranjang bola basket menuju gudang di lantai dua. Nari menoleh lalu tersenyum.

“Biar aku bantu membawakannya, barang seberat itu tak mungkin untuk kau bawa sendiri.” Ucap Daehyun menawarkan bantuan pada gadis itu. Nari yang merupakan gadis keras kepala menolak secara halus tawaran lelaki itu.

“Taka pa, aku sudah terbiasa membawa barang seberat ini.” Sahut Nari sambil tersenyum dan kemudian berbalik melanjutkan langkahnya menuju gudang sekolah.

“Tapi ketua, kau harus melewati anak tangga untuk mencapai gudang. Bola basket sebanyak itu sangat berat…”

“Daehyun-ah, kau meremehkanku?” potong Nari cepat sebelum Daehyun menyelesaikan ucapannya.

Daehyun menghela npas sambil mengangguk mengerti. Ia menyerah dan membiarkan gadis itu pergi dengan kumpulan bola basket di dalam keranjang. Meski begitu, Daehyun tampak khawatir melihat gadis itu. Dasar gadis keras kepala.

Laki-laki itu menggeleng pelan sebelum ia berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu. Namun saat ia akan membalikkan badan, ia melihat gadis itu kehilangan keseimbangan saat akan berbelok arah menuju lorong menuju gudang. Gadis itu kehilangan keseimbangan saat seekor kucing tiba-tiba muncul secara mendadak sehingga membuat Nari terkejut dan terjengkang kebelakang.

Sadar bahwa Nari akan terjatuh Daehyun dengan cepat menarik tubuh Nari dan mendekapnya. Namun sayang di saat yang bersamaan kumpulan bola yang ada di dalam keranjang tumpah dan berserakan di lantai dan saat itu juga kaki kiri Daehyun tak sengaja menginjak bola yang menggelinding dibelakangnya. Alhasil membuat laki-laki itu membentur tiang penyangga di belakangnya. Sementara Nari yang berada di dekapannya juga ikut terhempas bersamanya dan kejadian yang tak pernah mereka duga sebelumnya. kedua bibir mereka bersentuhan membuat keduanya membelalakkan mata karena terkejut.

Kejadian memalukan itu turut disaksikan oleh Seulgi yang berada tak jauh dari lokasi insiden tersebut. Sayang, Seulgi melihatnya disaat Daehyun dan Nari mengalami kejadian tak terduga itu.

Matanya melebar saat melihat adegan yang seharusnya tak ia lihat. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya, ada sesuatu yang telah menusuk hatinya. Itu bagaikan benda tajam yang menghujam hatinya. Seluruh tubuhnya terasa lemas, kedua lututnya bergetar hebat dan tak mampu menopang berat tubuhnya. Pemandangan itu benar-benar menyakitkan baginya. Bodoh, tak seharusnya ia menoleh dan melihatnya!

Seulgi kemudian berbalik berusaha menenangkan debaran jantungnya, tapi gadis itu tak tahan lagi dan memutuskan untuk pergi menjauh dari tempat itu. Ya, sebaiknya ia pergi dari sana kalau ia tak ingin semakin sakit.

Sementara itu, Daehyun dan Nari dengan cepat menarik diri masing-masing. Keduanya bersikap canggung setelah insiden itu. Mereka kemudian merasakan jantung yang mendadak berdetak begitu cepat, aneh! Itu sungguh aneh.

Keduanya membisu dengan sikap yang masih canggung. Daehyun berusaha menahan rasa malunya dengan melempar pandangannya kesembarang arah. Tapi disaat yang bersamaan, matanya menangkap seorang gadis yang tengah berdiri membelakanginya. Gadis itu berdiri beberapa meter dari tempatnya sekarang. Lelaki itu menyipitkan matanya berusaha melihat lebih jelas sosok gadis itu. Daehyun tertegun saat gadis itu berlari dan disaat itu juga ia menyadari bahwa gadis yang berlari itu adalah Kim Seulgi.

“Ketua, maafkan aku. Aku harus pergi dan…suatu saat aku akan membalas kesalahanku padamu. Sampai jumpa.” Ucap Daehyun sambil sedikit membungkuk sebelum akhirnya ia pergi dan berlari menyusul Seulgi.

Nari tidak menjawab. Gadis itu hanya menatap datar kepergian Daehyun. Gadis itu tersenyum kecil sebelum berbalik dan memunguti satu persatu bola-bola yang berserakan di lantai. Nari membungkuk dan memunguti bola-bola itu, namun sesaat kemudia ia merasakan dadanya terasa sakit dan napasnya terasa sesak. Ia meremas dadanya sambil menggigit bibir bawahnya.

***

Daehyun terus mengejar gadis itu meski ia tak tahu kenapa dirinya mengejarnya. Semua itu terjadi secara tiba-tiba. Seluruh tubuhnya bergerak tanpa menunggu aba-aba dari otaknya. Ia melakukan itu karena hatinya yang memintanya. Ada apa dengannya?

“Seulgi-ya!” Daehyun berteriak memanggil gadis itu. Dalam satu panggilan saja ia dapat menghentikan langkah gadis itu.

Langkahnya terhenti saat sebuah suara memanggilnya. Seulgi terdiam sebelum ia menoleh kebelakang. Ia tahu siapa pemilik suara itu. Seulgi menggigit bibir bawahnya dengan mata yang terpejam. Ia berusaha menahan perasaan yang kini tengah bergejolak tak karuan dalam dirinya.

“Seulgi-ya!” panggil Daehyun sekali lagi dengan napas yang terengah.

Seulgi perlahan membalikkan badannya ke arah Daehyun. Gadis itu menatap ragu laki-laki itu, sebenarnya ia takut bertemu dengan Daehyun semenjak insiden itu. ia takut jika ia merasakan rasa sakit itu saat ia melihat wajah lelaki itu.

Gadis itu tertegun melihat lelaki di hadapannya itu terengah kehabisan napas seolah lelaki itu habis olahraga marathon. Ia melihat keringat bercucuran membasahi pelipis lelaki itu. sekali lagi ia tertegun saat pikiran mengatakan kalau Daehyun sedang mengejarnya. Tapi, untuk apa ia mengejar gadis itu?

“Apa kau melihatnya?” tanya Daehyun dengan napas yang sudah mulai teratur.

Seulgi mengerutkan alis tidak mengerti maksud pertanyaan lelaki itu.

“Melihat apa?” tanyanya memastikan.

“kejadian yang tadi…eh, bukan, bukan itu…maksudku…” sahut Daehyun kebingungan dengan apa yang akan ia katakana. Mungkinkah ia mengatakan ‘apa kau melihat adegan ciuman tak terduga itu?’

Oh, tentu saja tidak. itu tak mungkin ia lakukan, megingat kejadian itu sangatlah memalukan baginya. Tapi, kenapa ia musti repot-repot menghawatirkan gadis itu melihatnya atau tidak? seharusnya ia tak perlu setakut itu kan kalau Seulgi melihat insiden memalukan itu. Toh, ia tinggal menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan semua urusan beres, kan.

Seulgi yang menangkap maksud lelaki itu bersuha memberikan senyum manisnya seolah ia tak melihat apapun barusan.

“Aku tidak melihat apapun, dan aku tidak mengerti dengan maksudmu, Daehyun-ah.” ucap Seulgi dengan kekehannya yang dibuat-buat.

“Eh, mian. Maksudku… bukan…eh, bukan apa-apa.” Sahut Daehyun berusaha mengalihkan suasana dan mengalihkan pertanyaan-pertanyaan aneh gadis itu.

“Daehyun-ah,aku harus pergi. Sehun sudah menungguku. Annyeong!”

“Tung…”

Seulgi berbalik dan berlari meninggalkan Daehyun sendirian. Lelaki itu menunduk dengan kedua tangan yang terkepal erat.

***

“Ah, Sehun-ah…ne? Ah, ne…baiklah.”

Daehyun mengakhiri percakapannya dengan Sehun dan kemudian memasukkan ponselnya kedalam kantong celananya. Ia sedikit berpikir, ada hal penting apa yang ingin dibicarakan temannya itu di atas atap sekolah. Tak seperti biasanya Sehun seperti itu. Tapi dari nada biacaranya yang serius seperti itu mungkin saja sesuatu yang akan dikatakannya sangat penting dan tak ingin ada orang lainnya yang mendengarnya.

“Jinri-ya, maaf aku harus pergi. Kalau kau masih kurang mengerti, kau bisa menghubungiku nanti.”

Daehyun berpamitan pada Jinri. Gadis itu mengangguk mengerti dan kembali berkutat dengan soal matematikanya. Sementara lelaki itu bergegas keluar kelas menemui Sehun yang sedang menunggunya di atap sekolah.

***

Seulgi membungkuk hormat pada guru Lee sebelum meninggalkan ruang guru. Beberapa menit yang lalu guru Lee memanggilnya untuk menyampaikan sesuatu padanya mengenai teman satu kelasnya, Oh Sehun.

“Aku mengandalkanmu jadi tolong aku untuk membujuknya.”

“Ehm, aku tidak akan mengecewakanmu, Saem.”

Wanita paruh baya itu tersenyum mengerti dan mengangguk dan gadis itu berbalik lalu kemudian pergi. Sepanjang jalan menuju kelas, gadis itu tak hentinya menggerutu mengomeli Sehun. Ia bergumama kesal karena lelaki itu selalu saja menyusahkannya. Ada masalah apa ia dengan orang tuanya hingga ia tak pernah sekalipun menyampaikan panggilan pihak sekolah untuk orang tuanya?

Lelaki itu benar-benar…

Eh, tunggu!

Selama ini ia belum pernah tahu bagaimana wajah orang tua lelaki itu. Bahkan Sehun belum pernah menceritakan tentang keluarganya padanya. Ya, meskipun ia sendiri tahu kalau itu adalah hak masing-masing orang untuk tidak memberitahu dan menceritakan tentang keluarganya.

Tapi kan tidak salahnya sedikit tidaknya lelaki itu menceritakan kehidupannya bersama kedua orang tuanya. Yang ia tahu lelaki itu hanya tinggal sendiri di sebuah apartemen mewah dekat tempat tinggalnya. Ya, hanya itu dan tak lebih dari itu.

“Hei, Se..,Eh, kemana dia?”

Seulgi mengangkat alisnya bingung. Saat akan memanggil lelaki itu, Sehun ternyata tidak ada di kelas. Hanya ada beberapa orang saja di kelas itu termasuk Jinri yang sedang berkutat dengan soal matematikanya. Ia berpikir sejenak, mungkinkah lelaki itu pergi ke ke toilet? Yah, mungkin saja.

“kau mencari Sehun?” tanya Jinri “Aku dengar tadi ia ada di atas atap bersama Daehyun.” Jinri yang menyadari kedatangan Seulgi langsung menoleh dan melihat gadis itu kebingungan mencari lelaki itu.

“Ah, gomawo Jinri-ya…dan oh,kalau kau mau kau bisa mencontek jawaban matematika milikku.” Sahut Seulgi sebelum pergi menyusul kedua lelaki itu ke atas gedung sekolah.

Jinri melebarkan matanya. Seketika ia ingat kalau ia memiliki teman yang cerdas dan pintar tentang matematika. Ia berdecak kesal mendapati dirinya yang begitu bodoh sampai melupakan hal itu. kalau ia ingat ia memiliki teman yang pandai, mungkin ia tidak akan repot-repot menguras pikiran menjawab semua soal-soal rumit itu hingga ia mengorbankan makan siangnya. Seketika ia mengacak rambutnya frustasi sambil berteriak “Kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi. Dan kenapa aku juga lupa!”

Mendengar Jinri yang tiba-tiba berteriak sambil mengacak rambutnya seperti orang gila, semua orang yang ada di dalam kelas itu menoleh kearahnya dengan tatapan ngeri.

***

Sehun berdiri sambil menyandarkan punggungnya di tembok sembari menunggu kedatangan Daehyun yang sebelumnya ia meminta laki-laki itu untuk datang menemuinya di atap sekolah. Tak membutuhkan waktu lama untuk Sehun menunggu lelaki itu.

Daehyun datang menemuinya. Daehyun tersenyum sambil menyapa sahabatnya itu. Sehun tersenyum kecil dan perlahan mendekat kearah Daehyun.

“Annyeong.” Sapa Sehun singkat sebelum akhirnya ia melayangkan sebuah tinjuan ke pipi Daehyun dan membuat lelaki itu jatuh tersungkur.

Sementara itu Seulgi berlari menuju atap gedung skolah melewati setiap koridor kelas sampai akhirnya ia telah sampai menuju tangga yang menghubungkannya dengan atap gedung sekolah itu.

Akhirnya ia telah sampai di depan pintu dengan napas yang terengah dan keringat yang bercucuran. Ia menunduk dengan kedua tangan yang bertumpu diatas lututnya, ia berusaha mengatur napasnya perlahan sebelum membuka pintu didepannya itu. setelah napasnya yang mulai teratur ia mengangkat tangannya bersiap membuka knop pintu. Namun beberapa detik kemudian gerakan tangannya terhenti saat mendengar percakapan diluar sana.

“Sehun-ah, ada apa denganmu? Kenapa kau…”

“Mian…”

Sehun mengulurkan tangannya pada Daehyun yang tersungkur di lantai. Sudut bibir lelaki itu mengeluarkan bercak darah segar. Ia meringis saat mengusap ujung bibirnya, ia begitu terkejut mendapati Sehun yang secara tiba-tiba memukulnya tanpa sebab.

Daehyun menerima uluran tangan Sehun untuk membantunya berdiri. Ia menatap lelaki itu namun Sehun melemparkan pandangannya ke sembarang arah. Daehyun tertegun melihat Sehun mengacuhkannya. Apa sebenarnya yang terjadi dengan sahabatnya itu?

“Aku tidak ingin kau menyakiti Seulgi.”

Daehyun tertegun mendengar ucapan Sehun. Menyakiti Seulgi? Ah, jangan-jangan semua ini ada kaitannya dengan kejadian memalukan waktu itu.

“Sehun-ah, kau salah paham.”

Sementara itu Seulgi yang mendengarnya terkejut. Ia semakin menajamkan pendengarannya guna memperjelas maksud kedua lelaki itu. Ia tak mengerti mengapa mereka membahas tentang dirinya?

“Apa yang di lihat Seulgi, tak seperti apa yang di bayangkannya.”

Seulgi semakin terkejut dan membulatkan kedua matanya. Ia semakin tak mengerti arah pembicaraan mereka berdua. Salah paham? Apa maksudnya?

Sehun terpekur mendengarnya. Lelaki itu menoleh ke arah Daehyun dan menatap lelaki itu seolah meminta penjelasan lebih agar ia bisa mengerti.

“Waktu itu aku bermaksud membantu Nari, tapi seekor kucing secara tiba-tiba lewat di hadapannya sehingga membuat Nari hampir terjatuh dan aku menariknya agar ia tidak jatuh. Dan…insiden itupun terjadi, dan aku tidak tahu kalau Seulgi melihatnya.”

Mendengar penjelasan yang dilontarkan Daehyun, Seulgi membelalakkan matanya dan hampir berteriak sebelum akhirnya ia dengan cepat menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Jadi selama ini ia hanya salah paham? Jadi, apa yang ia lihat waktu itu adalah kejadian yang tidak di sengaja?

Oh, betapa bodohnya dia.

“Jadi…Seulgi selama ini hanya salah paham padamu?” tanya Sehun memastikan. Ia juga tak kalah terkejutnya mendengar penjelasan temannya itu. ia mendesah pelan sambil bergumama kecil.

“Ehm, sebelumnya aku sudah berusaha ingin menjelaskannya…tapi saat itu aku terlalu panic dan bingung harus menjelaskannya.”

Sehun menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Ia merasa bersalah karena telah memukul temannya itu tanpa sebab. Dalam hati ia tak hentinya merutuki gadis itu. Kenapa gadis itu begitu bodoh?

“Maafkan aku telah memukulmu…” ucap Sehun meminta maaf.

Daehyun terkekeh sambil berkata “Aku mengerti…aku tak mungkin menyakitinya.”

Sehun tersenyum kecil seraya menoleh kearah Daehyun. Ia benar-benar merasa bersalah atas apa yang telah dilakukannya. Yang jelas apa yang telah terjadi sekarang, itu semua dikarenakan gadis bodoh itu.

“Seharusnya aku tidak memukulmu. Aku hanya…”

“Aku mengerti, aku juga akan melakukan hal yang sama sepertimu jika ada orang lain yang menyakiti temanku…”

Sehun mengangguk sambil terkekeh mengingat betapa bodohnya ia memukul sahabatnya sendiri demi gadis bodoh itu.

“Aku tak mungkin menyakiti gadis yang aku sukai.”

Di waktu yang bersamaan Sehun dan Seulgi terkejut mendengarnya. Terlebih Seulgi. Ia tampak tak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan. Apakah mungkin…lelaki itu juga menyukainya? Mungkinkah cintanya itu bisa terbalaskan?

Sehun terpekur lalu kemudian ia tersenyum kecil menanggapi ucapan—yang bisa disebut sebagai—sebuah pernyataan cinta.

***

Berkali-kali Seulgi berlari kecil mengejar langakah lelaki didepannya itu. Sepulang dari sekolah beberapa jam yang lalu, lelaki itu bersikap aneh padanya. Sehun yang biasanya menunggunya untuk pulang bersama, kini lelaki itu lebih memilih untuk pulang lebih dulu tanpa menunggu Seulgi. Sepanjang jalan bahkan di dalam bus menuju rumah, lelaki itu hanya diam dan mengacuhkan gadis itu.

“Hei, bisakah kau memperpendek langkahmu?” pinta Seulgi yang terus berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Sehun. Namun lelaki itu tetap tak bergeming dan terus melanjutkan langkahnya dengan cepat tanpa memperdulikan Seulgi yang kewalahan mengejarnya.

Seulgi terengah dan sesekali mengusap keringat yang membasahi keningnya dengan punggung tangannya.

“Ya! Apa aku berbuat salah padamu?” tanyanya kembali tapi lelaki itu tetap saja mengabaikannya.

Seulgi mendesah dan akhirnya menyerah. Ia menghentikan langkahnya dan membiarkan jaraknya semakin menjauh dari lelaki itu.

“Aku tidak tahu apa yang membuatmu mengacuhkanku. Aku minta maaf jika aku membuatmu marah, tapi hanya satu yang ingin aku katakana… Gomawo, Sehun-ah.”

Seketika Sehun menghentikan langkahnya. Ia diam tanpa menoleh kearah gadis itu. sementara itu Seulgi tersenyum lebar dan dengan cepat berlari menyusul Sehun yang berdiri beberpa meter darinya.

“Sudah aku duga, kau pasti a—“

“Aku lapar dan kau harus membuatkanku makanan sebanyak mungkin.”

Seulgi terkejut saat Sehun secara tiba-tiba menarik tangannya dan menyeretnya untuk berjalan dengan cepat.

“M..mwo..mwo”

Sehun tersenyum kecil sambil sedikit melirik gadis itu yang sedari tadi meronta padanya.

***

Lelaki itu mengalihkan pandangannya pada beberapa lembar photo di atas meja. Ia menatap Seulgi bingung. Gadis itu mengendikan kepalanya kearah photo-photo itu sebelum berkata “Aku sudah memenuhi janjiku. Dan lihatlah! Aku tidak mengecewakanmu, kan?”

Sehun mengambil salah satu photo itu lalu melihatnya. Betapa terkejutnya ia melihat photo tersebut. Ia melihat Jinri tersenyum manis di photo itu, bagaimana bisa Seulgi mendapatkan gambar sebagus itu? ah, tentu saja gadis itu tinggal memintanya tersenyum di depan kamera lalu Seulgi akan mengambil gambar gadis itu dengan mudah mengingat mereka berteman dekat.

“Bagaimana? Kau suka, kan?”

“Ehm. Aku suka…gomawo.” Jawab Sehun dengan tersenyum sambil terus memandangi photo itu. Akhirnya ia bisa memandang senyuman itu setiap saat.

“Gomawo.”

“Ehm?”

“Gomawo. Berkat kau, aku jadi tahu semuanya termasuk…perasaan Daehyun padaku.”

Sehun diam tidak membalas dengan posisi yang masih menunduk menatap photo di genggamannya itu.

“Lalu?”

“Aku sudah putuskan, besok aku akan menyatakan perasaanku pada Daehyun.” Ucapnya sambil menyodorkan sebuah photo di mana ada ia dan Jinri tersenyum manis kearah kamera sebelum melanjutkan “Dan…itu semua akan berakhir nantinya.”

Sehun tertegun lalu kemudian ia menatap gadis di depannya itu dengan penuh tanya. “Berakhir?”

“Tugasmu sebagai penengah untukku dan Daehyun akan berakhir. Dan mulai saat itu aku akan melanjutkan kewajibanku untuk menjadi penengah untukmu dan Jinri sampai akhirnya kau berhasil mendapatkannya.” Jelas Seulgi. Gadis itu tersenyum lebar. Sehun diam tidak membalas. Kenapa semua itu terdengar tidak adil? Tapi…

“Tenang saja, aku akan melakukannya dengan sebaik mungkin.”

***

Pagi itu tidak seperti biasanya Sehun terlambat datang ke rumahnya untuk sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Seulgi melirik jam tangannya dan sudah menunjukkan pukul tujuh lebih empat puluh lima menit. Itu berarti tak ada waktu untuk sarapan karena dua puluh menit lagi pelajaran akan dimulai.

“Apakah Sehun masih tidur?”

“Entahlah…”

“Apa kalian bertengkar?” tanya Sunmi pada Seulgi yang sedari tadi memandangi arlojinya.

“Kami tidak ada masalah.”

Kemana lelaki itu? mungkinkah Sehun sudah lebih dulu berangkat kesekolah tanpa menunggunya?

Bukan hanya wanita saja yang susah dimengerti tapi laki-laki itu juga susah di mengerti.

***

Setibanya di sekolah Sehun tidak langsung masuk ke kelas melainkan ia berjalan menuju kantin. Pagi ini ia memutuskan untuk tidak datang sarapan ke rumah gadis itu. Ia berpikir lebih baik ia tak lagi menyusahkannya dan membebani gadis itu.

“Aku sudah putuskan, besok aku akan menyatakan perasaanku pada Daehyun.”

Sehun meneguk air mineralnya dan memasukkan potongan roti ke dalam mulutnya. Sarapan roti seperti ini terasa berbeda dari biasanya. Ingin rasanya ia menikmati masakan gadis itu. Tapi itu tidak mungkin lagi jika sudah menjadi milik orang lain.

Mulai saat ini harus belajar mandiri membuat makanan untuk dirinya sendiri tanpa bantuan gadis itu. tapi, tunggu! Sebelumnya ia sudah janji untuk melayaniku,kan? Walau itu hanya tiga bulan saja, tapi dua bulan sudah berlalu itu berarti ia hanya memiliki sisa waktu satu bulan untuk bersama dengan Seulgi.

“Hei, ternyata kau disini?”

Suara nayring itu membuyarkan lamunannya. Sehun menolah dan terkejut mendapati Jinri sudah berada di depannya.

“A…annyeong, Jinri-ya. Kau mencariku?”

“Bukan aku, tapi Seulgi yang mencarimu.”

“Seulgi?”

Jinri mengangguk dan kemudian mengeluarkan kotak bekal dari dalam tasnya. Ia lalu menyodorkan bekal itu pada Sehun. Lelaki itu tertegun.

“Seulgi menitipkan bekal ini untukmu jika aku bertemu denganmu.” Sahut Jinri dan kemudian melirik kotak bekal itu. Ia sangat tergoda ingin tahu menu apa yang ada di dalam kotak itu mengingat ia belum sempat sarapan pagi ini.

“Kau lapar?” tanya Sehun yang melihat Jinri yang mengelus perutnya seperti menahan lapar.

“Eh.”

“Makanlah, aku sudah makan dua bungkus roti.” Ucap Sehun yang dibalas anggukan semangat dari gadis itu. kebetulan sekali, ia bisa mengganjal perutnya pagi ini. Sehun tersenyum lalu kemudian bangkit.

“Kau tahu Seulgi pergi kemana?”

“Dia tidak memberitahuku, ia hanya berpesan untuk memberikan bekal ini untukmu.”

Sehun mengangguk mengerti dan kemudian berbalik bersiap kembali ke kelas.

“Sehun-ah.”

Seketika Sehun menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap gadis itu.

“Sebelum ia pergi, ia mengatakan sesuatu padaku. Seulgi menjelaskan kalau ia dan kau tidak ada hubungan apa-apa dan kalian hanya berteman dengan rumah yang berdekatan satu sama lain…”

Sehun terpekur mendengar penjelasan Jinri. Sementara gadis itu menjeda ucapannya seraya menatap lelaki di depannya.

“Aku tidak mengerti mengapa ia menjelaskan semua itu padaku…” ucapannya terhenti ketika Sehun tiba-tiba beranjak pergi meninggalkannya. Gadis itu bingung dan tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua. Tapi entah mengapa ada perasaan lega di hatinya mengetahui hal itu. Mungkinkah…

Sementara itu Sehun tak langsung masuk kelas melainkan ia pergi ke koridor bawah. Ia tak menyangka jika gadis itu akan melangkah sejauh ini. Apa yang dia pikir dan dia lakukan? Apakah ia benar-benar akan mengatakannya pada Daehyun hari ini?!

“Ini bukan waktunya untuk mengkhawatirkanku!” Gumam Sehun.

“Dan…itu semua akan berakhir nantinya.”

Kini Sehun sedang berada di atas koridor lantai satu sekolah itu. Ia menundukkan kepalanya seraya kedua tangannya yang bertumpu pada tembok pembatas koridor. Kenapa? Kenapa ia harus memikirkan gadis itu? Apa ia hanya mengkhawatirkan keadaan gadis itu usai ia menyatakan perasaannya pada Daehyun? Atau kata-kata berakhir itu membuatnya…

“Daehyun-ah!”

Seketika Sehun menoleh terkejut dan langsung menoleh ke bawah. Di lihatnya Seulgi dan Daehyun sedang berdiri berhadapan. Seulgi yang terlihat gugup sementara Daehyun yang sedang menantikan apa yang akan di ucapakan gadis itu.

Sebelumnya ia danSeulgi bertemu di lorong koridor kelas. Awalnya ia msaih canggung untuk bertatapan dengan Seulgi mengingat kejadian waktu itu dan ia berniat untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, namun niatnya terhenti saat Seulgi secara tiba-tiba mengajaknya bertemu di belakang sekolah.

“Aku…Daehyun-ah…aku punya perasaan itu…” ucap Seulgi berusaha menyatakan perasaannya pada Daehyun. Jantungnya berdetak cepat dan kedua lututnya terasa lemas sekarang. Beginikah rasanya menembak seseorang?

Sementara itu Sehun membalikkan badannya dan perlahan merosot ke bawah dan kepalanya di sandarkan ke tembok.

‘Ternyata kau benar-benar melakukannya’

“Itu…itu…aku”

‘Jika tidak diselesaikan dengan baik ini akan menjadi salah satu hari yang buruk untukmu’

“I…itu…tunggu.”

Sehun tertegun mendengar suara Daehyun yang menyela ucapan Seulgi. Ia berpikir akankah lelaki itu menerima dengan baik perasaan Seulgi atau malah sebaliknya. Tapi mengingat ucapannya di atap waktu itu ‘Aku tak akan menyakiti gadis yang aku sukai’

Seulgi menatap Daehyun dengan gugup begitupun sebaliknya.

“Aku rasa aku tahu apa yang harus aku katakana. Tapi sebelum itu aku ingin menanyakan sesuatu.” Ujarnya dan menjeda ucapannya beberapa detik sambil menelan ludah dalam-dalam.

“Apakah kau pernah kencan dengan Sehun?”

Seulgi terkejut dengan pertanyaan lelaki itu. Kenapa Daehyun bertanya tentang itu? Apa lelaki itu ikut termakan gossip yang beredar selama ini tentang dia dan Sehun?

“Itu hanya kesalahpahaman orang-orang saja! Tidak ada sesuatu diantara kami!” sahut Seulgi cepat. Sementara itu di waktu yang bersamaan Sehun yang mendengar percakapan keduanya hanya diam dan menunduk. Entah apa yang ia pikirkan.

“Jadi kau tidak menyukainya?” tanya Daehyun sekali lagi. Sontak Sehun dan Seulgi tertegun di saat yang bersamaan. Kedua mata gadis itu membulat sempurna. Ia tak menyangka pertanyaan itu mampu membuat jantungnya tiba-tiba berdebar begitu cepat. Ada apa ini? Apa yang terjadi dengannya? Hei, itu hanya pertanyaan biasa yang perlu kau jawa. Iya atau tidak.

“Bukan seperti itu! Rumah kami hanya kebetulan dekat.” Jawabnya pelan. Sekali lagi Sehun hanya diam mendengarnya. ‘Apa maksud kau bertanya seperti itu?’

“Itu tidak ada hubungannya dengan menyukai dia atau tidak.”

“Jadi, apakah kau tidak menyukainya?” tanya Daehyun memastikan sekali lagi. Lelaki itu menatap Seulgi dalam. Ia bertanya seperti itu untuk mengetahui perasaan yang sebenarnya dari gadis itu dan sekaligus dengan cara inilah ia bisa mengambil sebuah keputusan yang tepat.

“Aku tidak menyukainya.” Jawab Seulgi cepat namun terdengar seperti memaksakan. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya saat ia mengatakan itu. Tapi apa sesuatu yang mengganjal itu?

Sementara itu Sehun terkejut mendengar pernyataan lantang gadis itu. Benarkah seperti itu? Tentu saja itu sangat benar, toh orang yang disukai gadis itu hanya Daehyun seorang tak ada lagi laki-laki lain yang ia sukai. Sama seperti dirinya yang hanya menyukai Jinri dan tak ada gadis lain yang ia sukai. Ya seperti itulah, tapi…

“Tapi ini bukan tentang itu!”

Daehyun menelan ludah dalam-dalam. Ia sedikit menunduk, lelaki itu menghela napas dalam sembari tersenyum kecil. Akhirnya, satu keputusan yang sudah ia dapat sekarang. Ya, ia sudah menemukan keputusan itu.

“Itu…kau tahu, Sehun bagaikan serangga bagiku. Dia selalu mengganggu tidur siangku dan ia selalu membuatku kesal tiap kali kamu bertemu, tapi ia selalu menungguku.” Jelas gadis itu. “Dia bahkan berbohong untuk membuat aku merasa lebih baik. Aku berada di sana karena Sehun berada di sana, karena dia mendukungku…”

Sehun diam tak bergeming, ia mendengarkan setiap kata yang diucapkan gadis itu. Entah mengapa mendengar Seulgi mengatakan semua itu, membuat hatinya merasa sedikit lebih baik dari sebelumnya.

“Karena itu, aku mampu berdiri di sini seperti ini! Aku cinta padamu Daehyun-ah.”

Lelaki itu tertegun dalam diamnya. Seperti itukah ia bagi gadis itu? Sehun—lelaki itu—tersenyum kecil sambil berkata “Seulgi, kau hebat.”

“Begitu…tidak apa aku rasa perasaanmu akan benar-benar tersampaikan.”

“Daehyun…”

“Apakah kau ingat dua tahun yang lalu?”

“Ya..”

“Tidak seperti waktu itu, kau sekarang punya sesuatu…wajah yang lucu.”

“Wajah yang lucu?”

“Ya, ketika kau di samping Sehun, wajahmu tampak lucu…Sehun seorang pria hebat. Dan kau memikirkan dia seperti kau lakukan sebelumnya…membantumu menjadi seorang gadis yang baik.”

“Seperti yang aku lakukan sebelumnya?” gumam Seulgi tak mengerti maksud lelaki itu. Sementara itu Daehyun tersenyum kecil. Ada raut kesedihan di wajah lelaki itu.

“Tapi aku senang kau mempunyai hubungi baik dengan Sehun.”

“T..tunggu…Sehun tidak ada hubungannya…apakah aku dapat memberitahumu tentang perasaanku padamu?”

“Ini akan baik-baik saja. Aku rasa kita bisa menjadi teman baik Seulgi-ya.”

“Teman?…tapi kau masih belum mengerti apa yang aku katakana..”

“Aku mengerti… walaupun aku juga menyukaimu, tapi kita bisa menjadi teman yang baik dan menjalin hubungan dengan baik juga.”

“K…kau juga…menyukaiku.”

‘Ya, aku tidak hanya menyukaimu…tapi juga mencintamu’

Daehyun berbalik meninggalkan Seulgi. Lelaki itu menghela napas panjang dengan kedua tangannya yang terkepal erat menahan perasaannya. Entah kenapa hatinya begitu sakit setelah mengatakan itu semua. Ya, itu semata bukan hanya demi dirinya tapi juga demi gadis itu.

***

Satu jam berlalu sejak jam pelajaran di mulai. Sehun memutuskan untuk membolos hari ini. Ia tak ada niatan untuk belajar hari ini. Entahlah, ia sama sekali tak ada mood untuk melakukan apapun sekarang.

Lelaki itu memilih untuk bersantai di ruang music saja sambil sesekali memainkan tuts piano dan memainkan bebarapa lagu. Dengan cara itulah ia bisa membuat mood-nya lebih baik dari sebelumnya. Pikirannya dipenuhi oleh gadis itu sekarang. Sial! Kenapa ia tak bisa berhenti memikirkannya? Sedari tadi ia berusaha untuk menghilangkan gadis itu dengan cara memikirkan Jinri, namun usahanya tak membuahkan hasil. Gadis itu terus saja membayangi pikirannya.

“Aku tidak menyukainya.”

Seketika ia menekan keras tuts piano itu hingga menimbulkan suara yang keras dan menggema. Lelaki itu menurunkan kedua tangannya dan ia tertunduk lesu. Ia mendesah keras lalu kemudian ia bangkit dan mengaitkan tas ranselnya ke pundaknya. Kalau ia terus seperti ini, bisa-bisa ia gila karena terus saja memikirkan hal itu. Sial!

Sehun beranjak meninggalkan ruang music dan keluar dari ruangan itu. Namun saat ia akan berbelok ia dan Seulgi bertemu dan keduanya sontak terhenti. Seulgi yang hanya diam dengan kepala yang tertunduk sementara Sehun yang memperhatikan gadis itu. Lelaki itu menatap Seulgi dalam. Keduanya hanya berhadapan namun tak mengeluarkan suara. Suasana di sekitarnya hening. Gadis itu tampak diam membisu, setelah pertemuannya dengan Daehyun beberapa waktu yang lalu.

“Gwenchana?” tanya Sehun yang tampak khawatir melihat keadaan gadis itu.

Gadis itu tak menjawab. Ia diam sejenak lalu ia mengangguk namun tetap dengan posisi kepala yang tertunduk. Sehun memiringkan sedikit kepalanya menatap gadis itu.

“Angkat kepalamu!”

Gadis itu tetap tak bergeming dan tetap pada posisinya. Gadis itu tak ingin terlihat buruk di depan lelaki itu untuk kedua kalinya. Namun sayang, Sehun secara tiba-tiba meraih dagu gadis itu dan mengangkat wajah Seulgi. Tanpa perlawanan gadis itu hanya diam. Seulgi menatap Sehun dengan tatapan sendu, kedua matanya tampak memerah karena sedari tadi gadis itu menahan diri untuk tidak menangis.

“Kau terlihat buruk.”

“Ehm.”

Seulgi mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.

“Ikut aku.”

Seketika Sehun menarik tangan Seulgi dan membawanya pergi. Sementara Seulgi terkejut, lelaki itu tiba-tiba menariknya dan menggertenya pergi. Sehun tak ingin melihat kesedihan gadis itu, ia berencana mengajaknya ke suatu tempat yang bisa membuat hati Seulgi merasa lebih baik dan terlihat tidak menyedihkan seperti itu.

Di waktu yang bersamaan seseorang memperhatikan mereka dari kejauhan. Lelaki itu tersenyum simpul kemudian berlalu. Ia merasa keputusannya itu tepat dan keputusan yang ia ambil adalah keputusan yang terbaik.

To Be Continued

***

Next Part (5) (Mungkin lebih seru!!)

“Perkenalkan ini sepupuku, Kim Haerin.”

Daehyun memperkenalkan sepupunya kepada kedua temannya Seulgi dan Sehun. Sebelumnya mereka menerima tawaran Daehyun untuk menemaninya bertemu dengan sepupunya itu yang barus saja tiba dari Jepang.

Gadis itu—Kim Haerin—tersenyum ramah sambil membungkuk hormat. Sehun dan Seulgi pun balas tersenyum.

“Kim Haerin, imnida.”

Mereka berempat sedang menyantap makanan yang mereka pesan sebelumnya. Selama pertemua pertama mereka, Haerin terus menunjukkan sikap ramahnya pada Daehyun, Seulgi dan Sehun. Gadis berambut hitam panjang itu memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang ideal bak model.

“Sehun-ah bisakah kau ikut denganku sebentar?” pinta Daehyun pada Daehyun. Kedua gadis itu menoleh padanya sementara Sehun mengangguk mengiyakan.

Daehyun dan Sehun berjalan menuju toilet pria. Sehun yang bingung dengan Daehyun yang mengajaknya ke toilet itu langsung bertanya “Kenapa kau mengajakku ke toilet?”

“Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu, ayo ikut aku!”

Daehyun berbalik di ikuti dengan Sehun di belakangnya. Daehyun melongokkan kepalanya di balik tembok kearah meja mereka berempat. Sehun yang di belakangnyapun mengikuti Daehyun yang melongokkan kepalanya.

“Kau lihat, itulah Haerin yang sebenarnya?”

Sehun yang melihatnya terkejut dan membulatkan matanya tak percaya. Jadi gadis itu…

“Kau terlihat tidak pantas jadi pacarnya!”

“Aku bukan pacarnya!”

“Penampilanmu itu terlihat buruk!”

***

To Be Contimued

Mian di part ini aku Cuma bisa ngasi cerita yang hanya segini…ya Cuma segini T_T semoga kalian tidak kecewa >< tunggu next partnya ya^^ disana aku akan buat ceritanya lebih rame dan yaaaaah mungkin bisa lebih bagus dari part ini… itu masih mungkin lho yak arena aku takut ntr malah ga sesuai yang di janjiin hehehehe

85 thoughts on “Maid 90 Days // Chapter 4

  1. mengganjal apanya?ciee lah seulgi pasti maksa ngeluarin kata itu. dan sehun juga sakit hati dengar seulgi bhwa ia tak menyukainya.wkwk greget bgttt! daehyun knpa ga terus terang saja!,-

  2. Wahhhh gak tau komen apaan
    dimulai dari dehyun kkk keren bangett dah
    sehun? Apakah dia ada rasa…
    wahh next ada new cast ya?makin complicated kah??? Autjor jamin seru ya
    author fighthing….
    keep writing ne^^

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s